Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

SYAHADAH

Salah satu makna syahâdah adalah gugur di jalan Allah, bukan di jalan manusia atau di jalan thâghût (setiap jalan yang menyimpang dari jalan Allah). Orang yang gugur di jalan Allah tentunya memahami ajaran Islam secara keseluruhan, paling tidak memahami prinsip-prinsip dari ajaran Islam itu sendiri. Syahâdah adalah cara mati yang paling baik, dan orang yang telah mencapai maqâm (kedudukan) syahâdah dinamakan syahîd dan jika banyak disebut syuhadâ`. Syahîd artinya orang yang menyaksikan atau melihat Allah ‘azza wa jalla dengan hatinya. Imam ‘Ali as berkata, “Sesungguhnya Dia tidak dilihat mata dengan kesaksian penglihatan, tetapi Dia dilihat oleh hati dengan hakikat iman.”

Doa untuk Mendapatkan Syahâdah
    Allâhumma rabbas saqfil marfû’, wal jawwil makfûf, alladzî ja’altahu maghîdhan lil laili wan nahâr, wa majran lisy syamsi wal qamar, wa mukhtalafan lin nujûmis sayyârah, wa ja’altahu sibthan min malâikatik, lâ yas-amûna min ‘ibâdatik. Wa rabba hâdzihil ardhil latî ja’altahâ qarâran lil anâm, wa madrajan lil hawâmmi wal an’âm, wa mâ yuhshâ mimmâ yurâ wa mâ lâ yurâ. Wa rabbal jibâlir rawâsil latî ja’altahu lil ardhi autâdâ, wa lil khalqi i’timâdâ. In azh-hartanâ ‘alâ ‘aduwwinâ, fajannibnal baghya wa saddidnâ lil haqq, wa in azh-hartahum ‘alainâ farzuqnasy syahâdah, wa’shimnâ minal fitnah.
    Ya Allah Engkau Pemilik atap yang tinggi dan angkasa yang dikuasai yang Engkau telah menjadikannya penyebab bagi adanya malam dan siang hari, tempat orbit bagi matahari dan bulan, tempat datang dan pergi bagi bintang-bintang yang berjalan, dan Engkau telah menjadikan penduduknya satu kabilah dari malaikat-Mu, mereka tidak jemu dari mengabdi kepada-Mu. Dan Engkau Pemilik bumi ini yang Engkau telah menjadikannya tempat menetap bagi manusia, dan tempat berjalan bagi binatang dan hewan ternak yang tidak terhitung jumlahnya baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat mata. Dan Engkau Pemilik gunung-gunung yang menjulang tinggi yang Engkau telah menjadikannya pasak-pasak bagi bumi, dan tempat berpijak bagi makhluk. Jika Engkau memberikan kemenangan pada kami atas musuh kami, maka jauhkanlah kami dari berbuat zalim dan teguhkanlah kami di atas kebenaran, dan bila Engkau berikan kemenangan pada mereka atas kami, maka karuniakanlah syahâdah pada kami, dan jagalah kami dari fitnah. [Nahj Al-Balâghah, khotbah ke-171]

Prinsip-prinsip Islam yang Mesti Dipahami Mujâhid  
    Prinsip-prinsip ajaran Islam itu: (1) Tauhîd atau meng-ahad-kan Allah ‘azza wa jalla dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. (2) ‘Adâlah atau keadilan Allah, yakni Allah itu Maha Adil, segala hukum dan syari’ah-Nya adalah adil dan segala peraturan yang bertentangan dengan peraturan-Nya adalah kezaliman. (3) Nubuwwah atau kenabian Muhammad saw bahwa beliau manusia yang paling mulia di dunia dan akhirat dan beliau adalah nabi yang pertama dan yang terakhir; pertama diciptakan dan ditetapkan sebagai nabi dan terakhir dilahirkan ke bumi sebagai penutup para nabi. (4) Imâmah atau kepemimpinan Islam setelah nubuwwah, yakni mengimani para imam atau para khalifah Rasulullah saw yang semuanya berjumlah dua belas orang dan semuanya dari keturunan Quraisy dari Banî Hâsyim dari Ahlulbaitnya sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam shahihnya, dan mencintai Nabi saw serta Ahlulbaitnya itu adalah asas ajaran Islam itu sendiri. (5) Ma’ad atau segala yang berkenaan dengan hari akhir dan akhirat yang dijanjikan. Nah, lima prinsip inilah yang harus dimiliki oleh orang-orang yang berjihad di jalan Allah.

Kebaikan yang Paling Tinggi dan Tetes Darah yang Paling Dicintai
    Setiap kebaikan yang diamalkan ada lagi kebaikan lain yang lebih tinggi darinya hingga seseorang dibunuh di jalan Allah, apabila seseorang dibunuh di jalan Allah, maka tidak ada lagi kebaikan yang lebih tinggi darinya.    

Rasulullah saw berkata, “Di atas setiap kebaikan ada kebaikan lain (yang lebih tinggi) hingga orang itu dibunuh di jalan Allah, maka apabila dia dibunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla, maka tidak ada kebaikan lain di atasnya.” [Bihâr Al-Anwâr 100/10] Dan ada dua tetes yang paling dicintai Allah sebagaimana dikatakan oleh Imam ‘Ali Zainul ‘Âbidîn as, “Tidak ada tetesan yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla selain dari dua tetes: Satu tetes darah di jalan Allah dan satu tetes air mata di dalam kegelapan malam yang dengannya seorang hamba tidak menghendaki selain Allah ‘azza wa jalla.” [Bihâr Al-Anwâr 100/10]

Syahâdah Menghapus Segala Dosa
    Syahâdah di jalan Allah merupakan amal saleh yang paling tinggi, tidak ada kebaikan lagi di atas itu, dan syahâdah dapat menghapus segala dosa baik dosa kecil maupun dosa besar kecuali utang. Rasulullah saw berkata, “Syahâdah itu menghapus semua dosa selain utang.” [Kanz Al-‘Ummâl, hadîts 11098] Beliau berkata, “Tetesan pertama dari darah syahîd (menyebabkan) diampuni baginya dosanya semuanya selain utang.” [Kanz Al-‘Ummâl, hadîts 11110] Dan Imam Muhammad Al-Bâqir as berkata, “Setiap dosa dihapus oleh terbunuh di jalan Allah kecuali utang, sebab (dosa) utang itu tidak adalah penghapusnya selain dibayarnya atau dibayarkan sahabatnya (orang lain) atau dimaafkan oleh orang yang punya hak.” [Nawâdir Al-Rawandi 1/517]
    Dan syahîd terkemuka yang mengguncang dunia pada tahun ini adalah seorang alim dari Jazîrah Arab Ayatullah Bâqir Al-Nimr yang dihukum mati setelah dipatah-patahkan tulang-belulangnya karena dia mengkritisi kezaliman penguasa. Semoga dia sebagaimana disebutkan dalam Al-Kitâb, dia hidup di sisi Rabbnya mendapatkan rezeki, bahagia dan gembira, tidak ada ketakutan baginya dan dia tidak bersedih hati, dan semoga Allah ‘azza wa jalla meninggikan derajatnya dan mensucikan ruhnya dan melaknat para pembunuhnya dengan laknat yang besar.

Syuhadâ` itu Hidup
    Orang-orang yang gugur di jalan Allah tidak disebut mati bahkan mereka itu hidup di sisi Allah. Allah ‘azza wa jalla berfirman, Dan janganlah kamu katakan mati bagi orang yang dibunuh di jalan Allah, bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadari. [Sûrah Al-Baqarah 2/154] Dan firman-Nya Yang Maha Tinggi, Dan jangan sekali-kali kamu menganggap mati bagi orang-orang yang dibunuh di jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya mendapatkan rezeki. Mereka bahagia dengan apa-apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya, dan mereka gembira dengan orang-orang yang belum menyusul mereka di belakang mereka, bahwa tidak ada ketakutan bagi mereka dan mereka tidak bersedih. [Âli ‘Imrân 3/169-170]
    Karena saking bahagianya mendapatkan pahala syahâdah, maka para syuhadâ` ingin kembali ke dunia dan terbunuh lagi di jalan Allah sampai beberapa kali.
    Rasulullah saw berkata, “Tidak seorang pun yang masuk ke surga ingin kembali lagi ke dunia walau seandainya di atas bumi memiliki segala sesuatu, kecuali syahîd (orang yang gugur di jalan Allah), sebab dia itu ingin kembali lagi (ke dunia), lalu terbunuh lagi sampai sepuluh kali, dikarenakan dia melihat dari kemuliaan.” [Shahîfah Al-Ridhâ hal. 1498]
    Beliau saw berkata, “Tidak satu diri pun yang mati dan baginya di sisi Allah mendapatkan kebaikan yang menggembirakannya ingin kembali lagi ke dunia,  dan bahwa baginya (jika kembali ke dunia memiliki) dunia beserta isinya, kecuali syahîd (orang yang gugur di jalan Allah), sebab dia mencita-citakan kembali ke duania, lalu dibunuh lagi.” [Kanz Al-‘Ummâl, hadîts 10542]  
    Dan orang yang syahîd itu tidak akan mendapatkan fitnah atau cobaan di dalam kuburnya sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah saw.
    Rasulullah saw berkata, “Barang siapa yang berjumpa dengan musuh, lalu dia bersabar hingga dia dibunuh atau menang, tidak akan mendapatkan cobaan (fitnah) di dalan kuburnya.” [Kanz Al-‘Ummâl, hadîts 10662]
    Nabi saw pernah ditanya: Mengapakah orang-orang yang beriman itu dicoba di dalam kuburnya selain yang tergolong syahîd? Maka beliau berkata, “Telah cukup sebagai cobaan (baginya) dengan kilatan pedang-pedang (senjata) di atas kepalanya.” [Kanz Al-‘Ummâl, hadîts 11741]

Thu, 28 Jan 2016 @19:33


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+6+5

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved