Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Ritual Malam Nishfu Sya'ban

Ritual dan Amalan pada Malam Nishfu Sya'bân yaitu Malam Pertengahan Bulan Sya'bân

Dari Ibnu ‘Abbâs dia berkata: Rasûlullâh saw berkata—ketika para sahabatnya menyebut-nyebut keutamaan bulan Sya‘bân---beliau berkata, "Adalah bulan yang mulia dan ia adalah bulanku, para pemikul ‘arsy mengagungkannya dan mereka mengenal haknya. Dan ia adalah bulan yang padanya ditambah rezeki kaum mu`minin untuk bulan Ramadhân, dan padanya surga-surga dihias. Ia dinamakan Sya‘bân (bercabang), sebab padanya bercabang-cabang rezeki kaum mu`minîn. Ia adalah bulan amal yang padanya dilipatgandakan kebaikan dengan tujuh puluh kali lipat, keburukan digugurkan, dosa diampuni dan kebaikan diterima. Al-Jabbâr jalla jalâluh berbangga-bangga padanya dengan hamba-hamba-Nya, Dia perhatikan mereka yang shaum padanya dan beribadah pada malamnya. Maka Dia berbangga-bangga dengan mereka kepada para malaikat pemikul ‘arsy…" 

Pada malam Nishfu Sya‘bân, ada beberapa shalat yang dianjurkan yang antara lain ada shalat seratus rakaat, shalat dua raka'at dan shalat tasbîh.

1. Shalat Dua Raka‘at berikut Doanya
Dari Abû Yahyâ dari Ja‘far bin Muhammad Al-Shâdiq as berkata: Al-Bâqir as ditanya mengenai keutamaan malam Nishfu Sya‘bân, kemudian beliau menjawab, "Dia adalah malam yang paling utama setelah lailatul qadr, padanya Allah memberikan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan Dia mengampuni mereka dengan anugerah-Nya, maka hendaklah kalian bersungguh-sungguh dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah ta‘âlâ padanya, sebab ia adalah malam yang Allah ‘azza wa jalla telah bersumpah atas diri-Nya bahwa Dia tidak menolak seorang peminta padanya selama tidak meminta kemaksiatan, dan sesungguhnya ia adalah malam yang Allah telah menjadikannya untuk kami Ahlulbait sebagaimana Dia telah menjadikan lailatul qadr untuk Nabi kita saw, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa dan memuji Allah ta‘âlâ, sebab orang yang bertasbîh kepada Allah ta‘âlâ padanya seratus kali, memujinya seratus kali, bertakbîr seratus kali dan membaca tahlîl seratus kali, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan Dia tentukan baginya kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat yang dia cari kepada-Nya, dan jika dia tidak mencarinya, maka sebagai karunia bagi hamba-hamba-Nya."

Abû Yahyâ berkata kepada Al-Shâdiq as: Doa apakah yang paling utama? Beliau menjawab, "Apabila kamu telah menunaikan shalat ‘isya, maka shalatlah dua raka'at, kamu baca pada raka‘at pertama sûrah Al-Hamdu dan sûrah Al-Jahdu yaitu sûrah Al-Kâfirûn dan pada raka‘at kedua baca sûrah Al-Hamdu dan sûrah Al-Tauhîd yakni Qul Huwallâhu Ahad, jika kamu telah taslîm, ucapkanlah: Subhânallah 33 kali, Alhamdu lillâh 33 kali dan Allâhu Akbar 34 kali, kemudian ucapkanlah doa berikut:

يَا مَنْ يَلْجَأُ إِلَيْهِ الْعِبَادُ فِي الْمُهِمَّاتِ, وَ إِلَيْهِ يَفْزَعُ الْخَلْقُ فِي الْمُلِمَّاتِ, يَا عَالِمَ الْجَهْرِ وَ الْخَفِيَّاتِ, وَ يَا مَنْ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ اْلأَوْهَامِ وَ تَصَرُّفُ الْخَطَرَاتِ, يَا رَبَّ الْخَلاَئِقِ وَ الْبَرِيَّاتِ, يَا مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوْتُ اْلأَرَضِيْنَ وَ السَّمَاوَاتِ, أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ, أَمِتْ إِلَيْكَ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Yâ man yalja`u ilaihil ‘ibâdu fil muhimmât, wa ilaihi yafza‘ul khalqu fil mulimmât, yâ ‘âlimal jahri wal khafiyyât, wayâ man lâ yakhfâ ‘alaihi khawâthirul auhâmi wa tasharruful khatharât, yâ rabbal khalâ`qi wal bariyyât, yâ man biyadihi malakûtul aradhîna was samâwât, antallâhu lâ ilâha illâ ant, amit ilaika bilâ ilâha illâ ant.
Wahai Tuhan yang berlindung kepada-Nya semua hamba dalam hal-hal yang sangat penting, yang terkejut kepada-Nya seluruh makhluk dalam perkara-perkara yang dapat menutup kekurangan, wahai Tuhan yang mengetahui yang tampak dan tersembunyi, wahai Tuhan yang tidak tersembunyi atas-Nya lintasan pikiran dan gerakan hati, wahai Tuhan yang mengatur seluruh makhluk dan ciptaan, wahai yang di tangan-Nya kerajaan semua bumi dan seluruh langit, Engkaulah Allah yang tidak ada Tuhan selain Engkau, matikankanlah (aku) kepada-Mu dengan lâ ilâha illallâh.

فَيَا لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ, اِجْعَلْنِي فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِمَّنْ نَظَرْتَ إِلَيْهِ فَرَحِمْتَهُ, وَ سَمِعْتَ دُعَائَهُ فَأَجَبْتَهُ, وَ عَلِمْتَ اسْتِقَالَتَهُ فَأَقَلْتَهُ, وَ تَجَاوَزْتَ عَنْ سَالِفِ خَطِيْئَتِهِ وَ عَظِيْمِ جَرِيْرَتِهِ, فَقَدِ اسْتَجَرْتُ بِكَ مِنْ ذُنُوْبِي, وَ لَجَأْتُ إِلَيْكَ فِي سِتْرِ عُيُوْبِي

Fayâ lâ ilâha illâ ant, ij‘alnî fî hâdzihil lailati mimman nazharta ilaihi farahimtah, wa sami‘ta du‘â`ahu fa`ajabtah, wa ‘alimtas tiqâlatahu fa`aqaltah, wa tajâwazta ‘an sâlifi khathî`atihi wa ‘azhîmi jarîratih, faqadis tajartu bika min dzunûbî, wa laja`tu ilaika fî sitri ‘uyûbî.
Wahai yang tidak ada Tuhan selain Engkau, jadikanlah aku pada malam ini di antara orang yang Engkau perhatikan lalu Engkau sayangi, yang Engkau dengarkan doanya lalu Engkau kabulkan, yang Engkau ketahui ketergelincirannya lalu Engkau memaafkan, dan yang Engkau ampuni kesalahannya yang telah lalu serta kejahatannya yang besar. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa-dosaku dan bernaung kepada-Mu dalam menutup segala celaku.

اللَّهُمَّ فَجُدْ عَلَيَّ بِكَرَمِكَ وَ فَضْلِكَ, وَ احْطُطْ خَطَايَايَ بِحِلْمِكَ وَ عَفْوِكَ, وَ تَغَمَّدْنِي فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ بِسَابِغِ كَرَامَتِكَ, وَ اجْعَلْنِي فِيْهَا مِنْ أَوْلِيَائِكَ الَّذِيْنَ اجْتَبَيْتَهُمْ لِطَاعَتِكَ, وَ اخْتَرْتَهُمْ لِعِبَادَتِكَ, وَ جَعَلْتَهُمْ خَالِصَتَكَ وَ صَفْوَتَكَ

Allâhumma fajud ‘alayya bikaramika wa fadhlik, wahthuth khathâyâya bihilmika wa ‘afwik, wa taghammadnî fî hâdzihil lailati bisâbighi karâmatik, waj‘alnî fîhâ min auliyâ`ik, alladzînan tajabtahum lithâ‘atik, wakhtartahum li‘ibâdatik, wa ja‘altahum khâlishataka wa shafwatak.
Ya Allah bermurahlah kepadaku dengan kemuliaan-Mu serta karunia-Mu, dan gugurkanlah segala kesalahanku dengan sabar dan maaf-Mu, curahkanlah kepadaku pada malam ini dengan keluasan kemuliaan-Mu, dan jadikanlah aku padanya di antara wali-wali-Mu yang Engkau pilih untuk taat serta mengabdi kepada-Mu dan Engkau jadikan aku orang yang ikhlas kepada-Mu.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ سَعِدَ جَدُّهُ, وَ تَوَفَّرَ مِنَ الْخَيْرَاتِ حَظُّهُ, وَ اجْعَلْنِي مِمَّنْ سَلِمَ فَنَعِمَ, وَ فَازَ فَغَنِمَ, وَ اكْفِنِي شَرَ مَا أَسْلَفْتُ, وَ اعْصِمْنِي مِنَ اْلإِزْدِيَادِ فِي مَعْصِيَتِكَ, وَ حَبِّبْ إِلَيَّ طَاعَتَكَ, وَ مَا يُقَرِّبُنِي لَدَيْكَ وَ مَا يُزْلِفُنِي عِنْدَكَ

Allâhummaj‘alnî mimman sa‘ida jadduh, wa tawaffara minal khairâti hazhzhuh, waj‘alnî mimman salima fana‘im, wakfinî syarra mâ aslaft, wa‘shimnî minal izdiyâdi fî ma‘shiyatik, wa habbib ilayya thâ‘atak, wamâ yuqarribunî ladaik, wamâ yuzlifunî ‘indak.
Ya Allah jadikanlah aku orang yang beruntung kemuliaannya dan mendapat kebaikan yang banyak, dan jadikan aku orang yang selamat lalu mendapatkan nikmat, yang beruntung lalu mendapat bagian yang besar, jagalah aku dari keburukan dosa yang telah kulakukan, dan jagalah aku dari bertambahnya kemaksiatan terhadap-Mu dan cintakanlah kepadaku ketaatan kepada-Mu dan kepada segala yang mendekatkan diriku kepada-Mu.

سَيِّدِي إِلَيْكَ يَا مَلْجَأَ الْهَارِبُ, وَ مِنْكَ يَلْتَمِسُ الطَّالِبُ, وَ عَلَى كَرَمِكَ يَعُوْلُ الْمُسْتَقِِيْلُ التَّائِبُ, أَدَّبْتَ عِبَادَكَ بِالتَّكَرُّمِ وَ أَنْتَ أَكْرَمُ اْلأَكْرَمِيْنَ, وَ أَمَرْتَ بِالْعَفْوِ عِبَادَكَ وَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Sayyidî ilaika yâ malja`al hârib, wa minka yaltamisuth thâlib, wa ‘alâ karamika ya‘ûlul mustaqîlut tâ`ib, addabta ‘ibâdaka bittakarrumi wa anta akramul akramîn, wa amarta bil‘afwi ‘ibâdaka wa antal ghafûrur rahîm.
Wahai Tuanku kepada-Mu tempat berlindung hamba yang lari, dan dari-Mu hamba yang menuntut dan mencari, dan dengan kemuliaan-Mu hamba yang salah dan bertobat merintih. Engkau tekah mendidik hamba-hamba-Mu dengan kemuliaan, dan Engkau yang maha mulia dari semua yang mulia, Engkau telah memerintahkan untuk memaafkan hamba-hamba-Mu, dan Engkau maha pengampun lagi maha penyayang.
 
اللَّهُمَّ فَلاَ تَحْرِمْنِي مَا رَجَوْتُ مِنْ كَرَمِكَ, وَ لاَ تُؤْيِسْنِي مِنْ سَابِغِ نِعَمِكَ, وَ لاَ تُخَيِّبْنِي مِنْ جَزِيْلِ قِسَمِكَ, فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ ِلأَهْلِ طَاعَتِكَ, وَ اجْعَلْنِي فِي جُنَّةٍ مِنْ شِرَارِ بَرِيَّتِكَ

Allâhumma falâ tahrimnî mâ rajautu min karamik, walâ tu`yisnî min sâbighi ni‘amik, walâ tukhayyibnî min jazîli qisamik, fî hâdzihil lailati li`ahli thâ‘atik, waj‘alnî fî junnatin min syirâri bariyyatik.
Ya Allah janganlah Engkau mencegahku dari harapan untuk menggapai kemuliaan, dan janganlah Engkau membuatku putus asa dari karunia-Mu yang melimpah, dan janganlah Engkau menghampakanku dari besarnya bagian-Mu pada malam ini bagi orang-orang yang taat kepada-Mu, dan jadikanlah aku berada dalam perlindungan dari kejahatan makhluk-Mu.

رَبِّ إِنْ لَمْ أَكُنْ منْ أَهْلِ ذَالِكَ فَأَنْتَ أَهْلُ الْكَرَمِ وَ الْعَفْوِ وَ الْمَغْفِرَةِ, وَ جُدْ عَلَيَّ بِمَا أَنْتَ أَهْلُهُ لاَ بِمَا أَسْتَحِقُّهُ, فَقَدْ حَسُنَ ظَنِّي بِكَ, وَ تَحَقَّقْ رَجَائِي لَكَ, وَ عَلَقَتْ نَفْسِي بِكَرَمِكَ, وَ أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَ أَكْرَمُ اْلأَكْرَمِيْنَ. اللَّهُمَّ اخُصُصْنِي مِنْ كَرَمِكَ بِجَزِيْلِ قِسَمِكَ, وَ أَعُوذُ بِعَفْوِكَ

Rabbi in lam akun min ahli dzâlika fa`anta ahlul karami wal‘afwi wal maghfirah, wa jud ‘alayya bimâ anta ahluhu lâ bimâ astahiqquh, faqad hasuna zhannî bik, wa tahaqqaq rajâ`î lak, wa ‘alaqat nafsî bikaramik, wa anta arhamur râhimîna wa akramul akramîn. Allâhummakhshushnî min karamika bijazîli qisamik, wa a‘ûdzu bi‘afwik.
Wahai Tuhanku apabila aku bukan ahlinya untuk mendapatkan hal itu, maka Engkaulah ahli kemuliaan, ahli memaafkan dan memberi pengampunan, dan bermurahlah kepadaku dengan apa yang Engkau adalah ahlinya, tidak dengan apa yang aku berhak kepadanya. Sesungguhnya sangkaanku baik kepada-Mu dan wujudkanlah harapanku kepada-Mu sedang diriku bergantung kepada kenuliaan-Mu, dan Engkau maha pengasih dari semua yang mengasihi, dan maha mulia dari semua yang mulia. Ya Allah tentukanlah aku dengan kemuliaan-Mu, dengan bagian yang besar dari-Mu, dan aku berlindung kepada maaf-Mu.
Apabila telah selesai berdoa, lalu sujud dan ucapkanlah 20 kali: Yâ rabbi, 7 kali: Yâ  muhammad, 10 kali: Lâ  haula walâ  quwwata illâ billâh, 10 kali: Mâ syâ`allâh, 10 kali: Lâ quwwata illâ billâh. Kemudian bacalah shalawât bagi Nabi Muhammad saw dan keluarganya, dan mintalah kebutuhan kamu kepada Allah, maka demi Allah, kalaulah kamu meminta sebanyak tetesan air hujan dengan cara seperti itu, dengan karunia-Nya dan kemulian-Nya, niscaya Allah menyampaikan kamu kepada apa yang kamu inginkan dengan kemuliaan-Nya dan karunia-Nya." 


2. Shalat Empat Raka‘at
Shalat malam Nishfu Sya‘bân empat raka‘at, pada setiap raka‘atnya membaca
Al-Fâtihah dan sûrah Qul Huwallâhu Ahad seratus kali. Setelah shalat berdoa dengan doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي إِلَيْكَ فَقِيْرٌ, وَ إِنِّي عَائِذٌ بِكَ وَ مِنْكَ خَائِفٌ, وَ بِكَ مُسْتَجِيْرٌ, رَبِّ لاَ تُبَدِّلِ اسْمِي وَ لاَ تُغَيِّرْ جِسْمِي, رَبِّ لاَ تُجْهِدْ بَلاَئِي وَ لاَ تُشْمِتْ بِي أَعْدَائِي, أَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ, وَ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ, وَ أَعُوذُ بِرَحْمَتِكَ مِنْ عَذَابِكَ, وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْكَ, جَلَّ ثَنَائُكَ, أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ وَ فَوْقَ مَا يَقُوْلُ الْقَائِلُوْنَ
Allâhumma innî ilaika faqîr, wa innî ‘â`idzun bika wa minka khâ`if, wa bika mustajîr, rabbi lâ tubaddilismî, walâ tughayyir jismî, rabbi lâ tujhid balâ`î, walâ tusymit bî a‘dâ`î, a‘ûdzu bi‘afwika min ‘iqâbik, wa a‘ûdzu biridhâka min sakhathik, wa a‘ûdzu birahmatika min ‘adzâbik, wa a‘ûdzu bika mik, jalla tsanâ`uk, anta kamâ atsnaita ‘alâ nafsika wa fauqa mâ yaqûlul qâ`ilûn.
Ya Allah sungguh aku butuh kepada-Mu dan sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan takut kepada-Mu dan dengan-Mu aku berlindung. Wahai Tuhanku, janganlah Engkau ganti namaku (dari berîmân menjadi kufur) dan janganlah Engkau ubah tubuhku. Wahai Tuhanku, janganlah Engkau beratkan cobaanku dan janganlah Engkau gembirakan musuh-musuhku denganku. Aku berlindung kepada maaf-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung kepada rela-Mu dari murka-Mu, aku berlindung kepada kasih-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Mulialah pujian-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau puji diri-Mu dan di atas apa yang mereka ucapkan.

Catatan
Untuk perempuan disesuaikan, maka kata-kata faqîr, ‘â`idzun, khâ`if, dan mustajîr menjadi faqîrah, ‘â`idzatun, khâ`ifah, dan mustajîrah.

3. Shalat Seratus Raka‘at dan Dzikirnya
Malam Nishfu Sya‘bân diisi dengan amal-amal ritual seperti shalat seratus raka‘at, shalat tasbîh, dzikir, istighfâr, membaca Al-Quran dan doa.

Jabra`îl (Jibril) as telah berkata kepada Rasûlullâh saw mengenai keutamaan (fadhîlah) malam Nishfu Sya‘bân, "Wahai Muhammad, siapa yang menghidupkannya dengan takbîr, tahlîl, tasbîh, shalawât, membaca Al-Quran, shalat sunnah dan istighfâr adalah surga tempat tinggalnya dan Allah ampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang terakhir. Wahai Muhammad, siapa yang mendirikan shalat padanya sebanyak seratus raka‘at dan dia baca pada setiap raka‘atnya Al-Fâtihah satu kali dan Qul Huwallâhu Ahad sepuluh kali, kemudian setelah shalat dia membaca Ayat Kursi sepuluh kali, Al-Fâtihah sepuluh kali dan tasbîh seratus kali, niscaya Allah ampuni seratus macam dosa besar–-dia menyebutkan pahala yang besar–-maka hidupkanlah malam itu wahai Muhammad, dan perintahlah ummatmu untuk menghidupkannya serta mendekatkan diri (kepada Allah) dengan beramal padanya, sebab ia adalah malam yang mulia, ia adalah malam yang tidak berdoa seorang pendoa padanya melainkan dikabulkan doanya, tidak meminta seorang peminta padanya melainkan dia diberi, tidak beristighfâr seorang peminta ampun padanya melainkan dia diampuni dan tidak bertobat seorang yang bertobat padanya melainkan diterima tobatnya." 

4. Shalat Tasbîh, Dzikir, Istighfâr dan Doa
Imam ‘Ali Al-Ridhâ as ditanya tentang malam Nishfu Sya‘bân, beliau berkata, "Ia adalah malam yang Allah bebaskan padanya leher-leher dari api neraka, dan Dia ampuni padanya dosa-dosa yang besar." Beliau ditanya lagi: Apakah padanya ada shalat khusus sebagai tambahan atas shalat pada seluruh malam? Beliau menjawab, "Tidak ada sesuatu yang ditentukan padanya, namun apabila kamu ingin melakukan shalat sunnah, maka lakukanlah shalat Ja‘far bin Abî Thâlib (shalat tasbîh), perbanyaklah padanya dzikir kepada Allah, istighfâr dan doa." 

Bulan Sya‘bân adalah bulan yang disandarkan kepada Rasûlullâh saw, karena beliau telah mengatakan bahwa bulan Sya‘bân itu adalah bulannya. Sya‘bân bermakna cabang, karena orang beramal pada bulan ini, pahalanya bercabang-cabang atau dilipat-gandakan.
Rasûlullâh saw telah berkata, "Sya‘bân adalah bulanku, siapa yang puasa satu hari di bulanku wajib baginya surga."   

Abû ‘Abdillâh as berkata: Ayahku mengatakan: Adalah ayahku Zainul ‘Âbidîn apabila telah memasuki Sya‘bân, dia kumpulkan sahabat-sahabatnya, lalu dia berkata kepada mereka, "Wahai sahabat-sahabatku, tahukah kalian bulan apa ini? Ini bulan Sya‘bân dan adalah Nabi saw berkata, 'Sya‘bân adalah bulanku, maka puasalah kalian di bulan ini karena kecintaan kepada Nabi kalian dan karena mendekatkan diri kepada Tuhan kalian.' Aku bersumpah dengan Tuhan yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku telah mendengar ayahku Husain mengatakan. 'Aku mendengar Amîrul Mu`minîn berkata, 'Siapa yang berpuasa pada bulan Sya‘bân karena kecintaan kepada Rasûlullâh saw dan karena taqarrub kepada Allah, niscaya Allah mencintainya dan mendekatkannya kepada kemulian-Nya pada hari kiamat dan Dia wajibkan surga untuknya."   

Imam Ja‘far Al-Shâdiq berkata, "Adalah Rasûlullâh saw pada malam nishfu Sya‘bân di di sisi ‘Âisyah, tatkala waktu tengah malam, Rasûlullâh saw bangun meninggalkan tempat tidurnya. Ketika ‘Âisyah bangun dia kehilangan Rasûlullâh saw dari tempat tidurnya, kemudian dia mencari Rasûlullâh saw, lalu masuk kepadanya rasa cemburu yang biasanya masuk kepada (sebagian) kaum wanita, dia mengira bahwa Rasûlullâh ada pada sebagian istrinya lalu dia mencari-cari Nabi saw di kamar istri-itrinya yang lain, kemudian dia melihat Rasûlullâh saw sedang sujud seperti sehelai kain yang teronggok di atas tanah, lalu dia menghampirinya dan mendengarnya mengucapkan kalimat berikut di dalam sujudnya:

سَجَدَ لَكَ سَوَادِي وَ خَيَالِي, وَ آمَنَ بِكَ فُؤَادِي, هَذِهِ يَدَايَ وَ مَا جَنَيْتُهُ عَلَى نَفْسِي يَا عَظِيْمُ تُرْجَى لِكُلِّ عَظِيْمٍ, اِغْفِرْ لِيَ الْعَظِيْمَ, فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيْمَ إلاَّ الرَّبُّ الْعَظِيْمُ

Sajada saqwâdî wa khayâlî, wa ãmana bika fu`âdî, hâdzihi yadâya wamâ janaituhu ‘alâ nafsî, yâ ‘azhîmu turjâ likulli ‘azhîm, ighfir liyal ‘azhîm, fainnahu lâ yaghfirudz dzanbal ‘azhîma illar rabbul ‘azhîm.
Sujud kepada-Mu seluruh tubuhku dan pikiranku, dan telah berîmân kepada-Mu hatiku. Inilah kedua tanganku dan keburukan yang telah aku lakukan atas diriku wahai Tuhan yang maha agung yang diharapkan untuk setiap (dosa) yang besar, ampunilah dosaku yang besar, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa yang besar selain Tuhan yang maha besar.

Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan sujud yang kedua kalinya dan ‘Âisyah mendengarnya mengucapkan:

أَعُوذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِي أَضَائَتْ لَهُ السَّمَاوَاتُ وَ اْلأَرَضُوْنَ, وَ انْكَشَفَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ, وَ صَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ اْلأَوَّلِيْنَ وَ اْلآخِرِيْنَ مِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ, وَ مِنْ تَحْوِيْلِ عَافِيَتِكَ, وَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي قَلْباً تَقِيًّا نَقِيًّا, وَ مِنَ الشِّرْكِ بَرِيْئًا, لاَ كَافِرًا وَ لاَ شَقِيًّا

A‘ûdzu binûri wajhikal ladzî adhâ`at lahus samâwâtu wal aradhûn, wankasyafat lahuzh zhulumât, wa shaluha ‘alaihi amrul awwalîna wal ãkhirîna min fujâ`ati niqmatik, wamin tahwîli ‘âfiyatik, wamin zawâli ni‘matik. Allâhummarzuqnî qalban naqiyyâ, waminasy syirki barî`â, lâ kâfiran walâ syaqiyyâ.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang karenanya bersinar seluruh langit dan bumi, dan karenanya tersingkap segala kegelapan, dan karenanya menjadi beres segala urusan ummat terdahulu dan terakhir dari kedatangan siksa-Mu, dan perpalingan afiat-Mu dan dari hilangnya kenikmatan-Mu. Ya Allah berilah aku karunia berupa hati yang bertaqwâ lagi suci dan terbebas dari syirik, tidak kafir dan tidak pula celaka.

Kemudian beliau menempelkan kedua pipinya ke tanah dan berkata:

عَفَّرْتُ وَجْهِي فِي التُّرَابِ, وَ حُقَّ لِي أَنْ اَسْجُدَ لَكَ

‘Affartu wajhî fit turâb, wa huqqa lî an asjuda lak.
Kuletakkan wajahku di tanah dan benarkan bagiku bahwa aku sujud kepada-Mu.

Ketika Rasûlullâh saw berpaling, dia berlari menuju tempat tidurnya dan Nabi saw mendatangi tempat tidur tersebut, beliau mendengar nafasnya tinggi, lalu beliau bertanya kepadanya, 'Tahukah kamu malam apa ini? Ini malam Nishfu Sya‘bân, padanya dibagikan rezeki, padanya dituliskan ajal dan padanya dituliskan para utusan haji. Dan sesungguhnya Allah ta‘âlâ pada malam ini mengampuni makhluk-Nya lebih banyak dari jumlah bulu seekor anjing dan Allah turunkan malaikat-Nya dari langit ke bumi di Makkah.'" 

5. Doa Rasûlullâh saw pada Nishfu Sya‘bân
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولَ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعْصِيَتِكَ, وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ رِضْوَانَكَ, وَ مِنَ الْيَقِيْنِ مَا يَهُوْنُ عَلَيْنَا بِهِ مُصِيْبَاتُ الدُّنْيَا. اللَّهُمَّ أَمْتِعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَ أَبْصَارِنَا وَ قُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا, وَ اجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا, وَ اجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا, وَ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا, وَ لاَ تَجْعَل مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا, وَ لاَ تَجْعَلِ الدُّنيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا, وَ لاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا, وَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا, بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allâhummaqsim lanâ min khasy-yatika mâ yahûlu bainanâ wa baina ma‘shiyatik, wa min thâ‘atika mâ tuballighunâ bihi ridhwânak, wa minal yaqîni mâ yahûnu ‘alainâ bihi mushîbâtud dun-yâ. Allâhumma amti‘nâ bi asmâ‘inâ wa abshârinâ wa quwwatinâ mâ ahyaitanâ, waj‘alhul wâritsa minnâ, waj‘al tsa`ranâ ‘alâ man zhalamanâ, wanshurnâ ‘alâ man ‘âdânâ, wa lâ taj‘al mushîbatanâ fî dîninâ, walâ taj‘alid dun-yâ akbara hamminâ, walâ mablagha ‘ilminâ, walâ tusallith ‘alainâ man lâ yarhamunâ, birahmatika yâ arhamar râhimîn.
Ya Allah bagikan kepada kami dari rasa takut terhadap-Mu yang dapat menghalangi diri-diri kami dari berbuat maksiat kepada-Mu, berikanlah kepada kami dari ketaatan kepada-Mu yang dengannya Engkau sampaikan kami kepada rido-Mu dan berikanlah kepada kami dari keyakinan yang dengannya akan terasa ringan beban-beban musibah dunia kami. Ya Allah karuniakanlah kepada kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selama Engkau hidupkan kami, dan jadikanlah hal itu sebagai amal yang mengalir (setelah kami meninggal), jadikanlah pembalasan kami atas orang-orang yang zalim kepada kami dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada ajaran kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebesar-besar hasrat kami dan menjadi puncak sasaran dari ilmu pengetahuan kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak sayang kepada kami, dengan kasih-Mu wahai yang maha pengasih dari semua yang mengasihi.   

6. Membaca Doa Kumail
Dan pada malam Nishfu Sya‘bân dianjurkan membaca doa Kumail dan doa-doa yang lainnya, dan tentang doa Kumail ra, lihatlah bab doa-doa malam Jumat.

Wed, 16 Apr 2014 @06:16


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved