Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Shiyam Bulan Ramadhan [8]

Batasan sakit yang mengharuskan buka yang dikhawatirkan bahaya dengannya, dan bahwa orang yang sakit merujuk kepada dirinya dalam kekuatannya dan kelemahannya
عَنْ بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَزْدِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ سَأَلَهُ أَبِي وَ أَنَا أَسْمَعُ عَنْ حَدِّ الْمَرَضِ الَّذِي يَتْرُكُ الْإِنْسَانُ فِيهِ الصَّوْمَ قَالَ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَتَسَحَّرَ
Dari Bakr bin Muhammad Al-Azdi dari Abû 'Abdillâh as dia berkata: Ayahku bertanya kepadanya dan saya mendengarnya tentang batasan sakit yang orang meninggalkan shaum karenanya. Beliau berkata, "Bila dia tidak bisa sahur." 

قَالَ الصَّدُوقُ وَ قَالَ ع كُلَّمَا أَضَرَّ بِهِ الصَّوْمُ فَالْإِفْطَارُ لَهُ وَاجِبٌ
Al-Shadûq berkata: Beliau as (Abû 'Abdillâh as) berkata, "Setiap kali shaum itu membahayakan dirinya, maka tidak shaum (ifthâr) menjadi wajib baginya." 
 
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع مَا حَدُّ الْمَرِيضِ إِذَا نَقَهَ فِي الصِّيَامِ فَقَالَ ذَلِكَ إِلَيْهِ هُوَ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ إِذَا قَوِيَ فَلْيَصُمْ
Dari Muhammad bin Muslim berkata: Saya berkata kepada Abû 'Abdillâh as, "Apa batasan orang yang sakit jika dia lemah dalam shiyâm?" Beliau berkata, "Yang demikian itu diserahkan kepadanya, dia lebih tahu dengan dirinya, bila dia kuat, maka hendaklah dia shaum." 
 
عَنْ عُمَرَ بْنِ أُذَيْنَةَ قَالَ كَتَبْتُ إِلَى أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَسْأَلُهُ مَا حَدُّ الْمَرَضِ الَّذِي يُفْطِرُ فِيهِ صَاحِبُهُ وَ الْمَرَضِ الَّذِي يَدَعُ صَاحِبُهُ الصَّلَاةَ (مِنْ قِيَامٍ) قَالَ بَلِ الْإِنْسانُ عَلى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَ قَالَ ذَاكَ إِلَيْهِ هُوَ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ
Dari 'Umar bin Udzainah berkata: Saya telah menulis surat kepada Abû 'Abdillâh as, saya bertanya kepadanya apa batasan sakit yang orangnya mesti berbuka dan sakit yang orangnya meninggalkan shalat (dengan berdiri), beliau berkata, "Bahkan manusia itu melihat atas dirinya." Dan beliau berkata, "Yang demikian itu kembali kepada dirinya, dia lebih mengetahui dirinya." 
 
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عِمْرَانَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي حَدِيثِ الْقَوْمِ الَّذِينَ رُفِعُوا إِلَى عَلِيٍّ ع وَ هُمْ مُفْطِرُونَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ أَنَّهُ قَالَ لَهُمْ أَ سَفْرٌ أَنْتُمْ قَالُوا لَا قَالَ فِيكُمْ عِلَّةٌ اسْتَوْجَبْتُمُ الْإِفْطَارَ لَا نَشْعُرُ بِهَا فَإِنَّكُمْ أَبْصَرُ بِأَنْفُسِكُمْ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ بَلِ الْإِنْسانُ عَلى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
Dari Muhammad bin 'Imrân dari Abû 'Abdillâh as dalam sebuah hadîts suatu kaum yang mereka (beritanya) diangkat kepada 'Ali as dan mereka berbuka pada bulan Ramadhân bahwa beliau berkata kepada mereka, "Apakah kalian safar?" Mereka berkata, "Tidak." Beliau berkata, "Apakah pada kalian ada alasan yang menyebabkan kalian berbuka yang kami tidak tahu, sebab kalian lebih mengetahui kepada diri-diri kalian, karena Allah yang maha tinggi berfirman, Tetapi manusia itu melihat kepada dirinya." 
 
عَلِيُّ بْنُ جَعْفَرٍ فِي كِتَابِهِ عَنْ أَخِيهِ مُوسَى بْنِ جَعْفَرٍ ع قَالَ سَأَلْتُهُ عَنْ حَدِّ مَا يَجِبُ عَلَى الْمَرِيضِ تَرْكُ الصَّوْمِ قَالَ كُلُّ شَيْ‏ءٍ مِنَ الْمَرَضِ أَضَرَّ بِهِ الصَّوْمُ فَهُوَ يَسَعُهُ تَرْكُ الصَّوْمِ
'Ali bin Ja'far dalam kitabnya dari saudaranya Mûsâ bin Ja'far as dia berkata, "Saya bertanya kepadanya tentang batasan yang wajib bagi orang yang sakit untuk meninggalkan shaum?" Beliau berkata, "Segala penyakit yang membahayakannya jika dia shaum, maka dia wajib meninggalkan shaum." 

Anjuran meng-qadhâ` hari yang tiga dalam sebulan tidak shaum sunnah yang lainnya
عَنْ دَاوُدَ بْنِ فَرْقَدٍ عَنْ أَبِيهِ فِي حَدِيثٍ أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَمَّنْ تَرَكَ الصِّيَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فِي كُلِّ شَهْرٍ فَقَالَ إِنْ كَانَ مِنْ مَرَضٍ فَإِذَا بَرَأَ فَلْيَقْضِهِ
Dari Dâwud bin Farqad dari ayahnya dalam sebuah hadîts bahwa dia telah bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang orang yang meninggalkan shaum tiga hari pada setiap bulan, maka beliau berkata, "Jika karena sakit, maka hendaklah dia membayarnya." 
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ فِي حَدِيثٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يَصُومُ أَشْهُرَ الْحُرُمِ فَيَمُرُّ بِهِ الشَّهْرُ وَ الشَّهْرَانِ لَا يَقْضِيهِ قَالَ فَقَالَ لَا يَصُومُ فِي السَّفَرِ وَ لَا يَقْضِي شَيْئاً مِنْ صَوْمِ التَّطَوُّعِ إِلَّا الثَّلَاثَةَ الْأَيَّامِ الَّتِي كَانَ يَصُومُهَا فِي كُلِّ شَهْرٍ وَ لَا يَجْعَلُهَا بِمَنْزِلَةِ الْوَاجِبِ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ لَكَ أَنْ تَدُومَ عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ
Dari 'Abdullâh bin Sinân dalam sebuah hadîts berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang orang yang shaum pada bulan-bulan haram, lalu lewat kepadanya satu bulan dan dua bulan, dia tidak membayarnya. Dia berkata, "Dia tidak boleh shaum dalam safar dan tidak boleh mambayar sesuatu dari shaum sunnah selain tiga hari yang biasa dia menshauminya pada setiap bulan, dan janganlah dia menjadikannya wajib, hanya saja aku suka bagimu bahwa kamu langgeng dalam amal saleh." 
 
عَنْ سَعْدِ بْنِ سَعْدٍ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الرِّضَا ع قَالَ سَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الشَّهْرِ هَلْ فِيهِ قَضَاءٌ عَلَى الْمُسَافِرِ قَالَ لَا
Dari Sa'ad bin Sa'ad Al-'Asya'ari dari Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as dia berkata: Saya bertanya kepadanya tentang shaum tiga hari dalam safar pada setiap bulan, apakah padanya ada qadhâ bagi orang yang melakukan safar? Dia berkata, "Tidak ada." 
 
عَنِ الْمَرْزُبَانِ بْنِ عِمْرَانَ قَالَ قُلْتُ لِلرِّضَا ع أُرِيدُ السَّفَرَ فَأَصُومُ لِشَهْرِيَ الَّذِي أُسَافِرُ فِيهِ قَالَ لَا قُلْتُ فَإِذَا قَدِمْتُ أَقْضِيهِ قَالَ لَا كَمَا لَا تَصُومُ كَذَلِكَ لَا تَقْضِي
Dari Al-Marzubân bin 'Imrân berkata: Saya berkata kepada Al-Ridhâ as, "Saya hendak melakukan safar, apakah saya shaum bagi bulanku yang saya safar padanya?" Beliau berkata, "Tidak." Saya bertanya, "Apabila saya telah pulang, bolehkah saya mengqadhânya?" Dia berkata, "Tidak, sebagaimana kamu tidak shaum, demikian pula kamu tidak membayarnya." 
 
عَنْ عُذَافِرٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَصُومُ هَذِهِ الثَّلَاثَةَ الْأَيَّامِ فِي الشَّهْرِ فَرُبَّمَا سَافَرْتُ وَ رُبَّمَا أَصَابَتْنِي عِلَّةٌ فَيَجِبُ عَلَيَّ قَضَاؤُهَا قَالَ فَقَالَ لِي إِنَّمَا يَجِبُ الْفَرْضُ فَأَمَّا غَيْرُ الْفَرْضِ فَأَنْتَ فِيهِ بِالْخِيَارِ قُلْتُ بِالْخِيَارِ فِي السَّفَرِ وَ الْمَرَضِ قَالَ فَقَالَ الْمَرَضُ قَدْ وَضَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ عَنْكَ وَ السَّفَرُ إِنْ شِئْتَ فَاقْضِهِ وَ إِنْ لَمْ تَقْضِهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ
Dari 'Udzâfir berkata: Saya berkata kepada Abû 'Abdillâh as, "Saya shaum yang tiga hari ini dalam sebulan, adakalanya saya melakukan safar dan adakalanya saya sakit, apakah wajib saya mengqadhânya?" Maka beliau berkata kepadaku, "Sesungguhnya (shaum) yang wajib itu hanya yang fardhu, adapun yang tidak fardhu, maka engkau bisa memilih." Saya berkata, "Dengan memilih dalam safar dan sakit?" Beliau berkata, "Sakit telah diletakkan oleh Allah 'azza wa jalla darimu dan safar apabila engkau mau, engkau mengqadhânya, dan bila engkau tidak mengqadhânya, maka tidak ada dosa bagimu." 

Orang yang shaum dalam sakit bersama membahaya-kannya tidak memadai shaumnya dan wajib atasnya qadhâ`
قَدْ تَقَدَّمَ حَدِيثُ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ ع قَالَ فَإِنْ صَامَ فِي السَّفَرِ أَوْ فِي حَالِ الْمَرَضِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَقُولُ فَمَنْ كانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Telah terdahulu dalam hadîts Al-Zuhri dari 'Ali bin Al-Husain as berkata, "Jika dia shaum dalam safar atau dalam keadaan sakit, maka wajib atasnya qadhâ, sebab Allah 'azza wa jalla berfirman, Barang siapa di antaramu dalam keadaan sakit atau dalam safar, maka wajib atasnya membayar dari hari-hari yang lain." 
  
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع عَنْ رَجُلٍ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ وَ هُوَ مَرِيضٌ قَالَ يُتِمُّ صَوْمَهُ وَ لَا يُعِيدُ يُجْزِيهِ
Dari 'Uqbah bin Khâlid dari Abû 'Abdillâh as tentang orang yang shaum bulan Ramadhân sedang dia dalam keadaan sakit, beliau berkata, "Dia sempurnakan shaumnya dan jangan mengulangi ia memadai baginya." 

Orang yang pingsan (tidak sadarkan diri) tidak wajib qadhâ`
عَنْ أَيُّوبَ بْنِ نُوحٍ قَالَ كَتَبْتُ إِلَى أَبِي الْحَسَنِ الثَّالِثِ ع أَسْأَلُهُ عَنِ الْمُغْمَى عَلَيْهِ يَوْماً أَوْ أَكْثَرَ هَلْ يَقْضِي مَا فَاتَهُ أَمْ لَا فَكَتَبَ ع لَا يَقْضِي الصَّوْمَ وَ لَا يَقْضِي الصَّلَاةَ
Dari Ayyûb bin Nûh berkata: Saya menulis surat kepada Abû Al-Hasan yang ketiga as, saya bertanya kepadanya tentang orang yang pingsan sehari atau lebih, apakah dia wajib mengqadhâ yang telah luput ataukah tidak. Maka beliau menulis, "Dia tidak wajib mengqadhâ shaum dan tidak mengqadhâ shalat."  

عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقَاسَانِيِّ قَالَ كَتَبْتُ إِلَيْهِ ع وَ أَنَا بِالْمَدِينَةِ أَسْأَلُهُ عَنِ الْمُغْمَى عَلَيْهِ يَوْماً أَوْ أَكْثَرَ هَلْ يَقْضِي مَا فَاتَهُ فَكَتَبَ ع لَا يَقْضِي الصَّوْمَ
Dari 'Ali bin Muhammad Al-Qâsâni berkata: Saya menulis surat kepadanya as dan saya berada di Al-Madînah, saya bertanya kepadanya tentang orang yang pingsan sehari atau lebih, apakah dia wajib mengqadhâ apa-apa yang telah meluput-kannya, maka beliau as menulis jawabannya, "Dia tidak meng-qadhâ shaum."  

عَنْ مَنْصُورِ بْنِ حَازِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَنَّهُ سَأَلَهُ عَنِ الْمُغْمَى عَلَيْهِ شَهْراً أَوْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً قَالَ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ أَخْبَرْتُكَ بِمَا آمُرُ بِهِ نَفْسِي وَ وُلْدِي أَنْ تَقْضِيَ كُلَّ مَا فَاتَكَ
Dari Manshûr bin Hâzim dari Abû 'Abdillâh as bahwa dia telah bertanya kepada beliau tentang orang yang pingsan selama sebulan atau empat puluh malam, maka beliau berkata, "Jika kamu mau aku kabarkan kepadamu dengan apa yang aku perintahkan kepada diriku dan anak-anakku bahwa kamu mengqadhâ setiap (kewajiban) yang meluputkanmu."  
     
عَنْ عَلِيِّ بْنِ مَهْزِيَارَ أَنَّهُ سَأَلَهُ يَعْنِي أَبَا الْحَسَنِ الثَّالِثَ ع عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يَعْنِي مَسْأَلَةَ الْمُغْمَى عَلَيْهِ فَقَالَ لَا يَقْضِي الصَّوْمَ وَ لَا الصَّلَاةَ وَ كُلَّمَا غَلَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَاللَّهُ أَوْلَى بِالْعُذْرِ
Dari 'Ali bin Mahziyâr bahwa dia telah bertanya kepadanya yakni Abû Al-Hasan yang ketiga as tentang masalah ini yaitu masalah orang yang pingsan, maka beliau berkata, "Dia tidak membayar shaum dan tidak shalat, dan setiap yang Allah kalahkan atasnya, maka Allah lebih behak dengan memberi udzur."  

Shaum perempuan yang haid batal jika melihat darah menjelang terbenam matahari atau terputus haidnya setelah terbit fajar dan wajib meng-qadhâ`- nya untuk shaum tidak untuk shalat
عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ سَأَلْتُهُ عَنِ امْرَأَةٍ أَصْبَحَتْ صَائِمَةً فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ أَوْ كَانَ الْعَشِيُّ حَاضَتْ أَ تُفْطِرُ قَالَ نَعَمْ وَ إِنْ كَانَ وَقْتُ الْمَغْرِبِ فَلْتُفْطِرْ قَالَ وَ سَأَلْتُهُ عَنِ امْرَأَةٍ رَأَتِ الطُّهْرَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَتَغْتَسِلُ وَ لَمْ تَطْعَمْ فَمَا تَصْنَعُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ قَالَ تُفْطِرُ ذَلِكَ الْيَوْمَ فَإِنَّمَا فِطْرُهَا مِنَ الدَّمِ
Dari Al-Halabi dari Abû 'Abdillâh as dia berkata, "Saya bertanya kepada beliau tentang seorang perempuan yang pagi dia shaum, maka tatkala siang telah meninggi atau sore, dia haid, apakah dia berbuka?" Beliau berkata, "Ya walaupun sudah hampir tiba waktu maghrib, maka hendaklah dia buka." Dia berkata, "Dan saya bertanya kepadanya tentang seorang perempuan yang telah melihat kecucian (berhenti haid) pada awal siang dari bulan Ramadhân, lalu dia mandi sedang dia belum makan, maka apa yang mesti dia perbuat pada hari itu?" Beliau berkata, "Dia berbuka pada hari itu, sebab bukanya karena darah (haidnya masih keluar)." 
 
عَنْ عِيصِ بْنِ الْقَاسِمِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ امْرَأَةٍ تَطْمَثُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ قَالَ تُفْطِرُ حِينَ تَطْمَثُ
Dari 'Îsh bin Al-Qâsim berkata, "Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang seorang perempuan yang kedatangan haid pada bulan Ramadhân menjelang terbenam matahari." Beliau berkata, "Dia buka ketika kedatangan haid."  
 
Shaumnya perempuan nifas batal, dia wajib membayar shaum tetapi tidak wajib membayar shalat
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَجَّاجِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ ع عَنِ الْمَرْأَةِ تَلِدُ بَعْدَ الْعَصْرِ أَ تُتِمُّ ذَلِكَ الْيَوْمَ أَمْ تُفْطِرُ قَالَ تُفْطِرُ وَ تَقْضِي ذَلِكَ الْيَوْمَ
Dari 'Abdurrahmân bin Al-Hajjâj berkata, Saya bertanya kepada Abû Al-Hasan as tentang perempuan, dia melahirkan setelah 'ashar, apakah dia wajib menyempurnakan (shaum) pada hari itu ataukah berbuka?" Beliau berkata, "Dia berbuka dan mengqadhâ (shaum) hari itu." 

Perempuan yang istihâdhah wajib shaum, cukup mandi baginya. Tidak boleh shaum wajib bagi orang yang berpagi dalam keadaan junub dengan sengaja, tetapi boleh shaum sunnah. Dan hukum meninggalkan mandi haid dan istihâdhah
عَنْ سَمَاعَةَ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْمُسْتَحَاضَةِ قَالَ فَقَالَ تَصُومُ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا الْأَيَّامَ الَّتِي كَانَتْ تَحِيضُ فِيهِنَّ ثُمَّ تَقْضِيهَا بَعْدَهُ
 Dari Samâ'ah bin Mihrân berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as mengenai perempuan yang berdarah istihâdhah, maka beliau berkata, "Dia shaum bulan Ramadhân kecuali hari-hari yang dia haid padanya, kemudian meng-qadhâ-nya setelahnya." 

Perempuan yang haid dianjurkan menahan diri dari sisa siang harinya apabila telah suci di tengah-tengahnya atau haid dan wajib membayarnya
عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ ع فِي حَدِيثٍ قَالَ وَ كَذَلِكَ الْمُسَافِرُ إِذَا أَكَلَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ ثُمَّ قَدِمَ أَهْلَهُ أُمِرَ بِالْإِمْسَاكِ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ تَأْدِيباً وَ لَيْسَ بِفَرْضٍ
Dari Al-Zuhri dari 'Ali bin Al-Husain as dalam sebuah hadîts berkata, "Dan demikian pula orang yang safar apabila telah makan pada awal siang, kemudian dia datang kepada ahlinya, dia dianjurkan untuk menahan diri dalam sisa harinya sebagai ta`dîb (pendidikan) dan bukan keharusan." 
 
عَنْ عَمَّارِ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي الْمَرْأَةِ يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَ هِيَ حَائِضٌ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَإِذَا أَصْبَحَتْ طَهُرَتْ وَ قَدْ أَكَلَتْ ثُمَّ صَلَّتِ الظُّهْرَ وَ الْعَصْرَ كَيْفَ تَصْنَعُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي طَهُرَتْ فِيهِ قَالَ تَصُومُ وَ لَا تَعْتَدُّ بِهِ
Dari 'Ammâr bin Mûsâ dari Abû 'Abdillâh as mengenai perempuan, fajar telah terbit dan dia haid dalam bulan Ramadhân, maka apabila telah shubuh dia suci sedang dia telah makan, kemudian dia shalat zhuhur dan 'ashar, bagaimana dia berbuat pada hari itu yang dia telah suci dari haid padanya, beliau berkata, "Dia menahan diri dan tidak menghitungnya (sebagai shaum)." 
 
     عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ع عَنِ الْمَرْأَةِ تَرَى الدَّمَ غُدْوَةً أَوِ ارْتِفَاعَ النَّهَارِ أَوْ عِنْدَ الزَّوَالِ قَالَ تُفْطِرُ وَ إِذَا كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ الْعَصْرِ أَوْ بَعْدَ الزَّوَالِ فَلْتَمْضِ عَلَى صَوْمِهَا وَ لْتَقْضِ ذَلِكَ الْيَوْمَ
Dari Muhammad bin Muslim berkata: Saya bertanya kepada Abû Ja'far as tentang perempuan, dia melihat darah pada pagi hari atau pada waktu siang telah tinggi atau ketika zawal, beliau berkata, "Dia berbuka, dan apabila yang demikian itu terjadi setelah 'ashar atau setelah tergelincir matahari, dia tetap atas shaumnya dan dia wajib membayar hari itu." 
 
عَنْ أَبِي بَصِيرٍ فِي حَدِيثٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ امْرَأَةٍ رَأَتِ الطُّهْرَ أَوَّلَ النَّهَارِ قَالَ تُصَلِّي وَ تُتِمُّ صَوْمَهَا وَ تَقْضِي
Dari Abû Bashîr dalam sebuah hadîts berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as mengenai perempuan yang melihat kesucian pada awal siang, dia berkata, "Dia menyempurnakan shaumnya dan meng-qadhâ." 
 
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يَقْدَمُ مِنْ سَفَرٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُصِيبُ امْرَأَتَهُ حِينَ طَهُرَتْ مِنَ الْحَيْضِ أَ يُوَاقِعُهَا قَالَ لَا بَأْسَ بِهِ
Dari Muhammad bin Muslim berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang lelaki, dia datang dari safar setelah 'ashar dalam bulan Ramadhân, lalu dia mendapatkan istrinya ketika suci dari haid, bolehkah dia menggaulinya? Beliau berkata, "Tidak mengapa dengannya." 

Tidak wajib shaum atas anak-anak dan orang yang hilang akal, dan dianjurkan melatih anak untuk shaum, bagi anak yang sudah berusia tujuh tahun atau sembilan tahun dengan kadar yang dia mampu walau hanya sebagian siang, dan jika mampu atau telah dewasa shaum itu wajib atas anak laki-laki yang berusia lima belas tahun dan atas anak perempuan bila telah berusia sembilan tahun, kecuali apabila mereka telah sampai ihtilâm (mimpi basah) atau tumbuh bulu kemaluan sebelum itu, maka wajib ditetapkan bagi mereka
عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِنَّا نَأْمُرُ صِبْيَانَنَا بِالصِّيَامِ إِذَا كَانُوا بَنِي سَبْعِ سِنِينَ بِمَا أَطَاقُوا مِنْ صِيَامِ الْيَوْمِ فَإِنْ كَانَ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ أَوْ أَقَلَّ فَإِذَا غَلَبَهُمُ الْعَطَشُ وَ الْغَرَثُ أَفْطَرُوا حَتَّى يَتَعَوَّدُوا الصَّوْمَ وَ يُطِيقُوهُ فَمُرُوا صِبْيَانَكُمْ إِذَا كَانُوا بَنِي تِسْعِ سِنِينَ بِالصَّوْمِ مَا أَطَاقُوا مِنْ صِيَامٍ فَإِذَا غَلَبَهُمُ الْعَطَشُ أَفْطَرُوا
Dari Al-Halabi dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Kami menyuruh anak-anak kami untuk shaum jika mereka telah berusia tujuh tahun dengan kekuatan yang ada pada mereka dari shaum sehari, jika tidak, sampai setengah siang atau lebih dari itu atau kurang dari itu, bila mereka dikalahkan oleh rasa haus dan kelaparan, mereka berbuka hingga mereka terbiasa shaum dan kuat, maka suruhlah anak-anak kalian untuk shaum jika mereka telah berusia tujuh dengan sekuat mereka, jika mereka dikalahkan oleh dahaga, mereka berbuka."  
 
عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ ع فِي حَدِيثٍ قَالَ وَ أَمَّا صَوْمُ التَّأْدِيبِ فَأَنْ يُؤْخَذَ الصَّبِيُّ إِذَا رَاهَقَ بِالصَّوْمِ تَأْدِيباً وَ لَيْسَ بِفَرْضٍ
Dari Al-Zuhri dari 'Ali bin Al-Husain as dalam sebuah hadîts berkata, "Dan adapun shaum ta`dîb (pendidikan), maka anak bila telah berusia menjelang dewasa, disuruh shaum sebagai pendidikan bukan kewajiban." 

عَنِ السَّكُونِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِذَا أَطَاقَ الْغُلَامُ صَوْمَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مُتَتَابِعَةٍ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ صَوْمُ شَهْرِ رَمَضَانَ
Dari Al-Sakûni dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Apabila anak kuat shaum selama tiga hari berturut-turut, maka wajib baginya shaum bulan Ramadhân." 

عَنْ عَلِيِّ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ أَخِيهِ مُوسَى ع قَالَ سَأَلْتُهُ عَنِ الْغُلَامِ مَتَى يَجِبُ عَلَيْهِ الصَّوْمُ وَ الصَّلَاةُ قَالَ إِذَا رَاهَقَ الْحُلُمَ وَ عَرَفَ الصَّلَاةَ وَ الصَّوْمَ
Dari 'Ali bin Ja'far dari saudaranya Mûsâ as dia berkata: Saya bertanya kepadanya tentang anak, kapan dia wajib shaum dan shalat. Beliau berkata, "Jika hampir bâligh dan telah memahami shalat dan shaum." 
 
عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَنَّهُ قَالَ عَلَى الصَّبِيِّ إِذَا احْتَلَمَ الصِّيَامُ وَ عَلَى الْجَارِيَةِ إِذَا حَاضَتِ الصِّيَامُ وَ الْخِمَارُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ مَمْلُوكَةً فَإِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْهَا خِمَارٌ إِلَّا أَنْ تُحِبَّ أَنْ تَخْتَمِرَ وَ عَلَيْهَا الصِّيَامُ
Dari Abû Bashîr dari Abû 'Abdillâh as bahwa beliau telah berkata, "Wajib shaum atas anak laki-laki apabila telah ihtilâm (mimpi basah), dan atas anak perempuan wajib shaum dan berkerudung bila telah haid, kecuali sebagai hamba sahaya yang dimiliki, maka tidak wajib atasnya mengenakan kerudung, kecuali apabila dia suka berkerudung, dan wajib shaum atasnya." 
 
عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي حَدِيثٍ قَالَ إِذَا أَطَاقَ الصَّبِيُّ الصَّوْمَ وَجَبَ عَلَيْهِ الصِّيَامُ
Dari Ishâq bin 'Ammâr dari Abû 'Abdilah as dalam sebuah hadîts berkata, "Apabila anak telah kuat shaum, maka wajib shaum atasnya." 
 
عَنْ سَمَاعَةَ أَنَّهُ سَأَلَ الصَّادِقَ ع عَنِ الصَّبِيِّ مَتَى يَصُومُ قَالَ إِذَا قَوِيَ عَلَى الصِّيَامِ
 Dari Samâ'ah bahwa dia telah bertanya kepada Al-Shâdiq as tentang anak, kapankah dia shaum? Beliau berkata, "Bila dia telah kuat untuk shaum." 

قَالَ الصَّادِقُ ع الصَّبِيُّ يُؤْخَذُ بِالصِّيَامِ إِذَا بَلَغَ تِسْعَ سِنِينَ عَلَى قَدْرِ مَا يُطِيقُهُ فَإِنْ أَطَاقَ إِلَى الظُّهْرِ أَوْ بَعْدَهُ صَامَ إِلَى ذَلِكَ الْوَقْتِ فَإِذَا غَلَبَ عَلَيْهِ الْجُوعُ وَ الْعَطَشُ أَفْطَرَ
Al-Shâdiq as telah berkata, "Anak disuruh shaum jika telah berumur sembilan tahun atas kadar yang dia kuat, bila dia kuat sampai zhuhur atau setelahnya, dia shaumnya sampai waktu itu, bila dia dikalahkan oleh rasa lapar dan dahaga, dia berbuka." 

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ يُؤَدَّبُ الصَّبِيُّ عَلَى الصَّوْمِ مَا بَيْنَ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً إِلَى سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً
Dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Anak itu dilatih shaum antara usia lima belas tahun sampai enam tahun." 

Hukum orang yang lupa mandi janâbah dalam bulan Ramadhân hingga berlalu darinya beberapa hari atau bulan seluruhnya
عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يُجْنِبُ بِاللَّيْلِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ثُمَّ يَنْسَى أَنْ يَغْتَسِلَ حَتَّى يَمْضِيَ لِذَلِكَ جُمْعَةٌ أَوْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ عَلَيْهِ قَضَاءُ الصَّلَاةِ وَ الصَّوْمِ
Dari Ibrâhîm bin Maimûn berkata: Saya telah bertanya kepada Abû 'Abdillâh as mengenai lelaki, dia junub pada waktu malam dalam bulan Ramadhân, kemudian dia lupa mandi hingga berlalu satu Jumat atau sampai bulan Ramadhân keluar, beliau berkata, "Dia wajib qadhâ shalat dan shaum." 
 
قَالَ الصَّدُوقُ وَ رُوِيَ فِي خَبَرٍ آخَرَ أَنَّ مَنْ جَامَعَ فِي أَوَّلِ شَهْرِ رَمَضَانَ ثُمَّ نَسِيَ الْغُسْلَ حَتَّى خَرَجَ شَهْرُ رَمَضَانَ أَنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَغْتَسِلَ وَ يَقْضِيَ صَلَاتَهُ وَ صَوْمَهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَدِ اغْتَسَلَ لِلْجُمُعَةِ فَإِنَّهُ يَقْضِي صَلَاتَهُ وَ صِيَامَهُ إِلَى ذَلِكَ الْيَوْمِ وَ لَا يَقْضِي مَا بَعْدَ ذَلِكَ
Al-Shadûq berkata, "Dan telah diriwayatkan dalam hadîts yang lain bahwa orang yang melakukan jimâ' pada awal bulan Ramadhân, kemudian dia lupa mandi hingga keluar bulan Ramadhân bahwa dia wajib mandi dan mengqadhâ shalatnya dan shaumnya, kecuali jika dia telah mandi Jumat, maka dia meng-qadhâ shalatnya dan shaumnya sampai hari itu dan dia tidak meng-qadhâ setelah itu." 
 
عَنِ الْحَلَبِيِّ قَالَ سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع عَنْ رَجُلٍ أَجْنَبَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَنَسِيَ أَنْ يَغْتَسِلَ حَتَّى خَرَجَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ عَلَيْهِ أَنْ يَقْضِيَ الصَّلَاةَ وَ الصِّيَامَ
Dari Al-Halabi berkata: Abû 'Abdillâh as telah ditanya tentang seorang lelaki yang junub dalam bulan Ramadhân, lalu dia lupa mandi sehingga bulan Ramadhân telah keluar, beliau berkata, "Dia wajib membayar shalat dan shaum."  

Hukum-hukum bulan Ramadhân
عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ ص النَّاسَ فِي آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ شَعْبَانَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَ أَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ وَ هُوَ شَهْرُ رَمَضَانَ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ
Dari Abû Ja‘far as berkata: Rasûlullâh saw berkhotbah di hadapan manusia pada akhir Jumat dari Sya‘bân, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya telah menaungi kalian suatu bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu bulan Ramadhân yang Allah telah mewajibkan menshauminya." 
 
عَنْ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ النَّخَعِيِّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع يَقُولُ إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ لَمْ يَفْرِضِ اللَّهُ صِيَامَهُ عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ قَبْلَنَا فَقُلْتُ لَهُ فَقَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَالَ إِنَّمَا فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ دُونَ الْأُمَمِ فَفَضَّلَ بِهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ وَ جَعَلَ صِيَامَهُ فَرْضاً عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ص وَ عَلَى أُمَّتِهِ
Dari Hafsh bin Ghyâts berkata: Saya telah mendengar Abû 'Abdillâh as mengatakan, "Sesungguhnya bulan Ramadhân itu, Allah tidak mewajibkan menshauminya atas seseorang dari ummat-ummat sebelum kita." Saya bertanya kepadanya, "Bagaimana tentang firman Allah ‘azza wa jalla, Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atasmu shiyâm sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu ?" Beliau berkata, "Allah hanya mewajibkan shiyâm bulan Ramadhân atas para nabi, tidak atas ummatnya, maka Dia telah mengutamakan ummat ini dan menjadikan shiyâmnya sebagai fardhu atas Rasûlullâh saw dan atas ummatnya." 
 
عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ع أَنَّهُ قَالَ جَاءَ نَفَرٌ مِنَ الْيَهُودِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ص فَسَأَلَهُ أَعْلَمُهُمْ عَنْ مَسَائِلَ فَكَانَ فِيمَا سَأَلَهُ أَنَّهُ قَالَ لَهُ لِأَيِّ شَيْ‏ءٍ فَرَضَ اللَّهُ الصَّوْمَ عَلَى أُمَّتِكَ بِالنَّهَارِ ثَلَاثِينَ يَوْماً وَ فَرَضَ اللَّهُ عَلَى الْأُمَمِ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ ص إِنَّ آدَمَ لَمَّا أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ بَقِيَ فِي بَطْنِهِ ثَلَاثِينَ يَوْماً فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى ذُرِّيَّتِهِ ثَلَاثِينَ يَوْماً الْجُوعَ وَ الْعَطَشَ وَ الَّذِي يَأْكُلُونَهُ بِاللَّيْلِ تَفَضُّلٌ مِنَ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَ كَذَلِكَ كَانَ عَلَى آدَمَ ع فَفَرَضَ اللَّهُ ذَلِكَ عَلَى أُمَّتِي ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّاماً مَعْدُوداتٍ قَالَ الْيَهُودِيُّ صَدَقْتَ يَا مُحَمَّدُ فَمَا جَزَاءُ مَنْ صَامَهَا قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ ص مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَصُومُ شَهْرَ رَمَضَانَ احْتِسَاباً إِلَّا أَوْجَبَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى لَهُ سَبْعَ خِصَالٍ أَوَّلُهَا يَذُوبُ الْحَرَامُ فِي جَسَدِهِ وَ الثَّانِيَةُ يَقْرُبُ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ الثَّالِثَةُ يَكُونُ قَدْ كَفَّرَ خَطِيئَةَ آدَمَ أَبِيهِ وَ الرَّابِعَةُ يُهَوِّنُ اللَّهُ عَلَيْهِ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَ الْخَامِسَةُ أَمَانٌ مِنَ الْجُوعِ وَ الْعَطَشِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَ السَّادِسَةُ يُعْطِيهِ اللَّهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ وَ السَّابِعَةُ يُطْعِمُهُ اللَّهُ مِنْ طَيِّبَاتِ الْجَنَّةِ قَالَ صَدَقْتَ يَا مُحَمَّدُ
Dari Al-Hasan bin ‘Ali bin Abî Thâlib as bahwa beliau berkata, "Ada serombongan yahudi datang kepada Rasûlullâh saw, lalu yang paling alimnya bertanya kepada beliau tentang beberapa persoalan, maka di antara yang ditanyakan adalah dia berkata kepadanya, 'Mengapakah Allah mewajibkan shaum atas ummatmu pada siang hari selama tiga puluh hari sedang Allah mewajibkannya atas ummat-ummat yang lain lebih banyak dari itu?' Lalu Nabi saw berkata, 'Sesungguhnya Ãdam tatkala memakan buah dari pohon itu menetaplah sarinya di dalam perutnya selama tiga puluh hari, maka Allah fardhukan atas keturunannya lapar dan dahaga selama tiga puluh hari sedang yang mereka makan di malam hari adalah karunia dari Allah atas mereka, demikian pula apa yang difardhukan atas Ãdam, difardukan pula atas ummatku.' Kemudian beliau membaca ayat, Telah diwajibkan atasmu shiyâm sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu ber-taqwâ, beberapa hari yang dihitung.' Orang yahudi itu berkata, 'Anda benar wahai Muhammad, maka apa bala-san bagi orang yang menshauminya?' Nabi saw berkata, 'Tidak seorang yang beriman pun yang menshaumi bulan Ramadhân karena ihtisâb melainkan Allah tabâraka wa ta'âlâ wajibkan baginya lima perkara: Yang pertamanya yang haram menjadi lebur dalam jasadnya, kedua dekat dari rahmat Allah 'azza wa jalla, ketiga menjadi kafarat bagi kesalahan Ãdam ayahnya, keempat Allah ringankan sakaratul maut atasnya, kelima keamanan dari kelaparan dan kehausan pada hari kiamat, keenam Allah memberikan padanya kebebasan dari api neraka, dan ketujuh Allah memberinya makan dengan makanan-makanan surga yang baik.' Dia berkata, 'Anda benar wahai Muhammad.'" 
 
عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ قَالَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ ع يَوْماً يَا زُهْرِيُّ مِنْ أَيْنَ جِئْتَ فَقُلْتُ مِنَ الْمَسْجِدِ فَقَالَ فَفِيمَ كُنْتُمْ قُلْتُ تَذَاكَرْنَا أَمْرَ الصَّوْمِ فَأَجْمَعَ رَأْيِي وَ رَأْيُ أَصْحَابِي عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الصَّوْمِ شَيْ‏ءٌ وَاجِبٌ إِلَّا صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ يَا زُهْرِيُّ لَيْسَ كَمَا قُلْتُمُ الصَّوْمُ عَلَى أَرْبَعِينَ وَجْهاً فَعَشَرَةُ أَوْجُهٍ مِنْهَا وَاجِبَةٌ كَوُجُوبِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ عَشَرَةُ أَوْجُهٍ مِنْهَا صِيَامُهُنَّ حَرَامٌ وَ أَرْبَعَةَ عَشَرَ وَجْهاً مِنْهَا صَاحِبُهَا فِيهَا بِالْخِيَارِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَ إِنْ شَاءَ أَفْطَرَ وَ صَوْمُ الْإِذْنِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ وَ صَوْمُ التَّأْدِيبِ وَ صَوْمُ الْإِبَاحَةِ وَ صَوْمُ السَّفَرِ وَ الْمَرَضِ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَسِّرْهُنَّ لِي قَالَ أَمَّا الْوَاجِبُ فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ صَوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ الْحَدِيثَ
Dari Al-Zuhri berkata: Suatu hari 'Ali bin Al-Husain as berkata, "Wahai Zuhri, dari mana engkau?" Aku berkata, "Dari masjid." Beliau bertanya, "Apa yang telah engkau lakukan?" Aku berkata, "Kami mendiskudikan masalah shaum, lalu pendapatku dan pendapat sahabat-sahabatku sepakat bahwa tidak ada shaum yang wajib selain shaum bulan Ramadhân." Beliau berkata, "Wahai Zuhri, tidak sebagaimana yang engkau katakan, shaum itu ada empat puluh wajah: Sepuluh wajah darinya wajib seperti wajibnya shaum bulan Ramadhân, sepuluh wajah darinya haram menshauminya, empat belas wajah darinya orangnya bisa memilih; jika mau, dia shaum dan apabila mau, dia berbuka, shaum izin ada tiga wajah, shaum ta`dîb, shaum safar dan sakit." Aku berkata, "Kujadikan diriku sebagai tebusanmu, jelaskanlah semuanya itu padaku!" Beliau berkata, "Adapun shaum yang wajib, maka shaum bulan Rama-dhân dan shaum dua bulan berturut-turut…." 
 
عَنِ الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانَ عَنِ الرِّضَا ع قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الصَّوْمُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ خَاصَّةً دُونَ سَائِرِ الشُّهُورِ لِأَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ الشَّهْرُ الَّذِي أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ الْقُرْآنَ إِلَى أَنْ قَالَ وَ فِيهِ نُبِّئَ مُحَمَّدٌ ص وَ فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ وَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَ هُوَ رَأْسُ السَّنَةِ وَ يُقَدَّرُ فِيهَا مَا يَكُونُ فِي السَّنَةِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ أَوْ مَضَرَّةٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ أَوْ رِزْقٍ أَوْ أَجَلٍ وَ لِذَلِكَ سُمِّيَتْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَالَ وَ إِنَّمَا أُمِرُوا بِصَوْمِ شَهْرِ رَمَضَانَ لَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَ لَا أَكْثَرَ لِأَنَّهُ قُوَّةُ الْعِبَادِ الَّذِي يَعُمُّ فِيهِ الْقَوِيُّ وَ الضَّعِيفُ وَ إِنَّمَا أَوْجَبَ اللَّهُ الْفَرَائِضَ عَلَى أَغْلَبِ الْأَشْيَاءِ وَ أَعَمِّ الْقُوَى ثُمَّ رَخَّصَ لِأَهْلِ الضَّعْفِ وَ رَغَّبَ أَهْلَ الْقُوَّةِ فِي الْفَضْلِ وَ لَوْ كَانُوا يَصْلُحُونَ عَلَى أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ لَنَقَصَهُمْ وَ لَوِ احْتَاجُوا إِلَى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ لَزَادَهُمْ
Dari Al-Fadhl bin Syâdzân dari Al-Ridhâ as berkata, "Sesungguhnya shaum itu ditetapkan pada bulan Ramadhân secara khusus tidak pada bulan-bulan yang lain, karena bulan Ramadhân itu adalah bulan yang padanya Allah telah menurunkan Al-Quran---dan padanya nubbi`a (diturunkan kenabi-an) Muhammad saw, dan padanya ada malam qadr yang ia itu lebih baik dari seribu bulan, dan pada malam qadr itu dipu-tuskan setiap perkara yang bijak, dan ia adalah awal tahun ditakdirkan pada malam tersebut apa yang bakal terjadi pada tahun itu dari kebaikan atau keburukan, madarat atau manfaat, rezeki dan ajal, dan karena itu dinamakan malam qadr (penentuan)." Beliau berkata, "Dan sesungguhnya telah diperintahkan dengan shaum bulan Ramadhân tidak lebih sedikit dari yang demikian itu dan tidak lebih banyak, sesungguhnya kekuatan para hamba yang meliputi padanya orang yang kuat dan yang lemah, Allah hanya mewajibkan kewajiban-kewajiban atas yang kuat, kemudian dia memberikan kelonggaran atas orang yang lemah, dan Dia menyukakan pada orang yang kuat pada keutamaan, dan kalaulah mereka hanya cukup dengan yang sedikit, Dia mengurangi mereka, dan bila mereka membutuhkan kepada yang lebih banyak dari itu, Dia menambahkan pada mereka."  
 
عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ يَزِيدَ الْقُرَشِيِّ قَالَ قَالَ الصَّادِقُ ع حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ص فِي حَدِيثٍ قَالَ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ وَ حَفِظَ فَرْجَهُ وَ لِسَانَهُ وَ كَفَّ أَذَاهُ عَنِ النَّاسِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْهَا وَ مَا تَأَخَّرَ وَ أَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ وَ أَحَلَّهُ دَارَ الْقَرَارِ وَ قَبِلَ شَفَاعَتَهُ بِعَدَدِ رَمْلِ عَالِجٍ مِنْ مُذْنِبِي أَهْلِ التَّوْحِيدِ
Dari Al-'Alâ` bin Yazîd berkata: Al-Shâdiq as berkata, "Ayahku menyampaikan hadîts dari ayahnya dari kakeknya dari Rasûlullâh saw, dalam sebuah hadîts beliau berkata, 'Barang siapa yang shaum bulan Ramadhân, dia menjaga kemaluannya dan lidahnya dan dia menahan keburukannya terhadap orang lain, tentu Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu darinya dan yang datang kemudian, dan Dia membebaskannya dari api neraka, dan menghalalkan baginya dâr al-qarâr (surga), dan Dia terima syafa'atnya dengan sejumlah tumpukan pasir dari kalangan ahli tauhîd yang berdosa.'" 
 
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ (عَنْ رَجُلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ) عَنِ الْبَاقِرِ ع يَقُولُ إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَلَائِكَةً مُوَكَّلِينَ بِالصَّائِمِينَ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَى آخِرِهِ وَ يُنَادُونَ الصَّائِمِينَ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَ إِفْطَارِهِمْ أَبْشِرُوا عِبَادَ اللَّهِ فَقَدْ جُعْتُمْ قَلِيلًا وَ سَتَشْبَعُونَ كَثِيراً بُورِكْتُمْ وَ بُورِكَ فِيكُمْ حَتَّى إِذَا كَانَ آخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ نَادَوْهُمْ أَبْشِرُوا عِبَادَ اللَّهِ فَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ قَبِلَ تَوْبَتَكُمْ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَكُونُونَ فِيمَا تَسْتَأْنِفُونَ
Dari Muhammad bin Ziyâd (dari seseorang dari Muhammad bin Muslim) dari Al-Bâqir as berkata, "Sesungguhnya Allah yang maha tinggi mempunyai makaikat yang diserahi tugas kepada orang-orang yang shaum, mereka memintakan ampunan bagi mereka pada setiap hari dari bulan Ramadhân sampai akhirnya, mereka menyeru orang-orang yang shaum setiap malam ketika mereka berbuka, 'Gembiralah wahai hamba-hamba Allah, kalian lapar sebentar dan akan kenyang lama, kalian diberkahi dan diberkahi pada kalian.' Hingga apabila pada akhir malam dari bulan Ramadhân, mereka menyerunya, 'Gembiralah wahai hamba-hamba Allah, Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan menerima tobat kalian, maka perhatikanlah bagaimana kalian memulai lagi beramal setelahnya.'" 
 
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ الْكَرْخِيِّ قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ ع يَقُولُ لِرَجُلٍ فِي دَارِهِ يَا أَبَا هَارُونَ مَنْ صَامَ عَشَرَةَ أَشْهُرِ رَمَضَانَ مُتَوَالِيَاتٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Dari Muhammad bin Al-Hasan Al-Karkhi berkata: Saya telah mendengar Al-Hasan bin 'Ali as mengatakan kepada seseorang di rumahnya, "Wahai Abû Hârûn, barang siapa yang telah shaum sepuluh kali bulan Ramadhân berturut-turut, niscaya dia masuk ke surga." 
 
عَنْ يُونُسَ بْنِ حَمْدَانَ الرَّازِيِّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع يَقُولُ مَنْ أَفْطَرَ يَوْماً مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ خَرَجَ رُوحُ الْإِيمَانِ مِنْهُ
Dari Yûnus bin Hamdân Al-Râzi berkata: Saya telah mendengar Abû 'Abdillâh as mengatakan, "Barang siapa yang membatalkan shaum sehari (tanpa ada udzur), niscaya keluarlah ruh iman darinya." 
 
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ إِيمَاناً وَ احْتِسَاباً خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Dari Abû Salamah bin 'Abdurrahmân bin 'Auf dari ayahnya berkata: Rasûlullâh saw berkata, "Bulan Ramadhân adalah bulan yang Allah wajibkan atas kamu menshauminya, maka barang siapa yang menshauminya karena îmân dan ihtisâb, niscaya dia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari dia dilahirkan oleh ibunya." 
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجِنَانِ وَ تُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ.
Dari Abû Hurairah berkata: Rasûlullâh saw berkata, "Telah datang pada kalian bulan Ramadhân, ia adalah bulan yang diberkahi yang Allah telah mewajibkan atas kalian menshauminya, padanya dibukakan pintu-pintu surga dan padanya dibelenggu setan-setan, padanya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalang darinya, maka sesungguhnya dia telah terhalang (dari keutamaannya)." 
 
عَنْ مَعْمَرِ بْنِ يَحْيَى أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا جَعْفَرٍ ع يَقُولُ لَا يَسْأَلُ اللَّهُ عَبْداً عَنْ صَلَاةٍ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ وَ لَا عَنْ صَدَقَةٍ بَعْدَ الزَّكَاةِ وَ لَا عَنْ صَوْمٍ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ
Dari Ma'mar bin Yahyâ bahwa dia mendengar Abû Ja'far as mengatakan, "Allah tidak bertanya pada seorang hamba tentang shalat setelah shalat farîdhah, tidak dari sedekah setelah zakat dan tidak dari shaum setelah shaum bulan Ramadhân." 
 
عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَا كَلَّفَ اللَّهُ الْعِبَادَ فَوْقَ مَا يُطِيقُونَ وَ ذَكَرَ الْفَرَائِضَ وَ قَالَ إِنَّمَا كَلَّفَهُمْ صِيَامَ شَهْرٍ مِنَ السَّنَةِ وَ هُمْ يُطِيقُونَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
Dari Hisyâm bin Sâlim dari Abû 'Abdillâh as dia berkata: Aku mendengar beliau mengatakan, "Allah tidak membebani para hamba di luar dari kemampuannya." Dan beliau menyebutkan kewajiban-kewajiban dan berkata, "Sesungguhnya Dia membebankan pada mereka shiyâm bulan Ramadhân dari (pada setiap) tahun sedangkan mereka mampu lebih banyak dari itu." 
 
عَنِ الْفُضَيْلِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ ع مَنْ صَلَّى الْخَمْسَ وَ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ وَ حَجَّ الْبَيْتَ وَ نَسَكَ نُسُكَنَا وَ اهْتَدَى إِلَيْنَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَقْبَلُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ
Dari Al-Fudhail bin Yasâr dari Abû 'Abdillâh as berkata: Abû Ja'far as berkata, "Barang siapa shalat yang lima, shaum bulan Ramadhân, haji ke Al-Bait, melakukan ibadah yang lainnya sebagaimana cara ibadah kami dan mendapat petunjuk kepada kami, niscaya Allah menerima darinya sebagaimana Dia menerima dari malaikat."   

Sat, 21 Jun 2014 @06:36


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved