Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Tafsir Surah Al-Waqi'ah [2]

Tafsîr Sûrah Al-Wâqi’ah

Falau lâ idzâ balaghatil hulqûm. Wa antun hîna`idzin tanzhurûn. Wa nahnu aqrabu ilaihi minkum walâkin lâ tubshirûn (Maka apabila ruh menyangkut di kerongkongan. Dan kamu ketika itu melihat. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat). [Sûrah Al-Wâqi’ah ayat 83-85]

Tafsir dan ta`wil dari Ahlulbait as : Dan kamu jadikan rezeki kamu (Wa taj’alûna rizqakum), yaitu syukur kamu atas kenikmatan yang Allah telah berikan kepadamu, dan karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu dengan Muhammad dan keluarga Muhammad, namun sesungguhnya kamu mendustakan wasiat (Allah dan Rasul-Nya). Maka apabila ruh sampai di kerongkongan. Dan kamu ketika itu melihat (kepada wasi Nabi saw, yakni Amîrul Mu`minîn, dia menyampaikan kabar gembira kepada walinya dengan surga, dan (menyampaikan kabar duka) kepada musuhnya dengan neraka. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Yaitu lebih dekat kepada Amîrul Mu`minîn daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat, yaitu tidak mengenal.

Ta`wil ini dikuatkan dengan penjelasan dari Abû Muhammad Al-‘Askari as, beliau telah ditanya, “Wahai putra Rasûlullâh, apakah di dalam kubur itu ada kenikmatan dan siksaan?” Beliau berkata, “Ya, tentu. Demi Tuhan yang telah mengutus Muhammad saw dengan benar sebagai nabi, dan telah menjadikannya suci, dia memberi petunjuk lagi ditunjuki, dan Dia telah menjadikan saudaranya, yakni ‘Ali yang menyempurnakan janji dan menegakkan ajaran yang benar. Allah mendekatkan dengan rido-Nya, kepada jihad dia beregera, dan karena Allah dalam hal-ihwalnya dia mendapatkan taufiq, dan dengan kemuliaan dia berhias diri, dan dengan pertolongan Allah baginya atas musuh-musuhnya dia beruntung, dan bagi ilmu pengetahuan dia sebagai wadahnya, dan bagi wali-wali Allah dia sebagai pembelanya, dan bagi musuh-musuhnya dia berlaku tegas, dan dengan segala kebaikan dia bangkit, dan bagi segala keburukan dia menentangnya, dan kepada setan dia menghinakannya, dan bagi orang-orang fasiq yang jahat dia menjauhkan dirinya, dan bagi Muhammad saw dia adalah dirinya, dan di hadapan segala yang tidak disukai dia sebagai benteng dan tamengnya. Aku beriman kepadanya dan dia itu ayahku ‘Ali bin Abî Thâlib as, dia mengabdi kepada Tuhannya segala sesuatu yang dipertuhankan (oleh manusia), dia merupakan karunia bagi orang-orang yang berakal, dia penampung segala ilmu Al-Kitâb, dia hiasan bagi orang yang disempurnakan pada hari kiamat di tempat-tempat perhitungan amal setelah Muhammad pilihan Yang Maha Mulia Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi. Sesungguhnya di dalam kubur itu ada kenikmatan yang dengannya Allah curahkan kepada para kekasih-Nya, dan sesungguhnya di dalam kubur itu ada siksaan yang dengannya Allah keraskan atas musuh-musuh-Nya.

Sesungguhnya orang yang beriman yang berpihak kepada Muhammad dan keluarganya yang suci – yang menjadikan ‘Ali setelah Muhammad sebagai imamnya yang berperilaku semisalnya dan sayyidnya yang membenarkan segala perkataannya dan segala perbuatannya dan mentaatinya dengan ketaatan orang yang memerintahkannya dan dia telah melakukan yang terbaik bagi urusan ajaran dan politiknya – jika hadir kepadanya (kepada orang yang beriman) dari perintah Allah yang tidak bisa ditolak (yaitu kematian), dan turun kepadanya dari keputusan-Nya yang tidak bisa dipalingkan, dan datang kepadanya Malakul Maut dan para pembantunya, dia mendapatkan Muhammad Rasûlullâh di sisi kepalanya dan dari sisi yang lain ada ‘Ali penghulu para wasi, dan di dekat kedua kakinya ada Al-Hasan cucu Sayyidun Nabiyyîn, dan dari sisi yang lainnya ada Sayyidusy Syhuhadâ (Al-Husain), dan di sekelilingnya setelah mereka ada orang-orang pilihan, yaitu orang-orang khusus mereka dan pencintanya yang mereka itu adalah orang-orang termulia dari ummat ini setelah orang-orang yang termulia dari keluarga Muhammad.

Kemudian orang yang beriman yang sedang dilanda sekarat itu melihat kepada mereka, lalu menyapa mereka dengan perkataan yang Allah halang suaranya dari pendengaran orang-orang yang menghadirinya sebagaimana Allah halang dari melihat kami dan melihat orang-orang khusus kami dari mata-mata mereka supaya keimanan kepada yang demikian menjadi lebih besar pahalanya karena kerasnya ujian atas mereka padanya.

Maka orang yang beriman berkata, “Demi ayahku dan ibuku engkau (kutebus) wahai utusan Allah Pemilik keagungan, demi ayahku dan ibuku engkau (kutebus) wahai Washi utusan Pemilik kasih, dengan ayahku dan ibuku engkau berdua (kutebus) wahai dua syibli Muhammad dan singanya, wahai dua putranya dan dua cucunya, wahai yang sangat mulia dari para pemuda ahli surga yang dekat dengan rahmat dan keridoan, selamat datang bagi kalian wahai sebaik-baik sahabat Muhammad, ‘Ali dan kedua putranya, betapa besarnya kerinduanku kepada kalian, dan betapa sangatnya kegembiraanku bertemu dengan kalian. Wahai Rasûlullâh, ini Malakul Maut telah hadir kepadaku, dan aku tidaklah ragu pada keadaanku (yang dirasakan baik) dalam benak Malakul Maut, karena kedudukanmu dan kedudukan saudaramu (yang menjadi keyakinan) dariku.”

Maka Rasûlullâh saw berkata, “Begitulah dia.” Kemudian Rasûlullâh saw menghadap kepada Malakul Maut, lalu beliau berkata, “Wahai Malakul Maut, berpesanlah dengan wasiat Allah dalam berbuat kebaikan kepada maulâ (pembela) kami, pelayan kami, pencinta kami dan orang yang mengutamakan kami.” Maka Malakul Maut berkata, “Suruh dia memandang kepada apa yang telah kusiapkan untuknya di dalam surga.” Lalu Rasulullah saw berkata kepadanya, “Lihatlah ke atas.” Lantas dia melihat kepada karunia yang pikiran tidak bisa meliputinya (karena saking indahnya), dan tidak ada jumlah bilangan dan perhitungan baginya (karena sangat banyaknya). Lalu Malakul Maut berkata, “Bagaimana aku tidak menyayangi orang yang yang pahalanya seperti itu, dan Ini Muhammad dan keluarganya adalah para peziarahnya. Wahai Rasulullah, kalaulah Allah tidak menjadikan kematian sebagai puncak gunung yang sulit didaki, niscaya tidak bakal sampai kepada surga-surga itu selain orang yang telah memutuskannya karena ruhnya telah dicabut, namun bagi pelayanmu dan pecintamu ini ada suri tauladan denganmu dan dengan seluruh para nabi Allah dan rasul-rasul-Nya dan para wali-Nya yang kematian telah dirasakan pada mereka, karena yang demikian itu ketentuan Allah.

Kemudian Muhammad saw berkata, “Wahai Malakul Maut, inilah saudara kami, telah kami percayakan kepadamu, maka perlakukanlah dia dengan baik.” Kemudian beliau dan orang-orang yang bersamanya naik ke taman surga, dan sungguh tirai dan hijab telah dibukakan bagi orang yang beriman yang sedang mengalami sakratul maut tersebut, lalu dia melihat mereka di sana setelah mereka berada di sekitar tempat tidurnya, maka orang itu berkata, “Wahai Malakul Maul, cepatlah, cepatlah ambil ruhku dan jangan engkau biarkan aku di sini, tidak sabar lagi bagiku dari Muhammad dan keluarganya, dan pertemukan (kembali) aku dengan mereka.” Maka ketika itu Malakul Maut mencabut ruhnya seperti dia mencabut sehelai rambut dari dalam tepung. Dan jika kalian melihat bahwa pencabutan nyawa itu sangat keras, maka sebenarnya (bagi orang yang beriman) tidaklah keras bahkan dalam kelapangan dan kelezatan.

Apabila dia dimasukkan ke dalam kuburnya, dia akan mendapati kami di sana, jika datang kepadanya Munkar dan Nakîr, maka berkatalah salah satunya kepada yang lainnya, “Mereka ini Muhammad, ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain dan orang-orang yang terbaik dari sahabatnya telah berada di hadapan kita, maka kita hormat kepada mereka.” Kedua malaikat itu datang dan memberi salam kepada Muhammad secara khusus, kepada ‘Ali secara khusus, kemudian kepada Al-Hasan dan Al-Husain berdua, kemudian kepada semua orang yang ada bersama kami dari sahabat-sahabat kami. Kemudian mereka berdua berkata, “Kami telah mengetahui wahai Rasulullah, kunjunganmu pada orang khususmu, pelayanmu dan kekasihmu, dan kalaulah Allah tidak berkehendak untuk menampakkan keutamaannya kepada mereka yang hadir ini dari kelebihan-kelebihannya, dan apa yang diperdengarkan kepada kami dari malaikat-Nya setelah mereka, niscaya kami tidak akan bertanya kepadanya, namun perintah Allah yang mesti dilaksanakan.” Kemudian mereka berdua bertanya kepadanya, “Siapakah Rabbmu? Dan apa ajaranmu? Siapa nabimu? Siapa imammu? Apa kiblatmu? Dan siapa saudara-saudaramu?”

Maka orang yang beriman itu menjawab, “Allah Rabbku, Islam ajaranku, Muhammad nabiku, ‘Ali washi Muhammad imamku, Ka’bah kiblatku, dan orang-orang yang beriman yang mengikuti Muhammad, ‘Ali dan para walinya serta memusuhi musuh-musuh mereka berdua (Muhammad dan ‘Ali) adalah saudara-saudaraku. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya, dan bahwa saudaranya ‘Ali adalah wali Allah, dan bahwa orang-orang yang memusuhi mereka karena imâmah dari ‘itrahnya dan dzurriyyahnya yang terbaik sebagai para khalifah bagi ummat yang menegakkan kebenaran dan keadilan.” Kedua malak berkata, “Di atas (akidah) ini engkau hidup dan di atas (akidah) ini engkau mati, dan di atas (akidah) ini engkau akan dibangkitkan insyâ Allâh, dan engkau bersama orang yang engkau cintai di negeri kemuliaan Allah dan tempat menetap kasih-Nya.”

Beliau berkata: Dan jika dia memusuhi wali-wali kami dan memihak kepada musuh-musuh kami dan kepada saingan-saingan kami, dan dia menjulukinya dengan julukan-julukan kami, maka apabila datang kepadanya Malakul Maut untuk mencabut ruhnya, Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada orang yang durhaka tersebut makhluk semisal para pemimpinnya yang telah dia jadikan sebagai arbâb (pemimpin-pemimpin zalim yang dipatuhi) selain Allah, mereka menyiksanya dengan bermacam-macam siksaan dan hampir-hampir pandangannya kepada mereka membinasakan dirinya, maka senantiasa sampai kepadanya panasnya siksaan mereka yang dia tidak kuasa untuk menahankannya. Lalu berkata Malakul Maut kepadanya, “Wahai manusia durhaka lagi kufur, kamu telah tinggalkan para kekasih Allah yang maha tinggi dan kamu berpihak kepada musuh-musuh-Nya, maka pada hari ini mereka tidak bisa membelamu sedikit pun dan kamu tidak akan mendapatkan jalan keluar.” Lalu dari siksaan itu ditimpakan lagi kepadanya, dan kalaulah siksaan yang paling ringannya dibagikan kepada penduduk dunia, niscaya bisa membinasakan mereka semua.

Kemudian apabila dia dimasukkan ke dalam kuburnya, dia akan melihat sebuah pintu dari surga terbuka ke kuburnya, dia melihat kebaikan-kebaikannya, lalu Munkar dan Nakîr berkata kepadanya, “Lihatlah kepada kebaikan-kebaikan yang tidak kamu peroleh!” Kemudian dibukakan baginya di dalam kuburnya sebuah pintu dari neraka, lalu masuk kepadanya siksaannya hingga dia berkata, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau tegakkan saat kiamat.”

Imam 'Ali as berkata, "Barangsiapa yang mencintaiku, niscaya dia mendapatiku saat kematiannya yang dia suka, dan barangsiapa yang membenciku, niscaya dia mendapatiku pada waktu matinya yang dia tidak suka." [Nahj Al-Balâghah 2]

 

Thu, 7 May 2015 @20:25


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+6+1

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved