Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Demi Mencari Pemahaman Islam yang Benar, Curahkan Perhatian

Sepanjang sejarah setiap seorang nabi wafat, maka tampil manusia-manusia yang jahatnya menguasai orang-orang yang baiknya, kemudian penguasa yang zalim itu merubah ajarannya sedikit-sedikit, lalu pecahlah ummat menjadi beberapa golongan, dan setiap golongan merasa bangga dan merasa paling benar dengan paham yang ada pada golongannya. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا, لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ. ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيُّومُ وَ لَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ. مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَ اتَّقُوهُ وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ لاَ تُكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَ كَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ajaran (Allah) sebagai fithrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) ajaran yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan bertobat kepada-Nya dan ber-taqwâ-lah kepada-Nya serta dirikankanlah shalat dan janganlah kamu termasuk manusia-manusia yang menyekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah ajarannya hingga mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya.

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa syirik itu bukan hanya berkeyakinan ada lagi tuhan lain selain Allah, tetapi memecah-belah ajaran-Nya juga termasuk perbuatan syirik.

Beda Tipis Antara Yahudi, Nasrani dan Muslim
Zaman Nabi saw adalah zaman persatuan, tetapi setelah beliau wafat sampai masa keghaiban khalîfahnya yang terakhir adalah zaman perpecahan. Dan kita sekarang sedang berada pada zaman perpecahan itu, dan secara faktual kita menyaksikan dan merasakannya, dan terkadang perpecahan itu terjadi pada komunitas yang sepaham dalam lahiriah. Dan mengenai perpecahan manusia, jauh-jauh Rasûlullâh saw telah menyebutkan.

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِيْهِ اَلْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ أُمَّةَ مُوسَى اِفْتَرَقَتْ بَعْدَهُ عَلَى إِحْدَى وَ سَبْعِيْنَ فِرْقَةً فِرْقَةٌ مِنْهَا نَاجِيَةٌ وَ سَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَ افْتَرَقَتْ أُمَّةُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَعْدَهُ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ فِرْقَةً فِرْقَةٌ مِنْهَا نَاجِيَةٌ وَ إِحْدَى وَ سَبْعُونَ فِي النَّارِ وَ إِنَّ أُمَّتِي سَتَفْتَرِقُ بَعْدِي عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ فِرْقَةً فِرْقَةٌ مِنْهَا نَاجِيَةٌ وَ اثْنَتَانِ وَ سَبْعُونَ فِي النَّارِ

Dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya dari ayahnya Al-Husain bin ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata: Saya telah mendengar Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya ummat Mûsâ telah pecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan darinya selamat dan tujuh puluh (golongan) masuk ke dalam neraka. Dan ummat ‘Îsâ as telah pecah setelahnya menjadi tujuh puluh dua golongan, satu golongan darinya selamat dan tujuh puluh satu (golongan) masuk ke dalam neraka. Dan sungguh ummatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan darinya selamat dan tujuh puluh dua (golongan) masuk ke dalam neraka.”  

Maka perpecahan yang terjadi di kalangan Banî Isrâ`îl (yahudi dan nasrani) dan muslim seperti adik dan kakak, ada kemiripan dalam perpecahan dan perilaku, yaitu tujuh puluh satu, tujuh puluh dua dan tujuh puluh tiga, dan barangkali ungkapan bilangan tujuhpuluhan itu menunjukkan kepada banyak.

Rasûlullâh saw pernah berkhotbah di hadapan para sahabatnya yang muslim, dan beliau menyebutkan bahwa sahabat-sahabatnya (dan kaum muslim yang lain) akan mengikuti ummat-ummat sebelumnya secara sedikit-sedikit.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّي لَوْ سَلَكُوا حُجْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ, اَلْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ

Rasûlullâh saw berkata, “Sungguh kalian akan benar-benar mengikuti sunnah-sunnah ummat sebelum kalian secara sejengkal-sejengkal dan sehasta-sehasta, hingga seandainya mereka memasuki lubang biawak sekalipun, kalian pasti memasukinya pula.” Kami bertanya, “Kaum yahudi dan kaum nasranikah (yang akan kami ikuti)?” Beliau berkata, “Maka siapa lagi (kalau bukan mereka itu).”

Dan barangkali ungkapan dengan bilangan 71, 72, dan 73 itu adalah ungkapan untuk menunjukkan kepada banyak, sebab secara faktual banyak sekali golongan di kalangan kaum muslim, atau mungkin jumlah golongan-golongan yang besarnya saja, wallâhu ‘alam.

Tetapi untuk kembali menjadi ummat yang satu bukanlah sesuatu yang mustahil asalkan masing-masing pihak ada kemauan untuk mengembalikan segala perkara dan permasalahan yang diperselisihkan kepada Allah, Rasûl-Nya dan kepada Ulil Amr (Ahlulbait Nabi saw) sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab suci Al-Quran, dan itu satu-satunya solusi kalau kita mau.

Mendamaikan Orang yang Berselisih
Perpecahan yang terjadi, anggaplah sebagai madrasah maftûhah (sekolah terbuka) untuk mendewasakan kita dalam berfikir, dan menjadi motivasi untuk mencari yang satu yang tidak sesat, dan yang paling penting, kita jangan menjadi aktor pemecah belah ummat, dan bahkan kita harus menjadi perekat dan arbiter (juru damai).

Mendamaikan orang-orang yang berselisih adalah perbuatan yang sangat terpuji, karena pada dasarnya manusia itu bersaudara dan tidak boleh bermusuhan, dan kalau kita bermusuhan lebih dari tiga hari, maka hukumnya haram. Imam Ja‘far Al-Shâdiq as melaknat dua orang yang bermusuhan, dan beliau lebih sering melaknat pihak yang salahnya. Ada orang yang bertanya kepada beliau, “Orang yang salah pantas untuk dilaknat, tetapi mengapakah orang yang benar juga mesti dilaknat?” Beliau benjawab, “Orang yang ada di pihak yang benar juga harus menawarkan perdamaian, kalau tidak, maka sama-sama bersalah.”

قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَ اتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Allah yang maha tinggi telah berfirman, Sesungguhnya orang-orang mu`min itu saudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu, dan ber-taqwâ -lah kepada Allah supaya kamu diberi rahmat.

وَ قَوْلُهُ تَعَالَى: فَاتَّقُوا اللهَ وَ أَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِِكُمْ

Firman-Nya yang maha tinggi, Maka ber-taqwâ -lah kamu kepada Allah dan damaikanlah orang yang berselisih di antara kamu.

وَ قَوْلُهُ تَعَالَى: لاَ خَيْرَ فِي كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَ مَنْ يَفْعَلْ ذَالِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ أَجْرًا عَظِيْمًا

Dan firman-Nya yang maha tinggi, Tidak ada kebaikan pada bisikan-bisikan mereka, kecuali orang yang menyuruh (manusia lain) dengan sedekah, atau berbuat ma‘rûf (kebaikan), atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian karena mencari rela Allah, maka Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar.

Mendamaikan Orang yang Berselisih Lebih Utama dari Semua Ibadah
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَ الصَّلاَةِ وَ الصَّدَقَةِ ؟ إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ, فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْخَالِقَةِِ

Rasûlullâh saw berkata, “Maukah kukabarkan kepadamu amal yang lebih utama dari tingkatan puasa, shalat dan sedekah? Yaitu mendamaikan orang yang berselisih, sebab kerusakan dari akibat orang-orang yang berselisih itu adalah bencana.”  

Mendamaikan manusia itu dengan cara mengajak mereka sama-sama kembali kepada suber sebenarnya yang dapat mempersatukan, yakni kembali kepada Al-Quran dan Sunnah-sunnah Rasûlullâh saw yang sah yang telah diriwayatkan oleh Ahlulbaitnya yang disucikan.

قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَبُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَ أَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَ أُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْئٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَ الرَسُوْلِ إِنْْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَ أَحْسَنُ تَأْوِيْلاً

Allah ta‘âlâ berfirman, Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasûl dan Ulilamri (Ahlulbait) di antara kamu, jika ada sesuatu yang kamu perselisihkan, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasûl jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu baik untuk kamu dan lebih baik akibatnya. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَ إِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ اْلأَمْنِ أََوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ, وَ لَوْ رَدُّوْهُ إِلَى الرَّسُوْلِ وَ إِلَى أُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنَهُ مِنْهُمْ

Allah ta‘âlâ berfirman, Dan bila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lantas menyiarkannya, dan kalaulah mereka mengembalikannya kepada Rasûl dan kepada Ulil amri (Ahlulbait Nabi saw) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka. 

Penyebab Perpecahan
Sebab-sebab terjadinya perpecahan dan permusuhuan di kalangan ummat manusia, sekurang-kurangnya ada dua:

Pertama, karena orang-orang yang bâthil (salah) menjadi penguasa, kemudian mereka membuat keputusan, peraturan, dan hukum-hukum yang menyimpang dari ajaran yang benar, dan orang-orang yang bâthil itu pasti akan melahirkan perkara-perkara yang bâthil pula.

Kedua, karena terjadi ikhtilâf , yaitu penolakkan atau penyimpangan dari ajaran Islam yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla baik penambahan atas ajaran yang suci dengan bid‘ah-bid‘ah maupun pengurangan.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَسَلَّمَ : مَا اخْتَلَفَتْ أُمَّةٌ بَعْدَ نَبِيَّهَا إِلاَّ ظَهَرَ أَهْلُ بَاطِلِهَا عَلَى أَهْلِ حَقِّهَا

Rasûlullâh saw berkata, “Segolongan ummat tidak terjadi ikhtilâf setelah nabinya, kecuali dengan tampilnya orang-orang yang batil menguasai orang-orang yang benar.”  

قَالَ اْلإِمَامُ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : سَبَبُ الْفُرْقَةِ اْلإِخْتِلاَ فُ

Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata, “Penyebab perpecahan adalah ikhtilâf (menyalahi kebenaran).”  

Ummat Islam Pecah
Rasûlullâh saw telah mensinyalir bahwa ummat Islam ini akan mengikuti ummat Islam sebelumnya (Ummat Islam Mûsâ as dan Ummat Islam ‘Îsâ as) dalam hal merubah ajaran Islam yang suci dan memutar balikkan penafsiran Kitab Suci hingga terjadilah perpecahan. 

Ikhtilâf telah Terjadi Sejak Sahabat Nabi
Dalam Al-Quran telah diungkapkan bahwa sahabat-sahabat Nabi saw banyak yang munâfiq antara lain dalam sûrah Al-Taubah atau Barâ`ah.

وَ مِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ, وَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ, لاََ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُم سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّوْنَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيْمٍ

Dan di antara orang-orang a‘râb yang ada di sekelilingmu ada orang-orang yang munâfiq, dan demikian (pula) penduduk Al-Madînah memendam sifat nifâq, kamu tidak tahu mereka, Kami tahu mereka, Kami akan menyiksa mereka dua kali, kemudian mereka dijerumuskan kepada siksaan yang besar. 

Dan tentang mereka yang berani merubah ajaran Islam juga, telah disebutkan di beberapa kitab yang antara lain kitab Shahîh Al-Bukhâri bab Al-Haudh. 

عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُحْتَلَجَنَّ دُوْنِي فَأَقُوْلُ : يَارَبِّ أَصْحَابِي. فَيُقَالُ : إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ. رواه البخاري في صحيحه 4/141

Dari ‘Abdullâh, dari Nabi saw berkata, “Aku menunggu kalian di telaga, kemudian beberapa orang dari kalian datang, tetapi kemudian mereka dijauhkan dariku, kemudian aku berkata, 'Wahai Tuhanku! Mereka itu sahabat-sahabatku.' Maka dikatakan, 'Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka ubah sepeninggalmu.’” 

عَنْ أَنَسٍ عَنْ  النَّبِيِّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِي الْحَوْضَ حَتَّى عَرَفْتُهُمُ احْتُلِجُوا دُوْنِي فَأَقُوْلُ أَصْحَابِي. فَيَقُوْلُ : لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dari Anas, dari Nabi saw berkata, “Sungguh, sebagian sahabatku akan datang kepadaku di telaga hingga setelah aku mengenal mereka, mereka dijauhkan dariku, maka aku berkata, 'Itu adalah sahabat-sahabatku.' Kemudian Dia berfirman, 'Kamu tidak tahu bid‘ah yang telah mereka perbuat setelahmu.’” 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: بَيْنَا أَنَا قَائِمٌ إِذَا زُمْرَةٌ حَتَى إِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَ بَيْنَهُمْ فَقَالَ : هَلُمَّ. قُلْتُ : أَيْنَ ؟ قَالَ : إِلَى النَّارِ وَاللهِ. قُلْتُ : وَ مَا شَأْنُهُمْ ؟ قَالَ : إِنَّهُمُ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمُ اْلقَهْقَرَى, ثُمَّ إِذَا زُمْرَةٌ حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَ بَيْنَهُمْ فَقَالَ : هَلُمَّ. قُلْتُ: أَيْنَ ؟ قَالَ: إِلَى النَّارِ وَاللهِ. قُلْتُ : وَمَا شَأْنُهُمْ ؟ قَالَ : إِنَّهُمُ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمُ اْلقَهْقَرَى فَلاَ أُرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ

Dari Abû Hurairah dari Nabi saw berkata, “Tatkala aku sedang berdiri tiba-tiba datang satu rombongan sehingga ketika aku mengenal mereka, keluarlah seseorang antaraku dan mereka, lalu dia berkata, 'Kemarilah.' Aku bertanya, 'Mau dibawa kemana?' Dia berkata, 'Ke neraka.' Aku bertanya, 'Dan mengapakah keadaan mereka itu?' Dia bilang, 'Sesungguhnya mereka itu telah murtadd setelahmu atas tumit-tumit mereka kembali.' Kemudian datang lagi satu rombongan sehingga ketika aku mengenal mereka keluarlah seseorang antaraku dan mereka, lalu dia berkata, 'Kemarilah.' Aku bertanya, 'Mau dibawa kemana?' Dia berkata, 'Ke neraka.' Aku bertanya, 'Dan mengapakah keadaan mereka itu?' Dia bilang, 'Sesungguhnya mereka itu telah murtadd setelahmu atas tumit-tumit mereka kembali (kepada cara yang tidak baik).' Maka tidak kelihatan ada yang selamat dari mereka melainkan sangat sedikit.”   

Murtadd itu menolak ajaran Allah dan Rasûl-Nya baik sebagian maupun secara keseluruhan.

Ikhtilâf bukanlah Rahmat
Iikhlilâf itu artinya: 1. Tidak setuju (naqîdhul ittifâq ), 2. Tidak terpisah-pisah seperti dalam hadîts al-‘âlimul khabîru bilâ ikhtilâfil ma‘nâ , 3. Bermacam-macam sebagaimana pada ayat mukhtalifun alwânuh (tentang warna madu yang bermacam-macam) dan 4. Sering bulak-balik ke suatu tempat seperti dalam hadîts: Man ikhtalafa ilal masâjid, ashâba ihdats tsamân (siapa yang sering ke masjid-masjid dia mendapatkan salah satu yang berharga). 

Ada sabda Nabi yang dipotong sehingga menimbulkan kerancuan, yaitu sabdanya: Ikhtilâfu ummatî rahmah … (perbedaan ummatku rahmat). Sabda Nabi saw berkenaan dengan perbedaan tempat. Ada orang yang bertanya tentang makna ikhlilâf dalam perkataan Nabi itu, dan beliau saw menjelaskan bahwa ikhlilâf sebagai rahmat itu adalah ikhlilâf dalam hal tempat (ikhtilâf fil buldân ). Misalnya sahabat-sahabat Rasûlullâh saw yang datang dari berbagai daerah; ada yang datang dari Ghifâr, ada yang datang dari Yaman, ada yang dari Ethiopia, ada yang dari negeri Persia dll, kemudian mereka bersaudara secara Islam dengan keyakinan yang sama, syarî‘ah yang sama dan budi pekerti yang sama, maka hal itu mendatangkan rahmat. Jadi ikhtilâf yang terdapat pada sabda Nabi itu konteksnya adalah dengan makna yang ketiga, yaitu berbeda-beda suku bangsa, tetapi dalam keyakinan dan akhlak yang sama, maka tentu saja ikhtilâf semacam ini akan mendatangkan rahmat atau kasih.

Adapun perbedaan paham dalam ajaran Islam, maka hal itu bukanlah rahmat, melainkan petaka, bala, permusuhan, kebencian, pembunuhan bahkan sampai kepada peperangan. Ikhlilâf semacam ini adalah ikhlilâf dengan makna yang pertama, yakni tidak ada kecocokan dengan ajaran Islam sehingga menentangnya atau berpaling darinya. Dan ikhlilâf dalam pengertian ini sangat dilarang, sebab akan mendatangkan malapetaka, dan karena itu diancam dengan siksaan yang besar sebagaimana yang Allah ‘azza wa jalla firmankan.

وَ لاَ تَكُونُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَ اخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ اْلبَيِّنَاتُ وَ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Dan janganlah kamu menjadi seperti mereka yang bercerai-berai (tafarruq) dan berselisih (ikhtilâf) setelah datang kepada mereka penjelasan-penjelasan, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang besar. 

Mencari yang Benar
Karena di kalangan ummat Islam banyak sekali pemahaman yang berbeda-beda sehingga seringkali saling menyalahkan dan bahkan saling menyesatkan, maka untuk mencari yang benar, kita mesti bertindak objektif (keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi); jangan merasa diri paling benar dan jangan memvonis orang lain yang salah dan sesat. Tetapi hendaknya kita melakukan auto kritik, jangan-jangan kitalah yang tersesat dari jalan yang lurus, dan mungkin saja mereka yang benar, maka untuk pencarian yang benar, ada beberapa langkah yang harus kita tempuh.

1. Dengan Kontemplasi tentang Eksistensi Kita
Coba kita lakukan kontemplasi (perenungkan dengan perhatian penuh) tentang keberadaan diri kita, buat apa kita ini diciptakan? Jawaban yang cepat kita mengambil dari Al-Quran bahwa Allah menciptakan kita HANYA untuk mengabdi kepada-Nya, bukan untuk menentang ajaran-Nya, bukan untuk membanggakan diri dengan apa yang ada pada diri kita dan golongan kita, dan bukan pula untuk bermain-main. Maka dengan menghilangkan rasa ego, rasa keakuan (anâniyyah ), dan rasa kesukuan (‘ashabiyyah ), dan dengan kesadaran sebagai hamba yang tak punya apa-apa, tentu akan lebih mudah dalam mencari yang benar. Allah telah mengingatkan kita semua tentang tujuan penciptaan kita sebagai manusia.
   
وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ اْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
   
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melaikan untuk mengabdi kepada-Ku.

2. Dengan Semangat dalam Pencariannya
Taufîq dan hidâyah-Nya akan diberikan kepada orang yang punya himmah (semangat) dalam mengabdi kepada-Nya sebagaimana dalam firman-Nya.
 
    وَ الَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَ إِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam (ajaran) Kami, niscaya Kami akan memberi mereka petunjuk kepada jalan-jalan Kami dan sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.

قَالَ اْلإِمَامُ عَلِيٌّ ع : قَدْرُ الرَّجُلِ عَلىَ قَدْرِ هِمَّتِهِ. وَ قَالَ : كُنْ بَعِيْدَ الْهِمَمِ إِذَا طَلَبْتَ

Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as telah berkata, “Kadar (nilai) manusia tergantung kepada kadar semangatnya." Dan beliau berkata, “Jadilah kamu orang yang jauh semangatnya bila kamu menuntut (sesuatu).”

Imam Ja‘far Al-Shâdiq as mengatakan bahwa ada tiga perkara yang menghalangi manusia dalam menuntut ketinggian atau kemuliaan sebagaimana dalam sabdanya berikut ini:
 
قَالَ الصَّادِقُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : ثَلاَثٌ يَحْجُبْنَ الْمَرْءَ : قَصْرُ الْهِمَّةِ وَ قِلَّةُ الْحِيْلَةِ وَ ضَعْفُ الرَّأْيِ

Al-Shâdiq as telah berkata, “Ada tiga perkara yang menghijab (menghalangi) manusia (dari mencapai kebenaran): Pendek semangat, sedikit usaha dan lemah fikiran.” 

3. Keberanian
Keberanian yang baik sangatlah diperlukan dalam pencarian kebenaran, bagaimana bisa seseorang sampai kepada yang benar jika dia tidak berani berbeda dengan kebanyakan orang, sedangkan sepanjang sejarah, mayoritas manusia itu tersesat dari jalan yang lurus, dan bila dari kalangan orang yang banyak itu ada yang menjadi atasan kita dalam jabatan dan pekerjaan, ada orang tua dan keluarga kita, dan ada masyarakat kita, maka kalau kita tidak punya keberanian untuk berpegang kepada yang benar, tentu kita tidak akan mencapainya, sebab kita lebih takut kepada manusia yang tidak punya apa-apa dari pada kepada Allah ‘azza wa jalla yang punya segalanya. Rasûlullâh saw dari jauh-jauh sudah mengingatkan bahwa memegang yang benar itu seperti memegang bara, yang jika dilepaskan kita tidak memegangnya, yang jika kita pegang tangan kita terbakar! Maka keberanian mutlak dalam hal ini.

قَالَ اْلإِمَامُ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلاَم ُ: لَوْ تَمَيَّزَتِ اْلأَشْيَاءُ لَكَانَ الصِّدْقُ مَعَ الشَّجَاعَةِ وَ كَانَ الْجُبْنُ مَعَ الْكَذِبِ

Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata, “Kalaulah segala sesuatu dipisahkan, niscaya kejujuran bersama keberanian dan sifat pengecut bersama kebohongan.” 

قَالَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : السَّخَاءُ وَ الشَّجَاعَةُ غَرَائِزُ شَرِيْفَةٌ يَضَعُهَا اللهُ فِيْمَنْ أَحَبَّهُ وَ امْتَحَنَهُ

Amîrul Mu`minîn as berkata, “Kedermawanan dan keberanian adalah naluri yang mulia yang Allah letakkan pada orang yang Dia sukai, dan Dia mengujinya.” 

4. Dengan Menggunakan Akal (‘Aql)
Akal adalah potensi suci dan kekuatan untuk menggapai kemuliaan di sisi Allah ‘azza wa jalla. Rasûlullâh saw menyamakan akal dengan ajaran, karena orang yang tidak menggunakan akalnya tidak akan bisa mengamalkan Islam dengan benar dan secara menyeluruh. Dan orang yang tidak menerima ajaran Islam yang telah disampaikan Rasûlullâh saw baik secara keseluruhan maupun sebagiannya saja hanyalah orang yang tidak menggunakan akalnya. Dan orang yang tidak mengunakan akalnya akan lebih rendah daripada binatang yang paling rendah.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : قِوَامُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ وَ لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ

Rasûlullâh saw telah berkata, “Pelurus manusia adalah akalnya, dan tidak beragama bagi orang yang tidak menggunakan akalnya.”

Akal adalah hujjah Allah ‘azza wa jalla yang apabila kita tidak menggunakannya, maka satu saat dia akan menghujat kita atau kita dihujat karenanya.

قَالَ الإِمَامُ مُوْسَى الكَاظِمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : إِنَّ لِلَّهِ عَلىَ النَّاسِ حُجَّتَيْنِ: حُجَّةً ظَاهِرَةً وَ حُجَّةً بَاطِنَةً, فَأَمَّا الْحُجَّةُ الظَّاهِرَةُ فَالرُّسُلُ وَ الأَنْبِيَاءُ وَ اْلأَئِمَّةُ, وَ أَمَّا الْبَاطِنَةُ فَالْعُقُولُ

Imam Mûsâ Al-Kâzhim as telah berkata, “Sesungguhnya Allah punya dua hujjah atas manusia: Hujjah yang tampak dan hujjah yang tersembunyi. Adapun hujjah yang tampak itu adalah para rasûl, para nabi dan para imam, dan adapun hujjah yang tersembunyi adalah akal.” 

5. Berpegang kepada Kitab Allâh dan Ahlulbait Nabi
Adalah suatu keharusan bagi kaum muslimin untuk berpegang dan berpedoman kepada Kitab Suci Al-Quran dan Ahlulbait Nabi yang disucikan agar mereka tidak tersesat dari jalan yang lurus, dan berada dalam kebenaran sebagaimana pada hadîts berikut.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ لَنْ تَضِلُّوا مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللهِ وَ عِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي. سنن الترمذي 2/320

Rasûlullâh saw berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kalian yang kalian tidak akan tersesat jika berpegang dengannya: Kitab Allah (Al-Quran) dan ‘Itrahku yakni Ahlulbaitku.”  

Mengkaji sebagian ajaran Islam akan menimbulkan pemahaman yang parsial dan pemahaman yang parsial akan menimbulkan perbedaan dan ikhtilâf dan pada akhirnya pecah. Ada sekelompok orang Islam yang seluruh hidupnya mendalami hati (qalb ) seakanakan Islam itu identik dengan hati. Ada yang mendalaminya seputar tashawwuf seakan-akan Islam itu isinya itu. Ada yang mendalami jihad seolah-olah Islam itu hanya jihad. Ada yang mendalami fiqh (pemahaman orang) sepertinya Islam itu isinya hanya fiqh. Dan demikian pula komunitas muslim yang lainnya hanya mengkaji Islam sesuai dengan seleranya. Adanya partai Islam yang banyak, ormas Islam yang banyak, dan adanya tarekat Islam yang banyak itu, penyebabnya adalah karena kajian, pemahaman dan pengamalan Islam yang parsial, dan juga adanya para muballigh yang tidak jujur, yaitu memanfaatkan Islam untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya seperti mencari harta dan popularitas.

Maka berpegang kepada Al-Quran dan Ahlulbait as itu, tentu dalam segala halnya, baik dalam hal akidah, keyakinan, syarî‘ah, hukum maupun akhlak, baik yang berkenaan dengan aspek lahir maupun yang berkaitan dengan aspek batin. Maka jika ingin hidup benar dan bersatu karena Allah, inilah sebenarnya solusinya. Allah ‘azza wa jallah berfirman:

    وَ اعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu kepada tali Allah semuanya, dan janganlah kamu bercerai-berai.

Fri, 28 Feb 2014 @15:53


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved