Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Al-Quran Diturunkan pada Bulan Ramadhan

Al-Quran Diturunkan Secara Keseluruhan pada Malam Qadr di Bulan Ramadhân

            Dari Hafsh bin Ghiyâts berkata: Saya bertanya kepada Al-Shâdiq Ja'far bin Muhammad as, "Kabarkanlah padaku tentang firman Allah, Bulan Ramadhân yang telah diturunkan padanya Al-Quran. Bagaimana Al-Quran telah diturunkan pada bulan Ramadhân sedang Al-Quran telah diturunkan dalam masa dua puluh tahun dari awalnya sampai akhirnya?" Beliau as berkata, "Al-Quran itu telah diturunkan satu jumlah (sekali gus) pada bulan Ramadhân ke Al-Bait Al-Ma'mûr, kemudian dari Al-Bait Al-Ma'mûr diturunkan dalam masa dua puluh tahun." [1]

Dari Jâbir bin 'Abdillâh Al-Anshâri dia berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Ummatku diberi lima perkara dalam bulan Ramadhân yang tidak pernah diberikan kepada ummat seorang nabi pun sebelumku: Adapun yang pertama, maka jika pada awal malam dari bulan Ramadhân, Allah 'azza wa jalla memandang kepada mereka, dan barang siapa yang dipandang Allah, Dia tidak menyiksanya. Yang kedua bau mulut mereka ketika berada pada waktu sore akan lebih harum di sisi Allah dari harumnya misik. Yang ketiga para malaikat memintakan ampunan bagi mereka pada setiap siang dan malam. Yang keempat Allah 'azza wa jalla berfirman kepada surga-Nya, Berhiaslah kamu dan bersiap-lah untuk hamba-hamba-Ku yang tidak lama lagi me-reka beristirahat dari kepenatan dunia dan sakitnya, mereka menuju ke negeri kemulian-Ku. Dan kelima bi-la pada akhir malam dari bulan Ramadhân Allah 'azza wa jalla mengampuni dosa-dosa bagi mereka semuanya." Ada orang bertanya, "Wahai Rasûlullâh, apakah ia itu malam qadr?" Beliau berkata, "Bukan, tidakkah kamu perhatikan para pekerja apabila telah selesai, bagaimana mereka diberi upahnya." [2]

Dari Yûnus bin Zhabyân berkata: Saya telah bertanya kepada Al-Shâdiq as, "Apa yang dapat menjauhkan Iblîs dari kami?" Beliau berkata, "Shaum menghitamkan wajahnya, sedekah mematahkan punggungnya, cinta karena Allah dan saling membantu dalam amal saleh memutuskan pangkalnya dan istighfâr memutuskan jeratnya." [3]

            Dari Rifâ'ah dari Abû 'Abdillâh as berkata: Rasûlullâh saw berkata, "Makan sahurlah agar dapat membantu shaum di siang hari, dan tidur (sianglah) supaya bisa shalat pada malam hari." [4]

Dari Yûnus bin 'Ammâr berkata: Saya telah mendengar Abû 'Abdillâh as mengatakan, "Barang siapa yang berbuka sehari (membatalkan shaumnya) dari bulan Ramadhân, niscaya iman telah keluar darinya." [5]

            Dari Yahyâ bin Abî Lailâ dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Orang yang shaum pada bulan Ramadhân dalam safar seperti orang yang berbuka padanya saat tidak safar," [6]

            Dari Abû 'Abdillâh as berkata: Rasûlullâh saw ber-kata, "Bulan Ramadhân adalah bulan Allah 'azza wa jalla dan ia itu bulan yang padanya Allah melipatgandakan kebaikan-kebaikan dan padanya Dia menghapus keburukan-keburukan, ia adalah bulan barakah, ia adalah bulan pendekatan diri, ia adalah bulan pertobatan (taubah), ia adalah bulan maghfirah (ampunan), ia adalah bulan pembebasan dari api neraka dan keberuntungan dengan surga. Jauhi padanya setiap yang haram, perbanyaklah padanya membaca Al-Quran, mintalah padanya kebutuhan-kebutuhanmu, sibukkanlah padanya dirimu dengan mengingat Tuhanmu, ja-ngan sampai bulan Ramadhân di sisimu menjadi seperti bulan-bulan yang lain, sebab di sisi Allah ia punya kehormatan dan keutamaan di atas semua bulan, dan janganlah pada bulan Ramadhân itu hari shaummu men-jadi seperti hari berbukamu (pada bulan yang lain)." [7]

            Dari Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as berkata, "Barang siapa yang bersedekah pada waktu berbukanya kepada seorang miskin dengan sepotong roti (atau makanan lain), niscaya Allah mengampuni baginya dosanya dan menuliskan baginya pahala membebaskan seorang budak dari keturunan Ismâ'îl." [8]

            Al-Ridhâ as berkata, "Kebaikan-kebaikan pada bulan Ramadhân diterima dan segala keburukan padanya diampuni. Siapa yang membaca satu ayat dari kitab Allah 'azza wa jalla pada bulan Ramadhân adalah dia seperti orang yang menamatkan Al-Quran di bulan-bulan yang lain, siapa yang tersenyum (ramah) padanya pada wajah saudaranya yang beriman, niscaya  dia tidak berjumpa dengan-Nya pada hari kiamat selain Dia tersenyum (rela) pada wajahnya dan menggem-birakannya dengan surga, siapa yang membantu pa-danya seorang yang beriman, niscaya Allah yang maha tinggi menolongnya untuk melewati Al-Shirâth pada hari padanya kaki-kaki tergelincir, siapa yang manahan marahnya padanya, niscaya Allah manahan murkanya darinya pada hari kiamat, siapa yang menolong orang yang teraniaya padanya, Allah pasti menolongnya atas setiap orang yang memusuhinya di dunia dan Dia me-nolongnya pada hari kiamat ketika dihisab dan ditimbang amal. Bulan Ramadhân adalah bulan barakah, bulan rahmah, bulan maghfirah, bulan taubah dan inâbah. Barang siapa yang tidak mendapatkan pengam-punan pada bulan Ramadhân, maka di bulan yang manakah dia akan mendapatkan pengampunan? Maka mintalah kepada Allah supaya Dia menerima shaum kamu padanya, dan tidak menjadikannya kesempatan terakhir bagimu, dan supaya Dia memberimu taufîq padanya untuk mentaati-Nya dan menjagamu dari maksiat kepada-Nya sesungguhnya Dia itu sebaik-baik yang diminta." [9]

            'Abdillâh bin 'Abbâs berkata: Aku mendengar Ra-sûlullâh saw mengatakan dan hal itu dalam bulan Ra-madhân, "Sesungguhnya Allah jalla jalâluh berfirman pada setiap malam di bulan ini, Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, telah Ku-perintahkan pada malaikat-Ku untuk membukakan pintu-pintu langit-Ku buat para pendoa dari hamba-hamba lelaki-Ku dan hamba-hamba perempuan-Ku, tak ada urusan bagi-Ku melihat hamba-Ku yang lalai dalam keadaan lupa dari-Ku, ka-pan dia meminta pada-Ku lalu Aku tidak memberinya, kapan dia memanggil-Ku lalu Aku tidak menjawabnya, kapan dia munajat kepadaku lalu Aku tidak mendekatinya, kapan dia mengharap-Ku lalu Aku menghampa-kannya, kapan dia bercita-cita pada-Ku kemudian Aku mengharamkannya, kapan dia bermaksud ke pintu-Ku lalu Aku menutupnya, kapan dia taqarrub pada-Ku lalu Aku menjauhkannya, kapan dia berlari kepada-Ku lalu Aku meninggalkannya, kapan dia kembali kepada-Ku lalu Aku tidak menerimanya, kapan dia mengakui dosa-dosanya lalu Aku tidak menyayanginya, kapan dia meminta ampun pada-Ku lalu Aku tidak mengampuni dosanya, kapan dia bertobat pada-Ku lalu Aku tidak menerima tobatnya. Wahai hamba-Ku bagaimana kamu bermaksud kepada raja (penguasa) yang dimiliki dengan harapanmu, dan tidak bermaksud kepada-Ku dengan harapanmu sedang Aku raja bagi segala raja, atau bagaimanakah kamu meminta kepada makhluk yang takut miskin dan kamu tidak meminta kepada-Ku sedang Aku yang maha kaya yang tidak membutuh-kan? Atau bagaimanakah kamu berkhidmat kepada penguasa yang tidur yang akan mati, dan kamu tidak berkhidmat kepada-Ku sedang Aku yang maha hidup yang tidak mati dan tidak menyentuh-Ku kantuk dan tidak pula tidur, betapa buruknya makhluk yang durhaka pada-Ku, betapa ruginya manusia yang putus asa dari rahmat-Ku, demi keagungan-Ku Aku bersumpah akan mengambilnya dengan pengambilan yang maha perkasa lagi maha kuasa yang langit dan bumi marah karena marah-Nya, maka hendak ke manakah kamu berlari dari-Ku selain kepada-Ku dan Aku Allah yang maha perkasa lagi maha bijaksana." [10]

            'Abdillâh bin 'Abbâs berkata: Aku mendengar Rasûlullâh saw mengatakan, "Bulan Ramadhân itu tidak seperti bulan-bulan yang lain, karena padanya dilipatgandakan pahala, ia adalah bulan shiyâm, bulan qiyâm, bulan taubah dan istighfâr dan bulan membaca Al-Quran. Ia adalah bulan yang padanya pintu-pintu surga dibukakan dan padanya pintu-pintu neraka ditutupkan. Ia adalah bulan yang padanya ajal dituliskan, padanya rezeki diluaskan dan padanya ada satu malam yang pada malam itu diputuskan setiap perkara dengan bijak, dan padanya dituliskan siapa saja orang-orang yang akan menunaikan haji ke Baitullâhi Al-Harâm, padanya turun malaikat dan Al-Rûh pada orang-orang yang shaum laki-laki dan perempuan dengan izin Tuhannya dalam setiap perkara, salâm ia hingga terbit fajar. Barang siapa yang tidak mendapatkan pengam-punan dalam bulan Ramadhân, dia tidak diampuni sehingga datang tahun berikutnya, maka hendaklah kamu bersegera sekarang dengan amal-amal yang saleh. Pintu tobat dibuka, doa dikabulkan sebelum diri mengucapkan: Duhai betapa ruginya diriku karena kewajiban terhadap Allah yang telah kuabaikan sedang aku ter-masuk orang-orang yang memperolok-olok." [11]

            Dari Al-Hasan bin 'Abdillâh dari ayah-ayahnya da-ri kakeknya Al-Hasan bin 'Ali bin Abî Thâlib as berkata: Serombongan yahudi datang kepada Rasûlullâh saw, lalu yang paling alimnya bertanya kepada beliau tentang beberapa masalah, maka apa yang dia tanyakan ialah dia berkata kepadanya, "Alasan apa Allah 'azza wa jalla mewajibkan shaum atas ummatmu pada siang hari selama tiga puluh hari sedang Allah mewajibkan kepada ummat-ummat yang lain lebih banyak dari itu?" Maka Nabi saw berkata, "Sesungguhnya Ãdam ketika dia makan (buah) dari pohon (yang dilarang, sari buah itu) mengendap di dalam perutnya selama tiga puluh hari, lalu Allah 'azza wa jalla mewajibkan atas keturunannya lapar dan dahaga selama tiga puluh hari dan yang mereka makan pada malam hari itu karunia dari Allah 'azza wa jalla atas mereka, dan begitu pula (kewajiban shaum) atas Ãdam, maka Allah wajibkan hal itu atas ummatku." Kemudian Rasûlullâh saw membaca ayat ini: Telah diwajibkan atas kalian shiyâm sebagai-mana telah diwajibkan atas ummat sebelummu supaya kamu ber-taqwâ, yaitu beberapa hari yang dihitung. Orang yahudi itu berkata, "Kamu benar wahai Muha-mmad, lalu apa balasan bagi orang yang menshauminya." Maka Nabi saw berkata, "Tidak seorang beriman pun yang shaum bulan Ramadhân karena mengharap rido Allah melainkan Allah 'azza wa jalla wajibkan tujuh perkara: Yang pertamanya, menghancurkan yang haram dalam jasadnya. Yang kedua, mendekatkan kepada kasih Allah 'azza wa jalla. Yang ketiga, menjadi kafarat kesalahan ayahnya Ãdam. Yang keempat, meringankan sakaratul maut. Yang kelima, keamanan dari kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Yang keenam, Allah memberinya barâ`ah (bebas) dari api neraka. Dan yang ketujuhnya, Allah memberinya makan dengan makanan-makanan yang baik dari surga." Dia berkata, "Kamu benar, Muhammad." [12]  

            Dari Abû Sa'îd Al-Khudri berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Tidak seorang hamba pun yang masuk padanya bulan Ramadhân, lalu dia shaum siang harinya, menahan keburukannya, menundukkan penglihatannya (dari yang haram dilihatnya), dan menjauhi segala yang diharamkan Allah atasnya melainkan Allah wajibkan surga baginya." [13]

            Dari 'Ali bin Al-Hasan bin 'Ali bin Fadhdhâl dari a-yahnya dari Abû Al-Hasan 'Ali bin Mûsâ Al-Ridhâ as bahwa beliau telah berkata, "Sesungguhnya Allah tabâraka wa ta'âlâ punya malaikat yang ditugasi kepada orang-orang yang puasa laki-laki dan perempaun, para malaikat mengusapnya dengan sayap-sayapnya dan mereka menggugurkan dosa-dosanya, dan sesungguhnya Allah tabâraka wa ta'âlâ punya malaikat yang Dia tugaskan untuk memintakan ampunan bagi orang-orang yang shaum laki-laki dan perempuan, jumlah mereka tidak ada yang tahu selain Allah 'azza wa jalla." [14]

            Dari 'Abdillâh bin 'Abbâs berkata: Nabi saw telah berkata, "Siapa yang shaum bulan Ramadhân karena iman dan ihtisâb (mengharap rido Allah), niscaya diampuni dari dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, dan siapa yang berdiri (ibadah malam) pada malam qadr karena iman dan ihtisâb, niscaya diampuni dari dosanya yang telah lalu dan yang akan datang." [15]

            Dari Ibnu Abî Najrân berkata: Saya telah mende-ngar Abû Al-Hasan as mengatakan, "Siapa yang memu-suhi pengikut kami, maka sesungguhnya dia telah memusuhi kami, dan siapa yang berpihak padanya berarti dia telah berpihak pada kami, karena mereka itu dari kami, mereka diciptakan dari thînah (asal kejadian) kami. Siapa yang mencintai mereka, maka dia dari kami, dan siapa yang membenci mereka, maka dia bukan dari kami. Para pengikut kami itu memandang dengan cahaya Allah, mereka hanyut dalam rahmat Allah, me-reka beruntung dengan karâmah (kemuliaan) Allah. Tidak seorang pun dari pengikut kami yang sakit melainkan kami sakit karena sakitnya, dia tidak bersedih kecuali kami sedih karena kesedihannya, tidak gembira melainkan kami gembira karena kegembiraannya, dan tidak ghaib seorang pun dari pengikut kami di manakah dia; di belahan bumi bagian timurkah atau baratnya, dan siapa yang meninggalkan utang dari pengikut kami, maka ia tanggungan kami, dan siapa yang meninggalkan harta dari mereka, maka ahli warisnya adalah para pengikut kami yang mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji ke Al-Bait Al-Harâm, shaum bulan Ramadhân, berpihak kepada Ahlulbait, berlepas diri dari musuh-musuh kami, mereka itu ahli iman, orang yang taqwâ, ahli wara' dan taqwâ. Siapa yang menolak atas mereka, maka sesungguhnya dia telah menolak atas Allah, siapa yang menikam mereka, maka se-sungguhnya dia telah menikam Allah, sebab mereka itu hamba-hamba Allah yang sesungguhnya dan wali-wali-Nya yang sebenarnya. Demi Allah, sesungguhnya salah seorang dari mereka memberikan syafa'at pada semisal (suku) rabî'ah dan mudharr, lantas Allah menerima syafa'atnya pada mereka karena kemuliaannya atas Allah 'azza wa jalla." [16]

Dari Abû Al-Hasan Mûsâ Al-Ridhâ as bahwa beliau telah berkata, "Siapa yang ingin bertobat dari suatu dosa, maka hendaklah dia bertobat kepada Allah yang maha berkah dan maha tinggi pada bulan Ramadhân, sebab ia bulan pertobatan dan pendekatan diri dan bulan ampunan dan rahmat, dan tidak dari satu malam pun dari malam-malamnya melainkan bagi Allah tabâraka wa ta'âlâ padanya ada orang-orang yang dibebaskan dari api neraka yang semuanya telah seharusnya masuk neraka karena dosa-dosanya." [17]

 


[1] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 87.

[2] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 91.

[3] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 92.

[4] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 92.

[5] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 92.

[6] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 95.

[7] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 96.

[8] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 96.

[9] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 96.

[10] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah hal. 100.

[11] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah, hadîts no. 86.

[12] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah, hadîts no. 87.

[13] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah, hadîts no. 89.

[14] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah, hadîts no. 92.

[15] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah, hadîts no. 94.

[16] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah, hadîts no. 95.

[17] Fadhâ`il Al-Asyhur Al-Tsalâtsah, hadîts no. 96.

Fri, 3 Jun 2016 @21:01


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved