Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Makna Fiqh dalam Islam

Fiqh artinya pemahaman, yakni pemahaman terhadap kebenaran yang dituangkan dalam Al-Qurân dan Sunnah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa âlihi wa sallam . Fiqh dalam arti yang sempit ialah pemahaman terhadap ajaran Islam yang berkenaan dengan bersuci (thahârah ) shalat, puasa, zakat dan haji.

Fiqh atau pemahaman seseorang terhadap syari'ah Allâh nilai kebenarannya atau ketepatannya relatif, oleh karena itu fiqh tidak akan sama bahkan seringkali bertentangan satu sama lain sekalipun objek pemahamannya sama-sama Al-Qurân dan Sunnah Nabi.

Kita tidak perlu terlalu bingung menghadapai fiqh para ulama yang berbeda, untuk sementara waktu selagi kita tidak mempu berijtihad sendiri, ambil saja fiqh yang kita anggap paling tepat. Tapi sekali lagi fiqh itu nilai benarnya relatif.
   
Dikarenakan kebenaran dalam fiqh itu relatif, maka kita tidak bias memaksakan pemahaman kita pada orang lain yang fiqh -nya berbeda dengan kita, demikian pula orang lain tidak bisa paksakan pada kita fiqh -nya dan pemahamannya. Dan juga karena kemenaran fiqh itu relatif, maka kita boleh berpindah-pindah pemahaman dengan tujuan mencari fiqh yang paling benar dan yang paling tepat, dan hargailah pendapat orang lain yang berbeda dengan kita agar orang lain pun menghargai fiqh kita.
   
Kita tidak boleh terhenti dan merasa cukup dengan pemahaman yang ada yang sedang kita amalkan. Kita mesti terus-menerus membanding-bandingkan, membenturkan dan mendiskusikannya agar terlahir kebenaran. Imâm Ali berkata, "Pukulkanlah di antara pendapat-pendapat agar terlahir darinya kebenaran." Dan jika kita bersungguh-sungguh dalam pencarian kebenaran, maka Allâh SWT akan menunjuki kita ke jalan-jalan-Nya. Firman-Nya YMT, Dan mereka yang berjihad pada Kami, niscaya Kami tunjuki mereka ke jalan-jalan Kami. (Al-Quran)

Fiqh Menurut Al-Qurân
Allâh YMT mengkisahkan ummat Nabi Syu'aib as, Wahai Syu'aib, sering kali kami tidak memahami (lâ nafqahu) apa yang kamu katakan. (QS 11/91)

Doa Nabi Mûsâ as dalam Al-Qurân, Wahai Tuhanku, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku dan lepaskan ikatan dari lidahku agar mereka memahami ucapanku (yafqahû qaulî). (QS 18/57)
   
Firman-Nya Yang Maha Tinggi, Yang demikian itu dikarenakan mereka telah beriman, lalu mereka kufur, kemudian hati mereka ditutup hingga mereka tidak memahami (lâ yafqahûn). (QS 63/3).
   
Tidak sepatutnya mereka yang beriman pergi semuanya ke medan perang, mengapa tidak berangkat dari setiap golongan dari mereka beberapa orang guna mendalami pemahaman (liyatafaqqahû) dalam ajaran (Islam) agar mereka bisa memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka telah kembali, mudah-mudahan mereka bisa menjaga diri. (QS 9/122)

Fiqh Menurut Sunnah Nabi
Imâm Mûsâ Al-Kâzhim as berkata, "Perdalamlah fiqh kamu (tafaqqahû) terhadapm ajaran Allâh, karena sesungguhnya fiqh itu kunci bashîrah (penglihatan batin), penyempurna ibadah, dan akan membawa seseorang ke derajat yang tinggi serta kedudukan yang mulia dalam agama dan dunia. Dan keutamaan seorang faqîh (orang yang paham) atas seorang ahli ibadah ('âbid ) adalah seperti keutamaan matahari atas bintang-bintang. Dan siapa yang tidak paham dalam agamanya, tentu Allâh tidak rela pada amalnya." (Bihârul Anwâr 78/321)
   
Imâm 'Alî bin Abî Thâlib as Berkata, "Jika Allâh menghendaki kebaikan pada seseorang, niscaya orang tersebut dipafamkan (faqqahahu) dalan ajaran dan diilhamkan padanya keyakianan." (Ghurarul Hikam wa Durarul Kalim 1/49)

Fiqh yang Paling Utama
Fiqh yang paling utama adalah berlaku hati-hati (wara' ) dalam menjalankan ajaran Allâh serata melaksanakan ketaatan pada-Nya. Imâm 'Ali berkata, "Sesungguhnya fiqh yang paling utama adalah wara' dalam ajaran Allâh dan menjalankan taat kepada-Nya, maka hendaknya kamu bertaqwa pada waktu sunyi dan pada saat terbuka." (Syarh Nahjul Balâghah, Ibnu Abil Hadîd 6/71)

Faqîh atau Ulama yang Benar
Julukan faqîh untuk orang yang menguasai pemahaman yang benar, maka dalam bentuk jama' disebut fuqahâ . Faqîh yang sebenarnya adalah orang yang benar-benar memahami Islam secara totalitas (tidak parsial). Dan karakteristik faqîh yang benar adalah sebagai berikut:
1.    Dia tidak pernah memberikan kelonggaran sedikit pun juga pada umat manusia untuk berbuat maksiat kepada Allâh 'azza wa jalla.
2.    Tidak membuat umat manusi berputus asa dari rahmat dan kasih Allâh Yang Maha Pemurah.
3.    Tidak pernah memberikan rasa aman kepada ummat dari maker atau siksa Allâh Yang Maha Perkasa.
4.    Berlaku zuhud di dunia.
5.    Menciantai akhirat.
6.    Berpegang teguh dengan Sunah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa âlihi wa sallam.
7.    Al-Qurân baginya di atas segalanya dan sumber bagi segala kebaikan.

Imâm Ali as berkata, "Akan kukabarkan kepadamu faqîh yang sesungguhnya, yaitu orang yang tidak memberikan kelonggaran pada manusia dalam berbuat maksiat kepada Allâh, tidak membuat mereka putus asa dari rahmat Allâh, tidak memberikan rasa aman kepada mereka dari makar Allâh dan tidak meninggalkan Al-Qurân karena menganggap ada lagi hukum yang lebih baik selainnya." (Bihâr Al-Anwâr 78/41)
   
Imâm Muhammad Al-Bâqir as berkata, "Sesungguhnya faqîh yang sebenarnya adalah otrang yang berlaku zuhud di dunia, mencintai akahirat dan berpegang dengan Sunnah Nabinya."
   
Imâm Ja'far Al-Shâdiq as berkata, "Kalian akan termasuk kepada golongan orang-orang yang paling faqîh jika kalian mengetahui makna-makna ucapan kami dan kalimat yang kami katakan bisa mengandung beberapa makna." (Al-Wasâil 2/184)
   
Imâm Ja'far Al-Shâdiq as berkata, "Seseorang dari kamu tidak akan menjadi faqîh sehingga dia mengetahui maksud-maksud dari ucapan kami." (Bihârul Anwâr 2/184)

Nashsh dan Fiqh
Nashsh atau teks adalah Kitab Allâh 'azza wa jalla dan Sunnah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa âlihi wa sallam baik Sunnah Rasûl yang melalui Ahlibaitnya maupun Sunnah Nabi yang diriwayatkan para sahabatnya.   

Fiqh sebagaimana yang disebutkan di atas adalah pemahaman orang terhadap Al-Qurân dan Sunnah Nabi Saw. Nashsh sifat kebenarannya adalah mutlak sedangkan fiqh nilai kebenarannya tidak mutlak, bahkan mungkin jauh sekali dan bertentangan dengan yang dimaksudkan oleh nashsh itu sendiri.

Ijthâd dan Taqlîd
Ijtihâd adalah upaya penelitian ulama mujtahidîn untuk mengeluarkan hokum syara' atau fatwa atas kasus-kasus tertentu yang belum ditemukan nashsh -nya. Taqlîd sama dengan ittibâ' yang artinya mengikuti. Maksudnya yaitu mengikuti fatwa-fatwa ulama mujtahid . Orang yang belum mampu berijtihad, untuk sementara waktu dia harus ber-taqlîd kepada faqîh yang dia percayai tanpa merendahkan faqîh-faqîh yang lain, sebab para fuqaha itu merupakan umanâ atau kepercayaan para nabi dan rasûl.

Ummat Islam banyak belajar dan mengkaji Islam dari berbagai sisinya agar bisa memilih ulama yang benar. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa âlihi wa sallam telah menjelaskan kepada ummatnya tentang ulama yang baik dan yang buruk agar ummatnya tidak tertipu, antara lain beliau berkata, "Jika dari kalangan fuqahâ ada orang yang menjaga kesucian dirinya, membela agamanya, berpaling dari hawa nafsunya dan menaati perintah Maulanya (Allâh SWT), maka orang kebanyakan hendaknya mengikutinya." (Tahrîr Al-Wasîlah)

Sabdanya, "…karena sesungguhnya orang-orang beriman yang faqîh itu adalah benteng-benteng Islam, seperti halnya tembok yang membentengi sebuah kota."
   
Sabdanya, "Para faqîh itu adalah orang-orang kepercayaan para rasûl selama mereka tidak memasuki dunia." Ada orang yang bertanya, "Ya Rasûlallâh, apakah yang dimaksud dengan mereka memasuki dunia?" Beliau menjawab, "Mengikuti penguasa, apabila mereka melakukan hal itu, maka waspadailah mereka karena mereka akan merusak ajaran kalian."

Ibadah tanpa Fiqh
Ibadah dalam pengertian umum adalah aktivitas hidup dan kehidupan manusia yang telah baligh. Manusia kaitannya dengan ibadah terbagi kepada tiga golongan: 1. Manusia yang beribadah kepada Allâh semata, 2. Manusia yang beribadah kepada selain Allâh semata dan 3. Manusia yang beribadah kepada Allâh dalam sebagian kehidupannya dan kepada selain Alllah dalam hal yang lainnya.
   
Ibadah kepada Allâh tanpa memahami ajaran-Nya adalah sia-sia dan tidak ada kebaikan padanya. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa âlihi wa sallam bersabda, "Pemahaman yang sedikit lebih baik dari ibadah yang banyak."
   
Imâm 'Ali as berkata, "Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak ada fiqh padanya, tidak ada kebaikan pada ilmu-pengetahuan yang tidak ada piker padanya dan tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak ada tadabbur padanya."

Imâm Ali Zainul 'Abidîn as Berkata, "Tidak ada ibadah kecuali dengan fiqh."

Kesimpulan
Fiqh atau pemahaman ada dua macam; ada yang menyimpang dari nashsh Al-Qurân dan Sunnah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa âlihi wa sallam dan ada pemahaman yang lurus sesuai dengan syari'ah Allâh 'azza wa jalla. Untuk yang kedua banyak digunakan dalam Al-Qurân dan Al-Sunnah. Dan yang harus dijadikan rujukan oleh kaum muslim adalah Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya, bukan fatwa-fatwa atau fiqh dan pemahaman ulama.

Sat, 29 Mar 2014 @21:40


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved