Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Orang Gila dalam Perspektif Islam

Imâm Muhammad Al-Bâqir as berkata, "Ketika Allâh 'azza wa jalla menciptakan akal, Dia berfirman kepadanya, Menghadaplah kamu!. Lantas akal itu menghadap. Dia berfirman lagi, Berbaliklah kamu!. lalu akal itu berbalik. Dia berfirman, Demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Aku cintai selain darimu dan Aku tidak sempurnakan kamu, selain pada makhluk yang Aku cinta, kepadamu Aku perintah, kepadamu Aku melarang, kepadamu Aku memberi pahala dan kepadamu Aku memberi siksa. " [1]

Imâm 'Ali bin Abî Thâlib as berkata, "Jibril as telah turun kepada Âdam as, kemudian dia berkata kepadanya, 'Wahai Âdam, Allâh telah perintahku untuk memberikan pilihan kepadamu salah salah satu dari yang tiga, maka pilihlah olehmu salah satunya.' Âdam as bertanya, 'Apa yang tiga itu ya Jibril?' Jibrîl berkata, 'Akal, malu dan ajaran.' Âdam berkata, 'Aku pilih akal.' Kemudian Jibrîl berkata kepada malu dan ajaran, 'Pergilah kamu berdua dan tinggalkan dia.' Mereka berdua berkata, 'Ya Jibrîl, kami telah diperintah untuk tetap bersama akal di mana pun dia berada.' Jibril berkata, 'Itu urusan kamu berdua.' Kemudian Jibril pergi.'" [2]

Tentang kehebatan dan kesucian akal Rasûlullâh saw bersabda, "Innamâ yudrakul khairu kulluhu bil 'aqli, walâ dîna liman lâ 'aqla lahu." (Kebaikan seluruhnya hanya bias dicapai dengan akal, dan tidak beragama bagi orang yang tidak ada akal baginya )." [3]

Akal Sebagai Imâm Tertinggi

Pikiran dan hati manusia yang labil sering kali membawa manusia kepada ketersesatan dan menyimpang dari jalan yang lurus. Agar kita tidak pemikir yang tergelincir, ahli filsafat yang tersesat atau sufi yang emosional dalam mengabdi, maka pikiran dan hati itu dipimpin oleh akal. Imâm 'Ali as berkata, "Akal-akal itu adalah Imâm-Imâm bagi pikiran-pikiran, pikiran-pikiran itu Imâm-Imâm bagi hati-hati dan hati-hati itu Imâm-Imâm bagi indera dan indera Imâm bagi seluruh anggota." [4]

Makhluk Ruhani

Akal adalah makhluk ruhani yang pertama-tama Allâh 'azza wa jalla ciptakan dari cahaya-Nya, sebagaomana yang dikatakan Imâm Ja'far Al-Shâdiq as, "Innallâha jalla tsanâuhu khalaqal 'aqla wa huwa awwalu khalqin khalaqahu minar rûhâniyyîna 'an yamînil 'arsyi min nûrihi." (Sesungguhnya Allâh Maha Agung Puji-Nya telah menciptakan akal dan dia itu makhluk pertama yang Dia ciptakan dari kalangan makhluk ruhani dari sebelah kanan 'Arsy dari cahaya-Nya ).[5]

Hujjah Allâh

Imâm Hasan Al-'Askarî as berkata, "Inna lillâhi 'alan nâsi hujjatayni, hujjatan zhâhiratan wa hujjatan bâthinatan. Fa-ammazh zhâhiratu far rusulu wal anbiyâu wal aimmatu, wa ammal bâthinatu fal 'uqûl." (Sesungguhnya Allâh punya dua macam hujjah atas manusia, hujjah yang kelihatan dan hujjah yang tersembunyai. Adapun hujjah yang kelihatan adalah para Rasûl, para nabi dan para Imâm, dan adapun hujjah yang tersembunyai adalah akal ). [6]

Pada manusia ada akal, hawa dan nafs (jiwa). Jika manusia ini akan diperebutkan oleh dua kekuatan: kekuatan akal dan kekuatan hawa. Adalah keinginan yang selalu menyimpang dari kebenaran.

Fungsi Akal

Akal itu berti pengekang atau pengikat, maka dia berfungsi untuk mengekang dan mengikat. Apa yang mesti diikat oleh akal itu? Rasûlullâh saw telah bersabda dalam jawabannya kepada Syam'ûn bin Lawi bin Yahuda – salah seorang dari hawârî 'Isâ as. tantang fungsi akal, "Sesungguhnya akal itu adalah tali yang yang harus mengikat kebodohan dan jiwa. Kebodohan itu semisal binatang yang paling susah diurus, jika dia tidak diikat, maka dia akan tersesat." [7]

Yang dimaksudkan dengan kebodohan di sini dalam sabda Nabi saw diatas adalah potensi manusia untuk berbuat makar kepada Allâh. Pada hakikatnya manusia yang melakukan keburukan itu adalah manusia yang bodoh. Firman Allâh 'azza wa jalla, "Ketahulilah mereka itulah yang bodoh, namun mereka tidak tahu." [8] Dan firman-Nya,"Ketahuilah mereka itu orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." [9]

Imâm 'Alî bin Abî Thâlib as berkata, "Akal itu adalah makhluk yang mempunyai pasukan Allâh Yang Maha Pemurah sedangkan hawa itu pemimpin tentara setan. Dan nafs ditarik-tarik diantara keduanya, yang mana saja dari keduan kekuatan itu yang menang, maka nafs akan berada di pihaknya." [10]

Orang Gila (Majnûn)

Orang yang tidak berakal itu ada dua macam; (1) Orang yang tidak berakal karena memang dia tidak mempunyai akal (ruh akalnya tidak ada). Orang semacam itu jangan kita juluki sebagai 'orang gila', kita mesti menyebutnya orang yang terkena musibah (mushâb ). (2) Orang yang tidak berakal karena dia tidak mau menggunakan akalnya yang ada pada dirinya. Orang semacam inilah yang disebut oleh Rasûlullâh Saw sebagai orang gila.

Suatu hari ada orang tidak normal yang lewat ke hadapan Nabi saw, lalu di antara sahabat Nabi ada yang menyebutnya majnûn (gila). Rasûl berkata, "Jangan kamu katakan dia majnûn, tetapi katakanlah dia itu mushâb (orang yang terkena musibah). Orang gila itu hanyalah orang yang mengutamakan dunia di atas akhirat." [11]

Dalam riwayat yang lain beliau bilang, "Sesungguhnya orang gila itu adalah hamba (manusia) baik laki-laki atau perempuan yang menghabiskan masa mudanya dalam ketidaktaatan kepada Allâh." [12]

Dalam riwayat yang lain beliau berkata, "Ini bukan orang gila, maukah kukabarkan kepadamu orang gila yang sebenarnya? Orang yang sombong dalam berjalannya, yang memandang dengan kedua sudut matanya dan yang menggerak-gerakkan kedua lambungnya dengan kedua bahunya, maka itulah orang gila sedangkan ini orang yang kena bala." [13]

          Orang yang mengutamakan dunia di atas akhirat disebut majnûn atau orang gila, dikarenakan dia tidak menggunakan akal. Coba kita pikirkan, dunia yang fana, yang akan binasa dan yang akan kita tinggalkan ini, mengapa harus diutamakan atas akhirat yang kekal abadi yang di sana manusia akan hidup untuk selama-lamanya; apakah sengsara dan menderita ataukah senang dan bahagia. Orang yang tidak taat pada Allâh juga merupakan bagian dari orang yang mengutamakan dunia di atas akhirat, dan termasuk orang gila juga. Dan sabdanya, "Sesungguhnya orang yang berakal itu adalah orang yang patuh kepada Allâh walaupun buta penglihatannya dan rendah status sosialnya. Dan orang jahil (gila) itu adalah orang yang tidak patuh kepada Allâh walaupun tampan dan kaya." [14]

Ada seorang kristen dari Najrân datang ke Madinah, menurut sebagian sahabat Nabi dia itu orang yang mempunyai kewibaan dan kehebatan hingga mereka mengatakan kepada Nabi saw, "Alangkah berakal itu orang keristen ini." Kemudian Nabi menyalahkan orang-orang yang mengatakan kalimat pujian ini seraya bersabda, "Diamlah kalian! Sesungguhnya orang yang berakal itu adalah orang yang mentauhidkan Allâh." [15]

Imâm 'Alî bin Abî Thâlib as berkata, "Orang yang berakal itu adalah orang yang menjauhi dosa-dosa dan membersihkan cela-cela." [16] Mungkin kita ini juga belum dikatakan sebagai manusia yang berakal, kecuali apabila klita benar-benar taat kepada Allâh 'azza wa jalla, mentauhidkan-Nya, menjauhi segala dosa, membersihkan akhlak tercela dan tidak mengutamakan dunia di atas akhirat.

Riyâdhah

Riyâdhah adalah melatih taslîm (penyerahan) ruh agar mencapai kesempurnaan akal (kamâlul 'aql ). Di bawah ini ada beberapa sulûk (jalan ruhani yang mesti ditempuh) dari Rasûlullâh saw dan Ahlibaitnya bila kita ingin mencapai kemuliaan yang tinggi, mendapat sebutan yang baik dan menjadi manusia termulia pada zaman ini.

Rasûlullâh saw bersabda bahwa dengan sepuluh sifat berikut dapat dikenal seseorang sebagai orang yang berakal: (1) Bersikap toleran dan santun terhadap orang yang berlaku jahil kepadanya, (2) memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya, (3) merendah kepada orang yang berada di bawahnya, (4) berusaha menyusul orang yang berada di atasnya dalam hal mencari kebaikan, (5) apabila dia hendak berbicara berpikir dulu, (6) jika perkataan itu mengandung keburukan dia diam hingga dia selamat, (7) bila datang fitnah kepadanya dia berpegang kepada Allâh dan dia tahan tangan serta lidahnya, (8) apabila dia melihat keutamaan, dia berusaha untuk memperolehnya, (9) sifat malunya tidak terpisah darinya dan (10) tidak tampak darinya sifat rakus. [17]

Dari sejumlah perkataan Imâm 'Ali as bahwa ciri-ciri orang yang berakal itu ialah orang yang mampu mengambil pelajaran dari pengalaman; menjaga urusannya (dengan baik); ucapannya dibenarkan oleh perbuatannya; mengikat lidahnya (tidak sembarang bicara); berlaku zuhud dari hal-hal yang disenangi orang jahil; membaguskan perbuatannya dan meletakkan usahanya pada tempat-tempatnya; berserah diri kepada qadhâ dan beramal dengan hati-hati; apabila dia diam, maka diamnya itu berpikir, jika dia berbicara, maka bicaranya itu berdzikir dan bila memandang, maka pandangannya itu mengambil i'tibâr (pelajaran); apabila dia berilmu, dia mengamalkan ilmunya dan jika dia beramal, maka beramal dengan ikhlash; bersandar atas amal salehnya; bersiap-siap untuk kepergiannya dan memakmurkan akhirat yang akan ditempatinya; seandainya keburukan-keburukan tidak dilarang Allâh, maka orang berakal itu pasti menjauhinya; zuhud dari dunia yang rendah lagi fana dan mengharap surga yang tinggi lagi kekal; merasa risi dengan kematian yang akan dia hadapi di alam ini sehingga dia siapkan bekal sebaik-baiknya sebelum sampai ke negeri terakhir yang seandainya di negeri itu dia mencita-citakan kematian, maka tidak akan mendapatkannya lagi; meninggalkan perkara yang tidak berguna; menolak yang batil; yang halal tidak menyibukkan syukurnya; yang haram tidak mengalahkan sabarnya; menguasai hawa nafsunya; tidak menjual akhirat dengan dunianya; menguasai emosinya ketika marah, berhasrat dan ketika takut; tidak berbicara pada orang yang dikhawatirkan mendustakannya, tidak meminta pada orang yang dikhawatirkan tidak memberinya, tidak memberanikan diri atas apa yang dia khawatirkan ada udzur (kelemahan) darinya dan tidak berharap pada orang yang dia tidak mempercayainya; tidak meremehkan seseorang, tidak lalai; tidak bertutur-kata kecuali seperlunya dan tidak menyibukkan diri selain untuk kebaikan akhiratnya; kekuatan yang dimilikinya tidak membawanya berlebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya tidak menyebabkannya malas bersungguh-sungguh dalam beramalnya dan memendekkan angan-angannya; mencari kesempurnaan; menjaga lidahnya dari mengumpat. [18]

Rasûlullâh saw berkata, "Allâh 'azza wa jalla tidak diibadati dengan sesuatu yang lebih utama dari akal, dan orang yang beriman tidak menjadi orang yang berakal hingga terhimpun pada dirinya sepuluh hal berikut ini: (1) Kebaikannya jadi dambaan, (2) keburukannya diamankan, (3) memandang banyak pada kebaikan yang sedikit dari orang lain, (4) menganggap sedikit pada kebaikan dirinya yang banyak, (5) tidak jemu melayani hajat dan kebutuhan orang lain yang disampaikan kepadanya, (6) tidak pernah bosan dalam menuntuk ilmu sepanjang hayatnya, (7) kemiskinan lebih dia sukai dari hidup kaya, (8) kerendahan atau dipandang rendah orang lain lebih dia sukai dari penghormatan, (9) tidak terkenal lebih dia cintai dari popularitas dan (10) mengganggap orang lain lebih baik dari dirinya. Manusia itu ada dua macam: Manusia yang baik lagi bertaqwâ dan manusia yang buruk lagi terhina. Dan ketika orang berakal itu berjumpa dengan orang yang dia anggap lebih baik dan lebih bertaqawâ dari dirinya, maka dia merendah diri kepadanya demi menyusulnya. Dan jika bertemu dengan orang yang dipandangnya lebih buruk dan lebih rendah darinya, orang yang berakal itu akan mengatakan (dalam hatinya), 'Barangkali kebaikan orang ini tersembunyi (bâthin) sedang kebaikannya tampak (zhâhir), barangkali akan ditutupkan baginya (husnul khâtimah) dengan kebaikan. Apabila dia melakukan hal yang demikian, maka tinggi kemuliannya dan menjadi orang mulia (sayyid) pada zamannya." [19]

Itulah sepuluh latihan dari mursyid sejati Rasûlulah saw untuk tercapainya kesempurnaan di sisi Allâh 'azza wa jalla.

Takut dan taat kepada penguasa (pemerintah) akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kesempurnaan akal. Para penguasa di mana pun mereka berkuasanya di bumi Allâh ini, apabila mereka tidak memakai Islâm dalam sistim pemerintahannya dan tidak menegakkan hukum-hukum yang Allâh turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir, zalim atau fâsiq yang selalu konfrontasi dan berbuat makar kepada Allâh 'azza wa jalla.[20]

Penguasa hanya manusia biasa seperti halnya manusia yang tidak berkuasa, dan mereka seringkali berbuat zalim terhadap rakyatnya, oleh karena itu tidak perlu kita takuti. Maka taat dan takutnya seseorang pada penguasa yang zalim telah menunjukkan ketidaksempurnaan akal orang tersebut. Rasûlullâh saw bersabda, "Manusia yang paling sempurna akalnya adalah manusia yang paling takut dan paling taat kepada Allâh, dan manusia yang paling kurang akalnya adalah manusia yang paling takut dan paling taat kepada penguasa." [21] Renungkan! Apakah kita termasuk orang berakal ataukah orang gila?



[1] Bihâr Al-Anwâr 1/96.

[2] Bihâr Al-Anwâr 1/86.

[3] Mîzân Al-Hikmah 6/401.

[4] Mîzân Al-Hikmah 6/400.

[5] Mîzân Al-Hikmah 6/395.

[6] Mîzân Al-Hikmah 6/402.

[7] Mîzân Al-Hikmah 6/406.

[8] QS Al-Baqarah ayat 13.

[9] QS Al-Baqarah ayat 12.

[10] Mîzân Al-Hikmah 6/405.

[11] Bihâr Al-Anwâr 1/131.

[12] Mîzân Al-Hikmah 2/121.

[13] Mîzân Al-Hikmah 2/121.

[14] Mîzân Al-Hikmah 6/419.

[15] Mîzân Al-Hikmah 6/419.

[16] Mîzân Al-Hikmah 6/419.

[17] Mîzân Al-Hikmah 6/416.

[18] Mîzân Al-Hikmah 6/414,415,416 dan 417.

[19] Bihâr Al-Anwâr 1/108.

[20] Sûrah Al-Mâidah (5) : 44, 45 dan 47.

[21] Bihâr Al-Anwâr 74/154.

 

Sat, 29 Mar 2014 @22:25


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved