Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 081220891192 083829417557


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Cara Memandikan Jenazah

Jenazah dimandikan karena ada kaitannya dengan hadats besar, karena pada saat pencabutan nyawa, keluarlah sperma dari bagian tubuhnya. Hukum memandikannya wajib yang bersifat kifâyah , dan dikecualikan dari itu beberapa golongan.
1.    Janin yang gugur yang usianya belum mencapai empat (4) bulan, maka dia tidak wajib dimandikan, cukup dibungkus saja dengan sehelai kain lalu dikuburkan.
2.    Syahîd atau syahîdah, yakni orang yang gugur (terbunuh) dalam perang di jalan Allah karena membela dan memperjuangkan Islam yang suci, dia tidak dimandikan, tidak di-tahnîth dan tidak dikafani, melainkan dikubur saja dengan pakaiannya, kecuali jika dalam keadaan telanjang, maka dia dikafani. Syahîd atau syahîdah yang tidak dimandikan, tidak di-tahnîth dan tidak dikafani itu adalah orang yang ruhnya keluar pada saat perang atau orang yang ke-syahâdah -annya ditemukan di luar medan perang.
3.    Orang yang meninggal karena dihukum rajam atau qishâsh (hukum balas).

Adab-adabnya
1.    Jenazah ditempatkan di tempat yang agak tinggi seperti dipan atau yang lainnya yang tempat kepalanya lebih tinggi dari kedua kakinya.
2.    Diletakkan dengan menghadap ke kiblat seperti pada saat ihtidhâr.
3.    Ditanggalkan pakaiannya dari arah kedua kakinya.
4.    Tempatnya di bawah atap atau di dalam tenda.
5.    Menggali tanah untuk mengalirkan air bekas memandikannya ke situ.
6.    Telanjang, namun ditutup auratnya.
7.    Ditutup auratnya sekalipun orang-orang yang memandikannya dan orang yang hadir adalah orang yang boleh melihatnya.
8.    Melenturkan jari-jemarinya dengan lembut, demikian pula semua sendi-sendinya apabila tidak ada kesulitan.
9.    Mencuci kedua tangannya sehingga pertengahan lengannya atau hastanya, masing-masing sebanyak tiga (3) kali, utamanya pencucian pertama dengan memakai daun bidara, yang keduanya dengan air yang dicampur kapur barus dan yang ketiganya dengan air murni tanpa campuran apa pun.
10.    Mencuci kepalanya dengan buih bidara dengan hati-hati agar tidak masuk ke dalam hidungnya atau ke dalam telinganya.
11.    Mencuci kemaluannya dengan air yang telah dicampur dengan bidara sebelum memandikannya sebanyak tiga (3) kali, utamanya dengan sepotong kain di tangan kiri, kemudian membersihkan kemaluannya.
12.    Menyapu perutnya dengan lembut pada mandi yang pertama dan yang kedua, kecuali perempuan yang hamil yang anaknya meninggal di dalam perutnya.
13.    Pada setiap memandikan dimulai dari sebelah kanannya.
14.    Orang yang memandikan mayyit sebaiknya berdiri di sebelah kanan mayyit.
15.    Orang yang memandikannya mencuci kedua tangannya sampai sikut bahkan sampai ke bahu pada setiap memandikan sebanyak tiga (3) kali.
16.    Mengusap-usap badannya pada saat memandikannya dengan tangan untuk menambah kesempurnaan, kecuali jika dikhawatirkan ada sesuatu yang terlepas dari bagian badannya, maka cukup saja dikucurkan air di atasnya.
17.    Dimandikan dengan air sebanyak enam (6) geribah (sekitar 3 ember yang sedang).
18.    Setelah dimandikan, dikeringkan dengan kain yang bersih.
19.    Diwudhukan seperti wudhu untuk shalat sebelum dimandikan pada mandi yang pertama dan yang kedua.
20.    Dicuci setiap anggotanya sebanyak tiga kali pada setiap mandi.
21.    Jika orang yang memandikannya akan mengkafaninya, maka hendaknya dia mencuci kedua kakinya sehingga kedua lututnya.
22.    Orang yang memandikannya hendaknya dia sibuk dengan mengingat Allah dan ber-istighfâr pada waktu memandikan jenazah dan lebih utama apabila dia berulang-ulang mengucapkan kalimat: Allâhumma hâdzâ badanu ‘abdikal mu`min (jika perempuan: amatikal mu`minah ) wa qad akhrajta rûhahu min badanihi (jika perempuan: rûhahâ min badanihâ ) wa farraqta bainahumâ, ‘afwaka, ‘afwaka. (Ya Allah, ini badan hamba-Mu yang beriman yang telah Engkau keluarkan ruhnya dari badannya, dan telah Engkau pisahkan di antara keduanya, maaf-Mu, maaf-Mu).
23.    Tidak menampakkan aibnya yang ada pada badannya apabila orang melihatnya.

Beberapa Perkara yang Dibenci (Makrûh)
1.    Mendudukkannya pada waktu memandikannya.
2.    Melangkahinya pada saat memandikannya.
3.    Mencukur rambutnya.
4.    Mencabuti bulu ketiaknya.
5.    Menggunting kumisnya.
6.    Memotong kukunya.
7.    Menyisiri rambutnya.
8.    Membersihkan kukunya dengan alat.
9.    Memandikannya dengan air yang dipanaskan.
10.  Mengalirkan air bekas memandikannya ke dalam toilet.
11.  Mengusap-usap perut jenazah perempuan yang hamil.

Syarat Orang yang Memandikan
1.    Telah dewasa.
2.    Berakal.
3.    Beriman (kepada dua belas khalîfah Rasûlullâh).
4.    Mumâtsil, yaitu orang yang memandikan dengan jenazah yang dimandikannya itu sejenis. Maka lelaki tidak boleh memandikan jenazah perempuan atau sebaliknya, kecuali dalam beberapa perkara: 1. Anak yang umurnya tidak lebih dari tiga tahun boleh dimandikan oleh lelaki atau perempuan. 2. Suami atau istri masing-masing boleh dimandikan oleh yang lainnya. 3. Muhrimnya boleh memandikan jika tidak ada mumâtsil.

Cara Memandikan Jenazah
Pertama-tama harus dihilangkan benda-benda najis yang melekat pada tubuhnya jika ada, kemudian dimandikan sebanyak tiga kali: Mandi yang pertama dengan air yang dicampur daun bidara yang telah diremas-remas, mandi kedua dengan air yang dicampur kapur barus (kamper), dan mandi ketiga dengan air murni yang tidak dicampur oleh apa pun, dan memandikan jenazah (mayyit ) itu tidak memakai sabun atau shampo (cairan sabun pencuci rambut yang terbuat dari campuran zat kimia).

Cara mandi yang tiga ini seperti mandi janâbah, dimulai dengan mencuci kepala, kemudian leher bagian depan dan belakang, kemudian badan kanan berikut tangan dan kakinya dan kemudian badan kiri berikut tangan dan kakinya.

Hukum yang Berkenaan dengan Air
Pertama, jika kapur barus dan bidara telah tersedia atau salah satunya, hukum memandikan jenazah itu ada beberapa gambaran.
1.    Apabila yang tidak ada itu daun bidara, dia dimandikan dengan air murni sebagai penggantinya, kemudian dengan air bercampur kapur barus, kemudian de-ngan air murni.
2.    Bila yang tidak ada itu kapur barus, maka dimandikan dengan air campuran bidara sebagai mandi yang pertama, kemudian dengan air murni sebagai pengganti air campuran kapur barus dan kemudian dengan air murni lagi sebagai mandi yang ketiga.
3.    Apabila keduanya tida diperoleh, maka dia dimandikan dengan air murni sebanyak tiga kali mandi.

Kedua, apabila air buat memandikan jenazah itu tidak ada, dia ditayammumkan sebanyak tiga kali sebagai pengganti mandi yang tiga. Demikian pula mayyit yang terluka atau terbakar yang dikhawatirkan kulit-kulitnya terkelupas.

Ketiga, bila air hanya cukup untuk satu kali mandi dan daun bidara ada, dia dimandikan dengan air yang dicampur dengan daun bidara, lalu ditayammumkan dua (2) kali sebagai pengganti air kapur barus dan air murni. Dan jika bidara tidak ada, maka dia dimandikan dengan air murni sebagai penggantinya, kemudian ditayammumkan dua (2) kali.

Keempat, apabila tidak ada air kecuali sekedar untuk mandi dua kali, maka berikut ini gambarannya.
1.    Apabila campuran yang ada itu hanya bidara, dia dimandikan dengan air bidara (mandi yang pertama), kemudian dengan air murni sebagai pengganti air kapur barus, kemudian ditayammumkan sebagai pengganti air murni.
2.    Bila campuran yang ada itu kapur barus, dia dimandikan dengan air murni sebagai pengganti air bidara, kemudian dengan air kapur barus, kemudian ditayammumkan.
3.    Jika kedua campuran itu ada, maka air digunakan untuk itu dan dia ditayammumkan sebagai pengganti air murni.
Kelima, apabila orang yang sedang ihrâm dalam haji, kemudian dia meninggal sebelum memotong rambut atau kuku di dalam ‘umrah atau meninggalnya sebelum sa‘i antara Shafâ dan Marwah di dalam haji, maka dalam mandi yang kedua tidak boleh memakai kapur barus dan tidak boleh di-tahnith .

Dalil-dalil Memandikan Mayyit
عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ إِذَا أَرَدْتَ غُسْلَ الْمَيِّتِ فَاجْعَلْ بَيْنَكَ وَ بَيْنَهُ ثَوْباً يَسْتُرُ عَنْكَ عَوْرَتَهُ إِمَّا قَمِيصٌ وَ إِمَّا غَيْرُهُ ثُمَّ تَبْدَأُ بِكَفَّيْهِ وَ رَأْسِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِالسِّدْرِ ثُمَّ سَائِرِ جَسَدِهِ وَ ابْدَأْ بِشِقِّهِ الْأَيْمَنِ فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَغْسِلَ فَرْجَهُ فَخُذْ خِرْقَةً نَظِيفَةً فَلُفَّهَا عَلَى يَدِكَ الْيُسْرَى ثُمَّ أَدْخِلْ يَدَكَ مِنْ تَحْتِ الثَّوْبِ الَّذِي عَلَى فَرْجِ الْمَيِّتِ فَاغْسِلْهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَرَى عَوْرَتَهُ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ غُسْلِهِ بِالسِّدْرِ فَاغْسِلْهُ مَرَّةً أُخْرَى بِمَاءٍ وَ كَافُورٍ وَ شَيْ‏ءٍ مِنْ حَنُوطِهِ ثُمَّ اغْسِلْهُ بِمَاءٍ بَحْتٍ غَسْلَةً أُخْرَى حَتَّى إِذَا فَرَغْتَ مِنْ ثَلَاثٍ جَعَلْتَهُ فِي ثَوْبٍ ثُمَّ جَفَّفْتَهُ
Dari Al-Halabi, dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Apabila kamu hendak memandikan mayyit, maka jadikanlah di antaramu dan dia satu helai kain yang menutup auratnya darimu, baik qamîsh atau yang lainnya, kemudian kamu mulai dengan kedua telapak tangannya dan kepalanya tiga kali dengan daun bidara, kemudian seluruh tubuhnya dan mulailah dari bagian yang kanan. Maka apabila kamu hendak membasuh kemaluannya, ambillah sehelai kain penyeka yang bersih, lalu lipatkanlah kepada tanganmu yang kiri, kemudian masukkanlah tangannmu dari bawah kain atas kemaluan mayyit, maka basuhlah ia tanpa kamu melihatnya, maka apabila telah selesai dari memandikannya dengan bidara, maka mandikanlah yang kedua kalinya dengan air kâfur , dan sisakan sedikit (kâfûr ) untuk men-tahnîth-nya. Kemudian mandikan lagi dengan air murni yang ketiga kalinya sehingga apabila kamu telah selesai dari mandi yang tiga, kamu menjadikannya dalam sehelai kain, kemudian kamu mengeringkannya."

عَنِ ابْنِ مُسْكَانَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ سَأَلْتُهُ عَنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ فَقَالَ اغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ ثُمَّ اغْسِلْهُ عَلَى أَثَرِ ذَلِكَ غَسْلَةً أُخْرَى بِمَاءٍ وَ كَافُورٍ وَ ذَرِيرَةٍ إِنْ كَانَتْ وَ اغْسِلْهُ الثَّالِثَةَ بِمَاءٍ قَرَاحٍ قُلْتُ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ لِجَسَدِهِ كُلِّهِ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ يَكُونُ عَلَيْهِ ثَوْبٌ إِذَا غُسِّلَ قَالَ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ قَمِيصٌ فَغَسِّلْهُ مِنْ تَحْتِهِ وَ قَالَ أُحِبُّ لِمَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ أَنْ يَلُفَّ عَلَى يَدِهِ الْخِرْقَةَ حِينَ يُغَسِّلُهُ
Dari Ibnu Muskân, dari Abû 'Abdillâh dia berkata: Saya bertanya kepadanya tentang mandi mayyit , maka beliau berkata, "Mandikanlah dengan air dan bidara, kemudian mandikanlah dia setelahnya dengar air dan kâfûr dan dzarîrah jika ada, dan mandikanlah yang ketiga dengan air yang bening (tanpa campuran)." Saya berkata, "Tiga kali mandi untuk jasadnya seluruhnya?" Beliau berkata, "Ya." Saya berkata, "Mesti tertutup kain apabila dia dimandikan?" Beliau berkata, "Jika kamu bisa, ada qamîsh (kain) yang menutupinya, lalu kamu memandikannya di bawahnya." Beliau berkata, "Aku suka bagi orang yang memandikan mayyit melilitkan sehelai kain penyeka pada tangannya ketika dia memandikannya." 

     عَنِ الْحَلَبِيِّ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يُغَسَّلُ الْمَيِّتُ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ مَرَّةً بِالسِّدْرِ وَ مَرَّةً بِالْمَاءِ يُطْرَحُ فِيهِ الْكَافُورُ وَ مَرَّةً أُخْرَى بِالْمَاءِ الْقَرَاحِ ثُمَّ يُكَفَّنُ وَ قَالَ إِنَّ أَبِي كَتَبَ فِي وَصِيَّتِهِ أَنْ أُكَفِّنَهُ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ أَحَدُهَا رِدَاءٌ لَهُ حِبَرَةٌ وَ ثَوْبٌ آخَرُ وَ قَمِيصٌ قُلْتُ وَ لِمَ كَتَبَ هَذَا قَالَ مَخَافَةَ قَوْلِ النَّاسِ وَ عَصَّبْنَاهُ بَعْدَ ذَلِكَ بِعِمَامَةٍ وَ شَقَقْنَا لَهُ الْأَرْضَ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ كَانَ بَادِناً وَ أَمَرَنِي أَنْ أَرْفَعَ الْقَبْرَ مِنَ الْأَرْضِ أَرْبَعَ أَصَابِعَ مُفَرَّجَاتٍ وَ ذَكَرَ أَنَّ رَشَّ الْقَبْرِ بِالْمَاءِ حَسَنٌ
Dari Al-Halabi berkata: Abû 'Abdillâh as telah berkata, "Mayyit dimandikan tiga kali mandi: Satu kali dengan bidara, satu kali dengan air yang dicampur kâfûr, dan satu kali dengan air murni yang jernih. Kemudian dikafani." Dan beliau berkata, "Sesungguhnya ayahku telah menulis dalam wasiatnya supaya aku mengkafaninya dalam tiga helai kain kafan: Salah satunya selendang yang punya hibarah (kain yang luas), kain yang lain dan qamîsh." Saya bertanya, "Mengapakah beliau menulis wasiat ini?" Beliau berkata, "Karena khawatir perkataan orang-orang, dan kami tambahkan kepadanya serban, dan kami gali tanah baginya, karena beliau berbadan besar, dan beliau menyuruhku untuk meninggikan kubur dari tanah (setinggi) empat jari yang direnggangkan, dan dia menyebutkan bahwa memerciki kubur (dengan air) itu baik."
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْكَاهِلِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ فَقَالَ اسْتَقْبِلْ بِبَاطِنِ قَدَمَيْهِ الْقِبْلَةَ حَتَّى يَكُونَ وَجْهُهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ثُمَّ تُلَيِّنُ مَفَاصِلَهُ فَإِنِ امْتَنَعَتْ عَلَيْكَ فَدَعْهَا ثُمَّ ابْدَأْ بِفَرْجِهِ بِمَاءِ السِّدْرِ وَ الْحُرُضِ فَاغْسِلْهُ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ وَ أَكْثِرْ مِنَ الْمَاءِ وَ امْسَحْ بَطْنَهُ مَسْحاً رَفِيقاً ثُمَّ تَحَوَّلْ إِلَى رَأْسِهِ وَ ابْدَأْ بِشِقِّهِ الْأَيْمَنِ مِنْ لِحْيَتِهِ وَ رَأْسِهِ ثُمَّ ثَنِّ بِشِقِّهِ الْأَيْسَرِ مِنْ رَأْسِهِ وَ لِحْيَتِهِ وَ وَجْهِهِ وَ اغْسِلْهُ بِرِفْقٍ وَ إِيَّاكَ وَ الْعُنْفَ وَ اغْسِلْهُ غَسْلًا نَاعِماً ثُمَّ أَضْجِعْهُ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ لِيَبْدُوَ لَكَ الْأَيْمَنُ ثُمَّ اغْسِلْهُ مِنْ قَرْنِهِ إِلَى قَدَمَيْهِ وَ امْسَحْ يَدَكَ عَلَى ظَهْرِهِ وَ بَطْنِهِ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ ثُمَّ رُدَّهُ إِلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَبْدُوَ لَكَ الْأَيْسَرُ فَاغْسِلْهُ مَا بَيْنَ قَرْنِهِ إِلَى قَدَمَيْهِ وَ امْسَحْ يَدَكَ عَلَى ظَهْرِهِ وَ بَطْنِهِ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ ثُمَّ رُدَّهُ إِلَى قَفَاهُ فَابْدَأْ بِفَرْجِهِ بِمَاءِ الْكَافُورِ فَاصْنَعْ كَمَا صَنَعْتَ أَوَّلَ مَرَّةٍ اغْسِلْهُ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ بِمَاءِ الْكَافُورِ وَ الْحُرُضِ وَ امْسَحْ يَدَكَ عَلَى بَطْنِهِ مَسْحاً رَفِيقاً ثُمَّ تَحَوَّلْ إِلَى رَأْسِهِ فَاصْنَعْ كَمَا صَنَعْتَ أَوَّلًا بِلِحْيَتِهِ مِنْ جَانِبَيْهِ كِلَيْهِمَا وَ رَأْسِهِ وَ وَجْهِهِ بِمَاءِ الْكَافُورِ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ ثُمَّ رُدَّهُ إِلَى الْجَانِبِ الْأَيْسَرِ حَتَّى يَبْدُوَ لَكَ الْأَيْمَنُ فَاغْسِلْهُ مِنْ قَرْنِهِ إِلَى قَدَمَيْهِ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ ثُمَّ رُدَّهُ إِلَى الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَبْدُوَ لَكَ الْأَيْسَرُ فَاغْسِلْهُ مِنْ قَرْنِهِ إِلَى قَدَمَيْهِ ثَلَاثَ غَسَلَاتٍ وَ أَدْخِلْ يَدَكَ تَحْتَ مَنْكِبَيْهِ وَ ذِرَاعَيْهِ وَ يَكُونُ الذِّرَاعُ وَ الْكَفُّ مَعَ جَنْبِهِ طَاهِرَةً كُلَّمَا غَسَلْتَ شَيْئاً مِنْهُ أَدْخَلْتَ يَدَكَ تَحْتَ مَنْكِبَيْهِ وَ فِي بَاطِنِ ذِرَاعَيْهِ ثُمَّ رُدَّهُ إِلَى ظَهْرِهِ ثُمَّ اغْسِلْهُ بِمَاءٍ قَرَاحٍ كَمَا صَنَعْتَ أَوَّلًا تَبْدَأُ بِالْفَرْجِ ثُمَّ تَحَوَّلْ إِلَى الرَّأْسِ وَ اللِّحْيَةِ وَ الْوَجْهِ حَتَّى تَصْنَعَ كَمَا صَنَعْتَ أَوَّلًا بِمَاءٍ قَرَاحٍ ثُمَّ أَزِّرْهُ بِالْخِرْقَةِ وَ يَكُونُ تَحْتَهَا الْقُطْنُ تُذْفِرُهُ بِهِ إِذْفَاراً قُطْناً كَثِيراً ثُمَّ تَشُدُّ فَخِذَيْهِ عَلَى الْقُطْنِ بِالْخِرْقَةِ شَدّاً شَدِيداً حَتَّى لَا تَخَافَ أَنْ يَظْهَرَ شَيْ‏ءٌ وَ إِيَّاكَ أَنْ تُقْعِدَهُ أَوْ تَغْمِزَ بَطْنَهُ وَ إِيَّاكَ أَنْ تَحْشُوَ فِي مَسَامِعِهِ شَيْئاً فَإِنْ خِفْتَ أَنْ يَظْهَرَ مِنَ الْمَنْخِرَيْنِ شَيْ‏ءٌ فَلَا عَلَيْكَ أَنْ تُصَيِّرَ ثَمَّ قُطْناً وَ إِنْ لَمْ تَخَفْ فَلَا تَجْعَلْ فِيهِ شَيْئاً وَ لَا تُخَلِّلْ أَظَافِيْرَهُ وَ كَذَلِكَ غُسْلُ الْمَرْأَةِ
Dari 'Abdullâh Al-Kâhili berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang memandikan mayyit , maka beliau berkata, "Hadapkanlah telapak kedua kakinya ke kiblat sehingga wajahnya menghadap ke kiblat, lenturkanlah persendian-persendiannya, jika susah, maka biarkanlah. Kemudian memulailah membasuh kemaluannya dengan bidara dan hurudh (kain pencuci), maka mandikanlah dia tiga kali dan perbanyaklah dari air, usaplah perutnya dengan perlahan, dan janganlah kamu berlaku kasar, dan mandikanlah dia dengan mandi yang nyaman, kemudian baringkanlah dia di atas lambungnya yang kiri supaya tampak bagimu yang kanan, kemudian basuhlah dari kepalanya sampai kedua telapak kakinya dan usapkanlah tanganmu ke atas punggungnya dan perutnya tiga kali, kemudian balikkanlah lambungnya yang kanan agar tampak bagimu lambung yang kiri, kemudian basuhlah apa yang ada antara kepalanya dan kedua telapak kakinya dan usapkanlah tanganmu ke atas punggungnya dan perutnya tiga kali. Kemudian kembalikan dia ke punduknya (telentangkan), maka mulailah (mandi kedua) dengan kemaluannya dengan air kâfûr, maka lakukanlah sebagaimana kamu lakukan pada kali yang pertama, cucilah ia tiga kali dengan air kâfûr dan hurudh dan usapkanlah tanganmu ke perutnya dengan usapan yang lembut. Kemudian berpindahlah ke kepalanya, lalu kamu lakukan sebagaimana kamu lakukan pada pertama kali, kamu mualai dengan janggutnya dari kedua sampingnya semuanya, kepalanya dan mukanya dengan air kâfûr tiga kali basuh. Kemudian balikkan ke lambungnya yang kiri sehingga tampak bagimu yang kanan, maka basuhlah dari kepalanya sampai kedua kakinya tiga kali. Kemudian balikkan ke lambung yang kanan sehingga tampak bagimu bagian yang kiri, lalu basuhlah dia dari atas kepalanya sampai kedua kakinya tiga kali, lalu masukkanlah tanganmu ke bawah kedua bahunya dan kedua hastanya sehingga hasta dan telapak tangan menjadi bersih, setiap kali kamu mencuci sesuatu darinya kamu masukkan tanganku ke bawah kedua bahunya dan bagian dalam dari kedua hastanya. Kemudian kembalikan ke punggungnya, lalu mandikanlah dia (mandi ketiga) dengan air murni sebagaimana telah kamu lakukan pada kali yang pertama, kamu mulai dengan kemaluannya, janggutnya, kepalanya dan wa-jah sehingga kamu lakukan sebagaimana kamu lakukan pada kali yang pertama dengan air qarâh , kemudian ikatlah dia dengan sepotong kain yang di bawahnya kapas, kemudian kamu sumpalkan dengannya kapas yang banyak, kemudian diikat kedua pahanya atas kapas dengan kain dengan ikatan yang kuat sehingga kamu tidak takut tampak sesuatu, dan janganlah kamu mendudukkannya atau memijit perutnya, dan janganlah kamu menutup pendengarannya dengan sesuatu, maka jika kamu khawatir tampak sesuatu dari kedua lubang hidungnya, maka tidaklah mengapa kamu tutupkan padanya kapas, dan jika kamu tidak khawatir, maka janganlah kamu tutupkan padanya sesuatu, dan janganlah kamu menggosok gosok di sela kuku-kukunya, demikian pula memandikan perempuan."

Batas Usia Anak Lelaki yang Boleh Dimandikan oleh Perempuan
عَنِ ابْنِ النُّمَيْرِ مَوْلَى الْحَارِثِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام حَدِّثْنِي عَنِ الصَّبِيِّ إِلَى كَمْ تُغَسِّلُهُ النِّسَاءُ فَقَالَ إِلَى ثَلَاثِ سِنِينَ
Dari Ibnu Al-Numair maulâ Al-Hârits bin Al-Mughîrah berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, "Ceritakanlah kepadaku mengenai anak lelaki sampai umur berapa tahunkah boleh dimandikan kaum perempuan?" Beliau berkata, "Sampai tiga tahun."

Orang yang Memandikan Mayyit dan yang Menyentuhnya setelah Dingin sebelum Dimandikan Wajib Mandi
عَنْ حَرِيزٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ مَنْ غَسَّلَ مَيِّتاً فَلْيَغْتَسِلْ قُلْتُ فَإِنْ مَسَّهُ مَا دَامَ حَارّاً قَالَ فَلَا غُسْلَ عَلَيْهِ وَ إِذَا بَرَدَ ثُمَّ مَسَّهُ فَلْيَغْتَسِلْ قُلْتُ فَمَنْ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ قَالَ لَا غُسْلَ عَلَيْهِ إِنَّمَا يَمَسُّ الثِّيَابَ
Dari Harîz dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Siapa yang memandikan mayyit, maka hendaklah dia mandi." Saya bertanya, "Jika dia menyentuhnya selama masih hangat?" Beliau berkata, "Tidak wajib mandi baginya, dan bila telah dingin kemudian dia menyentuhnya, maka hendaklah dia mandi." Saya berkata, "Bagaimana orang yang memasukkannya ke dalam kubur?" Beliau berkata, "Tidak ada mandi atasnya, itu hanya menyentuh kain."

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليه السلام قَالَ قُلْتُ الرَّجُلُ يُغْمِضُ عَيْنَ الْمَيِّتِ عَلَيْهِ غُسْلٌ قَالَ إِذَا مَسَّهُ بِحَرَارَتِهِ فَلَا وَ لَكِنْ إِذَا مَسَّهُ بَعْدَ مَا يَبْرُدُ فَلْيَغْتَسِلْ قُلْتُ فَالَّذِي يُغَسِّلُهُ يَغْتَسِلُ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَيُغَسِّلُهُ ثُمَّ يُكَفِّنُهُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَ يُغَسِّلُهُ ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَهُ مِنَ الْعَاتِقِ ثُمَّ يُلْبِسُهُ أَكْفَانَهُ ثُمَّ يَغْتَسِلُ قُلْتُ فَمَنْ حَمَلَهُ عَلَيْهِ غُسْلٌ قَالَ لَا قُلْتُ فَمَنْ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ عَلَيْهِ وُضُوءٌ قَالَ لَا إِلَّا أَنَّهُ يَتَوَضَّأُ مِنْ تُرَابِ الْقَبْرِ إِنْ شَاءَ
Dari Muhammad bin Muslim, dari salah seorang dari mereka berdua (Abû Ja'far atau Abû 'Abdillâh as) dia berkata: Saya berkata, "Orang yang memejamkan mata mayyit apakah dia wajib mandi?" Beliau berkata, "Apabila dia menyentuhnya masih dalam keadaan hangat tidak wajib, tetapi apabila dia menyentuhnya setelah dingin, maka hendaklah dia mandi." Saya berkata, "Apakah orang yang memandikannya mesti (wajib) mandi?" Beliau berkata, "Ya." Saya berkata, "Dia memandikannya kemudian dia mengkafaninya sebelum dia mandi?" Beliau berkata, "Dia memandikannya, kemudian dia mencuci tangannya dari bahu, kemudian mengkafaninya, kemudian dia mandi." Saya berkata, "Apakah orang yang memikulnya wajib mandi?" Beliau berkata, "Tidak." Saya berkata, "Apakah orang yang memasukkannya ke dalam kuburnya harus wudhu?" Beliau berkata, "Tidak, kecuali dia wudhu (tayammum ) dari tanah kuburan apabila dia mau."

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ يُغَسِّلُ الَّذِي غَسَّلَ الْمَيِّتَ وَ إِنْ قَبَّلَ إِنْسَانٌ الْمَيِّتَ وَ هُوَ حَارٌّ فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ وَ لَكِنْ إِذَا مَسَّهُ وَ قَبَّلَهُ وَ قَدْ بَرَدَ فَعَلَيْهِ الْغُسْلُ وَ لَا بَأْسَ أَنْ يَمَسَّهُ بَعْدَ الْغُسْلِ وَ يُقَبِّلَهُ
Dari 'Abdullâh bin Sinân dari Abû 'Abdillâh as berkata, "(Wajib) mandi orang yang memandikan mayyit, dan jika orang mencium mayyit sedang dia masih hangat maka tidak wajib atasnya mandi, tetapi bila dia menyentuhnya atau menciumnya setelah dia dingin maka wajib atasnya mandi, dan jika dia menyentuhnya dan menciumnya setelah dimandikan maka tidaklah mengapa."

عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ الْمَيْتَ أَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَغْتَسِلَ مِنْهَا قَالَ لَا إِنَّمَا ذَلِكَ مِنَ الْإِنْسَانِ وَحْدَهُ قَالَ وَ سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يُصِيبُ ثَوْبُهُ جَسَدَ الْمَيِّتِ فَقَالَ يَغْسِلُ مَا أَصَابَ الثَّوْبَ
Dari Al-Halabi dari Abû 'Abdillâh as dia berkata, "Saya bertanya kepada beliau tentang orang menyentuh mayyit , apakah dia mesti mandi darinya?" Beliau berkata, "Tidak (jika mayyit sudah dimandikan), sesungguhnya yang demikian itu hanyalah dari manusia itu sendiri." Dia berkata, "Saya bertanya kepada beliau tentang orang yang pakaiannya mengenai jasad mayyit (yang belum dimandikan)." Beliau berkata, "Dia mencuci apa yang mengenai kainnya."

عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ص قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ بَعْدَ مَوْتِهِ
Dari Ismâ'îl bin abî Ziyâd dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Sesungguhnya Rasûlullâh saw mencium 'Utsmân bin Mazh'ûn setelah matinya."

عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام فِي الرَّجُلِ يَقَعُ طَرَفُ ثَوْبِهِ عَلَى جَسَدِ الْمَيِّتِ قَالَ إِنْ كَانَ غُسِّلَ الْمَيِّتُ فَلَا تَغْسِلْ مَا أَصَابَ ثَوْبَكَ مِنْهُ وَ إِنْ كَانَ لَمْ يُغَسَّلْ فَاغْسِلْ مَا أَصَابَ ثَوْبَكَ مِنْهُ
Dari Ibrâhîm dari Abû 'Abdillâh as mengenai orang yang busananya mengenai jasad mayyit beliau berkata, "Jika mayyit telah dimandikan maka tidak (wajib) kamu cuci (kain) yang mengenai pakaianmu darinya, tetapi apabila mayyit belum dimandikan maka cucilah (kain) yang mengenai pakaianmu darinya."

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ قُلْتُ لَهُ أَ يَغْتَسِلُ مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ مَنْ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ قَالَ لَا إِنَّمَا يَمَسُّ الثِّيَابَ
Dari 'Abdullâh bin Sinân dari Abû 'Abdillâh as dia berkata: Saya bertanya kepadanya, "Apakah mesti mandi orang yang memandikan mayyit?" Beliau berkata, "Ya." Saya berkata (lagi), "Orang yang memasukkannya ke dalam kubur?" Beliau berkata, "Tidak, dia hanya menyentuh kain."

Alasan Mandi Mayyit itu adalah Mandi Janâbah
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ الدَّيْلَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ دَخَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ قَيْسٍ الْمَاصِرُ عَلَى أَبِي جَعْفَرٍ ع فَقَالَ أَخْبِرْنِي عَنِ الْمَيِّتِ لِمَ يُغَسَّلُ غُسْلَ الْجَنَابَةِ فَقَالَ لَهُ أَبُو جَعْفَرٍ عليه السلام لَا أُخْبِرُكَ فَخَرَجَ مِنْ عِنْدِهِ فَلَقِيَ بَعْضَ الشِّيعَةِ فَقَالَ لَهُ الْعَجَبُ لَكُمْ يَا مَعْشَرَ الشِّيعَةِ تَوَلَّيْتُمْ هَذَا الرَّجُلَ وَ أَطَعْتُمُوهُ وَ لَوْ دَعَاكُمْ إِلَى عِبَادَتِهِ لَأَجَبْتُمُوهُ وَ قَدْ سَأَلْتُهُ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَمَا كَانَ عِنْدَهُ فِيهَا شَيْ‏ءٌ فَلَمَّا كَانَ مِنْ قَابِلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ أَيْضاً فَسَأَلَهُ عَنْهَا فَقَالَ لَا أُخْبِرُكَ بِهَا فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ قَيْسٍ لِرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ انْطَلِقْ إِلَى الشِّيعَةِ فَاصْحَبْهُمْ وَ أَظْهِرْ عِنْدَهُمْ مُوَالَاتَكَ إِيَّاهُمْ وَ لَعْنَتِي وَ التَّبَرِّيَ مِنِّي فَإِذَا كَانَ وَقْتُ الْحَجِّ فَأْتِنِي حَتَّى أَدْفَعَ إِلَيْكَ مَا تَحُجُّ بِهِ وَ سَلْهُمْ أَنْ يُدْخِلُوكَ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ فَإِذَا صِرْتَ إِلَيْهِ فَاسْأَلْهُ عَنِ الْمَيِّتِ لِمَ يُغَسَّلُ غُسْلَ الْجَنَابَةِ فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ إِلَى الشِّيعَةِ فَكَانَ مَعَهُمْ إِلَى وَقْتِ الْمَوْسِمِ فَنَظَرَ إِلَى دِينِ الْقَوْمِ فَقَبِلَهُ بِقَبُولِهِ وَ كَتَمَ ابْنَ قَيْسٍ أَمْرَهُ مَخَافَةَ أَنْ يُحْرَمَ الْحَجَّ فَلَمَّا كَانَ وَقْتُ الْحَجِّ أَتَاهُ فَأَعْطَاهُ حَجَّةً وَ خَرَجَ فَلَمَّا صَارَ بِالْمَدِينَةِ قَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ تَخَلَّفْ فِي الْمَنْزِلِ حَتَّى نَذْكُرَكَ لَهُ وَ نَسْأَلَهُ لِيَأْذَنَ لَكَ فَلَمَّا صَارُوا إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ لَهُمْ أَيْنَ صَاحِبُكُمْ مَا أَنْصَفْتُمُوهُ قَالُوا لَمْ نَعْلَمْ مَا يُوَافِقُكَ مِنْ ذَلِكَ فَأَمَرَ بَعْضَ مَنْ حَضَرَ أَنْ يَأْتِيَهُ بِهِ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ لَهُ مَرْحَباً كَيْفَ رَأَيْتَ مَا أَنْتَ فِيهِ الْيَوْمَ مِمَّا كُنْتَ فِيهِ قَبْلُ فَقَالَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ لَمْ أَكُنْ فِي شَيْ‏ءٍ فَقَالَ صَدَقْتَ أَمَا إِنَّ عِبَادَتَكَ يَوْمَئِذٍ كَانَتْ أَخَفَّ عَلَيْكَ مِنْ عِبَادَتِكَ الْيَوْمَ لِأَنَّ الْحَقَّ ثَقِيلٌ وَ الشَّيْطَانَ مُوَكَّلٌ بِشِيعَتِنَا لِأَنَّ سَائِرَ النَّاسِ قَدْ كَفَوْهُ أَنْفُسَهُمْ إِنِّي سَأُخْبِرُكَ بِمَا قَالَ لَكَ ابْنُ قَيْسٍ الْمَاصِرُ قَبْلَ أَنْ تَسْأَلَنِي عَنْهُ وَ أُصَيِّرُ الْأَمْرَ فِي تَعْرِيفِهِ إِيَّاهُ إِلَيْكَ إِنْ شِئْتَ أَخْبَرْتَهُ وَ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُخْبِرْهُ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ خَلَّاقِينَ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقاً أَمَرَهُمْ فَأَخَذُوا مِنَ التُّرْبَةِ الَّتِي قَالَ فِي كِتَابِهِ مِنْها خَلَقْناكُمْ وَ فِيها نُعِيدُكُمْ وَ مِنْها نُخْرِجُكُمْ تارَةً أُخْرى فَعَجَنَ النُّطْفَةَ بِتِلْكَ التُّرْبَةِ الَّتِي يَخْلُقُ مِنْهَا بَعْدَ أَنْ أَسْكَنَهَا الرَّحِمَ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً فَإِذَا تَمَّتْ لَهَا أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ قَالُوا يَا رَبِّ نَخْلُقُ مَا ذَا فَيَأْمُرُهُمْ بِمَا يُرِيدُ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى أَبْيَضَ أَوْ أَسْوَدَ فَإِذَا خَرَجَتِ الرُّوحُ مِنَ الْبَدَنِ خَرَجَتْ هَذِهِ النُّطْفَةُ بِعَيْنِهَا مِنْهُ كَائِناً مَا كَانَ صَغِيراً أَوْ كَبِيراً ذَكَراً أَوْ أُنْثَى فَلِذَلِكَ يُغَسَّلُ الْمَيِّتُ غُسْلَ الْجَنَابَةِ فَقَالَ الرَّجُلُ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ لَا وَ اللَّهِ مَا أُخْبِرُ ابْنَ قَيْسٍ الْمَاصِرَ بِهَذَا أَبَداً فَقَالَ ذَلِكَ إِلَيْكَ
Dari Muhammad bin Sulaimân Al-Dailâmi dari ayahnya dari Abû 'Abdillâh as berkata, "'Abdullâh bin Qais Al-Mâshir datang kepada Abû Ja'far as, lalu dia berkata, 'Kabarkanlah kepadaku tentang mayyit, mengapakah dimandikan dengan mandi janâbah?' Maka berkatalah Abû Ja'far as kepadanya, 'Aku tidak mengabarkan kepadamu.' Lalu dia keluar dari sisinya dan kemudian dia berjumpa dengan sebagian para pengikut (Abû Ja'far as), lalu dia berkata, 'Aneh bagi kalian ini wahai para pengikut setia (Abû Ja'far), kalian mengikuti orang ini dan kalian taat kepadanya, dan kalaulah dia menyeru kalian untuk mengabdi kepadanya niscaya kalian memenuhinya, sungguh saya telah bertanya kepadanya mengenai satu persoalan, tetapi dia tidak memberikan jawaban. Tatkala pada tahun berikutnya dia datang lagi kepadanya, lalu dia bertanya tentang masalah itu, tetapi beliau berkata, 'Saya tidak akan menceritakan kepadamu.' Maka berkatalah 'Abdullâh bin Qais kepada seorang lelaki dari sahabatnya, 'Pergilah kamu kepada para pengikut lalu sertailah mereka dan tampakkanlah pada mereka kepemihakan kepada mereka dan laknatku dan ketidakberpihakkanku dariku, maka apabila waktu haji telah tiba datanglah kepadaku sehingga saya menyerahkan kepadamu apa yang dengannya kamu berhaji dan mintalah kepada mereka supaya mereka membawamu kepada Muhammad bin 'Ali (Abû Ja'far as), dan apabila kamu sudah berada di sana maka tanyakanlah tentang mayyit mengapakah dimandikan dengan mandi janâbah. Maka pergilah lelaki itu kepada para pengikut (nya), maka dia bersama mereka sampai tiba musim haji, lalu dia memperhatikan ajaran orang-orang itu dan dia menerima dengan penerimaannya. Ibnu Qais menyembunyikan urusannya karena khawatir dilarang haji, maka tatkala haji tiba, dia mendatanginya, lalu dia memberinya hajjah dan dia keluar, ketika dia berada di Al-Madînah, berkatalah para sahabatnya kepadanya, tinggallah kamu di rumah sehingga kami menyebutkanmu kepada beliau, dan kami memintanya supaya dia memberi izin kepadamu, ketika mereka datang ke Abû Ja'far as, dia bertanya, "Mana sahabat kamu itu, apakah kalian telah menyadarkannya?" Mereka berkata, 'Kami tidak tahu bahwa dia setuju kepadamu dari hal ajaran itu." Maka beliau menyuruh sebagian yang hadir untuk membawanya. Tatkala dia datang beliau berkata kepadanya, "Selamat datang bagaimana menurutmu sekarang dia berkata, 'Wahai putra Rasûlullâh, saya tidak apa-apa.' Beliau berkata, 'Ibadahmu pada hari itu lebih enteng dari ibadahmu pada hari ini, sebab kebenaran itu berat dan Syaithân diserahkan kepada para pengikut kami, dan semua manusia yang lain telah mencukupinya bagi diri-diri mereka, sesungguhnya aku akan mengkabarkan kepadamu wahai Ibnu Qais sebelum engkau bertanya kepadaku tentangnya, dan aku menjadikan perkara dalam pengetahuannya akan dia kepadamu, jika kamu mau kamu menceritakannya, dan jika kamu mau kamu tidak menceritakannya, sesungguhnya Allah yang maha tinggi telah menciptakan para (malaikat) pencipta, maka apabila Dia menghendaki untuk menciptakan suatu ciptaan (jasad manusia) Dia perintahkan mereka, lalu mereka mengambilnya dari tanah yang Dia berfirman di dalam kitab-Nya, Darinya Kami menciptakan kamu dan padanya Kami mengembalikan kamu dan darinya Kami mengeluarkan kamu pada kali yang lain. Maka Dia mencampurkan nuthfah dengan tanah tersebut yang Dia menciptakan darinya setelah Dia menempatkannya di dalam rahim selama empat puluh malam, maka apabila telah sempurna baginya empat bulan, mereka (para malaikat) berkata, 'Wahai Rabbi, kami menciptakan apa?' Maka Dia memerintahkan mereka dengan apa yang Dia kehendaki, laki-laki atau perempuan, berkulit putih ataukah berkulit hitam. Maka jika ruh telah keluar dari badan (meninggal), keluarlah nuthfah (sperma) ini darinya baik dari yang kecil maupun dari yang besar, laki-laki maupun perempuan, oleh sebab itulah mayyit dimandikan dengan mandi janâbah.' Orang itu berkata, 'Wahai putra Rasûlullâh tidak, demi Allah, aku tidak menceritakan hal ini kepada Ibnu Qais Al-Mâshir untuk selamanya.' Maka beliau berkata, 'Itu terserah kepadamu.'"

عَنْ هَارُونَ بْنِ حَمْزَةَ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عليه السلام قَالَ إِنَّ الْمَخْلُوقَ لَا يَمُوتُ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْهُ النُّطْفَةُ الَّتِي خُلِقَ مِنْهَا مِنْ فِيهِ أَوْ مِنْ عَيْنِهِ
Dari Hârûn bin Hamzah dari sebagian sahabat kami dari 'Ali bin Al-Husain as berkata, "Sesungguhnya makhluk tidak mati sehingga keluar nuthfah (sperma) darinya yang dia telah diciptakan darinya (ia keluar) dari mulutnya atau dari matanya."

Pahala bagi yang Memandikan Mayyit Mu`min
عَنْ سَعْدٍ الْإِسْكَافِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام قَالَ أَيُّمَا مُؤْمِنٍ غَسَّلَ مُؤْمِناً فَقَالَ إِذَا قَلَّبَهُ اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا بَدَنُ عَبْدِكَ الْمُؤْمِنِ قَدْ أَخْرَجْتَ رُوحَهُ مِنْهُ وَ فَرَّقْتَ بَيْنَهُمَا فَعَفْوَكَ عَفْوَكَ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَ سَنَةٍ إِلَّا الْكَبَائِرَ
Dari Sa'ad Al-Iskâf dari Abû Ja'far as berkata, "Orang beriman yang mana saja yang memandikan orang yang beriman, lalu dia berdoa apabila membalikkannya: Ya Allah, sesungguhnya ini adalah badan hamba-Mu yang beriman, sungguh Engkau telah mengeluarkan ruhnya darinya dan Engkau telah memisahkan diantara keduanya, maka maaf-Mu maaf-Mu. Niscaya Allah mengampuni baginya dosa-dosa setahun selain dosa-dosa besar."
 
عَنْ سَعْدِ بْنِ طَرِيفٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام قَالَ مَنْ غَسَّلَ مَيِّتاً فَأَدَّى فِيهِ الْأَمَانَةَ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ قُلْتُ وَ كَيْفَ يُؤَدِّي فِيْهِ الْأَمَانَةَ قَالَ لَا يُحَدِّثُ بِمَا يَرَى
Dari Sa'ad bin Tharîf dari Abû Ja'far as berkata, "Siapa yang memandikan mayyit lalu dia menunaikan amanah padanya, niscaya Allah mengampuni baginya." Saya bertanya, "Bagaimana cara dia menunaikan amanah padanya?" Beliau berkata, "Dia tidak menceritakan apa yang dia lihat."
 
عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُغَسِّلُ مُؤْمِناً وَ يَقُولُ وَ هُوَ يُغَسِّلُهُ رَبِّ عَفْوَكَ عَفْوَكَ إِلَّا عَفَا اللَّهُ عَنْهُ
Dari Ibrâhîm bin 'Umar dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Tidak seorang beriman pun yang memandikan orang beriman dan dia berdoa saat dia memandikannya: Wahai Tuhanku, maaf-Mu, maaf-Mu. Melainkan Allah memaafkannya." 

عَنْ أَبِي الْجَارُودِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام قَالَ كَانَ فِيمَا نَاجَى اللَّهَ بِهِ مُوسَى قَالَ يَا رَبِّ مَا لِمَنْ غَسَّلَ الْمَوْتَى فَقَالَ أَغْسِلُهُ مِنْ ذُنُوبِهِ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Dari Abû Al-Jârûd dari Abû Ja'far as berkata, "Di antara yang Mûsâ as bisikkan kepada Allah dengannya dia berkata: Wahai Tuhanku, apa pahala bagi orang yang memandikan orang-orang yang mati?" Dia berfirman, Aku akan membasuhnya dari dosa-dosanya sebagaimana dia dilahirkan ibunya. "

Mon, 24 Feb 2014 @08:01


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+7+7

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved