Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Kisah Cinta Prabu Siliwangi

 Kajian Sejarah Islam
Pada Tahun 1409 Ki Gedeng Tapa dan anaknya Nyai Subang Larang, penguasa Syahbandar Muara Jati Cirebon, menyambut kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho yang ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nusantara (1405-1430) dengan membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal.
Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai penguasa Syahbandar Cirebon. Di Cirebon Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar.
Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu, diikutsertakan seorang ulama Syekh Hasanuddin, beliau adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah dari keturunan Sayidina Hussen bin Sayidina Ali as dan Siti Fathimah putri Rasulullah saw. Syekh Hasanuddin, seorang ulama yang hâfizh Al-Qur’an serta ahli qira’at yang sangat merdu suaranya untuk mengajar Islam di Kesultanan Malaka.
Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau pulang ke Campa dengan menempuh perjalanan melewati daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura hingga melalui pelabuhan Muara Jati. Di Muara Jati Syekh Hasanuddin berkunjung kembali ke Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Cerbon yang dulu pernah dikunjunginya bersama Laksamana Cheng Ho.
Kedatangan ulama besar yang ahli qira`ah tersebut, disamping karena perubahan tatanan dunia politik dan ekonomi yang dipengaruhi oleh Islam hingga banyak kapal niaga muslim yang berlabuh di pelabuhan Cirebon, kapal niaga dari India Islam, Timur Tengah Islam dan Cina Islam. memungkinkan tumbuhnya rasa simpati Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon terhadap Islam. Karenanya kedatangan Syekh Hasanuddin disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang memperoleh kekuasaan berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat.
Ketika kunjungan yang cukup lama itu berlangsung, Ki Gedeng Tapa dan anaknya Nyai Subang Larang serta masyarakat Syahbandar Muara Jati merasa tertarik dengan suara lantunan ayat Al-Quran serta ajarannya yang dibawa Syekh Hasanuddin, hingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.
Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh Syekh Hasanuddin di Muara Jati Cirebon, yang merupakan bawahan dari Kerajaan Pajajaran, rupanya sangat mencemaskan raja Pajajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu, penyebaran Islam dperintahkan agar dihentikan. Perintah dari Raja Negeri Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syekh Hasanuddin. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa. Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Islam. Oleh karena itu, sebagai wujud kesungguhannya terhadap agama Islam, putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar mengaji dan Islam di Campa.
Beberapa waktu lamanya berada di Campa, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah negeri Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan dua perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya adalah Syekh Abdul Rahman, Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.termasuk Nyai Subang Larang.
Sekitar tahun 1416 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, dan Sunda Kelapa, lalu memasuki Kali Citarum,yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Negeri Pajajaran, akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. dimana kegiatan pemerintaahan di bawah kewenangan Jabatan Dalem. Karena rombongan tersebut sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan, maka aparat setempat sangat menghormati dan memberikan izin untuk mendirikan mushalla (1418 Masehi) sebagai sarana ibadah sekaligus tempat tinggal mereka. Setelah beberapa waktu berada di pelabuahan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan ajarannya di mushalla yang dibangunya (sekarang Mesjid Agung Karawang). Dari urainnya, mudah dipahami dan mudah diamalkan, dia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.
Ulama besar ini sering membaca Al-Quran dengan suaranya yang merdu bersama murid-muridnya, Nyi Subang Larang, Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti Syekh Abdillah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Mudafah alias Syekh Maghribi keturunan dari sahabat Nabi saw yang bernama ‘Utsman bin Affan. Karena ulama ini memang seorang ahli baca Al-Quran yang merdu suaranya, maka setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.
Berita tentang ajakan Syekh Hasanuddin yang kemudian masyarakat Pelabuhan Karawang memanggilnya dengan Syekh Quro, rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.
Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Quran yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik dan halus budinya.
Pinangan tersebut diterima tapi dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid yang berada di Mekkah. permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Dan atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Makkah.
Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah Rasa disambut oleh Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya di ketahui oleh seorang syekh. Dan Syekh itu bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa mengucapkan Dua Kalimah Syahadat yang maknanya adalah pengakuan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang harus diibadati dan Muhammad saw adalah utusan-Nya. Sejak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu, Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang ajaran Islam yang sebenarnya. Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Pajajaran untuk melangsungkan pernikahannya dengan Nyi Subang Larang. Pada tahun 1422 M, pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Beberapa lama setelah menikah, Prabu Pamanahah Rasa dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.
Kerajaan Pakuan Pajajaran biasa disebut kerajaan Pajajaran saja (1482 – 1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan Prabu Pamanah Rasa terkenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja pada usia 18 tahun. Meski sudah masuk Islam ternyata Prabu Siliwangi tetap menjadikan ajaran “resmi” kerajaan yang dianut saat itu tetap “Sunda Wiwitan” yakni “ajaran dari leluhur yang dijunjung tinggi yang mengejar kesejahteraan”. Konon ajaran Sunda memang tidak mensyaratkan untuk membangun tempat peribadatan khusus, oleh karena itu maka sisa-sisa peninggalan yang berupa bangunan candi tidak ditemukan di Jawa Barat.
Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan Pajajaran. Putra dari Prabu Anggalarang dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati. Istri pertama adalah Nyi Ambetkasih, sepupunya sendiri, yang merupakan putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, putra ketiga Wastu Kancana dari Mayangsari, yang menjadi raja muda di Surantaka (Sekitar Majalengka sekarang). Dengan pernikahan ini dia ditunjuk menjadi pengganti Ki Gedeng Sindangkasih sebagai raja muda Surantaka. Dari Ambetkasih dia tidak mendapat keturunan. Istri keduanya, Nyai Subang Larang putri dari Ki Gedeng Tapa. Istri Ketiga, adalah Kentring Manik Mayang Sunda, adik dari Amuk Murugul. Kentring Manik Mayang Sunda, dinikahkan kepadanya untuk menyatukan kembali kekuasaan Sunda-Galuh yang sempat terpecah menjadi dua. Keturunan Kentring Manik Mayang Sunda dan Prabu Siliwangi inilah yang dianggap paling sah menduduki tahta Pajajaran. Istri keempatnya Aciputih putri dari Ki Dampu Awang, seorang panglima perang dari Cina yang menjadi nakhoda kapal Laksamana Cheng Ho.
Pernikahan kedua di Mushalla yang senantiasa mengagungkan alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Quran yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Oleh karena itu para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar iman dan Islam bagi umat di Negeri Pajajaran. Nyai Subang Larang sebagai isteri kedua seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan cahaya Islamnya.
Perbedaan yang mencolok antara Ibu Subang Larang dengan istri-istri Prabu Siliwangi lainnya adalah keunggulan mendidik anak-anaknya yang mencerminkan sosok ibu yang idealnya seperti seorang ibu bahkan bagi sebagian orang Bogor, Ibu Subang Larang-lah yang biasa disebut dengan nama Ibu Ratu bukan Nyai Roro Kidul seperti yang diyakini sebagian masyarakat. Hasil dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang tersebut mereka dikarunai tiga anak yaitu: 1. Raden Walangsungsang (1423 Masehi) ; 2. Nyi Mas Rara Santang (1426 Masehi) ; 3. Raja Sangara (1428 Masehi).
Melihat kondisi Pakuan Pajajaran yang menganut keyakinan “Sunda Wiwitan” Subang Larang tidak mungkin mengajari Islam putra putrinya sendiri di istana Pakuan Pajajaran. Diizinkan Putra pertama yang laki-laki bernama Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Nyimas Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama Syekh Nur Kahfi, beliau adalah muballigh asal Baghdad, Irak. Dengan memilih pengajian di pelabuhan Muara Jati, yaitu Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang, dengan restu Prabu Siliwangi menjadi Pangeran Cakrabuana mendirikan kerajaan di bawah Pajajaran dan memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.
Sedangkan Nyi Mas Rara Santang di tempat pengajian Gunung Jati Cirebon tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Syarif Hidayatullah yang di kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Penerus raja Caruban Larang yang menurut cerita versi Pajajaran beliau yang mendirikan asal muasal kota Cirebon.
Sedangkan Raja Sangara menuntut ilmu Islam dengan mengembara hingga ke Timur Tengah. Kemudian menyebarkan ajaran Islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), beliau wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut.
Adapun kegiatan Pesantren Quro, Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulokalapa dan sekitarnya.
Setelah wafat, Syekh Quro dimakamkan di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.
Sumber :
http://cainusantara.wordpress.com/2011/02/07/alunan-suara-nyai-subang-larang-yang-meluluhkan-keras-hatinya-prabu-siliwangi/
http://groups.yahoo.com/group/bmg2006_sukses/message/3107
http://www.pelitakarawang.com/2010/03/sekilas-sejarah-makam-syekh-quro.html
http://indo.hadhramaut.info/view/1941.aspx
http://su.wikipedia.org/wiki/Obrolan:Prabu_Siliwangi
http://www.forumbebas.com/printthread.php?tid=20951
http://www.asalcageur.co.cc/2009/06/sejarah-sunda-bagian-6.htm
Editor : Abu Fathirabbani

Sun, 10 Apr 2016 @08:02


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved