Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Tafsir Surah Al-Waqi'ah

image

Tafsîr dan Ta`wîl Sûrah Al-Wâqi’ah (Bagian Pertama)

Keutamaan Sûrah Al-Wâqi’ah
Al-Imam Ja’far Al-Shâdiq as berkata, “Barangsiapa yang membaca (sûrah) Al-Wâqi’ah pada setiap malam Jum’at, niscaya Allah mencintainya, dan dicintakannya kepada manusia semua, dan dia tidak melihat dalam dunia kesusahan selamanya, tidak kefakiran, tidak kemiskinan dan tidak penyakit dari penyakit-penyakit dunia, dan adalah dia menjadi di antara teman Amîrul Mu`minîn secara khusus.” [Tsawâb Al-A’mâl oleh Al-Syaikh Shadûq ra]
    Tentunya juga manfaatnya itu akan dirasakan apabila sûrah Al-Wâqi’ah ini dibaca secara rutin pada setiap malam Jum’at minimalnya satu kali, dan juga dengan mengamalkan apa-apa yang diamalkan oleh golongan kanan atau ashhâbul yamîn sebagaimana disebutkan di dalam sûrah tersebut.

Terjemah dari Firman-Nya

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apabila terjadi hari qiyâmah. Tidak ada yang mendustakan untuk terjadinya.  Merendahkan (sebagian manusia) dan mengangkat (sebagian yang lain).  Apabila bumi diguncangkan seguncang-guncangnya. Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya. Hingga menjadi debu yang berhamburan. Dan keadaan kamu menjadi golongan yang tiga. [Sûrah Al-Wâqi’ah Ayat 1 – 7]

Adanya hari kiamat seperti adanya kematian, yaitu tidak ada yang mendustakannya. Jika ada yang membohongkan, itu hanya dengan lidahnya saja, adapun hatinya tetap meyakini adanya, sebab hidup ini menjadi tidak logis jika tidak ada perhitungannya di kemudian hari.

Pembagian Buku (‘Ardhul Kitâb)
Kiamat itu artinya tegaknya keadilan bahwa tidak seorang pun manusia yang teraniaya padanya, karena senang dan susahnya pada hari kiamat dan seterusnya merupakan perbuatannya di dunia ini.

Pada hari kiamat manusia akan menerima buku catatan amalnya dengan tangannya, dan dia akan membacanya dengan matanya sedang memori otaknya menjadi terbuka hingga tidak ada yang lupa satu pun dari perbuatan yang pernah dilakukannya.

Ada dua golongan manusia dalam menerima kitabnya; ada yang menerimanya dari sebelah kanan, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan ada yang menerimanya dari sebelah kiri, mereka itulah orang-orang yang merugi.
Allah ‘azza wa jalla berfirman, Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya di sebelah kanannya, maka nantinya akan dihisab dengan perhitungan yang ringan, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakangnya (atau dari sebelah kirinya), maka akan berteriak: Celakalah aku!. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. [Sûrah Al-Insyiqâq 84/7-12]

Allah Yang Maha Tinggi Berfirman, Baca kitabmu, cukuplah dirimu pada hari ini yang menghitungnya atasmu. [Sûrah Banî Isrâîl 17/14 ] Dan orang-orang yang berdosa akan mengatakan ketika membuka kitabnya, Duhai celakalah kami, kitab macam apa ini tidak meninggalkan perkara yang kecil dan tidak yang besar melainkan mencatatnya. [Sûrah Al-Kahfi 18/49]

Perhitungan (Hisâb)
Dan setelah pembagian buku, kemudian manusia akan diperiksa atau dihisab, dan pemeriksaan itu ada dua macam, yaitu hisâban yasîrâ (pemeriksaan yang ringan) dan sû-ul hisâb (pemeriksaan yang buruk).

Pemeriksaan yang ringan lamanya lima ratus tahun (lima abad) dan pemeriksaan yang buruk sampai lima ribu tahun. Ada hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh khalifahnya yang keenam, Imam Ja’far Al-Shâdiq as, “Hisablah diri-dirimu sebelum kamu dihisab nanti, maka sesungguhnya tempat-tempat hisaban itu ada lima puluh tempat yang pada setiap tempatnya manusia dihisab selama seribu tahun.”

Penimbangan Amal (Mîzân)
Setelah dihisab, amal-amal manusia akan ditimbang antara yang baiknya di satu sisi dan yang buruknya di sisi yang lain, jika kebaikan lebih berat dari keburukan, maka manusia akan beruntung dan jika kebaikannya lebih ringan dari keburukannya, maka akan celaka. Allah Yang Maha Suci berfirman, Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Dan adapun orang yang ringan timgangan (kebaikan)nya, maka tempat tinggalnya adalah Hâwiyah. Dan tahukah kamu apakah Hâwiyah itu? (Yaitu) api neraka yang sangat panas. [Sûrah Al-Qâri’ah 101/6-11]

Berjalan di atas Jembatan Jahannam
Jisru Jahannam atau jembatan Jahannam dikisahkan oleh Imam Ja’far Al-Shâdiq as bahwa panjangnya itu tiga ribu tahun perjalanan, mungkin maksudnya apabila ditempuh dengan berjalan kaki biasa akan memakan waktu tiga ribu tahun karena sangat panjangnya.

Sifat jembatan ini kata beliau lebih tajam dari mata pedang, seribu tahun menurun, seribu tahun menanjak dan seribu tahun mendatar. Jika manusia bisa berjalan di atas jembatan ini, maka dia akan selamat masuk ke dalam surga, tetapi apabila dia tergelincir darinya, maka dia akan jatuh dan masuk ke dalam neraka. Itulah antara lain pertunjukan hari tegaknya keadilan (hari kiamat). Dan setelah itu manusia ada yang hidup di surga dan bahagia untuk selama-lamanya, dan ada pula yang hidup di dalam neraka dan sengsara serta disiksa dengan siksaan yang menghinakan dan kekal di dalamnya.

Golongan Al-Sâbiqûn
Golongan pertama adalah Al-Sâbiqûn (orang-orang yang paling dulu beriman kepada para nabi as). Telah diriwayatkan dalam periwayatan umum dan khusus (keluarga Nabi saw).

Adapun dalam periwayatan umum, maka telah diriwayatkan oleh Abû Nu’aim yang sanadnya terangkat ke Ibnu ‘Abbâs—radhiyallâhu ‘ah— dia berkata, “Sesungguhnya sâbiq ummat ini adalah ‘Ali bin Abî Thâlib as.” [Lihat Tafsir Al-Durr Al-Mantsûr 6/154 dan Syawâhid Al-Tanzîl 2/216]

Dan adapun dari jalur khusus, maka telah dirawikan oleh Muhammad bin Al-‘Abbâs—rahimahullâh— dari Muhammad Al-Kâtib, dari Hamîd bin Al-Rabî’, dari Husain bin Hasan Al-Asyqar, dari Sufyân bin ‘Uyainah, dari Abû Najîh, dari ‘Âmir, dari Ibnu ‘Abbâs berkata, “Manusia yang paling terdahulu beriman ada tiga: (1) Yûsya’ shâhibnya Mûsâ kepada Mûsâ, (2) Shâhib Yâsîn kepada ‘Îsâ dan (3) ‘Ali bin Abî Thâlib kepada Nabi---shalawâtullâhi ‘alaihim ajma’în.
    

Dari Ibnu ‘Abbâs berkata, “Para sâbiq itu tiga: Hizqîl orang beriman dari keluarga Fir’aun kepada Mûsâ, Habîb sahabat Yâsîn kepada ‘Îsâ, dan ‘Ali bin Abî Thâlib kepada Muhammad, dan dia yang paling utamanya---shalawâtullâhi ‘alaihim ajma’în.”
    

Dari Salîm bin Qais, dari Al-Hasan bin ‘Ali as mengenai firman-Nya ‘azza wa jalla, Was sâbiqûnas sâbiqûn. Ulâ`ikal muqarrabûn. Dia berkata, “Ayahku yang paling dulu dari mereka yang terdahulu kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, dan yang paling dekat dari mereka yang paling dekat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.”
    

Dâwud Al-Riqqi berkata: Aku berkata kepada Abû ‘Abdillâh as, “Kujadikan diriku tebusanmu, kabarkan padaku tentang firman Allah ‘azza wa jalla, Was sâbiqûnas sâbiqûn. Ulâ`ikal muqarrabûn?.” Maka beliau berkata, “Allah telah berfirman dengan firman-Nya ini pada hari penciptaan makhluk dalam mîtsâq dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan makhluk (Âdam).” Aku bertanya, “Jelaskanlah hal itu kepadaku.” Maka beliau berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tatkala hendak menciptakan makhluk, Dia menciptakannya dari tanah, dan Dia mengangkat api bagi mereka seraya berfirman: Masuklah kalian ke dalamnya! Maka yang pertama memasukinya adalah Muhammad, Amîrul Mu`minîn, Al-Hasan, Al-Husain dan sembilan imam; seorang imam setelah imam, kemudian para pengikutnya mengikuti mereka, maka mereka itu demi Allah as-sâbiqûn.”
    

Dari Ibnu Abbâs berkata: Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang firman Allah ‘azza wa jalla, As-sâbiqûnas sâbiqûn. Ulâ`ikal muqarrabûn. Maka beliau berkata, “Jabrâîl berkata kepadaku, ‘Yang demikian itu ‘Ali dan para pengikutnya, mereka itulah yang bersegera ke surga, yang didekatkan kepada Allah dengan karâmah-Nya bagi mereka,’” [Amâlî Al-Thûsî 1/70]
    

Dari Muhammad bin Al-Furât dari Ja’far bin Muhammad as tentang firman-Nya ‘azza wa jalla, Tsullatun minal awwalîn wa qalîlun minal âkhirîn. Beliau berkata, “Tsullatun minal awwalîna: Putra Âdam yag dibunuh oleh saudaranya, orang yang beriman dari keluarga Fir’aun dan Habîb Al-Najjâr sahabat Yâsîn.” Beliau ditanya, “Wa qalîlun minal âkhirin?.” Beliau berkata, “’Ali bin Abî Thâlib shalawâtullâhi ‘alaih.”

As-sâbiqûnas sâbiqûn adalah orang-orang yang cepat membenarkan para nabi dan rasul dan bersegera menerima ajarannya. Orang-orang yang paling terkemukanya adalah Hizqîl, Habîb dan Ali ‘alaihimus salâm. Dan yang paling utama dari mereka ini adalah ‘Ali bin Abî Thâlib as.

Mereka itulah orang-orang yang dihampiri. Berada dalam surga-surga kenikmatan. Segolongan besar dari  orang-orang terdahulu, Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata. Dengan bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda. Dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan yang mereka pilih. Dan daging burung yang mereka sukai. Dan bidadari-bidadari yang bermata jeli. Laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula ucapan yang menimbulkan dosa. Melainkan mereka mendengar ucapan salâm. [Ayat 11 – 26]

Fri, 6 Mar 2015 @18:07


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved