Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Terorisme

Terorisme

Penggunaan kekerasan, kekejaman, kengerian dan tindakan sewenang-wenang untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan terutama tujuan politis dinamakan terorisme. Dan usaha menciptakan perbuatan-perbuatan tersebut yang dilakukan oleh seseorang atau golongan disebut teror dan pelakunya dijuluki teroris. Dan mengapakah dari kaum yahudi, dari kaum nasrani dan dari kaum muslim yang mempunyai kitab-kitab langit yang diturunkan kepada Musa, ‘Isa dan Muhammad--‘alaihimussalâm--ada yang menjadi teroris?

Ketika orang menjadi teroris, berangkatnya dari pola fikir yang sangat subyektif, yaitu merasa dirinya saja yang benar dan orang lain selain dirinya dipandang salah, sesat dan kafir. Ketika dirinya merasa benar sendiri sedangkan orang lain yang tidak sepaham dengannya dipandang sesat, maka orang-orang semacam ini mempunyai potensi untuk menjadi teroris. Dan ketika orang lain dipandang sesat, menyesatkan, merusak ajaran dan kafir, maka  dengan pandangan subyektifnya itu akan menganggap halal darah orang lain yang tidak sepaham dengannya. Dan ketika menganggap orang lain yang tidak sepaham dengannya itu halal darahnya, maka mereka akan melakukan teror dan pembunuhan yang diatasnamakan agama dan jihad di jalan Tuhan hingga membunuh manusia tidak lagi ada perasaan berdosa dan bersalah. Itulah bahayanya angan-angan kosong yang merasa dirinya saja yang benar dan selain dirinya salah. Maka orang-orang yang sangat berpotensi menjadi teroris tidak segan-segan membuat kebohongan, mengadakan rekayasa, memutarbalikkan fakta dan menyebarkan fitnah terhadap orang-orang yang dianggapnya sesat.

            Doktrin sebagian kaum yahudi; merekalah yang benar dan kaum nasani yang salah. Dan doktrin kaum nasrani; justru mereka yang benar dan kaum yahudi yang salah. Demikian pula doktrin sebagian kaum muslim bahwa dirinyalah yang benar dan semua manusia yang tidak sepaham dengannya dicap sesat dan kafir. Maka perasaan, angan-angan dan pikiran seperti itu kalau dibiarkan terus melambung akan memicu mereka untuk menjadi teroris.

            Yahudi atau Israel dan nasrani akan merasa enteng dan tidak merasa berdosa sedikitpun ketika membantai bangsa Palestina, karena mereka meyakini sebagai bangsa pilihan Tuhan dan ada di jalan yang benar sedang bangsa Palestina dianggapnya sebagai sampah gurun yang hina yang harus dienyahkan dari muka bumi. Perhatikan kaum qâsithîn dan mâriqîn yang memerangi Imam ‘Ali as dan para sahabat setianya dalam perang Jamal, perang Shiffîn dan Nahrawan, dan ‘Abdurrahman bin Muljam tidak segan-segan membunuh Imam ‘Ali as karena mereka menganggap beliau telah sesat. Bala tentara Yazid yang muslim itu, ketika mereka membantai cucu Nabi saw Husain as, keluarga dan para sahabatnya di padang Karbala sama sekali tidak merasa berdosa karena orang-orang yang dibantainya itu dipandang salah dan sesat. Demikian pula pasukan koalisi yang menggempur rakyat Yaman tidak pernah merasa berdosa, karena rakyat Yaman dipandang salah dan sesat. Itulah pembunuhan kalau diatasnamakan agama, maka para pelakunya tidak merasa bersalah dan berdosa apalagi menyesal.

            Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam Al-Kitab, Dan berkatalah kaum yahudi: Kaum nasrani tidak di atas pijakan yang benar. Dan berkatalah kaum nasrani: Kamu yahudi tidak di atas pijakan yang benar. Padahal mereka membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berpengetahuan (luas) mengatakan semisal ucapan mereka. Maka pada hari kiamat Allah akan menentukan hukuman di antara mereka mengenai apa yang mereka perselisihkan. [Sûrah Al-Baqarah 2/113]

            Maka kaum muslim yang ingin berkuasa jangan hanya mengkaji Islam dari sisi jihadnya saja, tetapi wajib mengkaji Islam secara keseluruhan dari berbagai sisinya agar tidak dengan mudah menyalahkan, menyesatkan dan menganggap halal darah orang lain yang tidak sepaham dengannya. Islam jauh sekali dari terorisme, kehadirannya di muka bumi dari sejak Ãdam as hingga Muhammad saw adalah kasih dan rahmat bagi alam semesta. Dan para penceramah agama ketika menyampaikan ceramahnya mesti santun dan hikmah jangan ‘bebeledugan’ seperti knalpot motor yang bising. Maka ummat Islam harusnya memikul misi ini, yaitu menyebar kasih kepada sesama baik muslim maupun non muslim. Imam ‘Ali as mengatakan bahwa muslim itu saudara seajaran sedangkan non muslim adalah saudara dalam kemanusian.

 

Nasihat Imam ‘Ali Zainul ‘Âbidîn

Suatu hari Muslim bin Syihâb atau Zuhri datang kepada Imam ‘Alî Zainul ‘Âbidîn as dengan wajah yang sedih, kemudian dia menyampaikan keluhannya, sebab dia telah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari sebagian kaum muslim yang tidak sepaham dengannya.

Imam ‘Ali bertanya kepadanya, “Mengapa keadaanmu begitu sedih?”

Zuhri berkata, “Wahai putra Rasûlullâh, sedih dan susah telah menyelimuti diriku, karena aku telah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang hasud dan rakus, padahal mereka itu orang-orang yang aku harapkan (untuk menerima kebenaran) sementara aku telah berbuat baik kepada mereka, namun pada kenyataannya mereka tidak seperti yang aku harapkan.”

Imam ‘Ali berkata, “Jagalah lidahmu supaya kamu dapat menguasai saudara-saudaramu itu.”

Zuhrî  berkata, “Wahai putra Rasûlullâh! Aku telah berbuat baik kepada mereka sebelum aku katakan.

Imam ‘Ali as berkata, “Jauh...jauh! Jangan kagum dengan dirimu, jangan kamu bicara yang diingkari oleh hati sekalipun kamu bisa berdalih, maka tidak setiap orang yang diperlakukan kasar dapat memberi maaf. Zuhri! Bukankah wajib atas kamu menjadikan seluruh kaum muslim itu sebagai keluargamu sendiri? Kemudian kamu jadikan orang Islam yang lebih tua darimu sebagai orang tuamu, yang lebih muda darimu sebagai anakmu (atau adikmu) dan yang sebaya denganmu sebagai saudaramu? Apabila kamu perlakukan orang Islam seperti itu, maka orang Islam yang manakah kiranya yang akan kamu zalimi? Orang Islam yang manakah yang akan kamu doakan atasnya agar celaka? Dan orang Islam yang manakah yang akan kamu robek tirainya?

Apabila Iblîs–Allah melaknatnya–datang kepadamu dengan memberikan gambaran bahwa kamu adalah orang yang punya suatu kelebihan atas salah seorang muslim yang lain, maka perhatikan (cara untuk menggagalkan tipu daya Iblîs tersebut). Jika kamu merasa punya kelebihan atas orang yang lebih tua darimu, katakanlah, 'Dia telah mendahuluiku dengan îmân dan amal saleh, maka dia lebih baik dariku.’ Bila kamu merasa punya kelebihan atas seseorang yang usianya lebih muda darimu, katakanlah, 'Aku telah mendahuluinya dengan kemaksiatan dan dosa-dosa, maka dia lebih baik dariku.' Dan jika kamu merasa punya kelebihan atas orang muslim yang usianya sebaya denganmu, maka katakan, 'Aku yakin dengan dosa-dosaku, tetapi aku ragu tentang dosa-dosanya, maka aku tidak akan meninggalkan keyakinanku untuk mengikuti keraguanku (bagaimana pun dia lebih baik dariku).’

Apabila kamu melihat orang-orang muslim menghormatimu, memuliakanmu dan mengagumimu, maka katakanlah, 'Sebenarnya ini keutamaan yang ada pada mereka.' Dan jika kamu lihat di antara mereka berlaku kasar terhadapmu dan tidak mau memberikan pertolongan kepadamu, maka katakanlah, 'Ini disebabkan dosa-dosa yang telah kulakukan.’

Jika kamu dapat melakukan yang demikian, maka (1) Allah akan mempermudah penghidupanmu, (2) sahabat-sahabatmu akan bertambah banyak, (3) musuh-musuhmu akan berkurang, (4) kamu akan gembira, karena mendapatkan kebaikan dari mereka dan (5) kamu tidak akan bersedih hati jika mendapatkan perlakuan kasar dari mereka.” [1]

Itulah pesan Imam ‘Ali Zainul ‘Âbidîn tentang bagaimana seharusnya kita bersaudara dengan sesama kaum muslim dan bagaimana semestinya kita bersikap kepada mereka. Seandainya saja kita mendapatkan perlakuan tidak baik dan kasar dari sebagian kaum muslim, maka tidak usah kita bersedih hati, sebab sangat boleh jadi hal itu sebagai akibat dari dosa-dosa dan kesalahan kita terhadap mereka atau terhadap ummat Islam yang lain yang kemudian dibalaskan melalui mereka. Dan apabila kita telah berbuat kebaikan kepada sesama muslim, janganlah kita bangga dan menyebut-nyebut kebaikan tersebut, karena hal itu akan menggugurkan pahalanya di sisi Allah.

Pada saat kita merasa punya keutamaan atau kelebihan atas orang lain, maka yakinkanlah bahwa yang membangkitkan pikiran dan perasaan kita seperti itu adalah Iblîs, dia hendak menipu kita dengan cara yang amat halus, dan yang menyebabkan Iblîs terkutuk adalah karena dia merasa memiliki kelebihan atas Ãdam dan perasaan seperti itulah yang telah menjatuhkan dirinya. Allah mengkisahkan ucapan Iblîs, Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakanku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.[2]


[1] Bihâr Al-Anwâr 71/156.

[2] Sûrah Al-A‘râf 7/12 dan Shâd 38/76.

Mon, 15 Feb 2016 @07:13


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+5+5

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved