Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Keluarga Muslim [26]

HUKUM SUAMI YANG IMPOTEN

Perempuan diciptakan dari laki-laki, karena itu hasratnya dalam hidupnya adalah laki-laki (suaminya), maka para lelaki janganlah mengecewakan istri-istrinya. Jika suami mati, maka istrinya ber-'iddah selama empat bulan sepuluh hari; empat bulan masa 'iddah -nya, sepuluh hari masa berkabungnya.

Mengapakah masa 'iddah perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya empat bulan? Empat bulan itu masa sabar kaum perempuan terhadap suaminya. Jadi laki-laki itu jangan meninggalkan istrinya lebih dari empat bulan, sebab cintanya bisa beralih kepada lelaki yang lain.
 
Bagi laki-laki yang impoten atau hilang kejantanannya diberi waktu satu tahun, selama itu dia berobat, apakah bisa sembuh lagi atau tidak. Jika masih impoten, maka istrinya diberi hak khiyâr (hak memilih); jika dia mau bercerai dan menikah lagi dengan lelaki yang lain, atau memilih tetap bersuamikan lelaki yang lemah.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ الْعِنِّينُ يُتَرَبَّصُ بِهِ سَنَةً ثُمَّ إِنْ شَاءَتِ امْرَأَتُهُ تَزَوَّجَتْ وَ إِنْ شَاءَتْ أَقَامَتْ
Dari Muhammad bin Muslim dari Abû Ja‘far as berkata, "Orang yang impoten itu ditunggu sampai setahun, kemudian jika istrinya mau, dia menikah (lagi) dan bila dia mau, dia tetap menjadi istrinya."  

عَنْ أَبِي الصَّبَّاحِ الْكِنَانِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ امْرَأَةٍ ابْتُلِيَ زَوْجُهَا فَلَا يَقْدِرُ عَلَى الْجِمَاعِ أَبَداً أَ تُفَارِقُهُ قَالَ نَعَمْ إِنْ شَاءَتْ
Dari Abû Al-Shabâh Al-Kinâni berkata, "Saya telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang pe-rempuan yang suaminya mendapat musibah, lalu dia tidak bisa melakukan jimâ‘ selama-lamanya, apakah istri bisa cerai darinya?" Beliau berkata, "Ya, apabila dia mau." 

عَنْ أَبِي الصَّبَّاحِ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَ هُوَ لاَ يَقْدِرُ عَلَى النِّسَاءِ أُجِّلَ سَنَةً حَتَّى يُعَالِجَ نَفْسَهُ
Dari Abû Al-Shabâh berkata: Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila lelaki menikahi perempuan sedang dia tidak kuasa atas perempuan-perempuan, dia diberi tangguh selama setahun sehingga dia mengobati dirinya."
 
عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ ع أَنَّ عَلِيًّا ع كَانَ يَقُولُ يُؤَخَّرُ الْعِنِّينُ سَنَةً مِنْ يَوْمِ تُرَافِعُهُ امْرَأَتُهُ فَإِنْ خَلَصَ إِلَيْهَا وَ إِلاَّ فُرِّقَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ رَضِيَتْ أَنْ تُقِيمَ مَعَهُ ثُمَّ طَلَبَتِ الْخِيَارَ بَعْدَ ذَلِكَ فَقَدْ سَقَطَ الْخِيَارُ وَ لاَ خِيَارَ لَهَا
Dari Abû Al-Bakhtari dari Ja‘far dari ayahnya as bahwa ‘Ali as telah berkata, "Diberi tangguh bagi lelaki yang impoten selama setahun dari hari ketika istrinya mengajukannya, jika dia sembuh dia tetap menjadi suaminya dan jika tidak, maka dipisahkan di antara keduanya. Tetapi bila istrinya rela tinggal bersamanya, kemudian dia menuntut untuk memilih setelah itu, maka gugurlah pilihan, dan tidak ada pilihan baginya."  

عَنِ السَّكُونِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ قَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ع مَنْ أَتَى امْرَأَةً مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ أُخِّذَ عَنْهَا فَلاَ خِيَارَ لَهَا
Dari Al-Sakûni dari Abû ‘Abdillâh as berkata: Amîrul Mu`minîn as telah berkata, "Siapa yang mendatangi istri satu kali, kemudian dia diambil darinya (terjadi impotensi), maka tidak ada khiyâr baginya." 
 
عَنْ غِيَاثٍ الضَّبِّيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ فِي الْعِنِّينِ إِذَا عُلِمَ أَنَّهُ عِنِّينٌ لاَ يَأْتِي النِّسَاءَ فُرِّقَ بَيْنَهُمَا وَ إِذَا وَقَعَ عَلَيْهَا دَفْعَةً وَاحِدَةً لَمْ يُفَرَّقْ بَيْنَهُمَا وَ الرَّجُلُ لاَ يُرَدُّ مِنْ عَيْبٍ
Dari Ghiyâts Al-Dhabbi dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Mengenai lelaki yang impoten apabila diketahui bahwa dia impoten tidak mendatangi istri-istri, dipisahkan di antara keduanya, dan jika dia telah mendatanginya satu kali, tidak dipisahkan di antara mereka berdua, dan lelaki tidak ditolak karena ada aib." 
 
عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عَلِيًّا ع كَانَ يَقُولُ إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ فَوَقَعَ عَلَيْهَا مَرَّةً ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا فَلَيْسَ لَهَا الْخِيَارُ لِتَصْبِرْ فَقَدِ ابْتُلِيَتْ وَ لَيْسَ لِأُمَّهَاتِ الأَوْلاَدِ وَ لاَ الإِمَاءِ مَا لَمْ يَمَسَّهَا مِنَ الدَّهْرِ إِلاَّ مَرَّةً وَاحِدَةً خِيَارٌ
Dari Ishâq bin ‘Ammâr dari Ja‘far dari ayahnya bahwa ‘Ali as telah berkata, "Apabila laki-laki menikahi perempuan, lalu dia melakukan hubungan satu kali, kemudian dia berpaling dari istrinya, maka bagi istrinya tidak ada khiyâr (pilihan), hendaklah dia sabar karena sesungguhnya dia telah diuji, dan tidak ada khiyâr bagi ummahâtul aulâd (hamba sahaya perempuan yang telah punya anak) dan hamba-hamba sahaya perempuan selama suaminya tidak menyentuhnya sepanjang masa selain satu kali." 

عَنْ عَمَّارٍ السَّابَاطِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ أَخَذَ عَنِ امْرَأَتِهِ فَلاَ يَقْدِرُ عَلَى إِتْيَانِهَا فَقَالَ إِنْ كَانَ لاَ يَقْدِرُ عَلَى إِتْيَانِ غَيْرِهَا مِنَ النِّسَاءِ فَلاَ يُمْسِكْهَا إِلاَّ بِرِضَاهَا بِذَلِكَ وَ إِنْ كَانَ يَقْدِرُ عَلَى غَيْرِهَا فَلاَ بَأْسَ بِإِمْسَاكِهَا
Dari 'Ammâr Al-Sâbâthi dari Abû ‘Abdillâh as bahwa beliau telah ditanya tentang laki-laki yang lemah terhadap istrinya lalu dia tidak kuasa mendatanginya. Beliau berkata, "Jika dia tidak kuasa juga mendatangi selainnya dari istri-istri maka janganlah dia menahan-nya kecuali dengan ridonya dengan keadaan itu, dan jika dia kuasa atas istrinya yang lain, maka tidaklah mengapa menahannya (karena dia punya kemampuan)." 

Sun, 9 Mar 2014 @20:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved