Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Keluarga Muslim [25]

ADAB-ADAB MUJÂMA'AH (SEXUAL INTERCOURSE)

Apakah jimâ‘ atau mujâma‘ah itu? Jimâ‘ atau mujâma‘ah maknanya hubungan badan atau persetubuhan. Jimâ‘ merupakan kenikmatan yang paling tinggi baik di dunia yang fana maupun di akhirat yang kekal. Dan tentang jimâ‘ itu jangan hanya dibayangkan kelezatannya, tetapi juga bayangkanlah problematika yang muncul setelahnya. Dan perhatikanlah definisi jimâ‘ dari Amîrul Mu`minîn as ketika beliau ditanya tentang hubungan badan atau jimâ‘ beliau berkata, “Jimâ‘ itu terangkatnya rasa malu dan aurat yang bertemu; sesuatu yang lebih mirip dengan gila; terlalu sering melakukannya akan cepat tua, dan sadar darinya merupakan penyesalan, buah halalnya adalah anak, bila dia hidup memusingkan, dan jika dia mati menyedihkan.”  

Untuk mendapatkan keturunan yang baik serta saleh banyak faktor penunjangnya, antara lain faktor yang berkenaan dengan hubungan badan atau jimâ‘ . Hubungan suami-istri tidak hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk mengharapkan keturunan yang baik. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَ ابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ

Maka sekarang gaulilah mereka dan carilah (keturunan) yang telah dituliskan Allah untukmu. 

Di dalam hubungan sexual, Iblîs atau Syaithân dari jenis jin akan ikut campur dalam mempengaruhi keturunan manusia, dia berlomba dengan kaum lelaki  dalam menggauli istri-istrinya tanpa disadari, dan Iblîs diberi izin untuk bersekutu dalam menggauli wanita dan mencari harta secara haram sebagaimana yang difirmankan Allah yang maha tinggi kepadanya dalam Al-Quran.

وَ شَارِكْهُمْ فِي اْلأَمْوَالِ وَ اْلأَوْلاَدِ وَ عِدْهُمْ وَ مَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا

Dan bersekutulah dengan mereka dalam harta-benda dan anak-anak, dan janjikanlah kepada mereka, dan Syaithân itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan.  

Supaya tidak disekutui Syaithân ketika melakukan mujâma‘ah, maka berdoalah dan berlindunglah kepada Allah darinya. Di bawah ini ada beberapa doa perlindungan yang diperintahkan untuk dibaca sebelum melakukan.

Doa Pengantin Lelaki pada Malam Pertama
Istrinya duduk menghadap ke kiblat, suaminya duduk di belakang istrinya dan tangan kanannya memegang ubun-ubun istrinya, lalu dia mengucapkan kalimat berikut ini.

اللَّهُمَّ بِأَمَانَتِكَ أَخَذْتُهَا, وَ بِكَلِمَاتِكَ اسْتَحْلَلْتُ فَرْجَهَا, فَإِنْ قَضَيْتَ لِي مِنْهَا وَلَدًا فَاجْعَلْهُ مُبَارَكًا سَوِيًّا, وَ لاَ تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ شِرْكًا وَ لاَ نَصِيْبًا

Allâhumma bi`amânatika akhadztuhâ, wa bikalimâtika istahlaltu farjahâ, fain qadhaita lî minhâ waladan faj‘alhu mubârakan sawiyyâ, wa lâ taj‘al lisy syaithâni fîhi syirkan walâ nashîbâ.
Ya Allah, dengan amanat-Mu aku telah mengambilnya (sebagai istri), dan dengan kalimat-kalimat-Mu aku telah menghalalkan kemaluannya, apabila Engkau tentukan anak darinya untukku, maka jadikanlah dia anak yang diberkahi lagi sempurna, dan janganlah Engkau menjadikannya sekutu dan bagian untuk syaithân.

Atau membaca doa berikut ini:

اللَّهُمَّ عَلَى كِتَابِكَ تَزَوَّجْتُهَا وَ فِي أَمَانَتِكَ أَخَذْتُهَا وَ بِكَلِمَاتِكَ اسْتَحْلَلْتُ فَرْجَهَا فَإِنْ قَضَيْتَ فِي رَحِمِهَا شَيْئًا فَاجْعَلْهُ مُسْلِمًا سَوِيًّا وَ لاَ تَجْعَلْهُ شِرْكَ شَيْطَانٍ

Allâhumma 'alâ kitâbika tazawwajtuhâ, wa fî amânatika akhadztuhâ, wa bikalimâtikastahlaltu farjahâ, fa`in qadhaita fî rahimihâ syai`an faj'alhu musliman sawiyyan walâ taj'alhu syirka syaithân.
Ya Allah, di atas Kitab-Mu aku telah menikahinya, dalam amanat-Mu aku telah mengambilnya, dan dengan kalimat-Mu aku menghalalkan kemaluaannya, jika Engkau takdirkan sesuatu (anak) di dalam rahimnya, maka jadikanlah dia berserah diri lagi sempurna, dan janganlah Engkau jadikan dia sekutu syaithân.

Apa yang Dimaksud dengan Sekutu Syaithân
Abû Bashîr bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, "Bagaimanakah bisa menjadi sekutu syaithân?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya lelaki itu apabila dekat dari istri dan dia duduk di tempat duduknya, hadirlah kepadanya syaithân, bila dia menyebut nama Allah, maka menjauhlah syaithân itu darinya, dan apabila dia melakukan (hubungan intim) sedang dia tidak menyebut (nama Allah), niscaya syaithân itu memasukkan kemaluannya, maka pekerjaan itu dari mereka berdua semua sedang sperma satu." Abû Bashîr bertanya lagi, "Dengan apa hal ini dikenal kujadikan diriku sebagai tebusanmu?" Beliau menjawab, "Dengan kecintaan kepada kami dan kebencian kepada kami."  

Doa Pengantin Lelaki di Samping Istrinya
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَى ضَلاَلَتِي, وَ أَغْنَى فَقْرِي, وَ نَعَّشَ خُمُوْلِي, وَ أَعَزَّ دِيْنِي, وَ آوَى عَيْلَتِي, وَ حَمَّلَ رِحْلَتِي, وَ أَخْدَمَ مِنْهَتِي, وَ آنَسَ وَحْشَتِي, وَ رَفَعَ خَيْشَتِي, حَمْدًا كَثِيًرا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ, وَ عَلَى مَا قَسَمْتَ, وَ عَلَى مَا وَهَبْتَ, وَ عَلَى مَا أَكْرَمْتَ

Alhamdu lillâhil ladzî hadâ dhalâlatî, wa aghnâ faqrî, wa na‘‘asya khumûlî, wa a‘azza dînî, wa ãwâ ‘ailatî wa hammala rihlatî, wa akhdama minhatî, wa ãnasa wahsyatî, wa rafa‘a khaisatî, hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîhi ‘alâ mâ a‘thait, wa ‘alâ mâ qasamt, wa ‘alâ mâ wahabt, wa ‘alâ mâ akramt.
Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kesesatanku, yang mencukupi kebutuhanku, yang membangkitkan semangatku, yang memuliakan ajaranku, yang melindungi keluargaku, yang mengangkut dalam perjalananku, yang memberikan pelayanan dalam amalmu, yang menemani kesendirianku, yang mengangkat ketergelinciranku, dengan pujian yang banyak yang baik lagi diberkahi padanya atas apa yang Engkau berikan, atas apa yang Engkau bagikan, atas apa yang Engkau karuniakan dan atas apa yang Engkau muliakan. 
 
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَ بَارِكْ لَهَا فِيَّ, وَ مَا جَمَعْتَ بَيْنَنَا فَاجْمَعْ فِي خَيْرٍ وَيُمْنٍ وَ بَرَكَةٍ, وَ إِذَا جَعَلْتَهَا فُرقَةً فَاجْعَلْهَا فُرْقَةً إِلَى خَيْرٍ

Allâhumma bârik lî fî ahlî wa bârik lahâ fiyy, wa mâ jama‘ta bainanâ fajma‘ bainanâ fî khairin wa yumnin wa barakah, wa idzâ ja‘altahâ furqatan faj‘alhâ furqatan ilâ khair.
Ya Allah, berkahilah untukku pada istriku ini, dan berkahilah dia padaku, apa yang Engkau himpunkan di antara kami, maka himpunkanlah di antara kami dalam kebaikan, kemujuran dan keberkahan, dan apabila Engkau menjadikannya berpisah, maka jadikanlah hal itu sebagai perceraian kepada yang baik.

Bermain-main Sebelum Melakukan Mujâma‘ah
الرِّسَالَةُ الذَّهَبِيَّةُ لِلرِّضَا عَلَيْهِ السَّلاَمُ : وَ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَةً حَتَّى تُلَاعِبَهَا وَ تُكْثِرَ مُلَاعَبَتَهَا وَ تَغْمِزَ ثَدْيَهَا فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ غَلَبَتْ شَهْوَتُهَا وَ اجْتَمَعَ مَاؤُهَا لِأَنَّ مَاءَهَا يَخْرُجُ مِنْ ثَدْيِهَا وَ الشَّهْوَةَ تَظْهَرُ مِنْ وَجْهِهَا وَ عَيْنَيْهَا وَ اشْتَهَتْ مِنْكَ مِثْلَ الَّذِي تَشْتَهِيهِ مِنْهَا

Dalam Al-Risâlah Al-Dzahabiyyah oleh Al-Ridhâ 'alaihis salâm, "Dan janganlah kamu menggauli istri hingga kamu bermain-main dulu dengannya, dan perbanyaklah bermain-main dengannya dan pijit kedua teteknya, sebab jika kamu melakukan yang demikian, syahwatnya akan bangkit dan airnya akan berkumpul, karena airnya itu keluar dari kedua teteknya, dan syahwat tampak di wajahnya dan kedua matanya, dan dia akan berhasrat kepadamu sebagaimana kamu berhasrat kepadanya." 

Berdoa sebelum Jimâ‘
Sebelum melakukan jimâ' atau mujâma‘ah, kita diperintah membaca basmalah dan memohon perlindungan terlebih dulu kepada Allah ‘azza wa jalla dari campur tangan para syaithân, dan juga memohon anak yang saleh dengan doa yang diajarkan oleh Nabi saw dan Ahlulbaitnya yang suci:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, الَّذِي لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ. اللَّهُمَّ إِنْ قَضَيْتَ مِنِّي فِي هَذِه اللَّيْلَةِ خَلِيْفَةً فَلاَ تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ شِرْكًا وَ لاَ نَصِيْبًا وَ لاَ حَظًّا, وَ احْعَلْهُ مُؤْمِنًا مُخْلِصًا مُصَفًّى مِنَ الشَّيْطَانِ وَ رِجْزِهِ, جَلَّ ثَنَائُكَ
Bismillâhir rahmânir rahîm, alladzî lâ ilâha illâ huwa badî‘us samâwâti wal ardh. Allâhumma in qadhaita minnî fî hâdzihil lailati khalîfatan falâ taj‘al lisy syaithâni fîhi syirkan walâ nashîban walâ hazhzhâ, waj‘alhu mu`minan mukhlishan mushaffan minasy syaithâni wa rijzih, jalla tsanâ`uk.

Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang, yang tidak tidak ada tuhan selain Dia yang menciptakan seluruh langit dan bumi. Ya Allah, apabila Engkau tentukan seorang anak dari hubunganku pada malam ini, maka janganlah Engkau jadikan padanya sekutu, nasib dan bagian untuk syaithân, tetapi jadikanlah dia beriman, ikhlas dan suci dari pengaruh syaithân dan kotorannya, maha mulia pujian-Mu.

Doa yang Lain sebelum Jimâ'
بِسْمِ اللهِ وَ بِاللهِ. اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ, وَ جَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنِي

Bismillâhi wa billâh. Allâhumma jannibnisy syaithân, wa jannibisy syaithâna mâ razaqtanî.
Dengan nama Allah dan dengan Allah. Ya Allah, jauhkanlah syaithân dariku, dan jauhkanlah syaithân dari anak yang Engkau karuniakan kepadaku.

Doa untuk Vitalitas Lelaki
    اللَّهُمَّ أَدِمْ فِيْهِنَّ لَذَّتِي, وَ كَثِّرْ فِيْهِنَّ رَغْبَتِي, وَ قَوِّ عَلَيْهِنَّ ضَعْفِي, جَلاَلاً مِنْ عِنْدِكَ يَا سَيِّدِي

Allâhumma adim fîhinna ladzdzatî, wa katstsir fîhi-nna raghbatî, wa qawwi ‘alaihinna dha‘fî, jalâlan min ‘indika yâ sayyidî.
Ya Allah, langgengkanlah padanya kelezatanku, besarkanlah padanya hasratku, kuatkanlah atasnya kelemahanku, karena keagungan dari sisi-Mu wahai junjunganku.

Sejumlah Larangan dalam Jimâ'
Selanjutnya tidak melakukan hubungan badan pada waktu–waktu tertentu dan menghindari cara-cara yang tidak disukai Allah dan Rasûl-Nya.

Dan yang berkenaan dengan jimâ' itu banyak larangannya, apabila hal itu dilanggar, maka akan berpengaruh buruk kepada anak yang dilahirkannya. Di bawah ini sejumlah dalilnya, maka perhatikanlah!

عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ أَوْصَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَقَالَ : يَا عَلِيُّ إِذَا دَخَلَتِ الْعَرُوسُ بَيْتَكَ فَاخْلَعْ خُفَّيْهَا حِيْنَ تَجْلِسُ وَ اغْسِلْ رِجْلَيْهَا وَ صُبَّ الْمَاءَ مِنْ بَابِ دَارِكَ إِلَى أَقْصَى دَارِكَ فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ أَخْرَجَ اللهُ مِنْ دَارِكَ سَبْعِيْنَ أَلْفَ لَوْنٍ مِنَ الْفَقْرِ وَ أَدْخَلَ فِيْهَا سَبْعِيْنَ لَوْنًا مِنَ الْبَرَكَةِ وَ أَنْزَلَ عَلَيْكَ سَبْعِيْنَ رَحْمَةً تُرَفْرِفُ عَلَى رَأْسِ الْعَرُوسِ حَتَّى تَنَالَ بَرَكَتُهَا كُلَّ زَاوِيَةٍ فِي بَيْتِكَ وَ تَأْمَنُ الْعَرُوسُ مِنَ الْجُنُونِ وَ الْجُذَامِ وَ الْبَرَصِ أَنْ يُصِيْبَهَا مَا دَامَتْ فِي تِلْكَ الدَّارِ وَ امْنَعِ الْعَرُوسَ فِي أُسْبُوعِهَا مِنَ الأَلْبِانِ وَ الْخَلِّ وَ الْكُزْبَرَةِ وَ التُّفَّاحَةِ الْحَامِضَةِ مِنْ هَذِهِ الأَرْبَعَةِ الأَشْيَاءِ

Telah diriwayatkan dari Mujâhid dari Abû Sa‘id Al-Khudri berkata: Rasûlullâh saw berwasiat kepada ‘Ali bin Abî Thâlib as, "Wahai 'Ali, apabila pengantin perempuan telah memasuki rumahmu, tanggalkan kedua khuff-nya (alas kakinya) ketika dia duduk, lalu cucilah kedua kakinya, kemudian tumpahkan air bekas pencuciannya mulai dari pintu rumahmu sampai ke ujung rumahmu, jika kamu melakukan ini, Allah akan mengeluarkan dari rumahmu 70 ribu macam kemiskinan dan memasukkan ke dalamnya 70 ribu kekayaan dan 70 macam keberkahan, dan Dia turunkan kepadamu 70 rahmat yang berkibar-kibar di atas pengantin perempuan sehingga berkahnya itu mencapai setiap sudut di dalam rumahmu dan pengantin perempuan akan aman dari penyakit junûn (mania), kusta (leprosi) dan corob selama dia berada di dalam rumah tersebut. Dan cergahlah pengantin perempuan dalam sepekannya dari mengkonsumsi susu, cuka, ketumbar (kuzbarah) dan buah apel yang kecut dari yang empat ini."

فَقَالَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : يَا رَسُولَ اللهِ وَ لِأَيِّ شَيْ‏ءٍ أَمْنَعُهَا هَذِهِ الأًَشْيَاءَ الأَرْبَعَةَ ؟ قَالَ لِأَنَّ الرَّحِمَ تَعْقُمُ وَ تَبْرُدُ مِنْ هَذِهِ الأَرْبَعَةِ الأَشْيَاءِ مِنَ الوَلَدِ وَ حَصِيْرٌ فِي نَاحِيَةِ البَيْتِ خَيْرٌ مِنِ امْرَأَةٍ لاَ تَلِدُ. فَقَالَ عَلِيٌّ ع يَا رَسُولَ اللهِ فَمَا بَالُ الْخَلِّ تَمْنَعُ مِنْهُ ؟ قَالَ إِذَا حَاضَتْ عَلَى الْخَلِّ لَمْ تَطْهُرْ أَبَدًا طُهْرًا بِتَمَامٍ وَ الكُزْبَرَةُ تُثِيْرُ الْحَيْضَ فِي بَطْنِهَا وَ تُشَدِّدُ عَلَيءهَا الوِلاَدَةُ وَ التُّفَّاحَةُ الْحَامِضَةُ تَقْطَعُ حَيْضَهَا فَيَصِيْرُ دَاءً عَلَيْهَا

Lalu ‘Ali as bertanya, "Wahai Rasûlullâh, mengapa aku harus mencegahnya dari empat macam makanan itu?" Beliau berkata, "Sebab rahim bisa dingin dan mandul dari keempat macam itu, sedangkan selembar tikar yang teronggok di sudut rumah lebih baik dari pada perempuan yang tidak mau melahirkan anak."  Lalu ‘Ali as bertanya, "Wahai Rasûlullâh, bagaimana tentang cuka yang engkau cegah darinya?" Beliau berkata, "Jika perempuan haid atas cuka, maka selamanya tidak akan suci dengan sempurna. Ketumbar akan membangkitkan haid di dalam rahimnya dan akan menyebabkan sulit dalam melahirkan anak, dan apel yang kecut akan memutuskan haidnya hingga hal itu menjadi penyakit baginya."

ثُمَّ قَالَ : يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَ وَسَطِهِ وَ آخِرِهِ فَإِنَّ الْجُنُونَ وَ الْجُذَامَ وَ الْخَبَلَ يَسْرَعُ إِلَيْهَا وَ إِلَى وَلَدِهَا

Kemudian beliau berkata, "Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu pada awal bulan (qamariyyah), pertengahannya dan pada akhirnya, sebab junûn (mania), kusta dan penyakit khabal (mental alienation, atau penyakit kejiwaan) akan bersegera kepadanya dan kepada anaknya.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ بَعْدَ الظُّهْرِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ الوَقْتِ يَكُونُ أَحْوَلَ وَ الشَّيْطَانُ يَفْرَحُ بِالْحَوَلِ فِي الإِنْسَانِ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu setelah waktu zhuhur, karena jika ditentukan seorang anak bagimu pada waktu itu, dia akan menjadi juling sedang syaithân suka kepada manusia yang juling.

يَا عَلِيُّ لاَ تَتَكَلَّمْ عِنْدَ الْجِمَاعِ فَإِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ لاَ يُؤْمَنُ أَنْ يَكُونَ أَخْرَسَ وَ لاَ يَنْظُرَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَى فَرَجِ امْرَأَتِهِ وَ لْيَغُضَنَّ بَصَرَهُ عِنْدَ الْجِمَاعِ فَإِنَّ النَّظَرَ إِلِى الْفَرْجِ يُوْرِثُ العَمَى يَعْنِي فِي الوَلَدِ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu berbicara ketika sedang melakukan hubungan, karena apabila di-qadhâ`-kan seorang anak di antara kamu berdua, dia tidak aman dari penyakit bisu (sulit berbicara atau gagap). Dan seseorang dari kalian jangan sekali-kali melihat kemaluan istrinya, hendaklah dia memalingkan penglihatannya (memejamkan mata) pada saat melakukan jimâ', karena melihat kemaluan (istri pada saat jimâ‘) akan berakibat kebutaan, yaitu kepada anaknya (buta mata lahir atau mata hati).

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ بِشَهْوَةِ امْرَأَةِ غَيْرِكَ فَإِنِّي أَخْشَى إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ أَنْ يَكُونَ مُخَنَّثًا مُؤَنَّثًا بَخِيْلاً

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu dengan syahwat kepada istri orang lain, dikarenakan aku khawatir bila ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi banci lagi kikir.

يَا عَلِيُّ إِذَا كُنْتَ جُنُبًا فِي الفِرَاشِ مَعَ امْرَأَتِكَ فَلاَ تَقْرَأِ الْقُرْآنَ فَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَنْزِلَ عَلَيْكُمَا نَارٌ مِنَ السَّمَاءِ فَتَحْرُقُكُمَا

Ya ‘Ali! Jika kamu dalam keadaan junub (berhadats besar) di tempat tidur, janganlah membaca Al-Quran, sebab aku takut ada api yang turun dari langit atas kamu berdua lalu api itu membakarmu.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ إِلاَّ وَ مَعَكَ خِرْقَةٌ وَ مَعَ امْرَأَتِكَ خِرْقَةٌ وَ لاَ تَمْسَحَا بِخِرْقَةٍ وَاحِدَةٍ فَتَقَعُ الشَّهْوَةُ عَلَى الشَّهْوَةِ وَ إِنَّ ذَلِكَ يُعَقِّبُ العَدَاوَةَ بَيْنَكُمَا ثُمَّ يُؤَدِّيْكُمَا إِلَى الفُرْقَةِ وَ الطَّلاَقِ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu kecuali bersamamu secarik kain dan bersama istrimu secarik kain yang lain, janganlah kamu menggunakan sehelai kain penyeka untuk dipakai berdua, karena hal itu akan mengakibatkan kepada permusuhan (pertengkaran), kemudian hal itu bisa membawa kepada perceraian dan talak.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ مِنْ قِيَامٍ فَإنَّ ذَلِكَ مِنْ فِعْلِ الْحَمِيْرِ وَ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ
يَكُونُ بَوَّالاً فِي الفِرَاشِ كَالْحَمِيْرِ البَوَّالَةِ فِي كُلِّ مَكَانٍ
Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu dalam keadaan berdiri, sebab cara seperti itu merupakan perilaku keledai, dan bila dikaruniai anak di antara kamu berdua, dia akan suka buang air di tempat tidur seperti halnya keledai yang buang air di sembarang tempat.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ فِي لَيْلَةِ الفِطْرِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ فَيَكْبُرُ ذَلِكَ الوَلَدُ وَ لاَ يُصِيْبُ وَلَدًا إِلاَّ عَلَى كِبَرِ السَّنِّ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu pada malam 'Îdul Fithri, karena apabila ditakdirkan di antara kamu berdua anak, lalu anak itu menjadi besar, dan nantinya dia tidak memperoleh keturunan kecuali saat usia telah tua.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ فِي لَيْلَةِ الأَضْحَى فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ لَهُ سِتُّ أَصَابِعَ أَوْ أَرْبَعُ أَصَابِعَ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu pada malam 'Îdul Adhhâ, karena apabila ditakdirkan di antara kamu berdua anak, dia akan mempunyai enam atau empat jari.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ تَحْتَ شَجَرَةٍ مُثْمِرَةٍ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ جَلاَّدًا قَتَّالاً عَرِيْفًا

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu di bawah pohon yang sedang berbuah, karena jika ditakdirkan di antara kamu berdua seorang anak, dia akan menjadi tukang pukul, pembunuh lagi ditakuti (keburukannya).

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعِ امْرَأَتَكَ فِي وَجْهِ الشَّمْسِ وَ تَلَأْلُئِهَا إِلاَّ أَنْ تُرْخِيَ عَلَيْكُمَا سِتْرًا فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ لاَ يَزَالُ فِي بُؤْسٍ وَ فَقْرٍ حَتَّى يَمُوتَ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu melakukan jimâ' dengan istrimu dengan menghadap wajah matahari atau terkena sinarnya, kecuali kamu turunkan tirai (untuk menghalanginya), karena jika ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan senantiasa dalam keadaan sakit dan miskin sehingga dia meninggal.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ بَيْنَ الأَذَانِ وَ الإِقَامَةِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ حَرِيْصًا عَلَى إِهْرَاقِ الدِّمَاءِ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu pada waktu antara adzân dan iqâmah, karena apabila ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi orang yang gemar menumpahkan darah (membunuh).

يَا عَلِيُّ إِذَا حَمَلَتِ امْرَأَتُكَ فَلاَ تُجَامِعْهَا إِلاَّ وَ أَنْتَ عَلَى وُضُوءٍ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ أَعْمَى القَلْبِ بَخِيْلَ اليَدِ

Ya ‘Ali! Apabila istrimu telah hamil, maka janganlah kamu melakukan jimâ' dengannya, kecuali kamu mempunyai wudhu, sebab anaknya bisa menjadi buta mata hatinya lagi kikir tangannya.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ فِي النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ مُشَوَّهًا ذَا شَامَةٍ فِي شَعْرِهِ وَ وَجْهِهِ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu pada pertengahan bulan Sya'bân, sebab jika ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan berparas jelek yang mempunyai tanda di rambut dan di wajahnya.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ فِي آخِرِ دَرَجَةٍ مِنْهُ يَعْنِي إِذَا بَقِيَ يَوْمَانِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ كَانَ مُفْدِمًا

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu di akhir bulan (qamariyyah), yaitu bila tinggal dua hari lagi, sebab jika ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi orang yang susah dalam berbicara (gagap), pandir dan lambat dalam memahami.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ عَلَى شَهْوَةِ أُخْتِهَا فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ عَشَّارًا أَوْ عَوْنًا لِظَالِمٍ وَ يَكُونُ هَلاَكُ فِئَامٍ مِنَ النَّاسِ عَلَى يَدَيْهِ

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu dengan syahwat yang tertuju kepada saudara perempuannya (adik atau kakak ipar), karena apabila ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi orang yang jahat atau menjadi pembela orang yang zalim, dan akan banyak manusia yang binasa melalui kedua tangannya.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ عَلَى سُقُوفِ البُنْيَانِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ مُنَافِقًا مُمَارِيًا مُبْتَدِعًا

Ya ‘Ali! Janganlah kamu menggauli istrimu di atap bangunan (beratapkan langit), karena apabila ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi orang munâfiq, murâ`i (orang yang suka pamer) dan mubtadi' (ahli bid'ah atau orang yang menyalahi sunnah Nabi saw).

يَا عَلِيُّ وَ إِذَا خَرَجْتَ فِي سَفَرٍ فَلاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكوُنُ يُنْفِقُ مَالَهُ فِي غَيْرِ حَقٍّ وض قَرَأَ رَسُولُ اللهِ ص إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ

Ya ‘Ali! Apabila kamu hendak melakukan safar, maka janganlah kamu menggauli istrimu pada malam itu, karena bila ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi manusia yang suka mengeluarkan hartanya di jalan yang tidak benar. Dan Rasûlullâh saw membaca ayat, Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara syaithân.

يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ إِذَا خَرَجْتَ إِلَى مَسِيْرَةِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَ لَيَالِيَهُنَّ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ عَوْنًا لِكُلِّ ظَالِمٍ

Ya ‘Ali! Jangan kamu gauli istrimu bila kamu keluar untuk perjalanan (safar) tiga hari tiga malam, sebab hal itu apabila ditakdirkan anak di antara kamu, dia akan menjadi orang yang membantu setiap orang yang zalim…."  

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ : .... يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ فِي أَوَّلِ سَاعَةٍ مِنَ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ لاَ يُؤْمَنُ أَنْ يَكُونَ سَاحِرًا مُؤْثِرًا لِلدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ يَا عَلِيُّ اِحْفَظْ وَصِيَّتِي هَذِهِ كَمَا حَفِظْتُهَا عَنْ جَبْرَئِيْلَ ع

Rasûlullâh saw berkata, "…. Ya 'Ali! Jangan kamu gauli istrimu pada awal saat dari malam hari (waktu antara terbenam matahari sampai hilang mega merah di sebelah barat), sebab apabila ditakdirkan seorang anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi manusia yang tidak aman dari menjadi tukang sihir (dukun), dan mengutamakan kehidupan dunia di atas akhirat. Ya 'Ali! Jagalah wasiatku ini sebagaimana aku telah menjaganya dari Jabra`îl as.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ آبَائِهِ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى كَرِهَ لَكُمْ أَيَّتُهَا الأُمَّةُ أَرْبَعًا وَ عِشْرِيْنَ خَصْلَةً وَ نَهَاكُمْ عَنْهَا كَرِهَ النَّظَرَ إِلَى فُرُوجِ النِّسَاءِ وَ قَالَ يُورِثُ العَمَى وَ كَرِهَ الكَلاَمَ عِنْدَ الْجِمَاعِ وَ قَالَ يُورِثُ الْخَرْسَ وَ كَرِهَ الْمُجَامَعَةَ تَحْتَ السَّمَاءِ وَ كَرِهَ لِلرَّجُلِ أَنْ يَغْشَى امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ فَإِنْ غَشِيَهَا وَ خَرَجَ الوَلَدُ مَجْذُومًا أَوْ أَبْرَصَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ وَ كَرِهَ أَنْ يَغْشَى الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَ قَدِ احْتَلَمَ حَتَّى يَغْتَسِلَ مِنِ احْتِلاَمِهِ الَّذِي رَأَى فَإِنْ فَعَلَ وَ خَرَجَ الوَلَدُ مَجْنُونًا فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

Dari ‘Abdullâh bin Al-Husain bin Zaid dari ayahnya berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Sesungguhnya Allah yang maha berkah dan maha tinggi membenci dua puluh empat perkara bagi kamu wahai ummat! Dan Dia melarang kalian darinya. Dia benci jika dia (suami) melihat kemaluan istri (pada saat hubungan)." Dan beliau berkata, "Hal itu dapat mendatangkan kebutaan, Dia benci kepada pembicaraan kalian) pada saat melakukan hubungan, dan Nabi saw berkata, 'Hal itu akan mendatangkan kebisuan.' Dia membenci hubungan badan yang dilakukan di bawah langit (beratapkan langit). Dia membenci lelaki yang menggauli istrinya yang sedang haid, dan jika dari hubungan intim itu lahir anak dalam keadaan kusta atau sopak, maka janganlah dia mencela selain dirinya sendiri. Dia membenci laki-laki yang menggauli istrinya setelah dia ihtilâm (mimpi basah), kecuali dia mandi terlebih dahulu dari ihtilâm-nya yang dia lihat. Jika dia melakukan hubungan badan dengan tidak mandi terlebih dulu dan dari hubungan itu lahir anak dalam keadaan gila, maka janganlah dia cela selain dirinya sendiri." 

فِي خَبَرِ الْمَنَاهِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ نَهَى عَنِ الأَكْلِ عَلَى الْجَنَابَةِ وَ قَالَ إِنَّهُ يُورِثُ الْفَقْرِ وَ نَهَى أَنْ يُكْثِرَ الكَلاَمَ عِنْدَِ الْمُجَامَعَةِ وَ قَالَِ مِنْهُ يَكُونُ خَرْسُ الوَلَدِ, وَ نَهَى أَنْ يُجَامِعَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ وَ عَلَى طَرِيْقٍ عَامِرٍ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ الْمَلاَئِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ وَ نَهَى أَنْ يُدْخِلَ الرَّجُلُ حَلِيْلَتَهُ إِلَى الْحَمَّامِ

Dalam hadîts larangan-larangan bahwa Rasûlullâh saw melarang makan dalam keadaan janabah dan beliau berkata, "Sesungguhnya hal itu akan mendatangkan kemiskinan (iman atau hati)." Beliau melarang membanyakkan ucapan ketika jimâ' dan berliau berkata, "Darinya anak bisa menjadi bisu." Beliau melarang lelaki melahukan jimâ' dengan istrinya dalam keadaan menghadap ke kiblat dan beliau melarang menggaulinya di jalan yang ramai, maka siapa yang melakukan hal demikian, atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia (yang melaknat). Dan beliau melarang lelaki memasukkan istrinya ke pemandian umum (hammâm ). 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ ثَلاَِثَةٌ مِنَ الْجَفَاءِ أَنْ يَصْحَبَ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فَلاَ يَسْأَلُهُ عَنِ اسْمِهِ وَ كُنْيَتِهِ أَوْ يُدْعَى الرَّجُلُ إِلَى طَعَامٍ فَلاَ يُجِيْبُ أَوْ يُجِيْبُ فَلاَ يَأْكُلُ وَ مُوَاقَعَةُ الرَّجُلِ أَهْلَهُ قَبْلَ الْمُلاَعَبَةِ

Rasûlullâh saw berkata, "Ada tiga perkara dari kekasaran perangai atau tabiat: Orang yang bersahabat dengan orang lain, lalu dia tidak menanyakan namanya dan nama kunyah-nya (nama panggilan yang diawali dengan kata-kata Abû…atau Ummu…), atau orang diundang makan dan dia tidak memenuhi undangan itu atau dia datang namun tidak mau makan, dan lelaki yang melakukan hubungan badan dengan istrinya sebelum bercumbu-rayu." 
 
عَنْ جَابِرٍ الْجُعْفِيِّ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدٍ البَاقِرِ ع قَالَ : قَالَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ ع : كَرِهَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ الْجِمَاعَ فِي اللَّيْلَةِ الَّتِي يُرِيْدُ فِيهَا الرَّجُلُ سَفَرًا وَ قَالَ : إِنْ رُزِقَ وَلَدًا كَانَ حَوَالَةً

Dari Jâbir Al-Ju‘fi dari Abû Ja‘far Muhammad Al-Bâqir as berkata: Amîrul Mu`minîn as telah berkata, "Rasûlullâh saw membenci jimâ' (yang dilakukan seseorang) pada waktu malam yang pada malam itu dia hendak berangkat safar dan beliau berkata, 'Apabila dia dikaruniai anak dia akan menjadi juling.'" 

عَنِ البَاقِرِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ ع أَنَّهُ قَالَ : قَالَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ ع لِأَصْحَابِهِ : اِجْتَنِبُوا الْغَشَيَانَ فِي اللَّيْلَةِ الَّتِي تُرِيْدُونَ فِيْهَا السَّفَرَ فَإِنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ ثُمَّ رُزِقَ وَلَدًا كَانَ حَوَالَة

Dari Al-Bâqir Muhammad bin ‘Ali as bahwa dia berkata: Telah berkata Al-Husain bin ‘Ali as kepada para sahabatnya, "Jauhilah hubungan badan pada malam yang padanya kalian hendak melakukan safar, sebab orang yang melakukan yang demikian, kemudian dikaruniai anak, maka dia menjadi juling." 

عَنْ أَبِي الْحَسَنِ مُوسَى ع عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ ع قَالَ : إِنَّ فِيمَا أَوْصَى بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ص عَلِيًّا ع قَالَ : يَا عَلِيُّ لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنَ الْهِلاَلِ وَ لاَ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ وَ لاَ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ فَإِنَّهُ يُتَخَوَّفُ عَلَى وَلَدِ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ الْخَبَلُ فَقَالَ عَلِيٌّ ع وَ لِمَ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ : إِنَّ الْجِنَّ يُكْثِرُونَ غِشْيَانَ نِسَائِهِمْ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنَ الْهِلَالِ وَ لَيْلَةِ النِّصْفِ وَ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ أَ مَا رَأَيْتَ الْمَجْنُونَ يُصْرَعُ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَ فِي آخِرِهِ وَ فِي وَسَطِهِ

Dari Abû Al-Hasan Mûsâ as dari ayahnya dari kakeknya as berkata: Diantara yang dipesankan oleh Rasûlullâh saw kepada ‘Ali as beliau berkata, "Wahai ‘Ali, jangan kamu gauli istrimu pada awal malam dari hilâl (bulan sabit), janganlah pada malam pertengahan dan jangan di akhir malam, sebab penyakit mental dikhawatirkan menimpa anak." Kemudian ‘Ali as bertanya, "Wahai Rasûlullâh, mengapa demikian?" Lalu beliau menjawab, "Sesungguhnya kaum jin akan banyak menggauli istri-istri manusia pada awal malam dari hilal, malam pertengahan dan pada akhir malam, tidakkah kamu melihat orang yang tidak normal dikalahkan pada awal bulan, pada akhirnya dan pada pertengahannya." 

وَ سَأَلَ مُحَمَّدُ بْنُ الْعِيصِ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع فَقَالَ : أُجَامِعُ وَ أَنَا عُرْيَانٌ؟ قَالَ : لَا وَ لَا مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَ لَا مُسْتَدْبِرَهَا وَ قَالَ عَلِيٌّ ع لَا تُجَامِعْ فِي السَّفِينَةِ وَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص : يُكْرَهُ أَنْ يَغْشَى الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَ قَدِ احْتَلَمَ حَتَّى يَغْتَسِلَ مِنِ احْتِلَامِهِ الَّذِي رَأَى فَإِنْ فَعَلَ وَ خَرَجَ الْوَلَدُ مَجْنُوناً فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

Dan Muhammad bin Al-‘Îsh telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, lalu dia berkata, "Bolehkah saya melakukan persetubuhan sedangkan saya telanjang (tidak pakai selimut)?" Dia berkata, "Tidak boleh, dan juga tidak boleh menghadap ke kiblat dan tidak pula membelakanginya. Dan ‘Ali as berkata, 'Janganlah kamu melakukan mujâma'ah dalam bahtera.' Dan Rasûlullâh saw berkata, 'Dibenci seseorang menggauli istrinya sedang dia telah ihtilâm (mimpi basah) hingga dia mandi dulu dari ihtilâm-nya yang dia lihat, maka apabila dia tidak mandi dulu, kemudian lahir anak dalam keadaan tidak normal (fikirannya), maka jangan sekali-kali dia menyalahkan selain dirinya sendiri.'" 

Al-Shadûq dalam Al-Muqni‘, "Dan Jangan kamu melakukan hubungan ketika terbit matahari dan pada saat terbenamnya, janganlah kamu melakukan hubungan pada hari yang padanya terjadi gerhana matahari, janganlah kamu melakukan hubungan pada malam hari yang padanya terjadi gerhana bulan, janganlah melakukan hubungan ketika terjadi gempa, ketika ada angin kuning, angin hitam dan angin merah, sebab siapa yang melakukan hal yang demikian, maka sungguh telah sampai hadîts kepadanya bahwa dia akan melihat pada anaknya apa yang dia tidak suka." 

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ : قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَدْخُلُ الْخَلاَءَ وَ فِي يَدِي خَاتَمٌ فِيهِ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى قَالَ لاَ وَ لاَ تُجَامِعْ فِيهِ

Abû Ayyûb berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, "Bolehkah aku masuk ke dalam toilet sedang pada tanganku ada cincin yang padanya ada nama Allah yang maha tinggi?" Dia berkata, "Tidak boleh, dan janganlah kamu melakukan mujâma‘ah padanya (dengan memakai cincin yang ada nama Allah)." 

فِقْهُ الرِّضَا ع : وَ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تُجَامِعَ مَا قَبْلَ الطُّهْرِ فَأْمُرْهَا أَنْ تَغْسِلَ فَرْجَهَا ثُمَّ تُجَامِعُ

(Dalam kitab) Fiqh Al-Ridhâ (beliau berkata), "Apabila kamu ingin melakukan mujâma'ah sebelum mandi (istri setelah berhenti haid tetapi belum mandi), maka suruhlah dia mencuci kemaluannya, kemudian kamu gauli." 
 
 فِقْهُ الرِّضَا ع وَ رُوِيَ إِذَا جُعْتَ فَكُلْ وَ إِذَا عَطِشْتَ فَاشْرَبْ وَإِذَا هَاجَ بِكَ الْبَوْلُ فَبُلْ وَ لاَ تُجَامِعْ إِلاَّ مِنْ حَاجَةٍ وَ إِذَا نَعَسْتَ فَنَمْ فَإِنَّ ذَلِكَ مَصَحَّةٌ لِلْبَدَنِ

Dalam Fiqh Al-Ridhâ telah diriwayatkkan, "Jika kamu lapar maka makanlah, bila kamu dahaga maka minumlah, bila kamu ingin buang air kecil maka buang airlah, dan janganlah kamu melakukan mujâma‘ah kecuali karena butuh, dan jika kamu ngantuk maka tidurlah, sebab yang demikian itu menyehatkan badan." 

وَ مَتَى لَمْ يَطُفِ الرَّجُلُ طَوَافَ النِّسَاءِ لَمْ تَحِلَّ لَهُ النِّسَاءُ حَتَّى يَطُوفَ وَ كَذَلِكَ المَرْأَةُ لَا يَجُوزُ لَهَا أَنْ تُجَامَعَ حَتَّى تَطُوفَ طَوَافَ النِّسَاءِ
.
(Dan beliau berkata), "Dan kapan saja seorang lelaki belum melaksanakan thawâf nisâ`, tidak halal baginya istri-istrinya hingga dia melaksanakan thawâf tersebut, dan demikian pula perempuan tidak boleh baginya melakukan hubungan mujâmâ'ah hingga melaksanakan thawâf nisâ`." 

Apabila seseorang menunaikan ihrâm untuk haji, maka sejumlah yang halal menjadi diharamkan. Ketika sampai di Mina pada 10 Dzul Hijjah dia menggunduli rambut kepalanya, dan memotong sedikit bagi perempuan, maka dia telah tahallul (menjadi halal apa yang tadinya selama haji diharamkan), tinggal satu lagi yang masih haram, yaitu hubungan suami istri, maka untuk menghalalkannya kembali setelah selesai haji melakukan thawâf nisâ` .

عن أبِي بَصِيْرٍ عنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ الصَّادِقِ ع أَنَّهُ قَالَ لِي : إِيَّاكَ أَنْ تُجَامِعَ أَهْلَكَ وَصَبِيٌّ يَنْظُرُ إِلَيْكَ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ص كَانَ يَكْرَهُ ذَلِكَ أَشَدَّ كَرَاهَةٍ

Dari Abû Basyir, dari Abû ‘Abdillâh Al-Shâdiq as bahwa beliau telah berkata kepadaku, "Janganlah kamu menggauli istrimu dan ada anak yang melihatmu, sebab Rasûlullâh saw sangat membenci hal itu dengan kebencian yang sangat." 

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ : وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا غَشِيَ امْرَأَتَهُ وَ فِي الْبَيْتِ صَبِيٌّ مُسْتَيْقِظٌ يَرَاهُمَا وَ يَسْمَعُ كَلَامَهُمَا وَ نَفَسَهُمَا مَا أَفْلَحَ أَبَداً إِذَا كَانَ غُلَاماً كَانَ زَانِياً أَوْ جَارِيَةً كَانَتْ زَانِيَةً وَ كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ ع إِذَا أَرَادَ أَنْ يَغْشَى أَهْلَهُ أَغْلَقَ الْبَابَ وَ أَرْخَى السُّتُورَ وَ أَخْرَجَ الْخَدَمَ

Dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Rasûlullâh saw telah berkata, 'Demi yang diriku dalam genggaman tangan-Nya, kalaulah seorang lelaki menggauli istrinya sedang di dalam rumah ada anak yang bangun yang melihat mereka berdua, mendengar perkataan mereka berdua dan suara nafas mereka berdua, dia tidak akan beruntung untuk selamanya, jika lahir dari hubungan tersebut anak laki-laki atau anak perempuan dia akan berzina, Dan adalah 'Ali bin Al-Husain as apabila beliau hendak menggauli istrinya, beliau mengunci pintu, menurunkan tirai dan mengeluarkan para pembantu.'" 
 
عَنِ ابْنِ رَاشِدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع يَقُولُ : لَا يُجَامِعِ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ وَ لَا جَارِيَتَهُ وَ فِي الْبَيْتِ صَبِيٌّ فَإِنَّ ذَلِكَ مِمَّا يُورِثُ الزِّنَا

Dari Ibnu Râsyid dari ayahnya berkata: Saya telah mendengar Abû ‘Abdillâh as berkata, "Seseorang tidak boleh menggauli istrinya dan hamba sahayanya sedang di dalam rumah ada anak (yang melihatnya), sebab yang demikian itu di antara yang mendatangkan perzinaan." 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ ع : إِيَّاكَ وَ الْجِمَاعَ حَيْثُ يَرَاكَ صَبِيٌّ يُحْسِنُ أَنْ يَصِفَ حَالَكَ قُلْتُ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ كَرَاهَةَ الشُّنْعَةِ قَالَ: لَا فَإِنَّكَ إِنْ رُزِقْتَ وَلَداً كَانَ شُهْرَةً عَلَماً فِي الْفِسْقِ وَ الْفُجُورِ

Dari Jâbir berkata: Telah berkata Abû Ja‘far as, "Jangan kamu melakukan jimâ' yang sekiranya kamu akan dilihat anak yang mengetahui keadaanmu." Saya berkata, "Wahai putra Rasûlullâh! Karena dia tidak suka kepada yang menjijikan?" Beliau berkata, "Bukan, tetapi jika kamu ditakdirkan anak (dari hubungan yang dilihat anak), dia akan menjadi termasyhur dengan keburukan dan kedurhakaan."  

عَنْ ذَرِيحٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ : قَالَ الْبَاقِرُ ع : لاَ تُجَامِعِ الْحُرَّةَ بَيْنَ يَدَيِ الْحُرَّةِ فَأَمَّا الإِمَاءُ بَيْنَ يَدَيِ الإِمَاءِ فَلاَ بَأْسَ

Dari Dzarîh dari Abû ‘Abdillâh as berkata: Al-Bâqir as telah berkata, "Janganlah kamu gauli perempuan merdeka di hadapan perempuan merdeka. Adapun menggauli perempuan hamba sahaya di hadapan perempuan hamba sahaya tidaklah mengapa." 

عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي زَيْنَبَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَوْلِيَائِهِ : لاَ تُجَامِعْ أَهْلَكَ وَ أَنْتَ مُخْتَضِبٌ فَإِنَّكَ إِنْ رُزِقْتَ وَلَدًا كَانَ مُخَنَّثًا

Dari Ismâ‘îl bin Abî Zainab, dari Abû ‘Abdillâh as bahwa beliau berkata kepada seorang lelaki dari kalangan pengikutnya, "Janganlah kamu menggauli istrimu sedang kamu memakai pacar, sebab bila kamu dikaruniai anak dia menjadi banci." 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فِي وَصِيَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ لِعَلِيٍّ ع أَنَّهُ قَالَ : يَا عَلِيُّ لَا تُجَامِعْ أَهْلَكَ فِي آخِرِ دَرَجَةٍ إِذَا بَقِيَ يَوْمَانِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ عَشَّارًا وَ عَوْناً لِلظَّالِمِينَ وَ يَكُونُ هَلَاكُ فِئَامٍ مِنَ النَّاسِ عَلَى يَدِهِ

Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri dalam wasiat Nabi saw kepada ‘Ali as bahwa beliau berkata, "Wahai ‘Ali, jangan kamu gauli istrimu di akhir derajat (pada akhir bulan) apabila tinggal dua hari lagi, sebab apabila ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi 'asysyâran (penjahat) dan menjadi pembela orang-orang yang zalim, dan akan banyak orang yang binasa dengan tangannya."  

Maksudnya jika kita punya istri yang statusnya merdeka lebih dari satu, maka tidak boleh menggauli salah satunya di hadapan yang lainnya.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ع فِي حَدِيْثٍ طَوِيْلٍ يَذْكُرُ فِيْهِ وَصِيَّةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ وَ يَقُولُ فِيْهَا إِنَّ رَسُولَ اللهِ ص كَرِهَ أَنْ يَغْشَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ فَإِنْ فَعَلَ وَ خَرَجَ الوَلَدُ مَجْذُومًا أَوء بِهِ بَرَصٌ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ وَ كَرِهَ أَنْ يَأْتِيَ الرَّجُلَ أَهْلَهُ وَ قَدِ احْتَلَمَ حَتَّى يَغْتَسِلَ مِنَ الإِحْتِلاَمِ فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ وَ خَرَجَ الوَلَدُ مَجْنُونًا فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

Dari ‘Ali bin Abî Thâlib as dalam sebuah hadîts yang panjang yang disebut padanya wasiat Nabi saw dan beliau berkata padanya, "Sesungguhnya Rasûlullâh saw membenci lelaki menggauli istrinya sedang dia dalam keadaan haid, maka jika dia melakukan dan keluar anak dalam keadaan kusta atau sopak, maka janganlah sekali-kali dia mencela kecuali dirinya, dan dia membenci lelaki mendatangi istrinya sedang dia telah ihtilâm hingga dia mandi dari ihtilâm, maka jika dia melakukan yang demikian dan keluar anak dalam keadaan gila maka jangan sekali-kali dia mencela kecuali dirinya."  

Menggauli Istri yang Haid Diharamkan
عَنْ عِيْسَى بْنِ عَبْدش اللهِ قَالَ : قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ ع : الْمَرْأَةُ تَحِيْضُ تُحَرَّمُ عَلَى زَوْجِهَا أَنْ يَأْتِيَهَا فِي فَرْجِهَا لِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ لاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَيَسْتَقِيْمُ لِلرَّجُلِ أَنْ يَأْتِيَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ فِيْمَا دُوْنَ الفَرْجِ

Dari ‘Îsâ bin ‘Abdillâh berkata: Abû ‘Abdillâh as telah berkata, "Perempuan haid diharamkan atas suaminya mendatanginya dalam farjinya pada kemaluannya, karena firman Allah ‘azza wa jalla, Janganlah kamu mendekati mereka sehingga mereka suci.  Namun tidaklah mengapa bagi laki-laki mendatangi istrinya yang sedang haid di luar kemaluannya." 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ : قُلْتُ لَهُ هَلْ يُكْرَهُ الْجِمَاعُ فِي وَقْتٍ مِنْ الْأَوْقَاتِ وَ إِنْ كَانَ حَلَالًا قَالَ نَعَمْ مَا بَيْنَ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ وَ مِنْ مَغِيبِ الشَّمْسِ إِلَى مَغِيبِ الشَّفَقِ وَ فِي الْيَوْمِ الَّذِي تَنْكَسِفُ فِيهِ الشَّمْسُ وَ فِي اللَّيْلَةِ الَّتِي يَنْخَسِفُ فِيهَا الْقَمَرُ وَ فِي اللَّيْلَةِ وَ فِي الْيَوْمِ اللَّذَيْنِ يَكُونُ فِيهِمَا الرِّيحُ السَّوْدَاءُ وَ الرِّيحُ الْحَمْرَاءُ وَ الرِّيحُ الصَّفْرَاءُ وَ الْيَوْمِ وَ اللَّيْلَةِ اللَّذَيْنِ يَكُونُ فِيهِمَا الزَّلْزَلَةُ وَ لَقَدْ بَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ عِنْدَ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ فِي لَيْلَةٍ انْكَسَفَ فِيهَا الْقَمَرُ فَلَمْ يَكُنْ مِنْهُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ مَا كَانَ يَكُونُ مِنْهُ فِي غَيْرِهَا حَتَّى أَصْبَحَ فَقَالَتْ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَ لِبُغْضٍ كَانَ مِنْكَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ قَالَ لاَ وَ لَكِنْ هَذِهِ الآيَةُ ظَهَرَتْ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَلَذَّذَ وَ أَلْهُوَ فِيهَا وَ قَدْ عَيَّرَ اللَّهُ أَقْوَاماً فَقَالَ عَزَّ وَ جَلَّ فِي كِتَابِهِ إِنْ يَرَوْا كِسْفاً مِنَ السَّماءِ ساقِطاً يَقُولُوا سَحابٌ مَرْكُومٌ فَذَرْهُمْ حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ ثُمَّ قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ ع : وَ ايْمُ اللَّهِ لَا يُجَامِعُ أَحَدٌ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ عَنْهَا

Dari ‘Abdurrahmân bin Sâlim dari ayahnya dari Abû Ja‘far as dia berkata: Saya bertanya kepadanya, "Apakah dimakruhkan pada waktu-waktu tertentu sedang ia itu halal?" Beliau menjawab, "Ya, sekalipun halal; dimakrukah antara terbit fajar sampai terbit matahari, antara terbenam matahari sampai hilang safaq (mega merah di sebelah barat), pada hari terjadi gerhana matahari, pada malam dan siang hari yang padanya terjadi gempa, bila ada angin hitam, angin merah dan angin kuning (yang mengandung api). Dan hari serta malam yang padanya terjadi gempa, sungguh Rasûlullâh saw bermalam di sebagian istrinya pada malam terjadi gerhana bulan, maka beliau tidak mendekati istrinya tidak seperti biasanya hingga pagi, lalu istrinya berkata kepada beliau, 'Wahai Rasûlullâh apa-kah karena kebencian darimu pada malam ini?' Beliau berkata, 'Tidak, tetapi karena ada tanda ini yang muncul pada malam ini, dan aku benci bersenang-senang dan bermain padanya. Allah telah menyalahkan beberapa kaum, maka Dia 'azza wa jalla berfirman di dalam Kitab-Nya, Jika mereka melihat kepingan yang jatuh dari langit, mereka berkata: Itu hanya awan yang bertumpuk . Maka biarkanlah mereka hingga bertemu dengan harinya yang padanya mereka terkapar. Kemudian Abû Ja‘far as berkata, "Demi Allah janganlah seseorang melakukan hubungan badan pada waktu-waktu ini yang Rasûlullâh saw telah melarangnya. " 

Makrûh (Dibenci Tuhan) Melakukan Mujâma‘ah dalam Keadaan Telanjang, (tidak Memakai Selimut) dalam Keadaan Menghadap ke Kiblat atau Membelakanginya
Menghadap ke kiblat itu ialah tunjang atau kaki menjulur ke arah kiblat dan jika duduk, maka muka dan dada menghadap ke arah kiblat. Dan membelakanginya itu ialah kepala dan punggung membelakangi kiblat.
 
عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ آبَائِهِ ع عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِِ وَ آلِهِ قَالَ : إِذَا تَجَامَعَ الرَّجُلُ وَ الْمَرْأَةُ فَلَا يَتَعَرَّيَانِ فِعْلَ الْحِمَارَيْنِ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَخْرُجُ مِنْ بَيْنِهِمَا إِذَا فَعَلاَ ذَلِكَ

Dari Ja‘far bin Muhammad dari ayah-ayahnya as dari Nabi saw berkata, "Apabila lelaki dan perempuan hendak melakukan hubungan intim, maka janganlah mereka telanjang (tanpa selimut) seperti perbuatan dua ekor keledai, sebab malaikat akan keluar dari antara keduanya jika mereka melakukan hal yang demikian." 

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْعِيصِ أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع فَقَالَ لَهُ : أُجَامِعُ وَ أَنَا عُرْيَانٌ فَقَالَ لاَ وَ لاَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَ لاَ مُسْتَدْبِرَهَا

Dari Muhammad bin Al-‘Îsh bahwa dia telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, maka dia berkata kepadanya, "Bolehlah aku melakukan jimâ' sedang aku telanjang?" Maka beliau berkata, "Tidak, dan tidak boleh dengan mengahdap ke kiblat dan tidak dengan membelakanginya." 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ : يُكْرَهُ لِلرَّجُلِ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرِهِ أَنْ يَطْرُقَ أَهْلَهُ لَيْلًا حَتَّى يُصْبِحَ

Dari ‘Abdullâh bin Sinân dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Dimakruhkan bagi lelaki apabila datang dari safarnya (pada waktu malam) menggauli istrinya pada waktu malam sampai pagi tiba." 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع : اتَّقُوا الْكَلَامَ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْخِتَانَيْنِ فَإِنَّهُ يُورِثُ الْخَرَسَ

Dari ‘Abdullâh bin Sinân berkata: Abû ‘Abdillâh as telah berkata, "Ittaqul kalâm (jangan bicara) ketika bertemu dua kemaluan, karena hal itu akan mengakibatkan kebisuan (pada anak)." 

Makrûh Dukhûl pada Malam Rabu
عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ وَ أَبِي الْعَبَّاسِ قَالاَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع لَيْسَ لِلرَّجُلِ أَنْ يَدْخُلَ بِامْرَأَةٍ لَيْلَةَ الأَرْبِعَاءِ

Dari ‘Ubaid bin Zurârah dan Abû Al-‘Abbâs mereka berkata: Abû ‘Abdillâh as telah berkata, "Laki-laki tidak masuk dengan istri (melakukan hubungan jimâ') pada malam Rabu."  

Jimâ‘ yang Wajib bagi Lelaki
وَ سَأَلَ صَفْوَانُ بْنُ يَحْيَى أَبَا الْحَسَنِ الرِّضَا ع عَنْ رَجُلٍ يَكُونُ عِنْدَهُ الْمَرْأَةُ الشَّابَّةُ فَيُمْسِكُ عَنْهَا الأَشْهُرَ وَ السَّنَةَ لاَ يَقْرَبُهَا لَيْسَ يُرِيدُ الإِضْرَارَ بِهَا يَكُونُ لَهُمْ مُصِيبَةٌ أَ يَكُونُ فِي ذَلِكَ آثِمًا قَالَ إِذَا تَرَكَهَا أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ كَانَ آثِماً بَعْدَ ذَلِكَ

Dan Shafwân bin Yahyâ telah bertanya kepada Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as tentang seorang lelaki yang punya istri yang masih gadis dan berbulan-bulan dia menahan diri darinya dan selama setahun tidak menghampirinya, tidak bermaksud menyusahkannya yang menjadi musibah bagi mereka, apakah dia berdosa pada yang demikian itu? Beliau berkata, "Bila dia membiarkannya selama empat bulan dia berdosa setelah itu." 

الرِّسَالَةُ الذَّهَبِيَّةُ لِلرِّضَا عَلَيْهِ السَّلاَمُ : وَ إِتْيَانُ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ يُورِثُ الْجُذَامَ فِي الْوَلَدِ وَ الْجِمَاعُ مِنْ غَيْرِ إِهْرَاقِ الْمَاءِ عَلَى أَثَرِهِ يُوجِبُ الْحَصَاةَ وَ الْجِمَاعُ بَعْدَ الْجِمَاعِ مِنْ غَيْرِ فَصْلٍ بَيْنَهُمَا بِغُسْلٍ يُورِثُ لِلْوَلَدِ الْجُنُونَ وَ مَنْ أَرَادَ أَنْ لاَ يَجِدَ الْحَصَاةَ وَ حَصْرَ الْبَوْلِ فَلاَ يَحْبِسِ الْمَنِيَّ عِنْدَ نُزُولِ الشَّهْوَةِ وَ لاَ يُطِلِ الْمَكْثَ عَلَى النِّسَاءِ قَالَ وَ لاَ تُجَامِعِ النِّسَاءَ إِلاَّ وَ هِيَ طَاهِرَةٌ فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَلاَ تَقُمْ قَائِماً وَ لاَ تَجْلِسْ جَالِسًا وَ لَكِنْ تَمِيلُ عَلَى يَمِينِكَ ثُمَّ انْهَضْ لِلْبَوْلِ إِذَا فَرَغْتَ مِنْ سَاعَتِكَ شَيْئاً فَإِنَّكَ تَأْمَنُ الْحَصَاةَ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى ثُمَّ اغْتَسِلْ وَ اشْرَبْ مِنْ سَاعَتِكَ شَيْئاً مِنْ الْمُومِيَائِي بِشَرَابِ الْعَسَلِ أَوْ بِعَسَلٍ مَنْزُوعِ الرَّغْوَةِ فَإِنَّهُ يَرُدُّ مِنَ الْمَاءِ مِثْلَ الَّذِي خَرَجَ مِنْكَ

DalamAl-Risâlah Al-Dzahabiyyah oleh Al-Ridhâ as, "Menggauli istri yang sedang haid akan mengakibatkan penyakit leprosi pada anak. Jimâ‘ dengan tidak menumpahkan air (seni) setelahnya akan menyebabkan batu (pada ginjal), melakukan hubungan setelah hubungan tanpa dipisah dengan mandi akan mengakibatkan ketidakwarasan pada anak. Dan siapa yang tidak ingin mendapatkan batu dan susah buang air kecil, maka janganlah menahan sperma ketika turunnya syahwat dan janganlah berlama-lama diam di atas istri." Beliau berkata, "Janganlah kamu menggauli istri-istri kecuali dalam keadaan suci (tidak sedang haid), jika kamu telah melakukan hubungan, maka janganlah kamu (segera) berdiri dan janganlah kamu duduk, akan tetapi berbaringlah ke arah kananmu, kemudian bangkitlah untuk buang air kecil jika kamu telah menyelesaikan sesuatu, karena kamu akan aman dari batu dengan izin Allah yang maha tinggi, kemudian kamu mandi dan minumlah sedikit dari al-mûmiyâ`i (lilin sarang lebah) dengan minuman madu atau madu yang diambil busanya, karena yang demikian itu akan mengembalikan air seperti yang telah keluar darimu." 

Waktu-waktu yang Dianjurkan untuk Mujâma‘ah
Ada beberapa malam yang baik yang dianjurkan Rasûlullâh saw untuk melakukan hubungan badan sebagaimana dalam wasiatnya kepada ‘Ali bin Abî Thâlib as berikut ini.

يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِالْجِمَاعِ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ فَإِنَّهُ إِنْ قُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ حَافِظًا لِكِتَابِ اللهِ رَاضِيًا بِمَا قَسَمَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ. يَا عَلِيُّ إِنْ جَامَعْتَ أَهْلَكَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةِ الثُّلاَثَاءِ فَقُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ فَإِنَّهُ يُرْزَقُ الشَّهَادَةَ بَعْدَ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَ لاَ يُعَذِّبُهُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ مَعَ الْمُشْرِكِيْنَ وَ يَكُونُ طَيِّبَ النَّكْهَةِ مِنَ الفَمِ رَحِيْمَ القَلْبِ سَخِيَّ اليَدِ طَاهِرَ اللِّسَانِ مِنَ الغِيْبَةِ وَ الكَذِبِ وَ البُهْتَانِ. يَا عَلِيُّ وَ إِنْ جَامَعْتَ أَهْلَكَ لَيْلَةَ الْخَمِيْسِ فَقُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ فَإِنَّهُ يَكُونُ حَاكِمًا مِنَ الْحُكَّامِ أَوْ عَالِمًا مِنَ العُلَمَاءِ, وَ إِنْ جَامَعْتَهَا يَوْمَ الْخَمِيْسِ عِنْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ عَنْ كَبِدِ السَّمَاءِ فَقُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يُقَرِّبُهُ حَتَّى يَشِيْبَ وَ يَكُونُ فَهِمًا وَ يَرْزُقُهُ اللهُ السَّلاَمَةَ فِي الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا. يَا عَلِيُّ وَ إِنْ جَامَعْتَهَا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَ كَانَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ يَكُونُ خَطِيْبًا قَوَّالاً مُفَوِّهًا, وَ إِنْ جَامَعْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بَعْدَ العَصْرِ فَقُضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَدٌ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَعْرُوفًا مَشْهُورًا عَالِمًا, وَ إِنْ جَامَعْتَهَا فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ صَلاَةِ العِشَاءِ الآخِرَةِ فَإِنَّهُ يُرْجَى أَنْ يَكُونَ وَلَدًا بَدَلاً مِنَ الأَبْدَالِ إِنْ شَاءَ اللهُ

"Wahai ‘Ali! Hendaklah kamu melakukan hubungan pada malam Senin, sebab apabila ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi orang yang hafizh (menjaga dan hapal Al-Quran) dan rela dengan apa yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya.

Ya ‘Ali! Apabila kamu gauli istrimu pada awal malam selasa (setelah isya), lalu ditakdirkan di antara kamu berdua anak, dia akan dikaruniai syahâdah (gugur di jalan Allah ‘azza wa jalla) setelah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, dan dia tidak akan mendapatkan siksa bersama orang-orang musyrik, dia akan harum mulutnya, penyayang hatinya, dermawan tangannya dan suci lidahnya dari mengumpat, berdusta dan memfitnah.

Wahai ‘Ali! Apabila kamu menggauli istrimu pada malam Kamis, kemudian ditakdirkan anak di antara kamu berdua, dia akan menjadi orang yang bijak, atau menjadi orang yang pandai. Dan jika kamu menggaulinya pada hari Kamis pada saat zawâl (waktu tergelincir matahari) dari jantung langit, lalu ditakdirkan anak di antara kamu berdua, maka setan pun tidak akan mendekatinya sampai dia beruban, dan juga dia akan menjadi orang yang cekatan, dan Allah akan memberinya keselamatan dalam ajaran Islam dan urusan dunia.

Wahai ‘Ali! Apabila kamu mengaulinya pada malam Jumat dan dari hubungan itu terjadi pembuahan dan kemudian melahirkan anak, dia akan menjadi orator lagi pandai mengolah kata. Dan apabila kamu menggaulinya pada hari Jumat setelah ashar, kemudian ditakdirkan anak di antara kamu berdua, maka sesungguhnyan dia akan menjadi manusia yang terkenal lagi alim. Dan apabila kamu menggaulinya pada malam Jumat setelah shalat ‘isya, hal itu dapat diharapkan membuahkan anak yang menjadi wali Allah dari wali-wali abdâl---insyâ` Allâh. Wahai ‘Ali, jagalah wasiatku ini sebagaimana aku telah menjaganya dari Jabra`îl ‘alaihis salâm."   

Boleh Mencium Qubul (Kemaluan) Istri
عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ هَمَّامٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ مُوسَى ع عَنِ الرَّجُلِ يُقَبِّلُ قُبُلَ امْرَأَتِهِ قَالَ : لَا بَأْسَ

Dari Ismâ‘îl bin Hammâm dari ‘Ali bin Ja‘far berkata: Saya bertanya kepada Abû Al-Hasan as tentang lelaki mencium qubul (kemaluan) istrinya. Beliau berkata, "Tidak mengapa." 

Teknis Jimâ‘
Boleh menggunakan teknis apa saja asalkan dengan tubuhnya sendiri, tidak menggunakan alat lain selain dari jasadnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

Istri-istri kamu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu menurut yang kamu kehendaki.
 
عَنِ الْحَكَمِ بْنِ مِسْكِينٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ كَانَ لَنَا جَارٌ شَيْخٌ لَهُ جَارِيَةٌ فَارِهَةٌ قَدْ أَعْطَى بِهَا ثَلاَثِينَ أَلْفَ دِرْهَمٍ وَ كَانَ لاَ يَبْلُغُ مِنْهَا مَا يُرِيدُ وَ كَانَتْ تَقُولُ : اجْعَلْ يَدَكَ كَذَا بَيْنَ شُفْرَيَّ فَإِنِّي أَجِدُ لِذَلِكَ لَذَّةً وَ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ فَقَالَ لِزُرَارَةَ سَلْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنْ هَذَا فَسَأَلَهُ فَقَالَ : لاَ بَأْسَ أَنْ يَسْتَعِينَ بِكُلِّ شَيْ‏ءٍ مِنْ جَسَدِهِ عَلَيْهَا وَ لَكِنْ لاَ يَسْتَعِينُ بِغَيْرِ جَسَدِهِ عَلَيْهَا

Dari Al-Hakam bin Miskîn dari 'Ubaid bin Zurârah berkata, "Kami punya tetangga syaikh (kakek-kakek) dia mempunyai istri gadis yang cantik, dia telah memberinya mahar sebanyak 300.000 dirham dan dia tidak sampai mendapatkan apa yang dia inginkan darinya (tidak bisa menggaulinya dengan baik karena sudah tua), dan adalah si perempuan itu mengatakan, 'Jadikanlah tanganmu begini di antara syufrayy (dua bibir kemaluanku), karena dengan itu aku bisa mendapatkan kelezatan.' Dan syaikh itu tidak suka melakukan yang demikian, maka dia berkata kepada Zurârah, 'Tanyakanlah kepada Abû ‘Abdillâh as tentang masalah ini.' Kemudian Zurârah bertanya kepadanya, lalu dia berkata, "Tidak mengapa dia meminta bantuan dengan setiap sesuatu dari jasadnya atasnya, tetapi tidak boleh dia meminta bantuan dengan selain jasadnya atasnya."  
   
عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ : قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع : رَجُلٌ تَكُونُ عِنْدَهُ جَوَارٍ فَلاَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَطَأَهُنَّ يَعْمَلُ لَهُنَّ شَيْئاً يُلَذِّذُهُنَّ بِهِ قَالَ : أَمَّا مَا كَانَ مِنْ جَسَدِهِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ

Dari ‘Ubaid bin Zurârah berkata: Saya berkata kepada Abû 'Abdillâh as, "Ada orang yang punya beberapa orang jâriyah, namun dia tidak bisa menggauli-nya, dia hanya melakukan sesuatu yang bisa melezatkan mereka dengannya." Beliau berkata, "Adapun yang dia gunakan dari jasadnya maka tidaklah mengapa." 

Tidak Memakai Cincin yang padanya Tertulis Dzikrullâh atau Sesuatu dari Al-Quran.
عَلِيُّ بْنُ جَعْفَرٍ فِي كِتَابِهِ عَنْ أَخِيهِ مُوسَى بْنِ جَعْفَرٍ ع قَالَ : سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَوْ يَدْخُلُ الْكَنِيفَ وَ عَلَيْهِ خَاتَمٌ فِيهِ ذِكْرُ اللَّهِ أَوْ شَيْ‏ءٌ مِنَ الْقُرْآنِ أَ يَصْلُحُ ذَلِكَ قَالَ : لاَ

‘Ali bin Ja‘far di dalam kitabnya dari saudaranya Mûsâ bin Ja‘far as dia berkata, "Saya telah bertanya kepada beliau tentang lelaki yang menggauli atau memasukkan kanîf (kemaluan) sedang dia memakai cincin yang padanya terdapat dzikrullâh atau sesuatu dari Al-Quran, apakah boleh yang demikian itu?" Beliau berkata, "Tidak." 

Boleh Melakukan Al-‘Azl
‘Azl adalah menumpahkan sperma di luar kemaluan istri, hukumnya boleh.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ : سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الْعَزْلِ فَقَالَ : ذَاكَ إِلَى الرَّجُلِ يَصْرِفُهُ حَيْثُ شَاءَ

Dari Muhammad bin Muslim berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang ‘azl, maka beliau berkata, "Terserah kepada lelaki dia bisa memalingkannya menurut yang dia kehendaki."  

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ : كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ ع لَا يَرَى بِالْعَزْلِ بَأْساً يَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةَ وَ إِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ فَكُلُّ شَيْ‏ءٍ أَخَذَ اللَّهُ مِنْهُ الْمِيثَاقَ فَهُوَ خَارِجٌ وَ إِنْ كَانَ عَلَى صَخْرَةٍ صَمَّاءَ

Dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Adalah 'Ali bin Al-Husain as tidak menganggap sesuatu yang dilarang dengan ‘azl, beliau membaca ayat ini, Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari Banî Ãdam dari punggung mereka keturunannnya. Maka setiap sesuatu yang Allah ambil darinya mîtsâq (perjanjian yang dikuatkan), maka dia akan keluar (lahir) sekali pun dia di atas batu yang tuli."  

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ : قُلْتُ لِأَبِي جَعْفَرٍ ع : الرَّجُلُ تَكُونُ تَحْتَهُ الْحُرَّةُ أَ يَعْزِلُ عَنْهَا قَالَ ذَاكَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ عَزَلَ وَ إِنْ شَاءَ لَمْ يَعْزِلْ

Dari Muhammad bin Muslim berkata: Saya berkata kepada Abû Ja‘far as, "Ada lelaki punya istri perempuan merdeka, dia melakukan ‘azl darinya." Dia berkata, "Yang demikian itu terserah kepadanya, bila dia menghendaki melakukan ‘azl dan bila dia menghendaki tidak melakukan ‘azl."  

‘Azl yang Makrûh
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَحَدِهِمَا ع أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْعَزْلِ فَقَالَ : أَمَّا الأَمَةُ فَلَا بَأْسَ وَ أَمَّا الْحُرَّةُ فَإِنِّي أَكْرَهُ ذَلِكَ إِلاَّ أَنْ يَشْتَرِطَ عَلَيْهَا حِينَ يَتَزَوَّجُهَا

Dari Muhammad bin Muslim dari salah seorang dari mereka berdua (Abû Ja‘far atau Abû ‘Abdillâh as) bahwa beliau ditanya mengenai ‘azl, maka beliau berkata, "Adapun budak (hamba sahaya) maka tidak mengap, dan adapun perempuan merdeka maka sesungguhnya aku membeci hal itu kecuali dia mensyaratkan atasnya ketika menikahinya." 

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ : سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ يَتَزَوَّجُ الْمَجُوسِيَّةَ فَقَالَ : لاَ وَ لَكِنْ إِنْ كَانَ لَهُ أَمَةٌ مَجُوسِيَّةٌ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَطَأَهَا وَ يَعْزِلَ عَنْهَا وَ لَا يَطْلُبَ وَلَدَهَا

 Dari Muhammad bin Muslim dari Abû Ja‘far as dia berkata: Saya bertanya kepadanya tentang lalaki muslim dia menikahi wanita majusi. Maka beliau berkata, "Tidak boleh, tetapi jika dia punya hamba wanita majusi, maka tidak mengapa menggaulinya dan melakukan ‘azl darinya dan tidak mencari anaknya (tidak dibuahkan)." 

عَنْ يَعْقُوبَ الْجُعْفِيِّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْحَسَنِ ع يَقُولُ : لاَ بَأْسَ بِالْعَزْلِ فِي سِتَّةِ وُجُوهٍ الْمَرْأَةِ الَّتِي تَيَقَّنَتْ أَنَّهَا لاَ تَلِدُ وَ الْمُسِنَّةِ وَ الْمَرْأَةِ السَّلِيطَةِ وَ الْبَذِيَّةِ وَ الْمَرْأَةِ الَّتِي لاَ تُرْضِعُ وَلَدَهَا وَ الأَمَةِ

Dari Ya‘qûb Al-Ju‘fi berkata: Saya telah mendengar Abû Al-Hasan mengatakan, "Tidak mengapa dengan ‘azl pada enam macam: Perempuan yang meyakini bahwa dia tidak melahirkan, perempuan yang sudah tua, perempuan yang panjang lidah (cerewet), perempuan yang kotor atau tajam bicaranya, perempuan yang tidak mau menyusui anaknya, dan perempuan yang menjadi hamba sahaya."   

Tidak Diharamkan Menggauli Istri di Dubur
عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ صَفْوَانَ يَقُولُ : قُلْتُ لِلرِّضَا ع : إِنَّ رَجُلًا مِنْ مَوَالِيكَ أَمَرَنِي أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَهَابَكَ وَ اسْتَحْيَا مِنْكَ أَنْ يَسْأَلَكَ عَنْهَا قَالَ : مَا هِيَ ؟ قَالَ قُلْتُ : الرَّجُلُ يَأْتِي امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا قَالَ : نَعَمْ ذَلِكَ لَهُ قُلْتُ : وَ أَنْتَ تَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ : لَا إِنَّا لَا نَفْعَلُ ذَلِكَ

Dari ‘Ali bin Al-Hakam berkata: Saya telah mendengar Shafwân berkata: Saya telah berkata Kepada Al-Ridhâ as, "Sesungguhnya seorang lelaki dari pengikutmu telah menyuruhku untuk bertanya kepadamu tentang masalah, maka dia segan kepadamu dan malu darimu untuk menanyakannya." Beliau berkata, "Apa itu?" Saya berkata, "Orang itu telah menyetubuhi istrinya di duburnya (anusnya)." Beliau berkata, "Ya, hal itu tidak mengapa baginya, dan kamu juga melakukan hal itu?" Dia berkata, "Tidak, sungguh kami tidak melakukan yang demikian."  
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَعْفُورٍ قَالَة : سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يَأْتِي الْمَرْأَةَ فِي دُبُرِهَا قَالَ : لاَ بَأْسَ إِذَا رَضِيَتْ. قُلْتُ : فَأَيْنَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ؟ قَالَ : هَذَا فِي طَلَبِ الْوَلَدِ فَاطْلُبُوا الْوَلَدَ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ نِساؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

Dari ‘Abdullâh bin Ya‘fûr berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang orang yang menggauli istrinya din duburnya (anusnya). Beliau berkata, "Tidak mengapa jika dia (istrinya) rela." Saya berkata, "Maka di manakah firman Allah ‘azza wa jalla, Maka datangilah mereka menurut yang Allah perintahkan?" Beliau berkata, "Ini tentang pencarian anak, maka carilah anak menurut yang Allah perintahkan. Sesungguhnya Allah yang maha tinggi berfirman, Istri-istri kamu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu menutrut yang kamu kehendaki."  

عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ يَقْطِينٍ وَ عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ رَجُلٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ الرِّضَا ع عَنْ إِتْيَانِ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ مِنْ خَلْفِهَا فَقَالَ أَحَلَّتْهَا آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ قَوْلُ لُوطٍ هؤُلاءِ بَناتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ وَ قَدْ عَلِمَ أَنَّهُمْ لاَ يُرِيدُونَ الْفَرْجَ

Dari Al-Husain bin ‘Ali bin Yaqthîn dan dari Mûsâ bin ‘Abdul Malik dari seorang lelaki berkata: Saya telah bertanya kepada Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as tentang lelaki mendatangi istri dari belakangnya (duburnya). Maka beliau berkata, "Telah dihalalkannya oleh satu ayat dari Kitab Allah yakni ucapan Lûth, Mereka ini putri-putriku lebih suci bagimu. Dan dia tahu bahwa mereka tidak menginginkan kemaluan." 

عَنِ ابْنِ أَبِي يَعْفُورٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يَأْتِي الْمَرْأَةَ فِي دُبُرِهَا قَالَ لاَ بَأْسَ بِهِ

Dari Ibnu Abî Ya‘fûr berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang lelaki mendatangi istri di anusnya. Beliau berkata, "Tidaklah mengapa dengannya." 

عَنِ ابْنِ أَبِي يَعْفُورٍ قَالَ سَأَلْتُهُ عَنْ إِتْيَانِ النِّسَاءِ فِي أَعْجَازِهِنَّ فَقَالَ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ وَ مَا أُحِبُّ أَنْ تَفْعَلَهُ

Dari Ibnu Abî Ya‘fûr berkata: Saya bertanya kepada beliau tentang mendatangi istri di anusnya. Beliau berkata, "Tidak mengapa dengannya, tetapi aku tidak suka kamu melakukannya." 

عَنْ حَفْصِ بْنِ سُوقَةَ عَمَّنْ أَخْبَرَهُ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنْ رَجُلٍ يَأْتِي أَهْلَهُ مِنْ خَلْفِهَا قَالَ هُوَ أَحَدُ الْمَأْتَيَيْنِ فِيهِ الْغُسْلُ

Dari Hafsh bin Sûqah dari orang yang mengabarkannya berkata: Saya telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang lelaki yang mendatangi istrinya dari belakangnya. Beliau berkata, "Ia salah satu dari dua cara mendatangi, padanya wajib mandi." 

عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِذَا أَتَى الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ فِي الدُّبُرِ وَ هِيَ صَائِمَةٌ لَمْ يَنْقُضْ صَوْمَهَا وَ لَيْسَ عَلَيْهَا غُسْلٌ

Dari ‘Ali bin Al-Hakam dari seorang lelaki dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila lelaki mendatangi istri di dubur sedang dia (istri) lagi puasa, maka puasanya tidaklah batal dan tidak ada kewajiban mandi baginya."  

Sun, 9 Mar 2014 @08:18


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved