Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Keutamaan Membaca Tahlil

Tahlîl itu mengucapkan kalimat: لا إِله إلا الله (Lâ ilâha illallâh ). Manusia yang mengucapkan kalimat tersebut pasti masuk ke surga dengan satu syarat, yaitu ikhlas. Apa yang dimaksud mengucapkannya dengan ikhlas? Yang dimaksud dengannya ialah bahwa kita setelah mengucapkan kalimat: Lâ ilâha illallâh (tidak ada tuhan selain Allah), kalimat tersebut berpengaruh ke dalam jiwa kita sehingga ia dapat mencegah diri-diri kita dari apa-apa yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ع يَقُولُ مَا مِنْ شَيْ‏ءٍ أَعْظَمَ ثَوَابًا مِنْ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْ‏ءٌ وَ لاَ يَشْرَكُهُ فِي الأُمُورِ أَحَدٌ
Dari Abû Hamzah berkata: Saya telah mendengar Abû Ja‘far as berkata, "Tidak ada sesuatu yang paling besar pahalanya selain dari kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak diimbangi oleh sesuatu dan tidak ada satu pun yang menyekutui-Nya di dalam segala urusan." 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص خَيْرُ الْعِبَادَةِ قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ قَالَ خَيْرُ الْعِبَادَةِ الإِسْتِغْفَارُ وَ ذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ فِي كِتَابِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ اسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
Rasûlullâh saw bersabda, "Sebaik-baik ibadah adalah mengucapakan: Lâ ilâha illallâh ." Dan beliau bersabda, "Sebaik-baik ‘ibadah adalah istighfâr dan yang demikian itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla dalam kitab-Nya, Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan mintalah kamu pengampunan untuk dosamu."   

عَنْ يَعْقُوبَ الْقُمِّيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ ثَمَنُ الْجَنَّةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ   
Dari Ya‘qûb Al-Qummi dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Harga surga adalah lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar ."  

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ قَالَ جَبْرَئِيلُ ع لِرَسُولِ اللَّهِ ص طُوبَى لِمَنْ قَالَ مِنْ أُمَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ وَحْدَهُ وَحْدَهُ
Dari Abû ‘Abdillâh as berkata: Jabra`îl as berkata kepada Rasûlullâh saw, "Beruntunglah ummatmu yang mengucapkan: Lâ ilâha illallâhu wahdahu wahdahu wahdah (tidak ada tuhan selain Allah sendiri Dia sendiri Dia sendiri Dia)."   

    عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ قَالَ عَشْرَ مَرَّاتٍ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَ قَبْلَ غُرُوبِهَا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيتُ وَ يُمِيتُ وَ يُحْيِي وَ هُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَدِيرٌ كَانَتْ كَفَّارَةً لِذُنُوبِهِ ذَلِكَ الْيَوْمَ
 Dari ‘Abdul Karîm bin ‘Utbah dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Siapa yang mengucapkan sepuluh kali sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya: Lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku walahul hamdu yuhyî wa yumîtu wa yumîtu wa yuhyî wa huwa hayyun lâ yamût, biyadihil khairu wa huwa ‘alâ kulli syai`in qadîr. Adalah sebagai penghapus bagi dosa-dosanya pada hari itu."  

عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ
Dari Abû ‘Ubaidah Al-Hadzdzâ` dari Abû Ja‘far as berkata, "Siapa yang mengucapkan: Asyhadu an lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasûluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasûl-Nya) niscaya Allah mencatat baginya sejuta kebaikan."  
   
عَنْ عُمَرَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ مَنْ قَالَ فِي كُلِّ يَوْمٍ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ إِلَهًا وَاحِدًا أَحَدًا صَمَداً لَمْ يَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَ لاَ وَلَدًا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ أَلْفَ حَسَنَةٍ وَ مَحَا عَنْهُ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ أَلْفَ سَيِّئَةٍ وَ رَفَعَ لَهُ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ أَلْفَ دَرَجَةٍ وَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى وَ كُنَّ لَهُ حِرْزًا فِي يَوْمِهِ مِنَ السُّلْطَانِ وَ الشَّيْطَانِ وَ لَمْ تُحِطْ بِهِ كَبِيرَةٌ مِنَ الذُّنُوبِ
Dari ‘Umar bin Yazîd, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Siapa yang mengucapkan pada setiap hari sepuluh kali: Asyhadu an lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, ilâhan wâhidan ahadan shamadan lam yattakhidz shâhibatan walâ waladâ (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri tidak ada sekutu bagi-Nya, Tuhan yang satu yang tunggal yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu, yang tidak punya istri dan tidak anak), niscaya Allah mencatat baginya 25000 kebaikan, menghapus darinya 25000 keburukan dan mengangkat baginya 25000 derajat. Dan pada riwayat yang lain, "…dan kalimat itu menjadi penjagaan baginya pada harinya dari sulthân dan syaithân dan tidak meliputinya dosa yang besar."  

    عَنِ الأَوْزَاعِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ مَنْ قَالَ فِي كُلِّ يَوْمٍ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ حَقًّا حَقًّا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عُبُودِيَّةً وَ رِقًّا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ إِيْمَانًا وَ صِدْقًا أَقْبَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَ لَمْ يَصْرِفْ وَجْهَهُ عَنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ
Diriwayatkan dari Al-Auzâ‘i dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Siapa yang mengucapkan pada setiap hari: Lâ ilâha illallâhu haqqan haqqâ, lâ ilâha illallâhu ‘ubûdiyyatan wa riqqâ, lâ ilâha illallâhu îmânan wa shidqâ (tidak ada tuhan selain Allah dengan benar dengan benar, tidak ada tuhan selain Allah dengan pengabdian dan penghambaan, tidak ada tuhan selain Allah dengan keimanan dan pembenaran), niscaya Allah menghadap kepadanya dengan wajah-Nya dan Dia tidak memalingkan wajah-Nya darinya sehingga dia masuk ke dalam surga."  
   
عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ يَا أَبَانُ إِذَا قَدِمْتَ الْكُوفَةَ فَارْوِ هَذَا الْحَدِيثَ مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصاً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ قَالَ قُلْتُ لَهُ إِنَّهُ يَأْتِينِي مِنْ كُلِّ صِنْفٍ مِنَ الأَصْنَافِ أَ فَأَرْوِي لَهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ نَعَمْ يَا أَبَانُ إِنَّهُ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ وَ جَمَعَ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَ الآخِرِينَ فَتُسْلَبُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مِنْهُمْ إِلاَّ مَنْ كَانَ عَلَى هَذَا الأَمْر
Dari Abbân bin Taghlib dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Wahai Abbân apabila kamu datang ke Al-Kûfah, maka riwayatkanlah hadîts ini: Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dengan ikhlas wajib baginya surga." Dia berkata kepadanya, "Sesungguhnya akan datang kepadaku dari setiap golongan (madzhab ), apakah aku mesti meriwayatkan hadîts ini kepada mereka?" Beliau berkata, "Ya wahai Abbân, sesungguhnya apabila hari kiamat telah terjadi dan Allah mengumpulkan ummat terdahulu dan terakhir, maka diambil (pahala) lâ ilâha illallâh dari mereka, kecuali orang yang ada pada ajaran ini (berpegang kepada Kitâb Allah dan Ahlulbait Rasûlullâh)."  

عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ حَمَّادٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ مَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلَاةِ الْفَرِيضَةِ قَبْلَ أَنْ يَثْنِيَ رِجْلَيْهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ذُو الْجَلاَلِ وَ الإِكْرَامِ وَ أَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ لَهُ ذُنُوبَهُ وَ لَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Dari Al-Husain bin Hammâd dari Abû Ja‘far as berkata, "Siapa yang mengucapkan di belakang shalat farîdhah sebelum melipat kedua kakinya: Astaghfirullâhal ladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qayyûmu dzul jalâli wal ikrâmi wa atûbu ilaih , tiga kali."  

Dan tentang keutamaan kalimat tauhîd untuk mengobati berbagai penyakit yang terdapat dalam Al-Quran, akan disebutkan.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص مَا قُلْتُ وَ لاَ قَالَ القَائِلُونَ قَبْلِي مِثْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Dari Abû Sa'îd Al-Khudri berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Tidak kukatakan dan tidak pula orang-orang sebelumku (perkataan yang paling baik) semisal lâ ilâha illallâh (tidak ada tuhan selain Allah).”  

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ آبَائِهِ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص خَيْرُ العِبَادَةِ قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Dari Abû ‘Abdillâh Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya (Muhammad bin ‘Ali) dari ayah-ayahnya (‘Ali bin Husain dari Husain bin ‘Ali dari ‘Ali bin Abî Thâlib as) dia berkata, “Rasûlullâh saw bersabda, 'Sebaik-baik 'ibadah adalah ucapan lâ ilâha illallâh .'”  

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْ‏ءٍ أَعْظَمَ ثَوَابًا مِنْ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْ‏ءٌ وَ لاَ يُشْرِكُهُ فِي الأَمْرِ أَحَدٌ
Dari Abû Hamzah dari Abû Ja‘far as dia berkata, “Saya telah mendengar beliau berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling besar pahalanya selain bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, karena Allah ‘azza wa jalla (yang maha mulia dan yang maha agung) tidak diimbangi oleh sesuatu dan tidak disekutui di dalam urusan oleh satu makhluk pun."  

عَنِ الْمُفَضَّلِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ ع إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى ضَمِنَ لِلْمُؤْمِنِ ضَمَانًا قَالَ قُلْتُ وَ مَا هُوَ قَالَ ضَمِنَ لَهُ إِنْ هُوَ أَقَرَّ لَهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ وَ لِمُحَمَّدٍ ص بِالنُّبُوَّةِ وَ لِعَلِيٍّ ع بِالْإِمَامَةِ وَ أَدَّى مَا افْتُرِضَ عَلَيْهِ أَنْ يُسْكِنَهُ فِي جِوَارِهِ قَالَ قُلْتُ فَهَذِهِ وَ اللهِ الكَرَامَةُ الَّتِي لاَ يُشْبِهُهَا كَرَامَةُ الآدَمِيِّينَ قَالَ ثُمَّ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ ع اِعْمَلُوا قَلِيْلاً تَتَنَعَّمُوا كَثِيْرًا
Dari Al-Mufadhdhal bin ‘Umar berkata: Abû ‘Abdillâh as berkata, “Sesungguhnya Allah yang maha berkah dan maha tinggi benar-benar telah memberikan jaminan bagi orang beriman.” Dia bertanya, “Apakah itu?” Beliau menjawab, “Dia memberikan jaminan untuknya jika dia mengikrarkan ke-rubûbiyyah-an bagi-Nya, kenabian bagi Muhammad saw dan keimaman bagi ‘Ali as, dan dia melaksanakan apa yang telah Dia wajibkan atasnya bahwa Dia akan menempatkannya di sisi-Nya.” Dia berkata, “Maka hal ini demi Allah adalah kemuliaan yang tidak diserupai oleh kemuliaan manusia." Kemudian Abû ‘Abdillâh berkata, "Berbuatlah kamu sedikit, niscaya kamu memperoleh kenikmatan dengan banyak.”   

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص مَنْ مَاتَ وَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا أَحْسَنَ أَوْ أَسَاءَ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Dari Abû ‘Abdillah dari ayahnya dari kakeknya as berkata: Rasûlullâh saw bersabda, “Siapa yang meninggal dunia asalkan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, baik dia telah berbuat kebaikan ataupun tidak (tidak melakukan dosa), dia akan masuk ke surga.”  

عَنْ أَبِي بَصِيْرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ ع فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ هُوَ أَهْلُ التَّقْوى وَ أَهْلُ الْمَغْفِرَةِ قَالَ قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى أَنَا أَهْلٌ أَنْ أُتَّقَى وَ لاَ يُشْرِكَ بِي عَبْدِي شَيْئًا وَ أَنَا أَهْلٌ إِنْ لَمْ يُشْرِكْ بِي عَبْدِي شَيْئًا أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَ قَالَ ع إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى أَقْسَمَ بِعِزَّتِهِ وَ جَلاَلِهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ أَهْلَ تَوْحِيْدِهِ بِالنَّارِ أَبَدًا
Dari Abû Bashîr dari Abû ‘Abdillâh as mengenai firman Allah ‘azza wa jalla, Huwa ahlut taqwâ wa ahlul maghfirah (Dia ahli taqwâ dan ahli pengampunan) , beliau mengatakan, “Makna firman Allah tabâraka wa ta‘âlâ itu adalah Aku adalah ahli untuk di-taqwâ-i dan hamba-Ku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu dan Aku ahli jika hamba-Ku tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku untuk Aku masukkan dia ke dalam surga .” Beliau as berkata, “Sesungguhnya Allah yang maha berkah dan maha tinggi telah bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya bahwa Dia tidak akan memberikan azab kepada ahli tauhîd kepada-Nya dengan neraka untuk selama-lamanya.”  

عَنْ أَبِي بَصِيْرٍ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ ع إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى حَرَّمَ أَجْسَادَ الْمُوَحَّدِيْنَ عَلَى النَّارِ
Dari Abû Bashîr Abû ‘Abdillâh as berkata, “Sesungguhnya Allah yang maha berkah dan maha tinggi telah mengharamkan jasad-jasad mereka yang ber-tauhîd atas api nereka.”  

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ ص أَنَّهُ قَالَ الْمُوجِبَتَانِ مَنْ مَاتَ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ دَخَلَ النَّارَ
Dari Jâbir bin ‘Abdillâh, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, “Ada dua hal yang memastikan: Orang mati yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah (sendiri tiada sekutu bagi-Nya) pasti dia masuk surga, dan orang mati yang menyekutukan sesuatu dengan Allah pasti dia masuk neraka.”  

عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ مَنْ أَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Dari Nabi saw berkata, “Setiap yang sombong lagi berpaling adalah orang yang enggan mengucapkan: Lâ ilâha illallâh. ”  

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ مَا مِنَ الكَلاَمِ كَلِمَةٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ مِنْ قَوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فَيَفْرُغُ إِلاَّ تَنَاثَرَتْ ذُنُوبُهُ تَحْتَ قَدَمَيْهِ كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرُ تَحْتَهَا
Dari Ibnu ‘Abbâs dari Nabi saw bersabda, “Tidak ada satu kalimat pun yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla selain kalimat Lâ ilâha illallâh , dan tidak seorang hamba pun yang mengucapkan: Lâ ilâha illallâh yang dia panjangkan denganya suaranya, maka setelah dia mengucapkannya, maka dosa-dosanya berjatuhan di bawah kedua kakinya sebagaimana daun-daun pohon yang berjatuhan di bawahnya.”  

عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِّي قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ لَسَمِعْتُهُ يَقُولُ أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللهِ ص فَقَالَ لِي بَشِّرِ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فَلَهُ الْجَنَّةُ
Dari Abû Harbin bin Zaid bin Khâlid Al-Juhanni berkata: Aku bersaksi atas ayahku Zaid bin Khâlid, sungguh aku telah mendengar dia berkata: Rasûlullâh saw pernah mengutusku dan dia berpesan kepadaku, “Gembirakan manusia bahwa orang yang mengatakan Lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah , maka baginya surga.”  

عَنْ عَلِيٍّ ع قَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ إِلاَّ صَعِدَتْ تُخَرِّقُ كُلَّ سَقْفٍ لاَ تَمُرُّ بِشَيْ‏ءٍ مِنْ سَيِّئَاتِهِ إِلاَّ طَلَسَتْهَا حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مِثْلِهَا مِنَ الْحَسَنَاتِ فَتَقِفُ
Dari ‘Ali as berkata, “Tidak seorang hamba muslim pun yang mengucapkan lâ ilâha illallâh , melainkan kalimat tersebut naik dan merobek setiap sekat, ia tidak melewati satu kesalahan pun melainkan ia menghapusnya hingga ia berhenti kepada kebaikan yang semisalnya, lalu ia pun berhenti.”  

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ ع قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ثَمَنُ الْجَنَّةِ
Dari ‘Ubaid bin Zurârah berkata: Abû ‘Abdillâh as telah berkata, “Ucapan Lâ ilâha illalâh adalah harga surga.”  

عَنِ الصَّادِقِ ع قَالَ مَنْ خَتَمَ صِيَامَهُ بِقَوْلٍ صَالِحٍ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ تَقَبَّلَ اللهُ مِنْهُ صِيَامَهُ فَقِيْلَ لَهُ يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ مَا القَوْلُ الصَّالِحُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ العَمَلُ الصَّالِحُ إِخْرَاجُ الفِطْرَةِ
Dari Al-Shâdiq as dia berkata, “Siapa yang menutup puasanya dengan ucapan yang baik atau perbuatan yang baik, niscaya Allah terima shaumnya.” Ada orang yang bertanya kepadanya, “Wahai putra Rasûlullâh, apakah ucapan yang baik itu?” Beliau menjawab, Syahâdatu an lâ ilâha illallâh , dan perbuatan yang baik itu adalah mengeluarkan zakat fitrah. "  

عَنِ الرِّضَا عَلِيِّ بْنش مُوسَى عَنْ أَبِيْهِ عَنْ آبَائِهِ عَنْ عَلِيٍّ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص مَا جَزَاءُ مَنْ أَنْعَمَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ عَلَيْهِ بِالتَّوْحِيْدِ إِلاَّ الْجَنَّةَ.
Dari Al-Ridhâ ‘Ali bin Mûsâ dari ayahnya dari ayah-ayahnya dari ‘Ali as berkata: Rasûlullâh saw bersabda, “Tidak ada balasan bagi orang yang Allah karuniakan tauhîd kepadanya selain surga.”   

قَالَ رَسُولُ اللهِ ص مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ طَُلَِسَتْ مَا فِي صَحِيْفَتِهِ مِنَ السَّيِّئَاتِ
Rasûlullah saw telah bersabda, “Siapa yang mengucapkan: Lâ ilâha illallâh dalam sesaat di malam hari atau sesaat pada siang hari, maka hal itu akan menghapuskan beberapa keburukannya yang tercatat dalam buku catatannya.”  

قَالَ رَسُولُ اللهِ ص إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ عَمُودًا مِنْ يَاقُوتضةٍ حَمْرَاءَ رَأْسُهُ تَحْتَ العَرْشِ وَ أَسْفَلُهُ عَلَى ظَهْرِ الْحُوتِ فِي الأَرْضِ السَّابِعَةِ السُّفْلَى فَإِذَا قَالَ العَبْدُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اهْتَزَّ العَرْشُ وَ تَحَرَّكَ العَمُودُ وَ تَحَرَّكَ الْحُوتُ فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى اُسْكُنْ يَا عَرْشِي فَيَقُولُ كَيْفَ أَسْكُنُ وَ أَنْتَ لَمْ تَغْفِرْ لِقَائِلِهَا فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى اِشْهَدُوا سُكَّانَ سَمَاوَاتِي أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِقَائِلِهَا
Rasûlullâh saw bersabda, “Sesungguhnya Allah punya tiang dari permata yaqut merah yang kepalanya berada di bawah singgasana dan yang paling bawahnya diatas punggung ikan besar di bumi yang ketujuh yang paling dasar, maka apabila seorang hamba mengucapkan: Lâ ilâha illallâh , berguncanglah singgasana, bergetarlah tiang dan bergeraklah ikan besar itu, lalu Allah yang maha berkah dan maha tinggi berfirman, Saksikanlah wahai para penghuni langit-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni orang yang mengucapkannya.”   

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص يَقُولُ اللهُ جَلَّ جَلاَلُهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَهُ أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
Dari ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata: Rasûlullâh saw telah bersabda, “Allah yang mulia kemulian-Nya berfirman, Lâ ilâha illallâh adalah benteng-Ku dan siapa yang memasuki benteng-Ku, niscaya dia aman dari siksaan-Ku .”  

عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ع قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ص يَقُولُ قَالَ اللهُ جَلَّ جَلاَلُهُ إِنِّي أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِي مَنْ جَاءَ مِنْكُمْ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ بِالإِخْلاَصِ دَخَلَ فِي حِصْنِي وَ مَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
 ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata: Aku telah mendengar Nabi saw bersabda, “Allah yang maha mulia kemuliaan-Nya berfirman, Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka mengabdilah kamu kepada-Ku. Siapa yang datang dari kamu dengan kesaksian (syahâdah) bahwa tidak ada tuhan selain Allah dengan ikhlas, maka dia akan memasuki benteng-Ku, dan siapa yang masuk ke dalam benteng-Ku, dia aman dari siksa-Ku .”  

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ع قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ص يَقُولُ سَمِعْتُ جَبْرَئِيْلَ يَقُولُ سَمِعْتُ اللهَ جَلَّ جَلاَلُهُ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
Dari Amîrul Mu`minîn ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata: Aku mendengar Rasûlullâh saw berkata, “Aku mendengar Jabra`îl as mengatakan, “Aku mendengar Allah jalla jalâluh berfirman, Lâ ilâha illallâh adalah benteng-Ku, siapa yang masuk ke dalam benteng-Ku, maka dia aman dari siksa-Ku .”  

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ خَرَجْتُ لَيْلَةً مِنَ اللَّيَالِي فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ص يَمْشِي وَحْدَهُ لَيْسَ مَعَهُ إِنْسَانٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَكْرَهُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَهُ أَحَدٌ قَالَ فَجَعَلْتُ أَمْشِي فِي ظِلِّ القَمَرِ فَالْتَفَتَ فَرَآنِي فَقَالَ مَنْ هَذَا؟  قُلْتُ أَبُو ذَرٍّ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاكَ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ تَعَالَ فَمَشَيْتُ مَعَهُ سَاعَةً فَقَالَ إِنَّ الْمُكَثِّرِيْنَ هُمُ الأَقَلُّونَ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلاَّ مَنْ أَعْطَاهُ اللهُ خَيْرًا فَنَفَحَ مِنْهُ بِيَمِيْنِهِ وَ شِمَالِهِ وَ بَيْنَ يَدَيْهِ وَ وَرَاءَهُ وَ عَمِلَ فِيْهِ خَيْرًا. قَالَ فَمَشَيْتُ مَعَهُ سَاعَةً فَقَالَ اِجْلِسْ هَاهُنَا وَ أَجْلَسَنِي فِي قَاعٍ حَوْلَهُ حِجَارَةٌ فَقَالَ لِي اِجْلِسْ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَيْكَ قَالَ وَ انْطَلِقْ فِي الْحَرَّةِ حَتَّى لَمْ أَرَهُ وَ تَوَارَى عَنِّي فَأَطَالَ اللَّبَثُ ثُمَّ إِنِّي سَمِعْتُهُ ص وَ هُوَ مُقْبِلٌ وَ هُوَ يَقُولُ وَ إِنْ زَنَى وَ إِنْ سَرَقَ قَالَ فَلَمَّا جَاءَ لَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاكَ مَنْ تُكَلِّمُهُ فِي جَانِبِ الْحَرَّةِ فَإِنِّي مَا سَمِعْتُ أَحَدًا يَرِدُ عَلَيْكَ مِنَ الْجَوَابِ شَيْئًا قَالَ ذَاكَ جَبْرَئِيْلُ عَرَضَ لِي فِي جَانِبِ الْحَرَّةِ فَقَالَ بَشِّرْ أُمَّتَكَ أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ عَزَّ وَ جَلَّ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ قُلْتُ يَا جَبْرَئِيْلُ وَ إِنْ زَنَى وَ إِنْ سَرَقَ قَالَ نَعَمْ وَ إِنْ شَرِبَ الْخَمْرَ
Dari Abû Dzarr rahimahullâh berkata, suatu malam saya keluar, tiba-tiba saya lihat Rasûlullâh saw berjalan sendirian, tak ada orang yang menemaninya, maka aku kira bahwa dia tidak suka ada orang yang menyertainya, kemudian aku mulai berjalan di bawah cahaya bulan, lalu beliau menoleh dan melihatku sehingga beliau menegurku, “Siapa itu?” Saya jawab, “Abû Dzarr, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” Beliau berkata, “Wahai Abû Dzarr kemarilah!” Kemudian aku berjalan sesaat bersamanya, beliau berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang kaya itu adalah orang-orang yang miskin pada hari kiamat, kecuali manusia yang mendapat taufiq untuk suka infâq ke kanannya ke kirinya ke depannya dan ke belakangnya dan dia berikan sebagian kekayaannya kepada orang-orang miskin.” Kemudian aku berjalan lagi sesaat bersamanya, lalu beliau bersabda, “Duduklah di sini!” Beliau mendudukkan aku di satu tempat yang dikelilingi bebatuan. Dia berkata padaku, “Duduklah sehingga aku kembali kepadamu.” Beliau pergi pada tanah yang menggunung hingga aku tidak melihatnya dan dia tersembunyi dariku, beliau lama di sana, kemudian aku mendengar beliau saw datang dan mengatakan, “Sekalipun dia telah berzina dan sekalipun dia telah mencuri.” Maka setelah dia datang, aku tidak sabar ingin segera bertanya, lalu aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu, siapakah yang engkau ajak bicara di balik tanah yang tinggi itu?” Karena sesungguhnya aku tidak mendengar seseorang yang menjawabmu sedikit pun juga. Beliau berkata, “Jabra`îl, dia datang kepadaku di balik tanah yang menggunung itu, ia berkata kepadaku, 'Gembirakan ummatmu bahwa orang yang mati yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah ‘azza wa jalla pasti dia masuk ke surga.' Kemudian aku berkata kepada-nya, 'Wahai Jabra`îl sekalipun dia berzina dan mencuri?' Dia menjawab, 'Ya, sekalipun dia pernah meminum minuman keras.’” 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص بَيْنَا رَجُلٌ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ يِنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ وَ إِلَى النُّجُومِ وَ يَقُولُ وَ اللهِ إِنَّ لَكَ لَرَبًّا هُوَ خَالِقُكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي قَالَ فَنَظَرَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَيْهِ فَغَفَرَ لَهُ
Dari Abû Hurairah berkata: Rasûlullâh saw bersabda, "Ketika ada orang yang telentang di atas punggungnya memandang langit dan bintang-bintang seraya orang itu berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu itu mempunyai Tuhan, Dialah yang menciptakanmu. Ya Allah ampunilah aku.' Lalu Allah ‘azza wa jalla memandangnya dan mengampuninya." 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ ص فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ عَلَى العِبَادِ ؟ يَقُولُهَا ثَلاَثًا قَالَ قُلْتُ اللهُ وَ رَسُولُهُ أَعْلَمُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ حَقُّ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ عَلَى العِبَادِ أَنْ لاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ ص هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَ رَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ لاَ يُعَذِّبَهُمْ أَوْ قَالَ أَنْ لاَ يُدْخِلَهُمُ النَّارَ
Dari Mu‘adz bin Jabal dia berkata: Aku dibonceng Nabi saw, lantas beliau berkata, “Wahai Mu‘adz, tahukah kamu apa hak Allah ‘azza wa jalla atas hamba-hamba?" Dia mengatakannya sampai tiga kali. Saya berkata, “Allah dan Rasûl-Nya yang lebih tahu.” Rasûlullâh saw berkata, “Hak Allah ‘azza wa jalla atas hamba-hamba yaitu bahwa mereka tidak boleh menyekutukan sesuatu dengan-Nya.” Kemudian beliau saw bertanya lagi, “Tahukah kamu apa hak hamba-hamba atas Allah ‘azza wa jalla apabila mereka melakukan itu?” Jawabku, “Allah dan Rasûl-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Dia tidak akan menyiksa mereka” atau beliau berkata, “Dia tidak akan memasukkan mereka ke dalam neraka.”  

عَنْ عَلِيٍّ ع فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ هَلْ جَزَاءُ الإِحْسَانِ إِلاَّ الإِحْسَانُ قَالَ عَلِيٌّ ع سَمِعْتُ رَسَولَ اللهِ ص يَقُولُ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ قَالَ مَا جَزَاءُ مَنْ أَنْعَمْتُ عَلَيْهِ بِالتَّوْحِيْدِ إِلاَّ الْجَنَّةَ
Dari ‘Ali as tentang firman Allah ‘azza wa jalla, Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan. ‘Ali as berkata, “Aku telah mendengar Rasûlullâh saw mengatakan, 'Tidak ada balasan bagi orang yang Aku telah berikan karunia dengan tauhîd selain surga.’”  

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص وَ الَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ بَشِيْرًا لاَ يُعَذِّبُ اللهُ بِالنَّارِ مُوَحِّدًا أَبَدًا وَ إِنَّ أَهْلَ التَّوْحِيْدِ لَيُشَفِّعُونَ فَيُشَفَّعُونَ ثُمَّ قَالَ ع إِنَّهُ إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ أَمَرَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى بِقَوْمٍ سَاءَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي دَارِ الدُّنْيَا إِلَى النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا رَبَّنَا كَيْفَ تُدْخِلُنَا النَّارَ وَ قَدْ كُنَّا نُوَحِّدُكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَ كَيْفَ تُحْرِقُ بِالنَّارِ أَلْسِنَتَنَا وَ قَدْ نَطَقْتُ بِتَوْحِيْدِكَ فِي دَارِ الدُّنيَا وَ كَيْفَ تُحْرِقُ قُلُوبَنَا وَ قَدْ عَقَدْتُ عَلَى أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَمْ كَيْفَ تُحْرِقُ وُجُوهَنَا وَ قَدْ عَفَّرْنَاهَا لَكَ فِي التُّرَابِ أَمْ كَيْفَ تُحْرِقُ أَيْدِيَنَا وَ قَدْ رَفَعْنَاهَا بِالدُّعَاءِ إِلَيْكَ فَيَقُولُ اللهُ جَلَّ جَلاَلُهُ عِبَادِي سَاءَتْ أَعْمَالُكُمْ فِي دَارِ الدُّنيَا فَجَزَاؤُكُمْ نَارُ جَهَنَّمَ فَيَقُولُونَ يَا رَبَّنَا عَفْوُكَ أَعْظَمُ أَمْ خَطِيْئَتُنَا فَيَقُولُ عَزَّ وَ جَلَّ بَلْ عَفْوِي فَيَقُولُونَ رَحْمَتُكَ أَوْسَعُ أَمْ ذُنُوبُنَا فَيَقُولُ عَزَّ وَ جَلَّ بَلْ رَحْمَتِي فَيَقُولُونَ إِقْرَارُنَا بِتَوْحِيْدِكَ أَعْظَمُ أَمْ ذُنُوبُنَا فَيَقُولُ عَزَّ وَ جَلَّ بَلْ إِقْرَارُكُمْ بِتَوْحِيْدِي أَعْظَمُ فَيَقُولُونَ يَا رَبَّنَا فَلْيَسَعْنَا عَفْوُكَ وَ رَحْمَتُكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْ‏ءٍ فَيَقُولُ اللهُ جَلَّ جَلاَلُهُ مَلاَئِكَتِي وَ عِزَّتِي وَ جَلاَلِي مَا خَلَقْتُ خَلْقًا أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْمُقِرِّيْنَ لِي بِتَوْحِيْدِي وَ أَنْ لاَ إِلَهَ غَيْرِي وَ حَقٌّ عَلَيَّ أَنْ لاَ أُصْلِيَ بِالنَّارِ أَهْلَ تَوْحِيْدِي أَدْخِلُوا عِبَادِي الْجَنَّةَ
Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullah saw telah bersabda, “Demi Tuhan yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai penyampai kabar gembira, Allah tidak akan menyiksa orang yang ber-tauhîd dengan api neraka untuk selama-lamanya, dan sesungguhnya ahli tauhîd itu akan mendapatkan syafa‘at.” Kemudian beliau saw berkata, “Bila telah terjadi hari kiamat, Allah yang maha berkah dan maha tinggi memerintahkan suatu golongan yang buruk amalnya di negeri dunia untuk memasuki neraka, lantas mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami mengapakah Engkau memasukkan kami ke dalam neraka sementara kami men-tauhîd-kan-Mu di negeri dunia? Dan bagaimana Engkau akan membakar lidah-lidah kami dengan api neraka padahal lidah-lidah ini mengucapkan tauhîd kepada-Mu di negeri dunia? Dan bagamanakah Engkau akan membakar hati-hati kami dengan api neraka sedangkan hati-hati ini telah meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Engkau? Atau bagaimanakah Engkau akan membakar wajah-wajah kami dengan api neraka padahal kami telah menempelkannya ke tanah? Atau bagaimanakah Engkau akan membakar tangan-tangan kami padahal tangan-tangan ini telah kami angkat untuk berdoa kepada-Mu?' Kemudian Allah yang maha agung kemuliaan-Nya berfirman, Hamba-hamba-Ku, amal-amal kamu di negeri dunia itu jelek, maka balasan untuk kamu adalah neraka Jahannam . Lalu mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami apakah maaf-Mu yang lebih besar ataukah kesalahan kami?' Dia ‘azza wa jalla berfirman, Bahkan maaf-Ku . Mereka berkata, 'Apakah kasih-Mu yang lebih luas ataukah dosa-dosa kami?' Dia ‘azza wa jalla berfirman, Bahkan kasih-Ku . Mereka berkata, 'Apakah ikrar kami dengan ber-tauhîd kepada-Mu yang lebih besar ataukah dosa-dosa kami?' Dia ‘azza wa jalla berfirman, Bahkan ikrar kamu dengan tauhîd kepada-Ku yang lebih besar . Mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami, luaskanlah kepada kami maaf-Mu dan kasih-Mu yang meliputi segala sesuatu.' Allah yang agung kemuliaan-Nya berfirman, Wahai malaikat-Ku, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak menciptakan suatu makhluk yang lebih Aku cintai selain mereka yang telah berikrar untuk-Ku dengan ber-tauhîd kepada-Ku dan bahwa tidak ada tuhan selain Aku dan hak atas-Ku untuk tidak memasukkan ahli tauhîd kepada-Ku ke dalam neraka, masukkan hamba-hamba-Ku itu ke dalam surga .”  

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيْهِ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِيْهِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ عَن أَبِيْهِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا أَحْسَنَ أَوْ أَسَاءَ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya Muhammad bin ‘Ali dari ayahnya ‘Ali bin Al-Husain dari ayahnya Al-Husain bin ‘Ali dari ayahnya ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, apakah dia berbuat baik atau telah berbuat keburukan, dia masuk ke surga.”  

عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ وَ أَبِي أَيُّوبَ قَالاَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ ع مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَ أَفْضَلَ النَّاسِ ذَلِكَ اليَوْمَ عَمَلاً إِلاَّ مَنْ زَادَ
Dari Hisyâm bin Sâlim dan Abû Ayyûb mereka berkata: Abû ‘Abdillâh as berkata, “Siapa yang mengucapkan Lâ ilâha illallâh sebanyak seratus kali, dia termasuk manusia yang paling utama amalnya pada hari itu, kecuali kalau ada orang lain yang melebihinya.”  

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ قَالَ اللهُ جَلَّ جَلاَلُهُ لِمُوسَى يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَ عَامِرِيْهِنَّ وَ الأَرَضِيْنَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri dari Nabi saw berkata, “Allah jalla jalâluh telah berfirman kepada Mûsâ, Wahai Mûsâ, seandainya seluruh langit dan para penghuni yang memakmurkannya berikut bumi yang tujuh diletakkan pada satu daun neraca dan kalimah lâ ilâha illallâh pada daun neraca yang lain, niscaya lâ ilâha illallâh lebih berat .”  

عَنْ عُمَرَ بْنِ يَزِيْدَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ ع قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ قَالَ فِي يَوْمٍ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِلَهًا وَاحِدًا أَحَدًا صَمَدًا لَمْ يَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَ لاَ وَلَدًا كَتَبَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ لَهُ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِيْنَ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَ مَحَا عَنْهُ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِيْنَ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَ رَفَعَ لَهُ فِي الْجَنَّةِ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِيْنَ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَ كَانَ كَمَنْ قَرَأَ القُرْآنَ اثْنَتَي عَشْرَةَ مَرَّةً وَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Dari ‘Umar bin Yazîd dari Abû ‘Abdillâh as dia berkata: Saya telah mendengar beliau mengatakan, “Siapa yang pada suatu hari dia mengucapkan: Asyhadu an lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, ilâhan wâhidan shamadan lam yattakhidz shâhibatan walâ waladâ , Allah ‘azza wa jalla mencatatkan baginya empat puluh lima juta derajat, dan dia seperti orang yang telah membaca Al-Quran dua belas kali, dan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga.”   

Tahlîl yang ke Surga
Mengucapkan kalimat lâ ilâha illallâh yang artinya tidak ada tuhan selain Allah sangatlah mudah, namun ketika syaratnya dipenuhi mulailah kita kesulitan, sebab potensi buruk yang ada dalam diri kita mulai menentang syaratnya. Syaratnya itu ikhlas, dan ciri-ciri ikhlasnya ialah tidak melakukan kemaksiatan baik secara ritual maupun sosial.

Apabila kita mengucapkan kalimat lâ ilâha illallâh sampai jutaan kali, tetapi kita banyak melanggar perintah-Nya atau larangan-Nya, maka tentu syaratnya tidak terpenuhi, dan ketika syaratnya tidak terpenuhi, maka masuk ke dalam surganya juga tidak jadi, coba renungkanlah! Tegasnya kalimat: Tidak ada tuhan selain Allah, yakni لا إله إلا الله itu, maknanya menolak segala sesuatu yang bukan dari Allah dan menerima segala sesuatu yang dari Allah.
 
قَالَ رَسُولُ اللهِ ص إِنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كَلِمَةٌ عَظِيْمَةٌ كَرِيْمَةٌ عَلَى اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ مَنْ قَالَهَا مُخْلِصًا اِسْتَوْجَبَ الْجَنَّةَ وَ مَنْ قَالَهَا كَاذِبًا عَصَمْتُ مَالَهُ وَ دَمَهُ وَ كَانَ مَصِيْرُهُ إِلَى النَّارِ
Rasûlullâh saw bersabda, “Sesungguhnya lâ ilâha illallâh itu adalah kalimat yang agung lagi mulia bagi Allah ‘azza wa jalla, siapa yang mengucapkannya dengan ikhlas, niscaya dia mendapatkan surga, dan siapa yang mengucapkannya dengan berdusta, dia hanya terjaga harta dan darahnya saja sedangkan perjalanannya menuju ke neraka.”  
   
    عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَ إِخْلاَصُهُ أَنْ تَحْجُزَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ
Dari Zaid bin Arqam, dari Nabi saw berkata, “Siapa yang mengucapkan: Lâ ilâha illallâh dengan ikhlas pasti dia masuk ke surga, dan (tanda) ikhlasnya itu ialah bahwa dia dapat dicegah oleh lâ ilâha illallâh dari apa-apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan." 

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَعْفَرٍ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص أَتَانِي جَبْرَئِيْلَ بَيْنَ الصَّفَا وَ الْمَرْوَةِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ طُوبَى لِمَنْ قَالَ مِنْ أُمَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ مُخْلِصًا
Dari Abû ‘Abdillah Ja‘far as telah berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Jabra`îl datang kepadaku antara Al-Shafâ dan Al-Marwah, lalu dia berkata, 'Wahai Muhammad, beruntunglah ummatmu yang mengucapkan: Lâ ilâha illallâhu wahdah dengan ikhlas.'" 

عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ يَا أَبَانُ إِذَا قَدِمْتَ الْكُوفَةَ فَارْوِ هَذَا الْحَدِيثَ مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ قَالَ قُلْتُ لَهُ إِنَّهُ يَأْتِينِي مِنْ كُلِّ صِنْفٍ مِنَ الأَصْنَافِ أَ فَأَرْوِي لَهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ نَعَمْ يَا أَبَانُ إِنَّهُ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ وَ جَمَعَ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَ الْآخِرِينَ فَتُسْلَبُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مِنْهُمْ إِلاَّ مَنْ كَانَ عَلَى هَذَا الْأَمْر.
Dari Abbân bin Taghlib, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, “Wahai Abbân, apabila kamu datang ku Kûfah, maka riwayatkanlah hadîts ini: Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dengan ikhlas wajib baginya surga." Dia bertanya kepadanya, "Sesungguhnya akan datang kepadaku dari setiap golongan, apakah aku mesti meriwayatkan hadîts ini kepada mereka?" Dia berkata, "Ya wahai Abbân, sesungguhnya apabila hari kiamat telah terjadi dan Allah mengumpulkan ummat terdahulu dan terakhir, maka diambil (pahala ucapan) lâ ilâha illallâh dari mereka, kecuali orang yang ada pada ajaran ini (berpegang kepada Kitâb Allah dan Ahlulbait Rasûlullâh)."   

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَمْرَانَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ ع قَالَ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَ إِخْلاَصُهُ أَنْ تَحْجُزَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ
Dari Muhammad bin Hamrân, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, “Siapa yang mengucapkan: Lâ ilâha illallâh dengan ikhlas, niscaya dia masuk ke surga, dan ikhlasnya itu adalah dia dapat dicegah oleh lâ ilâha illallâh dari apa-apa yang Allah 'azza wa jalla haramkan."

Sun, 23 Mar 2014 @21:36


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved