Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Qarin dan Rafiq

Qarîn atau rafîq adalah makhluk yang menyertai kita di dunia dan di barzakh; di dunia dia tidak kelihatan, tetapi di barzakh atau alam kubur akan nyata sebagai sosok makhluk yang memberikan kebahagiaan atau penderitaan.

Qarîn atau rafîq adalah manifestasi dari amal-perbuatan kita. Jika kita beriman dan beramal shâlihât , maka dia akan berwajah tampan atau cantik dan harum, tetapi bila kita tidak tergolong beriman dan beramal shâlihât , maka dia berwajah sangat menakutkan dan baunya sangat busuk, sehingga sangat tersiksalah orang yang disertainya di alam barzakh.

Amal-perbuatan kita yang buruk akan menjadi qarîn yang buruk, dan amal-perbuatan kita yang baik akan menjadi qarîn yang baik. Maka yang membahagiakan kita atau yang menyiksa kita adalah amal kita sendiri. Dan qarîn atau rafîq yang busuk terkadang disebut pula syaithân . Allah ‘azza wa jalla berfirman:


وَ مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَ إِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ حَتَّى إِذا جاءَنا قالَ يا لَيْتَ بَيْنِي وَ بَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ
Siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan yang maha pemurah, Kami adakan baginya syaithân yang menjadi temannya yang selalu menyertainya. Dan mereka itu benar-benar menghalanginya dari jalan yang benar dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga jika orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada hari kiamat), dia berkata: Aduhai kiranya ada jarak antara aku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat, maka syaithân itu sejahat-jahat teman.

Jadikanlah Dia Saleh, Berwajah Indah dan Harum
قَالَ قَيْسُ بْنُ عَاصِمٍ وَفَدْتُ مَعَ جَمَاعَةٍ مِنْ بَنِي تَمِيْمٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ, فَدَخَلْتُ وَ عِنْدَهُ الصَّلْصَالُ بْنُ الدَّلْهَمِسِ, فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللهِ عِظْنَا مَوْعِظَةً نَنْتَفِعُ بِهَا فَإِنَّا قَوْمٌ نَعْمُرُ فِي الْبَرِّيَّةِ, فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَسَلَّمَ يَا قَيْسُ إِنَّ مَعَ الْعِزِّ ذُلاًّ وَ إِنَّ مَعَ الْحَيَاةِ مَوْتًا وَ إِنَّ مَعَ الدُّنْيَا آخِرَةً وَ إِنَّ لِكُلِّ شَيْ‏ءٍ حَسِيْبًا وَ عَلَى كُلِّ شَيْ‏ءٍ رَقِيْبًا وَ إِنَّ لِكُلِّ حَسَنَةٍ ثَوَابًا وَ لِكُلِّ سَيِّئَةٍ عِقَابًا وَ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابًا وَ إِنَّهُ لاَ بُدَّ لَكَ يَا قَيْسُ مِنْ قَرِيْنٍ يُدْفَنُ مَعَكَ وَ هُوَ حَيٌّ وَ تُدْفَنُ مَعَهُ وَ أَنْتَ مَيِّتٌ, فَإِنْ كَانَ كَرِيْمًا أَكْرَمَكَ, وَ إِنْ كَانَ لَئِيْمًا أَسْلَمَكَ, ثُمَّ لاَ يُحْشَرُ إِلاَّ مَعَكَ وَ لاَ تُبْعَثُ إِلاَّ مَعَهُ وَ لاَ تُسْأَلُ إِلاَّ عَنْهُ فَلاَ تَجْعَلْهُ إِلاَّ صَالِحًا فَإِنَّهُ إِنْ صَلَحَ أَنَسْتَ بِهِِ وَ إِنْ فَسَدَ لاَ تَسْتَوْحِشُ إِلاَّ مِنْهُ وَ هُوَ فِعْلُكَ
Qais bin ‘Âshim berkata: Saya datang bersama jama‘ah dari Banî Tamîm kepada Nabi saw, lalu saya masuk kepadanya dan di sisi beliau ada Al-Shalshâl bin Al-Dalhamis, lalu saya berkata, "Wahai Nabi Allah, nasihatilah kami dengan suatu nasihat yang dengannya kami mendapatkan manfaat, sebab kami suatu kaum yang mengembara di daratan." Maka Rasûlullâh saw bersabda, "Wahai Qais, sesungguhnya bersama kemuliaan ada kehinaan, bersama kematian ada kehidupan, bersama dunia ada akhirat, dan sesungguhnya untuk setiap sesuatu ada yang menghitungnya, dan atas segala sesuatu ada yang mengawasinya, dan sesungguhnya bagi setiap kebaikan ada pahalanya, bagi setiap keburukan ada siksanya, dan bagi setiap ajal ada kitabnya, dan sesungguhnya kamu wahai Qais pasti punya qarîn (teman) yang dikubur bersamamu sedang dia hidup, dan kamu dikubur bersamanya sedang kamu mati, apabila dia mulia pasti dia memuliakanmu, dan jika dia hina pasti menghinakanmu, kemudian dia tidak dikumpulkan kecuali bersamamu, dan kamu tidak dibangkitkan kecuali bersamanya, dan kamu tidak ditanya selain tentangnya, maka janganlah kamu menjadikannya kecuali dia saleh, karena apabila dia saleh kamu akan merasa senang dengannya, dan jika tidak saleh kamu tidak tersiksa kecuali darinya, dan dia itu adalah perbuatanmu." 
 
    قَالَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : لاَ بُدَّ لَكَ مِنْ رَفِيْقٍ فِي قَبْرِكَ فَاجْعَلْهُ حَسَنَ الْوَجْهِ طَيِّبَ الرِّيْحِ وَهُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ
Amîrul Mu`minîn as telah berkata, "Kamu mesti di dalam kuburmu mempunyai teman, maka jadikanlah dia itu indah wajahnya wangi aromanya, dan dia itu (dari) amal saleh."

قَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ : إِنَّ ابْنَ آدَمَ إِذَا كَانَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ الدُّنْيَا وَ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ الْآخِرَةِ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ وَ وَلَدُهُ وَ عَمَلُهُ فَيَلْتَفِتُ إِلَى مَالِهِ فَيَقُولُ وَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ عَلَيْكَ حَرِيصًا شَحِيحًا فَمَا لِي عِنْدَكَ فَيَقُولُ خُذْ مِنِّي كَفَنَكَ قَالَ فَيَلْتَفِتُ إِلَى وَلَدِهِ فَيَقُولُ وَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ لَكُمْ مُحِبّاً وَ إِنِّي كُنْتُ عَلَيْكُمْ مُحَامِياً فَمَا ذَا لِي عِنْدَكُمْ فَيَقُولُونَ نُؤَدِّيكَ إِلَى حُفْرَتِكَ نُوَارِيكَ فِيهَا قَالَ فَيَلْتَفِتُ إِلَى عَمَلِهِ فَيَقُولُ وَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ فِيكَ لَزَاهِدًا وَ إِنْ كُنْتَ عَلَيَّ لَثَقِيلاً فَمَا ذَا عِنْدَكَ فَيَقُولُ أَنَا قَرِينُكَ فِي قَبْرِكَ وَ يَوْمِ نَشْرِكَ حَتَّى أُعْرَضَ أَنَا وَ أَنْتَ عَلَى رَبِّكَ قَالَ فَإِنْ كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا أَتَاهُ أَطْيَبُ النَّاسِ رِيحاً وَ أَحْسَنُهُمْ مَنْظَراً وَ أَحْسَنُهُمْ رِيَاشاً فَقَالَ أَبْشِرْ بِرَوْحٍ وَ رَيْحَانٍ وَ جَنَّةِ نَعِيمٍ وَ مَقْدَمُكَ خَيْرُ مَقْدَمٍ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ ارْتَحِلْ مِنَ الدُّنْيَا إِلَى الْجَنَّةِ
Amîrul Mu`minîn shalawâtullâhi 'alaih telah berkata, "Sesungguhnya anak Ãdam apabila pada akhir hari dari hari-hari dunia dan awal hari dari hari-hari akhirat akan ditampakkan kepadanya hartanya, anak-anaknya dan amalnya, lalu dia menoleh kepada hartanya seraya berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya aku rakus kepadamu lagi kikir (denganmu), maka apa saja bagiku padamu?' Ia berkata, "Ambillah dariku kain kafanmu.' Lalu dia menoleh kepada anaknya dan berkata, 'Demi Allah aku mencintaimu dan aku menjadi penjagamu, lalu apa yang menjadi bagianku pada kalian?' Mereka berkata, 'Kami mengantarkan-mu sampai ke lubang kuburmu, di sanalah kami menimbunmu.' Lalu dia menoleh kepada amal salehnya seraya berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya aku sangat sedikit mengamalkanmu, dan sesungguhnya kamu terasa berat bagiku, maka apa gerangan bagianku padamu?' Ia berkata, 'Aku kawanmu di dalam kuburmu dan pada hari kebangkitan-mu sehingga aku dan kamu akan dipamerkan kepada Tuhanmu.' Maka apabila orang itu wali Allah, datanglah kepadanya orang yang paling baik aromanya dan paling indah penampilannya dan paling bagus busananya, lalu orang tersebut berkata, 'Gembiralah dengan kelapangan, kenyamanan dan surga yang penuh dengan kenikmatan dan tempat tinggalmu sebaik-baik tempat tinggal.' Orang itu berkata kepadanya, 'Siapakah tuan ini?' Dia berkata, 'Aku adalah amalmu yang saleh, pin-dahlah kamu dari dunia ke surga.'"

عَنِ الصَّادِقِ عَنْ آبَائِهِ ع قَالَ قَالَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : إِنَّ لِلْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ثَلَاثَةَ أَخِلاَّءَ فَخَلِيلٌ يَقُولُ لَهُ أَنَا مَعَكَ حَيّاً وَ مَيِّتاً وَ هُوَ عَمَلُهُ وَ خَلِيلٌ يَقُولُ لَهُ أَنَا مَعَكَ حَتَّى تَمُوتَ وَ هُوَ مَالُهُ فَإِذَا مَاتَ صَارَ لِلْوَارِثِ وَ خَلِيلٌ يَقُولُ لَهُ أَنَا مَعَكَ إِلَى بَابِ قَبْرِكَ ثُمَّ أُخْلِيكَ وَ هُوَ وَلَدُهُ
Dari Al-Shâdiq dari ayah-ayahnya as berkata: ‘Ali as berkata, "Setiap orang Islam punya tiga teman: (1) Teman yang mengatakan kepadanya, 'Aku bersamamu baik dalam keadaan (kamu) hidup dan mati.' Dan dia adalah amalnya (baik atau buruk). (2) Teman yang mengatakan kepadanya, 'Aku bersamamu sampai kamu mati.' Dan dia adalah hartanya, maka apabila dia mati, harta menjadi milik ahli waris, dan (3). Teman yang mengatakan kepadanya, 'Aku bersamamu sampai pintu kuburmu, kemudian aku akan meninggalkanmu.' Dan dia itu anaknya."

Qarîn Didatangi Syaithân
Sebagaimana telah disebutkan bahwa amal yang buruk akan menjadikan qarîn itu buruk, dan qarîn yang buruk didatangi syaithân dari kalangan jin, sebagaimana dalam riwayat berikut.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ قَالَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : يَا ثُمَالِيُّ إِنَّ الصَّلَاةَ إِذَا أُقِيمَتْ جَاءَ الشَّيْطَانُ إِلَى قَرِينِ الإِمَامِ فَيَقُولُ هَلْ ذَكَرَ رَبَّهُ فَإِنْ قَالَ نَعَمْ ذَهَبَ وَ إِنْ قَالَ لاَ رَكِبَ عَلَى كَتِفَيْهِ فَكَانَ إِمَامَ الْقَوْمِ حَتَّى يَنْصَرِفُوا قَالَ فَقُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ أَ لَيْسَ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ قَالَ بَلَى لَيْسَ حَيْثُ تَذْهَبُ يَا ثُمَالِيُّ إِنَّمَا هُوَ الْجَهْرُ بِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Dari Abû Hamzah berkata: ‘Ali bin Al-Husain as telah berkata, "Wahai Tsumâli, sesungguhnya shalat apabila telah di-iqâmah -kan, datanglah syaithân ke qarîn imam (shalat), lalu dia berkata, 'Apakah dia ini menyebut Tuhannya?' Jika dia berkata, 'Ya.' Dia pergi, namun bila dia berkata, 'Tidak.' Syaithân naik kepada kedua bahunya, maka dia menjadi imam bagi kaum itu sampai mereka selesai." Dia berkata: Saya bertanya, "Kujadikan diriku tebusanmu, bukankah dia itu membaca Al-Quran?" Beliau berkata, "Tentu saja, tetapi bukan sebagaimana yang kamu maksudkan wahai Tsumâli, sesungguhnya yang dimaksudkan itu ialah mengeraskan bacaan Bismillâhir rahmânir rahîm ." 
 
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : إِذَا أَمَّ الرَّجُلُ الْقَوْمَ جَاءَ شَيْطَانٌ إِلَى الشَّيْطَانِ الَّذِي هُوَ قَرِينُ الْإِمَامِ فَيَقُولُ هَلْ ذَكَرَ اللَّهَ يَعْنِي هَلْ قَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ فَإِنْ قَالَ نَعَمْ هَرَبَ مِنْهُ وَ إِنْ قَالَ لَا رَكِبَ عُنُقَ الْإِمَامِ وَ دَلَّى رِجْلَيْهِ فِي صَدْرِهِ فَلَمْ يَزَلِ الشَّيْطَانُ إِمَامَ الْقَوْمِ حَتَّى يَفْرُغُوا مِنْ صَلاَتِهِمْ
Dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Jika orang menjadi imam (shalat) suatu kaum, datanglah satu syaithân kepada syaithân yang menjadi qarîn imam, lalu dia berkata, 'Apakah dia ini menyebut Allah?, yakni apakah dia membaca: Bismillâhir rahmânir rahîm ?' Jika dia berkata, 'Ya.' Dia lari darinya, tetapi jika dia berkata, 'Tidak.' Dia naik ke pundak imam dan mengulurkan kedua kakinya kepada dadanya, maka senantiasa syaithân itu menjadi imam bagi kaum itu sampai mereka selesai dari shalatnya."

Catatan
Maka mengeraskan bacaan: Bismillâhir rahmânir rahîm dalam shalat itu hukumnya wajib. Ada keanehan pada sebagian kaum muslim ketika membaca sûrah Al-Fâtihah; kalimat Bismillâhir rahmânir rahîm sebagai ayat pertama tidak dibaca, sedangkan kata Ãmîn yang tidak ada dalam sûrah tersebut malah dibaca! Maka perhatikanlah, dan janganlah mengurangi atau menambahnya!

Mon, 3 Mar 2014 @23:01


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+8+2

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved