Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Pengantar Shiyam Bulan Ramadhan

Alhamdu lillâhil ladzî lâ yablughu midhatahul qâ`ilûn, wa lâ yuhshî na'mâ`ahul 'ãddûn, wa lâ yu`addî haqqahul mujtahidûn, alladzî lâ yudrikuhu bu'dul himam, wa lâ yanâluhu ghausul fithan, alladzî laisa lishifatihi haddun mahdûd, wa lâ na'tun maujûd, wa lâ waqtun ma'dûd wa lâ ajalun mamdûd, fatharal khalâ`iqa biqudratih, wa nasyarar riyâha birahmatih, wa wattada bishshukhûri mayâdana ardhih. Asyhadu an lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasûluh.

Di dalam buku ini digunakan periwayatan Islam dari jalur keluarga Nabi saw yang disucikan, dan oleh karena itu perlu diuraikan pembahasan mengenai periwayatan hadîts serta sunnah Rasûlullâh saw dan juga tentang kewajiban berpegang kepada Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw yang dijadikan padanan Al-Kitâb , sebab mungkin saja di antara pembaca ada yang kurang mengenal dan memahami siapa sesungguhnya Ahlulbait Nabi saw yang disucikan itu.

1. Periwayatan Hadîts Nabi saw
Ada dua versi periwayatan sunnah-sunnah Rasûlullâh saw; (1) Versi Ahlulbaitnya yang suci, dan (2) versi sahabatnya yang terwakili oleh Abû Hurairah, karena dia adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadîts atas nama Rasûlullâh saw.

Di dalam kitab Syaikh Al-Mudhîrah Abû Hurairah yang ditulis oleh Mahmûd Abû Rayyah, disebutkan bahwa Abû Hurairah telah meriwayatkan hadîts sebanyak 5374 buah hadîts padahal dia masuk Islam pada tahun ketujuh hijrah dan bergaul dengan Nabi saw selama setahun atau setengah tahun.

Dan Ahlulbait Rasûlullâh saw yang paling banyak meriwayatkan hadîts Nabi saw adalah 'Ali bin Abî Thâlib as, karena memang pergaulan dia dengan Nabi saw itu dari sejak kecil; dia diasuh oleh Nabi dan tinggal serumah dengannya, dan 'Ali bin Abî Thâlib as itu pintu Kota Ilmu (Rasûlullâh) sebagaimana yang dikatakan oleh beliau saw.

Rasûlullâh saw Kota Ilmu dan 'Ali as Pintunya    
عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأْتِ الْبَابَ

Dari Mujâhid dari Ibnu 'Abbâs ra berkata: Rasûlullâh saw berkata, "Aku kota ilmu dan 'Ali pintunya, barang siapa yang menginginkan kota, maka hendaklah dia mendatangi pintunya." 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ عُثْمَانَ التَّيْمِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ : أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِ الْبَابَ

Dari 'Abdurrahmân bin 'Utsmân Al-Taimi berkata: Saya mendengar Jâbir bin 'Abdillâh berkata: Saya telah mendengar Rasûlullâh saw mengatakan, "Aku kota ilmu dan 'Ali pintunya, siapa yang menginginkan ilmu, maka hendaklah dia mendatangi pintunya."     

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأْتِهَا مِنْ بَابِهَا

Dari Ibnu 'Abbâs berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Aku kota ilmu dan 'Ali pintunya, siapa yang menginginkan kota, maka hendaklah dia mendatanginya dari pintunya." 
   
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : عَلِيٌّ بَابُ عِلْمِي وَ مُبَيِّنٌ لأُمَّتِي مَا أُرْسِلْتُ بِهِ مِنْ بَعْدِي

Rasûlullâh saw berkata, "'Ali itu pintu ilmuku dan yang menjelaskan ajaran kepada ummatku setelahku yang aku telah diutus dengannya."  

Kalau kita ingin mendapatkan Islam yang tidak banyak penyimpangan, maka kita mesti mengambilnya dari jalur Ahlulbaitnya yang suci, karena sumbernya dari pintu ilmu Nabi saw dan kita memasuki kota melalui gerbangnya.

Isnâd Al-hadîts (Penyandaran Hadîts)
Isnâd al-hadîts yaitu menyandarkan periwayatan hadîts . Di dalam buku ini, hadîts-hadîts Rasûlullâh saw diriwayatkan oleh keluarganya yang disucikan, misalnya Abû 'Abdillâh as berkata, "Siapa yang menjenguk orang sakit, niscaya dia diantar oleh tujuh puluh ribu malaikat yang memintakan ampunan baginya sampai dia kembali ke tempat tinggalnya."

Kalau diuraikan jalan ceritanya atau sanadnya begini: Abû 'Abdillâh as (Ja'far Al-Shâdiq) dari ayahnya yakni Abû Ja'far as (Muhammad Al-Bâqir), Abû Ja'far dari ayahnya yaitu 'Ali Zainul 'Âbidîn as, 'Ali Zainul 'Âbidîn dari ayahnya yaitu Al-Husain as, Al-Husain dari ayahnya yaitu 'Ali bin Abî Thâlib as dan 'Ali bin Abî Thâlib dari Rasûlullâh saw. Terkadang disebutkan dari ayahnya dari ayah-ayahnya. Dan inilah yang disebut mata rantai mas (silsilah al-dzahab ), karena hadîts-hadîts Rasûlullâh saw diriwayatkan dari hujjah Allah ke hujjah Allah ke para sahabatnya lalu dicatat oleh mukharrij yang tsiqah seperti Abû Ja'far Muhammad bin Ya'qûb bin Ishâq Al-Kulaini yang dijuluki Tsiqatul Islâm yang punya kitab Ushûl dan Furû' Al-Kâfî, Al-Syaikh Abû Ja'far Muhammad bin Hasan Al-Thûsi yang punya kitab Tahdzîb Al-Ahkâm dan Al-Istibshâr, dan Al-Syaikh Abû Ja'far Muhammad bin 'Ali bin Al-Husain bin Bâbawaih Al-Qummi yang diberi julukan Al-Shadûq yang punya kitab Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Ma'ânî Al-Akhbâr, 'Ilal Al-Syarâ`i', Tsawâb Al-A'mâl, Al-Tauhîd dan yang lainnya.

2. Kewajiban Berpegang pada Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw
Imam 'Ali bin Abî Thâlib as berkata, "Hendak kemanakah kalian pergi? Dan mengapakah kalian bisa tertipu sedangkan panji-panji kebenaran telah ditegakkan, bukti-bukti telah jelas dan mercusuar pun telah dipancarkan, maka bagaimanakah kalian dapat dipalingkan? Bahkan mengapakah kalian bisa disesatkan sedangkan kerabat Nabi kalian berada di tengah-tengah kalian? Mereka itu tonggak kebenaran, panji-panji ajaran dan lidah-lidah yang selalu berkata benar. Tempatkanlah mereka itu sebaik kalian menempatkan Al-Quran! Datangilah mereka dengan penuh perhatian sebagaimana unta-unta yang kehausan mendatangi mata air pelepas dahaga! Wahai manusia! Peganglah erat-erat apa yang telah dikatakan Nabi kalian sebagai penutup para nabi. Sesungguhnya mereka yang meninggal di antara kami, sesungguhnya tidaklah meninggal, mereka yang hancur tulang-belulangnya di antara kami, sebenarnya tidaklah hancur! Janganlah kalian katakan apa yang kalian tidak tahu, karena kebenaran yang sesungguhnya itu justru yang kalian ingkari. Janganlah kalian salahkan orang yang kalian tidak memiliki alasan apa pun untuk menyalahkannya, yaitu aku. Bukankah aku ini telah berpegang kepada peninggalan (Rasûlullâh) yang sangat berharga (yakni Al-Quran) dan peninggalan yang lainnya bagi kalian (yaitu Ahlulbait)! Sungguh telah kupusatkan kepada kalian panji-panji keimanan, telah kutempatkan kalian pada batasan halal dan haram, telah kubusanai kalian dengan busana keadilan, telah kuhamparkan kepada kalian kebaikan dari ucapanku dan perbuatanku, dan telah kuperlihatkan kepada kalian kemuliaan akhlak dariku, maka janganlah kalian menggunakan rasio yang ujungnya tidak dapat dijangkau oleh penglihatan dan tidak dapat diselami oleh pikiran."  

Ahlulbait Nabi saw Disucikan Sesuci-sucinya
    إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan (rijs) darimu wahai Ahlulbait, dan mensucikanmu sesuci-sucinya.
[Sûrah Al-Ahzâb 33/33]

Ayat Al-Quran tersebut diturunkan berkenaan dengan Ahlulbait Rasûlullâh saw, yaitu ‘Ali, Fâthimah, Hasan dan Husain as.

قَالَتْ عَائِشَةُ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ غَدَاةً وَ عَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ, فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ, ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا, ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ : إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا

‘Âisyah berkata, “Pada suatu pagi Rasûlullâh saw keluar (dari rumah) dengan membawa sehelai kain berbulu yang berwarna hitam, kemudian datanglah Hasan bin ‘Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain), kemudian datanglah Husain, lalu dia masuk bersamanya, kemudian datanglah Fâthimah, lantas beliau memasukkannya (ke bawah kain), kemudian datanglah ‘Ali, lalu beliau memasukkannya, kemudian beliau berkata (membaca ayat Al-Quran), ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan (rijs) darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya .’” 
 
عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي سَلَمَةَ رَبِيْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَسَلَّمَ (إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا) فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ فَدَعَا فَاطِمَةَ وَ حَسَنًا وَ حُسَيْنًا وَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَ طَهِّرْهُمْ تَطْهِيْرًا. قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ : وَ أَنَا مَعَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ أَنْتِ عَلَى مَكَانِكِ وَ أَنْتِ عَلَى خَيْرٍ

Dari ‘Amr bin Abî Salamah anak tiri Nabi saw berkata: Ketika turun ayat ini: Innamâ yurîdullâhu liyudzhiba ‘ankumur rijsa ahlalbaiti wa yuthahhirakum thathîrâ di dalam rumah Ummu Salamah, kemudian beliau saw memanggil Fâthimah, Hasan dan Husain sementara ‘Ali as berada di belakang punggung beliau, kemudian beliau mengerudungi mereka dengan kain, lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku, maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.” Ummu Salamah berkata, “Dan saya bersama mereka wahai Nabi Allah!” Beliau berkata, “Engkau tetap di tempatmu, dan engkau berada di atas kebaikan.”   

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ جَلَّلَ عَلَى الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ وَ عَلِيٍّ وَ فَاطِمَةَ كِسَاءً ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلُ بَيْتِي وَ خَاصَّتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَ طَهِّرْهُمْ تَطْهِيْرًا. فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَ أَنَا مَعَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ إِنَّكِ إِلَى خَيْرٍ

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husain, ‘Ali dan Fâthimah, kemudian beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.” Lalu Ummu Salamah (istri Nabi saw) berkata, “Saya bersama mereka wahai Rasûlullâh!” Beliau berkata, “Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan.”  

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يَمُرُّ بِبَابِ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ إِذَا خَرَجَ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّلاَةَ يَا أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
  
Dari Anas bin Malik bahwa Rasûlullâh saw melewati pintu rumah Fâthimah as selama enam bulan, apabila beliau keluar hendak shalat shubuh, beliau berkata, “Marilah shalat wahai Ahlulbait, sungguh Allah hendak menghilangkan keraguan darimu dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”

Itulah penjelasan dari Rasûlullâh saw mengenai Ahlulbaitnya yang disucikan sebagai padanan Al-Quran, dan anggota Ahlulbait Nabi yang disucikan itu ada sembilan orang lagi dari keturunan Imam Husain as, yaitu ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja‘far bin Muhammad, Mûsâ bin Ja‘far, ‘Ali bin Mûsâ, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Al-Mahdi bin Hasan—salâmullâhi ‘alaihim.

عَنْ سَلْمَانَ الفَارِسِيِّ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ إِذَا الْحُسَيْنُ عَلَى فَخِذَيْهِ وَ هُوَ يُقَبِّلُ عَيْنَيْهِ وَ يَلْثَمُ فَاهُ وَ هُوَ يَقُوْلُ أَنْتَ سَيِّدُ ابْنِ سَيِّدٍ أَنْتَ إِمَامُ ابْنِ إِمَامٍ أَبُو الأَئِمَّةِ أَنْتَ حُجَّةُ ابْنِ حُجَّةٍ أَبُو حُجَجٍ تِسْعَةٌ مِنْ صُلْبِكَ تَاسِعُهُمْ قَائِمُهُمْ

Dari Salmân ra dia berkata: Saya pernah masuk ke rumah Nabi saw, dan ternyata ada Husain sedang berada di atas pangkuannya, dia menciuminya dan mengecup mulutnya dan dia berkata, “Engkau sayyid (orang yang mulia) putra sayyid, engkau imam putra imam, ayah bagi para imam, engkau hujjah (bukti kebenaran) putra hujjah, ayah bagi para hujjah, sembilan orang lagi dari sulbimu (keturunanmu), dan yang kesembilannya adalah qâ`im- nya (penegak keadilannya).” 

Jadi Ahlulbait Rasûlullâh saw yang disucikan itu semuanya ada tiga belas orang, yaitu Fâthimah as pitri Nabi dan dua belas khalîfah -nya.
Dan mengenai dua belas khalîfah atau imam, telah sering disebutkan Rasûlullâh saw, dan kalau kita mati tanpa mengakui atau mengimani imam yang Allah ‘azza wa jalla ridoi, maka kematian kita seperti kematian jâhiliyyah , sebab masalah imâmah atau khilâfah dalam Islam termasuk masalah yang prinsip, maka hati kita akan resah tanpa mengimani para imam yang dua belas walaupun ditenang-tenangkan, karena masalah itu termasuk pokok dalam hidup kita, dan orang yang tidak mengenal imamnya yang Allah 'azza wa jalla pilih dan ridoi setelah Rasûl-Nya, jika dia mati, maka matinya dipandang seperti mati kaum jâhiliyyah.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَ هُوَ لاَ يَعْرِفُ إِمَامَهُ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Rasûlullâh saw berkata, “Barangsiapa yang mati sedang dia tidak mengenal imamnya (yang Allah ridoi), dia mati seperti mati jâhiliyyah." 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ إِمَامٍ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Rasûlullâh saw telah berkata, “Barangsiapa yang mati dengan tidak (mengimani) imam (yang Allah pilih), niscaya dia mati seperti kematian jâhiliyyah.” 
 

قَالَ الصَّادِقُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ مَنْ بَاتَ لَيْلَةً لاَ يَعْرِفُ فِيْهَا إِمَامَ زَمَانِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Al-Shâdiq as berkata, "Barangsiapa yang bermalam pada suatu malam yang pada malam itu dia tidak mengenal Imam Zamannya, dia mati seperti mati jâhiliyyah." 

Khalîfah-khalîfah Nabi yang Dua Belas
Mengenai para khalîfah Nabi saw yang dua belas, yang dijuluki dengan Al-Khulafâ` Al-Râsyidûn , bisa kita lihat dalil-dalilnya dalam kitab-kitab hadîts yang antara lain dalam Shahîh Al-Bukhâri jilid 4 pada Kitâb Al-Ahkâm dan dalam Shahîh Muslim pada Kitâb Al-Imârah . Adapun tentang nama-nama mereka oleh Rasûlullâh saw telah disebutkan yang antara lain pada riwayat berikut.

Ibnu ‘Abbâs telah berkata: Ada seorang yahudi yang bernama Na‘tsal datang, kemudian dia bertanya, “Wahai Muhammad, saya akan bertanya kepadamu tentang beberapa persoalan yang bergolak di dalam dadaku dari sejak lama, maka bila kamu dapat menjawabku mengenai persoalan-persoalan tersebut, aku akan masuk Islam di hadapanmu.”

Beliau berkata, “Silakan engkau tanyakan wahai Abû ‘Amârah.”
Dia bertanya, “Wahai Muhammad, sifatkan Tuhan kamu itu kepadaku!”

Beliau saw menjawab, “Dia tidak bisa disifati selain dengan sifat yang dengannya Dia sifatkan, dan bagaimana mungkin pencipta itu bisa disifati oleh makhluk yang tidak berdaya seluruh akal untuk menjangkau-Nya, tidak seluruh pikiran untuk menggapai-Nya, tidak seluruh perasaan untuk membatasi-Nya, dan tidak seluruh penglihatan untuk meliputi-Nya. Dia maha mulia dan tinggi dari segala yang disifatkan oleh para pemberi sifat, Dia jauh dalam kedekatan-Nya dan Dia dekat dalam kejauhan-Nya, Dia yang menentukan bagaimana dan Dia yang menentukan dimana, maka tidak dikatakan kepada-Nya: Di manakah Dia? Dia terputus dari kebagaimanaan dan kedimanaan, maka Dia itu Al-Ahad Al-Shamad sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya, dan para pemberi sifat tidak akan sampai kepada sifat yang sesungguhnya, Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada yang setara satu pun bagi-Nya.”

Dia berkata, “Kamu benar wahai Muhammad, kemudian ceritakan kepadaku mengenai ucapanmu bahwa Dia itu satu tidak ada yang serupa bagi-Nya, bukankah Allah satu dan manusia juga satu?”

Maka Rasûlullâh saw berkata, “Allah ‘azza wa jalla itu satu yang hakiki, makna yang bersifat satu yaitu tidak ada bagian dan tidak ada komposisi (terdiri dari beberapa unsur) bagi-Nya, sedangkan satunya manusia itu punya makna yang bersifat dua, yaitu terdiri dari ruh dan jasad.”

Dia berkata, “Kamu benar Muhammad, lalu beritakan kepadaku perihal washi kamu, siapakah dia itu, sebab tidak seorang nabi pun, melainkan dia punya washi. Nabi kami Mûsâ bin ‘Imrân telah berwasiat kepada Yûsya‘ bin Nûn.”

Maka beliau saw berkata, “Washiku adalah ‘Ali bin Abî Thâlib, dan sesudahnya adalah dua cucuku Hasan dan Husain yang diikuti setelahnya oleh sembilan imam dari sulbi (keturunan) Husain.”

Dia berkata, “Wahai Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka itu kepadaku!”

Beliau berkata, “Apabila Husain telah berlalu (wafat), maka (diganti oleh) putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Muhammad. Apabila Muhammad telah berlalu, maka putranya Ja‘far. Apabila Ja‘far telah berlalu, maka putranya Mûsâ. Apabila Mûsâ telah berlalu, maka putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Muhammad. Apabila Muhammad telah berlalu, maka putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Hasan. Dan apabila Hasan telah berlalu, maka putranya Al-Hujjah Muhammad Al-Mahdi. Jadi jumlah mereka itu dua belas.”

Dia bertanya, “Coba ceritakan kepadaku, bagaimanakah kematian ‘Ali, Hasan dan Husain.”

Beliau saw berkata, “‘Ali akan dibunuh dengan tebasan pedang di atas kepalanya, Hasan akan dibunuh dengan racun dan Husain dengan disembelih.”

Dia bertanya, “Lalu di manakah tempat mereka itu?”

Beliau saw berkata, “Di surga dalam derajatku.”

Dia berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, dan saya bersaksi bahwa mereka adalah para washi setelahmu, dan sesungguhnya saya telah mengetahuinya dalam kitab-kitab para nabi terdahulu, dan hal itu telah dipesankan Mûsâ bin ‘Imrân as kepada kami bahwa di akhir zaman akan keluar seorang nabi yang bernama Ahmad dan Muhammad dan dia adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelahnya, maka para washinya setelahnya dua belas orang, yang pertama putra pamannya dan menantunya, yang kedua dan yang ketiga bersaudara dari keturunannya. Washi yang pertama akan dibunuh oleh ummat Nabi itu dengan pedang, yang kedua dengan racun dan yang ketiga bersama sekelompok orang dari keluarganya dengan pedang dan rasa haus di tempat yang terasing, maka dia itu bagaikan seekor kambing yang disembelih, dia bersabar atas pembunuhan itu demi terangkat derajatnya dan derajat-derajat keluarganya dan keturunannya, dan demi mengeluarkan para pecintanya dan para pengikutnya dari neraka, dan sembilan washi lagi dari keturunan yang ketiga, maka jumlah mereka itu dua belas orang sejumlah Al-Asbâth.”

Beliau saw bertanya, “Apakah kamu tahu siapakah Al-Asbâth itu?”

Dia berkata, “Ya, mereka itu dua belas orang; yang pertama Lâwî bin Barkhiyâ, dia yang ghaib dari Banî Isrâ`îl, kemudian dia kembali, kemudian Allah menampakkan syari‘ah-Nya dengannya setelah rusaknya, dan dia perang dengan Qarsithiyâ sang raja hingga dia membunuh raja tersebut.”

Beliau berkata, “Akan terjadi pula pada ummatku sebagaimana telah terjadi pada Banî Isrâ`îl dengan menirunya, dan yang kedua belas akan ghaib hingga dia tidak dapat dilihat, dan dia akan datang kepada ummatku pada zaman yang tidak ada Islam kecuali namanya dan tidak ada Al-Quran selain tulisannya, maka ketika itu Allah yang maha berkah dan maha tinggi mengizinkannya untuk keluar, kemudian Allah akan menampakkan Islam dengannya dan akan memperbaruinya. Beruntunglah orang yang mencintai mereka dan mengikutinya, celakalah bagi orang yang membenci mereka dan menyalahinya, dan beruntunglah orang-orang yang berpegang dengannya dan dengan petunjuknya.”   

Al-Quran dan Al-Sunnah
Setiap orang Islam pasti sepakat bahwa Islam yang suci itu dituangkan dalam kitab suci Al-Quran dan Al-Sunnah. Dan yang dimaksud dengan Al-Sunnah adalah sunnah-sunnah Rasûlullâh saw. Tetapi pada kenyataannya kita sebagai ummat Islam telah menyimpang jauh dari kedua peninggalan Nabi saw yang sangat berharga itu. Penyebabnya adalah dikarenakan kita terlalu permisip kepada penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah kita sendiri hingga ummat ini tidak lagi berpegang kepada ajaran Islam yang suci sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh beliau saw. Dan penyimpangan kita yang paling besar serta mendasar adalah kita telah keluar dari Al-Quran dan Ahlulbait as, dan kita telah memisahkan Ahlulbait as dari Al-Quran, padahal siapa pun yang memisahkan Ahlulbait Nabi yang suci dari Al-Quran itu sudah dipastikan tersesat dari jalan yang lurus. Coba kita perhatikan beberapa hadîts Nabi saw berikut ini.

1- قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي, أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنَ اْلآخَرِ, كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ وَ عِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي, وَ لَنْ يَتَفََرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيْهِمَا
Rasûlullâh saw berkata, "Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitâbullâh (ibarat) tali yang terulur dari langit ke bumi dan ‘itrah-ku yakni  Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga (Al-Kautsar), maka perhatikanlah oleh kalian, bagaimana kalian akan memperlakukanku pada keduanya." 

2- عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ وَ أَهْلَ بَيْتِي, وَ إِنَّهُمَا لَنْ يَتَفََرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Zaid bin Arqam dia berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yaitu Kitab Allah (Al-Quran) dan Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga mereka datang kepadaku di telaga.” 

3- عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ فِي حِجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَ هُوَ عَلَى نَاقَتِهِ الْقَصْوَى يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللهِ وَ عِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي
Dari Jâbir bin 'Abdillâh dia berkata: Aku melihat Rasûlullâh saw dalam hajinya pada hari ‘Arafah dan beliau berada di atas untanya (yang bernama) Al-Qashwâ menyampaikan khotbah, maka aku telah mendengar beliau mengatakan, “Wahai manusia! Telah kutinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitâbullâh dan ‘itrah-ku Ahlulbaitku.” 

4- عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ يَوْمًا فِيْنَا خَطِيْبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَ الْمَدِيْنَةِ, فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَ وَعَظَ وَ ذَكَرَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَلاَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيْبُ وَإِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَقَلَيْنِ, أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيْهِ الْهُدَى وَ النُّورُ, فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ وَ اسْتَمْسِكُوا بِهِ. فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ فِيْهِِ وَ رَغَّبَ فِيْهِ. ثُمَّ  قَالَ وَ أَهْلُ بَيْتِي, أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي, أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
Dari Zaid bin Arqam berkata: Pada suatu hari Rasûlullâh saw berkhotbah di hadapan kami dekat mata air yang bernama Khumm yang terletak antara Makkah dan Al-Madînah, beliau memuji Allâh dan menyanjung-Nya, lalu beliau memberikan pesan dan mengingatkan, kemudian dia berkata, "Adapun kemudian setelah itu, ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya aku seorang manusia (basyar) yang telah dekat waktunya utusan Tuhanku (Malakul Maut) akan datang kepadaku dan aku pun akan memenuhi panggilan-Nya, dan aku tinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yang pertamanya Kitâbullâh yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambil Kitab Allah dan berpeganglah dengannya." Beliau memerintahkan untuk berpegang kepada Kitab Allah, lalu beliau berkata, "Dan Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku.” 

5- عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ إِنِّي أُوْشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيْبُ, وَإِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَقَلَيْنِ, كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعِتْرَتِي. كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي, وَإِنَّ اللَّطِيْفَ أَخْبَرَنِي أَنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُونِي بِمَا تَخْلُفُونِي فِيْهِمَا
Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri dari Nabi saw beliau berkata, "Tidak lama lagi aku akan dipanggil, lalu aku penuhi (panggilan-Nya), dan sesungguhnya aku meninggalkan pada kamu Al-Tsaqalain: Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ‘itrah-ku. Kitab Allah itu (ibarat) tali yang terentang dari langit ke bumi dan ‘itrah-ku yaitu Ahlulbaitku, dan sesungguhnya Tuhan yang maha halus telah memberitakan kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya datang kepadaku di telaga, maka perhatikanlah aku bagaimana kamu akan memperlakukan aku pada keduanya."  

Hadîts Al-Tsaqalain
Banyak sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadîts Al-Tsaqalain sehingga mencapai derajat mutawâtir (dari banyak ke banyak), namun sebagian ummat Islam telah berpaling atau dipalingkan darinya sehingga mereka mengabaikan wasiat Rasûlullâh saw yang amat berharga itu.

Makna Al-Tsaqalain
Al-Tsaqalain adalah dua tsaqal , secara bahasa berarti berat. Tsa‘lab berkata, “Kitab Allah dan ‘itrah Nabi dinamakan Al-Tsaqalain, sebab berpegang kepada keduanya itu dirasakan berat (oleh kebanyakan orang), dan mengamalkannya juga berat. Asal kata tsaqal ialah bahwa orang-orang Arab suka mengatakan kepada setiap sesuatu yang berharga, yang penting atau yang dipelihara sebagai tsaqal , maka beliau saw menamai keduanya itu Al-Tsaqalain , karena dia memandang besar dan agung kepada kedudukan dan keadaannya.”

Al-Fairûz Âbadî berkata, “Dan (di antara arti Al-Tsaqalain) ialah sesuatu yang berharga yang mesti dijaga seperti diungkapkan dalam hadîts , “Sungguh aku telah meninggalkan Al-Tsaqalain padamu, yaitu Kitâbullâh dan ‘itrah-ku.”  

Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw adalah peninggalan beliau yang maha penting dan amat berharga yang harus dijaga dan diikuti oleh ummatnya. Apabila ummat Islam ini tidak mau mengikutinya, maka tersesatlah dari jalan yang lurus meskipun jumlahnya sangat banyak, karena menyimpang dari keduanya dan mengada-adakan ajaran yang baru. 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ قَالَ فِي خُطْبَتِهِ إِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ

Dari Jâbir bin 'Abdillâh bahwa Rasûlullâh saw telah berkata dalam khotbahnya, “Sesungguhnya sebaik-baik hadîts adalah Kitab Allah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakannya, dan setiap perkara yang diada-adakan itu bid'ah, dan setiap bid‘ah itu sesat.”  

Ahlulbait yang Disucikan
Mengapa Ahlulbait Rasûlullâh saw dijadikan padanan kitab suci Al-Quran dan jika kita tidak merujuk kepada mereka, pasti kita tersesat? Mereka dijadikan rujukan (marja‘) dikarenakan mereka itu orang-orang yang sangat mulia setelah Rasûlullâh. Oleh karena itu Allâh ‘azza wa jalla telah memilih mereka untuk dijadikan padanan Al-Quran, dan mereka dihilangkan keraguannya serta disucikannya sesuci-sucinya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), Sesungguhnya Allâh hendak menghilangkan keraguan (rijs) dari kamu wahai Ahlulbait! Dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. 

Ayat tersebut merupakan dalil yang terang mengenai kesucian Ahlulbait, mereka telah dihilangkan rijs -nya (keraguan dalam melaksanakan perintah Allah) dan mereka disucikan sesuci-sucinya sebagai ungkapan tidak melakukan dosa-dosa dan kesalahan.

Ummul Mu`minîn ‘Âisyah mengatakan bahwa ayat itu telah diturunkan berkenaan dengan keutamaan ‘Alî, Fâthimah, Hasan dan Husain.  Demikian pula menurut Ummul Mu`minîn yang lain, yaitu Ummu Salamah.  Dan menurut riwayat yang lain dari Salmân Al-Fârisi bahwa sembilan orang lagi dari keturunan Husain (yaitu ‘Ali Zainul ‘Âbidîn, Muhammad Al-Bâqir, Ja‘far Al-Shâdiq, Mûsâ Al-Kâdzim, ‘Ali Al-Ridhâ, Muhammad Al-Jawâd, ‘Ali Al-Hâdî, Hasan Al-‘Askari dan Al-Mahdi as).

Ahlulbait as adalah pewaris ilmu dan pemahaman Rasûlullâh saw yang pengetahuan manusia terdahulu dan manusia yang terakhir ada pada mereka.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَحْيَى حَيَاتِي وَ يَمُوتَ مَمَاتِي وَ يَسْكُنَ جَنَّةَ عَدْنٍ غَرَسَهَا رَبِّي, فَلْيُوَالِ عَلِيًّا بَعْدِي وَ لْيُوَالِ وَلِيَّهُ وَ لْيَقْتَدِ بِاْلأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِي, فَإِنَّهُمْ عِتْرَتِي, خُلِقُوا مِنْ طِيْنَتِي, رُزِقُوا فَهْمًا وَ عِلْمًا, وَ وَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ مِنْ أُُمَّتِي, الْقَاطِعِيْنَ فِيْهِمْ صِلَتِي, لاَ أَنَالَهُمُ اللهُ شَفَاعَتِي

Dari Ibnu 'Abbâs berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Siapa yang ingin sehidup semati denganku dan tinggal di dalam surga ‘Aden yang telah diciptakan Tuhanku, maka hendaklah dia menjadikan ‘Alî sebagai pemimpinnya setelahku, mendu-kung penggantinya dan mengikuti Ahlulbaitku setelahku, kare-na mereka itu adalah ‘itrah-ku (orang-orang yang punya hubungan darah yang dekat), mereka diciptakan dari darah dagingku, dan mereka diberi pemahamanku dan ilmuku, maka celakalah ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dengan mereka. Allah tidak akan memberikan syafa‘atku kepada mereka.”  

Ahlulbait Nabi saw adalah orang-orang yang oleh beliau diumpamakan bahtera Nabi Nûh as. Dulu, waktu terjadi air bah pada zaman beliau, tidak ada orang yang selamat selain orang-orang yang terangkut di dalam bahteranya. Maka Ahlulbait adalah bahtera keselamatan (safînah al-najâh ) bagi ummat ini supaya tidak tenggelam dalam lautan kesesatan.

عَنِ حَنَشٍ الْكِنَانِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ يَقُولُ وَ هُوَ آخِذٌ بَابَ الْكَعْبَةِ : أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَرَفَنِي فَأَنَا مَنْ عَرَفْتُمْ, وَ مَنْ أَنْكَرَنِي فَأَنَا أَبُو ذَرٍّ, سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Dari Hanasy Al-Kinânî berkata: Saya telah mendengar Abû Dzarr berkata dan dia memegang pintu Ka'bah: Wahai manusia siapa yang mengenalku maka aku orang yang kalian kenal, dan siapa yang tidak mengenalku maka aku ini Abû Dzarr, saya mendengar Rasûlullâh saw mengatakan, “Perumpamaan Ahlulbaitku adalah perumpamaan bahtera Nûh, siapa yang mengikutinya selamat, dan orang yang berpaling darinya tenggelam.” 

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ  إِنَّمَا مَثَلُ أَهِلِ بَيْتِي فِيْكُمْ كَسَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ. وَ إِنَّمَا مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي فِيْكُمْ مَثَلُ بَابِ حِطَّةٍ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ مَنْ دَخَلَهَا غُفِرَ لَهُ

Dari Abû Sa'îd Al-Khudri berkata: Saya telah mendengar Rasûlullâh saw mengatakan, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku pada kalian bagaikan bahtera Nûh, orang yang menaikinya selamat dan orang yang berpaling darinya tenggelam. Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku pada kalian adalah semisal pintu pengampunan pada Banî Isrâ`îl siapa yang memasukinya diampuninya.”   

Apabila ummat Islam di muka bumi ini ingin bersatu dan bebas dari perpecahan, maka solusinya harus merujuk kepada peninggalan Rasûlullâh saw, yakni Islam yang suci yang diriwayatkan Ahlulbaitnya yang disucikan, baik dalam ‘aqîdah (keyakinan), syarî‘ah (hukum) maupun dalam hal akhlak, sebab mereka itu sebagai pengaman untuk ummat ini dari perpecahan; tafarruq dan ikhtilâf .

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ النُّجُومُ أَمَانٌ ِلأَهْلِ الأَرْضِ مِنَ الْغَرَقِ, وَ أَهْلُ بَيْتِي أَمَانٌ ِلأُمَّتِي مِنَ الإِخْتِلاَفِ, فَإِذَا خَالَفَتْهَا قَبِيْلَةٌ مِنَ الْعَرَبِ اخْتَلَفُوا فَصَارُوا حِزْبَ إِبْليْسَ

Dari Ibnu 'Abbâs berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam (di laut saat berlayar) dan Ahlulbaitku pengaman untuk ummatku dari ikhtilâf (perselisihan dalam ajaran), maka apabila satu suku dari bangsa Arab berpaling darinya, mereka pasti ikhtilâf, lalu menjadi partai Iblîs.”  

Ringkasan
Ummat Islam yang setelah Rasûlullâh saw wajib berpegang dan berpedoman kepada Al-Quran dan Ahlulbait Rasûlullâh saw yang disucikan agar tidak tersesat, tidak menjadi partai Iblîs dan tidak menjadi ahli neraka.

Antara Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw tidak bisa dipisahkan, maka orang yang menolak salah satunya berarti menolak dua-duanya, dan menerima salah satunya berarti menerima keduanya. Seandainya ada orang yang mengklaim bahwa dirinya telah berpegang kepada Al-Quran, tetapi dia menolak Ahlulbait Rasûlullâh saw sebagai padanan Al-Quran, maka sebenarnya dia telah menolak Al-Quran itu sendiri secara halus.

Al-Quran dan Ahlulbait Nabi saw yang suci dinamakan Al-Tsaqalain (dua yang berharga), sebab keduanya merupakan peninggalan beliau saw yang sangat berharga dan mesti dibela serta dijaga, dan keduanya merupakan alat ukur untuk mengukur sesat dan tidak sesatnya kita dari jalan yang benar.

Ahlulbait Rasûlullâh saw yang disucikan (ma‘shûmîn ) adalah Fâthimah Al-Zahrâ as dan para khalîfah Rasûlullâh yang berjumlah dua belas orang.

Mengikuti Ahlulbait Nabi saw yang suci berarti mengikuti sunnah Rasûlullâh saw, sebab mereka itu adalah manusia-manusia yang menjaga sunnah-sunnah Rasûlullâh saw dan ajaran Islam dari penambahan, pengurangan dan dari segala bid‘ah yang diada-adakan orang.

Ummat Islam yang tidak mau mengikuti Al-Quran dan Ahlulbait Rasûlullâh saw adalah tersesat, dan mereka bagaikan orang-orang yang tenggelam yang ditelan air bah pada zaman Nabi Nûh as.
Kaum muslim tidak akan pernah bersatu, kecuali apabi-la sumber Islam yang sejati, yaitu Al-Quran dan Ahlulbait diikuti sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasûlullâh saw.

Janganlah tertipu dengan kajian-kajian keislaman yang  menenangkan' suasana hati yang resah serta menenangkan pikiran yang kacau, karena hal itu akan melenakan kita dari jalan yang lurus selama tidak disertakan Ahlulbait Rasûlullâh saw sebagai padanan Al-Quran.

Kaum muslimin di mana pun mereka berada tidak akan pernah bersatu, kecuali apabila sumber Islam yang sejati, yaitu Al-Quran dan Ahlulbait as dijadikan rujukan sebagaimana yang telah dipesankan oleh Nabi saw, karena mereka itu pengaman bagi ummat manusia dari perpecahan dan perselisihan.

Shaum bulan Ramadhân
Shaum bulan Ramadhân merupakan salah satu dari bangunan Islam yang lima sebagaimana telah disebutkan oleh Rasûlullâh saw.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسَةٍ : عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللهُ وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صِيَامِ رَمَضَانَ وَ الْحَجِّ. رواه مسلم في الجامع الصحيح 1/34

Dari Ibnu ‘Umar dari Nabi saw berkata, “Islam dibangun di atas lima: Atas di-tauhîd-kan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhân, dan menunaikan haji.” 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللهُ وَ يُكْفَرَ بِمَا دُوْنَهُ وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ حَجِّ الْبَيْتِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه مسلم في الجامع الصحيح 1/34)

Dari Ibnu ‘Umar dari Nabi saw berkata, “Islam itu dibangun di atas lima: Diibadati Allah dan dikufuri selain-Nya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji ke Al-Bait dan puasa pada bulan Ramadhân.”   

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ, عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : عَلَى الصَّلاَةِ وَ الزَّكَاةِ وَ الصَّوْمِ وَ الْحَجِّ وَ الْوِلاَيَةِ وَ لَمْ يُنَادَ بِشَيْءٍ كَمَا نُودِيَ بِالْوِلاَيَةِ
Dari Abû Hamzah dari Abû Ja‘far as berkata, “Islam itu dibangun di atas lima: Di atas shalat, zakat, shaum, haji dan wilâyah, dan tidak diserukan sesuatu sebagaimana diserukan dengan wilâyah.” 

 عَنْ فُضَيْلِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : عَلَى الصَّلاَةِ وَ الزَّكَاةِ وَ الصَّوْمِ وَ الْحَجِّ وَ الْوِلاَيَةِ وَ لَمْ يُنَادَ بِشَيْءٍ كَمَا نُودِيَ بِالْوِلاَيَةِ, فَأَخَذَ النَّاسُ بِأَرْبَعٍ وَ تَرَكُوا هَذِهِ يَعْنِي الْوِلاَيَةَ

Dari Fudhail bin Yasâr dari Abû Ja‘far as berkata, “Islam dibangun di atas lima: Di atas shalat, zakat, shaum, haji dan wilâyah, dan tidak diserukan sesuatu sebagaimana diserukan dengan wilâyah, lalu orang-orang mengambil empat dan meninggalkan ini (yakni wilâyah).”  

قَالَ أَبُوْ جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسَةِ دَعَائِمَ : إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صَوْمِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ حَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ وَ الْوِلاَيَةِ لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ

Abû Ja‘far as berkata, “Islam dibangun di atas lima pilar: Mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, shaum pada bulan Ramadhân, menunaikan haji ke Al-Baitul Harâm, dan wilâyah kepada kami, yakni Ahlulbait.” 

Apabila orang yang telah wajib shaum pada bulan Ramadhân, lalu dia tidak melaksanakannya, maka dia tidak membangun Islam, sebab salah satu unsurnya telah ditiadakan.

Pada malam isrâ` dan mi'râj, Nabi saw bertanya kepada Allah 'azza wa jalla tentang manfaat yang akan diwariskan ibadah shaum, dan Allah menjawabnya bahwa shaum itu mendatangkan hikmah, dan hikmah mendatangkan ma'rifah dan ma'rifah mendatangkan yaqîn . Dan jika seorang hamba Allah telah sampai ke tingkatan yaqîn yang sebenarnya, maka dia tidak akan peduli tentang hari esok; mau hidup mudah atau susah, hal itu baginya sama saja. Maka shaum itu sangatlah penting.

Di dalam buku ini, penjelasan tentang shaum bulan Ramadhân ataupun shaum-shaum yang lainnya diambil dari sunnah-sunnah Nabi saw yang diriwayatkan oleh keluarganya yang suci, semoga mafhûm. Nafa'anallâhu bimâ fî hâdzal kitâb, wa ja'alanâ minal mutamassikîna biwilâyatillâhi 'azza wa jalla wa wilâyati nabiyyihi shallallâhu 'alaihi wa ãlihi wa sallam, wa wilâyati ahli baitihi 'alaihimus salâm.

Mon, 3 Mar 2014 @07:11


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved