Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Nikah Mut'ah dalam Islam

NIKAH MUT‘AH DALAM ISLAM

Nikah mut'ah disepakati adanya, tetapi tidak disepakati mengenai masih berlakunya. Sebagian ummat Islam meyakininya bahwa nikah mut'ah itu masih berlaku seperti halnya syari'ah-syari'ah yang lainnya. Tetapi sebagiannya beranggapan bahwa nikah mut'ah itu telah dihapus hukumnya (mansûkh). Terjadinya perbedaan ini karena 'Umar bin Al-Khaththâb telah melarangnya pada masa kekuasaannya.
   

Nikah mut'ah telah disyari'ahkan Allah dan Rasûl-Nya dan diamalkan oleh kaum muslim pada zamannya saw hingga beliau wafat, kemudian mereka mengamalkan setelahnya pada zaman Abû Bakr sampai beliau meninggal, lalu setelahnya 'Umar berkuasa dan mereka terus mengamalkannya hingga dia melarangnya  dengan ucapannya di atas minbar, "Ada dua mut'ah yang terjadi di zaman Rasûlullâh dan aku melarang keduanya dan aku akan menjatuhkan hukuman bagi orang yang melakukan keduanya: mut'atul hajji dan mut'aun nisâ`."   

Larangan sahabat dan ulama abaikan saja karena tidak ada kaitannya dengan syari'ah Allah dan Rasûl-Nya, dan buat kita cukuplah Al-Qurãn Al-Karîm sebagai dalil dalam kebolehannya, yaitu ayat ke-24 sûrah Al-Nisâ` dan sunnah Rasûlullâh saw.  

Apa yang dihalalkan Nabi saw halal sampai hari kiamat dan apa yang diharamkannya haram sampai hari kiamat.

عَنْ زُرَارَةَ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْحَلَالِ وَ الْحَرَامِ فَقَالَ حَلَالُ مُحَمَّدٍ حَلَالٌ أَبَداً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَ حَرَامُهُ حَرَامٌ أَبَداً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا يَكُونُ غَيْرُهُ وَ لَا يَجِي‏ءُ غَيْرُهُ. وَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ ع مَا أَحَدٌ ابْتَدَعَ بِدْعَةً إِلَّا تَرَكَ بِهَا سُنَّةً

Dari Zurârah berkata: Saya telah bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang halal dan haram, maka beliau berkata, "Halal Muhammad adalah halal selamanya sampai hari kiamat, dan haramnya adalah haram selamanya sampai hari kiamat, tidak terjadi yang lainnya dan tidak datang yang selainnya." Dan Dia berkata, "'Ali as telah berkata, 'Seseorang tidak mengadakan suatu bid'ah melainkan dengannya dia tinggalkan satu sunnah.'"   

Terhadap nikah mut'ah sebagian orang suka menyebutnya nikah kontrak, semua macam pernikahan hakikatnya kontrak, nikah permanen kontraknya sam-pai mati salah satunya bahkan dapat dipersingkat waktunya dengan thalâk atau khulû'.
Jika suami mati misalnya, istri yang ditinggal-kan sudah bukan istrinya lagi, dia tinggal menunggu masa 'iddah dan berkabung selama empat bulan sepuluh hari, setelah itu dia bisa menikah lagi dengan lelaki lain yang dicintainya kapan saja.

Perbedaan Nikah  Permanen dan Nikah Mut'ah
1.    Dalam nikah permanen, masa berlaku pernikahan tidak disebutkan sedang dalam nikah mut'ah mesti disebutkan, misalnya untuk sekian hari, sekian bulan, sekian tahun atau sekian puluh tahun.
2.    Nikah permanen bisa diperpendek dengan cara menjatuhkan thalâq dari suami atau khulû' dari istri sedang nikah mut'ah bisa diperpanjang setelah masa berlakunya habis.
3.    Dalam nikah permanen ada thalâq, dan jika istri di-thalâq suaminya sebanyak tiga kali, maka dia tidak bisa kembali lagi kepada mantan istrinya kecuali dia telah menikah dengan lelaki lain dan bila laki-laki itu telah menceraikannya serta masa 'iddah-nya telah habis, maka suami yang sebelumnya bisa kembali lagi. Dan bila suaminya itu telah menceraikannya sebanyak sembilan kali, maka dia tidak bisa kembali lagi untuk selama-lamanya. Dalam nikah mut'ah tidak ada thalâq, maka dia bisa nikah mut'ah dengan mantan istri-nya berapa kali yang tidak terbatas.
4.    Dalam nikah permanen ada pewarisan antara suami dan istri jika salah satunya meninggal sebagaimana dalam Al-Quran, bila istri mati, suami dapat setengah, jika istri punya anak suami dapat seperempat. Bila suami mati, istri dapat seperempat, jika suami punya anak istri dapat seperdelapan.  
5.    Dalam nikah permanen, jumlah istri dibatasi sampai empat orang istri sedang dalam nikah mut'ah tidak terbatas.
6.    Dalam nikah permanen tentang hubungan suami-istri dan nafkah tidak disyaratkan sedang dalam nikah mut'ah bisa disyaratkan untuk tidak melakukan hubungan suami-istri (jimâ') dan ti-dak memberi nafkah.
7.    Dalam nikah permanen, istri apabila diceraikan wajib ber-'iddah tiga kali haid sedang dalam nikah mut'ah jika telah habis masanya, istri wajib 'iddah satu kali haid.
8.    Dalam nikah permanen istri yang dicerai ketika dalam masa 'iddah-nya wajib dinafkahi sedang dalam nikah mut'ah tidak wajib.
9.    Dalam nikah permanen bagi lelaki yang beristri lebih dari satu wajib berlaku adil dalam qismah dan nafqah (kilir dan belanja) sedang dalam nikah mut'ah hal itu tidak mengikat.
    
Dalil-dalil Nikah Mut'ah
فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيْضَةً وَ لاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْضِ الْفَرِيْضَةِ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Maka jika kamu nikahi secara mut‘ah dari mereka (sampai waktu tertentu), berikan kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban, dan tidak mengapa buat kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakan-nya setelah menentukan mahar. Sesungguhnya Allah ma-ha mengetahui lagi maha bijaksana.  
Dalam Syarh Muslim oleh Al-Nawâwi disebutkan bahwa Ibnu Mas'ud membacanya Famastamta'tum bihi minhunna ilâ ajalin (Maka jika kamu menikahi mereka secara mut'ah sampai suatu waktu). Dalam kitab Tafsir Al-Kabîr dan Al-Kasysyâf disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbâs, Ubayy bin Ka'ab, Sa'îd bin Jubair dan Al-Sudi membaca ayat tersebut sebagai berikut:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ...

Maka yang kamu nikahi secara mut‘ah dari mereka sampai waktu tertentu, maka berikanlah kepada mereka maharnya…


عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ع عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ نَزَلَتْ فِي الْقُرْآنِ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَ لاَ جُناحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَراضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ

Dari Abû Bashîr berkata: Saya bertanya kepada Abû Ja'far as tentang mut'ah. Maka beliau berkata, "Telah turun (dalilnya) dalam Al-Quran, Maka mut'ah yang kalian lakukan dengan mereka (perempuan-perempuan), maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai kewajiban, dan tidaklah mengapa atas kamu terhadap apa yang kamu telah saling merelakannya setelah kewajiban (menentukan mahar itu)."  

    عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كَانَتِ الْمُتْعَةُ تُفْعَلُ عَلَى عَهْدِ إِمَامِ الْمُتَّقِينَ رَسُولِ اللَّهِ ص

    Dari Al-Zuhri dari 'Urwah bin Al-Zubair ber-kata: Ibnu 'Abbâs telah berkata, "Adalah nikah mut'ah dilaksanakan pada zaman Imâmul Muttaqîn Rasûlullâh saw."

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص أَيُّ رَجُلٍ تَمَتَّعَ بِامْرَأَةٍ مَا بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ أَحَبَّا أَنْ يَزْدَادَا ازْدَادَا وَ إِنْ أَحَبَّا أَنْ يَتَتَارَكَا تَتَارَكَا

Dari Salamah bin Al-Akwa' berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Lelaki yang mana saja yang melakukan nikah mut'ah dengan seorang perempuan dengan waktu di antara mereka berdua tiga hari, maka jika mereka suka menambah, mereka manambah dan apabila mereka ingin meninggalkan, mereka meninggalkan."   

وَ عَنْ شُعْبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلْنَاهَا عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَتْ فَعَلْنَاهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ص

Dan dari Syu'bah bin Muslim berkata: Saya datang ke Asmâ` putri Abû Bakr, lalu kami bertanya ke-padanya tentang mut'ah, maka dia berkata, "Kami melakukannya di zaman Rasûlullâh saw."   

وَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ تَمَتَّعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ص وَ أَبِي بَكْرٍ وَ قَالَ مَا زِلْنَا نَتَمَتَّعُ حَتَّى نَهَى عَنْهَا عُمَرُ

    Dan dari Abû Nadhrah dari Jâbir berkata, "Kami melakukan nikah mut'ah bersama Rasûlullâh saw dan Abû Bakr." Dan dia berkata, "Senantiasa kami melakukan nikah mut'ah sampai 'Umar melarangnya."  
    Pernikahan macam ini halal bagi orang yang memahami hukum-hukumnya, dan haram bagi orang yang tidak mengetahuinya.

وَ قَالَ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلاََمُ : الْمُتْعَةُ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِمَنْ عَرَفَهَا وَ هِيَ حَرَامٌ عَلَى مَنْ جَهِلَهَا

    Dan Al-Ridhâ as berkata, "Mut'ah itu tidak halal kecuali bagi orang yang memahaminya, dan ia itu haram atas orang yang tidak memahaminya."  
Nikah mut'ah telah disepakati adanya, tetapi setelah 'Umar bin Al-Khaththâb melarangnya, maka terjadi ikhtilâf (perbedaan pendapat, ada yang pro dan ada yang kontra) hingga sekarang ini, maka ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan.

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ع عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ نَزَلَتْ فِي الْقُرْآنِ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَ لا جُناحَ عَلَيْكُمْ فِيما تَراضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ

Dari Abû Bashîr berkata: Saya bertanya kepada Abû Ja'far as tentang mut'ah, maka beliau berkata, "Telah turun ayatnya di dalam Al-Quran, Apabila kamu mela-kukan nikah mut'ah dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban, dan ti-dak ada dosa bagi kamu apabila kamu saling merelakannya setelah kewajiban."  

عَنْ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ الْمُتْعَةُ نَزَلَ بِهَا الْقُرْآنُ وَ جَرَتْ بِهَا السُّنَّةُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ص

    Dari Abû Maryam dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Nikah mut'ah itu, Al-Quran telah turun dengannya, dan sunnah dari Rasûlullâh saw berjalan dengannya."  

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حَنِيفَةَ يَسْأَلُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ عَنْ أَيِّ الْمُتْعَتَيْنِ تَسْأَلُ قَالَ سَأَلْتُكَ عَنْ مُتْعَةِ الْحَجِّ فَأَنْبِئْنِي عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ أَ حَقٌّ هِيَ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ أَ مَا تَقْرَأُ كِتَابَ اللَّهِ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَ اللَّهِ لَكَأَنَّهَا آيَةٌ لَمْ أَقْرَأْهَا قَطُّ

Dari 'Abdurrahmân bin Abû 'Abdillâh berkata: Saya telah mendengar Abû Hanîfah bertanya kepada Abû 'Abdillâh tentang mut'ah, lalu beliau menjawab, "Mut'ah yang mana yang kamu tanyakan?" Dia berkata, "Saya bertanya kepadamu mengenai mut'ah haji, maka kabarkan kepadaku tentang mut'ah perempuan (juga), apakah benar ia." Beliau berkata, "Subhânallâh, tidakkah kamu membaca Kitab Allah, Apabila kamu melakukan ni-kah mut'ah dengan mereka, maka berikanlah kepada me-reka maharnya sebagai suatu kewajiban." Abû Hanîfah berkata, "Demi Allah, sungguh seakan-akan ia itu ayat yang belum pernah saya baca."  

عَنِ الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانَ عَنِ الرِّضَا ع فِي كِتَابِهِ إِلَى الْمَأْمُونِ مَحْضُ الْإِسْلَامِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَى أَنْ قَالَ وَ تَحْلِيلُ الْمُتْعَتَيْنِ اللَّذَيْنِ أَنْزَلَهُمَا اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَ سَنَّهُمَا رَسُولُ اللَّهِ ص مُتْعَةِ النِّسَاءِ وَ مُتْعَةِ الْحَجِّ

Dari Al-Fadhl bin Syâdzân dari Al-Ridhâ as da-lam suratnya kepada Al-Ma`mûn, "Yang benar-benar dari ajaran Islâm adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah—sampai beliau mengatakan---dan menghalalkan dua mut'ah yang Allah turunkan di dalam Kitab-Nya dan Rasûlullâh saw men-sunnah-kannya, yaitu mut'atun nisâ` (nikah mut'ah) dan mut'atul hajj (haji tamattu')."  

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ص إِنَّهُمْ غَزَوْا مَعَهُ فَأَحَلَّ لَهُمُ الْمُتْعَةَ وَ لَمْ يُحَرِّمْهَا وَ كَانَ عَلِيٌّ ع يَقُولُ لَوْ لَا مَا سَبَقَنِي بِهِ ابْنُ الْخَطَّابِ يَعْنِي عُمَرَ مَا زَنَى إِلَّا شَقِيٌّ وَ كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَ هَؤُلَاءِ يَكْفُرُونَ بِهَا وَ رَسُولُ اللَّهِ ص أَحَلَّهَا وَ لَمْ يُحَرِّمْهَا

Dari Muhammad bin Muslim dari Abû Ja'far as berkata: Jâbir bin 'Abdullâh berkata dari Rasûlullâh saw, sesungguhnya mereka berperang bersama beliau, maka dia menghalalkan mut'ah bagi mereka dan tidak mengharamkannya, dan adalah 'Ali as berkata, "Kalaulah tidak mendahuluiku putra Al-Khaththâb yakni 'Umar, tentu tidak akan ada orang yang berzina selain orang yang celaka." Dan adalah Ibnu 'Abbâs membaca, Maka jika kamu menikahi mereka secara mut'ah sampai waktu ter-tentu, maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban. Dan mereka ini mengkufurinya se-dang Rasûlullâh saw menghalalkannya dan dia tidak mengharamkannya."  

Mut'ah Terjadi Dengan Dua Perkara
عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ لَا تَكُونُ مُتْعَةٌ إِلَّا بِأَمْرَيْنِ أَجَلٍ مُسَمًّى وَ أَجْرٍ مُسَمًّى
Dari Zurârah dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Tidak terjadi nikah mut'ah selain dengan dua perkara: Waktu tertentu dan mahar tertentu."


عَنْ سَمَاعَةَ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ لَا بُدَّ مِنْ أَنْ تَقُولَ فِيهِ هَذِهِ الشُّرُوطَ أَتَزَوَّجُكِ مُتْعَةً كَذَا وَ كَذَا يَوْماً بِكَذَا وَ كَذَا دِرْهَماً الْحَدِيثَ

Dari Samâ'ah dari Abû Bashîr berkata, "Mesti kamu ucapkan padanya syarat-syarat ini: Aku nikahi kamu se-cara mut'ah selama sekian hari dengan sekian dirham."  

عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ الْفَضْلِ الْهَاشِمِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ مَهْرٌ مَعْلُومٌ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

Dari Ismâ'îl bin Al-Fadhl Al-Hâsyimi berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh tentang nikah mut'ah, maka beliau berkata, "(Dengan) mahar tertentu sampai waktu tertentu."  

Rasûlullâh saw Melakukan Mut'ah
وَ رَوَى الْفَضْلُ الشَّيْبَانِيُّ بِإِسْنَادِهِ إِلَى الْبَاقِرِ ع أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَطَاءٍ الْمَكِّيَّ سَأَلَهُ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى وَ إِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ الْآيَةَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ص تَزَوَّجَ بِالْحُرَّةِ مُتْعَةً فَاطَّلَعَ عَلَيْهِ بَعْضُ نِسَائِهِ فَاتَّهَمَتْهُ بِالْفَاحِشَةِ فَقَالَ إِنَّهُ لِي حَلَالٌ إِنَّهُ نِكَاحٌ بِأَجَلٍ فَاكْتُمِيهِ فَأَطْلَعَتْ عَلَيْهِ بَعْضَ نِسَائِهِ

Dan Al-Fadhl Al-Syaibâni telah meriwayatkan dengan isnâd-nya ke Al-Bâqir as bahwa 'Abdullâh bin 'Athâ` Al-Makki bertanya kepadanya tentang firman-Nya yang maha tinggi, Dan (ingatlah) ketika Nabi mera-hasiakan—baca ayat  selengkapnya, maka beliau ber-kata, "Sesungguhnya Rasûlullâh saw menikahi perempuan merdeka secara mut'ah, lalu salah seorang istrinya menge-tahuinya, maka dia menuduhnya melakukan perbuatan keji, lalu beliau berkata, 'Sesungguhnya hal itu halal bagiku, sesungguhnya ia itu nikah dengan waktu tertentu, maka raha-siakanlah hal itu.' Kemudian dia memberitahukannya kepada sebagian istri-istrinya."  

قَالَ الصَّادِقُ ع إِنِّي لَأَكْرَهُ لِلرَّجُلِ أَنْ يَمُوتَ وَ قَدْ بَقِيَتْ عَلَيْهِ خَلَّةٌ مِنْ خِلَالِ رَسُولِ اللَّهِ ص لَمْ يَأْتِهَا فَقُلْتُ فَهَلْ تَمَتَّعَ رَسُولُ اللَّهِ ص قَالَ نَعَمْ وَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ وَ إِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلى بَعْضِ أَزْواجِهِ حَدِيثاً إِلَى قَوْلِهِ ثَيِّباتٍ وَ أَبْكَاراً

Al-Shâdiq as telah berkata, "Sesungguhnya aku benci bagi lelaki bahwa dia mati sedangkan masih ada salah satu perilaku dari perilaku Rasûlullâh saw yang belum dilaksanakan." Saya bertanya, "Apakah Rasulu-llah saw telah melakukan nikah mut'ah?" Beliau menja-wab, "Ya." Dan dia membaca ayat ini, Dan (ingatlah) ketika Nabi merahasiakan pembicaraan kepada sebagian istrinya—sampai firman-Nya—janda dan perawan."  

Banyak Sahabat Nabi saw Melakukan Nikah Mut'ah
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كَانَتِ الْمُتْعَةُ تُفْعَلُ عَلَى عَهْدِ إِمَامِ الْمُتَّقِينَ رَسُولِ اللَّهِ ص
.
Dari 'Urwah bin Al-Zubair berkata: Ibnu 'Abbâs telah berkata, "Adalah mut'ah itu dilakukan pada zaman imâmul muttaqîn (imam orang-orang yang ber-taqwâ), yaitu Rasûlullâh saw."  

عَنْ شُعْبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلْنَاهَا عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَتْ فَعَلْنَاهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ص

Dari Syu'bah bin Muslim berkata: Saya masuk ke rumah Asmâ` binti Abû Bakr, lalu kami bertanya kepadanya tentang nikah mut'ah, maka dia berkata, "Kami melakukannya pada zaman Rasûlullâh saw."  

عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ تَمَتَّعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ص وَ أَبِي بَكْرٍ وَ قَالَ مَا زِلْنَا نَتَمَتَّعُ حَتَّى نَهَى عَنْهَا عُمَرُ

Dari Abû Nadhrah dari Jâbir berkata, "Kami me-lakukan nikah mut'ah bersama Rasûlullâh saw dan Abû Bakr." Dan dia berkata, "Kami senantiasa melaku-kan nikah mut'ah hingga 'Umar melarangnya."  

Anjuran Nikah Mut'ah
عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجَ مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ ص فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ص قَدْ أَذِنَ لَكُمْ فَتَمَتَّعُوا يَعْنِي نِكَاحَ الْمُتْعَةِ

Dari Jâbir berkata: Keluar juru bicara Rasûlullâh saw, lalu dia berkata, "Sesungguhnya Rasûlullâh saw te-lah mengizinkan bagi kalian, maka bersenang-senanglah yakni nikah mut'ah."  
 
عَنْ بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ سَأَلْتُهُ عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ إِنِّي لَأَكْرَهُ لِلرَّجُلِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الدُّنْيَا وَ قَدْ بَقِيَتْ عَلَيْهِ خَلَّةٌ مِنْ خِلَالِ رَسُولِ اللَّهِ ص لَمْ يَقْضِهَا

Dari Bakr bin Muhammad dari Abû 'Abdillâh as dia berkata: Saya telah bertanya kepadanya tentang ni-kah mut'ah, maka beliau menjawab, "Sesungguhnya aku tidak suka kepada lelaki muslim bahwa dia keluar dari du-nia sementara masih ada satu perilaku Rasûlullâh saw yang belum dilaksanakannya."  

عَنْ صَالِحِ بْنِ عُقْبَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ قُلْتُ لِلْمُتَمَتِّعِ ثَوَابٌ قَالَ إِنْ كَانَ يُرِيدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى وَ خِلَافاً عَلَى مَنْ أَنْكَرَهَا لَمْ يُكَلِّمْهَا كَلِمَةً إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً وَ لَمْ يَمُدَّ يَدَهُ إِلَيْهَا إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ حَسَنَةً فَإِذَا دَنَا مِنْهَا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ بِذَلِكَ ذَنْباً فَإِذَا اغْتَسَلَ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ بِقَدْرِ مَا مَرَّ مِنَ الْمَاءِ عَلَى شَعْرِهِ قُلْتُ بِعَدَدِ الشَّعْرِ قَالَ بِعَدَدِ الشَّعْرِ

Dari Shâlih bin 'Uqbah dari ayahnya dari Abû Ja'far as dia bertanya, "Apakah orang yang melakukan mut'ah mendapat pahala?" Beliau menjawab, "Jika dengan itu dia menginginkan wajah (rela) Allah yang maha tinggi dan dengan maksud menyalahi orang yang menging-karinya, tentu dia tidak berkata-kata dengan satu kata pun melainkan Allah mencatatkan baginya satu kebaikan dengannya, dan tidak mengulurkan tangannya kepadanya me-lainkan Allah mancatatkan baginya satu kebaikan, jikalau dia mendekatinya, Allah mengampuninya satu dosa baginya dengan yang demikian itu, dan apabila dia mandi, Allah mengampuni dengan kadar air yang melalui rambutnya." Saya bertanya, "Dengan sejumlah helai rambut?" Beliau ber-kata, "Dengan sejumlah rambut."  

قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ ع إِنَّ النَّبِيَّ ص لَمَّا أُسْرِيَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ قَالَ لَحِقَنِي جَبْرَئِيلُ ع فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ ص إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى يَقُولُ إِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِلْمُتَمَتِّعِينَ مِنْ أُمَّتِكَ مِنَ النِّسَاءِ

Abû Ja'far as berkata: Sesungguhnya Nabi saw tatkala di-isrâ`-kan dengannya ke langit beliau berka-ta, "Jabra`îl as menemuiku, lalu dia berkata, 'Wahai Muha-mmad saw, sesungguhnya Allah yang maha berkah dan ma-ha tinggi berfirman, Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang-orang yang melakukan nikah mut'ah dari ummat-mu dari kalangan perempuan."  
 
عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِنِّي لَأُحِبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ لَا يَخْرُجَ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَتَمَتَّعَ وَ لَوْ مَرَّةً وَ أَنْ يُصَلِّيَ الْجُمُعَةَ فِي جَمَاعَةٍ

Dari Hisyâm dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Se-sungguhnya suka kepada laki-laki bahwa dia tidak keluar dari dunia hingga dia melakukan nikah mut'ah walaupun satu kali dan dia shalat Jumat dengan berjama'ah."  

عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَتَزَوَّجَ الْمُتْعَةَ وَ مَا أُحِبُّ لِلرَّجُلِ مِنْكُمْ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَتَزَوَّجَ الْمُتْعَةَ وَ لَوْ مَرَّةً

Dari Hisyâm bin Sâlim dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Dianjurkan bagi laki-laki menikah mut'ah, dan aku tidak suka bagi lelaki dari kamu dia keluar dari dunia hingga menikah mut'ah walau satu kali."  

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ قَالَ لِي تَمَتَّعْتَ قُلْتُ لَا قَالَ لَا تَخْرُجْ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى تُحْيِيَ السُّنَّةَ
Dari Muhammad bin Muslim dari Abû 'Abdi-llâh as berkata: Beliau berkata kepadaku, "Kamu pernah nikah mut'ah?" Saya berkata, "Belum." Beliau berkata, "Janganlah kamu keluar dari dunia hingga kamu hidupkan sunnah."  

عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ الْفَضْلِ الْهَاشِمِيِّ قَالَ قَالَ لِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع تَمَتَّعْتَ مُنْذُ خَرَجْتَ مِنْ أَهْلِكَ قُلْتُ لِكَثْرَةِ مَا مَعِيَ مِنَ الطَّرُوقَةِ أَغْنَانِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَ وَ إِنْ كُنْتَ مُسْتَغْنِياً فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تُحْيِيَ سُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ ص
Dari Ismâ'îl bin Al-Fadhl Al-Hâsyimi berkata: Abû 'Abdillâh as berkata kepadaku, "Apakah kamu me-lakukan mut'ah sejak keluar dari keluargamu?" Saya ber-kata, "Karena sering melakukan hubungan intim de-ngan istri yang ada padaku Allah telah mencukupiku darinya." Beliau berkata, "Dan kalaupun kamu merasa cu-kup, maka sesungguhnya aku ingin kamu menghidupkan su-nnah Rasûlullâh saw."  
 
عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فَقَالَ لِي يَا أَبَا مُحَمَّدٍ تَمَتَّعْتَ مُنْذُ خَرَجْتَ مِنْ أَهْلِكَ قُلْتُ لَا قَالَ وَ لِمَ قُلْتُ مَا مَعِيَ مِنَ النَّفَقَةِ يَقْصُرُ عَنْ ذَلِكَ قَالَ فَأَمَرَ لِي بِدِينَارٍ قَالَ أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ إِنْ صِرْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ حَتَّى تَفْعَلَ
Dari Abû Bashîr berkata: Saya masuk kepada Abû 'Abdillâh as, lalu beliau berkata kepadaku, "Wahai Abû Muhammad, apakah kamu telah melakukan mut'ah se-jak kamu keluar dari istrimu?" Saya berkata, "Tidak." Beliau bertanya, "Mengapa?" Saya menjawab, "Saya tidak punya nafkah yang memadai untuk itu." Dia (Abû Ba-shîr) berkata, "Maka beliau menyuruhku dengan satu dinar, beliau berkata, "Aku sumpahi atas kamu jangan ka-mu kembali ke rumahmu hingga kamu melakukan."  

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ مَا مِنْ رَجُلٍ تَمَتَّعَ ثُمَّ اغْتَسَلَ إِلَّا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهُ سَبْعِينَ مَلَكاً يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَ يَلْعَنُونَ مُتَجَنِّبَهَا إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ

Dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Tidak seorang le-laki pun yang melakukan mut'ah, kemudian dia mandi, me-lainkan Allah jadikan dari setiap tetes air yang menetes da-rinya tujuh puluh malak yang memintakan ampun baginya sampai hari kiamat, dan mereka melaknat orang yang men-jauhinya (menganggap haram) hingga hari kiamat."  

Hiburan Orang yang Beriman
عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَعْيَنَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ لَهْوُ الْمُؤْمِنِ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ التَّمَتُّعِ بِالنِّسَاءِ وَ مُفَاكَهَةِ الْإِخْوَانِ وَ الصَّلَاةِ بِاللَّيْلِ

Dari Zurârah bin A'yan dari Abû Ja'far as berka-ta, "Hiburan orang yang beriman itu dalam tiga perkara: Nikah mut'ah dengan perempuan-perempuan, bercanda dengan saudara-saudara (seiman) dan shalat pada waktu malam."  

عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَعْيَنَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ لَهْوُ الْمُؤْمِنِ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ التَّمَتُّعِ بِالنِّسَاءِ وَ مُفَاكَهَةِ الْإِخْوَانِ وَ الصَّلَاةِ بِاللَّيْلِ

Dari Zurârah bin A'yan dari Abû Ja'far as berkata, "Hiburan orang yang beriman itu dalam tiga perkara: Nikah mut'ah dengan perempuan-perempuan, bercanda de-ngan saudara-saudara (seiman) dan shalat pada waktu ma-lam."  

Kalimat Akad Nikah Mut'ah
عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع كَيْفَ أَقُولُ لَهَا إِذَا خَلَوْتُ بِهَا قَالَ تَقُولُ أَتَزَوَّجُكِ مُتْعَةً عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ لَا وَارِثَةً وَ لَا مَوْرُوثَةً كَذَا وَ كَذَا يَوْماً وَ إِنْ شِئْتَ كَذَا وَ كَذَا سَنَةً بِكَذَا وَ كَذَا دِرْهَماً وَ تُسَمِّي (مِنَ الْأَجْرِ) مَا تَرَاضَيْتُمَا عَلَيْهِ قَلِيلًا كَانَ أَوْ كَثِيراً فَإِذَا قَالَتْ نَعَمْ فَقَدْ رَضِيَتْ وَ هِيَ امْرَأَتُكَ وَ أَنْتَ أَوْلَى النَّاسِ بِهَا الْحَدِيثَ

Dari Abân bin Taghlib berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, bagaimana aku mengucapkannya jika aku menyendiri dengannya? Beliau berkata, "Kamu ucapkan: Aku menikahimu atas dasar Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya tidak ada yang mewariskan dan tidak ada yang diwarisi (tidak ada pewarisan) untuk waktu sekian hari dan jika kamu mau sekiat tahun dengan mahar sekian dirham dan kamu sebutkan (maharnya) yang telah kamu sepakati atasnya baik sedikit maupun banyak, maka bila dia mengucapkan, "Ya." Berarti dia rela dan dia menjadi istrimu, dan kamu menjadi orang yang paling berhak dengannya. "  

عَنِ ابْنِ أَبِي نَصْرٍ عَنْ ثَعْلَبَةَ قَالَ تَقُولُ أَتَزَوَّجُكِ مُتْعَةً عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ نِكَاحاً غَيْرَ سِفَاحٍ وَ عَلَى أَنْ لَا تَرِثِينِي وَ لَا أَرِثَكِ كَذَا وَ كَذَا يَوْماً بِكَذَا وَ كَذَا دِرْهَماً وَ عَلَى أَنَّ عَلَيْكِ الْعِدَّةَ

Dari Ibnu Abî Nashr dari Tsa'labah berkata, "Kamu ucapkan: Aku menikahimu secara mut'ah atas (nama) Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya sebagai pernikahan bukan perzinaan, dan bahwa kamu tidak mewarisiku dan aku tidak mewarisimu selama sekian hari dengan mahar sekian dirham dan wajib bagimu 'iddah (jika telah habis masa pernikahannya)."  

عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ يَتَزَوَّجُ الْمُتْعَةَ قَالَ يَقُولُ أَتَزَوَّجُكِ كَذَا وَ كَذَا يَوْماً بِكَذَا وَ كَذَا دِرْهَماً فَإِذَا مَضَتْ تِلْكَ الْأَيَّامُ كَانَ طَلَاقُهَا فِي شَرْطِهَا وَ لَا عِدَّةَ لَهَا عَلَيْكَ

Dari Ibnu 'Umair dari Hisyâm bin Sâlim dia ber-kata: Saya bertanya, "Bagaimana seseorang menikah secara mut'ah?" Dia berkata, "Dia mengucapkan: Aku menikahimu sekian hari dengan mahar sekian dirham. Maka apabila hari-hari itu telah berlalu adalah ia thalaq-nya da-lam syaratnya dan tidak ada 'iddah baginya atasmu."  

Tidak ada 'iddah itu maksudnya tidak ada rujuk, dan kalau ingin memperpanjang waktu tinggal mela-kukan akad lagi dengan mahar yang baru.

عَنْ سَمَاعَةَ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ لَا بُدَّ مِنْ أَنْ يَقُولَ فِيهِ هَذِهِ الشُّرُوطَ أَتَزَوَّجُكِ مُتْعَةً كَذَا وَ كَذَا يَوْماً بِكَذَا وَ كَذَا دِرْهَماً نِكَاحاً غَيْرَ سِفَاحٍ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ وَ عَلَى أَنْ لَا تَرِثِينِي وَ لَا أَرِثَكِ وَ عَلَى أَنْ تَعْتَدِّي خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ يَوْماً وَ قَالَ بَعْضُهُمْ حَيْضَةً

Dari Samâ'ah dari Abû Bashîr berkata, "Mesti dia ucapkan syarat ini kepadanya: Aku menikahimu dengan nikah mut'ah selama sekian hari dengan mahar sekian dirham sebagai pernikahan bukan perzinaan di tas Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya dan bahwa kamu tidak mewarisiku dan aku tidak mewarisimu, dan bahwa kamu ber-'iddah empat puluh lima (45) hari.. Dan sebagian mereka mengatakan satu kali haid."  

عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ الْجَوَالِيقِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي حَدِيثٍ قَالَ قُلْتُ مَا أَقُولُ لَهَا قَالَ تَقُولُ لَهَا أَتَزَوَّجُكِ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ وَ اللَّهُ وَلِيِّي وَ وَلِيُّكِ كَذَا وَ كَذَا شَهْراً بِكَذَا وَ كَذَا دِرْهَماً عَلَى أَنَّ لِيَ اللَّهَ عَلَيْكِ كَفِيلًا لَتَفِيِنَّ لِي وَ لَا أَقْسِمُ لَكِ وَ لَا أَطْلُبُ وَلَدَكِ وَ لَا عِدَّةَ لَكِ عَلَيَّ فَإِذَا مَضَى شَرْطُكِ فَلَا تَتَزَوَّجِي حَتَّى يَمْضِيَ لَكِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ يَوْماً وَ إِنْ حَدَثَ بِكِ وَلَدٌ فَأَعْلِمِينِي

Dari Hisyâm bin Sâlim Al-Jawâlîqi dari Abû 'Abdillâh as dalam sebuah hadîts dia berkata: Saya ber-kata, apa yang mesti saya ucapkan kepadanya (dalam nikah mut'ah)? Beliau berkata, "Kamu ucapkan kepadanya: Aku menikahimu di atas Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, dan Allah waliku dan walimu selama sekian bulan dengan mahar sekian dirham bahwa Allah pelindung bagiku atasmu, kamu sempurnakan bagiku, dan aku tidak membagi (waktu) bagimu dan tidak menuntut anakmu dan tidak ada 'iddah bagimu atasku, maka jika telah berlalu syaratmu, maka janganlah kamu menikah hingga berlalu bagimu empat puluh lima (45) hari, dan jika terjadi anak denganmu, maka bertahukan padaku."  

Akad Mut'ah yang Paling Singkat
عن الحسن بن علي بن يقطين قال قال أبو الحسن موسى بن جعفر ع أدنى ما يجزي من القول أن يقول : أَتَزَوَّجُكِ مُتْعَةً عَلَى كِتَابِ اللهِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ بِكَذَا وَ كَذَا إِلَى كَذَا
.
Dari Al-Hasan bin 'Ali bin Yaqthîn berkata: Abû Al-Hasan Mûsâ bin Ja'far as, "Sekurang-kurangnya akad nikah mut'ah itu seseorang mengucapkan (kepada calon istrinya): Atazawwajuki mut'atan 'alâ kitâbillâhi wa sunnati nabiyyihi shallallâhu 'alaihi wa ãlih, bikadzâ wa kadzâ ilâ kadzâ. (Saya menikahimu atas dasar Kitab Allah dan su-nnah Nabi-Nya saw dengan mahar …sampai …)"
Kadzâ wa kadzâ diganti dengan mahar yang telah ditentukan, dan ilâ kadzâ diganti dengan waktu yang disepakati, misalnya bilmahril ma'lûm ilal muddati ma'lûmah (dengan mahar yang telah ditentukan sampai masa yang telah ditentukan).

Jika tidak Menyebutkan Waktu Berarti Nikah Dâ`im
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُكَيْرٍ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع فِي حَدِيثٍ إِنْ سُمِّيَ الْأَجَلُ فَهُوَ مُتْعَةٌ وَ إِنْ لَمْ يُسَمَّ الْأَجَلُ فَهُوَ نِكَاحٌ بَاتٌّ

Dari 'Abdullâh bin Bukair berkata: Abû 'Abdi-llâh as telah berkata dalam sebuah hadîts, "Jika disebutkan tempo, maka ia nikah mut'ah, dan bila tidak disebutkan tempo, maka nikah biasa (bukan nikah mut'ah)."  

عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ مُتْعَةً مَرَّةً مُبْهَمَةً قَالَ فَقَالَ ذَاكَ أَشَدُّ عَلَيْكَ تَرِثُهَا وَ تَرِثُكَ وَ لَا يَجُوزُ لَكَ أَنْ تُطَلِّقَهَا إِلَّا عَلَى طُهْرٍ وَ شَاهِدَيْنِ قُلْتُ أَصْلَحَكَ اللَّهُ فَكَيْفَ أَتَزَوَّجُهَا قَالَ أَيَّاماً مَعْدُودَةً بِشَيْ‏ءٍ مُسَمًّى مِقْدَارَ مَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ فَإِذَا مَضَتْ أَيَّامُهَا كَانَ طَلَاقُهَا فِي شَرْطِهَا وَ لَا نَفَقَةَ وَ لَا عِدَّةَ لَهَا عَلَيْكَ الْحَدِيثَ

Dari Hisyâm bin Sâlim berkata: Saya telah ber-kata kepada Abû 'abdillâh as, "Saya menikahi permpu-an dengan pernikahan mut'ah satu kali yang samar." Beliau berkata, "Yang demikian itu menjadi sangat terikat bagimu, kamu mewarisinya dan dia mewarisimu, dan tidak boleh bagimu menceraikannya kecuali dalam keadaan dia suci (dari haid dan tidak digauli) dan ada dua orang saksi laki-laki." Saya bertanya, "Semoga Allah memaslahat-kanmu, bagaimana saya menikahinya?" Beliau berkata, "Beberapa hari yang ditentukan dengan mahar yang dise-butkan dengan sama-sama rela dengannya, maka bila telah berakhir hari-harinya itu thalaq-nya dalam syaratnya  dan tidak ada nafkah dan tidak ada 'iddah baginya atasmu."   

Tidak Ada Batasan untuk Mahar dan Waktu
عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ع عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ قَالَ حَلَالٌ وَ إِنَّهُ يُجْزِي فِيهِ الدِّرْهَمُ فَمَا فَوْقَهُ
.
Dari Abû Bashîr berkata: Saya telah bertanya kepada Abû Ja'far as tentang mut'atun nisâ`, beliau ber-kata, "Halal, dan sesungguhnya (maharnya) memadai satu dirham atau lebih."  

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنِ الْأَحْوَلِ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَدْنَى مَا يُتَزَوَّجُ بِهِ الْمُتْعَةُ قَالَ كَفٌّ مِنْ بُرٍّ

Dari Abû Sa'îd Al-Ahwal berkata: Saya telah berkata kepada Abû 'Abdillâh as serendah-redahnya mahar yang digunakan dalam nikah mut'ah, beliau berkata, "Segenggam gandum."  

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع كَمِ الْمَهْرُ يَعْنِي فِي الْمُتْعَةِ قَالَ مَا تَرَاضَيَا عَلَيْهِ إِلَى مَا شَاءَا مِنَ الْأَجَلِ

 Dari Muhammad bin Muslim berkata: Saya te-lah bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, "Berapakah ma-har yakni dalam nikah mut'ah?" Beliau berkata, "Apa yang telah disepakati oleh mereka berdua atasnya sampai waktu yang dikehendaki mereka berdua."  

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى عُمَرَ فَقَالَتْ إِنِّي زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي فَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُرْجَمَ فَأُخْبِرَ بِذَلِكَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ع فَقَالَ كَيْفَ زَنَيْتِ قَالَتْ مَرَرْتُ بِالْبَادِيَةِ فَأَصَابَنِي عَطَشٌ شَدِيدٌ فَاسْتَسْقَيْتُ أَعْرَابِيّاً فَأَبَى أَنْ يَسْقِيَنِي إِلَّا أَنْ أُمَكِّنَهُ مِنْ نَفْسِي فَلَمَّا أَجْهَدَنِيَ الْعَطَشُ وَ خِفْتُ عَلَى نَفْسِي سَقَانِي فَأَمْكَنْتُهُ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ع تَزْوِيجٌ وَ رَبِّ الْكَعْبَةِ

 Dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Ada seorang perempuan datang ke 'Umar, lalu dia berkata, 'Sesungguhnya aku telah berzina, maka sucikanlah aku.' Lalu dia menyuruh dengannya untuk dirajam. Maka hal itu dikabarkan kepada Amîrul Mu`minîn as, lalu dia bertanya, 'Bagaimana kamu berzina?' Dia menjawab, 'Saya melewati perkampungan, lalu dahaga yang sangat menimpaku, maka saya meminta air ke seorang a'râbi, tetapi dia enggan memberiku minum kecuali saya memberikan kehormatanku, maka dahaga semakin memayahkanku dan aku takut binasa, dia memberiku minum, kemudian aku berikan kehormatanku kepadanya.' Maka Amîrul Mu`minîn as berkata, 'Itu pernikahan demi pemilik Ka'bah.'"  

عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع فِي الْمُتْعَةِ قَالَ لَا بُدَّ مِنْ أَنْ يُصْدِقَهَا شَيْئاً قَلَّ أَوْ كَثُرَ وَ الصَّدَاقُ كُلُّ شَيْ‏ءٍ تَرَاضَيَا عَلَيْهِ فِي تَمَتُّعٍ أَوْ تَزْوِيجٍ بِغَيْرِ مُتْعَةٍ

 Dari Zurârah dari Abû Ja'far as tentang mut'ah berkata, "Mesti memberikan sesuatu kepadanya sedikit atau banyak, dan mahar itu segala sesuatu yang mereka berdia rido atasmya dalam nikah mut'ah atau nikah lain selain mut'ah."  

'Iddah Mut'ah
عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَنَّهُ قَالَ إِنْ كَانَتْ تَحِيضُ فَحَيْضَةٌ وَ إِنْ كَانَتْ لَا تَحِيضُ فَشَهْرٌ وَ نِصْفٌ

Dari Zurârah dari Abû 'Abdillâh as bahwa dia telah berkata, "Jika dia haid, maka satu kali haid, dan jika tidak haid, maka satu bulan setengah."  

عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الرِّضَا ع قَالَ قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ ع قَالَ عِدَّةُ الْمُتْعَةِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ يَوْماً وَ الِاحْتِيَاطُ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ لَيْلَةً

Dari Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as berkata: Abû Ja'far as telah berkata, "'Iddah mut'ah itu 45 hari dan hati-hatinya 45 malam."  

عَنْ زُرَارَةَ قَالَ عِدَّةُ الْمُتْعَةِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ يَوْماً كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ع يَعْقِدُ بِيَدِهِ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ فَإِذَا جَازَ الْأَجَلُ كَانَتْ فُرْقَةٌ بِغَيْرِ طَلَاقٍ

Dari Zurârah berkata, "'Iddah mut'ah 45 hari seakan aku melihat kepada Abû Ja'far mengisyaratkan dengan tangannya, maka bila telah lewat waktunya berarti pisah tanpa thalâq."  

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَجَّاجِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْمَرْأَةِ يَتَزَوَّجُهَا الرَّجُلُ مُتْعَةً ثُمَّ يُتَوَفَّى عَنْهَا هَلْ عَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَقَالَ تَعْتَدُّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَ عَشْراً وَ إِذَا انْقَضَتْ أَيَّامُهَا وَ هُوَ حَيٌّ فَحَيْضَةٌ وَ نِصْفٌ مِثْلُ مَا يَجِبُ عَلَى الْأَمَةِ الْحَدِيثَ

Dari 'Abdurrahmân bin Al-Hajjâj berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang perempuan yang dinikahi lelaki secara mut'ah, kemudian lelaki itu wafat darinya, "Apakah wajib 'iddah bagi perempuan itu?" Maka beliau berkata, "Dia ber-'iddah empat bulan sepuluh hari, dan jika hari-harinya telah berlalu sedang lelaki itu hidup, maka 'iddah-nya satu kali haid dan setengah semisal yang wajib bagi hamba sahaya."   

Perempuan yang Nikah Mut'ah dengan Dukhûl tidak Boleh Menikah dengan Lelaki Lain Kecuali setelah Ha-bis Masa 'Iddah dan Dia Boleh Nikah dengan Mantan Suaminya dalam Masa 'Iddah
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ فِي حَدِيثٍ أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ إِنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ أَمْراً جَدِيداً فَعَلَ وَ لَيْسَ عَلَيْهَا الْعِدَّةُ مِنْهُ وَ عَلَيْهَا مِنْ غَيْرِهِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ لَيْلَةً

 Dari Muhammad bin Muslim dalan sebuah ha-dîts bahwa dia bertanya kepada Abû 'Abdillâh as ten-tang nikah mut'ah, maka belaiu berkata, "Jika dia ingin melakukan akad yang baru, dia bisa lakukan, dan tidak wajib 'iddah bagi perempaun itu  dari mntan suaminya, tetapi dia wajib 'iddah dari laki-laki yang lainnya selama 45 malam."  

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ لَا بَأْسَ أَنْ تَزِيدَكَ وَ تَزِيدَهَا إِذَا انْقَطَعَ الْأَجَلُ فِيمَا بَيْنَكُمَا تَقُولُ لَهَا اسْتَحْلَلْتُكِ بِأَجَلٍ آخَرَ بِرِضًا مِنْهَا وَ لَا يَحِلُّ ذَلِكَ لِغَيْرِكَ حَتَّى تَنْقَضِيَ عِدَّتُهَا

Dari Abû Bashîr berkata, "Dia menambahmu dan kamu menambahnya apabila telah terputus tempo di antara kamu berdua, kamu katakan kepadanya, 'Saya minka kamu menghalalkan dengan tempo yang lain.' Dengan keridoan darinya, dan tidak halal yang demikian itu bagi lelaki selainmu hingga berakhir 'iddah-nya."  

Tidak Boleh Nikah Mut'ah dengan Perempuan yang Sedang Di-mut'ah-inya (untuk memperpanjang waktu) kecuali setelah Habis Masanya atau setelah Dihibahkannya
عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع الرَّجُلُ يَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ مُتْعَةً فَيَتَزَوَّجُهَا عَلَى شَهْرٍ ثُمَّ إِنَّهَا تَقَعُ فِي قَلْبِهِ فَيُحِبُّ أَنْ يَكُونَ شَرْطُهُ أَكْثَرَ مِنْ شَهْرٍ فَهَلْ يَجُوزُ أَنْ يَزِيدَهَا فِي أَجْرِهَا وَ يَزْدَادَ فِي الْأَيَّامِ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ أَيَّامُهُ الَّتِي شَرَطَ عَلَيْهَا فَقَالَ لَا يَجُوزُ شَرْطَانِ فِي شَرْطٍ قُلْتُ كَيْفَ يَصْنَعُ قَالَ يَتَصَدَّقُ عَلَيْهَا بِمَا بَقِيَ مِنَ الْأَيَّامِ ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ شَرْطاً جَدِيداً

Dari Abân bin Taghlib berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, "Ada lelaki menikah mut'ah dengan perempuan, dia menikahinya untuk waktu sebulan, kemudian niatnya berubah, dia ingin syaratnya itu lebih lama dari sebulan, bolehkah dia menambah maharnya dan menambah hari-harinya sebelum masa-nya yang dia syaratkan berakhir?" Beliau berkata, "Tidak boleh dua syarat dalam satu syarat." Saya bertanya, "Bagaimana dia harus berbuat?" Beliau berkata, "Dia sedekahkan kepadanya sisa waktunya, kemudian dia mulai dengan syarat yang baru."   

Nikah Mut'ah dengan Seorang Perempuan Bisa Beru-lang Kali tanpa Batas
عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ قُلْتُ لَهُ الرَّجُلُ يَتَزَوَّجُ الْمُتْعَةَ وَ يَنْقَضِي شَرْطُهَا ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا رَجُلٌ آخَرُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا الْأَوَّلُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثَلَاثاً وَ تَزَوَّجَتْ ثَلَاثَةَ أَزْوَاجٍ يَحِلُّ لِلْأَوَّلِ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا قَالَ نَعَمْ كَمْ شَاءَ لَيْسَ هَذِهِ مِثْلَ الْحُرَّةِ هَذِهِ مُسْتَأْجَرَةٌ وَ هِيَ بِمَنْزِلَةِ الْإِمَاءِ

Dari Zurârah dari Abû Ja'far as dia (Zurârah) berkata: Saya berkata kepadanya, "Ada laki-laki meni-kah mut'ah dan berakhirlah syaratnya, kemudian perempuan itu dinikahi oleh lelaki lain hingga nyata (pi-sah) darinya, kemudian dia dinikahi lagi oleh lelaki yang pertama hingga nyata darinya sebanyak tiga kali, dan perempuan tersebut menikah dengan tiga suami, apakah halal bagi lelaki yang pertama untuk menika-hinya lagi?" Beliau berkata, "Ya, berapa kali saja dia mau ini tidak semisal perempuan merdeka (yang dinikahi secara dâ`im), ini disewa dan ia kedudukannya sebagaimana pernikahan dengan hamba sahaya."  

عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ أَبَانٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي الرَّجُلِ يَتَمَتَّعُ مِنَ الْمَرْأَةِ الْمَرَّاتِ قَالَ لَا بَأْسَ يَتَمَتَّعُ مِنْهَا مَا شَاءَ

Dari 'Ali bin Al-Hakam dari Abân dari sebagian sahabatnya dari Abû 'Abdillâh as tentang lelaki menikah mut'ah dengan satu perempuan berkali-kali, beliau berkata, "Tidak mengapa dia melakukan mut'ah dengannya menurut yang dia mau."   

Lelaki yang Menghibahkan Sisa Waktu tidak Boleh Rujuk
عَنْ عَلِيِّ بْنِ رِئَابٍ قَالَ كَتَبْتُ إِلَيْهِ أَسْأَلُهُ عَنْ رَجُلٍ تَمَتَّعَ بِامْرَأَةٍ ثُمَّ وَهَبَ لَهَا أَيَّامَهَا قَبْلَ أَنْ يُفْضِيَ إِلَيْهَا أَوْ وَهَبَ لَهَا أَيَّامَهَا بَعْدَ مَا أَفْضَى إِلَيْهَا هَلْ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ فِيمَا وَهَبَ لَهَا مِنْ ذَلِكَ فَوَقَّعَ ع لَا يَرْجِعُ

Dari 'Ali bin Ri`âb berkata, "Saya menulis surat kepadanya bertanya tentang seorang lelaki yang melakukan nikah mut'ah dengan seorang perempuan, kemudian laki-laki itu menghibahkan hari-harinya kepadanya sebelum melakukan hubungan dengannya, apakah dia boleh kembali pada apa yang dia hibahkan baginya dari hal itu?" Maka beliau as menulis jawabannya, "Dia tidak boleh rujuk."   

Apabila Perempuan Menghibahkan Maharnya dan Lela-ki memberikan waktunya sebelum Dukhûl
عَنْ زُرْعَةَ عَنْ سَمَاعَةَ قَالَ سَأَلْتُهُ عَنْ رَجُلٍ تَزَوَّجَ جَارِيَةً أَوْ تَمَتَّعَ بِهَا ثُمَّ جَعَلَتْهُ مِنْ صَدَاقِهَا فِي حِلٍّ يَجُوزُ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا قَبْلَ أَنْ يُعْطِيَهَا شَيْئاً قَالَ نَعَمْ إِذَا جَعَلَتْهُ فِي حِلٍّ فَقَدْ قَبَضَتْهُ مِنْهُ فَإِنْ خَلَّاهَا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا رَدَّتِ الْمَرْأَةُ عَلَى الرَّجُلِ نِصْفَ الصَّدَاقِ

Dari Zur'ah dari Samâ'ah dia berkata, Saya bertanya kepadanya tentang lelaki menikahi perempuan atau nikah mut'ah denganya, lalu perempuan tersebut membebaskan maharnya, bolehkah lelaki tersebut melakukan dukhûl (hubungan badan) sebelum dia menyerahkan mahar kepadanya?" Dia menjawab, "Boleh, jika perempuan memberikan maharnya, maka hakikatnya dia telah memegangnya darinya, apabila lelaki melepaskannya sebelum dukhûl dengannya, maka perempuan tersebut mengembalikan setengah dari mahar itu kepada laki-laki."   

Saksi dan Resepsi tidak Wajib
عَنْ عُمَرَ بْنِ أُذَيْنَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي حَدِيثِ الْمُتْعَةِ قَالَ وَ صَاحِبُ الْأَرْبَعِ نِسْوَةٍ يَتَزَوَّجُ مِنْهُنَّ مَا شَاءَ بِغَيْرِ وَلِيٍّ وَ لَا شُهُودٍ

Dari 'Umar bin Udzaibah dari Abû 'Abdillâh as dalam hadîts mut'ah berkata, "Orang yang punya empat istri bisa menikahi mereka (perempuan yang lain secara mut'ah) menurut yang dia kehendaki tanpa wali dan tanpa saksi."  

عَنِ الْحَارِثِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع مَا يُجْزِي فِي الْمُتْعَةِ مِنَ الشُّهُودِ فَقَالَ رَجُلٌ وَ امْرَأَتَانِ قُلْتُ فَإِنْ كَرِهَ الشُّهْرَةَ فَقَالَ يُجْزِيهِ رَجُلٌ وَ إِنَّمَا ذَلِكَ لِمَكَانِ الْمَرْأَةِ لِئَلَّا تَقُولَ فِي نَفْسِهَا هَذَا فُجُورٌ

Dari Al-Hârits bin Al-Mughîrah berkata: Saya telah bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, "Apa yang memadai dari saksi dalam nikah mut'ah?" Beliau berkata, "Seorang lelaki dan dua orang perempuan." Saya bertanya, "Kalau dia tidak suka banyak orang tahu?" Beliau berkata, "Cukup seorang laki-laki, yang demikian itu supaya perempuan itu tidak mengatakan dalam hatinya: Ini fujûr (zina)."   

Anak dalam Nikah Mut'ah Dihubungkan ke Ayahnya
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي حَدِيثٍ فِي الْمُتْعَةِ قَالَ قُلْتُ أَ رَأَيْتَ إِنْ حَبِلَتْ فَقَالَ هُوَ وَلَدُهُ

Dari Muhammad bin Muslim dari Abû 'Abdi-llâh as dalam hadîts tentang mut'ah dia bertanya, "Apa yang engkau fatwakan jika dia hamil?" Beliau menjawab, "Dia anaknya."   

Fri, 9 Oct 2015 @09:28


1 Komentar
image

Tue, 8 Mar 2016 @13:09

dgmplmytnx

41mJ7E <a href="http://ksczeidkzblc.com/">ksczeidkzblc</a>, [url=http://phpktiwnsyva.com/]phpktiwnsyva[/url], [link=http://wufhngxiruqe.com/]wufhngxiruqe[/link], http://pksabwqczaxx.com/


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved