Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Shalat Nabi saw [40]

Ta`wîl dan ‘Illah Seputar Shalat

Ta`wîl adalah penjelasan makna secara bâthiniyyah , atau kandungan makna batin di balik makna lahir, baik yang berkenaan dengan bacaan ataupun gerakan, khususnya dalam hal shalat, dan ‘illah artinya alasan.

Iqâmah
Mengenai makna kalimat: Qad qâmatish shalâh yang artinya: Sungguh telah berdiri shalat. Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as mengatakan bahwa ta`wîl-nya itu telah datang waktu ziarah atau waktu berkunjung, waktu munajat, menunaikah hajat-hajat, dan mendapatkan apa yang dicitacitakan, dan telah sampai kepada Allah ‘azza wa jalla; kepada kemuliaan-Nya, ampunan-Nya, maaf-Nya dan ridha-Nya. 

Shalat
Jâbir berkata, "Saya bersama maulânâ Amîrul Mu`minîn as, lalu beliau melihat seseorang yang sedang berdiri shalat, kemudian (setelah selesai shalatnya) beliau bertanya kepadanya, "Wahai saudara ini, apakah kamu mengetahui ta`wîl shalat?"

Dia berkata, "Wahai maulâya, apakah shalat itu ada ta`wîl- nya selain dari ibadah?"

Beliau berkata, "Ya, demi (Allah) yang mengutus Muhammad dengan kenabian…"

Kemudian orang itu berkata, "Ajarkanlah kepadaku hal itu wahai maulâya."

Maka beliau as berkata, "Ta`wîl takbîr-mu yang pertama, kamu memasuki shalat dan lintaskanlah dalam dirimu apabila kamu mengucapkan Allâhu akbar (Allah terlalu agung) untuk disifati dengan berdiri atau duduk.

Pada takbîr yang kedua Allah maha besar (terlalu agung) untuk disifati dengan gerak atau diam.

Pada takbîr yang ketiga, Allah maha besar (terlalu agung) untuk disifati dengan jisim atau diserupai dengan sesuatu atau dianalogikan dengan suatu qiyâs (analogi).

Dan kamu lintaskan pada takbîr yang keempat, Allah maha besar untuk ditempati oleh a‘râdh (jasad) atau disakiti oleh penyakit.

Kamu lintaskan pada takbîr yang kelima, Allah maha besar untuk disifati dengan jauhar (zat; substansi) atau dengan ‘aradh (accident; bukan zat), atau menempati sesuatu atau sesuatu menyatu dengan-Nya.

Kamu lintaskan pada takbîr yang keenam, Allah maha besar untuk boleh bagi-Nya apa yang boleh bagi semua makhluk, seperti hilang, pindah dan berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.

Dan kamu lintaskan pada takbîr yang ketujuh, Allah maha besar untuk disentuh dengan indera yang lima.

Kemudian ta`wîl memanjangkan lehermu dalam ruku‘, lintaskanlah pada dirimu: Aku beriman kepada-Mu sekalipun leherku dipenggal.
Kemudian ta`wîl mengangkat kepalamu dari ruku‘ bila kamu mengucapkan: Sami‘allâhu liman hamidah, maka ta`wîl-nya: Dia yang telah mengeluarkanku dari tidak ada kepada ada.

Ta`wîl sujud yang pertama, kamu lintaskan pada dirimu dan kamu dalam keadaan sujud: Darinya (dari tanah) aku telah diciptakan.
Dan kamu angkat kepalamu, kamu lintaskan dengan hatimu: Dan darinya Engkau mengeluarkanku.

Dan sujud yang kedua (ta`wîl-nya): Dan kepadanya Engkau akan mengembalikanku.
Dan kamu mengangkat kepalamu, kamu lintaskan dengan hatimu: Dan darinya Engkau akan mengeluarkan aku untuk kali yang lain (kebangkitan dari kubur).

Ta`wîl dudukmu ke sebelah kirimu dan kamu mengangkat kakimu yang kanan dan kamu menumpangkannya di atas yang kiri, kamu lintaskan dengan hatimu: Ya Allah, sungguh aku menegakkan kebenaran dan mematikan kebatilan.

Ta`wîl tasyahhud-mu adalah memperbarui keimanan, membiasakan Islam dan ikrar kebangkitan setelah kematian.

Ta`wîl membaca attahiyyat adalah mengagungkan Tuhan yang maha suci dan membesarkan-Nya dari apa yang dikatakan orang-orang yang zalim dan disifatkan orang-orang yang mulhid (kaum yang kufur).

Ta`wîl perkataanmu: Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh: Adalah kamu meminta belas-kasihan Allah yang maha suci yang maknanya: Ini keamanan bagimu dari azab hari kiamat." Kemudian Amîrul Mu`minîn as berkata, "Siapa yang tidak memahami ta`wîl shalatnya seperti ini, maka ia adalah hidâj, yaitu pada shalatnya terdapat kekurangan." 

Takbîr
Dari Ahmad bin ‘Abdullâh: Ada seorang lelaki berkata kepada Amîrul Mu`minîn as, "Wahai putra paman sebaik-baik makhluk Allah, apa makna mengangkat kedua tangan dalam takbîr yang pertama?" Kemudian beliau as berkata, "Allâhu akbar (Allah maha besar), yaitu Dia yang satu yang esa yang tidak ada sesuatu yang semisal dengan-Nya yang tidak dianalogikan dengan sesuatu yang tidak samar dengan berbagai jenis dan yang tidak bisa disentuh oleh indera." 

Ruku‘
Ada orang yang bertanya kepada Amîrul Mu`minîn as, "Apa makna memanjangkan leher bagian belakangmu dalam ruku‘?" Beliau berkata, "Ta`wil-nya yaitu: Aku beriman kepada wahdâniyyah-Mu (ketunggalan-Mu) sekalipun leherku dipenggal."

Jumlah Raka‘at Shalat
Abû Muhammad Al-‘Alawi Al-Dainûri bertanya kepada Al-Shâdiq as, "Mengapa shalat maghrib tiga raka‘at sedang setelahnya (shalat ‘isya) empat raka‘at yang pada shalat maghrib tidak ada qashr baik pada waktu hadhar ataupun safar?" Beliau as berkata, "Allah ‘azza wa jalla telah menurunkan kepada Nabi–Nya saw (syari‘ah shalat) untuk setiap shalat dua raka‘at pada waktu hadhar, lalu Rasûlullâh saw menambahkan kepadanya bagi masing-masing shalat (zhuhur, ‘ashar dan ‘isya) dua raka‘at lagi pada waktu hadhar (tidak safar), dan di-qashr pada waktu safar selain maghrib dan shubuh. Maka tatkala beliau shalat maghrib, sampailah berita kelahiran Fâthimah as kepadanya, lalu beliau menambahkan kepadanya satu raka‘at sebagai ungkapan syukur kepada Allah ‘azza wa jalla. Ketika kelahiran Al-Hasan, beliau menambahkan kepadanya dua raka‘at karena bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan tatkala Al-Husain dilahirkan beliau me-nambahkan kepadanya dua raka‘at karena bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla, kemudian beliau berkata: Bagi lelaki semisal bagian dua orang perempuan, maka beliau membiarkannya dalam keadaannya (tiga raka‘at) pada waktu hadhar dan safar."

Shalat Shubuh Dua Raka‘at
Al-Musayyab berkata: Saya bertanya kepada ‘Ali bin Al-Husain as, "Kapan shalat yang seperti sekarang ini diwajibkan kepada kaum muslimîn?" Beliau as berkata, "Di Al-Madînah ketika da‘wah telah tampak, Islam telah kuat dan Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan jihâd kepada muslimîn. Rasûlullâh saw menambahkan kepada shalat tujuh raka‘at; kepada zhuhur dua raka‘at, kepada ‘ashar dua raka‘at, kepada maghrib satu raka‘at dan kepada ‘isya dua raka‘at, dan beliau membiarkan shalat shubuh sebagaimana ia difardhukannya di Makkah karena bersegeranya malaikat malam naik ke langit dan bergegasnya turun malaikat siang ke bumi, maka malaikat siang dan malaikat malam menyaksikan shalat shubuh bersama Rasûlullâh saw, dan oleh sebab itu Allah yang maha tinggi berfirman (yang terjemahannya), Dan bacaan fajar (shalat shubuh), sesungguhnya bacaan fajar itu disaksikan. Karena (shalat shubuh itu) disaksikan kaum muslimîn, malaikat siang dan malaikat malam."

Berdiri Ma`mûm di Sebelah Kanan Imam
Ahmad bin Ribâth bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, "Alasan apa apabila shalat berdua ma`mûm berdiri di sebelah kanan imam?" Beliau as berkata, "Karena dia ada di hadapannya dan ketaatannya kepada yang diikuti dan Allah yang maha berkah dan maha tinggi telah menjadikan ashhâbul yamîn (golongan kanan) sebagai orang-orang yang taat, maka karena alasan itu dia berdiri di sebelah kanan imam, tidak di sebelah kirinya."

Ma`mûm tidak Membaca Sûrah
‘Abdurrahman bin Al-Hajjâj telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang shalat di belakang imam, "Apakah orang yang ada di belakangnya mesti membaca (Al-Fâtihah dan sûrah yang lain)?" Beliau as berkata, "Adapun shalat yang tidak dikeraskan bacaan padanya, maka hal itu telah dijadikan kepada imam dan orang yang ada di belakangnya tidak membaca, dan adapun shalat yang bacaannya dikeraskan, maka imam diperintahkan untuk mengeraskan bacaan itu agar orang yang ada di belakangnya diam, apabila kamu mendengar (bacaan imam), maka diamlah, tetapi apabila kamu tidak mendengar, maka bacalah."

Shalat Dua Raka‘at Setelah ‘Isya dengan Duduk
Abû ‘Abdillâh Al-Qazwîni berkata: Saya bertanya kepada Abû Ja‘far Muhammad bin ‘Ali Al-Bâqir as, "Alasan apakah shalat dua raka‘at setelah ‘isya dengan duduk?" Beliau as berkata, "Karena Allah tabâraka wa ta‘âlâ telah mewajibkan tujuh belas raka‘at (sehari semalam), lalu Rasûlullâh saw menyandarkan kepadanya dua kali lipat, maka jadi lima puluh satu raka‘at, maka dua raka‘at dengan duduk ini dihitung satu raka‘at."

Meletakkan Kedua Tangan sebelum Kedua Lutut
Thalhah Al-Syâmi berkata kepada Abû ‘Abdillâh as, "Apa alasannya kedua tangan diletakkan di atas tanah dalam sujud sebelum kedua lutut?" Beliau as berkata, "Dikarenakan kedua tangan itu pembuka shalat."

Tasbîh dalam Ruku‘ dan Sujud
Hisyâm bin Al-Hakam bertanya kepada Abû Al-Hasan Mûsâ as, "Alasan apakah takbîr dalam iftitâh shalat tujuh kali takbîr lebih utama? Dan karena alasan apa diucapkan dalam ruku‘: Subhâna rabbiyal ‘azhîmi wa bihamdih, sedangkan dalam sujud: Subhâna rabbiyal a‘lâ wa bihamdih?"

Beliau as berkata, "Wahai Hisyâm, sesungguhnya Allah yang maha berkah dan maha tinggi telah menciptakan langit itu tujuh, bumi tujuh dan hijab tujuh, maka tatkala Dia meng-isrâ`-kan Nabi saw dan adalah beliau dari Tuhannya seperti jarak dua busur atau lebih dekat, diangkatkan baginya satu hijab dari hijab-hijab-Nya, lalu Rasûlullâh saw ber-takbîr dan beliau mulai mengucapkan kalimat yang diucapkan dalam iftitâh, maka tatkala diangkat yang kedua beliau ber-takbîr, senantiasa begitu hingga sampai tujuh hijab dan beliau ber-takbîr tujuh kali takbîr, dan karena alasan itulah takbîr dalam iftitâh shalat itu tujuh kali takbîr, tatkala beliau melihat kebesaran Allah gemetarlah ubun-ubunnya lalu beliau ruku‘ diatas kedua lututnya dan beliau mengucapkan: Subhâna rabbiyal ‘azhîmi wa bihamdih. Ketika i‘tidâl dari ruku‘nya dalam keadaan berdiri dia memandang kepada-Nya pada suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat itu, lalu beliau rebahkan atas wajahnya (sujud) dan beliau mengucapkan: Subhâna rabbiyal a‘lâ wa bihamdih, maka tatkala beliau mengucapkannya sampai tujuh kali tenanglah dari rasa takutnya, oleh karena itu berjalanlah sunnah dengannya."

Sujud Empat Kali
Ahmad bin ‘Ali Al-Râhib berkata: Ada seorang lelaki bertanya kepada Amîrul Mu`minîn as, "Wahai putra paman sebaik-baik makhluk Allah, apa makna sujud yang pertama?" Beliau as berkata, "Ta`wîl-nya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mencip-takanku darinya—yakni dari tanah—dan (ta`wîl) mengangkat kepalamu: Dan darinya Engkau telah mengeluarkan kami. Dan (ta`wîl) sujud yang kedua: Dan kepadanya Engkau akan mengembalikan kami. Dan (ta`wîl) mengangkat kepalamu dari sujud yang kedua: Dan darinya Engkau akan mengeluarkan kami pada kali yang lain." Orang itu berkata, "Apa makna mengangkat kakimu yang kanan dan menghamparkan yang kiri dalam tasyahhud ?" Beliau menjawab, "Ta`wîl-nya ialah: Ya Allah, matikanlah yang salah dan tegakkanlah yang benar."

Memakai Sandal dalam Shalat
Dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya as berkata, "Segala sesuatu yang kamu pakai shalat padanya ber-tasbîh bersamamu, dan adalah Rasûlullâh saw apabila shalat di-iqâmah-kan, beliau memakai sepasang sandalnya dan shalat padanya."

Dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya dari ‘Ali as berkata, "Sesungguhnya manusia apabila berada dalam shalat maka jasadnya, pakaiannya dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya bertasbîh."

Shalat Shubuh Bersama Terbit Fajar
Ishâq bin ‘Ammâr berkata kepada Abû ‘Abdillâh as, "Kabarkanlah kepada kami tentang waktu yang paling utama dalam shalat fajar (shubuh)?" Beliau as berkata, "Bersama terbitnya fajar Allah yang maha berkah dan maha tinggi berfirman (yang terjemahannya), Sesungguhnya bacaan fajar itu disaksikan, yaitu shalat fajar (shalat shubuh) disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang, apabila seorang hamba shalat shubuh bersama terbitnya fajar (yakni di awal waktu), maka ditetapkan (dicatat) baginya dua kali; ditetapkan oleh malaikat malam dan malaikat siang." 

Jangan Ditinggalkan Adzân dan Iqâmah dalam Shubuh dan Maghrib
Dari Shafwân bin Mihrân dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Adzân dua dua, iqâmah dua dua, dan mesti adzân dan iqâmah dalam shubuh dan maghrib pada saat hadhar dan safar, karena pada kedua shalat tersebut tidak di-qashr baik pada waktu hadhar maupun safar, sedangkan pada shalat zhuhur, ‘ashar dan ‘isya cukup buatmu iqâmah (saja) tanpa adzân . Tetapi adzân dan iqâmah dalam semua shalat (yang lima) lebih utama."

Mengapa Orang yang Meninggalkan Shalat Disebut Kâfir?
Dari Mas‘adah bin Shadaqah berkata: Saya telah mendengar Abû ‘Abdillâh as ketika dia ditanya, "Mengapa orang yang berzina tidak disebut kâfir sedangkan orang yang meninggalkan shalat disebut kâfir, apa hujjah tentang hal itu?" Beliau menjawab, "Sebab orang yang berzina dan pelaku maksiat yang semisalnya hanya melakukannya karena dorongan syahwat, sedangkan orang yang meninggalkan shalat itu tidak meninggalkannya selain karena menganggap enteng dengannya, dan yang demikian itu karena kamu tidak mendapati orang yang berzina yang mendatangi wanita selain dia merasakan kelezatannya dengan mendatanginya itu, sedangkan setiap orang yang meninggalkan shalat dengan maksud meninggalkannya, maka tidak ada kelezatan dengan maksud meninggalkannya, maka jika tidak ada kelezatan berarti mengentengkannya, dan apabila dia mengentengkan shalat, maka terjadilah kekufuran." Dia ditanya, "Apa perbedaannya antara kekufuran orang yang melakukan zina dan orang yang meminum arak dengan orang yang meninggalkan shalat sehingga orang yang berzina dan orang yang minum arak tidak disebut mengentengkan sebagaimana orang yang meninggalkan shalat? Apa hujjah -nya, apa alasannya dan apa perbedaan di antara keduanya?" Beliau as berkata, "Setiap kali kamu memasukkan dirimu sedangkan tidak ada penyeru yang menyerumu kepadanya dan juga tidak dikalahkan oleh syahwat seperti halnya zina dan meminum arak, maka berarti kamu telah menyeru dirimu untuk meninggalkan shalat padahal di sana tidak ada syahwat, maka yang demikian itu dia telah mengentengkannya, inilah perbedaan di antara keduanya."

Mengapa Sujud Dipanjangkan
Dari Sa‘dân bin Muslim dari Abû Bashîr berkata: Abû ‘Abdillâh as berkata, "Wahai Abû Muhammad, hendaklah kamu memanjangkan sujud, karena yang demikian itu termasuk sunnah orang-orang yang mendekatkan diri."

Rasûlullâh saw berkata, "Panjangkanlah sujud, maka tidak ada satu amal pun yang dirasakan berat oleh Iblîs selain dia melihat anak Ãdam dalam keadaan sujud, karena dia diperintah sujud lalu durhaka, sedangkan orang ini diperintahkan sujud lalu dia taat terhadap apa yang diperintahkan."

Api, Pelita dan Gambar di Depan Orang yang Shalat
Abû ‘Abdillâh as berkata, "Tidaklah mengapa seseorang shalat sedang api, pelita dan gambar ada di depannya, karena Tuhan bagi yang orang shalat karena-Nya lebih dekat kepadanya dari apa yang ada di hadapannya."

Shalat Sunnah Berpindah-pindah Tempat

Abû Kahmas bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, "Apakah seseorang shalat nawâfil -nya itu di satu tempat atau memisahkannya (yaitu di tempat lain)?" Beliau as menjawab, "Tidak (di satu tempat), tetapi di sini dan di sana, sebab tempat-tempat itu akan memberikan kesaksian baginya pada hari kiamat."

Waktu-waktu yang Dilarang
Sulaimân bin Ja‘far Al-Ja‘fari berkata: Saya telah mendengar Al-Ridhâ as berkata, "Sesungguhnya tidak boleh seseorang shalat apabila matahari sedang terbit, sebab ia terbit di antara dua tanduk Syaithân, tetapi apabila ia telah meninggi, maka dianjurkan shalat pada waktu itu; shalat qadhâ dan yang lainnya. Dan apabila matahari ada di tengah-tengah (menjelang tergelincir ke barat), maka tidak boleh seseorang shalat pada waktu itu, sebab pintu-pintu langit masih tertutup, jika matahari telah tergelincir dan angin telah berhembus, maka lakukanlah shalat padanya."

Tidak Boleh Shalat dengan Memakai Pakaian Hitam

Dari Muhammad bin Sulaimân dari seseorang dia bertanya kepada Abû ‘Abdillah as, "Bolehkah aku shalat dengan memakai peci yang hitam?" Beliau menjawab, "Janganlah kamu shalat padanya, sebab ia pakaian ahli naraka."

Amîrul Mu`minîn as telah berkata dalam mengajari para sahabatnya, "Janganlah kalian mengenakan pakaian yang berwarna hitam, sebab ia itu pakaian Fir‘aun."

Abû ‘Abdillâh as berkata, "Adalah Rasûlullâh saw membenci pakaian hitam selain serban, khuff (sepatu) dan kisâ` (kain yang tidak dipakai di badan)."

Dari Al-Sakûni dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada salah seorang nabi dari nabi-nabi-Nya, Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: Janganlah kalian memakai pakaian musuh-musuhku, janganlah kalian memakan makanan musuh-musuh-Ku, dan janganlah kalian menempuh jalan (bertingkah) seperti jalan musuh-musuh-Ku, karena kalian akan menjadi musuh-musuh-Ku sebagaimana mereka itu musuh-musuh-Ku."

Waktu Awal Shalat Maghrib dan Waktu Buka Puasa
Dari ‘Ali bin Muhammad dari sebagian sahabat kami dia marafa‘kannya (mengangkat sanadnya sampai ke Abû ‘Abdillâh as sampai ke Rasûlullâh saw): Saya telah mendengar Abû ‘Abdillâh as berkata, "Waktu maghrib apabila mega merah di sebelah timur telah hilang, dan tahukah kamu mengapa demikian?" Saya menjawab, "Tidak." Beliau berkata, "Karena timur itu memanjang ke barat begini---beliau mengangkat tangan kanannya di atas tangan kirinya---maka jika telah terbenam di sini, niscaya hilanglah mega merah di sini."

Sujud Syukur setelah Shalat
Telah menyampaikan hadîts kepada kami ‘Ali bin Al-Hasan bin ‘Ali bin Fadhdhâl, dari Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as berkata, "Sujud (syukur) setelah shalat farîdhah karena bersyukur kepada Allah yang maha tinggi sebutan-Nya atas taufîq kepada hamba dengan menunaikan kewajiban kepada-Nya, dan sekurang-kurangnya ucapan yang memadai dalam sujud syukur adalah syukran lillâh syukran lillâh tiga kali." Saya bertanya, "Apa makna perkataannya syukran lillâh itu?" Dia menjawab, "Sujudku ini karena syukur kepada Allah atas taufîq -Nya kepadaku dari khidmat kepada-Nya dan menunaikan fardhu-Nya. Dan syukur itu mesti mendatangkan tambahan, maka jika dalam shalatnya itu ada kekurangan, sempurnalah dengan sujud syukur ini."

Sun, 23 Feb 2014 @11:44


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved