Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah

Kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah
Oleh: Abu Zahra

Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitâbullâh (ibarat) tali yang terentang dari langit ke bumi dan ‘itrah-ku, yakni Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga (Kautsar), maka perhatikan oleh kalian, bagaimanakah kalian akan perlakukan aku pada keduanya. (Rasulullah saw)

Setiap orang Islam pasti sepakat bahwa Islam yang suci itu dituangkan di dalam Kitab Suci Al-Quran dan Al-Sunnah. Dan yang dimaksud dengan Al-Sunnah adalah sunnah-sunnah Rasulullah saw. Tetapi pada kenyataannya kita sebagai ummat Islam telah menyimpang jauh dari kedua peninggalan beliau saw yang sangat berharga itu. Penyebabnya adalah dikarenakan kita terlalu permisip terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah kita sendiri sehingga ummat ini tidak lagi berpegang kepada Islam yang suci. Dan penyimpangan kita yang paling besar serta mendasar adalah kita telah memisahkan Ahlulbait Rasulullah dari Al-Quran, padahal orang yang memisahkan Ahlulbait Nabi dari Al-Quran, sudah dipastikan tersesat dari jalan yang lurus. Coba kita perhatikan beberapa sabda Nabi saw berikut ini.

Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yaitu Kitâbullâh (Al-Quran) dan Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga (Kautsar).”

Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitâbullâh (ibarat) tali yang terentang dari langit ke bumi dan ‘itrah-ku, yakni Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga (Kautsar), maka perhatikan oleh kalian, bagaimanakah kalian akan perlakukan aku pada keduanya.”

Rasûlullâh saw berkata, “Wahai manusia! Telah kutinggalkan pada kalian yang jika kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitâbullâh (Al-Quran) dan ‘itrahku Ahlulbaitku.”

Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya kutinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yaitu Kitâbullâh dan Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga mereka datang kepadaku di telaga (Kautsar).”

Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya kutinggalkan pada kalian Al-Khalîfatain (dua peninggalan), yaitu Kitâbullâh (ibarat) tali yang terentang antara langit dan bumi-–atau dari langit ke bumi–dan Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga mereka datang kepadaku di telaga (Kautsar).”

Zaid bin Arqam berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw berkhotbah di hadapan kami dekat mata air yang bernama Khumm yang terletak antara Makkah dan Madinah, (dalam khotbahnya) beliau memuji Allâh dan menyanjung-Nya, lalu beliau memberi pesan dan mengingatkan, kemudian beliau berkata, "Adapun dari itu, ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya aku seorang manusia (basyar) yang telah dekat waktunya utusan Tuhanku (Malakul Maut) akan datang kepadaku dan aku pun akan memenuhi panggilan-Nya, dan aku tinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yang pertamanya Kitâbullâh yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambil Kitâbullâh dan berpeganglah dengannya—beliau perintahkan untuk berpegang kepada Kitâbullâh, kemudian beliau bersabda—dan Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku.”

 

Makna Al-Tsaqalain
Al-Tsaqalain adalah dua tsaqal, secara bahasa berarti berat. Tsa‘lab (ulama ahli bahasa Arab) berkata, “Kitab Allah dan ‘itrah Nabi dinamakan Al-Tsaqalain, sebab berpegang kepada keduanya itu dirasakan berat dan mengamalkannya juga berat. Asal kata tsaqal ialah bahwa orang-orang Arab suka mengatakan kepada setiap sesuatu yang berharga, yang penting atau yang dipelihara sebagai tsaqal, maka beliau saw menamai keduanya itu Al-Tsaqalain, sebab beliau memandang besar dan agung kepada kedudukan dan keadaannya.”

Al-Fairûz Âbadî (ahli bahasa Arab) berkata, “Dan (di antara arti Al-Tsaqalain ) ialah sesuatu yang berharga yang mesti dijaga seperti diungkapkan dalam hadîts, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan Al-Tsaqalain padamu, yaitu Kitâbullâh dan ‘itrahku.”

Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw. adalah peninggalan beliau yang maha penting dan amat berharga yang harus dijaga dan diikuti oleh ummatnya. Apabila ummat Islam ini tidak mengikutinya, maka tersesatlah dari jalan yang lurus meskipun jumlahnya sangat banyak.

Rasûlullâh saw mengancam kita dengan neraka bila kita berani merubah ajarannya. Beliau berkata, “Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakannya. Ketahuilah! Dan setiap bid‘ah itu sesat. Ketahuilah! Setiap kesesatan itu di dalam neraka.” (Bihârul Anwâr 2/301)

 

Ahlulbait yang Disucikan
Mengapa Ahlulbait Nabi saw dijadikan padanan Al-Quran dan jika kita tidak merujuk kepada mereka, pasti kita tersesat? Mereka dijadikan rujukan (marja‘) dikarenakan mereka manusia-manusia yang sangat mulia setelah Rasulullah saw. Oleh karena itu Allâh ‘azza wa jalla memilih mereka untuk dijadikan padanan Kitab Suci-Nya
Allah ‘azza wa jalla berfirman, Sesungguhnya Allâh hendak menghilangkan keraguan dari kamu wahai Ahlulbait! Dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.

Ayat tersebut merupakan dalil yang jelas tentang kesucian Ahlulbait, mereka telah dihilangkan rijs-nya (keraguan dalam melaksanakan perintah Allah) dan mereka disucikan sesuci-sucinya sebagai ungkapan tidak melakukan dosa-dosa dan kesalahan.

Menurut Ummul Mu`minîn ‘Âisyah ra bahwa ayat itu diturunkan berkenaan dengan ‘Alî, Fâthimah, Hasan dan Husain. Demikian pula menurut Ummul Mu`minîn Ummu Salamah. Dan menurut riwayat yang lain dari Salmân Al-Fârisî bahwa sembilan orang lagi dari keturunan Husain (yaitu: ‘Ali Zainul ‘Âbidîn, Muhammad Al-Bâqir, Ja‘far Al-Shâdiq, Mûsâ Al-Kâdzim, ‘Ali Al-Ridhâ, Muhammad Al-Jawâd, ‘Ali Al-Hâdî, Hasan Al-‘Askari dan Al-Mahdi).

Ahlulbait as merupakan pewaris pemahaman serta ilmu Rasulullah saw. Pengetahuan orang-orang terdahulu dan juga orang-orang yang terakhir ada pada mereka.

Rasulullah saw berkata, “Siapa yang ingin sehidup semati denganku dan menghuni surga ‘Aden yang telah diciptakan Tuhanku, maka hendaklah dia menjadikan ‘Alî sebagai pemimpinnya setelahku, mendukung penggantinya dan mengikuti Ahlulbaitku setelahku, karena mereka itu adalah ‘itrahku (ada hubungan darah yang dekat), mereka diciptakan dari darah dagingku dan mereka diberi pemahamanku dan ilmuku, maka celakalah ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dengan mereka. Allâh tidak akan memberikan syafâ‘at-ku kepada mereka.”

Ahlulbait Nabi saw adalah orang-orang yang oleh beliau diumpamakan bahtera Nabi Nûh as. Dulu, waktu terjadi air bah di zamam beliau, tidak ada orang yang selamat selain orang-orang yang terangkut di dalam bahteranya. Maka Ahlulbait adalah bahtera keselamatan (safînah al-najâh) untuk ummat agar tidak tenggelam dalam lautan kesesatan.

Rasulullah saw berkata, “Perumpamaan Ahlulbaitku adalah perumpamaan bahtera Nûh, orang yang menaikinya selamat dan orang yang berpaling darinya tenggelam.”

Beliau berkata, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku pada kalian bagaikan bahtera Nûh, orang yang menaikinya selamat dan orang yang berpaling darinya tenggelam.”

Jika ummat Islam di muka bumi ini ingin bersatu dan bebas dari perpecahan, solusinya harus merujuk kepada Islam versi Ahlulbait Nabi saw dalam hal ‘aqîdah, syari‘ah dan akhlak, sebab mereka itu pengaman untuk ummat ini dari perpecahan, dari tafarruq dan ikhtilâf.

Rasulullah saw berkata, “Bintang-bintang adalah pengaman buat penduduk bumi dari tenggelam (di laut saat berlayar) dan Ahlulbaitku pengaman untuk ummatku dari ikhtilâf (dalam ajaran), jika satu kabilah dari Arab berpaling darinya, mereka pasti ikhtilâf, lalu menjadi partai Iblis.”

 

Ringkasan
Ummat Islam yang hidup setelah Rasulullah saw wajib berpegang dan berpedoman kepada Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw yang disucikan agar tidak tersesat, agar tidak menjadi partai Iblis dan agar tidak menjadi ahli neraka.

Antara Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw tidak bisa dipisahkan, maka menolak salah satunya berarti menolak dua-duanya, dan menerima salah satunya berarti mesti menerima kedua-duanya. Seandainya ada orang yang mengklaim bahwa dirinya berpegang kepada Al-Quran, namun menolak Ahlulbait Rasulullah, maka sebenarnya orang tersebut telah menolak Al-Quran itu sendiri secara halus.

Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw yang suci dinamakan Al-Tsaqalain, sebab keduanya merupakan peninggalan beliau saw yang sangat berharga dan mesti dibela. Keduanya merupakan alat ukur untuk mengukur sesat dan tidak sesatnya kita dari jalan yang benar.

Ahlulbait yang disucikan yang ma‘shûmîn adalah Fâthimah Al-Zahrâ dan para khalîfah Rasulullah yang berjumlah dua belas orang.

Mengikuti Ahlulbait Nabi yang suci berarti mengikuti Sunnah Rasulullah, sebab mereka adalah orang-orang yang menjaga sunnah-sunnah Nabi dan ajaran Islam dari penambahan, pengurangan dan dari bid‘ah-bid‘ah yang diada-adakan manusia.

Kaum muslim yang tidak mengikuti Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw adalah tersesat dan mereka bagaikan manusia-manusia yang tenggelam ditelan air bah pada zaman Nabi Nûh as.

Janganlah tertipu dengan kajian-kajian keislaman yang menyamankan suasana hati yang resah dan menenangkan pikiran yang kacau, sebab hal itu akan melenakan kita dari jalan yang lurus selama tidak disertakan Ahlulbait.

Muslimin di mana pun mereka berada tidak akan bersatu, kecuali jika mengikuti sumber Islam yang sejati, yaitu Al-Quran dan Ahlulbait sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah, dikarenakan mereka itu pengaman ummat dari perpecahan. []

Tue, 24 Feb 2015 @08:58


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved