Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Doa-doa dalam Shalat

DOA-DOA DALAM SHALAT

Doa Qunût
    حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا ِللهِ قَانِتِيْنَ
Jagalah oleh kamu semua shalat dan shalat wusthâ (shalat zhuhur) dan berdirilah kamu karena Allah dengan ber-qunût.  
Dengan ber-qunût itu maknanya dengan taat serta berdoa. Membaca qunût itu sangat ditekankan pada shalat-shalat yang dikeraskan khususnya dalam shalat shubuh, witir dan shalat Jumat. Qunût dilaksanakan pada raka‘at kedua sebelum ruku‘ dan pada shalat witir.

Dalam shalat ‘îd, sembilan kali qunût-nya; lima kali pada raka‘at pertama dan empat kali pada raka‘at kedua. Dalam shalat ayat, membaca qunût-nya lima kali; sebelum ruku‘ kedua, ruku‘ keempat, ruku‘ keenam, ruku‘ kedelapan dan sebelum ruku‘ yang kesepuluh.

Dan dalam shalat Jumat qunût-nya dua kali; sebelum ruku‘ pada raka‘at pertama, dan setelah ruku‘ pada raka‘at kedua.

Qunût yang Panjang
Shalat yang utama adalah shalat yang qunût-nya panjang dan lama, tapi jangan dilakukan ketika sebagai imam shalat. Dan qunût itu ada kaitannya dengan rehat pada hari kiamat yang sangat dahsyat.

Abû Dazrr berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Orang yang paling panjang qunût-nya di antara kalian di negeri dunia ini adalah orang yang paling lama rehatnya  pada hari kiamat di mauqif (tempat pengadilan).”  

Dan dalam sabdanya yang lain, “Yang paling lama di antara kamu qunût-nya dalam shalat witir di negeri dunia….”   

Dan sebagian riwayat dikatakan bahwa memanjangkan qunût lebih utama dari memanjangkan bacaan Al-Quran dalam shalat.

Diriwayatkan dari Jâbir: Rasûlullâh saw berkata, “Shalat yang paling utama adalah panjang qunût-nya.” 

Disunnahkan mengucapkan takbîr sebelum qunût dengan mengangkat kedua tangan pada waktu mengucapkan takbîr dan menurunkannya kembali, lalu mengangkatnya ke hadapan wajah dengan menjadikan kedua telapak tangan ke arah langit dan kedua punggungnya ke arah bumi, dengan merapatkan jari-jemarinya selain kedua ibu jari, dan pandangan mata ditujukan kepada kedua telapak tangan. Dan setelah menyampaikan doa qunût, kedua telapak tangan tidak diusapkan ke atas wajah.

Qunût sebelum Ruku pada Raka‘at Kedua
Dan doa qunût itu dilaksanakannya pada rakaat kedua sebelum ruku‘ sebagaimana yang dikatakan Anas (sahabat Nabi) kepada ‘Âshim bahwa qunût itu disampaikan sebelum ruku‘.

Dalil qunût dalam shalat versi umum.  Dan doa qunût dalam shalat dilaksanakan pada rakaat kedua sebelum rukû‘. 

‘Abdurrahmân telah mendengar Abû Hurairah berkata, "Sungguh akan kudekatkan kepadamu shalat Rasûlullâh saw." Maka Abû Hurairah ber-qunût pada (shalat) zhuhur, ‘isyâ yang terakhir dan subuh, dia berdoa untuk orang-orang yang beriman dan dia melaknat orang-orang yang kâfir. 

Berdasarkan riwayat tersebut, kalau shalat kita ingin seperti shalat Rasûlullâh saw, antara lain kita sampaikan doa qunût di dalam shalat tersebut.

Qunût dalam Shalat Farîdhah dan Nâfilah
Hadîts-hadîts Rasûlullâh saw mengenai doa qunût yang diriwayatkan Ahlulbaitnya cukup jelas dan tegas sebagaimana pada dalil-dalil berikut ini.

Muhammad bin Muslim meriwayatkan dari Abû Ja‘far as bahwa beliau berkata, "Qunût itu pada setiap dua raka‘at pada shalat tathawwu‘ (sunnah) dan farîdhah." 

Dari Al-Hârits bin Al-Mughîrah berkata: Abû ‘Abdillâh as telah berkata, "Qunût-lah kamu pada setiap dua raka‘at baik shalat farîdhah dan nâfilah sebelum ruku."

Doa qunût sangat dianjurkan dalam shalat farîdhah dan nâfilah. Diriwayatkan dari Muhammad bin Muslim: bahwa Imam Muhammad Al-Bâqir as berkata, “Qunût pada setiap dua raka‘at dalam shalat tathawwu‘ (nâfilah) dan shalat farîdhah.” 

Hukum Meninggalkan Qunût karena Benci   
Kalau kita meninggalkan doa qunût dalam shalat karena benci atau tidak suka, maka shalat kita dipandang tidak sah.

Dari Wahb bin ‘Abdi Rabbih dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Siapa yang meninggalkan doa qunût karena membencinya, maka tidak ada shalat baginya." 

Tidak ada Doa yang Ditentukan dalam Qunût       
Ismâ‘îl bin Al-Fadhl berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang qunût dan apa yang mesti diucapkan padanya. Kemudian beliau berkata, "Apa yang Allah tentukan atas lidahmu (terserah kamu), dan aku tidak mengetahui padanya ada sesuatu (doa) yang ditentukan." 

Dari Al-Halabi, dari Abû ‘Abdillâh as mengenai qunût dalam witir: Apakah ada padanya suatu (doa) yang ditentukan yang mesti diikuti dan diucapkan? Kemudian beliau berkata, "Tidak, sampaikan saja pujian kepada Allah ‘azza wa jalla, shalawât kepada Nabi saw dan minta ampun bagi dosa kamu yang besar." Kemudian beliau mengatakan, "Semua dosa adalah besar." 

Kalau kita ingin berkata-kata dengan Allah dalam shalat dengan bahasa apa saja, maka pada waktu qunût-lah tempatnya.

Imam Muhammad Al-Jawâd as berkata, “Tidak mengapa seseorang berkata-kata dalam shalat farîdhah dengan segala sesuatu yang dengannya dia bermunajat kepada Rabbnya ‘azza wa jalla.”

Dalam qunût boleh membaca sya‘ir yang mengandung doa seperti: Ilâhî ‘abdukal ‘âshî atâk, muqirran bidz dzunûbi wa qad da‘âk. (Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang durhaka telah datang kepada-Mu, dengan mengaku dosa-dosa dan dia berdoa kepada-Mu).

Dalam qunût tidak disyaratkan mengangkat kedua tangan dan tidak pula mengucapkan dzikir atau doa tertentu, tetapi boleh apa yang mengalir atas lidah kita baik berupa dzikir kepada Allah, doa, munajat atau mencari hajat, dan sekurang-kurangnya mengucapkan kalimat subhânallâh sebanyak lima kali atau tiga kali atau kalimat bismillâhir rahmânir rahîm tiga kali atau alhamdu lillâh tiga kali bahkan cukup subhânallâh atau seluruh dzikir satu kali.

Dalam qunût boleh baca Al-Quran yang mengandung doa seperti: Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ min ladunka rahmatan innaka antal wahhâb . (Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau gelincirkan hati-hati kami setelah Engkau tunjuki kami, dan berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha pemberi).

Jadi qunût itu boleh dengan bahasa selain bahasa Arab, akan tetapi tentu saja yang lebih baik adalah bahasa dan kalimat yang diriwayatkan dari Rasûlullâh dan Ahlulbaitnya.

Beberapa Qunût yang Diriwayatkan dari Ahlulbait
        1- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ, وَمَا فِيْهِنَّ وَمَا بَيْنَهُنَّ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا هَدَيْتَنَا بِهِ, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا أَكْرَمْتَنَا بِهِ, اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنِ اخْتَرْتَ لِدِيْنِكَ, وَخَلَقْتَهُ لِجَنَّتِكَ. اللَّهُمَّ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Lâ ilâha illallâhul halîmul karîm, lâ ilâha illallâhul ‘aliyyul ‘azhîm, lâ ilâha illallâhu rabbus samâwâtis sab‘i wa rabbul aradhînas sab‘i, wa mâ fîhinna wa mâ baina-hunna wa rabbul ‘arsyil ‘azhîm, walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn. Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin kamâ hadaitanâ bih. Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin kamâ akramtanâ bih. Allâhummaj‘alnâ mimmanikhtarta lidînik, wa khalaqta lijannatik. Allâhumma lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ min ladunka rahmah, innaka antal wahhâb.

Tidak ada tuhan selain Allah yang maha sabar yang maha mulia, tidak ada tuhan selain Allah yang maha tinggi yang maha agung, tidak ada tuhan selain Allah pemilik langit-langit yang tujuh dan pemilik bumi yang tujuh dan apa-apa yang ada padanya dan yang ada di antaranya dan pemilik singgasana yang agung, dan segala puji bagi Allah pemilik alam semesta. Ya Allah curahkanlah shalawât kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah menunjuki kami dengannya. Ya Allah curahkanlah shalawât kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah memuliakan kami dengannya. Ya Allah jadikanlah kami di antara orang yang Engkau pilih dan Engkau ciptakan untuk surga-Mu. Ya Allah janganlah Engkau gelincirkan hati-hati kami setelah Engkau tunjuki kami, dan berikanlah kepada kami kasih dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pemberi. 

2- اللَّهُمَّ إِلَيْكَ شُخِصَتِ اْلأَبْصَارُ، وَنُقِلَتِ اْلأَقْدَامُ، وَرُفِعَتِ اْلأَيْدِي وَمُدَّتِ اْلأَعْنَاقُ، وَ أَنْتَ دُعِيْتَ بِاْلأَلْسُنِ، وَإِلَيْكَ سِرُّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ فِي اْلأَعْمَالِ، رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَ أَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَشْكُو إِلَيْكَ فَقْدَ نَبِيِّنَا، وَقِلَّةَ عَدَدِنَا، وَكَثْرَةَ عَدُوِّنَا، وَتَظَاهُرَ اْلأَعْدَاءِ عَلَيْنَا، وَوُقُوْعَ الْفِتَنِ بِنَا، فَفَرِّجْ ذَالِكَ اللَّهُمَّ بِعَدْلٍ تُظْهِرُهُ، وَإِمَامِ حَقٍّ تُعَرِّفُهُ, إِلَهَ الْحَقِّ آمِيْنَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Allâhumma ilaika syukhishatil abshâr, wa nuqilâtil aqdâm, wa rufî‘atil aidî wa muddatil a‘nâq, wa anta du‘îta bil alsun, wa ilaika sirruhum wa najwâhum fil a‘mâl. Rabbanaftah bainanâ wa baina qauminâ bil haqqi wa anta khairul fâtihîn. Allâhumma innâ nasykû ilaika faqda nabiyyinâ wa ghaibata imâminâ, wa qillata ‘adadinâ, wa katsrata ‘aduwwinâ, wa tazhâhural a‘dâi ‘alâinâ, wa wuqû‘al fîtani binâ. Fafarrij dzâlikallâhuma bi‘adlin tuzh-hiruh, wa imâmi ‘adlin tu‘arrifuh, ilâhal haqqi ãmîna rabbal ‘âlamîn.

Ya Allah kepada-Mu pandangan-pandangan ditujukan, kaki-kaki dipindahkan, tangan-tangan diangkatkan dan leher-leher dipanjangkan. Engkau diseru dengan berbagai bahasa, kepada-Mu rahasia dan bisikan mereka dalam perbuatan dihadapkan. Wahai Tuhan yang mengatur kami, bukakanlah antara kami dan antara kaum kami dengan kebenaran dan Engkau sebaik-baik yang membuka. Ya Allah, sesungguhnya kami mengadukan kepada-Mu hilangnya Nabi kami, ghaibnya Imam kami, sedikitnya jumlah kami, banyaknya musuh kami, penguasaan musuh-musuh atas kami dan terjadinya fitnah-fitnah pada lingkungan kami. Maka lapangkanlah hal yang demikian itu dengan keadilan yang Engkau tampakkan dan Imam keadilan yang Engkau kenalkan, wahai Tuhan kebenaran, kabulkanlah wahai pemilik alam semesta. 

3- اللَّهُمَّ لَكَ أَخْلَصَتِ الْقُلُوْبُ, وَإِلَيْكَ شُخِصَتِ اْلأَبْصَارُ, وَ أَنْتَ دُعِيْتَ بِاْلأَلْسُنِ, وَإِلَيْكَ نَجْوَاهُمْ فِي اْلأَعْمَالِ, فَافْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَشْكُوْ إِلَيْكَ غَيْبَةَ نَبِيِّنَا، وَكَثْرَةَ عَدُوِّنَا, وَقِلَّةَ عَدَدِنَا، وَهَوَانِنَا عَلَى النَّاسِ, وَشِدَّةَ الزَّمَانِ, وَوُقُوْعَ الْفِتَنِ بِنَا. اللَّهُمَّ فَفَرِّجْ ذَالِكَ بِعَدْلٍ تُظْهِرُهُ، وَسُلْطَانِ حَقٍّ تَعْرِفُهُ
Allâhumma laka akhlashatil qulûb, wa ilaika syukhishatil abshâr, wa anta du‘îta bil alsun, wa ilaika najwâ-hum fil a‘mâl. Faftah bainanâ wa baina qauminâ bil haqq. Allâhumma innâ nasykû ilaika ghaibata nabiyyinâ, wa katsrata ‘aduwwinâ, wa qillata ‘adadinâ, wa hawâninâ ‘alan nâs, wa syiddataz zamân, wa wuqû‘al fîtani binâ. Allâhumma fafarrij dzâlika bi‘adlin tuzh-hiruh, wa sulthâni haqqin ta‘rifuh.

Ya Allah untuk-Mu kusucikan hati, kepada-Mu pandangan ditujukan, dan Engkau diseru dengan berbagai bahasa, kepada-Mu bisikan mereka dalam perbuatan dihadapkan, maka bukakanlah antara kami dan kaum kami dengan kebenaran. Ya Allah, sesungguhnya kami mengadukan kepada-Mu kehilangan Nabi kami, sedikitnya jumlah kami, banyaknya musuh kami, kerendahan kami atas manusia, kerasnya zaman, dan terjadinya fitnah-fitnah pada lingkungan kami. Ya Allah lapangkan hal yang demikian itu dengan keadilan yang Engkau tampakkan dan penguasa kebenaran yang Engkau kenalkan.  

   
4- اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Allâhummaghfir lanâ warhamnâ wa ‘âfînâ wa‘fu ‘annâ fid dun-yâ wal ãkhirah, innaka ‘alâ kulli syai`in qadîr.

Ya Allah ampunilah kami, kasihilah kami, kuatkanlah kami dan maafkanlah kami di dunia dan akhirat, sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.     

Qunût ini juga bisa dibaca pada shalat witir. Abû Bakar bin Abû Sammâk berkata: Beliau berkata kepadaku dalam qunût witir: Allâhummaghfir lanâ warhamnâ wa ‘âfînâ wa‘fu ‘annâ fid dun-yâ wal ãkhirah, innaka ‘alâ kulli syai`in qadîr. Dan beliau (Abû ‘Abdillâh as) berkata, "Telah memadai dalam qunût (membaca) tiga kali tasbîh." 

Qunût dalam Witir
    اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ, وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ, فَإِنَّكَ تَقْضِي وَ لاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, سُبْحَانَكَ رَبَّ الْبَيْتِ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ, وَأُؤْمِنُ بِكَ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ, لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ يَا رَحِيْمُ
Allâhummahdinî fîman hadait, wa ‘âfinî fîman ‘âfait, wa tawallanî fîman tawallait, wa bârik lî fîmâ a‘thait, wa qinî syarra mâ qadhait, fainnaka taqdhî walâ yuqdhâ ‘alaik, subhânaka rabbal bait, astaghfiruka wa atûbu ilaik, wa u`minu bika wa atawakkalu ‘alaik, lâ haula walâ quwwata illâ bika yâ rahîm.

Ya Allah tunjukilah aku pada kalangan orang yang Engkau tunjuki, kuatkanlah aku pada kalangan orang yang Engkau kuatkan, tolonglah aku pada kalangan orang yang Engkau tolong, berkahilah aku pada apa yang telah Engkau berikan, jagalah aku dari keburukan yang Engkau tentukan, karena sesungguhnya Engkau yang menentukan dan tidak ditentukan atas-Mu, maha suci Engkau wahai pemilik Al-Bait, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu dan bertawakkal kepada-Mu, tidak ada daya serta tidak ada kekuatan selain dengan-Mu wahai yang maha penyayang.

Qunût dalam Witir
    رَبِّ أَسَأْتُ وَظَلَمْتُ نَفْسِي وَبِئْسَ مَا صَنَعْتُ, فَهَذِهِ يَدَايَ يَا رَبِّ جَزَاءً بِمَا كَسَبَتْ, وَهَذِهِ رَقَبَتِي خَاضِعَةً لِمَا أَتَيْتُ, وَهَا أَنَا ذَا بَيْنَ يَدَيْكَ, فَخُذْ لِنَفْسِكَ مِنْ نَفْسِيَ الرِّضَا حَتَّى تَرْضَى, لَكَ الْعُتْبَى لاَ أَعُوْدُ
Rabbi asa`tu wa zalamtu nafsî wa bi`sa mâ shana‘tu, fahâdzihî yadâya yâ rabbi jazâ`an bimâ kasabat, wa hâdzihî raqabatî khâdhi‘atan limâ atait, wa hâ anâ dzâ baina yadaik, fakhudz linafsika min nafsiyar ridhâ hattâ tardhâ, lakal ‘utbâ lâ a‘ûd.

Wahai Tuhanku aku telah melakukan keburukan dan menzalimi diriku, dan betapa buruk apa yang telah kulakukan, maka inilah kedua tanganku wahai Tuhanku sebagai balasan terhadap apa yang telah dikerjakan, dan inilah leherku dengan keadaan tunduk terhadap apa yang telah kuperbuat, dan inilah aku di hadapan-Mu, maka ambillah bagi diri-Mu dari diriku keridhaan hingga Engkau ridha, bagi-Mu keridhan aku tidak mengulangi (dosa-dosa).

Kemudian ucapkanlah tiga ratus kali: al-‘afwa (aku mohon maaf). Kemudian ucapkanlah:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ, إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Rabbighfir lî warhamnî wa tub ‘alayy, innaka antat tawwâbur rahîm.

Wahai Tuhanku ampunilah aku, sayangilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau maha penerima tobat. 


Qunût dalam Witir
اللَّهُمَّ خَلَقْتَنِي بِتَقْدِيْرٍ وَتَدْبِيْرٍ وَتَبِصِيْرٍ بِغَيْرِ تَقْصِيْرٍ, وَأَخْرَجْتَنِي مِنْ ظُلُمَاتٍ ثَلاَثٍ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ. أُحَاوِلُ الدُّنْيَا ثُمَّ أُزَاوِلُهَا ثُمَّ أُزَايِلُهَا, وَآتَيْتَنِي الْكَلاَءَ وَالْمَرْعَى, وَبَصَّرْتَنِي الْهُدَى, فَنِعْمَ الرَّبُّ أَنْتَ وَنِعْمَ الْمَوْلَى. فَيَا مَنْ كَرَّمَنِي وَشَرَّفَنِي وَنَعَّمَنِي, أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الزَّقُّوْمِ, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْحَمِيْمِ, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ مَقِيْلٍ فِي النَّارِ بَيْنَ أَطْبَاقِ النَّارِ فِي ظِلاَلِ النَّارِ يَوْمَ النَّارِ يَا رَبَّ النَّارِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مَقِيْلاً فِي الْجَنَّةِ بَيْنَ أَنْهَارِهَا وَأَشْجَارِهَا وَثِمَارِهَا وَرَيْحَانِهَا وَخَدَمِهَا وَأَزْوَاجِهَا. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْخَيْرِ: رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ الشَّرِّ: سَخَطِكَ وَالنَّارِ. هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ, هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ, هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَوْفَكَ فِي جَسَدِي كُلِّهِ, وَاجْعَلْ قَلْبِي أَشَدَّ مَخَافَةًً لَكَ مِمَّا هُوَ, وَاجْعَلْ لِي فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ حَظًّا وَنَصِيْبًا مِنْ عَمَلٍ بِطَاعَتِكَ وَاتِّبَاعِ مَرْضَاتِكَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ مُنْتَهَى غَايَتِي وَرَجَائِي وَمَسْأَلَتِي وَطَلِبَتِي, وَأَسْأَلُكَ يَا إِلَهِي كَمَالَ اْلإِيْمَانِ, وَتَمَامَ الْيَقِيْنِ, وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ, وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ. يَا سَيِّدِي اِجْعَلْ إِحْسَانِي مُضَاعَفًا, وَصَلاَتِي تَضَرُّعًا, وَدُعَائِي مُسْتَجَابًا, وَعَمَلِي مَقْبُوْلاً, وَسَعْيِي مَشْكُوْرًا, وَذَنْبِي مَغْفُوْرًا, وَلَقِّنِي مِنْكَ نَضْرَةً وَسُرُوْرًا, وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ
Allâhumma khalaqtanî bitaqdîrin wa tadbîrin wa tabshîrin bighairi taqshîr, wa akhrajtanî min zhulumâtin tsalâtsin bihaulika wa quwwatik, uhâwilud dun-yâ tsumma uzâwiluhâ tsumma uzâyiluhâ, wa âtaitanil kalâ`a wal mar‘â, wa bashshartanil hudâ fani‘mar rabbu anta wa ni‘mal maulâ.
Fayâ man karramanî wa syarrafanî wa na‘‘amanî, a‘ûdzu bika minaz zaqqûm, wa a‘ûdzu bika minal hamîm, wa a‘ûdzu bika min maqîlin fin nâri baina athbâqin nâri fî zhilâlin nâri yauman nâri yâ rabban nâr.
Allâhumma innî as`aluka maqîlan fil jannati baina anhârihâ wa asyjârihâ wa tsimârihâ wa raihânihâ wa khadamihâ wa azwâjihâ. Allâhumma innî as`aluka khairal khairi ridhwânaka wal jannah, wa a‘ûdzu bika min syarrisy syari sakhathika wan nâr. Hâdzâ maqâmul ‘â`idzi bika minan nâr, hâdzâ maqâmul ‘â`idzi bika minan nâr, hâdzâ maqâmul ‘â`idzi bika minan nâr.
Allâhummaj‘al khaufaka fî jasadî kullih, waj‘al qalbî asyadda makhâfatan laka mimmâ huw, waj‘al lî fî kulli yaumin wa lailatin hazhzhan wa nashîban min ‘amalin bithâ‘atika wattibâ‘i mardhâtik.
Allâhumma anta muntahâ ghâyatî wa rajâ`î wa mas`alatî wa thalabî. As`aluka yâ ilâhî kamâlal îmân, wa tamâmal yaqîn, wa shidqat tawakkuli ‘alaik, wa husnazh zhanni bik. Yâ sayyidij‘al ihsânî mudhâ‘afâ, wa shalâtî tadharru‘â, wa du‘â`î mustajâbâ, wa ‘amalî maqbûlâ, wa sa‘yî masykûrâ, wa dzanbî maghfûrâ, wa laqqinî minka nadhratan wa surûrâ, wa shallallâhu ‘alâ muhammadin wa ãlih.

Ya Allah Engkau telah menciptakanku dengan takdir, pengaturan dan pengawasan tanpa pengurangan, Engkau telah mengeluarkanku dari kegelapan yang tiga dengan daya dan kekuatan-Mu, aku bergelut dengan dunia, lalu mengelolanya kemudian menghilangkannya, Engkau telah mendatangkan kepadaku padanya rerumputan dan tempat menggembala, Engkau perlihatkan kepadaku padanya petunjuk, maka sebaik-baik pengelola dan tuan adalah Engkau.
Wahai yang telah memuliakanku, menghormatiku dan memberiku nikmat, aku berlindung kepada-Mu dari Zaqqûm, aku berlindung kepada-Mu dari Hamîm, dan aku berlindung kepada-Mu dari tempat tinggal di dalam neraka di antara penjara-penjara neraka, di dalam naungan api neraka pada hari api neraka wahai pemilik neraka.
Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu tempat tinggal di dalam surga di antara sungai-sungainya, pepohonannya, buah-buahannya, wewangiannya, pelayannya dan pasangannya. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan yang paling baik yaitu kerelaan-Mu dan surga, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang paling buruk yaitu murka-Mu dan neraka. Inilah tempat berdiri orang yang berlindung kepada-Mu dari api neraka, inilah tempat berdiri orang yang berlindung kepada-Mu dari api neraka, inilah tempat berdiri orang yang berlindung kepada-Mu dari api neraka.
Ya Allah jadikanlah rasa takut kepada-Mu dalam jasadku seluruhnya, dan jadikanlah hatiku kuat rasa takutnya kepada-Mu yang ada padanya, dan jadikanlah bagiku pada setiap hari dan malam bagian dan nasib dari amal karena taat kepada-Mu dan mengikuti keridhaan-Mu.
Ya Allah Engkau puncak dari tujuanku, dambaanku, permohonanku dan tuntutanku. Aku memohon kepada-Mu wahai Tuhanku kesempurnaan îmân, kesempurnaan keyakinan, kebenaran tawakkal kepada-Mu dan kebaikan sangkaan terhadap-Mu. Wahai tuanku (Sayyidî), jadikanlah kebaikanku berlipat ganda, shalatku merendahkan diri, doaku dikabulkan, amalku diterima, usahaku disyukuri dan dosaku diampuni, dan pertemukanlah aku dengan kegembiraan dan kebahagiaan dari-Mu, dan Allah bershalawât bagi Muhammad dan Keluarganya.


Istighfâr dalam Qunût Witir
Abû ‘Abdillâh as berkata, "Astaghfirullâh (aku memohon ampun kepada Allah) dalam witir tujuh puluh kali." 

Dari Abû ‘Abdillâh as beliau berkata, "Siapa yang mengucapkan dalam witirnya: Astaghfirullâha rabbî wa atûbu ilaih, tujuh puluh kali, dan dia terus menerus hingga berlalu satu tahun, niscaya Allah mencatat dia di sisi-Nya termasuk dari kalangan orang-orang yang meminta ampunan pada waktu sahur, dan wajib baginya mendapatkan pengampunan dari Allah 'azza wa jalla." 

Beliau berkata, "Adalah Rasûlullâh saw ber-istighfâr dalam witir tujuh puluh kali dan (setelah itu) beliau mengucapkan: Hâdzâ maqâmul ‘â`idzi bika minan nâr tujuh kali." 

Imam ‘Ali bin Husain Sayyidul ‘Âbidîn as mengucapkan: Al‘afwa al‘afwa (mohon maaf, mohon maaf) sebanyak tiga ratus kali dalam witir pada waktu sahur. 

Kesimpulannya doa qunût baik di shalat farîdhah atau shalat witir, tidak ditentukan, namun penekannya dalam shalat witir istighfâr dan dalam shalat farîdhah doa sebagaimana dalam hadîts berikut ini.

Abû ‘Abdillâh as berkata, "Doa qunût dalam shalat witir istighfâr, dan dalam shalat farîdhah doa." 

Doa atas Musuh
Dalam qunût, baik pada shalat witir atau shalat yang lainnya boleh mendoakan atas musuh, dan kita sebutkan nama-namanya, dan jika tahu nama bapaknya, sebutkan pula.

Diriwayatkan dari ‘Abdullâh bin Hilâl dari Abû ‘Abdillâh dalam sebuah hadîts beliau berkata, "Sesungguhnya Rasûlullâh saw qunût dan mendoakan atas suatu kaum dengan menyebutkan nama-nama mereka dan nama-nama bapak mereka dan suku-suku mereka. Dan 'Ali as melakukan yang demikian itu setelahnya." 

Dari ‘Abdullâh bin Sinân, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Kamu berdoa dalam shalat witir atas musuh, dan apabila kamu mau, sebutkan (nama-nama) mereka, dan kamu ber-istighfâr." 

Qunût dalam Shalat Jumat
Qûnut dalam shalat Jumat dua kali; pertama pada raka‘at yang kesatu sebelum ruku‘ yang doa qunût-nya dianjur-kan seperti di bawah ini, dan keduanya pada raka‘at kedua setelah ruku‘ yang doanya kita dapat memilihnya menurut yang kita inginkan.

Qunût pada Raka‘at Pertama
    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ, وَمَا فِيْهِنَّ وَمَا بَيْنَهُنَّ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا هَدَيْتَنَا بهِ, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا أَكْرَمْتَنَا بِهِ, اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنِ اخْتَرْتَ لِدِيْنِكَ, وَخَلَقْتَهُ لِجَنَّتِكَ. اللَّهُمَّ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Lâ ilâha illallâhul halîmul karîm, lâ ilâha illallâhul ‘aliyyul ‘azhîm, lâ ilâha illallâhu rabbus samâwâtis sab‘i wa rabbul aradhînas sab‘i, wa mâ fîhinna wa mâ bainahunna wa rabbul ‘arsyil ‘azhîm, wal hamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn. Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin kamâ hadaitanâ bih. Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin kamâ akramtanâ bih. Allâhummaj‘alnâ mimmanikhtarta lidînik, wa khalaqta lijannatik. Allâhumma lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ min ladunka rahmah, innaka antal wahhâb.

Tidak ada tuhan selain Allah yang maha sabar yang maha mulia, tidak ada tuhan selain Allah yang maha tinggi yang maha agung, tidak ada tuhan selain Allah pemilik langit-langit yang tujuh dan pemilik bumi yang tujuh dan apa-apa yang ada padanya dan yang ada di antaranya dan pemilik singgasana yang agung, dan segala puji bagi Allah pemilik alam semesta. Ya Allah curahkanlah shalawât kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah menunjuki kami. Ya Allah curahkanlah shalawât kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah memuliakan kami. Ya Allah, jadikanlah kami di antara orang yang Engkau pilih dan yang Engkau ciptakan untuk surga-Mu. Ya Allah janganlah Engkau gelincirkan hati-hati kami setelah Engkau tunjuki kami, dan berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pemberi. 


Doa-doa dalam Sujud
    قَالَ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلاَمُ: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ هُوَ سَاجِدٌ, وَذَالِكَ قَوْلُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
Al-Ridhâ as berkata, "Sedekat-dekat seorang hamba kepada Allah ‘azza wa jalla yaitu pada saat dia sujud, dan hal itu dalam firman-Nya yang maha berkah lagi maha tinggi, Wasjud waqtarib (Dan sujudlah dan dekatkanlah dirimu)." 


    قَالَ الصَّادِقُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: السُّجُودُ مُنْتَهَى الْعِبَادَةِ مِنْ بَنِي آدَمَ
Al-Shâdiq as berkata, "Sujud adalah puncak (muntahâ ) ibadah dari anak-anak Ãdam."  
   
    عَنْ أَبَانٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَيَابَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَدْعُو وَ أَنَا سَاجِدٌ فَقَالَ نَعَمْ فَادْعُ لِلدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ فَإِنَّهُ رَبُّ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ.
Dari 'Abdurrahmân bin Sayâbah berkata: Saya telah bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, "Apakah saya berdoa sedang saya dalam keadaan sujud?" Beliau berkata, "Ya, berdoalah untuk dunia dan akhirat, sebab Dia pemilik dunia dan akhirat." [Furû' Al-Kâfî 3/323]
 
    عَنْ سَعِيْدِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: أَدْعُو وَ أَنَا رَاكِعٌ أَوْ سَاجِدٌ؟ فَقَالَ: نَعَمْ اُدْعُ وَ أَنْتَ سَاجِدٌ, فَإِنَّ أَقْرَبَ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ إِلَى اللهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ, اُدْعُ اللهَ لِدُنْيَاكَ وَآخِرَتِكَ
Dari Sa‘id bin Yasâr dia berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as: Apakah aku berdoa pada saat aku ruku‘ atau sujud? Beliau berkata, "Ya, berdoalah dan kamu sedang sujud, sebab sedekat-dekat hamba kepada Allah ialah pada waktu dia sujud, maka berdoalah kamu kepada Allah untuk urusan duniamu dan akhiratmu."  
   
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هِلَالٍ قَالَ شَكَوْتُ إِلَى أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع تَفَرُّقَ أَمْوَالِنَا وَ مَا دَخَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ عَلَيْكَ بِالدُّعَاءِ وَ أَنْتَ سَاجِدٌ فَإِنَّ أَقْرَبَ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ إِلَى اللَّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ قَالَ قُلْتُ فَأَدْعُو فِي الْفَرِيضَةِ وَ أُسَمِّي حَاجَتِي فَقَالَ نَعَمْ قَدْ فَعَلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ ص فَدَعَا عَلَى قَوْمٍ بِأَسْمَائِهِمْ وَ أَسْمَاءِ آبَائِهِمْ وَ فَعَلَهُ عَلِيٌّ ع بَعْدَهُ
Dari ‘Abdullâh bin Hilâl dia berkata: Saya mengadu kepada Abû ‘Abdillâh as hancurnya harta kami dan musibah yang menimpa kami, maka beliau berkata, "Hendaknya kamu berdoa sedangkan kamu dalam keadaan sujud, sebab sedekat-dekat hamba kepada Allah yaitu dia pada saat sedang sujud." Saya bertanya: Apakah aku berdoa dalam shalat farîdhah dan aku sebutkan kebutuhanku? Beliau berkata, "Ya, Rasûlullâh saw telah melakukan hal yang demikian, beliau berdoa atas suatu kaum dengan (menyebutkan) nama-nama mereka dan nama-nama bapak-bapak mereka, dan ‘Ali as melakukannya setelahnya." 

Doa-doa dalam Sujud
Doa-doa ma`tsûrât yang diriwayatkan dari Nabi saw dan Ahlulbaitnya cukup banyak yang antara lain adalah sebagai berikut.

Doa Rasûlullâh
    سَجَدَ لَكَ سَوَادِي وَخَيَالِي, وَآمَنَ بِكَ فُؤَادِي, أَبُوْءُ إِلَيْكَ بِالنِّعَمِ, وَأَعْتَرِفُ بِكَ بِالذَّنْبِ الْعَظِيْمِ, عَمِلْتُ سُوْءً وَظَلَمْتُ نَفْسِي, فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيْمَ إِلاَّ أَنْتَ, أَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ, وَأَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ, وَأَعُوذُ بِرَحْمَتِكَ مِنْ نِقْمَتِكَ, وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أَبْلُغُ مَدْحَكَ وَالثَّنَاءَ عَلَيْكَ, أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوبُ إِلَيْكَ
Sajada laka sawâdî wa khayâlî, wa ãmana bika fu`âdî, abû`u ilaika binni‘am, wa a‘tarifu bika bidzanbil ‘azhîm, ‘amiltu sû`an wa zhalamtu nafsî, faghfir lî innahu lâ yaghfirudzdzanbal ‘azhîma illâ ant, a‘ûdzu bi‘afwika min ‘uqûbatik, wa a‘ûdzu biradhâka min sakhatik, wa a‘ûdzu birahmatika min niqmatik, wa a‘ûdzu bika minka lâ ablughu madhaka wats tsanâ`a ‘alaik, anta kamâ atsnaita ‘alâ nafsik, astaghfiruka wa atûbu ilaik.

Telah sujud kepada-Mu seluruh jiwaku dan fikirku, dan telah beriman kepada-Mu hatiku, aku mengakui kenikmatan kepada-Mu, dan aku mengaku dosa yang bersar kepada-Mu, aku telah melakukan keburukan dan menzalimi diriku, maka ampunilah aku sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa yang besar selain Engkau. Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung dengan rido-Mu dari murka-Mu, aku berlindung dengan kasih-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung dengan-Mu dari-Mu aku tidak sampai kepada pujian dan sanjungan yang sebenarkan kepada-Mu, Engkau sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu. 


Doa dari Imam ‘Ali
يَا أَحَدُ مَنْ لاَ أَحَدَ لَهُ
Yâ ahadu man lâ ahada lah. (Sampai nafas terputus).

Wahai Tuhan yang satu yang tak ada yang satu (yang semisal) bagi-Nya.

Kemudian ucapkan:

يَا مَنْ لاَ يَزِيْدُ كَثْرَةُ الدُّعَاءِ إِلاَّ جُوْدًا وَكَرمًا
Yâ man lâ yazîdu katsratud du‘â`i illâ judan wa karamâ.
(Sampai nafas terputus).
Wahai Tuhan yang tidak bertambah banyaknya doa selain kemurahan dan kemuliaan.

Kemudian ucapkanlah:

يَا رَبَّ اْلأَرْبَابِ, أَنْتَ أَنْتَ أَنْتَ الَّذِي انْقَطَعَ الرَّجَاءُ إِلاَّ مِنْكَ, يَا عَلِيُّ يَا عَظِيْمُ
Yâ rabbal arbâb anta anta antal ladzinqatha‘ar rajâ`u illâ mink, yâ ‘aliyyu yâ ‘azhîm.

Wahai Tuhan bagi segala (yang dianggap) tuhan, Engkau, Engkau, Engkaulah yang terputus harapan selain dari-Mu, wahai yang maha tinggi, wahai yang maha agung." 


Doa Imam Ja‘far Al-Shâdiq
    سَجَدَ وَجْهِي الْبَالِي لِوَجْهِكَ الْبَاقِي الدَّائِمِ الْعَظِيْمِ, سَجَدَ وَجْهِي الذَّلِيْلُ لِوَجْهِكَ الْعَزِيْزِ, سَجَدَ وَجْهِي الْفَقِيْرُ لِوَجْهِ رَبِّيَ الْغَنِيِّ الْكَرِيْمِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمُ, رَبِّ أَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا كَانَ, وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا يَكُوْنُ, رَبِّ لاَ تُجْهِدْ بَلاَئِي, رَبِّ لاَ تُشْمِتْ بِي أَعْدَائِي, رَبِّ لاَ تُسِئْ قَضَائِي, رَبِّ إِنَّهُ لاَ دَافِعَ وَ لاَ مَانِعَ إِلاَّ أَنْتَ, صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ بِأَفْضَلِ صَلَوَاتِكَ, وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ بِأَفْضَلِ بَرَكَاتِكَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ سَطْوَاتِكَ, وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ جَمِيْعِ غَضَبِكَ وَسَخَطِكَ, سُبْحَانَكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ
Sajada wajhil bâlî liwajhikal bâqid dâ`imil ‘azhîm, sajada wajhidz dzalîlu liwajhikal ‘azîz, sajada wajhil faqîru liwajhi rabbial ghaniyyil karîmil ‘aliyyil ‘azhîm, rabbi astaghfiruka mimmâ kân, wa astaghfiruka mimmâ yakûn, rabbi lâ tujhid balâ`î, rabbi lâ tusymit bî a‘dâ`î, rabbi lâ tusi` qadhâ`î, rabbi innahu lâ dâfi‘a walâ mâni‘a illâ ant, shalli ‘alâ muhammadin wa ãli muhammadin bi`afdhali shalawâtik, wa bârik ‘alâ muhammadin wa ãli muhammadin bi`afdhali barakâtik. Allâhumma innî a‘ûdzu bika min sathwâtik, wa a‘ûdzu bika min jamî‘i ghadhabik wa sakhatik, subhânaka lâ ilâha illâ anta rabbul ‘âlamîn.

Telah sujud wajahku yang usang kepada wajah-Mu yang kekal abadi, telah sujud wajahku yang hina kepada wajah-Mu yang maha mulia, telah sujud wajahku yang membutuhkan kepada wajah Tuhanku yang kaya raya yang maha mulia yang maha tinggi lagi maha agung. Wahai Tuhanku, aku meminta ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang telah kulakukan, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang akan terjadi. Wahai Tuhanku, janganlah Engkau kuatkan balaku. Wahai Tuhanku, jangan Engkau gembirakan musuh-musuhku. Wahai Tuhanku, janganlah Engkau burukkan keputusan terhadapku. Wahai Tuhanku, sunguh tidak ada yang dapat menolak dan tidak ada yang dapat mencegah selain Engkau, curakhanlah shalawât kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dengan seutama-utama shalawât-mu, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad dengan seutama-utama keberkahan-Mu. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekuasaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari murka dan kebencian-Mu. Maha suci Engkau tidak ada tuhan selain Engkau pemilik alam semesta. 


Dari Imam Mumammad Al-Bâqir
    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي حَقًّا حَقًّا, سَجَدْتُ لَكَ يَا رَبِّي تَعَبُّدًا وَرِقًّا. اللَّهُمَّ إِنَّ عَمَلِي ضَعِيْفٌ فَضَاعِفْهُ لِي. اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ, وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Subhanakallâhumma anta rabbî haqqan haqqâ, sajadtu laka yâ rabbi ta‘abbudan wa riqqâ. Allâhumma inna ‘amalî dha‘îfun fadhâ‘ifhu lî. Allâhumma qinî ‘adzâbaka yauma tab‘atsu ‘ibâdaka, wa tub ‘alayya innaka antat tawwâbur rahîm.

Maha suci Engkau yâ Allah, Engkaulah Tuhanku dengan sebenarnya dengan sebenarnya, aku sujud kepada-Mu wahai Tuhanku dengan pengabdian dan penghambaan. Ya Allah, sesungguhnya amal (saleh) ku lemah, maka lipatgandakanlah untukku. Ya Allah, jagalah aku dari 'azab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu, dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau maha penerima tobat lagi maha penyayang. 

Thu, 13 Mar 2014 @15:28


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved