Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Keluarga Muslim [32]

PERCERAIAN (INQITHÂ', THALÂQ, KHULÛ' DAN MAUT)

Di dunia ini, ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan ada pernikahan pasti ada perceraian, sebab pernikahan di dunia ini hanya untuk sementara waktu, oleh karena itu pada saat menikah sisakan di relung hati bahwa kita akan berpisah, maka siap menikah berarti harus siap pula berpisah walaupun berpisah itu sangat menyedihkan.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : جَاءَ جَبْرَئِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَ أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَ اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ لاَقِيهِ
Dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Jabra`îl datang kepada Nabi saw, lalu dia berkata, 'Wahai Muhammad, hiduplah menurut yang engkau kehendaki, maka sesungguhnya engkau akan menjadi mayyit, cintailah orang yang engkau kehendaki, maka sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, dan kerjakanlah apa yang engkau kehendaki, maka sesungguhnya engkau akan menjumpainya." 

1. Cerai Inqithâ‘
Ikatan pernikahan dengan sendirinya terputus (inqithâ' ) dalam pernikahan mut'ah atau mu`aqqat, apabila masa berlaku yang telah disepakatinya sudah berakhir, seperti perceraian yang dipisahkan dengan kematian.

Perceraian ini tidak menyedihkan, sebab dari sejak awal telah dipahami dan disepakati oleh kedua belah pihak, berbeda dengan thalâq dan khulû' yang hanya dilakukan oleh sepihak saja, maka dalam pernikahan mut'ah perceraian itu terjadi dengan damai, dan pernikahan ini bisa diperpanjang kembali jika waktunya telah habis dengan akad, mahar dan waktu yang baru.

2. Cerai Thalâq
Thalâq artinya melepaskan ikatan pernikahan dari pihak suami, meski istrinya sangat mencintainya dan sangat berat untuk berpisah dengannya.

Bila mempertahankan rumah tangga hanya akan menambah dosa, karena hak-hak dan kewajiban suami istri tidak dapat dilaksanakan, maka thalâq adalah solusinya. Dan thalâq itu halal tetapi dibenci jika alasannya hanya karena sudah tidak cinta lagi.

عَنْ سَعْدِ بْنِ طَرِيفٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ ص بِرَجُلٍ فَقَالَ مَا فَعَلْتَ امْرَأَتَكَ قَالَ طَلَّقْتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ قَالَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرَّجُلَ تَزَوَّجَ فَمَرَّ بِهِ النَّبِيُّ ص فَقَالَ تَزَوَّجْتَ قَالَ نَعَمْ ثُمَّ قَالَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ مَا فَعَلْتَ امْرَأَتَكَ قَالَ طَلَّقْتُهَا قَالَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ قَالَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ ثُمَّ إِنَّ الرَّجُلَ تَزَوَّجَ فَمَرَّ بِهِ النَّبِيُّ ص فَقَالَ تَزَوَّجْتَ فَقَالَ نَعَمْ ثُمَّ قَالَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ مَا فَعَلْتَ امْرَأَتَكَ قَالَ طَلَّقْتُهَا قَالَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ قَالَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ يُبْغِضُ أَوْ يَلْعَنُ كُلَّ ذَوَّاقٍ مِنَ الرِّجَالِ وَ كُلَّ ذَوَّاقَةٍ مِنَ النِّسَاءِ
Dari Sa'ad bin Tharîf dari Abû Ja'far as berkata, "Rasûlullâh saw melewati seorang lelaki (yang telah menceraikan istrinya), lalu beliau berkata, 'Apa yang telah kamu perbuat terhadap istrimu?' Dia berkata, 'Saya telah menceraikannya wahai Rasûlullâh.' Beliau berkata, 'Tanpa (dia melakukan) keburukan?' Dia berkata, 'Tanpa (dia melakukan) keburukan.'" Kemudian dia berkata, "Sesungguhnya lelaki itu telah menikah lagi, kemudian Rasûlullâh lewat kepadanya, lalu beliau berkata, 'Kamu telah menikah?' Dia berkata, 'Ya.' Kemudian setelah itu (setelah dia menceraikannya), Rasûlullâh saw berkata kepadanya, 'Apa yang telah kamu perbuat terhadap istrimu?' Dia berkata, 'Saya telah menceraikannya.' Beliau berkata, 'Tanpa melakukan keburukan?' Dia berkata, 'Tanpa melakukan keburukan.' Kemudian lelaki itu menikah lagi, maka Nabi saw melewatinya, lantas beliau berkata, 'Kamu telah menikah?' Dia berkata, 'Ya.' Kemudian setelah itu beliau berkata kepadanya, 'Apa yang kamu perbuat terhadap istrimu?' Dia berkata, 'Saya telah menceraikannya.' Beliau berkata, 'Tanpa (dia melakukan) keburukan?' Dia berkata, 'Tanpa keburukan.' Rasûlullâh saw berkata, 'Sesungguhnya Allah membenci atau melaknat setiap lelaki dzawwâq dan setiap wanita dzawwâqah."' 

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ مَا مِنْ شَيْ‏ءٍ مِمَّا أَحَلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَبْغَضَ إِلَيْهِ مِنَ الطَّلاَقِ وَ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْمِطْلاَقَ الذَّوَّاقَ
Dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Tak ada sesuatu yang Allah 'azza wa jalla halalkan yang lebih dibenci oleh-Nya selain thalâq, dan sesungguhnya Allah benci kepada laki-laki yang suka menjatuhkan thalâq lagi merasakan (jimâ')."   

Dzawwâq dan dzawwâqah artinya orang yang ahli dalam merasakan atau mencicipi, maksudnya julukan bagi lelaki dan wanita yang melakukan kawin-cerai dan kawin cerai, karena selalu mengikuti syahwat dan mencari kepuasan dalam hubungan sexual dengan lawan jenis, dan perceraian yang seperti ini yang dibenci Allah 'azza wa jalla.

Thalâq yang Bisa Kembali dan yang tidak
Thalâq yang bisa dirujuk itu setelah dua kali thalâq, maka setelah dua kali menjatuhkan thalâq, yakni thalâq rujuk lagi dan thalâq lagi (yang kedua kalinya), maka kalau mau rujuk lagi, bersatulah dengan baik, atau kalau mau terus berpisah, maka berpisahlah dengan cara baik pula. Allah berfirman:

    الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيْحٌ بِإِحْسَانٍ
Thalâq (yang dapat diruju') itu dua kali setelah itu boleh rujuk lagi dengan baik atau atau terus berpisah dengan cara yang baik.

Jika seorang lelaki telah menceraikan istrinya tiga kali dengan dua kali kembali (rujû'), maka setelah thalâq yang ketiga kalinya dia tidak bisa kembali kepada mantan istrinya, kecuali mantan istrinya itu telah menikah dengan lelaki lain, dan lelaki itu telah menceraikannya tanpa rekayasa.

Rekayasa itu maksudnya si mantan suami yang telah men-thalâq tiga kali itu menyuruh seseorang untuk menikahi mantan istrinya, lalu dia menceraikannya supaya si mantan suaminya itu bisa menikah lagi. Dan lelaki yang disuruh menikahinya itu disebut muhallil (yang menghalalkan menurut anggapannya), dan rekayasa ini hukumnya haram.

Perempun yang di-thalâq tiga kali oleh suaminya yang pertama, kemudian dia menikah lagi dengan lelaki lain, dan suami yang berikutnya itu menceraikannya,  maka dia bisa menikah lagi dengan mantan suaminya yang pertama.

Dan jika suami yang pertama ini menceraikannya lagi dengan thalâq yang keempat, maka dia bisa ruju'. Dan jika telah men-thalâq istrinya dengan thalâq yang keenam, maka keadaannya seperti setelah tiga kali thalâq, dia tidak bisa rujû' (kembali) kecuali si perempuan tersebut menikah dengan lelaki lain, dan jika telah menikah dengan lelaki lain tanpa rekayasa, dia bisa kembali menikah dengan mantan istrinya.
Dan jika dia menceraikannya dengan thalâq yang ketujuh dan kedelapan, dia bisa rujuk dengan mantan istrinya, tetapi jika dia tekah menjatuhkan thalâq untuk yang kesembilan kalinya, maka dia tidak bisa lagi menikah dengan mantan istrinya untuk selama-lamanya.

Ikatan Nikah Wajib Diputuskan karena Perbedaan Ajaran (Agama)
Muslim dan muslimah tidak boleh menikah kecuali kepada orang yang sama-sama Islam. Jika ada orang Islam yang menikah dengan orang dari agama lain, maka wajib dipisahkan, sebab orang Islam tidak halal bagi mereka. Dan jika ada suami istri yang kâfir, lalu salah satunya masuk Islam, maka harus dipisahkan, dan wanita yang memeluk Islam sedang dia punya suami yang masih kâfir, maka jangan dikembalikan kepada suaminya, kecuali mantan suaminya masuk Islam selama dalam 'iddah-nya. Allah 'azza wa jalla berfirman:

وَ لاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَ لأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَو أَعْجَبَتْكُمْ, وَ لاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَ لَعَيْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ, أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَ اللهُ يَدْعُوا إِلَى الْجَنَّةِ وَ الْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ, وَ يُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Dan jangan kamu menikahi wanita-wanita musyrik (bukan Islam) sebelum mereka beriman, sesungguhnya hamda sahaya wanita yang beriman (muslimah) lebih baik dari wanita yang musyrikah walaupun dia menarik hatimu, dan janganlah kamu nikahkan lelaki-lelaki musyrik (dengan perempuan-perempuan muslimah) hingga mereka beriman, sesungguhnya lelaki budak yang beriman lebih baik dari lelaki musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke jannah dan maghfirah dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا جاءَكُمُ الْمُؤْمِناتُ مُهاجِراتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِناتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَ لا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَ آتُوهُمْ ما أَنْفَقُوا وَ لا جُناحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَ لا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوافِرِ وَ سْئَلُوا ما أَنْفَقْتُمْ وَ لْيَسْئَلُوا ما أَنْفَقُوا ذلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَ اللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jika datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji mereka, Allah lebih tahu dengan keimanan mereka, maka apabila kamu telah mengetahui bahwa mereka beriman, maka janganlah dikembali-kan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kâfir, mereka itu tidak halal bagi orang-orang kâfir, dan orang-orang kâfir tidak halal bagi mereka, dan berikan kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tidak ada dosa atasmu menikahi mereka jika kamu bayar kepada mereka maharnya, dan janganlah kamu tetap berpegang kepada tali pernikahan dengan wanita-wanita kâfir, dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar, dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar, demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu dan Allah maha tahu lagi maha bijaksana.

Men-Thalâq Istri yang Tidak Sepaham
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عِيسَى عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع أَنَّهُ كَانَتْ عِنْدَهُ امْرَأَةٌ تُعْجِبُهُ وَ كَانَ لَهَا مُحِبّاً فَأَصْبَحَ يَوْماً وَ قَدْ طَلَّقَهَا وَ اغْتَمَّ لِذَلِكَ فَقَالَ لَهُ بَعْضُ مَوَالِيهِ جُعِلْتُ فِدَاكَ لِمَ طَلَّقْتَهَا فَقَالَ إِنِّي ذَكَرْتُ عَلِيّاً ع فَتَنَقَّصَتْهُ فَكَرِهْتُ أَنْ أُلْصِقَ جَمْرَةً مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ بِجِلْدِي
Dari 'Utsmân bin 'Îsâ dari seorang lelaki dari Abû Ja'far as bahwa dia mempunyai seorang istri yang menarik hati dan dia mencintainya, lalu suatu hari dia menceraikannya dan karena itu dia bersedih, maka sebagian dari pengikutnya berkata kepadanya, "Kujadikan diriku tebusanmu, mengapakah engkau men-thalâq-nya?" Maka beliau berkata, "Sesungguhnya aku menyebutkan 'Ali as, lalu dia merendahkannya, maka aku tidak suka menempelkan bara dari bara Jahannam ke kulitku." 

عَنْ خَطَّابِ بْنِ سَلَمَةَ قَالَ كَانَتْ عِنْدِي امْرَأَةٌ تَصِفُ هَذَا الْأَمْرَ وَ كَانَ أَبُوهَا كَذَلِكَ وَ كَانَتْ سَيِّئَةَ الْخُلُقِ فَكُنْتُ أَكْرَهُ طَلَاقَهَا لِمَعْرِفَتِي بِإِيمَانِهَا وَ إِيمَانِ أَبِيهَا فَلَقِيتُ أَبَا الْحَسَنِ مُوسَى ع وَ أَنَا أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَهُ عَنْ طَلَاقِهَا فَقُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْهَا فَقَالَ ائْتِنِي غَداً صَلَاةَ الظُّهْرِ قَالَ فَلَمَّا صَلَّيْتُ الظُّهْرَ أَتَيْتُهُ فَوَجَدْتُهُ قَدْ صَلَّى وَ جَلَسَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ وَ جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَابْتَدَأَنِي فَقَالَ يَا خَطَّابُ كَانَ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَةَ عَمٍّ لِي وَ كَانَتْ سَيِّئَةَ الْخُلُقِ وَ كَانَ أَبِي رُبَّمَا أَغْلَقَ عَلَيَّ وَ عَلَيْهَا الْبَابَ رَجَاءَ أَنْ أَلْقَاهَا فَأَتَسَلَّقُ الْحَائِطَ وَ أَهْرُبُ مِنْهَا فَلَمَّا مَاتَ أَبِي طَلَّقْتُهَا فَقُلْتُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَجَابَنِي وَ اللَّهِ عَنْ حَاجَتِي مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ
Dari Khaththâb bin Salamah berkata: Saya punya seorang istri yang mensifati ajaran ini (tidak sama dalam pemahaman), dan ayahnya juga demikian, dia itu buruk perangainya dan saya bermaksud menceraikannya karena pengetahuanku tentang keimanannya dan keimanan ayahnya, lalu saya berjumpa dengan Abû Al-Hasan Mûsâ as dan saya ingin bertanya kepadanya tentang men-thalâq-nya, kujadikan diriku tebusanmu, sesungguhnya saya punya kebutuhan kepadamu, maka izinkanlah saya bertanya kepadamu tentangnya, maka beliau berkata, "Datanglah kepadaku besok pada waktu shalat zhuhur." Dia berkata, "Maka tatkala saya telah melaksanakan shalat zhuhur, saya datang kepadanya, lantas saya mendapatinya telah shalat dan beliau duduk, lalu saya masuk kepadanya dan duduk di hadapannya, maka beliau memulai berbicara kepadaku, beliau berkata, "Wahai Khaththâb, ayahku telah menikahkanku kepada anak perempuan pamanku, dia itu buruk perangainya, ayahku pernah mengunci pintu atasku dan atasnya dengan harapan aku bertemu dengannya, lalu aku naik dinding dan lari darinya,  maka tatkala ayahku meninggal, aku menceraikannya." Maka saya berkata, "Allah maha besar, dia telah menjawabku demi Allah tanpa aku bertanya kepadanya." 

عَنْ خَطَّابِ بْنِ سَلَمَةَ قَالَ دَخَلْتُ عَلَيْهِ يَعْنِي أَبَا الْحَسَنِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ أَنَا أُرِيدُ أَنْ أَشْكُوَ إِلَيْهِ مَا أَلْقَى مِنِ امْرَأَتِي مِنْ سُوءِ خُلُقِهَا فَابْتَدَأَنِي فَقَالَ إِنَّ أَبِي كَانَ زَوَّجَنِي مَرَّةً امْرَأَةً سَيِّئَةَ الْخُلُقِ فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَيْهِ فَقَالَ لِي مَا يَمْنَعُكَ مِنْ فِرَاقِهَا قَدْ جَعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَيْكَ فَقُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَ بَيْنَ نَفْسِي قَدْ فَرَّجْتَ عَنِّي
Dari Khaththâb bin Salamah berkata: Saya masuk kepada beliau yakni Abû Al-Hasan Mûsâ as, dan saya hendak mengadukan kepadanya masalah yang saya jumpai dari istriku dari keburukan akhlaknya, lalu beliau memulai kepadaku, beliau berkata, "Ayahku menikahkanku sekali dengan seorang perempuan yang buruk akhlaknya, lalu saya adukan kepadanya, maka beliau berkata kepadaku, 'Apa yang menghalangimu untuk menceraikannya, sungguh Allah telah menjadikan hal itu (kekuasaan menceraikan) kepadamu."' Maka saya berkata, "Terhadap masalah yang ada antaraku dan diriku, sungguh engkau telah melapangkan dariku." 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِنَّ عَلِيّاً قَالَ وَ هُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ لَا تُزَوِّجُوا الْحَسَنَ فَإِنَّهُ رَجُلٌ مِطْلَاقٌ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ هَمْدَانَ فَقَالَ بَلَى وَ اللَّهِ لَنُزَوِّجَنَّهُ وَ هُوَ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ ص وَ ابْنُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ ع فَإِنْ شَاءَ أَمْسَكَ وَ إِنْ شَاءَ طَلَّقَ
Dari 'Abdullâh bin Sinân dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Sesungguhnya 'Ali telah berkata di atas minbar, 'Janganlah kalian menikahkan Al-Hasan karena dia itu lelaki yang suka memnceraikan istri (mithlâq).' Maka berdiri seorang lelaki dari Hamdân, lantas dia berkata, 'Tidak demi Allah, sungguh kami akan menikahkannya, dia itu putra Rasûlullâh saw dan putra Amîrul Mu`minîn as, maka jika dia mau dia tahan dan bila dia mau dia menceraikan.'" 
 
عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي الْعَلَاءِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِنَّ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ ع طَلَّقَ خَمْسِينَ امْرَأَةً فَقَامَ عَلِيٌّ ع بِالْكُوفَةِ فَقَالَ يَا مَعَاشِرَ أَهْلِ الْكُوفَةِ لَا تُنْكِحُوا الْحَسَنَ فَإِنَّهُ رَجُلٌ مِطْلَاقٌ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ بَلَى وَ اللَّهِ لَنُنْكِحَنَّهُ فَإِنَّهُ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ ص وَ ابْنُ فَاطِمَةَ ع فَإِنْ أَعْجَبَتْهُ أَمْسَكَ وَ إِنْ كَرِهَ طَلَّقَ
Dari Yahyâ bin Abî Al-'Alâ dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Sesungguhnya Al-Hasan bin 'Ali as telah men-thalâq lima puluh perempuan, lalu 'Ali as berdiri di Al-Kûfah, lalu beliau berkata, 'Wahai penduduk Al-Kûfah, janganlah kalian menikahkan Al-Hasan, karena dia itu lelaki yang suka menceraikan istri, maka berdirilah seorang lelaki, lantas dia berkata, 'Tidak demi Allah, sungguh kami akan menikahkannya karena dia itu putra Rasûlullâh saw dan putra Fâthimah as, maka jika perempuan itu manarik hatinya dia mempertahankannya dan jika dia tidak suka dia menceraikannya." 

عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ صَبِيحٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ ثَلَاثَةٌ تُرَدُّ عَلَيْهِمْ دَعْوَتُهُمْ أَحَدُهُمْ رَجُلٌ يَدْعُو عَلَى امْرَأَتِهِ وَ هُوَ لَهَا ظَالِمٌ فَيُقَالُ لَهُ أَ لَمْ نَجْعَلْ أَمْرَهَا بِيَدِكَ
Dari Al-Walîd bin Shabîh dari Abû 'Abdillâh as dia berkata: Saya telah mendengar beliau mengatakan, "Ada tiga yang ditolak doanya; salah satunya lelaki yang berdoa atas istrinya (mendoakan jelek atas istrinya) dan dia menjadi zalim kepadanya (dengan doa yang berlebihan), maka dikatakan kepadanya, Bukankah telah Kami jadikan urusannya di tanganmu?"  

Men-thalâq istri yang tidak baik tidaklah dibenci, bahkan jika dipertahankan hanya akan menambah dosa dan dosa baik baginya atau bagi suaminya, maka thalâq merupakan solusi yang baik seandainya rumah tangga hanya menambah dosa.

Imam Hasan as termasuk orang sering menceraikan istri dan tentu tidak berdosa sedikit pun, karena menikah dengan perempuan-perempuan itu adalah keinginan si perempuan itu sendiri atau yang jelas ayah-ayah mereka sangat mendambakan putri-putrinya itu dinikahi oleh Imam Hasan as, sebab beliau itu selain tampan juga orang yang sangat saleh, dan beliau salah satu anggota Ahlulbait yang disucikan sesuci-sucinya, beliau adalah khalîfah Rasûlullâh saw setelah ayahandanya 'Ali bin Abî Thâlib as.

Beliau sering menceraikan istri-istrinya, karena sangat banyak perempuan yang ingin menjadi istrinya, hal ini barangkali dikarenakan beristri tidak boleh lebih dari empat orang istri, maka jika ada istri yang ditawarkan oleh orang tuanya, tentu beliau harus menceraikan dulu salah satunya supaya istrinya tetap empat orang. Maka thalâq beliau sama sekali tidaklah tercela atau dibenci. Adapun perkataan Imam 'Ali as kepada khalayak hanyalah mengkhawatirkan adanya keberatan dari pada para orang tua, namun ternyata tidak ada. Dan bahkan para orang tua merasa senang jika anak perempuannya dinikahi oleh beliau as walaupun nantinya mesti diceraikan.

3. Cerai Khulû'
Jika lelaki punya kekuasaan thalâq atas istrinya, maka perempuan juga punya kekuasaan menceraikan suami yang disebut dengan khulû'. Secara bahasa baik thalâq maupun khulû' artinya melepaskan ikatan pernikahan.

Bila si istri tidak suka kepada perilaku suaminya yang zalim dan dia tidak mau bersabar atasnya, sementara suaminya tidak mau menceraikannya, maka si istri bisa menceraikan suaminya dengan khulû', yaitu di hadapan saksi dia mengembalikan mahar (atau nilainya) yang pernah diberikan oleh suaminya.

4. Cerai Maut
Perkara yang sering kali memisahkan antara suami dan istri adalah maut (kematian); jika salah satunya meninggal, maka dengan sendirinya ikatan pernikahan di antara mereka berdua telah terputus.

Apabila suami yang meninggal dunia, maka istri wajib menunggu waktu (ber-'iddah), yaitu tidak segera menikah selama empat bulan sepuluh hari, dan setelah habis masa 'iddah-nya, dia bisa menikah lagi dengan laki-laki lain yang disukainya. Allah 'azza wa jalla berfirman.

وَ الَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَ يَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَ عَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Dan orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri, (hendaklah istri-istri itu) menangguhkan dirinya (ber-'iddah) empat bulan sepuluh hari, kemudian apabila telah habis masa 'iddah-nya, maka tidak ada dosa bagimu (para wali) tentang apa yang mereka perbuat pada diri-diri mereka menurut yang patut. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Hak Pengasuhan Anak
Selama anak dalam masa menyusu, hak ibunya dan hak ayahnya sama, tetapi jika telah diputus menyusunya, maka ayahnya lebih berhak kepadanya daripada ibunya.

Jika ayahnya meninggal dunia, maka ibunya lebih berhak kepadanya dari keluarga ayahnya.

Bila ayahnya mendapatkan perempuan yang mau menyusuinya dengan biaya yang lebih murah dari ibunya, dia berhak mengambilnya, tetapi bila ibunya lebih sayang kepada anaknya, maka dia harus membiarkannya bersama ibunya.

Ibunya lebih berkak kepada anaknya selama dia belum menikah lagi.
Bila lelaki menceraikan istrinya yang sedang hamil, maka dia wajib memberi nafkah kepadanya selama kehamilannya, dan jika dia telah melahirkan, maka mantan suaminya wajib memberikan upah kepadanya.

عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ وَ الْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ قَالَ مَا دَامَ الْوَلَدُ فِي الرَّضَاعِ فَهُوَ بَيْنَ الْأَبَوَيْنِ بِالسَّوِيَّةِ وَ إِذَا فُطِمَ فَالأَبُ أَحَقُّ بِهِ مِنَ الأُمِّ فَإِذَا مَاتَ الأَبُ فَالْأُمُّ أَحَقُّ بِهِ مِنَ الْعَصَبَةِ فَإِنْ أَوْجَدَ الْأَبُ مَنْ يُرْضِعُهُ بِأَرْبَعَةِ دَرَاهِمَ وَ قَالَتِ الأُمُّ لَا أُرْضِعُهُ إِلاَّ بِخَمْسَةِ دَرَاهِمَ فَإِنَّ لَهُ أَنْ يَنْزِعَهُ مِنْهَا إِلاَّ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ خَيْراً لَهُ وَ أَرْفَقَ بِهِ أَنْ يَتْرُكَهُ مَعَ أُمِّهِ
Dari Dâwud bin Al-Hushain dari Abû 'Abdillâh as berkata (tentang firman Allah), "Dan para ibu menyusui anak-anaknya ." Beliau berkata, "Selama anak dalam masa menyusui, maka dia antara kedua orang tuanya sama, tetapi jika telah diputus (menyusuinya), maka bapak lebih berhak kepadanya dari ibu, jika bapak meninggal, maka ibu lebih berhak kepadanya dari 'ashabah (keluarga bapak), maka bila ayahnya mendapatkan perempuan yang menyusuinya dengan upah empat dirham (lebih murah dari ibunya), dan ibu berkata aku tidak mau menyusui kecuali dibayar lima dirham, maka bagi bapaknya mencabutnya darinya kecuali ibunya itu lebih baik baginya dan lebih sayang kepadanya dan ayahnya membiarkannya bersama ibunya." 

عَنِ الْمِنْقَرِيِّ عَمَّنْ ذَكَرَهُ قَالَ سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يُطَلِّقُ امْرَأَتَهُ وَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ أَيُّهُمَا أَحَقُّ بِالْوَلَدِ قَالَ الْمَرْأَةُ أَحَقُّ بِالْوَلَدِ مَا لَمْ تَتَزَوَّجْ
Dari Al-Minqari dari orang yang menyebutkannya berkata, "Abû 'Abdillâh as telah ditanya tentang lelaki yang menceraikan istrinya dan di antara mereka berdua ada seorang anak, siapakah di antara mereka berdua yang paling berhak dengan anak itu?" Beliau berkata, "Perempuan (ibunya) lebih berhak kepada anak itu selama dia (ibunya) belum menikah lagi." 

عَنْ فَضْلٍ أَبِي الْعَبَّاسِ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع الرَّجُلُ أَحَقُّ بِوَلَدِهِ أَمِ الْمَرْأَةُ فَقَالَ لاَ بَلِ الرَّجُلُ فَإِذَا قَالَتِ الْمَرْأَةُ لِزَوْجِهَا الَّذِي طَلَّقَهَا أَنَا أُرْضِعُ ابْنِي بِمِثْلِ مَا تَجِدُ مَنْ يُرْضِعُهُ فَهِيَ أَحَقُّ بِهِ
Dari Fadhl Abul 'Abbâs berkta berkata, "Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, apakah lelaki lebih berhak dengan anaknya ataukah perempuan?" Beliau berkata, "Tidak, tetapi lelaki (ayahnya lebih berhak apabila ada perempuan yang menyusui anaknya dengan nafkah yang lebih murah), maka bila perempuan itu berkata kepada suaminya yang telah menceraikannya, 'Saya akan menyusui anak saya semisal wanita yang kamu dapati yang bisa menyusuinya.' Maka ibunya lebih berhak kepadanya." 
 
عَنْ أَبِي الصَّبَّاحِ الْكِنَانِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِذَا طَلَّقَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَ هِيَ حُبْلَى أَنْفَقَ عَلَيْهَا حَتَّى تَضَعَ حَمْلَهَا وَ إِذَا أَرْضَعَتْهُ أَعْطَاهَا أَجْرَهَا وَ لاَ يُضَارُّهَا إِلاَّ أَنْ يَجِدَ مَنْ هُوَ أَرْخَصُ أَجْرًا مِنْهَا فَإِنْ هِيَ رَضِيَتْ بِذَلِكَ الأَجْرِ فَهِيَ أَحَقُّ بِابْنِهَا حَتَّى تَفْطِمَهُ
Dari Abû Al-Shabâh Al-Kinâni dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Apabila lelaki menceraikan istri pada waktu hamil, dia wajib memberikan nafkah kepadanya sampai dia melahirkan kandungannya, dan apabila dia menyusuinya, dia (suami yang menceraikannya) wajib memberikan upah kepadanya, dia tidak boleh menyusahkannya kecuali apabila dia mendapati orang yang lebih murah upahnya darinya. Maka jika dia rela dengan upah itu, dia lebih berhak kepada anaknya sampai dia memutuskan susuannya."

Thu, 13 Mar 2014 @08:37


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved