Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Ihtidhar

Ihtidhâr
   
Ihtidhâr diambil dari kata-kata hudhûr yang berarti kehadiran, disebut ihtidhâr karena akan banyak yang hadir pada saat seseorang akan meninggal: Keluarganya hadir, Rasûlullâh saw hadir, Imam ‘Alî as atau imam-imam yang lain pada hadir, sebagian jin hadir, sebagian malaikat hadir dan khususnya Malakul Maut (‘Izrâ`îl as) dan pasukannya.

Dan tentang ‘Ali bin Abî Thâlib as akan hadir pada saat kematian seseorang, maka beliau sendiri yang mengatakan:

    مَنْ أَحَبَّنِي وَجَدَنِي عِنْدَ مَمَاتِهِ بِحَيْثُ يُحِبُّ, وَمَنْ أَبْغَضَنِي وَجَدَنِي عِنْدَ مَمَاتِهِ بِحَيْثُ يَكْرَهُ
"Siapa yang mencintaiku, niscaya dia mendapatiku pada saat kematiannya yang dia sukai, dan siapa yang tidak mencintaiku, niscaya dia akan mendapatiku pada saat kematiannya yang dia benci."

Dan yang berkenaan dengan ihtidhâr ini, ada tiga perkara yang mesti kita perhatikan:

1.    Pada saat sakratul maut , orang Islam yang hendak meninggal dunia wajib dihadapkan ke kiblat, yaitu yang apabila didudukkan, maka wajah dan dadanya menghadap ke kiblat.

2.    Jika dia telah meninggal, tetapi belum dihadapkan ke kiblat (Ka‘bah), wajib juga dihadapkan ke kiblat seandainya dia belum dipindahkan dari tempat di mana dia dicabut ruhnya. Adapun apabila dia telah dipindahkan ke tempat lain, maka tidak ada keharusan bagi kita untuk menghadapkannya ke kiblat.

3.    Hukum menghadapkan orang yang hendak mening-gal atau menghadapkan jenazah yang belum dipindahkan ke tempat lain adalah wajib kifâyah , yaitu jika ada sebagian orang yang telah melakukannya, maka kewajiban itu menjadi gugur bagi kaum muslim yang lainnya yang ada di lingkungan itu yang mengetahui ada orang yang meninggal.

Dalil-dalil Ihtidhâr
عَنْ ذَرِيحٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام فِي حَدِيثٍ قَالَ وَ إِذَا وَجَّهْتَ الْمَيِّتَ لِلْقِبْلَةِ فَاسْتَقْبِلْ بِوَجْهِهِ الْقِبْلَةَ لَا تَجْعَلْهُ مُعْتَرِضاً كَمَا يَجْعَلُ النَّاسُ فَإِنِّي رَأَيْتُ أَصْحَابَنَا يَفْعَلُونَ ذَلِكَ وَ قَدْ كَانَ أَبُو بَصِيرٍ يَأْمُرُ بِالِاعْتِرَاضِ أَخْبَرَنِي بِذَلِكَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ فَإِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ فَخُذْ فِي جَهَازِهِ وَ عَجِّلْهُ

Dari Darîh dari Abû ‘Abdillâh as dalam sebuah hadîts berkata, "Apabila kamu menghadapkan mayyit (orang yang hendak meninggal) ke kiblat, maka hadapkanlah dengan wajahnya ke kiblat, janganlah kamu menjadikannya memanjang sebagaimana orang-orang menjadikan, sungguh aku melihat sahabat-sahabat kami melakukan hal yang demikian, dan Abû Bashîr telah menyuruh dengan memanjang (seperti ketika dishalatkan), 'Ali bin Abû Hamzah telah mengkabarkan hal itu kepadaku, maka apabila mayyit telah mati bersiapsiaplah dan segerakanlah dia (dalam penguburannya)."

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام فِي تَوْجِيهِ الْمَيِّتِ قَالَ تَسْتَقْبِلُ بِوَجْهِهِ الْقِبْلَةَ وَ تَجْعَلُ قَدَمَيْهِ مِمَّا يَلِي الْقِبْلَةَ

Dari Abû ‘Abdillâh as tentang menghadapkan mayyit beliau berkata, "Kamu hadapkan dengan wajahnya ke kiblat dan kamu jadikan kedua kakinya ke arah kiblat." 

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام يَقُولُ إِذَا مَاتَ لِأَحَدِكُمْ مَيِّتٌ فَسَجُّوهُ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ وَ كَذَلِكَ إِذَا غُسِّلَ يُحْفَرُ لَهُ مَوْضِعُ الْمُغْتَسَلِ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ فَيَكُونَ مُسْتَقْبِلُ بَاطِنِ قَدَمَيْهِ وَ وَجْهُهُ إِلَى الْقِبْلَةِ

Dari Sulaimân bin Khâlid berkata: Saya telah mendengar Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila telah meninggal mayyit bagi salah seorang kamu, maka hadapkanlah ke arah kiblat, demikian pula apabila dimandikan, digalikan tanah baginya pada tempat memandikan ke arah kiblat, maka jadilah telapak kedua kakinya dan wajahnya menghadap ke kiblat." 

قَالَ وَ قَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عليه السلام دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ مِنْ وُلْدِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَ هُوَ فِي السَّوْقِ وَ قَدْ وُجِّهَ بِغَيْرِ الْقِبْلَةِ فَقَالَ وَجِّهُوهُ إِلَى الْقِبْلَةِ فَإِنَّكُمْ إِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ أَقْبَلَتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ وَ أَقْبَلَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى يُقْبَضَ

Dan Amîrul Mu`minîn as berkata, "Rasûlullâh saw masuk kepada seseorang dari keturunan 'Abdul Muththalib dan dia sedang dalam keadaaan sakratul maut sedang dia tidak dihadapkan ke kiblat, maka beliau bersabda, 'Hadapkanlah dia ke kiblat, sebab kamu jika melakukan yang demikian para malaikat menghadap kepadanya dan Allah 'azza wa jalla menghadap kepadanya dan senanti-asa seperti itu sehingga ruhnya dicabut.'"

Talqînul Mayyit
Dari Sa'îd bin Yasâr berkata: Saya telah mendengar Abû 'Abdillâh as Ja'far bin Muhammad as berkata, "Sesungguhnya Rasûlullâh saw menghadiri seorang pemuda ketika wafatnya, lalu beliau berkata kepadanya, 'Ucapkanlah olehmu: Lâ ilâha illallâh (tidak ada tuhan selain Allah).' Tetapi lidahnya terkunci beberapa kali, kemudian beliau berkata kepada seorang perempuan yang ada di dekat kepalanya, 'Apakah orang ini punya ibu?' Dia berkata, 'Saya ibunya.' Beliau berkata, 'Apakah kamu marah kepadanya?' Dia berkata, 'Ya, saya tidak berkata-kata kepadanya sudah enam (musim) haji.' Beliau berkata kepadanya, 'Relakanlah hatimu kepadanya.' Dia berkata, 'Allah merelakannya dengan kerelaanmu wahai Rasûlullâh.' Maka pemuda itu mengucapkannya. Lalu Nabi saw berkata, 'Apa yang kamu lihat?' Dia berkata, 'Saya melihat seorang lelaki yang hitam lagi menyeramkan kotor pakaiannya lagi sangat busuk baunya, dia menguasaiku sekarang ini dia memegang tenggorokanku.' Nabi saw berkata kepadanya, 'Ucapkanlah:

يَا مَنْ يَقْبَلُ الْيَسِيْرَ وَ يَعْفُوْ عَنِ الْكَثِيْرِ, اِقْبَلْ مِنِّيَ الْيَسِيْرَ, وَ اعْفُ عَنِّيَ الْكَثِيْرَ, إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Yâ man yaqbalul yasîra wa ya'fû 'anil katsîr, iqbal minniyal yasîr, wa'fu 'aniyyal katsîr, innaka antal ghafûrur rahîm.

Wahai yang menerima amal saleh yang sedikit dan memaafkan dosa yang banyak, terimalah dariku amal yang sedikit, dan maafkanlah dariku dosa yang banyak, karena sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha penyayang.

Kemudian pemuda itu mengucapkannya. Kemudian Nabi saw berkata kepadanya, 'Perhatikan apa yang kamu lihat?' Dia berkata, "Saya melihat seorang lelaki yang berwarna putih, wajahnya tampan, wangi lagi bagus busananya, dia telah mendekat kepadaku, dan saya melihat yang hitam itu telah menjauh dariku.' Beliau berkata, 'Ulangi lagi doa itu.' Lalu dia mengulanginya. Beliau berkata, 'Sekarang apa yang kamu lihat?' Dia berkata, 'Saya tidak melihat yang hitam dan saya melihat yang putih dia telah mendekat kepadaku.' Kemudian dia wafat di atas keadaan itu."
 
    عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ إِذَا حَضَرْتَ الْمَيِّتَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ فَلَقِّنْهُ شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ

Dari Al-Halabi dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Jika kamu menghadiri mayyit sebelum dia mati, maka talqîn -kanlah kepadanya syahâdah bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya."

    عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام قَالَ إِذَا أَدْرَكْتَ الرَّجُلَ عِنْدَ النَّزْعِ فَلَقِّنْهُ كَلِمَاتِ الْفَرَجِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَ رَبِّ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ وَ مَا فِيهِنَّ وَ مَا بَيْنَهُنَّ وَ مَا تَحْتَهُنَّ وَ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ فَقَالَ أَبُو جَعْفَرٍ عليه السلام لَوْ أَدْرَكْتُ عِكْرِمَةَ عِنْدَ الْمَوْتِ لَنَفَعْتُهُ فَقِيلَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام بِمَا ذَا كَانَ يَنْفَعُهُ قَالَ يُلَقِّنُهُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ

Dari Zurârah, dari Abû Ja'far as berkata, "Apabila kamu mendapatkan orang ketika pencabutan nyawa, maka talqîn -kanlah dia dengan kalimâtul faraj , yaitu tidak ada tuhan selain Allah yang maha sabar lagi maha mulia, tidak ada tuhan selain Allah yang maha tinggi lagi maha agung, maha suci Allah pemilik langit-langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, apa-apa yang ada padanya, yang ada di antaranya dan yang ada di bawahnya, dan pemilik singgasana yang agung, dan segala puji bagi Allah pemilik alam semesta." Dia (Zurârah berkata: Maka berkatalah Abû Ja'far as, "Kalaulah aku mendapatkan 'Ikrimah ketika akan matinya, tentu aku berikan manfaat kepadanya." Ditanyakan kepada beliau, "Dengan apa yang bisa memberikan manfaat kepadanya?" Beliau berkata, "Dengan talqîn yang kalian lakukan."

    عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ مَرِضَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَأَتَيْتُهُ عَائِداً فَقُلْتُ لَهُ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّ لَكَ عِنْدِي نَصِيْحَةً أَ تَقْبَلُهَا فَقَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ قُلْ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فَشَهِدَ بِذَلِكَ فَقُلْتُ إِنَّ هَذَا لَا تَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مِنْكَ عَلَى يَقِينٍ فَذَكَرَ أَنَّهُ مِنْهُ عَلَى يَقِينٍ فَقُلْتُ قُلْ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ فَشَهِدَ بِذَلِكَ فَقُلْتُ إِنَّ هَذَا لَا تَنْتَفِعُ بِهِ حَتَّى يَكُونَ مِنْكَ عَلَى يَقِينٍ فَذَكَرَ أَنَّهُ مِنْهُ عَلَى يَقِينٍ فَقُلْتُ قُلْ أَشْهَدُ أَنَّ عَلِيّاً وَصِيُّهُ وَ هُوَ الْخَلِيفَةُ مِنْ بَعْدِهِ وَ الْإِمَامُ الْمُفْتَرَضُ الطَّاعَةِ مِنْ بَعْدِهِ فَشَهِدَ بِذَلِكَ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ بِذَلِكَ حَتَّى يَكُونَ مِنْكَ عَلَى يَقِينٍ فَذَكَرَ أَنَّهُ مِنْهُ عَلَى يَقِينٍ ثُمَّ سَمَّيْتُ الْأَئِمَّةَ رَجُلًا رَجُلًا فَأَقَرَّ بِذَلِكَ وَ ذَكَرَ أَنَّهُ عَلَى يَقِينٍ فَلَمْ يَلْبَثِ الرَّجُلُ أَنْ تُوُفِّيَ فَجَزِعَ أَهْلُهُ عَلَيْهِ جَزَعاً شَدِيداً قَالَ فَغِبْتُ عَنْهُمْ ثُمَّ أَتَيْتُهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَرَأَيْتُ عَرَاءً حَسَناً فَقُلْتُ كَيْفَ تَجِدُونَكُمْ كَيْفَ عَزَاؤُكِ أَيَّتُهَا الْمَرْأَةُ فَقَالَتْ وَ اللَّهِ لَقَدْ أُصِبْنَا بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ بِوَفَاةِ فُلَانٍ رَحِمَهُ اللَّهُ وَ كَانَ مِمَّا سَخَا بِنَفْسِي لِرُؤْيَا رَأَيْتُهَا اللَّيْلَةَ فَقُلْتُ وَ مَا تِلْكَ الرُّؤْيَا قَالَتْ رَأَيْتُ فُلَاناً تَعْنِي الْمَيِّتَ حَيّاً سَلِيماً فَقُلْتُ فُلَانٌ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ لَهُ أَ مَا كُنْتَ مِتَّ فَقَالَ بَلَى وَ لَكِنْ نَجَوْتُ بِكَلِمَاتٍ لَقَّنِّيهَا أَبُو بَكْرٍ وَ لَوْ لَا ذَلِكَ لَكِدْتُ أَهْلِكُ

Dari Abû Bakar Al-Hadhrami berkata, "Seorang lelaki dari keluargaku sakit, lalu saya datang menjenguknya, saya katakan kepadanya: Wahai anak saudaraku, saya punya nasihat buatmu apakah kamu mau menerimanya? Dia berkata: Ya. Saya berkata: Ucapkanlah: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya. Lalu dia bersaksi dengan itu. Saya berkata: Sesungguhnya kalimat ini tidak berguna bagimu kecuali jika kamu yakin, lalu dia sebutkan bahwa dia yakin. Maka saya berkata: Ucapkanlah olehmu: Saya bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya. Lalu dia bersaksi dengannya. Saya berkata: Sesungguhnya kalimat itu tidak berguna kecuali jika kamu menyakini. Lalu dia sebutkan bahwa dia yakin. Maka saya berkata: Ucapkanlah olehmu: Saya bersaksi bahwa 'Ali washinya, khalîfah setelahnya, dan imam yang diwajibkan ditaati setelahnya. Lalu dia bersaksi dengan kalimat itu. Saya berkata: Kalimat itu tidak berguna sehingga ada keyakinan darimu kepadanya. Lalu dia sebutkan bahwa dia yakin. Maka saya sebutkan para imam satu persatu, lalu dia berikrar dengannya dan dia sebutkan bahwa dia yakin. Maka tidak lama kemudian dia meninggal dan keluarganya sangat sedih. Kemudian saya tinggalkan mereka, kemudian setelah itu saya datang lagi kepada mereka, lalu saya lihat mereka dengan wajah berseri, saya berkata kepada mereka: Bagaimana kalian dapati diri kalian? Bagaimanakah kamu yang ditinggalkan wahai perempuan? Maka dia berkata: Demi Allah saya mendapat musibah yang besar dengan wafatnya Fulân---semoga Allah merahmatinya---dan dia telah bermurah hati kepada diriku sungguh ada mimpi yang saya lihat semalam. Saya berkata: Mimpi apa? Dia berkata: Saya melihat si Fulân, yakni yang meninggal itu hidup lagi selamat. Saya bertanya: Si Fulân? Dia berkata: Ya, saya bertanya kepadanya: Bukankah kamu telah mati? Dia berkata: Tentu, namun saya selamat dengan kalimat yang telah di-talqîn -kan kepadaku oleh Abû Bakar, kalaulah tidak ada yang demikian itu, sungguh saya hampir-hampir celaka."


    عَنْ أَبِي بَصِيْرٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ كُنَّا عِنْدَهُ وَ عِنْدَهُ حُمْرَانُ إِذْ دَخَلَ عَلَيْهِ مَوْلًى لَهُ فَقَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ هَذَا عِكْرِمَةُ فِي الْمَوْتِ وَ كَانَ يَرَى رَأْيَ الْخَوَارِجِ وَ كَانَ مُنْقَطِعاً إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام فَقَالَ لَنَا أَبُو جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : أَنْظِرُونِي حَتَّى أَرْجِعَ إِلَيْكُمْ فَقُلْنَا نَعَمْ فَمَا لَبِثَ أَنْ رَجَعَ فَقَالَ أَمَا إِنِّي لَوْ أَدْرَكْتُ عِكْرِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَقَعَ النَّفْسُ مَوْقِعَهَا لَعَلَّمْتُهُ كَلِمَاتٍ يَنْتَفِعُ بِهَا وَ لَكِنِّي أَدْرَكْتُهُ وَ قَدْ وَقَعَتِ النَّفْسُ مَوْقِعَهَا قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ وَ مَا ذَاكَ الْكَلَامُ قَالَ هُوَ وَ اللَّهِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ فَلَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ عِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَ الْوَلَايَةَ

Dari Abû Bashîr, dari Abû Ja'far as dia berkata: Saya di sisi beliau dan di dekatnya ada Humrân, tiba-tiba masuklah kepada beliau seorang pengikutnya, lantas dia berkata: Kujadikan diriku tebusanmu, ini 'Ikrimah sedang dalam sakratul maut, sedangkan dia punya pandangan seperti kaum khawârij (kaum yang memusuhi Imam 'Ali as) dan dia terputus hubungan kepada Abû Ja'far as. Maka berkata Abû Ja'far kepada kami, "Tunggu aku sampai aku kembali kepada kalian." Kami berkata: Ya. Maka tidak lama beliau kembali lalu berkata, "Adapun aku kalaulah mendapatkan 'Ikrimah sebelum jiwa jatuh ke tempatnya (mati), tentu saya ajarkan kepadanya beberapa kalimat yang dengannya dia mendapatkan manfaat, tetapi saya telah mendapati dia dalam keadaan jiwa telah jatuh ke tempat jatuhnya." Saya berkata:  Kujadikan diriku tebusanmu, apakah kalimat-kalimat itu? Beliau berkata, "Kalimat itu demi Allah kalimat yang ada pada kalian, maka talqîn-kanlah orang-orang yang mati di antara kalian ketika matinya dengan kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan wilâyah."

    عَنْ أَبِي خَدِيجَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : مَا مِنْ أَحَدٍ يَحْضُرُهُ الْمَوْتُ إِلَّا وَكَّلَ بِهِ إِبْلِيْسُ مِنْ شَيْطَانِهِ أَنْ يَأْمُرَهُ بِالْكُفْرِ وَ يُشَكِّكَهُ فِي دِينِهِ حَتَّى تَخْرُجَ نَفْسُهُ فَمَنْ كَانَ مُؤْمِناً لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ فَإِذَا حَضَرْتُمْ مَوْتَاكُمْ فَلَقِّنُوهُمْ شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُهُ ص حَتَّى يَمُوتَ

Dari Abû Khadîjah, dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Tidak seorang pun ketika telah hadir kepadanya kematian melainkan Iblîs mengirimkan wakilnya dari syaithân-nya yang menyuruhnya dengan kekufuran dan meragukannya di dalam ajarannya sehingga keluar jiwanya, maka siapa yang (benar-benar) beriman dia tidak dapat menguasainya, maka apabila kamu menghadiri orang-orang yang hampir mati, maka talqîn-kanlah kepada mereka kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan-Nya sampai mereka meninggal."

Dan dalam riwayat lain beliau berkata, "Maka talqîn-kanlah dia dengan kalimâtul faraj, dua kalimat syahâdah , dan kamu sebutkan kepadanya ikrar (pengakuan) dengan para imam as satu persatu sampai terputus kalâm (ucapan) darinya."

     عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ دَخَلَ عَلَى رَجُلٍ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ وَ هُوَ يَقْضِي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَ رَبِّ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ وَ مَا بَيْنَهُنَّ وَ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي اسْتَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ

Dari Al-Halabi, dari Abû 'Abdillâh as bahwa Rasulullah saw datang kepada seseorang dari Banî Hâsyim dan dia hendak meninggal, maka berkata kepadanya Rasûlullâh saw, "Ucapkanlah: Tidak ada tuhan selain Allah yang maha tinggi lagi maha agung, tidak ada tuhan selain Allah yang maha sabar lagi maha mulia, maha suci Allah pemilik langit-langit yang tujuh dan pemilik bumi-bumi yang tujuh dan yang ada di antaranya dan pemilik singgasana yang agung, dan segala puji bagi Allah pemilik alam semesta." Lalu orang tersebut mengucapkannya. Maka berkatalah Rasûlullâh saw, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka."

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَيْمُونٍ الْقَدَّاحِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : كَانَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِينَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِذَا حَضَرَ أَحَداً مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ الْمَوْتُ قَالَ لَهُ : قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَ رَبِّ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ وَ مَا بَيْنَهُمَا وَ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, فَإِذَا قَالَهَا الْمَرِيضُ قَالَ : اذْهَبْ فَلَيْسَ عَلَيْكَ بَأْسٌ

Dari 'Abdullâh bin Maimûn Al-Qaddâh, dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Adalah Amîrul Mu`minîn as apabila telah hadir kematian kepada seseorang dari keluarganya, beliau berkata kepadanya, 'Ucapkanlah: Tidak ada tuhan selain Allah yang maha tinggi lagi maha agung, maha suci Allah pemilik langit-langit yang tujuh dan pemilik bumi-bumi yang tujuh dan yang ada di antara keduanya dan pemilik singgasana yang agung, dan segala puji bagi Allah pemilik alam semesta.' Maka apabila orang yang sakit itu telah mengucapkannya, dia berkata, 'Pergilah, tidak mengapa bagimu.'"

    عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : حَضَرَ رَجُلًا الْمَوْتُ فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَاناً قَدْ حَضَرَهُ الْمَوْتُ. فَنَهَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ مَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ حَتَّى أَتَاهُ وَ هُوَ مُغْمًى عَلَيْهِ قَالَ فَقَالَ : يَا مَلَكَ الْمَوْتِ كُفَّ عَنِ الرَّجُلِ حَتَّى أَسْأَلَهُ. فَأَفَاقَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : مَا رَأَيْتَ؟ قَالَ رَأَيْتُ بَيَاضاً كَثِيراً وَ سَوَاداً كَثِيراً قَالَ فَأَيُّهُمَا كَانَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ فَقَالَ : السَّوَادُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : قُلِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الْكَثِيْرَ مِنْ مَعَاصِيْكَ, وَ اقْبَلْ مِنِّي الْيَسِيرَ مِنْ طَاعَتِكَ. فَقَالَهُ ثُمَّ أُغْمِيَ عَلَيْهِ فَقَالَ : يَا مَلَكَ الْمَوْتِ خَفِّفْ عَنْهُ حَتَّى أَسْأَلَهُ. فَأَفَاقَ الرَّجُلُ فَقَالَ : مَا رَأَيْتَ؟ قَالَ رَأَيْتُ بَيَاضاً كَثِيراً وَ سَوَاداً كَثِيراً. قَالَ : فَأَيُّهُمَا كَانَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ؟ فَقَالَ : الْبَيَاضُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : غَفَرَ اللَّهُ لِصَاحِبِكُمْ. قَالَ فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ :  إِذَا حَضَرْتُمْ مَيِّتاً فَقُولُوا لَهُ هَذَا الْكَلَامَ لِيَقُولَهُ

Dari Sâlim bin Abû Salamah, dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Telah datang kepada seseorang kematian, lalu dikatakan: Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya si Fulân telah kedatangan tanda-tanda kematian. Maka bangkitlah Rasûlullâh saw dan bersama beliau beberapa orang dari sahabatnya sehingga beliau mendatanginya sedangkan dia dalam keadaan pingsan. Beliau berkata, 'Wahai Malakul Maut, tahanlah dulu dari orang ini sehingga aku bertanya dulu kepadanya.' Maka tatkala orang itu sadar, Nabi saw bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lihat?' Dia berkata, 'Saya melihat makhluk putih yang banyak dan makhluk hitam yang banyak.' Beliau bertanya, 'Yang manakah di antara kedua kelompok itu yang lebih dekat kepadamu?' Dia menjawab, 'Makhluk yang hitam.' Maka Nabi saw berkata, 'Ucapkanlah olehmu: Ya Allah, ampunilah bagiku kemaksiatan terhadap-Mu yang banyak, dan terimalah dariku ketaatanku kepada-Mu yang sedikit.' Lalu orang tersebut mengucapkannya. Kemudian dia pingsan lagi. Maka beliau berkata, 'Wahai Malakul Maut ringankanlah darinya sehingga aku bertanya lagi kepadanya.' Lalu orang itu sadar kembali.' Maka beliau bertanya, 'Apa yang kamu lihat?' Dia menjawab, 'Saya melihat makhluk putih yang banyak dan makhluk hitam yang banyak.' Beliau bertanya, 'Manakah di antara kedua kelompok makhluk itu yang lebih dekat kepadamu?' Dia menjawab, 'Yang putih.' Maka Rasulullah saw berkata, 'Allah telah mengampuni sahabat kalian ini.' Maka Abû 'Abdillâh as berkata, "Apabila kalian menghadiri orang yang hampir mati, maka katakanlah kepadanya doa ini supaya dia mengucapkannya." 

Jika Orang Sulit Meninggal
    عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ ذَرِيحٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَقُولُ : قَالَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : إِنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ كَانَ مُسْتَقِيْمًا فَنَزَعَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَغَسَّلَهُ أَهْلُهُ ثُمَّ حُمِلَ إِلَى مُصَلَّاهُ فَمَاتَ فِيهِ

Dari Al-Husain bin 'Utsmân, dari Dzarîh berkata: Saya mendengar Abû 'Abdillâh as berkata, "Telah berkata 'Ali bin Al-Husain as, 'Sesungguhnya Abû Sa'îd Al-Khudri dia dari sahabat Rasûlullâh saw, dia orangnya istiqâmah, maka dia naza' tiga hari, lalu keluarganya memandikannya, kemudian membawanya ke tempat shalatnya, kemudian dia meninggal padanya.'"

عَنْ لَيْثٍ الْمُرَادِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : إِنَّ أَبَا سَعِيْدٍ الْخُدْرِيَّ قَدْ رَزَقَهُ اللَّهُ هَذَا الرَّأْيَ وَ إِنَّهُ قَدِ اشْتَدَّ نَزْعُهُ فَقَالَ : اِحْمِلُونِي إِلَى مُصَلَّايَ. فَحَمَلُوهُ فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ هَلَكَ

Dari Laits Al-Murâdi, dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Sesungguhnya Abû Sa'îd Al-Khudri telah dikaruniai Allah pandangan ini (ada di jalan yang benar), dan sesungguhnya dia sangat keras pencabutan nyawanya, maka dia berkata, 'Bawalah aku ke tempat shalatku, lalu mereka membawanya, maka tidak lama dia pun meninggal."

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : إِذَا عَسُرَ عَلَى الْمَيِّتِ مَوْتُهُ وَ نَزْعُهُ قُرِّبَ إِلَى مُصَلَّاهُ الَّذِي كَانَ يُصَلِّي فِيهِ

Dari 'Abdullâh bin Sinân, dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Apabila orang yang hendak meninggal itu sulit matinya dan pencabutan ruhnya, maka dekatkanlah dia ke mushallâ-nya yang dia shalat padanya."

    عَنْ سُلَيْمَانَ الْجَعْفَرِيِّ قَالَ رَأَيْتُ أَبَا الْحَسَنِ يَقُولُ لِابْنِهِ الْقَاسِمِ : قُمْ يَا بُنَيَّ فَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِ أَخِيكَ وَ الصَّافَّاتِ صَفّاً حَتَّى تَسْتَتِمَّهَا فَقَرَأَ فَلَمَّا بَلَغَ أَ هُمْ أَشَدُّ خَلْقاً أَمْ مَنْ خَلَقْنا قَضَى الْفَتَى فَلَمَّا سُجِّيَ وَ خَرَجُوا أَقْبَلَ عَلَيْهِ يَعْقُوبُ بْنُ جَعْفَرٍ فَقَالَ لَهُ : كُنَّا نَعْهَدُ الْمَيِّتَ إِذَا نُزِلَ بِهِ يُقْرَأُ عِنْدَهُ يس. وَ الْقُرْآنِ الْحَكِيْمِ وَ صِرْتَ تَأْمُرُنَا بِالصَّافَّاتِ فَقَالَ : يَا بُنَيَّ لَمْ يَقْرَأْ عَبْدٌ مَكْرُوبٌ مِنْ مَوْتٍ قَطُّ إِلَّا عَجَّلَ اللَّهُ رَاحَتَهُ

Dari Sulaimân Al-Ja'fari berkata: Saya melihat Abû Al-Hasan dia berkata kepada putranya Al-Qâsim, "Bangunlah wahai anakku, lalu bacalah di sisi kepala saudaramu (sûrah) Wash Shãffâti Shaffan sampai kamu menamatkannya." Kemudian dia membacanya, maka tatkala sampai pada ayat: A hum asyaddu khalqan am man khalaqnâ , meninggallah pemuda itu, maka ketika telah ditutupi (kain) dan mereka keluar, datanglah Ya'qûb bin Ja'far kepadanya, lantas dia berkata kepadanya, 'Apabila kepada orang yang hampir mati telah turun kepadanya (susah meninggalnya) dibacakan di sisinya (sûrah) Yâsîn, wal qur-ãnul hakîm , tetapi engkau telah menyuruh kami dengan membacakan Al-Shãffât.' Maka beliau berkata, "Wahai anakku, tidak membaca seorang hamba yang kesulitan pun dari kematian (seseorang) melainkan Allah segerakan rehatnya."

Orang Beriman tidak Membenci Kematian
    عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : لَوْ أَنَّ مُؤْمِناً أَقْسَمَ عَلَى رَبِّهِ أَنْ لَا يُمِيتَهُ مَا أَمَاتَهُ أَبَداً وَ لَكِنْ إِذَا كَانَ ذَلِكَ أَوْ إِذَا حَضَرَ أَجَلُهُ بَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَيْهِ رِيْحَيْنِ رِيحاً يُقَالُ لَهَا الْمُنْسِيَةُ وَ رِيحاً يُقَالُ لَهَا الْمُسَخِّيَةُ فَأَمَّا الْمُنْسِيَةُ فَإِنَّهَا تُنْسِيهِ أَهْلَهُ وَ مَالَهُ وَ أَمَّا الْمُسَخِّيَةُ فَإِنَّهَا تُسَخِّي نَفْسَهُ عَنِ الدُّنْيَا حَتَّى يَخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ

Dari Abû 'Abdillâh as berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Seandainya orang yang (benar-benar) beriman bersumpah atas Tuhannya bahwa Dia tidak mematikannya niscaya Dia tidak mematikannya untuk selama-lamanya, tetapi apabila demikian atau ajalnya telah datang, Allah 'azza wa jalla mengirimkan kepadanya dua macam angin; angin yang dinamakan Al-Munsiyah, dan angin yang dikatakan Al-Musakhkhiyah. Adapaun Al-Munsiyah, maka ia membuatnya lupa kepada keluarganya dan hartanya. Dan adapun Al-Musakhkhiyah , maka ia mendermawankan dirinya dari dunia sehingga dia memilih apa-apa yang ada di sisi Allah."

    عَنْ سَدِيرٍ الصَّيْرَفِيِّ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ جُعِلْتُ فِدَاكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ هَلْ يَكْرَهُ الْمُؤْمِنُ عَلَى قَبْضِ رُوحِهِ قَالَ : لَا وَ اللَّهِ إِنَّهُ إِذَا أَتَاهُ مَلَكُ الْمَوْتِ لِقَبْضِ رُوحِهِ جَزِعَ عِنْدَ ذَلِكَ فَيَقُولُ لَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ : يَا وَلِيَّ اللَّهِ لَا تَجْزَعْ فَوَ الَّذِي بَعَثَ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ لَأَنَا أَبَرُّ بِكَ وَ أَشْفَقُ عَلَيْكَ مِنْ وَالِدٍ رَحِيمٍ لَوْ حَضَرَكَ افْتَحْ عَيْنَكَ فَانْظُرْ قَالَ وَ يُمَثَّلُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ فَاطِمَةُ وَ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ وَ الْأَئِمَّةُ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ فَيُقَالُ لَهُ هَذَا رَسُولُ اللَّهِ وَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ وَ فَاطِمَةُ وَ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ وَ الْأَئِمَّةُ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ رُفَقَاؤُكَ. قَالَ : فَيَفْتَحُ عَيْنَهُ فَيَنْظُرُ فَيُنَادِي رُوحَهُ مُنَادٍ مِنْ قِبَلِ رَبِّ الْعِزَّةِ فَيَقُولُ يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ إِلَى مُحَمَّدٍ وَ أَهْلِ بَيْتِهِ ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضِيَةً بِالْوَلَايَةِ مَرْضِيَّةً بِالثَّوَابِ فَادْخُلِي فِي عِبادِي يَعْنِي مُحَمَّداً وَ أَهْلَ بَيْتِهِ وَ ادْخُلِي جَنَّتِي فَمَا شَيْ‏ءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنِ اسْتِلَالِ رُوحِهِ وَ اللُّحُوقِ بِالْمُنَادِي

Dari Sadîr Al-Shairafi berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, "Kujadikan diriku tebusanmu wahai putra Rasûlullâh, apakah orang yang beriman tidak suka dicabut ruhnya?" Beliau berkata, "Tidak, demi Allah. Sesungguhnya apabila datang kepadanya Malakul Maut untuk mencabut ruhnya, dia berkeluh-kesah waktu itu, lalu Malakul Maut berkata kepadanya, 'Wahai wali Allah, janganlah kamu berkeluh-kesah, demi (Tuhan) yang telah mengutus Muhammad saw, aku lebih berbuat baik kepadamu dan lebih sayang kepadamu dari seorang ayah yang penyayang, kalau kematian telah datang kepadamu, bukalah kedua matamu lalu lihatlah.' Beliau berkata, "Dan ditampakkan kepadanya Rasulullah saw, Amîrul Mu`minîn, Fâthimah, Al-Hasan, Al-Husain, dan para imam dari dzurriyyah mereka as. Lalu dikatakan kepadanya: Ini Rasûlullâh saw, Amîrul Mu`mnîn, Fâthimah, Al-Hasan, Al-Husain dan para imam as sahabat-sahabatmu.' Dia berkata, "Maka dia membuka matanya lalu melihat (mereka), lalu ruhnya dipanggil oleh satu penyeru dari pihak Rabbul 'izzah, Wahai jiwa yang tenang kepada Muhammad dan Ahlulbaitnya, pulanglah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan rido dengan wilâyah dan diridoi dengan pahala, maka masuklah kamu ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, yakni Muhammad dan Ahlulbaitnya, dan masuklah kamu ke dalam surga-Ku. Maka tidak ada sesuatu yang paling dia sukai selain serera terlepas ruhnya (dari jasadnya) dan berjumpa dengan penyeru."

Mustahabbât (Perkara-perkara yang Disukai)
Setelah seseorang meninggal dunia, ada beberapa perkara yang dianjurkan kepada kita yang masih hidup, yaitu:
1.    Memejamkan kedua matanya dan menutupkan mulutnya.
2.    Mengikat tulang rahangnya ke kepalanya.
3.    Meluruskan kedua tangannya di sampingnya (tidak disedekapkan).
4.    Meluruskan kedua kakinya.
5.    Menutupinya dengan kain.
6.    Diberi penerangan pada malam hari.
7.    Menyampaikan berita kepada orang-orang yang beriman untuk melayat jenazahnya.
8.    Menyegerakan dalam penguburannya, yaitu janganlah menunggu datangnya malam jika dia mati di siang hari, dan jangan menunggu datangnya siang apabila dia meninggal pada malam hari, kecuali jika diragukan kematiannya, maka ditunggu sampai datang keyakinan.

Makrûhât (Perkara-perkara yang Dibenci)
1.    Menyentuh jenazah pada saat naza‘ (prosesi pencabutan ruh), karena hal itu akan menyakitkannya.
2.    Membebani perutnya dengan benda yang berat.
3.    Membiarkannya sendirian, karena setan-setan suka memainkan rongga perut jenazah.
4.    Kehadiran orang yang ber-hadats besar atau perempuan yang sedang berhalangan, ketika dalam keadaan ihtidhâr , karena hal ini juga akan menyakitinya.

Penampakkan Nabi, Para Imam dan yang Lainnya
عَنْ سَدِيرٍ الصَّيْرَفِيِّ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ جُعِلْتُ فِدَاكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ هَلْ يَكْرَهُ الْمُؤْمِنُ عَلَى قَبْضِ رُوْحِهِ قَالَ : لَا وَ اللَّهِ إِنَّهُ إِذَا أَتَاهُ مَلَكُ الْمَوْتِ لِقَبْضِ رُوحِهِ جَزِعَ عِنْدَ ذَلِكَ فَيَقُولُ لَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ : يَا وَلِيَّ اللَّهِ لَا تَجْزَعْ فَوَ الَّذِي بَعَثَ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ لَأَنَا أَبَرُّ بِكَ وَ أَشْفَقُ عَلَيْكَ مِنْ وَالِدٍ رَحِيمٍ لَوْ حَضَرَكَ افْتَحْ عَيْنَكَ فَانْظُرْ قَالَ وَ يُمَثَّلُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ وَ فَاطِمَةُ وَ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ وَ الْأَئِمَّةُ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ ع فَيُقَالُ لَهُ هَذَا رَسُولُ اللَّهِ وَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ وَ فَاطِمَةُ وَ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ وَ الْأَئِمَّةُ عَلََيْهِمُ السَّلاَمُ رُفَقَاؤُكَ. قَالَ : فَيَفْتَحُ عَيْنَهُ فَيَنْظُرُ فَيُنَادِي رُوحَهُ مُنَادٍ مِنْ قِبَلِ رَبِّ الْعِزَّةِ فَيَقُولُ : يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ إِلَى مُحَمَّدٍ وَ أَهْلِ بَيْتِهِ ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضِيَةً بِالْوَلَايَةِ مَرْضِيَّةً بِالثَّوَابِ فَادْخُلِي فِي عِبادِي يَعْنِي مُحَمَّداً وَ أَهْلَ بَيْتِهِ وَ ادْخُلِي جَنَّتِي فَمَا شَيْ‏ءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنِ اسْتِلَالِ رُوحِهِ وَ اللُّحُوقِ بِالْمُنَادِي
   
Dari Sadîr Al-Shairafi berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, "Kujadikan diriku sebagai tebusanmu waai putra Rasûlullâh, apakah orang yang beriman tidak suka atas pencabutan ruhnya?" Beliau berkata, "Tidak demi Allah, jika datang kepadanya Malakul Maut untuk mencabut nyawanya, dia ketakutan ketika itu, lalu berkatalah kepadanya Malakul Maut, 'Wahai wali Allah, janganlah kamu takut, maka demi Tuhan yang telah mengutus Muhammad saw, sungguh aku lebih baik dan lebih sayang kepadamu dari seorang ayah yang penyayang kalaulah dia hadir kepadamu, bukalah matamu lalu lihatlah." Beliau berkata, "Dan Rasûlullâh saw, Amîrul Mu`minîn, Fâthimah, Hasan dan Husain dan para imam dari keturunannya as tampak baginya. Kemudian dikatakan kepadanya, 'Ini adalah Rasûlullâh, dan…adalah sahabat-sahabat kamu. Maka tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai selain ingin segera keluar ruhnya dan menjumpai (mereka) yang memanggil." 

    عَنِ الْحَارِثِ الأَعْوَرِ قَالَ : أَتَيْتُ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ذَاتَ يَوْمٍ نِصْفَ النَّهَارِ فَقَالَ : مَا جَاءَ بِكَ ؟ قُلْتُ : حُبُّكَ وَ اللهِ. قَالَ : إِنْ كُنْتَ صَادِقًا لَتَرَانِي فِي ثَلاَثِ مَوَاطِنَ حَيْثُ تَبْلُغُ نَفَسُكَ هَذِهِ وَ أَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى حَنْجَرَتِهِ وَ عِنْدَ الصِّرَاطِ وَ عِنْدَ الْحَوْضِ

Diriwayatkan dari Al-Hârits Al-A‘war dia berkata: Suatu hari pada pertengahan siang saya mendatangi Amîrul Mu`minîn as, kemudian beliau berkata, "Ada apa gerangan denganmu?" Saya berkata, "Mencintaimu, demi Allah." Beliau berkata, "Jika kecintaanmu benar, kamu akan melihatku pada tiga tempat: (1) Ketika nafasmu sampai di sini---beliau mengisyaratkan dengan tangannya kepada kerongkongannya, (2) ketika di shirâth (jembatan tajam yang maha panjang di akhirat) dan (3) ketika di telaga."
 
    عَنِ ابْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : مَا يَمُوْتُ مُوَالٍ لَنَا مُبْغِضٌ ِلأَعْدَائِنَا إِلاَّ وَ يَحْضُرُهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ فَيَرَوْنَهُ وَ يُبَشِّرُونَهُ, وَ إِنْ كَانَ غَيْرَ مُوَالٍ لَنَا يَرَاهُمْ بِحَيْثُ يَسُوؤُهُ, وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لِحَارِثٍ اَلْهَمْدَانِيِّ : يَا حَارْ هَمْدَانَ مَنْ يَمُتْ يَرَنِي مِنْ مُؤْمِنٍ أَوْ مُنَافِقٍ قُبُلاً

Dari Ibnu Sinân, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Tidak mati orang yang mencintai kami dan membenci musuh-musuh kami melainkan hadir kepadanya Rasûlullâh saw, Amîrul Mu`minîn, Hasan dan Husain shalawatullâhi ‘alaihim, lalu mereka melihatnya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya. Akan tetapi apabila orang yang hendak meninggal itu tidak mencintai kami, niscaya dia akan melihat mereka yang dia tidak suka. Dan dalil atas yang demikian itu adalah perkataan Amîrul Mu`minîn as kepada Al-Hârits Al-Hamdâni, 'Wahai Har Hamdân, siapa yang mati dia akan melihatku secara berhadap-hadapan baik orang yang beriman ataupun orang munâfiq." 

    عَنْ جَابِرٍ الْجُعْفِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَقُوْلُ : مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَحْضُرُهُ الْمَوْتُ إِلاَّ رَأَى مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلاَمُ حَيْثُ تَقَرُّ عَيْنُهُ وَ لاَ مُشْرِكٌ يَمُوتُ إِلاَّ رَآهُمَا حَيْثُ يَسُوؤُهُ

Dari Jâbir Al-Ju'fi berkata: Saya telah mendengar Abû 'Abdillâh as berkata, "Tidak seorang yang beriman pun yang hadir kepadanya kematian, melainkan dia akan melihat Muhammad dan ‘Ali yang menyejukkan matanya, dan tidak seorang musyrik pun yang mati melainkan dia melihat mereka berdua yang dia tidak suka." 
   
عَنِ الرِّضَا عَنْ آبَائِهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : مَنْ أَحَبَّنِي وَجَدَنِي عِنْدَ مَمَاتِهِ بِحَيْثُ يُحِبُّ وَ مَنْ أَبْغَضَنِي وَجَدَنِي عِنْدَ مَمَاتِهِ بِحَيْثُ يَكْرِهُ

Dari Al-Ridhâ dari ayah-ayahnya as berkata: 'Ali bin Abî Thâlib as berkata, "Siapa yang mencintaiku niscaya dia mendapatiku ketika matinya yang dia suka, dan siapa yang membenciku dia mendapatiku pada saat matinya yang dia tidak suka." 

    قَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : اُنْظُرُوا مَنْ تُحَادِثُونَ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَنْزِلُ بِهِ الْمَوْتُ إِلاَّ مُثِّلَ لَهُ أَصْحَابُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ كَانُوا خِيَاراً فَخِيَاراً وَ إِنْ كَانُوا شِرَاراً فَشِرَاراً وَ لَيْسَ أَحَدٌ يَمُوتُ إِلَّا تَمَثَّلْتُ لَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ

Imam ‘Ali as berkata: Rasûlullâh saw berkata, "Perhatikan oleh kalian siapa yang kalian ajak bicara? Maka sesungguhnya tidak seorang pun yang datang kematian kepadanya, melainkan ditampakkan kepadanya sahabat-sahabatnya, jika mereka baik maka dia baik, dan jika mereka buruk maka dia buruk, dan tidak ada seorang pun yang mati melainkan aku menampakkan diri kepadanya ketika matinya."   

Muhtadhar Melihat Kedudukannya
عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ اَلْهَمْدَانِيِّ قَالَ : لَمَّا وَلَّى أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِي بَكْرٍ مِصْرَ وَ أَعْمَالَهَا كَتَبَ لَهُ كِتَابًا وَ أَمَرَهُ أَنْ يَقْرَأَهُ عَلَى أَهْلِ مِصْرَ وَ لِيَعْمَلَ بِمَا وَصَّاهُ بِهِ فِيْهِ فَكَانَ الْكِتَابُ.....اِحْذَرُوا يَا عِبَادَ اللهِ الْمَوْتَ وَ سَكْرَتَهُ, فَأَعِدُّوا لَهُ عُدَّتَهُ فَإِنَّهُ يَفْجَؤُكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ, بِخَيْرٍ لاَ يَكُونُ مَعَهُ شَرٌّ أَبَدًا أَوْ بِشَرٍّ لاَ يَكُونُ مَعَهُ خَيْرٌ أَبَدًا, فَمَنْ أَقْرَبُ إِلَى الْجَنَّةِ مِنْ عَامِلِهَا وَ مَنْ أَقْرَبُ إِلَى النَّارِ مِنْ عَامِلِهَا أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ تُفَارِقُ رُوْحَهُ جَسَدَهُ حَتَّى يَعْلَمَ إِلَى أَيِّ الْمَنْزِلَتَيْنِ يَصِيْرُ إِلَى الْجَنَّةِ أَمِ النَّارِ, أَ عَدُوٌّ هُوَ ِللهِ أَمْ وَلِيٌّ, فَإِنْ كَانَ وَلِيًّا ِللهِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَ شُرِعَتْ لَهُ طُرُقُهَا وَ رَأَى مَا أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِيْهَا فَفَرَغَ مِنْ كُلِّ شُغْلٍ وَ وُضِعَ عَنْهُ كُلِّ ثِقْلٍ, وَ إِنْ كَاَن عَدُوًّا ِللهِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ النَّارِ وَ شُرِعَ لَهُ طُرُقُهَا وَ نَظَرَ إِلَى مَا أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِيْهَا فَاسْتَقْبَلَ كُلَّ مَكْرُوهٍ وَ تَرَكَ كُلَّ سُرُورٍ,كُلٌّ هَذَا يَكُونُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَ عِنْدَهُ يَكُونُ بِيَقِيْنٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ. وَ يَقُولُ : الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظالِمِي أَنْفُسِهِمْ فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِنْ سُوءٍ بَلَى إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ فَادْخُلُوا أَبْوابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
   
Dari Abû Ishâq Al-Hamdâni dia berkata: Tatkala Amîrul Mu`minîn as mengangkat Muhammad bin Abû Bakar sebagai kepala negara Mesir dan juga para mentrinya, beliau menulis sepucuk surat kepadanya dan menyuruhnya supaya surat tersebut dibacakan kepada rakyat Mesir dan agar dia melaksanakan apa yang telah dia pesankan, maka isi surat itu, "…hati-hatilah wahai hamba-hamba Allah terhadap kematian dan sekaratnya, maka siapkanlah baginya persiapannya, sebab ia akan datang secara tiba-tiba kepada kalian dengan perkara yang besar, dengan kebaikan yang tidak ada keburukan bersamanya untuk selama-lamanya, atau dengan keburukan yang tidak ada kebaikan bersamanya untuk selamanya…. sesungguhnya tidak seorang pun manusia yang ruhnya berpisah dari jasadnya sehingga dia tahu ke manzilah (tempat) yang mana dia menuju; ke surga atau ke neraka; apakah dia termasuk musuh Allah ataukah wali-Nya. Jika dia adalah wali Allah, maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan dibentangkan baginya jalan-jalannya, dan (ketika itu) dia melihat balasan yang telah Allah siapkan baginya di dalamnya, lalu dia diistirahatkan dari setiap kesibukan dan diletakkan darinya setiap beban. Tetapi apabila dia termasuk kategori musuh bagi Allah, maka dibukakan baginya pintu-pintu neraka dan dibentangkan baginya jalan-jalannya dan dia melihat balasan yang Allah telah siapkan baginya di dalamnya, lalu dia berhadapan dengan setiap yang dibenci, dan ditinggalkan setiap kegembiraan. Semuanya ini terjadi ketika mati dan dia yakin akan hal itu. Allah yang maha tinggi berfirman, Orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan baik, malaikat berkata: Salam bagi kalian, masuklah ke dalam surga karena amal yang telah kalian kerjakan. Dan Dia berfirman, Orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan mezalimi diri-diri mereka, lalu mereka menyerahkan diri (seraya berkata): Kami sekali-kali tidak melakukan keburukan. (Malaikat menjawab): Ada, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. Maka masuklah kamu ke pintu-pintu Jahannam dengan kekal di dalamnya itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.
 
عَنْ أَبِي بَصِيْرٍ قَالَ قُلْتُ لأَبِي عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَوْلُهُ عَزَّ وَ جَلَّ : فَلَوْ لاَ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ إِلَى قَوْلِهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. فَقَالَ : إِنَّهَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ أُرِيَ مَنْزِلُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ : رُدُّونِي إِلَى الدُّنْيَا حَتَّى أُخْبِرَ أَهْلِي بِمَا أَرَى. فَيُقَالُ لَهُ : لَيْسَ إِلَى ذَلِكَ سَبِيْلٌ

Dari Abû Bashîr berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as mengenai firman-Nya 'azza wa jalla, Maka mengapakah ketika nyawa sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat. Beliau berkata, "Sesungguhnya ruh itu apabila telah sampai di kerongkongan (tersangkut di kerongkongan), akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya di dalam surga, lalu dia berkata: Kembalikanlah aku ke dunia sehingga aku kabarkan kepada keluargaku apa yang aku lihat. Lalu dikatakan kepadanya: Tidak ada lagi jalan ke arah itu."

Thu, 20 Feb 2014 @09:48


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved