Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Kiat Meraih Kebaikan Dunia dan Akhirat

image

Dari Abû Sa’îd Al-Khudri berkata: Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang dianugerahi Allah kecintaan kepada para imam dari Ahlulbaitku, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Dan yang berhubungan dengan kecintaan kepada Ahlulbaitku itu ada dua puluh perkara: Sepuluh darinya di dunia, dan sepuluh darinya di akhirat. Adapun sepuluh di dunia itu: (1) Zuhud, (2) semangat dalam beramal saleh, (3) berlaku hati-hati dalam menjalankan ajaran, (4) nenyukai ibadah, (5) bertobat sebelum mati, (6) giat dalam bangun malam, (7) putus asa dari apa-apa yang ada pada tangan-tangan manusia, (8) menjaga perintah dan larangan Allah ‘azza wa jalla, (9) membenci dunia dan (10) dermawan. Dan adapun yang di akhirat: (1) Tidak dibentangkan baginya dîwân, (2) tidak ditegakkan baginya mîzân, (3) diberikan kitabnya di sebelah kanannya, (4) dituliskan baginya bebas dari api neraka, (5) diputihkan wajahnya, (6) diberi busana dari busana-busana surga, (7) diberi hak syafa’at pada seratus orang dari keluarganya, (8) Allah ‘azza wa jalla memandang kepadanya dengan rahmat, (9) diberi mahkota dari mahkota-mahkota surga dan (10) masuk surga tanpa pemeriksaan. Maka beruntunglah bagi manusia-manusia yang mencintai Ahlulbaitku.” [HR Muhammad bin ‘Ali bin Husain, dia termasyhur dengan julukan Al-Shadûq]

 

Sepuluh di Dunia

Pertama, al-zuhd (zuhud). Zuhud adalah suasana hati yang tidak ta’alluq (terikat) dengan kecintaan terhadap dunia, yakni tidak sedih karena ketiadaannya dan tidak gembira karena kedatangannya. Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as mendefinisikan zuhud itu dengan sebuah ayat yang terdapat dalah sûrah Al-Hadîd ayat 23. Beliau mengatakan bahwa zuhud itu ada pada satu ayat Al-Quran, yaitu Likailâ ta`saû ‘alâ mâ fâtâkum wa lâ tafrahû bimâ âtâkum. (Supaya kamu tidak bersedih hati dengan dunia yang telah luput dari kamu dan tidak gembira dengan dunia yang datang kepadamu).

 

Kedua, al-hirshu ‘alal ‘amal (semangat dalam beramal saleh). Semangat dalam beramal saleh dan tulus- ikhlas dalam menjalankannya, tidak lalai dan tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban seorang hamba. Dalam Al-Kitab disebutkan bahwa orang-orang munâfiq itu tidak semangat dalam menjalankan perintah Tuhannya, khususnya shalat. Allah ‘azza wa jalla berfirman, Dan apabila mereka mendirikan shalat mereka berdiri dengan malas, mereka perlihatkan (riyâ) kepada manusia. [Sûrah Al-Nisâ` 4/143] Dan firman-Nya, Mereka didak menunaikan shalat kecuali dalam keadaan malas, dan tidak menginfaqkan (sebagian hartanya) kecuali dalam keadaan tidak suka. [Sûrah Al-Taubah 9/54]

Ketiga, al-wara’u fid dîn (berlaku hati-hati dalam menjalankan ajaran).  Wara’ itu pondamen iman sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah saw, “Bagi setiap sesuatu ada pondamennya, dan pondamen iman adalah wara’.” Imam ‘Ali as berkata, “Barangsiapa yang mencintai kami, maka hendaklah dia beramal dengan amal kami, dan hendaklah dia meminta bantuan dengan (sifat) wara’, sebab ia itu seutama-utama yang dimintai bantuan dengannya dalam urusan dunia  dan akhirat.” Imam ‘Ali as mengatakan bahwa wara’ itu ijtinâb , yakni menjauhi segala yang dilarang, dan pangkal wara’ ialah menjauhi dosa-dosa dan mensucikan diri dari segala yang haram. Sifat wara’ bisa menjadikan seseorang tidak emosional dalam menjalankan ajaran Islam, dia akan selalu berhati-hati hingga tidak melanggar, baik melebihinya atau menguranginya. Maka ibadah kepada Allah tanpa wara’ tidak ada gunanya dan tidak diterima. Rasulullah saw bersabda, “Kalaulah kalian shalat hingga kalian menjadi (kurus) seperti tali busur, dan kalian shaum hingga kalian menjadi berkeluk seperti busur, niscaya Allah tidak menerima (pengabdian) dari kalian kecuali dengan wara’.” Dari Khaitsamah dari Abû Ja’far, dia berkata : Saya datang kepada beliau untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya, lalu dia berkata, “Tolong sampaikan salam dari kami kepada para pencinta kami dan aku berwasiat kepada mereka dengan taqwâ kepada Allah Yang Maha Agung, dan beritakan kepada mereka wahai Khaitsamah, bahwa kami (Ahlulbait Nabi saw) tidak dapat memberi manfaat bagi mereka sedikitpun dari (azab) Allah selain dengan amal (saleh), dan mereka tidak akan mencapai wilâyah (kecintaan yang sesungguhnya kepada) kami kecuali dengan wara’.”

Keempat, al-raghbatu fil ‘ibâdah (mencintai ibadah). Ibadah kepada Allah itu semestinya bukan karena terpaksa, dan bukan pula karena mengikuti kebanyakan manusia, tetapi karena cinta dan suka.

Kelima, al-taubatu qablal maut (bertobat sebelum mati). Tobat adalah kembali kepada Allah, yaitu kepada ajaran Allah ‘azza wa jalla dengan meninggalkan segala dosa dan perbuatan tercela. Kematian bisa terjadi sekarang, esok atau lusa, maka tobat tentunya janganlah ditangguhkan.

Keenam, al-nasyâthu fî qiyâmil lail (giat dalam bangun malam). Yang dimaksud dengan bangun malam adalah ibadah malam seperti shalat malam atau tahajjud, berdzikir, berdoa dan beristighfar (meminta ampun). Tentang shalat malam ada perintah Allah kepada Rasulullah saw dan merupakan anjuran bagi ummatnya. Dan dari sebagian malam, maka tahajjud-lah padanya sebagai nâfilah bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu membangkitkanmu pada tempat berdiri yang terpuji. [Sûrah Banî Isrâ`îl 17/79] Firman-Nya yang maha tinggi, Dan di waktu sahur mereka meminta ampun. [Sûrah Al-Dzâriyât 51/18] Ayat ini menunjukkan bahwa manusia-manusia mulia selalu memohon ampunan pada waktu sahur dalam shalat malam dan setelahnya. Istighfar dalam shalat malam, yaitu pada waktu witir saat berdiri sebelum ruku’ sebanyak 70 kali, dan juga setelah salam pada setiap dua raka’at sebanyak 300 kali sambil sujud sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as jika kita mau.

Ketujuh, al-ya`su mimmâ fî aidin nâs (putus asa dari apa-apa yang ada pada tangan-tangan manusia). Putus asa dari rahmat Allah itu tercela dan bahkan hal itu merupakan suatu kekufuran kepada-Nya, akan tetapi putus asa dari manusia, dari mengharapkan pemberian manusia, dari mengharapkan uang dan harta dunia yang ada pada tangan-tangan manusia menjadi terpuji, sebab harapan hanya ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla. Walhasil jangan berharap atau jangan terlalu berharap kepada manusia, karena jika harapan itu tidak terpenuhi, maka kita akan kecewa. Dan saat kita kecewa dengan manusia, maka itu salah kita sendiri.

Kedelapan, al-hifzhu li`amrillâhi wa nahyihi ‘azza wa jalla (menjaga perintah dan larangan Allah ‘azza wa jalla). Menjaga lebih dari sekedar mengamalkan, karena menjaga itu mengamalkan dengan sebaik-baiknya, dengan mengenal batasan-batasannya dan hukum-hukumnya dan menjaga keikhlasan hati di dalam menjalankannya.

Kesembilan, bughdhud dun-y â   (m embenci dunia). Dunia itu segala sesuatu yang berkaitan dengan harta dan uang dan kesenangan dunia lainnya. Dunia bisa dicari sebanyak-banyaknya, lalu dinikmati dan digunakan untuk kemakmuran hidup di akhirat, namun tidak boleh dicintai sedikit pun juga, karena dengan kecintaan pada dunia akan menimbulkan ketidaksukaan pada akhirat, kerusakan pada akal dan ketulian pada hati. Amîrul Mu`minîn as mengatakan, “Mencintai dunia itu merusak akal, menjadikan hati tuli dari mendengar hikmah dan mendatangkan azab yang pedih.” [Ghurar Al-Hikam] Dunia dan akhirat ibarat timur dan barat, tidak bisa disatukan dan dipadukan, bila kita mendekat ke barat, maka dengan sendirinya kita telah menjauh dari timur. Imam ‘Ali as berkata, “Sesungguhnya dunia dan akhirat itu dua musuh yang selalu confrontasi, dan dua jalan yang senantiasa berbeda, maka barangsiapa yang mencintai dunia dan bersahabat dengannya, niscaya dia membenci akhirat dan memusuhinya, keduanya itu ibarat timur dan barat, dan orang yang berjalan di antara keduanya, setiap kali dia mendekat ke salah satunya, pasti menjauh dari yang lainnya…” [Nahuj Balâghah] Dan ketika Rasulullah saw di-mi’râj- kan, Allah ‘azza wa jalla berfirman kepadanya, Wahai Ahmad, kalaulah hamba itu shalat seperti shalatnya penghuni langit dan bumi, shaum seperti shaumnya penduduk langit dan bumi, menahan diri dari makanan semisal para malaikat dan mengenakan busana seperti busananya ahli ibadah, kemudian Aku lihat di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kecintaan terhadap dunia, atau reputasinya, atau kepemimpinannya, atau harga dirinya, atau perhiasannya, dia tidak akan bertetangga dengan-Ku di negeri-Ku, dan sungguh akan Kucabut dari dalam hatinya kecintaan kepada-Ku, dan sungguh akan Kugelapkan hatinya hingga dia lupa kepada-Ku dan tidak merasakan manisnya cinta kepada-Ku. [Al-Mustadrak 2/330]

Kesepuluh, sakhâ`   (dermawan atau murah hati). Dermawan adalah salah satu sifat yang sangat terpuji hingga Rasulullah saw mengatakan bahwa dermawan itu adalah akhlak Allah Yang Maha Agung. Dan bahwa sakhâ` itu adalah sebuah pohon dari pohom-pohon surga yang cabang-cabangnya menggapai dunia, maka manusia yang bermurah hati telah bergantung dengan salah satu cabang pohon tersebut, lalu cabangnya itu membawanya ke surga. Dan kata Imam ‘Ali as bahwa murah hati buahnya akal dan dermawan itu qurbah (pendekatan diri). Maka Imam ‘Ali Al-Ridhâ mengatakan, “Manusia yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga.”  Dan dermawan bisa memanjangkan usia hingga Al-Sâmiri dibebaskan dari hukuman mati atas perintah Allah Yang Maha Tinggi, karena dia orang yang dermawan.

 

Sepuluh Balasan di Akhirat

Pertama, lâ yunsyaru lahu dîwân (tidak dibentangkan baginya dîwân ). Dîwân adalah pemutaran film kehidupan dunia di hadapan

makhluk pada hari kiamat, dan orang-orang akan dipermalukan dengan ditayangkannya perilaku buruknya ketika di dunia. Dan bagi pecinta Ahlulbait Nabi saw yang sesungguhnya, sisi kehidupan yang buruk yang pernah dilakukannya tidak akan ditampakkan.  

 

Kedua, lâ yunshabu lahu mîzân (tidak ditegakkan baginya mîzân ). Salah satu pertunjukkan yang mendebarkan hati-hati manusia pada hari kiamat adalah penimbangan amal. Jika kebaikan lebih berat dari keburukan akan beruntung, dan bila keburukan yang lebih berat dari kebaikan, maka akan celaka. Allah ta’âlâ berfirman, Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Hâwiyah. Dan tahukah kamu apa Hâwiyah itu? (Yaitu) api neraka yang sangat panas. [Sûrah Al-Qâri’ah 101/6-11] Maka bagi orang yang memiliki sepuluh perkara tersebut di dunia, tidak akan diberlakukan penimbangan amal itu.

 

Ketiga, yu’thâ kitâbuhu biyamî nih ( diberikan kitabnya di sebelah kanannya). Kitab-kitab itu diberikan kepada manusia ada yang dari sebelah kanan dan ada yang dari sebelah kiri. Orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah atau bahkan tidak dihisab sama sekali. Allah ‘azza wa jalla berfirman, Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada ahlinya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. [Sûrah Al-Insyiqâq 64/7-9] Firman-Nya, Dan barangsiapa yang diberikan kitabnya di sebelah kanannya, maka mereka akan membacanya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. [Banî Isrâ`îl 17/71]

 

Keempat, yuktabu lahu barâ`atun minan nâr (dituliskan baginya bebas dari api neraka). Ada orang yang masuk ke surga setelah dibersihkan dulu dosa-dosanya dengan cara mendapatkan siksaan yang pedih di dalam neraka. Tetapi ada manusia yang masuk ke surga tanpa ke neraka dulu, mereka itulah manusia-manusia yang benar-benar mencintai dan mengikuti Ahlulbait Nabi saw yang disucikan.

 

Kelima, yubayyadhu wajhuh (diputihkan wajahnya). Pada hari kiamat kulit-kulit orang hitam legam menjijikkan, kecuali manusia-manusia yang beriman yang mencintai para imam dari Ahlulbait Rasulullah saw kulit-kulit mereka putih bersinar.

 

Keenam, yuksâ min hulalil jannah (diberi busana dari busana-busana surga). Orang-orang akan dibangkitkan dari kubur-kuburnya dalam keadaan telanjang dan sangat membutuhkan pakaian, maka manusia-manusia yang mencintai keluarga Rasulullah saw yang suci akan diberi busana dari busana-busana surga yang sangat nyaman dan menyenangkan.

 

Ketujuh, yusyaffa’u fî mi`atin min ahli baitih (diberi hak syafa’at untuk menyelamatkan seratus orang dari ahlulbaitnya). Manusia-manusia yang taat kepada Allah hingga menjadi wali-wali Ahlulbait Rasulullah saw bukan hanya mendapatkan syafa’at Nabi saw, tetapi juga bisa memberikan syafa’at atau pwertolongan bagi seratus orang dari keluarganya.

 

Kedepan, yanzhurullâhu ‘azza wa jalla ilaihi birrahmah (Allah ‘azza wa jalla akan memandang kepadanya dengan kasih). Maka manusia-manusia yang dipandang Allah ‘azza wa jalla dengan kasih-Nya, tentu akan dimuliakan-Nya.

Kesembilan, yutawwaju min tîjânil jannah (diberi mahkota dari mahkota-mahkota surga). Lelaki yang ke surga akan menjadi raja di sana, dan perempuan yang ke surga akan menjadi ratu di sana. Ahli surga punya daerah teritorial, punya negeri, punya kawasan, punya kota, punya istana dan yang lainnya. Sebagai raja atau ratu biasanya mengenakan mahkota, dan mahkota ini bukanlah bikinan manusia, tetapi mahkota dari surga.

 

Kesepuluh, yadkhulul jannata bighairi hisâb (masuk ke surga tanpa hisab). Pemeriksaan itu baik lama maupun sebentar bukanlah sesuatu yang menyenangkan, apalagi pemeriksaan di akhirat yang paling berat sampai lima puluh ribu tahun lamanya, dan pemeriksaan yang paling ringan lima ratus tahun lamanya, sungguh amat sangat meletihkan! Tetapi manusia-manusia yang benar-benar mencintai Ahlulbait Nabi saw dengan tulus ikhlas tidak akan mengalami penderitaan hisab atau pemeriksaan pada hari kiamat. Itulah untungnya jika punya sepuluh perkara di dunia sebagaimana telah disebutkan.

 

Jangan Terbuai dengan Angan-angan

Mencintai para imam dari Ahlulbait Rasulullah saw bukan dengan memperingati hari lahirnya dan hari wafatnya, bukan dengan memuji-mujinya, bukan pula dengan menceritakan sejarahnya, tetapi mencintai mereka dengan melakukan sepuluh perkara di dunia sebagaimana tersebut  dalam sabda Rasulullah saw di atas. Jika tidak melakukan sepuluh perkara di atas, maka tidak termasuk mencintai keluarga Nabi saw dengan kecintaan yang sesungguhnya, dan sepuluh perkara di akhirat tidak akan diperolehnya. Maka marilah kita untuk tidak berangan-angan, dan camkanlah perkataan Imam Muhammad Al-Bâqir, “Barangsiapa yang taat kepada Allah, maka dia wali kami, dan barang siapa yang tidak taat kepada Allah, maka dia musuh kami, dan kecintaan kepada kami tidak bisa dicapai kecuali dengan amal (saleh) dan sifat wara’.” [Kitâb Al-Khishâl oleh Al-Shadûq]

Fri, 21 Nov 2014 @09:17


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+7+9

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved