Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Pengantar Shalat Nabi

Kata Pengantar Shalat Nabi Versi Ahlulbaitnya

Segala puji bagi Allah yang tidak akan sampai kepada pujian-Nya orang-orang yang bersungguh-sungguh memuji-Nya, yang tidak akan dapat menghitung nikmat-karunia-Nya orang-orang yang bersungguh-sungguh menghitungnya, dan yang tidak dapat menunaikan hak-hak-Nya orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam menunaikan hak-hak-Nya. Dia yang tidak tersentuh oleh jauhnya pemikiran, dan yang tidak terjangkau oleh dalamnya kecerdasan. Dia yang bagi sifat-Nya tidak ada batasan yang dibataskan, tidak ada pensifatan yang diadakan, tidak ada waktu yang ditentukan dan tidak ada masa yang ditetapkan. Dia yang menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, yang meniupkan angin dengan kasih-Nya, dan yang memasak medan-medan bumi dengan gunung-gunung-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia sendiri tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, curahkanlah shalawât atas Muhammad dan Ahlulbaitnya yang suci. Adapun kemudian.

Dalam Al-Quran yang mulia, lebih dari sepuluh kali perintah mendirikan shalat dalam bentuk jamak, dan salah satunya firman Allah berikut:

وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ أَطِيْعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Rasûl supaya kamu diberi rahmat.    

Imam Abû Muhammad Hasan Al-‘Askari as menjelaskan bahwa kalimat aqîmush shalâh (dirikanlah olehmu shalat ) itu dengan menyempurnakan wudhunya, takbîr-takbîrnya, cara berdirinya, bacaannya, ruku‘nya, sujudnya dan batasan-batasannya.  

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa mendirikan shalat merupakan ibadah ritual yang maha penting dalam ajaran Islam yang suci hingga Rasûlullâh saw mengatakan bahwa pada hari kiamat, ibadah ritual yang pertama-tama diperhitungkan dari seorang hamba adalah shalatnya, jika shalatnya benar, maka berarti benar pula seluruh amalnya, tetapi apabila shalatnya tidak benar, maka tidak benar pula semua amalnya.

عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ إِنَّ عَمُودَ الدِّينِ الصَّلاَةُ وَ هِيَ أَوَّلُ مَا يُنْظَرُ فِيهِ مِنْ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ فَإِنْ صَحَّتْ نُظِرَ فِي عَمَلِهِ وَ إِنْ لَمْ تَصِحَّ لَمْ يُنْظَرْ فِي بَقِيَّةِ عَمَلِهِ

Dari ‘Ali as berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya tiang ajaran (Islam) itu shalat, dan ia yang pertama-tama dilihat (diperhitungkan) padanya dari amal anak Ãdam (manusia) maka apabila ia sah, niscaya dilihat amal yang lainnya, dan bila ia tidak sah, maka tidak dilihat amal yang lainnya.”   

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ مَثَلُ الصَّلاَةِ مَثَلُ عَمُودِ الْفُسْطَاطِ إِذَا ثَبَتَ الْعَمُودُ نَفَعَتِ الأَطْنَابُ وَ الأَوْتَادُ وَ الْغِشَاءُ وَ إِذَا انْكَسَرَ لَمْ يَنْفَعْ طُنُبٌ وَ لاَ وَتِدٌ وَ لاَ غِشَاءٌ

Dari ‘Ubaid bin Zurârah dari Abû ‘Abdillâh as berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Perumpamaan shalat adalah perumpamaan tenda, apabila tiangnya tegak, niscaya berguna tali, pasak dan kain penutupnya, dan apabila tiangnya pecah, tentu tidak akan berguna tali, pasak dan kain penutupnya."  

عَنْ أَبِي بَصِيْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلاَةُ فَإِنْ قُبِلَتْ قُبِلَ مَا سِوَاهَا وَ إِنَّ الصَّلاَةَ إِذَا ارْتَفَعَتْ فِي وَقْتِهَا رَجَعَتْ إِلَى صَاحِبِهَا وَ هِيَ بَيْضَاءُ مُشْرِقَةٌ تَقُولُ حَفِظْتَنِي حَفِظَكَ اللهُ وَ إِذَا ارْتَفَعَتْ فِي غَيْرِ وَقْتِهَا بِغَيْرِ حُدُودِهَا رَجَعَتْ إِلَى صَاحِبِهَا وَ هِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ تَقُولُ ضَيَّعْتَنِي ضَيَّعَكَ اللهُ

Dari Abû Bashîr berkata: Aku telah mendengar Abû Ja‘far as telah mengatakan, "Sesungguhnya yang pertama-tama hamba dihisab (diperhitungkan) dengannya adalah shalat, apabila shalatnya diterima, niscaya diterima pula amal-amal yang lainnya, dan sesungguhnya shalat itu apabila terangkat dalam waktunya, ia akan kembali ke pelakunya dalam keadaan putih bersinar seraya ia berkata, 'Kamu telah menjagaku, semoga Allah menjagamu.' Dan apabila ia terangkat bukan pada waktunya dengan tidak sempurna batasan-batasannya, ia kembali kepada pelakunya dalam keadaan hitam lagi gelap seraya berkata, 'Kamu telah mengabaikanku, semoga Allah mengabaikanmu.'"  

قَالَ الصَّادِقُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ عَلَى الصَّلاَةِ فَإِذَا قُبِلَتْ قُبِلَ مِنْهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَ إِذَا رُدَّتْ عَلَيْهِ رُدَّ عَلَيْهِ سَائِرُ عَمَلِهِ

Imam Ja'far Al-Shâdiq as berkata, “Yang pertama-tama yang akan dihisab (diperhitungkan) hamba dengannya adalah shalat, apabila ia diterima, maka diterima darinya seluruh amalnya, dan apabila ia ditolak atasnya, niscaya ditolak atasnya seluruh amalnya.”   

Dalam Al-Quran yang mulia, shalat yang benar itu adalah shalat yang mempunyai pengaruh kepada jiwa sehingga kita tidak melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan, sebab shalat itu telah mencegahnya dari perbuatan dosa dan durhaka. Allah yang maha tinggi berfirman:

اُتْلُ مَا أُوْحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ, إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ, وَ لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ, وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al-Kitâb dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh mengingat Allah itu (shalat) lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.  


عَنِ النَّبِيِّ ص أَنَّهُ قَالَ مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا

Dari Nabi saw bahwa dia telah berkata, “Siapa yang tidak dapat dicegah oleh shalatnya dari perbuatan keji dan mungkar (dari segala keburukan), niscaya dia tidak bertambah dari Allah selain bertambah jauh (dari rahmat-Nya).”   

Tentu saja shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar itu adalah shalat yang benar baik secara lahiriahnya (kaifiyah zhâhiriyyah ) maupun secara batiniahnya (kaifiyah bâthiniyyah ). Dan shalat itu hakikatnya rasûl atau utusan kita kepada Allah ‘azza wa jalla, karena itu shalat mempunyai hak-haknya yang mesti kita tunaikan dengan baik.

قَالَ الإِمَامُ عَلِيٌّ زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَأَمَّا حَقُّ الصَّلاَةِ فَأَنْ تَعْلَمَ أَنَّهَا وِفَادَةٌ إِلَى اللهِ وَ أَنَّكَ قَائِمٌ بِهَا بَيْنَ يَدَي اللهِ, فَإِذَا عَلِمْتَ ذَلِكَ كُنْتَ خَلِيْقًا أَنْ تَقُومَ فِيْهَا مَقَامَ الذَّلِيْلِ الرَّاغِبِ الرَّاهِبِ الْخَائِفِ الرَّاجِي الْمِسْكِيْنِ الْمُتَضَرِّعِ الْمُعَظِّمِ مَنْ قَامَ بَيْنَ يَدَيْهِ بِالسُّكُونِ وَ الإِطْرَاقِ وَ خُشُوعِ الأَطْرَافِ وَ لِيْنِ الْجَنَاحِ وَ حُسْنِ الْمُنَاجَاةِ لَهُ فِي نَفْسِهِ وَ الطَّلَبِ إِلَيْهِ فِي فَكَاكِ رَقَبَتِكَ الَّتِي أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيْئَتُكَ وَ اسْتَهْلَكَتْهَا ذُنُوبُكَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Imam ‘Ali Zainul ‘Âbidîn as berkata, “Adapun hak shalat, maka kamu harus tahu bahwa shalat itu merupakan utusanmu kepada Allah, dan dengannya kamu berdiri di hadapan-Nya, dan jika kamu telah memahami hal itu, maka kamu hanyalah seorang makhluk yang seharusnya berdiri padanya (pada shalat itu) dengan rendah diri, punya keinginan, merasa risi, merasa takut, punya harapan, merasa hina dan merendah diri dengan meng-khusyû‘-kan seluruh anggota badan. Baguskanlah dalam melaksanakan gerakannya dan dalam bermunajat dengan-Nya dengan memohon kepada-Nya agar Dia membebaskan dirimu dari api neraka, karena kesalahanmu telah banyak dan dosa-dosamu pun mencelakakan dirimu. Tidak ada kekuatan selain dengan Allah.”  

Shalat kita yang benar itu adalah shalat yang lengkap, yaitu persyaratan lahiriah dan batiniahnya terpadu tidak terpisahkan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasûlullâh saw, karena memang kita diperintah beliau untuk mendirikan shalat sebagaimana yang beliau amalkan.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي

Rasûlullâh saw berkata, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat (atau mengetahui bagaimana) aku shalat.”  

Buku-buku yang menjelaskan sifat shalat Rasûlullâh saw itu mungkin saja jauh dari sifat shalat beliau saw yang sebenarnya, semuanya hanya berusaha untuk menjelaskan menurut pemahaman masing-masing termasuk buku Shalat Nabi saw versi Ahlulbaitnya ini, namun mudah-mudahan buku ini tidak terlalu jauh dari shalat Rasûlullâh saw yang sesungguhnya serta tidak terlalu banyak bid'ah- nya, dengan kata lain lebih mendekati yang benar, dan shalat Rasûlullâh yang sebenarnya—insyâ Allâh —pada zaman Al-Imâm Al-Mahdi as akan jelas, karena beliau itu hujjah -Nya atas hamba-hamba-Nya.

Buku ini didasarkan kepada dalil-dalil yang menurut penyusun sedikit lebih terpandang, karena selain terdapat dalam dalil-dalil umum, juga didasarkan kepada periwayatan Ahlulbait Rasûlullâh saw yang suci yang diriwayatkan oleh para perawi yang mengambil paham dari mereka meski para perawi itu tidak dijamin kesuciannya.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنِّي مَقْبُوْضٌ وَ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ, يَعْنِي كِتَابَ اللهِ وَ أَهْلَ بَيْتِي, وَ إِنَّكُمْ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا

Dari ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Sesungguhnya aku akan wafat dan sesungguhnya aku telah meninggalkan padamu al-tsaqalain (dua pusaka yang sangat berharga), yakni Kitab Allah (Al-Quran) dan Ahlulbaitku, dan sesungguhnya kamu tidak akan tersesat setelahnya.”  

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنِّي خَلَفْتُ فِيْكُمُ اثْنَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا أَبَدًا, كِتَابَ اللهِ وَنَسَبِي, وَ لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Abû Hurairah berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kamu dua hal yang kamu tidak akan tersesat setelah keduanya untuk selama-lamanya, Kitab Allah dan nasabku (Ahlulbait), dan keduanya tidak akan berpisah hingga mereka datang kepadaku di telaga."    

Mudah-mudahan Allah 'azza wa jalla mengampuni segala dosa serta salah kita dan khususnya dosa shalat kita yang salah yang tidak membuahkan amal yang saleh.

 

Wed, 2 Apr 2014 @22:04


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved