Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Jika tidak Berpegang kepada Al-Tsaqalain Maka Tersesatlah

Seluruh ummat manusia dan jinn diwajibkan untuk berpegang dan merujuk kepada dua peninggalan Rasulullah saw yang amat berharga supaya tidak tersesat dari jalan yang lurus, yakni Al-Quran dan Ahlulbaitnya yang suci yang keduanya disebut beliau sebagai Al-Tsaqalain.

 

Imam 'Ali Mengingatkan Orang kepada Ahlulbait

Amîrul Mu`minîn as berkata, “Hendak kemanakah kalian pergi? Dan mengapakah kalian bisa tertipu sedangkan panji-panji kebenaran telah ditegakkan, bukti-bukti telah jelas dan mercusuar pun telah dipancarkan, maka bagaimanakah kalian dapat dipalingkan? Bahkan mengapakah kalian bisa disesatkan sedangkan kerabat Nabi kalian berada di tengah-tengah kalian? Mereka itu tonggak kebenaran, panji-panji ajaran dan lidah-lidah yang selalu berkata benar. Tempatkanlah mereka itu sebaik kalian menempatkan Al-Quran! Datangilah mereka itu dengan penuh perhatian sebagaimana unta-unta yang kehausan mendatangi mata air pelepas dahaga!

Wahai manusia! Peganglah erat-erat apa yang telah dikatakan Nabi kalian sebagai penutup para nabi bahwa mereka yang meninggal di antara kami, sesungguhnya tidaklah meninggal, mereka yang hancur-luluh tulang-belulangnya di antara kami, sebenarnya tidaklah hancur! Janganlah kalian katakan apa yang kalian tidak tahu, sebab kebenaran yang sesungguhnya justru yang kalian ingkari. Janganlah kalian salahkan orang yang kalian tidak memiliki alasan apa pun untuk menyalahkannya, yaitu aku. Bukankah aku ini telah berpegang kepada peninggalan (Rasûlullâh) yang paling berharga (yakni Al-Quran) dan peninggalan yang lainnya kepada kalian (yaitu Ahlulbait)! Sungguh telah kupusatkan kepada kalian panji-panji keimanan, telah kutempatkan kalian pada batasan halal dan haram, telah kubusanai kalian dengan busana keadilan, telah kuhamparkan kepada kalian kebaikan dari ucapan dan perbuatanku dan telah kuperlihatkan kepada kalian kemuliaan akhlak dariku! Maka janganlah kalian menggunakan rasio yang ujungnya tak dapat dijangkau oleh penglihatan dan tak dapat diselami oleh pikiran.” 

 

Ahlulbait yang Disucikan
Mengapa Ahlulbait Rasûlullâh saw dijadikan padanan kitab suci Al-Quran dan jika kita tidak merujuk kepada mereka, pasti kita tersesat? Mereka dijadikan marja' (tempat rujukan) dikarenakan mereka manusia-manusia yang sangat mulia setelah Rasûlullâh saw. Oleh karena itu Allâh ‘azza wa jalla telah memilih mereka untuk dijadikan padanan Al-Quran, dan mereka dihilangkan keraguannya serta disucikannya sesuci-sucinya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), Sesungguhnya Allâh hendak menghilangkan keraguan (rijs) dari kamu wahai Ahlulbait! Dan mensucikan kamu sesuci-sucinya . [Surah Al-Ahzâb 33/33] 

Ayat tersebut merupakan dalil yang terang mengenai kesucian Ahlulbait, mereka telah dihilangkan rijs -nya (keraguan dalam melaksanakan perintah Allah) dan mereka disucikan sesuci-sucinya sebagai ungkapan tidak melakukan dosa-dosa dan kesalahan.

Ummul Mu`minîn Ummu Salamah dan ‘Âisyah mengatakan bahwa ayat itu diturunkan berkenaan dengan keutamaan ‘Alî, Fâthimah, Hasan dan Husain. Dan menurut riwayat yang lain dari Salmân Al-Fârisi bahwa sembilan orang lagi dari shulb (keturunan) Husain (yaitu: ‘Ali Zainul ‘Âbidîn, Muhammad Al-Bâqir, Ja‘far Al-Shâdiq, Mûsâ Al-Kâdzim, ‘Ali Al-Ridhâ, Muhammad Al-Jawâd, ‘Ali Al-Hâdî, Hasan Al-‘Askari dan Al-Mahdi as).

 

Dari Ummul Mu`minîn Ummu Salamah
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ جَلَّلَ عَلَى الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ وَ عَلِيٍّ وَ فَاطِمَةَ كِسَاءً ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلُ بَيْتِي وَ خَاصَّتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَ طَهِّرْهُمْ تَطْهِيْرًا. فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ : وَ أَنَا مَعَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : إِنَّكِ إِلَى خَيْرٍ

Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasûlullâh saw mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husain, ‘Ali dan Fâthimah, kemudian beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlulbaitku dan orang-orang tertentuku, maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.” Lalu Ummu Salamah berkata, “Saya bersama mereka wahai Rasûlullâh!” Beliau berkata, “Sesungguhnya engkau (menuju) kepada kebaikan.”  

Dari ‘Amr bin Abî Salamah
عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي سَلَمَةَ رَبِيْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : لَمَّا نَزَلَتء هَذِهِ الآيَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ (إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا) فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ فَدَعَا فَاطِمَةَ وَ حَسَنًا وَ حُسَيْنًا وَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَ طَهِّرْهُمْ تَطْهِيْرًا. قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ : وَ أَنَا مَعَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : أَنْتِ عَلَى مَكَانِكِ وَ أَنْتِ عَلَى خَيْرٍ

Dari ‘Amr bin Abî Salamah anak tiri Nabi saw berkata: Ketika turun ayat ini: Innamâ yurîdullâhu liyudzhiba ‘ankumur rijsa ahlalbaiti wa yuthahhirakum tathhîrâ di dalam rumah Ummu Salamah. Kemudian beliau memanggil Fâthimah, Hasan dan Husain sementara ‘Ali as ada di belakang punggung beliau, kemudian beliau mengerudungi mereka dengan kain, kemudian beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlulbaitku, maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.” Ummu Salamah berkata, “Dan saya bersama mereka wahai Nabi Allah!” Beliau berkata, “Engkau tetap di tempatmu, dan engkau berada di atas kebaikan.”  

Dari Ummul Mu`minîn ‘Âisyah
    قَالَتْ عَائِشَةُ : خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ غَدَاةً وَ عَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ, فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ, ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا, ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ : إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
  
‘Âisyah berkata: Pada suatu pagi Rasûlullâh saw keluar (dari rumah) dengan membawa sehelai kain berbulu yang berwarna hitam, kemudian datanglah Hasan bin ‘Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain), kemudian datanglah Husain, lalu dia masuk bersamanya, kemudian datanglah Fâthimah, lantas beliau memasukkannya (ke bawah kain), kemudian datang ‘Ali, lalu beliau memasukkannya, kemudian beliau berkata (membaca ayat), Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya .” 

Dari Anas bin Mâlik
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يَمُرُّ بِبَابِ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ إِذَا خَرَجَ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ يَقُولُ : الصَّلاَةَ يَا أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
  
Dari Anas bin Malik: Rasûlullâh saw melewati pintu rumah Fâthimah as selama enam bulan, apabila beliau keluar hendak shalat shubuh, lalu beliau berkata, “Shalat wahai Ahlulbait, Sungguh Allah hendak menghilangkan keraguan darimu dan mensucikanmu sesuci-sucinya .”

Itulah antara lain penjelasan dari Rasûlullâh saw mengenai Ahlulbaitnya yang disucikan sebagai padanan Al-Quran, dan anggota Ahlulbait Nabi yang disucikan itu ada sembilan orang lagi dari keturunan Imam Husain as, yaitu ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja‘far bin Muhammad, Mûsâ bin Ja‘far, ‘Ali bin Mûsâ, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Al-Mahdi bin Hasan salâmullâhi ‘alaihim.

Sembilan Orang Lagi dari Keturunan Al-Husain
عَنْ أَبَّانِ بْنِ تَغْلِبٍ عَنْ سَلِيْمِ بْنِ قَيْسٍ الْهِلاَلِيِّ عَنْ سَلْمَانَ الفَارِسِيِّ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ : دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ وَ إِذَا الْحُسَيْنُ عَلَى فَخِذَيْهِ وَ هُوَ يُقَبِّلُ عَيْنَيْهِ وَ يَلْثَمُ فَاهُ وَ هُوَ يَقُوْلُ أَنْتَ سَيِّدُ ابْنِ سَيِّدٍ أَنْتَ إِمَامُ ابْنِ إِمَامٍ أَبُو الأَئِمَّةِ أَنْتَ حُجَّةُ ابْنِ حُجَّةٍ أَبُو حُجَجٍ تِسْعَةٌ مِنْ صُلْبِكَ تَاسِعُهُمْ قَائِمُهُمْ

Dari Abbân bin Taghlib dari Salmân ra berkata: Saya masuk ke rumah Nabi saw, dan ternyata ada Husain sedang berada di atas pangkuannya, beliau menciuminya dan mengecup mulutnya dan beliau berkata, “Kamu sayyid (orang yang mulia) putra sayyid, kamu imam putra imam, ayah bagi para imam, kamu hujjah putra hujjah, ayah bagi para hujjah, sembilan lagi dari sulbimu (keturunanmu), dan yang kesembilannya adalah qâ`im -nya (Al-Mahdi as yang menegakkan keadilan).” 

Jadi Ahlulbait Rasûlullâh saw yang disucikan itu semuanya ada tiga belas, yaitu Fâthimah Al-Zahrâ` as dan dua belas khalîfah -nya. Tentang dua belas khalîfah atau imam, telah sering disebutkan Rasûlullâh saw, dan kalau kita mati tanpa mengakui atau mengimani imam pilihan Allah ‘azza wa jalla, maka kematian kita seperti kematian jâhiliyyah , sebab masalah imâmah atau khilâfah dalam Islam termasuk masalah yang prinsip. Maka hati kita akan resah tanpa mengimani para imam yang dua belas walaupun hati kita ini ditenang-tenangkan, karena masalah itu termasuk pokok dalam hidup kita. Dan orang yang tidak mengenal imamnya yang Allah 'azza wa jalla pilih setelah Rasûl-Nya, jika dia mati, maka matinya dipandang seperti mati kaum jâhiliyyah .

Jika Mati tidak Mengenal Imam
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ مَاتَ وَ هُوَ لاَ يَعْرِفُ إِمَامَهُ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Rasûlullâh saw telah berkata, “Siapa yang mati sedang dia tidak mengenal imamnya (yang Allah pilih), dia mati seperti mati jâhiliyyah.” 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ إِمَامٍ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Rasûlullâh saw telah berkata, “Siapa yang mati tanpa (mengimani) imam (yang Allah pilih), dia mati seperti mati jâhiliyyah.”   

قَالَ الصَّادِقُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : مَنْ بَاتَ لَيْلَةً لاَ يَعْرِفُ فِيْهَا إِمَامَ زَمَانِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Al-Shâdiq as berkata, “Siapa yang bermalam pada suatu malam yang dia tidak tahu pada malam itu Imam Zamannya, dia mati seperti mati jâhiliyyah.” 

Mengenai para khalîfah Rasûlullâh saw yang dua belas, yang dijuluki dengan Al-Khulafâ` Al-Râsyidûn , bisa kita lihat dalil-dalilnya dalam kitab-kitab hadîts yang antara lain dalam kitab Shahîh Al-Bukhâri jilid 4 pada Kitâb Al-Ahkâm dan dalam Shahîh Muslim pada Kitâb Al-Imârah. Adapun tentang nama-nama mereka oleh Nabi saw telah disebutkan yang antara lain pada riwayat berikut.

Ibnu ‘Abbâs telah berkata: Ada seorang yahudi yang bernama Na‘tsal datang, kemudian dia bertanya, “Wahai Muhammad, saya akan bertanya kepadamu tentang beberapa persoalan yang bergolak di dalam dadaku dari sejak lama, maka apabila kamu dapat menjawabku mengenai persoalan-persoalan tersebut, saya akan masuk Islam di hadapanmu.”

Beliau berkata, “Tanyakanlah wahai Abû ‘Amârah.”

Dia bertanya, “Wahai Muhammad, sifatkan Tuhan kamu itu kepadaku!”

Beliau saw menjawab, “Dia tidak bisa disifati selain dengan sifat yang Dia sifatkan dengannya, dan bagaimana mungkin pencipta itu bisa disifati oleh makhluk yang tidak berdaya seluruh akal untuk menjangkau-Nya, tidak seluruh pikiran untuk menggapai-Nya, tidak seluruh perasaan untuk membatasi-Nya, dan seluruh penglihatan untuk meliputi-Nya. Dia mulia dan tinggi dari segala yang disifatkan oleh para pemberi sifat, Dia jauh dalam kedekatan-Nya dan Dia dekat dalam kejauhan-Nya, Dia yang menentukan bagaimana dan Dia yang menentukan dimana, maka tidak dikatakan kepada-Nya: Di mana Dia? Dia terputus dari kebagaimanaan dan kedimanaan, maka Dia itu Al-Ahad Al-Shamad sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya, dan para pemberi sifat tidak akan sampai kepada sifat yang sesungguhnya, Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada yang setara satu pun bagi-Nya.”

Dia berkata, “Kamu benar wahai Muhammad, kemudian kabarkan kepadaku tentang ucapanmu bahwa Dia itu satu tidak ada yang serupa bagi-Nya, bukankah Allah satu dan manusia juga satu?”

Maka Rasûlullâh saw berkata, “Allah ‘azza wa jalla itu satu yang hakiki, makna yang bersifat satu yaitu tidak ada bagian dan tidak ada komposisi (terdiri dari beberapa unsur) bagi-Nya, sedangkan satunya manusia itu punya makna yang bersifat dua, yaitu terdiri dari rûh dan jasad.”

Dia berkata, “Kamu benar Muhammad, lalu beritakan kepadaku perihal washi kamu, siapakah dia itu, sebab tidak seorang nabi pun, melainkan dia punya washi. Nabi kami Mûsâ bin ‘Imrân telah berwasiat kepada Yûsya‘ bin Nûn.”

Maka beliau saw berkata, “Washiku adalah ‘Ali bin Abî Thâlib, dan setelahnya dua cucuku Hasan dan Husain yang diikuti setelahnya oleh sembilan imam dari sulbi Husain.”

Dia berkata, “Wahai Muhammad, sebutkan nama-nama mereka itu kepadaku!”

Beliau berkata, “Apabila Husain telah berlalu (wafat), maka (diganti oleh) putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Muhammad. Apabila Muhammad telah berlalu, maka putranya Ja‘far. Apabila Ja‘far telah berlalu, maka putranya Mûsâ. Apabila Mûsâ telah berlalu, maka putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Muhammad. Apabila Muhammad telah berlalu, maka putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Hasan. Dan apabila Hasan telah berlalu, maka putranya Al-Hujjah Muhammad Al-Mahdi. Jadi jumlah mereka itu dua belas.”

Dia bertanya, “Coba ceritakan kepadaku, bagaimanakah kematian ‘Ali, Hasan dan Husain.”

Beliau saw berkata, “‘Ali akan dibunuh dengan tebasan pedang di atas kepalanya, Hasan akan dibunuh dengan racun dan Husain dengan disembelih.”

Dia bertanya, “Lalu di manakah tempat mereka itu?”

Beliau saw berkata, “Di surga dalam derajatku.”

Dia berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, dan saya bersaksi bahwa mereka adalah para washi setelahmu, dan sesungguhnya saya telah mengetahuinya dalam kitab-kitab para nabi terdahulu, dan hal itu telah dipesankan Mûsâ bin ‘Imrân as kepada kami bahwa di akhir zaman akan keluar seorang nabi yang bernama Ahmad dan Muhammad dan dia adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelahnya, maka para washinya setelahnya dua belas orang, yang pertama putra pamannya dan menantunya, yang kedua dan yang ketiga bersaudara dari keturunannya. Washi yang pertama akan dibunuh oleh ummat Nabi itu dengan pedang, yang kedua dengan racun dan yang ketiga bersama sekelompok orang dari keluarganya dengan pedang dan rasa haus di tempat yang terasing, maka dia itu bagaikan seekor kambing yang disembelih, dia bersabar atas pembunuhan itu demi terangkat derajatnya dan derajat-derajat keluarganya dan keturunannya, dan demi mengeluarkan para pecintanya dan para pengikutnya dari neraka, dan sembilan washi lagi dari keturunan yang ketiga, maka jumlah mereka itu dua belas orang sejumlah Al-Asbâth.”

Beliau saw bertanya, “Apakah kamu tahu siapakah Al-Asbâth itu?”

Dia berkata, “Ya, mereka itu dua belas orang, yang pertama Lâwî bin Barkhiyâ, dia yang ghaib dari Banî Isrâ`îl, kemudian dia kembali, kemudian Allah menampakkan syari‘ah -Nya dengannya setelah rusaknya, dan dia perang dengan Qarsithiyâ sang raja hingga dia membunuh raja tersebut.”

Beliau berkata, “Akan terjadi pula pada ummatku sebagaimana telah terjadi pada Banî Isrâ`îl dengan menirunya, dan yang kedua belas akan ghaib hingga dia tidak dapat dilihat, dan dia akan datang kepada ummatku pada zaman yang tidak ada Islam kecuali namanya dan tidak ada Al-Quran selain tulisannya, maka ketika itu Allah yang maha berkah dan maha tinggi mengizinkannya untuk keluar, kemudian Allah akan menampakkan Islam dengannya dan akan memperbaruinya. Beruntunglah orang yang mencintai mereka dan mengikutinya, celakalah bagi orang yang membenci mereka dan menyalahinya, dan beruntunglah orang-orang yang berpegang dengannya dan dengan petunjuknya.”   

Kewajiban Berpegang kepada Al-Quran dan Ahlulbait
Setiap orang Islam pasti sepakat bahwa Islam yang suci itu dituangkan dalam kitab suci Al-Quran dan Al-Sunnah. Dan yang dimaksud dengan Al-Sunnah adalah sunnah-sunnah Rasûlullâh saw. Tetapi pada kenyataannya kita sebagai ummat Islam telah menyimpang jauh dari kedua peninggalan Nabi saw yang sangat berharga itu. Penyebabnya adalah dikarenakan kita terlalu membiarkan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah kita sendiri sehingga ummat ini tidak lagi berpegang kepada ajaran Islam yang suci sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh beliau saw. Dan penyimpangan kita yang paling besar serta mendasar adalah kita telah memisahkan Ahlulbait Nabi saw dari Al-Quran padahal orang yang memisahkan Ahlulbait Nabi yang suci dari Al-Quran itu sudah dipastikan tersesat dari jalan yang lurus. Coba kita perhatikan beberapa sabda Nabi saw berikut ini.

1- قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي, أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنَ اْلآخَرِ, كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ وَ عِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي, وَ لَنْ يَتَفََرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيْهِمَا

Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitâbullâh (ibarat) tali yang terentang dari langit ke bumi dan ‘itrah -ku yakni  Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga (Kautsar), maka perhatikanlah oleh kalian, bagaimanakah kalian akan perlakukan aku pada keduanya.” 

2- عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ وَ أَهْلَ بَيْتِي, وَ إِنَّهُمَا لَنْ يَتَفََرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Zaid bin Arqam dia berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yaitu Kitâbullâh (Al-Quran) dan Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga.” 

3- عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ فِي حِجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَ هُوَ عَلَى نَاقَتِهِ الْقَصْوَى يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللهِ وَ عِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Dari Jâbir bin ‘Abdullâh dia berkata: Aku melihat Rasûlullâh saw dalam hajinya pada hari ‘Arafah dan beliau berada di atas untanya Al-Qashwâ menyampaikan khotbah, maka aku mendengar beliau berkata, “Wahai manusia! Telah kutinggalkan pada kalian yang jika kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitâbullâh dan ‘itrah-ku Ahlulbaitku.” 

4- عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ يَوْمًا فِيْنَا خَطِيْبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَ الْمَدِيْنَةِ, فَحَمِدَ اللهَ وَ أَثْنَى عَلَيْهِ وَ وَعَظَ وَ ذَكَرَ ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ أَلاَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيْبُ وَ إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَقَلَيْنِ, أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيْهِ الْهُدَى وَ النُّورُ, فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ وَ اسْتَمْسِكُوا بِهِ. فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ فِيْهِِ وَ رَغَّبَ فِيْهِ. ثُمَّ  قَالَ: وَ أَهْلُ بَيْتِي, أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي, أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

Dari Zaid bin Arqam berkata: Pada suatu hari Rasûlullâh saw berkhotbah di hadapan kami dekat mata air yang bernama Khumm yang terletak antara Makkah dan Al-Madînah, beliau memuji Allâh ‘azza wa jalla dan menyanjung-Nya, lalu beliau memberikan pesan dan mengingatkan, kemudian beliau berkata, “Adapun kemudian setelah itu, ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya aku seorang manusia (basyar) yang telah dekat waktunya utusan Tuhanku (Malakul Maut) akan datang kepadaku dan aku pun akan memenuhi panggilan-Nya, dan aku tinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yang pertamanya Kitâbullâh yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitâb Allâh dan berpeganglah dengannya." Dia perintahkan untuk berpegang kepada Kitâbullâh , lalu beliau berkata, “Dan Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku.” 

5- عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: إِنِّي أُوْشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيْبُ, وَ إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَقَلَيْنِ, كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ عِتْرَتِي. كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ وَ عِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي, وَ إِنَّ اللَّطِيْفَ أَخْبَرَنِي أَنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُونِي بِمَا تَخْلُفُونِي فِيْهِمَا

Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri dari Nabi saw beliau berkata, “Tidak lama lagi aku akan dipanggil, lalu aku penuhi (panggilan-Nya), dan sesungguhnya aku meninggalkan pada kamu Al-Tsaqalain: Kitâbullâh ‘azza wa jalla dan ‘itrah-ku. Kitâbullâh itu (ibarat) tali yang terentang dari langit ke bumi dan ‘itrah-ku adalah Ahlulbaitku, dan sesungguhnya Tuhan yang maha halus telah memberitakan kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang kepadaku di telaga, maka perhatikanlah aku bagaimana kamu akan memperlakukan aku pada keduanya.”  

Hadîts Al-Tsaqalain
Banyak sahabat Rasûlullâh saw yang meriwayatkan hadîts Al-Tsaqalain hingga mencapai derajat mutawâtir (dari banyak ke banyak hingga tercatat di dalam kitab-kitab rujukan), namun sayang sebagian ummat Islam telah berpaling atau dipalingkan darinya hingga mereka mengabaikan wasiat Rasûlullâh saw yang amat berharga itu.

Makna Al-Tsaqalain
Al-Tsaqalain adalah dua tsaqal, secara bahasa berarti berat. Tsa‘lab telah berkata, “Kitab Allah dan ‘itrah Nabi dinamakan Al-Tsaqalain , sebab berpegang kepada keduanya itu dirasakan berat (oleh kebanyakan orang), dan mengamalkannya juga berat. Asal kata tsaqal ialah bahwa orang-orang Arab suka menyebut tsaqal kepada segala sesuatu yang berharga, yang penting atau yang dijaga. Maka beliau saw menamai keduanya itu Al-Tsaqalain , karena dia memandang besar dan agung kepada kedudukan dan keadaannya.”  

Al-Fairûz Ãbadî berkata, “Dan (di antara arti Al-Tsaqalain ) ialah sesuatu yang berharga yang mesti dijaga seperti diungkapkan dalam hadîts, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan Al-Tsaqalain pada kalian, yaitu Kitâbullâh dan ‘itrah-ku.”   

Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw adalah peninggalan beliau yang maha penting dan amat berharga yang harus dijaga dan diikuti oleh ummatnya. Jika ummat Islam ini tidak mau mengikutinya, maka tersesatlah dari jalan yang lurus meskipun jumlahnya sangat banyak, karena menyimpang dari keduanya dan mengada-adakan ajaran yang baru sebagai tandingan. 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ فِي خُطْبَتِهِ : إِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Jâbir bin ‘Abdullâh bahwa Rasûlullâh saw berkata dalam pidatonya, “Sesungguhnya sebaik-baik hadîts (kalâm) adalah Kitab Allah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakannya, dan setiap yang diada-adakan itu bid‘ah, dan setiap bid‘ah itu sesat.”  

Ahlulbait Pewaris Ilmu Nabi saw
Ahlulbait as adalah pewaris ilmu dan pemahaman Rasûlullâh saw yang ilmu manusia terdahulu dan manusia yang terakhir ada pada mereka.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَحْيَا حَيَاتِي وَ يَمُوْتَ مَمَاتِي وَ يَسْكُنَ جَنَّةَ عَدْنٍ الَّتِي غَرَسَهَا اللهُ فَلْيُوَالِ عَلِيًّا مِنْ بَعْدِي وَ لْيُوَالِ وَلِيَّهُ وَ لْيَقْتَدِ بِالأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِي فَإِنَّهُمْ عِتْرَتِي خُلِقُوا مِنْ طِيْنَتِي رُزِقُوا فَهْمًا وَ عِلْمًا وَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ مِنْ أُمَّتِي الْقَاطِعِيْنَ فِيْهِمْ صِلَتِي لاَ أَنَالَهُمُ اللهُ شَفَاعَتِي

Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Siapa yang ingin sehidup semati denganku dan menempati surga ‘Aden yang telah diciptakan Allah, maka hendaklah dia menjadikan ‘Ali pemimpinnya setelahku, mendukung penggantinya dan mengikuti para imam setelahku, karena mereka itu adalah ‘itrah-ku (orang-orang yang punya hubungan darah yang dekat), mereka diciptakan dari darah dagingku, dan mereka diberi pemahamanku dan ilmuku, maka celakalah bagi ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dengan mereka. Allah tidak akan memberikan syafa‘atku kepada mereka.”   

Ahlulbait Bahtera Penyelamat Ummat
Ahlulbait Nabi saw adalah orang-orang yang oleh beliau diumpamakan bahtera Nûh as. Dulu, waktu terjadi air bah pada zaman beliau, tidak ada orang yang selamat selain manusia-manusia yang terangkut di dalam bahteranya, maka Ahlulbait as adalah bahtera keselamatan (safînah al-najâh ) untuk ummat ini agar tidak tenggelam dalam lautan kesesatan.

عَنْ حَنَشٍ الْكِنَانِي قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ يَقُولُ وَ هُوَ آخِذٌ بَابَ الْكَعْبَةِ : أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَرَفَنِي فَأَنَا مَنْ عَرَفْتُمْ, وَ مَنْ أَنْكَرَنِي فَأَنَا أَبُوذَرٍّ, سَمْعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ : مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Dari Hanasy Al-Kinâni berkata: Saya telah mendengar Abû Dzarr dan memegang pintu Ka'bah berkata: Wahai manusia, siapa yang mengenalku maka aku adalah orang yang kamu kenal, dan siapa yang tidak mengenalku maka aku adalah Abû Dzarr, aku telah mendengar Rasûlullâh saw mengatakan, “Perumpamaan Ahlulbaitku adalah semisal bahtera Nûh, siapa yang menaikinya dia selamat, dan siapa yang berpaling darinya dia pasti tenggelam.” 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullâh saw telah bersabda, “Perumpamaan Ahlulbaitku adalah semisal bahtera Nûh, siapa yang menaikinya dia selamat, dan siapa yang berpaling darinya dia pasti tenggelam.” 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِنَّمَا مَثَلِي وَ مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي كَسَفِيْنَةِ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Dari Anas bin Mâlik berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan Ahlulbaitku seperti bahtera Nûh, siapa yang menaikinya dia selamat, dan siapa yang berpaling darinya dia pasti tenggelam.” 

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّمَا مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي فِيْكُمْ كَسَفِيْنَةِ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ. وَ إِنَّمَا مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي فِيْكُمْ مَثَلُ بَابِ حِطَّةٍ لِبَنِي إِسْرَائِيْلَ مَنْ دَخَلَهَا غُفِرَ لَهُ

Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri berkata: Saya telah mendengar Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku pada kalian bagaikan bahtera Nûh, orang yang menaikinya selamat dan orang yang berpaling darinya niscaya tenggelam. Dan sesungguhnya Ahlulbaitku pada kalian semisal pintu pengampunan bagi Banî Isrâ`îl, siapa yang memasukinya dia diampuni.”  

Ahlulbait Pengaman dari Perpecahan
Apabila ummat Islam di muka bumi ini ingin bersatu dan bebas dari perpecahan, maka solusinya harus merujuk kepada peninggalan Rasûlullâh saw, yakni Islam yang suci yang diriwayatkan Ahlulbaitnya yang disucikan, baik dalam ‘aqîdah (keyakinan), syarî‘ah (hukum) maupun dalam hal akhlak, sebab mereka itu sebagai pengaman untuk ummat ini dari perpecahan, tafarruq dan ikhtilâf .

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : النُّجُومُ أَمَانٌ لأَهْلِ الأَرْضِ مِنَ الْغَرَقِ, وَ أَهْلُ بَيْتِي أَمَانٌ لأمَّتِي مِنَ الإِخْتِلاَفِ, فَإِذَا خَالَفَتْهَا قَبِيْلَةٌ مِنَ الْعَرَبِ اخْتَلَفُوا فَصَارُوا حِزْبَ إِبْلِيْسَ

Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam (di laut saat berlayar) dan Ahlulbaitku pengaman untuk ummatku dari ikhtilâf, maka jika satu suku dari bangsa ‘Arab berpaling darinya, mereka pasti ikhtilâf, lalu menjadi partai Iblîs.”   

    عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنِ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَ قَدْ أَخَّرَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ حَتَّى ذَهَبَ  مِنَ اللَّيْلِ هُنَيْهَةً أَوْ سَاعَةً وَالنَّاسُ يَنْتَظِرُونَ فِي الْمَسْجِدِ, فَفَالَ : مَا تَنْتَظِرُونَ؟ فَقَالُوا : نَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ. فَقَالَ : إِنَّكُمِ لَنْ تَزَالُوا فِي صَلاَةٍ مَا انتَظَرْتُمُوْهَا. ثُمَّ قَالَ : أَمَّا إِنَّهَا صَلاَةٌ لَمْ يُصَلِّهَا أَحَدٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنَ الأُمَمِ. ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ : النُّجُومُ أَمَانٌ لأَهْلِ السَّمَاءِ فَإِنْ طَمَسَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا يُوعَدُوْنَ, وَ أَنَا أَمَانٌ لأَصْحَابِي فَإِذَا قُبِضْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوْعَدُونَ, وَ أَهْلُ بَيْتِي أَمَانٌ لأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَهْلُ بَيْتِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوْعَدُوْنَ

Dari Muhammad bin Al-Munkadir dari ayahnya dari Nabi saw bahwa beliau keluar pada suatu malam dan beliau mengakhirkan shalat ‘isyâ sampai telah hilang sebagian dari malam sejenak atau sesaat sedang orang-orang pada menunggu di dalam masjid, kemudian beliau berkata, “Apa yang kalian tunggu?” Mereka berkata, “Kami menunggu shalat.” Beliau berkata, “Kamu senantiasa di dalam shalat selama kamu menantinya.” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya shalat ini adalah shalat yang belum pernah seorang pun dari kalangan ummat-ummat sebelum kamu melakukannya.” Lalu beliau mengangkat kepalanya ke langit seraya berkata, “Bintang-bintang pengaman bagi penduduk langit, maka apabila bintang-bintang itu hilang sinarnya datanglah kepada langit apa yang telah dijanjikan kepada mereka, dan aku pengaman bagi sahabat-sahabatku dan maka apabila aku wafat datanglah kepada sahabat-sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka, dan Ahlulbaitku adalah pengaman bagi ummatku, maka apabila Ahlulbaitku telah pergi (wafat semua) datanglah kepada ummatku apa yang dijanjikan kepada mereka.” 
   
عَنْ أَيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ عَنِ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : النُّجُومُ أَمَانٌ لأَهْلِ السَّمَاءِ وَ أَهْلُ بَيْتِي أَمَانٌ لِأُمَّتِي

Dari Ayâs bin Salamah dari ayahnya berkata: Rasulullah saw telah berkata, “Bintang-bintang itu pengaman bagi penduduk langit sedang Ahlulbaitku pengaman bagi ummatku.” 
   
    عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : النُّجُومُ أَمَانٌ لأَهْلِ السَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ ذَهَبَ أَهْلُ السَّمَاءِ, وَ أَهْلُ بَيْتِي أَمَانٌ لأَهْلِ الأَرْضِ فَإِذَا ذَهَبَ أَهْلُ بَيْتِي ذَهَبَ أَهْلُ الأَرْضِ

Dari ‘Ali as berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Bintang-bintang pengaman bagi penduduk langit, maka bila bintang-bintang itu lenyap, maka lenyaplah penduduk langit, dan Ahlulbaitku pengaman bagi penduduk bumi, maka apabila Ahlulbaitku telah lenyap, maka lenyaplah penduduk bumi.” 

Ringkasan
Ummat Islam yang setelah Rasûlullâh saw wajib berpegang dan berpedoman kepada Al-Quran dan Ahlulbait Rasûlullâh saw yang disucikan agar tidak tersesat, agar tidak menjadi partai Iblîs dan supaya tidak menjadi ahli neraka.

Antara Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw tidak bisa dipisahkan, maka orang yang menolak salah satunya berarti menolak dua-duanya, dan menerima salah satunya berarti menerima keduanya. Seandainya ada orang yang mengklaim bahwa dirinya telah berpegang kepada Al-Quran, tetapi dia menolak Ahlulbait Rasûlullâh saw sebagai padanan Al-Quran, maka sebenarnya dia telah menolak Al-Quran itu sendiri secara halus.

Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw yang suci dinamakan Al-Tsaqalain (dua yang berharga), sebab keduanya merupakan peninggalan beliau saw yang sangat berharga dan mesti dibela serta dijaga. Keduanya merupakan alat ukur untuk mengukur sesat dan tidak sesatnya orang dari jalan yang benar.

Ahlulbait Rasûlullâh saw yang disucikan yang ma‘shûmîn adalah Fâthimah Al-Zahrâ as dan para khalîfah Rasûlullâh yang berjumlah dua belas orang.

Mengikuti Ahlulbait Nabi saw yang suci berarti mengikuti sunnah Rasûlullâh saw, sebab mereka itu adalah manusia-manusia yang menjaga sunnah-sunnah Nabi saw dan ajaran Islam dari penambahan, pengurangan dan segala bid‘ah yang diada-adakan orang.

Ummat Islam yang tidak mau mengikuti Al-Quran dan Ahlulbait Rasûlullâh saw adalah tersesat, dan mereka bagaikan orang-orang yang tenggelam yang ditelan air bah pada zaman Nabi Nûh as.

Janganlah tertipu dengan kajian-kajian keislaman yang  menyamankan suasana hati yang resah dan menenangkan pikiran yang kacau, karena hal itu akan melenakan kita dari jalan yang lurus selama tidak disertakan Ahlulbait Nabi saw.

Kaum muslim di mana pun mereka berada, tidak akan pernah bersatu, kecuali apabila sumber Islam yang sejati, yaitu Al-Quran dan Ahlulbait diikuti sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasûlullâh saw, karena mereka itu pengaman ummat dari perpecahan dan perselisihan.

Jumlah Sahabat Rasulullah yang Meriwayatkan
Para sahabat Rasûlullâh saw yang meriwayatkan hadîts al-tsaqalain ada 35 orang yaitu: Amîrul Mu`minîn ‘Ali bin Abî Thâlib, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abî Thâlib, Salmân Al-Fârisi, Abû Dzarr Al-Ghifâri, Ibnu ‘Abbâs, Abû Sa‘îd Al-Khudri, Jâbir bin ‘Abdullâh Al-Anshâri, Abû Al-Haitsam bin Al-Taihân, Abû Râfi‘, Hudzaifah bin Al-Yamân, Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifâri, Khuzaimah bin Tsâbit Dzû Al-Syahâdatain, Zaid bin Tsâbit, Zaid bin Arqam, Abû Hurairah, ‘Abdullâh bin Hanthab, Jubair bin Muth‘im, Al-Barrâ` bin ‘Âzib, ‘Abdurrahmân bin ‘Auf, Anas bin Mâlik, Thalhah bin ‘Abdullâh Al-Taimi, Sa‘ad bin Abî Waqqâsh, ‘Amr bin Al-‘Âsh, Sahl bin Sa‘ad Al-Anshâri, ‘Adi bin Hâtim, Abû Ayyûb Al-Anshâri, Abû Syuraih Al-Khuzâ‘i, ‘Uqbah bin ‘Âmir, Abû Qudâmah Al-Anshâri, Abû Lailâ Al-Anshâri, Dhamîrah Al-Aslami, ‘Âmir bin Lailâ bin Dhamrah, Fâthimah Al-Zahrâ putri Nabi saw, Ummu Salamah istri Rasul saw dan Ummu Hânî saudara perempuan Imam ‘Ali as.

Tue, 25 Mar 2014 @12:11


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved