Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Shalat Nabi saw [10]

SHALAT-SHALAT YANG LIMA

Sebelum mendirikan shalat fardhu yang lima, ada adab-adabnya yang mesti kita perhatikan, yaitu terlebih dahulu kita dianjurkan untuk membaca doa tawassul yang telah ditentukan. Di bawah ini, ada empat doa yang biasa dibaca sebelum shalat, dan kita bisa memilih salah satunya.

Doa Tawajjuh dan Tawassul Sebelum Shalat
1- اللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَ أُقَدِّمُهُمْ بَيْنَ يَدَيْ صَلاَتِي، وَ أَتَقَرَّبُ بِهِمْ إِلَيْكَ، فَاجْعَلْنِي بِهِمْ وَجِيْهًا فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ. اللَّهُمَّ فَكَمَا مَنَنْتَ عَلَيَّ بِمَعْرِفَتِهِمْ، فَاخْتِمْ لِي بِطَاعَتِهِمْ وَ مَعْرِفَتِهِمْ وَ وِلاَيَتِهِمْ فَإِنَّهَا السَّعَادَةُ، وَ اخْتِمْ لِي بِهَا فإِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Allâhumma innî atawajjahu ilaika bi muhammadin wa ãli muhammad, wa uqaddimuhum baina yadai shalâtî, wa ataqarrabu bihim ilaik, faj‘alnî bihim wajîhan  fîd dun-yâ wal ãkhirati wa minal muqarrabîn. Allâhumma fakamâ mananta ‘alayya bima‘rifatihim, fakhtim lî bithâ‘atihim wa ma‘rifatihim wa wilâyatihim fainnahas sa‘âdah, wakhtim lî bihâ fainnaka ‘alâ kulli syai`in qadîr.

Ya Allah, sesungguhnya aku menghadap kepada-Mu dengan Muhammad dan keluarga Muhammad dan aku kedepankan mereka di hadapan shalatku dan dengan mereka aku mendekatkan diri kepada-Mu, maka  jadikanlah aku mulia dengan mereka di dunia dan akhirat, dan jadikanlah aku di antara mereka yang didekati. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepadaku dengan mengenal mereka, maka berilah aku karunia dengan mentaati mereka, karena hal yang demikian itu keberuntungan, dan berilah aku karunia dengannya, karena sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu. 

2- يَا مُحْسِنُ قَدْ أَتَاكَ الْمُسِيْئُ، وَ قَدْ أَمَرْتَ الْمُحْسِنَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنِ الْمُسِيْئِ، وَ أَنْتَ الْمُحْسِنُ وَ أَنَا الْمُسِيْئُ، فَبِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَ تَجَاوَزْ عَنْ قَبِيْحِ مَا تَعْلَمُ مِنِّي
Yâ muhsinu qad atâkal musî`u, wa qad amartal muhsina an yatajâwaza ‘anil musî`, wa antal muhsinu wa anal musî`u, fabihaqqi muhammadin wa ãli muhammad, shalli ‘alâ muhammadin wa ãli muhammad, wa tajâwaz ‘an qabîhi mâ ta‘lamu minnî.

Wahai yang berbuat kebaikan, telah datang kepada-Mu pelaku keburukan dan Engkau telah memerintahkan kepada orang yang berbuat kebaikan untuk memaafkan orang yang berbuat keburukan, Engkaulah yang berbuat kebaikan sedangkan aku pelaku keburukan, maka dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad, curahkanlah shalawât kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dan hapuskanlah keburukan yang Engkau ketahui dariku. 

3- اللَّهُمَّ إِنِّي أُقَدِّمُ إِلَيْكَ مُحَمَّدًا بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِي وَ أَتَوَجَّهُ بِهِ إِلَيْكَ، فَاجْعَلْنِي بِهِ وَجِيْهًا عِنْدَكَ فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ، اِجْعَلْ صَلاَتِي بِهِ مَقْبُوْلَةً، وَ ذَنْبِي بِهِ مَغْفُوْرًا، وَ دُعَائِي بِهِ مُسْتَجَابًا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
Allâhumma innî uqaddimu ilaika muhammadan shallallâhu ‘alaihi wa ãlihi baina yadai hâjjatî, wa atawajjahu bihi ilaika, faj‘alnî bihi wajîhan  ‘indaka fîd dun-yâ wal ãkhirati wa minal muqarrabîn, ij‘al shalâtî bihi maqbûlah, wa dzanbî bihi maghfûrâ, wa du‘âî bihi mustajâbâ, innaka antal ghafûrur rahîm.

Ya Allah, sesungguhnya aku mengedepankan kepada-Mu Muhammad di hadapan kebutuhanku, dan dengannya aku menghadap kepada-Mu, maka dengannya jadikanlah aku mulia di dunia dan akhirat dan di antara orang-orang yang didekati. Jadikanlah shalatku dengannya diterima, dosaku dengannya diampuni dan permohonanku dengannya dikabulkan. Sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha penyayang.


4- بِسْمِ اللهِ وَ بِاللهِ وَ فِي سَبِيْلِ اللهِ, وَ عَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ
Bismillâhi wa billâhi wa fî sabîbillâh, wa ‘alâ millati rasûlillâhi shallallâhu ‘alaihi wa ãlih.

Dengan nama Allah, dengan Allah, di jalan Allah dan atas ajaran Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa ãlih.

Kemudian angkat kedua tangan kita lalu berdoa dengan doa tawassul berikut:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ, وَ بِاْلأَئِمَّةِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ آلِ طه وَيس, وَ أُقَدِّمُهُمْ بَيْنَ يَدَيْ حَوَائِجِي كُلِّهَا, فَاجْعَلْنِي بِهِمْ وَجِيْهًا فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ, وَ لاَ تُعَذِّبْنِي بِهِمْ, وَ ارْزُقْنِي بِهِمْ, وَ لاَ تُضِلَّنِي بِهِمْ, وَ ارْفَعْنِي بِهِمْ, وَ لاَ تَضَعْنِي بِهِمْ, وَ اقْضِ حَوَائِجِي بِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, وَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Allâhumma innî atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyir rahmah, wa bil a`immatir râsyidînal mahdiyyîna min ãli thâha wa yâsîn, wa uqaddimuhum baina yadai hawâ`ijî kullihâ, faj‘alnî bihim wajîhan  fid dun-yâ wal ãkhirati wa minal muqarrabîn, wa lâ tu‘adzdzibnî bihim, warzuqnî bihim, walâ tudhillanî bihim, warfa‘nî bihim, walâ tadha‘nî bihim, waqdhi hawâ`ijî bihim fid dun-yâ wal ãkhirah, innaka ‘alâ kulli syai`in qadîr, wa bikulli syai`in ‘alîm.

Ya Allah, sesungguhnya aku menghadap kepada-Mu dengan Nabi-Mu Nabi kasih sayang dan dengan para imam yang benar lagi ditunjuki dari keluarga Thâha dan Yâsîn, dan aku kedepankan mereka di hadapan hajat-hajatku semuanya, maka dengan perantaraan mereka jadikanlah aku orang yang mulia di dunia dan akhirat dan di antara manusia-manusia yang didekati, janganlah Engkau siksa aku dengan mereka, dan berilah aku rezeki dengan mereka, janganlah Engkau sesatkan aku dengan mereka dan angkatlah aku dengan mereka, janganlah Engkau rendahkan aku dengan mereka dan penuhilah hajat-hajatku dengan mereka di dunia dan akhirat, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu dan mengetahui kepada segala sesuatu. 


1. Shalat Zhuhur
    Shalat zhuhur 4 raka‘at, merupakan shalat yang pertama-tama diwajibkan. Shalat zhuhur disebut dalam Al-Quran sebagai Al-Shalâtul Wusthâ , yaitu shalat yang ada di pertengahan atau di antara dua ujung siang, antara shalat shubuh dan ‘ashar sebagaimana telah dijelaskan pada bab waktu-waktu shalat yang lima.

Raka‘at Pertama
Setelah menghadap ke arah kiblat, berniat di dalam hati hendak mendirikan shalat karena Allah ‘azza wa jalla, kemudian mengucapkan takbîratul ihrâm atau takbîratul iftitâh.

Takbîratul Iftitâh
Takbîr memasuki shalat ini ialah mengucapkan Allâhu akbar (Allah maha besar) dan mengangkat kedua tangan hingga kedua telapak tangan sejajar dengan kedua pipi.  Kemudian setelah itu membaca doa iftitâh.

Doa Iftitâh (Doa Pembukaan)
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضَ, عَالِمِ الْغَيْبِ وَ الشَّهَادَةِ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَ مَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِي وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيكَ لَهُ وَ بِذَالِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَا مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ
Wajjahtu wajhiya lillâdzî fatharas samâwâti wal ardh, ‘âlimil ghaibi wasy syahâdati hanîfan musliman  wa mâ ana minal musyrikîn. Inna shalâtî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lillâhi rabbîl ‘âlamîn, lâ syarîka lahu wa bidzâlika umirtu wa anâ minal muslimîn.

Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi, yang mengetahui yang ghaib dan yang tampak dengan tulus-ikhlas lagi berserah diri dan aku bukan dari kalangan musyrikin. Sesungguhnya shalatku dan ibadatku yang lain, hidupku serta matiku karena Allah pemilik alam semesta, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintah dan aku dari mereka yang berserah diri.


Doa Iftitah yang Lain
Membaca takbîr tiga kali, lalu membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي، إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Allâhumma antal malikul haqqu lâ ilâha illâ ant, subhânaka innî zhalamtu nafsî faghfir lî dzanbî innahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ ant.

Ya Allah, Engkau raja yang sebenanya tidak ada tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah untukku akan dosaku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.

Kemudian membaca takbîr lagi dua kali, lalu membaca:

لَبَّيْكَ وَ سَعْدَيْكَ، وَ الْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ، وَ الشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، وَ الْمَهْدِيُّ مَنْ هَدَيْتَ، لاَ مَلْجَأَ مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، سُبْحَانَكَ وَ حَنَانَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَ تَعَالَيْتَ، سُبْحَانَكَ رَبَّ الْبَيْتِ
Labbaika was sa‘daika wal khairu fî yadaika wasy syarru laisa ilaik, wal mahdiyyu man hadait, lâ malja`a minka illâ ilaik, subhânaka wa hanânaik, tabârakta wa ta‘âlaita subhânaka rabbal bait.

Baiklah aku penuhi panggilan-Mu dan kebaikan pada tangan-Mu, keburukan tidak disandarkan kepada-Mu, orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang Engkau tunjuki, tidak ada tempat berlindung dari-Mu selain kepada-Mu, maha suci Engkau dan maha kasih, maha berkah Engkau dan maha tinggi, maha suci Engkau wahai pemilik rumah.

Kemudian membaca takbîr lagi dua kali, lalu membaca:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضَ, عَالِمِ الْغَيْبِ وَ الشَّهَادَةِ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَ مَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِي وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ بِذَالِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَا مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ
Wajjahtu wajhiya lillâdzî fatharas samâwâti wal ardh, ‘âlimil ghaibi wasy syahâdati hanîfan musliman wa mâ ana minal musyrikîn. Inna shalâtî wa nusukî wamahyâya wa mamâtî lillâhi rabbîl ‘âlamîn, lâ syarîka lahu wa bidzâlika umirtu wa anâ minal muslimîn.

Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi, yang mengetahui yang gaib dan yang tampak dengan tulus-ikhlas lagi berserah diri dan aku bukanlah dari kalangan musyrikin. Sesungguhnya shalatku dan ibadatku yang lain, hidupku dan matiku karena Allah pemilik alam semesta, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintah dan aku dari mereka yang berserah diri.

Membaca Al-Fâtihah dan Sûrah
Sebelum membaca Al-Fâtihah, kita berlindung kepada Allah yang maha tinggi dari syaithân yang dirajam dengan membaca kalimat isti‘âdzah. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Apabila kamu hendak membaca Al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithân yang dirajam. 

Kalimat isti‘âdzah itu  ialah:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
A‘ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm.

Aku berlindung kepada Allah dari syaithân yang dirajam.

Atau kalimat isti‘âdzah berikut ini:

أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
A‘ûdzu billâhis samî‘il ‘alîmi minasy syaithânir rajîm.

Aku berlindung kepada Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui dari syaithân yang dirajam.

Lalu membaca Al-Fâtihah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ (1) الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (2) الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (5) اِهْدِنَا الصَّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (6) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالِّيْنَ (7
Bismillâhir rahmânir rahîm (1). Alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn (2). Arrahmânir rahîm (3). Mâliki yaumiddîn (4). Iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în (5). Ihdinash shirâthal mustaqîm (6). Shirâthal ladzîna an‘amta ‘alaihim ghairil maghdhûbi ‘alaihim waladh dhãllîn (7).

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah Rabb yang mengatur alam semesta. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang memiliki hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan karunia kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Setelah membaca Al-Fâtihah lalu membaca sûrah yang lain satu sûrah penuh, misalnya sûrah Al-Ikhlâsh:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ () قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ () اَللهُ الصَّمَدُ () لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدْ () وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Bismillâhir rahmânir rahîm. Qul huwallâhu ahad. Allâhush shamad. Lam yalid wa lam yûlad. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad.

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, Katakanlah: Dialah Allah yang satu. Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.


Ruku‘
    Kemudian ruku‘ dengan thuma`nînah, ketika ruku‘ kita membaca tasbîh tiga kali:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ
Subhâna rabbîyal ‘azhîmi wa bihamdih.

    Maha suci Tuhan yang mengaturku yang maha agung dan dengan memuji-Nya.    

Atau membaca kalimat tasbîh seperti di bawah ini:

اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَ لَكَ أَسْلَمْتُ وَ بِكَ آمَنْتُ وَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَ أَنْتَ رَبِّي. خَشَعَ لَكَ قَلْبِي وَ سَمْعِي, وَ بَصَرِي وَ شَعْرِي, وَ بَشَرِي وَ لَحْمِي, وَ دَمِي وَ مُخِّي, وَ عِظَامِي وَ عَصَبِي, وَ مَا أَقَلَّتْهُ قَدَمَايَ, غَيْرَ مُسْتَنْكِفٍ وَ لاَ مُسْتَكْبِرٍ وَ لاَ مُسْتَحْسِرٍ. سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ.
Allâhumma laka raka‘tu wa laka aslamtu wa bika ãmantu wa ‘alaika tawakkaltu wa anta rabbî. Khasya‘a laka qalbî wa sam‘î, wa basharî wa sya‘rî, wa basyarî wa lahmî, wa damî wa mukhkhî, wa ‘izhâmî wa ‘ashabî, wa mâ aqallat-hu qadamây, ghaira mustankifin walâ mustakbirin walâ mustahsir. Subhâna rabbiyal ‘azhîmi wa bihamdih, subhâna rabbiyal ‘azhîmi wa bihamdih, subhâna rabbiyal ‘azhîmi wa bihamdih.

Ya Allah, kepada-Mu aku ruku‘, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal dan Engkaulah Tuhanku. Khusyu‘ kepada-Mu hatiku, pendengaranku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku, darahku, sumsumku, tulang-belulangku, uratku, dan apa yang diangkat oleh kedua telapak kakiku. Maha suci Tuhanku yang maha agung dan dengan memuji-Nya, maha suci Tuhanku yang maha agung dan dengan memuji-Nya, maha suci Tuhanku yang maha agung dan dengan memuji-Nya.

Kemudian bangkit dari ruku‘, dan pada saat telah berdiri tegak, ucapkanlah:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Sami‘allâhu liman hamidah.

    Allah mendengar kepada orang yang memuji-Nya.

Dan bisa ditambahkan kalimat berikut kepadanya:

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَهْلَ الْجَبَرُوْتِ وَ الْكِبْرِيَاءِ, وَ الْعَظَمَةُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîna ahlal jabarûti wal kibriyâ`, wal ‘azhamatu lillâhi rabbil ‘âlamîn.

Segala puji bagi Allah pemilik alam semesta wahai yang mempunyai kekuasaan dan kebesaran! Dan keagungan itu kepunyaan Allah pemilik alam semesta.

Sujud
Kemudian membaca takbîr untuk sujud dalam keadaan berdiri tegak. Setelah takbîr lantas sujud dengan meletakkan kedua telapak tangan terlebih dahulu (bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan kedua lutut dulu). Di dalam sujud membaca tasbîh berikut sebanyak tiga kali sebagaimana pada bab sifat sha-lat dari awal hingga akhir:

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَ بِحَمْدِهِ
Subhâna rabbiyal a‘lâ wa bihamdih.

Maha suci Rabbi yang maha tinggi dan dengan memuji-Nya.

Atau membaca tasbîh berikut ini:

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَ بِكَ آمَنْتُ وَ لَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَ أَنْتَ رَبِّي. سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ, وَ شَقَّ سَمْعَهُ وَ بَصَرَهُ, الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَ بِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَ بِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَ بِحَمْدِهِ
Allâhumma laka sajadtu wa bika ãmantu wa laka aslâmtu wa ‘alaika tawakkaltu wa anta rabbî. Sajada wajhî lilladzî khalaqah, wa syaqqa sam‘ahu wa basharah, alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, tabârakallâhu ahsanul khâkliqîn. Subhâna rabbiyal a‘lâ wa bihamdih, subhâna rabbiyal a‘lâ wa bihamdih, subhâna rabbiyal a‘lâ wa bihamdih.

Ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku bertawakkal dan Engkau Tuhan yang mengaturku. Telah sujud kepada-Mu wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakannya, yang telah membelah pendengarannya dan penglihatannya, segala puji bagi Allah pemilik alam semesta, maha berkah Allah sebaik-baik pencipta. Maha suci Tuhanku yang maha tinggi dan dengan memuji-Nya, maha suci Tuhanku yang maha tinggi dan dengan memuji-Nya, maha suci Tuhanku yang maha tinggi dan de-ngan memuji-Nya. 


Duduk Antara Dua Sujud
Duduk di antara dua sujud ini, punggung telapak kaki kanan diletakkan di atas perut telapak kaki yang kiri, kemudian membaca:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَ ارْحَمْنِي وَ أَجِرْنِي وَ ادْفَعْ عَنِّي, إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ, تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ
Allâhummaghfir lî warhamnî wa ajirnî wadfa‘ ‘annî, innî limâ anzalta ilayya min khairin faqîr, tabârakallâhu rabbul ‘âlamîn.

Ya Allah, ampunilah aku, sayangailah aku, lindungilah aku dan tolakkanlah (keburukan) dariku, sungguh aku sangat membutuhkan kepada kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. Maha berkah Allah pemilik alam semesta.

Sujud yang Kedua
Setelah membaca doa antara dua sujud, lalu baca takbîr dalam posisi duduk, kemudian sujud yang kedua kalinya. Dalam sujud, kita membaca tasbîh sebagaimana pada sujud yang pertama, kemudian duduk, lalu membaca takbîr dalam keadaan duduk, kemudian berdiri ke raka‘at yang kedua tanpa takbîr lagi dengan menekankan kedua telapak tangan ke lantai.

Raka‘at Kedua
Raka‘at kedua sebagaimana pada raka‘at pertama, yaitu membaca Al-Fâtihah dan sûrah yang lain satu sûrah penuh. Setelah membaca sûrah lalu takbîr untuk membaca qunût. Ketika membaca doa qunût, kedua telapak tangan dihadapkan ke langit tepat di hadapan wajah, lalu membaca doa-doa yang kita inginkan. Atau kita ambil doa-doa yang sangat baik dari Al-Quran atau dari Rasûlullâh dan Ahlulbaitnya yang suci. (Lihat bab qunût ).

Setelah membaca doa qunût , kedua tangan kita dengan perlahan-lahan diturunkan lalu diangkat lagi dan membaca takbîr. Setelah takbîr, lalu kita ruku‘, kemudian bangkit dari ruku‘, kemudian takbîr untuk sujud, kemudian duduk, lalu takbîr, kemudian sujud lagi, kemudian duduk seperti pada raka‘at pertama, lalu takbîr. Dalam duduk yang kedua pada raka‘at kedua ini kita membaca tasyahhud awwal.

Tasyahhud Awal dengan Sunnah-sunnahnya
بِسْمِ اللهِِ وَ بِاللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِِ وَ خَيْرُ اْلأَسْمَاءِ ِللهِِ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ, أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ, أَشْهَدُ أَنَّكَ نِعْمَ الرَّبُّ, وَ أَنَّ مُحَمَّدًا نِعْمَ الرَّسُولُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ, وَ تَقَبَّلْ شَفَاعَتَهُ فِي أُمَّتِهِ وَ ارْفَعْ دَرَجَتَهُ
Bismillâhi wa billâhi wal hamdu lillâhi wa khairul asmâ`i lillâh, asyhadu an lâ ilâha illâllâhu wahdahu lâ syarîka lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasûluh, arsalahu bilhaqqi basyîran wa nadzîran baina yadais sâ‘ah, asyhadu annaka ni‘mar rabb, wa anna muhammadan ni‘mar rasûl. Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin wa ãli muhammad, wa taqabbal syafâ‘atahu fî ummatihi warfa‘ darajatah. (Lalu puji Allah dua atau tiga kali, kemudian berdiri).

Dengan nama Allah, dengan Allah dan segala puji bagi Allah dan nama-nama yang terbaik kepunyaan Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya Dia telah mengutusnya dengan benar sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan di hadapan ada saat Kiamat, aku bersaksi bahwa Engkau sebaik-baik Tuhan yang mengatur dan bahwa Muhammad sebaik-baik rasul. Ya Allah, curahkanlah shalawât kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan terimalah syafa‘atnya bagi ummatnya dan tinggikan derajatnya.

Setelah membaca tasyahhud yang pertama, kita bangkit ke raka‘at ketiga dengan tidak mengucapkan takbîr; kedua telapak tangan ditekankan ke tempat sujud (lantai), dan ketika kita bertelekan atas kedua telapak tangan kita untuk berdiri, kita ucapkan kalimat berikut:

بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ
Bihaulillâhi wa quwwatihi aqûmu wa aq‘ud.

Dengan daya dari Allah dan kekuatan-Nya aku berdiri dan duduk.

Raka‘at Ketiga
Ketika kita berdiri pada raka‘at ketiga dan keempat (sebelum kita ruku‘), jika tidak membaca Al-Fâtihah, maka kita membaca tasbîh dengan tidak dikeraskan. Membaca tasbîh pada raka‘at ketiga dan keempat lebih utama (bagi ma`mûm , lihat bab sebelumnya) dari membaca Al-Fâtihah, sebab ketika Rasûlullâh saw di-isrâ` -kan, beliau shalat, dan pada dua raka‘at terakhir beliau mengingat kebesaran Allah ‘azza wa jalla yang tampak, kemudian beliau tercengang dan berkata:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ
Subhânallâhi walhamdulillâhi walâ ilâha illallâhu wallâhu akbar.

Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah dan Allah maha besar.

Maka itulah alasan mengapa kalimat tasbîh menjadi lebih utama dari membaca Al-Fâtihah pada dua raka‘at terakhir.

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَمَّارٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ فَقَالَ الْإِمَامُ يَقْرَأُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَ مَنْ خَلْفَهُ يُسَبِّحُ فَإِذَا كُنْتَ وَحْدَكَ فَاقْرَأْ فِيهِمَا وَ إِنْ شِئْتَ فَسَبِّحْ
Dari Mu‘âwiyah bin ‘Ammâr berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang membaca (Al-Fâtihah) di belakang imam pada dua raka‘at yang terakhir? Maka beliau berkata, "Jika kamu sendirian (munfarid), maka bacalah (Al-Fâtihah) pada keduanya, dan bila kamu mau, maka bertasbîhlah."

عَنْ زُرَارَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي جَعْفَرٍ ع مَا يُجْزِئُ مِنَ الْقَوْلِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ قَالَ أَنْ تَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَ تُكَبِّرُ وَ تَرْكَعُ
Dari Zurârah berkata: Saya bertanya kepada Abû Ja‘far as, ucapan apa yang mencukupi pada dua raka‘at yang terakhir?" Beliau berkata, "Subhânallâh, walhamdulillâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar, dan kamu takbîr dan ruku‘."

Raka‘at Keempat
    Raka‘at keempat seperti raka‘at ketiga, hanya saja setelah sujud kedua, kita duduk untuk membaca tasyahhud akhir dan salâm. Dalam tasyahhud ini kita duduk di atas pangkal paha kiri sedangkan punggung telapak kaki kanan diletakkan di atas telapak kaki kiri dan jari-jarinya tidak dilipat dan diarahkan ke kiblat. Makna duduk seperti ini sebagai isyarat bahwa kita mesti menghancurkan kebatilan dan menegakkan keadilan. Adapun bacaan tasyahhud akhir dan sunnah-sunnah-nya serta salâm adalah sebagai berikut.
   
Tasyahhud Akhir dengan Sunnah-sunnahnya
بِسْمِ اللهِِ وَ بِاللهِ وَ الْحَمْدُ ِِللهِِ وَ خَيْرُ اْلأَسْمَاءِ ِللهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ, أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ. أَشْهَدُ أَنَّكَ نِعْمَ الرَّبُّ, وَ أَنَّ مُحَمَّدًا نِعْمَ الرَّسُولُ. التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَ الصَّلَوَاتُ الطَّاهِرَاتُ الطَّيِّبَاتُ الزَّاكِيَاتُ الْغَادِيَاتُ الرَّائِحَاتُ السَّابِغَاتُ النَّاعِمَاتُ لِلَّهِ, مَا طَابَ وَ زَكَا وَ طَهُرَ وَ خَلَصَ وَ صَفَا فَلِلَّهِ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ, أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ. أَشْهَدُ أَنَّ رَبِّي نِعْمَ الرَّبُّ, وَ أَنَّ مُحَمَّدًا نِعْمَ الرَّسُولُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لاَ رَيْبَ فِيهَا, وَ أَنَّ اللهِ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ, الْحَمْدُ ِللهِِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَ مَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُُ, الْحَمْدُ ِللهِِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ, وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ, وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ, وَ تَرَحَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ, كَمَا صَلَّيْتَ وَ بَارَكْتَ وَ تَرَحَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَ اغْفِرْ لَنَا وَ لإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ، وَ لاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَ امْنُنْ عَلَيَّ بِالْجَنَّةِ وَ عَافِنِي مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ، وَ لِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ, وَ لاَ تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ تَبَارًا. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِِ وَ بَرَكَاتُهُ, السَّلاَمُ عَلَى أَنْبِيَاءِ اللهِِ وَ رُسُلِهِ, السَّلاَمُ عَلَى جَبْرَئِيْلَ وَ مِيْكَائِيْلَ وَ الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ, السَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، وَ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللهِِ الصَّالِحِيْنَ
Bismillâhi wa billâhi wal hamdu lillâhi wa khairul asmâ`i lillâh. Asyhadu an lâ ilâha illâllâhu wahdahu lâ syarîka lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasûluh, arsalahu bilhaqqi basyîran wa nadzîran baina yadais sâ‘ah. Asyhadu annaka ni‘mar rabb, wa anna muhammadan ni‘mar rasûl.
Attahiyyâtu lillâhi wash shalawâtuth thâhirâtuth thayyibâtuz zâkiyâtul ghâdiyâtur râ`ihâtus sâbighâtun nâ‘imâtu lillâh, mâ thâba wa zakâ wa thahura wa khalasha wa shafâ falillâh. Wa asyhadu an lâ ilâha illâllâhu wahdahu lâ syarîka lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasûluh, arsalahu bilhaqqi basyîran wa nadzîran baina yadais sâ‘ah, asyhadu anna rabbî ni‘mar rabb, wa anna muhammadan ni‘mar rasûl, wa asyhadu annas sâ‘ata ãtiyatun lâ raiba fîhâ, wa annallâha yab‘atsu man fil qubûr, alhamdu lillâhil ladzî hadânâ lihâdzâ wa mâ kunnâ linahtadiya laulâ an hadânallâh, alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn.
Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin wa ãli muhammad, wa bârik ‘alâ muhammadin wa ãli muhammad, wa sallim ‘alâ muhammadin wa ãli muhammad, wa tarahham ‘alâ muhammadin wa ‘alâ ãli muhammad, kamâ shallaita wa bârakta wa tarahhamta ‘alâ ibrâhîma wa ‘alâ ãli ibrâhîm, innaka hamîdun majîd.
Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin wa ‘alâ ãli muhammad, waghfir lanâ wa li`ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, walâ taj‘al fî qulûbinâ ghillan lilladzîna ãmanû, rabbanâ innakar ra`ûfur rahîm. Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin wa ãli muhammad, wamnun ‘alayya bil jannati wa ‘âfinî minan nâr. Allâhumma shalli ‘alâ muhammadin wa ãli muhammad, waghfir lil mu`minîna wal mu`minât, wa liman dakhala baitiya mu`minan walil mu`minîna wal mu`minât, walâ tazidizh zhâlimîna illâ tabârâ.
Assalâmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullâhi wa barakâtuh, assalâmu ‘alâ anbiyâ`illâhi wa rusulih, assalâmu ‘alâ jabra`îla wa mîkâ`îla wal malâikatil muqarrabîn, assalâmu ‘alâ muhammadibni ‘abdillâhi khâtamin nabiyyîna lâ nabiyya ba‘dah, wassalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhish shâlihîn.

Dengan nama Allah, dengan Allah dan segala puji bagi Allah dan nama-nama yang terbaik kepunyaan Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya Dia telah mengutusnya dengan benar sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan di hadapan ada saat kiamat, aku bersaksi bahwa Engkau sebaik-baik Tuhan yang mengatur dan bahwa Muhammad sebaik-baik rasûl.
Segala penghormatan kepunyaan Allah dan (demikian pula) shalat-shalat yang suci yang baik yang bersih yang indah yang harum yang sempurna yang halus karena Allah. Apa-apa yang baik yang bersih yang suci yang tulus dan yang bening maka karena Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya Dia telah mengutusnya dengan membawa kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dengan saat (kiamat), aku bersaksi bahwa Engkau adalah sebaik-baik Tuhan yang mengatur dan bahwa Muhammad sebaik-baik rasûl, aku bersaksi bahwa saat kiamat akan datang tidak diragukan lagi padanya, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan makhluk yang ada dalam kubur. Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada masalah ini, dan tidaklah kami mendapat hidâyah kalaulah Allah tidak menunjuki kami. Segala puji bagi Allah pemilik alam semesta.
Ya Allah, curahkanlah shalawât kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, curahkanlah salâm kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dan rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah mencurahkan shalawât, berkah dan rahmat kepada Ibrâhîm dan keluarga Ibrâhîm, sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha agung. Ya Allah, curahkanlah shalawât kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, dan ampunilah kami dan orang-orang yang telah mendahului kami dengan keimanan, dan janganlah Engkau jadikan kebencian di dalam hati-hati kami kepada mereka yang beriman, wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah, curahkanlah shalawât bagi Muhammad dan keluarga Muhammad, dan berilah aku karunia dengan surga, dan jauhkanlah diriku dari api neraka. Ya Allah, curahkanlah shalawât bagi Muhammad dan keluarga Muhammad, dan ampunilah kaum yang beriman laki-laki dan perempuan, dan orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan (ampunilah) mu`minîn dan mu`minât, dan bagi kaum yang zalim tidak akan menambah apa-apa selain kecelakaan.

Salâm bagimu wahai Nabi, rahmat Allah dan berkah-berkah-Nya. Salâm bagi para nabi Allah dan para rasûl-Nya. Salâm bagi Jabra`îl, Mîkâ`îl dan para malaikat yang didekati. Salâm bagi Muhammad bin ‘Abdullâh penutup para nabi tidak ada lagi nabi setelahnya. Dan salâm bagi kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh. 

Kemudian kamu ucapkan salâm .

Setelah mengucapkan salâm , kita membaca takbîr tiga kali sambil mengangkat kedua tangan hingga bertepatan dengan wajah seperti mengangkat tangan pada waktu takbîr memulai shalat. Mengucapkan salâm satu kali ke depan bagi imam, dan dua kali bagi ma`mûm; ke kanan dan ke kiri jika di kiri ada seseorang, kemudian mengucapkan takbîr (Allâhu akbar ) tiga kali, lalu dilanjutkan dengan ta‘qîb.
Dan apabila kita mau berpaling dari shalat (setelah selesai shalat), maka dianjurkan berpaling ke sebelah kanan.

2. Shalat ‘Ashar
Shalat ‘ashar jumlah raka‘atnya ada empat, dan tata-caranya tidak berbeda dengan shalat zhuhur dari sejak takbîr hingga salâm .

3. Shalat Maghrib
Cara mendirikan shalat maghrib, dalam hal rukû‘ dan sujudnya sama dengan shalat zhuhur. Adapun perbedaannya yaitu:
1.    Membaca sûrahnya dikeraskan untuk laki-laki.
2.    Jumlah bilangan raka‘atnya ada tiga raka‘at.
3.    Tasyahhud akhirnya pada raka‘at ketiga.

4. Shalat ‘Isya
Shalat ‘isya jumlah raka‘atnya ada empat, caranya seperti shalat zhuhur, tetapi bagi lelaki membaca sûrahnya dikeraskan.

5. Shalat Shubuh
Shalat shubuh dua raka‘at, bacaan sûrahnya untuk kaum lelaki dikeraskan, cara duduk yang kedua pada raka‘at terakhir sebagaimana duduk terakhir pada raka‘at keempat dalam shalat zhuhur. Begitu pula dalam membaca tasyahhud dan salâm -nya.

Wed, 12 Mar 2014 @11:34


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved