Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Shalat-shalat Sunnah Bulan Ramadhan

Shalat-shalat Sunnah pada Malam Hari Bulan Ramadhân

 Shalat-shalat sunnah atau nawâfil pada bulan Ramadhân dilaksanakan setelah shalat maghrib dan setelah shalat ‘isya. 

Di zaman Rasûlullâh saw dan beberapa tahun setelah beliau wafat, shalat sunnah pada malam hari di bulan Ramadhân itu dilaksanakan sendiri-sendiri (tidak dijama‘ahkan).[1]

Jumlah raka‘at shalat pada malam hari bulan Ramadhân itu dari malam pertama hingga malam kedua puluh pada setiap malamnya 20 raka‘at, yaitu antara shalat maghrib dan shalat ‘isya 12 raka‘at, dan setelah shalat ‘isya 8 raka‘at. Dan pada sepuluh malam yang terakhir 30 raka‘at, dan pelaksanaannya antara shalat maghrib dan shalat ‘isya 22 raka‘at dan setelah shalat ‘isya 8 raka‘at.

Pada malam kedua puluh satu dan malam dua puluh tiga ditambah seratus raka‘at, dan kedua malam ini salah satunya adalah malam qadr.[2]

 

Shalat Nawâfil yang lain pada Malam Bulan Ramadhân

            Diriwayatkan dari Al-Hârits bahwa dia bertanya kepada Imam ‘Ali bin Abî Thâlib mengenai keutamaan bulan Ramadhân dan tentang keutamaan shalat padanya.

 

Malam Pertama

Kemudian beliau berkata, “Siapa yang shalat pada malam pertama dari bulan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at, dia membaca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu (Al-Fâtihah) satu kali dan 15 kali sûrah Al-Ikhlâsh, niscaya Allah yang maha tinggi akan memberinya pahala para shiddîq dan syuhadâ`, Dia akan mengam-puni semua dosanya dan dia pada hari kiamat termasuk di antara orang-orang yang beruntung.

 

Malam Kedua

Siapa yang shalat pada malam kedua dari bulan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at, dia membaca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan membaca sûrah Al-Qadr 20 kali, niscaya Allah mengampuni semua dosanya, Dia meluaskan rezekinya dan dijaga-Nya dari keburukan pada tahunnya.

 

Malam Ketiga

Siapa yang shalat pada malam ketiga dari bulan Ramadhân sebanyak 10 raka‘at; pada setiap raka‘at-nya dia membaca Al-Hamdu 1 kali dan membaca 50 kali Al-Ikhlâsh, niscaya dia diseru oleh satu penyeru dari pihak Allah ‘azza wa jalla, ‘Ketahuilah, sesungguhnya Fulân bin Fulân (Fulânah binti Fulân) dibebaskan Allah dari api neraka dan dibukakan baginya pintu-pintu seluruh langit. Dan siapa yang berdiri (qiyâm) pada malam itu (mendirikan shalat sunnah), lalu menghidupkannya, niscaya Allah mengampuni dosanya.

 

Malam Keempat

Siapa yang shalat pada malam keempat dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at, pada setiap raka‘atnya dia membaca 1 kali sûrah Al-Hamdu dan 20 kali sûrah Al-Qadr, niscaya Allah mengangkat amalnya pa-da malam itu seperti amal tujuh orang nabi yang menyampaikan risâlah Tuhannya.

 

Malam Kelima

Siapa yang shalat pada malam kelima dari bulan Ramadhân sebanyak 2 raka‘at dengan 100 kali Al-Ikhlâsh, yakni 50 kali pada setiap raka‘atnya, dan apabila telah selesai shalat, dia membaca shalawât bagi Nabi saw sebanyak 100 kali, niscaya dia akan bersama rombonganku pada hari kiamat, dia merapat denganku di pintu surga.

 

Malam Keenam

Siapa yang shalat pada malam keenam dari bulan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at, dia baca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Mulk, maka seakan-akan dia berjumpa dengan malam qadr.

 

Malam Ketujuh

Siapa yang shalat pada malam ketujuh dari bu-lan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at, dia baca pada seti-ap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Qadr 13 kali, niscaya Allah ciptakan untuknya dua buah ista-na dari emas, dan dia berada dalam keamanan Allah yang maha tinggi hingga datang bulan Ramadhân be-rikutnya.

 

Malam Kedelapan

Siapa yang shalat pada malam kedelapan dari bulan Ramadhân sebanyak 2 raka‘at; dia membaca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Ikhlâsh 11 kali, dan ber-tasbîh 1000 kali, niscaya dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, dan dia bisa masuk dari pintu yang mana saja yang dia inginkan.

 

Malam Kesembilan

Siapa yang shalat pada malam kesembilan dari bulan Ramadhân sebanyak 6 raka‘at (tiga kali salâm) antara maghrib dan (shalat) ‘isya pada setiap raka‘atnya dia baca sûrah Al-Hamdu 1 kali dan Ayat Kursî 7 kali, dan membaca shalawât bagi Nabi saw 50 kali, niscaya malaikat akan membawa naik amalnya seperti amal para shiddîq, syuhadâ` dan shâlihîn.

 

Malam Kesepuluh

Siapa yang shalat pada malam kesepuluh dari bulan Ramadhân sebanyak 20 raka‘at (sepuluh kali salâm), dia baca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Ikhlâsh 30 kali, niscaya Allah yang maha tinggi akan meluaskan rezekinya, dan dia terma-suk dari kalangan orang-orang yang beruntung.

 

Malam Kesebelas

Siapa yang shalat pada malam kesebelas dari bulan Ramadhan sebanyak 2 raka‘at, dia baca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Kautsarn 20 kali, niscaya pada hari itu dia tidak akan diikuti oleh suatu dosa sekali pun Iblîs berusaha dengan sungguh-sungguh.

 

Malam Kedua Belas

Siapa yang shalat pada malam kedua belas dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at (empat kali salâm), dia membaca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan membaca sûrah Al-Qadr 30 x, niscaya Allah yang maha tinggi memberinya pahala orang-orang yang bersyukur, dan pada hari kiamat dia termasuk orang yang beruntung.

 

Malam Ketiga Belas

Siapa yang shalat pada malam ketiga belas dari bulan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at, dia baca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Ikhlâsh 25 kali, dia akan datang pada hari kiamat dengan melintasi shirâth bagaikan kilat yang menyambar.

 

Malam Keempat Belas

Siapa yang shalat pada malam keempat belas dari bulan Ramadhân sebanyak 6 raka‘at, dia baca pada setiap raka‘atnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Zilzâl 30 kali, niscaya Allah akan meringankan a-tasnya sakratul mautnya dan (pertanyaan makaikat) Munkar dan Nakîr.

 

Malam Kelima Belas

Siapa yang shalat pada malam kelima belas dari bulan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at, pada dua raka‘at yang pertama Al-Hamdu 1 kali dan Al-Ikhlâsh 100 kali, dan pada dua raka‘at terakhirnya sûrah Al-Hamdu 1 kali dan Al-Ikhlâsh 50 kali, niscaya Allah mengampuni dosanya walaupun sebanyak buih di laut, sebanyak butiran pasir yang menggunung, sebanyak jumlah bintang di langit, dan sebanyak dedaunan dari seluruh pepohonan, dalam waktu yang lebih cepat dari kedipan mata bersama ada tambahan yang lain baginya di sisi Allah.

 

Malam Keenam Belas

Siapa yang shalat pada malam keenam belas dari bulan Ramadhân sebanyak 12 raka‘at, dia baca pada setiap raka‘atnya Al-Hamdu 1 kali dan sûrah Al-Takâtsur 12 kali, niscaya dia akan keluar dari kuburnya dalam keadaan tidak kehausan, dia akan diseru de-ngan kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah sehingga dia datang pada hari kiamat lalu diperintahkan baginya masuk ke surga tanpa hisab.

 

Malam Ketujuh Belas

Siapa yang shalat pada malam ketujuh belas dari bulan Ramadhân sebanyak 2 raka‘at, pada raka‘at yang pertama Al-Hamdu dan sûrah apa saja, dan pada raka‘at kedua setelah Al-Hamdu baca 100 kali sûrah Al-Ikhlâsh, dan setelah salâm baca lâilâha illallâh 100 kali, niscaya Allah akan berikan kepadanya pahala sejuta haji, sejuta ‘umrah dan seribu kali perang.

 

Malam Kedelapan Belas

Siapa yang shalat pada malam kedelapan belas dari bulan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at, dia baca pada setiap raka‘atnya Al-Hamdu dan 25 kali sûrah Al-Kautsar, niscaya dia tidak keluar dari dunia sehingga Malakul Maut memberi kabar gembira kepadanya bahwa Allah rela kepadanya dan tidak murka.

 

Malam Kesembilan Belas

Siapa yang shalat pada malam kesembilan belas dari bulan Ramadhân sebanyak 50 raka‘at (seluruhnya) dengan sûrah Al-Hamdu dan 50 kali sûrah Al-Zilzâl, niscaya dia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat seperti orang yang telah menunaikan haji seratus kali dan ‘umrah seratus kali dan Allah terima darinya semua amalnya.

 

Malam Kedua Puluh

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at, dia baca padanya (setelah Al-Fâtihah) sûrah yang dia inginkan, nisca-ya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu dan do-sanya  yang akan datang.

 

Malam Kedua Puluh Satu

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh satu dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at, niscaya dibukakan baginya tujuh langit dan dikabulkan doanya (dan pahala lain baginya di sisi Allah).

 

Malam Kedua Puluh Dua

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh dua dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at, niscaya di-bukakan untuknya pintu-pintu surga, dan dia bisa ma-suk dari pintu mana saja yang dia inginkan.

 

Malam Kedua Puluh Tiga

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh tiga dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at (setelah sûrah Al-Hamdu baca sûrah apa saja), niscaya akan dibukakan baginya pintu-pintu langit yang tujuh dan dikabul-kan doanya.

Pada malam 23 juga dianjurkan mendirikan shalat 100 raka’at, yang pada setiap raka’atnya membaca sûrah Al-Fâtihah 1 x dan sûrah Al-Ikhlash 10 x sebagaimana telah disebutkan pada bab Keutamaan Malam Qadr yang telah lalu.

 

Malam Kedua Puluh Empat

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh empat dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at, dia baca padanya menurut yang dia inginkan, niscaya dia akan memperoleh pahala seperti orang yang telah me-nunaikan haji dan ‘umrah.

 

Malam Kedua Puluh Lima

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh lima dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at, dia baca padanya sûrah Al-Hamdu (Al-Fâtihah) dan 10 kali sûrah Al-Ikhlâsh (pada setiap raka‘atnya), Allah mencatatkan baginya pahala para ahli ibadah.

 

Malam Kedua Puluh Enam

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh enam dari bulan Ramadhân sebanyak 8 raka‘at, dia baca padanya sûrah Al-Hamdu dan 100 kali Al-Ikhlâsh, niscaya akan dibukakan baginya tujuh langit bersama pa-hala baginya di sisi Allah.

 

Malam Kedua Puluh Tujuh

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh tu-juh dari bulan Ramadhân sebanyak 4 raka‘at dengan Fâtihah Al-Kitâb dan sûrah Al-Mulk 1 kali, tetapi jika dia tidak hapal sûrah Al-Mulk, maka dengan 25 kali Al-Ikhlâsh, Allah akan mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

 

Malam Kedua Puluh Delapan

Siapa yang shalat pada malam kedua puluh delapan dari bulan Ramadhân sebanyak 6 raka‘at de-ngan Fâtihah Al-Kitâb dan 10 kali Ayat Kursi, 10 kali sûrah Al-Kautsar dan 10 kali Al-Ikhlâsh, dan dia membaca shalawât bagi Nabi saw, Allah akan mengampuni dosa-nya.

 

Malam Kedua Puluh Sembilan

Barang siapa yang shalat pada malam kedua puluh sembilan dari bulan Ramadhân sebanyak 2 raka‘at dengan Fâtihah Al-Kitâb dan 20 kali Al-Ikhlâsh, maka dia termasuk orang yang dirahmati dan kitabnya diangkat ke ‘Illiyyîn.

 

Malam Ketiga Puluh

Siapa yang shalat pada malam ketiga puluh dari bulan Ramadhân sebanyak 12 raka‘at, dia baca pada setiap raka‘atnya Fâtihah Al-Kitâb dan 20 kali Al-Ikhlâsh, dan membaca shalawât 100 kali, niscaya akan ditutupkan (usia) baginya dengan rahmat.” [3]

 

Catatan

Shalat sunnah itu dilaksanakan dua raka'at dua raka'at. Jika disebutkan enam raka'at, maka dengan tiga kali salâm. Bila disebutkan delapan raka'at, maka dengan empat kali salâm. Demikian seterusnya.

Al-Hamdu adalah nama lain bagi sûrah Al-Fâtihah. Jika ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw memulai shalatnya dengan Al-Hamdu, maksudnya dengan sûrah Al-Fâtihah, dan Al-Fâtihah itu dimulai dengan ayat : Bismillâhir rahmânir rahîm, bukan dengan Al-hamdu lillâhi rabbil 'âlamîn.  



[1] ‘Umar bin Al-Khaththâb pada awal-awal kekuasaannya dia memerintahkan agar shalat sunnah (tarâwîh) di awal malam bulan Ramadhân itu dilaksanakan secara berjama‘ah, kemudian dia menyuruh Ubay bin Ka‘ab sebagai imam shalatnya. Setelah perintah ‘Umar ini diamalkan, maka dia mengatakan, "Senikmat-nikmat bidah adalah ini." [Shahîh Al-Bukhâri 1/342]

Al-‘Allâmah Al-Qasthalâni salah seorang yang men-syarh Shahîh Al-Bukhâri memberikan komentar mengenai perkataan ‘Umar tersebut dengan mengatakan, “Dia menyebutnya bidah, karena Rasûlullâh saw tidak pernah men-sunnah-kan bagi mereka, dan (shalat sunnah tarâwîh itu) tidak terjadi pula pada zaman (Abû Bakar) Al-Shiddîq ra, tidak di awal malam dan tidak juga dengan jumlah raka‘at ini.”  [Irsyâd Al-Sârî 5/4]

Abû Ja‘far dan Abû ‘Abdillâh as mengatakan, "Sesungguhnya Nabi saw apabila telah shalat isya beliau pulang ke rumahnya, kemudian keluar pada akhir malam ke masjid, lalu beliau berdiri shalat dan orang-orang berbaris di belakangannya, kemudian beliau bergegas ke rumahnya meninggalkan mereka, maka mereka melakukan hal itu tiga malam, kemudian beliau saw berdiri pada malam yang ketiga di atas mimbarnya, lalu dia memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu beliau berkata, 'Wahai manusia, sesungguhnya shalat sunnah pada malam hari di bulan Ramadhan secara berjama‘ah itu bid‘ah, ketahuilah, maka janganlah kamu berkumpul pada malam hari di bulan Ramadhan untuk shalat malam. Dan janganlah kamu shalat dhuhâ, sebab hal itu maksiat, ketahuilah! Sesungguhnya setiap bid‘ah itu sesat dan setiap kesesatan itu jalannya ke neraka.'  Kemudian beliau turun dan beliau berkata, 'Sedikit dalam sunnah adalah baik dari pada banyak dalam bid‘ah.'" [Al-Faqîh 2/137]   

[2] Samâ‘ah berkata, "Saya bertanya kepadanya (Imam Ja‘far Al-Shâdiq as) tentang bulan Ramadhân, berapa raka‘atkah shalat (sunnah) padanya?" Beliau berkata, "Sebagaimana shalat pada bulan yang lainnya, hanya saja untuk bulan Ramadhân ada keutamaan di atas bulan-bulan yang lain yang selayaknya seorang hamba menambah amalan sunnahnya, maka jika dia suka dan kuat atas hal itu, dia menambah pada awal malam sampai dua puluh malam, setiap malam 20 rakaat selain dia shalat sebelum itu, dia shalat dari dua puluh malam ini 12 raka‘at antara (shalat) maghrib dan (shalat) ‘isya, dan 8 raka‘at setelah ‘isya. Kemudian dia shalat malam sebagaimana dia shalat sebelum itu, delapan raka‘at dan watir (witir) tiga (raka‘at) yang dia shalat dua raka‘at dan salam, kemudian dia berdiri shalat satu (raka‘at) lalu dia qunût padanya, maka inilah witir. Kemudian dia shalat dua raka‘at fajar (yang waktunya) hingga terbit fajar (yang kedua atau shubuh), maka inilah tiga belas raka‘at. Maka apabila tinggal sepuluh malam lagi dari bulan Ramadhân (sepuluh malam terakhir), dia shalat 30 raka‘at pada setiap malam selain dari yang tiga belas (shalat malam dan shalat fajar), yaitu dia shalat 22 raka‘at antara shalat maghrib dan ‘isya, dan 8 raka‘at setelah (shalat) ‘isya. Kemudian shalat malam 13 raka‘at sebagaimana telah kusebutkan sifatnya kepadamu. Dan pada malam ke-21 dan 23 dia shalat 100 raka‘at apabila dia kuat atas hal itu selain dari yang 13 raka‘at ini, dan dia tidak tidur hingga shuhuh, karena yang demikian itu dianjurkan, dia dalam shalat berdoa dan meminta rahmat, dan diharapkan salah satunya (dari kedua malam itu) adalah malam qadr." [Al-Faqîh 2/138-139; Al-Istibshâr 1/462; Al-Tahdzîb 3/63]

[3] Bihâr Al-Anwâr 94/381-385.

Mon, 6 Jun 2016 @21:42


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+6+0

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved