Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Shalat Nabi saw [28]

Shalat Berjama'ah

    وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ ارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ
Dan dirikanlah olehmu shalat, tunaikanlah zakat dan ruku‘lah bersama orang-orang yang ruku‘.

Allah ‘azza wa jalla perintahkan berjama‘ah sebagaimana Dia perintahkan shalat, dan Dia wajibkan atas manusia dari hari Jumat ke hari Jumat tiga puluh lima shalat yang padanya ada satu shalat yang Dia wajibkan dengan berjama‘ah, yaitu shalat Jumat.
Adapun selain itu, maka tidak diwajibkan berjama‘ah, hanya sunnah saja, tetapi bagi orang yang meninggalkannya karena tidak suka berjama‘ah dan benci kepada jama‘ah kaum muslim tanpa ada ‘illah (sakit atau sibuk), maka tidak ada shalat baginya.

Keutamaan Shalat Berjama‘ah
Rasûlullâh saw berkata, “Jabra`îl bersama tujuh puluh ribu malaikat datang kepadaku setelah shalat zhuhur, kemudian dia berkata, 'Wahai Muhammad, Tuhanmu membacakan salâm buatmu dan Dia memberikan dua hadiah untukmu.' Aku bertanya, 'Apa dua hadiah itu?' Beliau berkata, 'Witir tiga raka‘at dan shalat yang lima dengan berjama‘ah.' Aku bertanya, 'Apa keutamaan shalat berjama‘ah untuk ummatku?' Beliau berkata, 'Wahai Muhammad, apabila mereka berdua berjama‘ah, Allah akan mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘at (pahala) seratus lima puluh shalat. Apabila mereka bertiga, Allah mencatat untuk masing-masing dari mereka dengan setiap raka‘atnya (pahala) enam ratus shalat. Apabila mereka berempat, Allah mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘atnya (pahala) seribu dua ratus shalat. Apabila mereka berlima, Allah mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘atnya (pahala) dua ribu empat ratus shalat. Apabila mereka berenam, Allah mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘atnya (pahala) empat ribu delapan ratus shalat. Apabila mereka bertujuh, Allah mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘atnya (pahala) tujuh ribu enam ratus shalat. Apabila mereka berdelapan, Allah mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘atnya (pahala) sembilan belas ribu dua ratus shalat. Apabila mereka sembilan orang, Allah mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘atnya (pahala) tiga puluh ribu empat ratus shalat. Apabila mereka sepuluh orang, Allah mencatat untuk masing-masing dengan setiap raka‘atnya (pahala) tujuh puluh dua ribu delapan ratus shalat. Dan apabila mereka lebih dari sepuluh orang, maka seandainya seluruh langit berupa kertas, lautan berupa tinta, pepohonan berupa pena, jin dan manusia bersama malaikat sebagai para penulis, niscaya mereka tidak akan sanggup untuk menuliskan pahala satu raka‘at shalat. Wahai Muhammad, satu takbîr yang didapat seorang yang beriman bersama imam lebih baik dari enam puluh ribu haji dan ‘umrah dan lebih baik dari dunia serta isinya dengan dilipatgandakan sampai tujuh puluh ribu kali. Dan satu raka‘at yang dilaksanakan seorang yang beriman bersama imam lebih baik dari uang seribu dinar yang disedekahkan kepada orang-orang miskin, dan satu sujud yang dilakukan oleh seorang yang beriman bersama imam dalam shalat jama‘ah lebih baik dari membebaskan seratus budak.”   


عَنْ زُرَارَةَ وَ الْفُضَيْلِ قَالاَ قُلْنَا لَهُ الصَّلَوَاتُ فِي جَمَاعَةٍ فَرِيضَةٌ هِيَ فَقَالَ الصَّلَوَاتُ فَرِيضَةٌ وَ لَيْسَ الإِجْتِمَاعُ بِمَفْرُوضٍ فِي الصَّلاَةِ كُلِّهَا وَ لَكِنَّهَا سُنَّةٌ وَ مَنْ تَرَكَهَا رَغْبَةً عَنْهَا وَ عَنْ جَمَاعَةِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ

Dari Zurârah dan Al-Fudhail mereka berkata: Kami berkata kepadanya (Abû ‘Abdillâh as), “Apakah shalat-shalat secara berjama'ah itu wajib?” Beliau berkata, “Shalat-shalat bitu farîdhah, dan berjama‘ah tidak difardhukan dalam shalat semuanya, namun berjama‘ah itu sunnah, dan siapa yang meninggalkannya karena benci dan tidak suka dengan jama‘ah orang-orang yang beriman tanpa ada halangan, maka tidak ada shalat baginya.”

Shalat berjama‘ah itu melebihi shalat sendirian (munfarid ) dalam hal keutamaannya dengan dua puluh lima derajat.

عَنْ زُرَارَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ مَا يَرْوِي النَّاسُ أَنَّ الصَّلَاةَ فِي جَمَاعَةٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَحْدَهُ بِخَمْسَةٍ وَ عِشْرِينَ صَلَاةً فَقَالَ صَدَقُوا فَقُلْتُ الرَّجُلَانِ يَكُونَانِ فِي جَمَاعَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَ يَقُومُ الرَّجُلُ عَنْ يَمِينِ الْإِمَامِ

Dari Zurârah berkata: Saya berkata kepada Abû ‘Abdillâh as apa yang diriwayatkan oleh orang-orang bahwa shalat berjama‘ah lebih utama dari shalat sendirian dengan dua puluh lima shalat. Maka beliau berkata, "Mereka benar." Saya berkata, "Dua orang termasuk berjama‘ah?" Maka beliau berkata, "Ya, ma`mûm lelaki berdiri di sebelah kanan imam."

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ الصَّلَاةُ فِي جَمَاعَةٍ تَفْضُلُ عَلَى كُلِّ صَلَاةِ الْفَرْدِ بِأَرْبَعَةٍ وَ عِشْرِينَ دَرَجَةً تَكُونُ خَمْسَةً وَ عِشْرِينَ صَلَاةً

Dari ‘Abdullâh bin Sinân dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Shalat berjama'ah mengungguli atas shalat sendirian dengan dua puluh empat derajat yang menjadi dua puluh lima shalat."

Shalat jama‘ah itu minimalnya dua orang (imam dan seorang ma`mûm ). Apabila ma`mûm -nya lelaki, maka dia berdiri di sebelah kanan imam dan agak ke belakang sedikit, dan jika ma`mûmah (perempuan), dia berdiri di belakang imam.
Shalat berjama'ah biasanya dilakukan di masjid-masjid, dan bagi orang yang bertetangga dengan masjid, jika tidak sangat sibuk atau sakit, maka diusahakan untuk shalat di masjid.

 
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَنَّهُ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا يَشْهَدُ الصَّلَاةَ مِنْ جِيرَانِ الْمَسْجِدِ إِلَّا مَرِيضٌ أَوْ مَشْغُولٌ
Dari Muhammad bin Muslim dari Abû Ja‘far as berkata, “Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid, selain (shalat) di masjid, kecuali apabila dia sakit atau sibuk.” 

Cara Shalat Berjama‘ah
Orang yang shalat dibelakang imam mengucapkan takbîr setelah imam takbîr, maka orang yang shalat dibelakang imam tidak takbîr sebelum imam selesai takbîr-nya. Kemudian ruku‘, sujud, duduk dan berdiri bersama imam hingga selesai shalat.

Ma`mûm atau ma`mûmah tidak membaca Al-Fâtihah dan sûrah yang lainnya, karena bacaan Al-Fâtihah dan sûrah tersebut sudah ditanggung imam. Apabila imam membaca sûrahnya dikeraskan, maka orang yang shalat di belakangnya wajib mendengarkannya serta diam supaya diberi rahmat. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

    وَ إِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَ أَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila Al-Quran dibacakan, maka hendaklah kamu mendengarkannya dan diamlah agar kamu diberi rahmat. 

Tetapi apabila ma`mûm tidak mendengar bacaan imam dalam shalat yang dikeraskan, maka ma`mûm membaca sûrah.

Imam memperdengarkan tasyahhud kepada orang-orang yang ada di belakangnya, sedang mereka tidak memperdengarkan sesuatu kepadanya.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَجَّاجِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنِ الصَّلَاةِ خَلْفَ الْإِمَامِ أَقْرَأُ خَلْفَهُ فَقَالَ أَمَّا الصَّلَاةُ الَّتِي لَا يُجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَإِنَّ ذَلِكَ جُعِلَ إِلَيْهِ فَلَا تَقْرَأْ خَلْفَهُ وَ أَمَّا الصَّلَاةُ الَّتِي يُجْهَرُ فِيهَا فَإِنَّمَا أُمِرَ بِالْجَهْرِ لِيُنْصِتَ مَنْ خَلْفَهُ فَإِنْ سَمِعْتَ فَأَنْصِتْ وَ إِنْ لَمْ تَسْمَعْ فَاقْرَأْ

‘Abdurrahmân bin Al-Hajjâj telah berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang shalat di belakang imam, apakah saya mesti membaca (sûrah) di belakangnya? Maka beliau berkata, "Adapun shalat yang tidak dikeraskan bacaan (sûrah) padanya, karena hal itu telah dijadikan kepadanya (kepada imam), maka janganlah kamu membaca di belakangnya. Dan adapun shalat yang dikeraskan (bacaan sûrah) padanya, maka sesungguhnya dia telah diperintahkan untuk mengeraskannya, dan agar diam orang yang ada di belakangnya. Maka apabila kamu mendengarnya, hendaklah kamu diam, dan jika kamu tidak mendengarnya maka bacalah (dengan sirr)." 

عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ إِذَا صَلَّيْتَ خَلْفَ إِمَامٍ تَأْتَمُّ بِهِ فَلَا تَقْرَأْ خَلْفَهُ سَمِعْتَ قِرَاءَتَهُ أَوْ لَمْ تَسْمَعْ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَلَاةً يُجْهَرُ فِيهَا وَ لَمْ تَسْمَعْ فَاقْرَأْ

Dari Al-Halabi dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila kamu shalat di belakang imam yang kamu ikuti, maka janganlah kamu membaca di belakangnya, baik kamu mendengar bacaannya ataupun kamu tidak mendengar, kecuali shalat yang (wajib) dikeraskan (bacaan) padanya sedangkan kamu tidak mendengarnya, maka bacalah (Al-Fâtihah dan sûrah yang lain)." 

عَنْ قُتَيْبَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ إِذَا كُنْتَ خَلْفَ إِمَامٍ تَرْتَضِي بِهِ فِي صَلَاةٍ يُجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَلَمْ تَسْمَعْ قِرَاءَتَهُ فَاقْرَأْ أَنْتَ لِنَفْسِكَ وَ إِنْ كُنْتَ تَسْمَعُ الْهَمْهَمَةَ فَلَا تَقْرَأ

Dari Qutaibah, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila kamu di belakang imam yang kamu rela dengannya dalam shalat yang dia jaharkan padanya dengan bacaan (surah) sedangkan kamu tidak mendengarnya, maka bacalah olehmu untuk dirimu, dan apabila kamu mendengar hamhamah (suara yang tidak jelas), maka janganlah kamu membaca."  

عَنْ زُرَارَةَ وَ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَا قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ص يَقُولُ مَنْ قَرَأَ خَلْفَ إِمَامٍ يَأْتَمُّ بِهِ فَمَاتَ بُعِثَ عَلَى غَيْرِ الْفِطْرَةِ
.
Dari Zurârah dan Muhammad bin Muslim mereka berdua berkata: Abû Ja‘far as berkata, "Adalah Amîrul Mu`minîn shalawâtullâhi ‘alaih berkata, 'Siapa yang membaca di belakang imam yang diikutinya, lalu dia mati, niscaya dia dibangkitkan dengan tidak fithrah (suci).'"

Dan yang berkenaan dengan bacaan dzikir dan yang lainnya, ma`mûm/ma`mûmah tetap membacanya sebagaimana mestinya, dan perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan perkataan Nabi saw bahwa Tidak sah shalat bila tidak membaca Al-Fâtihah, adalah dalam shalat sendirian, bukan sebagai ma`mûm dalam shalat jama‘ah.

Posisi Ma`mûm dan Ma`mûmah jika Sendirian
Bila ma`mûm lelaki sendirian, maka dia berdiri di samping kanan imam dan agak mundur sedikit supaya tidak sejajar. Tetapi jika ma`mûmah perempuan, maka dia berdiri di belakang imam. Dan jika bersamanya ada anak lelaki, maka anak lelaki berdiri di samping kanan imam dan perempuan berdiri di belakang imam.

    عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنِ الرَّجُلِ يَؤُمُّ الْمَرْأَةَ فِي بَيْتِهِ فَقَالَ نَعَمْ تَقُومُ وَرَاءَهُ

Dari Abul ‘Abbâs dia berkata: Saya telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang lelaki yang menjadi imam shalat bagi perempuan di dalam rumahnya, maka beliau as berkata, "Ya, perempuan berdiri di belakangnya."    
   
    عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فِي الرَّجُلِ يَؤُمُّ النِّسَاءَ لَيْسَ مَعَهُنَّ رَجُلٌ فِي الْفَرِيضَةِ قَالَ نَعَمْ وَ إِنْ كَانَ مَعَهُ صَبِيٌّ فَلْيَقُمْ إِلَى جَانِبِهِ

Dari Ibrâhîm bin Maimûn dari Abû ‘Abdillâh as tentang lelaki yang menjadi imam bagi kaum perempuan yang bersama mereka tidak ada lelaki di dalam shalat farîdhah . Beliau berkata, "Ya, dan jika bersamanya ada anak lelaki hendaklah dia berdiri di sampingnya."  

Masbûq dan Imam yang Hadats
Masbûq artinya orang yang didahului, dan maksudnya adalah orang yang didahului oleh imam, karena tidak ikut berjama‘ah bersamanya dari sejak awal, maka ma`mûm yang  ketinggalan ini disebut masbûq. Dan masbûq menghitung raka‘atnya dari mendapatkan ruku‘ bersama imam.


عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِذَا لَمْ تُدْرِكْ تَكْبِيرَةَ الرُّكُوعِ فَلَا تَدْخُلْ فِي تِلْكَ الرَّكْعَةِ

Dari Muhammad bin Muslim, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Jika kamu tidak mendapatkan takbîr ruku‘, maka kamu tidak masuk dalam raka‘at itu." 

عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ إِذَا أَدْرَكْتَ الْإِمَامَ قَدْ رَكَعَ فَكَبَّرْتَ وَ رَكَعْتَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ فَقَدْ أَدْرَكْتَ الرَّكْعَةَ فَإِنْ رَفَعَ الْإِمَامُ رَأْسَهُ قَبْلَ أَنْ تَرْكَعَ فَقَدْ فَاتَتْكَ الرَّكْعَةُ

Dari Al-Halabi dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila kamu mendapatkan imam sedang ruku‘, lalu kamu takbîr dan ruku‘ sebelum imam mengangkat kepalanya (dari ruku‘), maka sungguh kamu telah mendapatkan raka‘at, tetapi jika imam telah mengangkat kepalanya sebelum kamu ruku‘, maka kamu tidak mendapat raka‘at itu."  

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَجَّاجِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنِ الرَّجُلِ يُدْرِكُ الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ مِنَ الصَّلَاةِ مَعَ الْإِمَامِ وَ هِيَ لَهُ الْأُولَى كَيْفَ يَصْنَعُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ قَالَ يَتَجَافَى وَ لَا يَتَمَكَّنُ مِنَ الْقُعُودِ فَإِذَا كَانَتِ الثَّالِثَةُ لِلْإِمَامِ وَ هِيَ لَهُ الثَّانِيَةُ فَلْيَلْبَثْ قَلِيلًا إِذَا قَامَ الْإِمَامُ بِقَدْرِ مَا يَتَشَهَّدُ ثُمَّ يَلْحَقُ بِالْإِمَامِ قَالَ وَ سَأَلْتُهُ عَنِ الَّذِي يُدْرِكُ الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ مِنَ الصَّلَاةِ كَيْفَ يَصْنَعُ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ اقْرَأْ فِيهِمَا فَإِنَّهُمَا لَكَ الْأُولَيَانِ وَ لَا تَجْعَلْ أَوَّلَ صَلَاتِكَ آخِرَهَا

Dari ‘Abdurrahmân bin Al-Hajjâj berkata, "Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang orang yang mendapatkan raka‘at yang kedua dari shalat bersama imam, sedang raka‘at itu baginya merupakan raka‘at yang pertama, bagaimanakah dia berbuat apabila imam duduk (membaca tasyahhud)?" Beliau berkata, "Dia menjauh  dan tidak dalam posisi duduk (tidak duduk seperti imam, sebab jika shalat munfarid , dia mesti berdiri). Maka apabila pada raka‘at ketika bagi imam, sedang raka‘at itu baginya merupakan raka‘at kedua, hendaklah dia duduk sebentar sekedar membaca tasyahhud jika imam berdiri, kemudian dia menyusul imam." Dia berkata, "Saya bertanya kepadanya tentang orang yang mendapatkan dua raka‘at yang terakhir dari shalat, bagaimanakah dia berbuat dengan membaca (sûrah)?" Beliau berkata, "Bacalah (sûrah) pada keduanya, sebab kedua raka‘at itu bagimu merupakan dua raka‘at yang pertama, dan janganlah kamu menjadikan awal shalatmu sebagai akhirnya." 

عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ يَزِيدَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع جُعِلْتُ فِدَاكَ يَسْبِقُنِي الْإِمَامُ بِالرَّكْعَةِ فَتَكُونُ لِي وَاحِدَةٌ وَ لَهُ ثِنْتَانِ فَأَتَشَهَّدُ كُلَّمَا قَعَدْتُ فَقَالَ نَعَمْ فَإِنَّمَا التَّشَهُّدُ بَرَكَةٌ

Dari Ishâq bin Yazîd berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, "Kujadikan diriku sebagai tebusanmu, imam telah mendahuluiku satu raka‘at, maka bagiku satu raka‘at dan baginya dua raka‘at, apakah aku mesti membaca tasyahhud setiap kali dia duduk (membaca tasyahhud)?" Beliau berkata, "Ya, sesungguhnya tasyahhud itu berkah." 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ إِذَا سَبَقَكَ الْإِمَامُ بِرَكْعَةٍ فَأَدْرَكْتَ الْقِرَاءَةَ الْأَخِيرَةَ قَرَأْتَ فِي الثَّالِثَةِ مِنْ صَلَاتِهِ وَ هِيَ ثِنْتَانِ لَكَ وَ إِنْ لَمْ تُدْرِكْ مَعَهُ إِلَّا رَكْعَةً وَاحِدَةً قَرَأْتَ فِيهَا وَ فِي الَّتِي تَلِيهَا وَ إِنْ سَبَقَكَ بِرَكْعَةٍ جَلَسْتَ فِي الثَّانِيَةِ لَكَ وَ الثَّالِثَةِ لَهُ حَتَّى تَعْتَدِلَ الصُّفُوفُ قِيَاماً قَالَ وَ قَالَ إِذَا وَجَدْتَ الْإِمَامَ سَاجِداً فَاثْبُتْ مَكَانَكَ حَتَّى يَرْفَعَ رَأْسَهُ وَ إِنْ كَانَ قَاعِداً قَعَدْتَ وَ إِنْ كَانَ قَائِماً قُمْتَ

Diriwayatkan dari ‘Abdurrahmân bin Abû ‘Abdillâh dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Jika imam telah mendahuluimu dengan satu raka‘at, lalu kamu mendapatkan (imam) membaca (sûrah) yang terakhir (yaitu pada raka‘at kedua), kamu baca (sûrah) pada raka‘at yang ketiga dari shalatnya, sebab raka‘at itu bagimu merupakan raka‘at yang kedua. Apabila kamu tidak mendapatkan bersama imam selain satu raka‘at, kamu baca (sûrah) pada raka‘at itu dan pada raka‘at berikutnya. Bila dia telah mendahuluimu dengan satu raka‘at, kamu duduk pada raka‘at yang kedua bagimu dan yang ketiga bagi imam hingga barisan shalat berdiri sempurna. Jika kamu mendapatkan imam dalam keadaan sujud, maka tetaplah kamu di tempatmu hingga dia mengangkat kepalanya. Dan bila imam duduk, kamu duduk, dan jika dia berdiri kamu berdiri."

Apabila dia mendapatkan imam sedang melaksanakan tasyahhud akhir, dia bisa masuk bersamanya dengan niat di dalam hati, yaitu dia takbîr, lantas dia duduk bersamanya dan ber-tasyahhud . Apabila imam mengucapkan salâm, maka dia berdiri meneruskan shalatnya dengan tidak niat dan tidak takbîr lagi. Dengan demikian dia telah mendapatkan keutamaan shalat jama‘ah walaupun dia tidak mendapatkan raka‘at shalat.

    عَنِ الْحَلَبِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنْ رَجُلٍ أَمَّ قَوْماً فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَةً ثُمَّ مَاتَ قَالَ يُقَدِّمُونَ رَجُلًا آخَرَ وَ يَعْتَدُّونَ بِالرَّكْعَةِ وَ يَطْرَحُونَ الْمَيِّتَ خَلْفَهُمْ وَ يَغْتَسِلُ مَنْ مَسَّهُ

Dari Al-Halabi berkata: Saya telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang lelaki yang menjadi imam suatu kaum, lalu dia shalat dengan mereka satu raka‘at, kemudian dia meninggal dunia? Beliau berkata, "Mereka mengedepankan seorang kelaki yang lain dan menghitung raka‘at itu dan mereka meletakkan mayyit ke belakang mereka, dan mandi  bagi orang yang menyentuhnya."  

    عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ أَبِي الْعَلَاءِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ قُلْتُ أَجِي‏ءُ إِلَى الْإِمَامِ وَ قَدْ سَبَقَنِي بِرَكْعَةٍ فِي الْفَجْرِ فَلَمَّا سَلَّمَ وَقَعَ فِي قَلْبِي أَنِّي أَتْمَمْتُ فَلَمْ أَزَلْ ذَاكِراً لِلَّهِ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَلَمَّا طَلَعَتْ نَهَضْتُ فَذَكَرْتُ أَنَّ الْإِمَامَ كَانَ سَبَقَنِي بِرَكْعَةٍ فَقَالَ إِنْ كُنْتَ فِي مَقَامِكَ فَأَتِمَّ بِرَكْعَةٍ وَ إِنْ كُنْتَ قَدِ انْصَرَفْتَ فَعَلَيْكَ الْإِعَادَةُ
  
Dari Al-Husain bin Abû Al-‘Alâ` dari Abû ‘Abdillâh as dia berkata: Saya berkata, "Saya datang ke imam dan dia telah mendahuluiku dengan satu raka‘at dalam shalat fajar (shubuh), maka tatkala di salam terjadi keraguan dalam hatiku bahwa aku telah menyempurnakan, lalu senantiasa aku berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, setelah terbit saya bangkit, lalu saya teringat bahwa imam telah mendahuluiku dengan satu raka‘at?" Beliau berkata, "Apabila kamu masih berada di tempat berdirimu, maka sempurnakanlah dengan satu raka‘at (lagi), tetapi apabila kamu telah berpaling, maka hendaklah kamu mengulangi (shalat)." 

    عَنْ غِيَاثِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنِ الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَ يَعُودُ فَيَرْكَعُ إِذَا أَبْطَأَ الْإِمَامُ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ قَالَ لَا
Dari Ghiyâts bin Ibrâhîm berkata: Abû ‘Abdillâh as ditanya tentang orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, "Apakah dia mesti kembali ruku‘ apabila imam telat mengangkat kepalanya?" Beliau berkata, "Tidak."  

Sifat Imam yang Mesti Diperhatikan
Para ma`mûm itu mesti memperhatikan sifat-sifat imam  shalatnya, sebab imam itu sebagai duta atau utusan para ma`mûm dan ma`mûmah dalam menghadap Allah ‘azza wa jalla ketika shalat berjama‘ah. Oleh karena itu para ma`mûm tidak boleh shalat di belakang imam yang punya salah satu dari sifat-sifat di bawah ini:
1.    Berpenyakit kusta (leprosy).
2.    Tidak waras (gila).
3.    Tidak suci kelahirannya (lahir karena perzinaan).
4.    Pernah dihukum hadd (cambuk atau dera).
5.    A‘râbi.
6.    Belum dikhitan.
7.    Memusuhi Ahlulbait Rasûlullâh saw.
8.    Tidak dikenal (majhûl).
9.    Suka melewati batas (mu‘tadin )
10.   Suka meng-kâfir -kan kaum muslim yang lain.
11.   Pendosa.
12.   Mendustakan taqdîr Allah.
13.   Menganggap Allah berjisim (bertubuh seperti halnya makhluk).
14.   Tidak kuasa berdiri. 

Shalat di Belakang Orang yang tidak Diikuti (Ahli Bid‘ah)
Bila kita shalat di belakang ahli bid‘ah atau mukhâlif , maka kita hanya mengikuti gerakannya saja, adapun bacaan, maka kita membaca sendiri, yaitu Al-Fâtihah dan sûrah yang lain.

    عَنْ زُرَارَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَكُونُ مَعَ الْإِمَامِ فَأَفْرُغُ مِنَ الْقِرَاءَةِ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ قَالَ أَبْقِ آيَةً وَ مَجِّدِ اللَّهَ وَ أَثْنِ عَلَيْهِ فَإِذَا فَرَغَ فَاقْرَأِ الْآيَةَ وَ ارْكَعْ

Dari Zurârah berkata: Saya berkata kepada Abû ‘Abdillâh as, "Saya shalat bersama imam, lalu saya selesaikan bacaan sebelum dia selesai?" Beliau berkata, "Sisakanlah satu ayat, agungkan Allah dan sanjunglah Dia, maka apabila dia (imam) telah selesai, bacalah ayat tersebut dan ruku‘lah." 

Shalat di belakang imam yang tidak diikuti, kita membaca Al-Fâtihah dan sûrah--yang tentunya juga dengan sirr --baik kita mendengar bacaannya ataupun tidak. Dan jika sudah terlanjur selesai dalam membacanya sedang imam belum, maka kita bertasbîh sampai dia selesai.
 
عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَمَّارٍ عَمَّنْ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ أُصَلِّي خَلْفَ مَنْ لَا أَقْتَدِي بِهِ فَإِذَا فَرَغْتُ مِنْ قِرَاءَتِي وَ لَمْ يَفْرُغْ هُوَ قَالَ فَسَبِّحْ حَتَّى يَفْرُغَ

Dari Ishâq bin ‘Ammâr dari orang yang bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as dia berkata: Saya shalat di belakang orang yang tidak saya ikuti (tidak dijadikan imam dalam shalat), apabila saya telah selesai dari bacaanku sedang dia belum selesai. Beliau berkata, "Maka bertasbîhlah kamu sampai dia selesai." 

عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ إِذَا صَلَّيْتَ خَلْفَ إِمَامٍ لَا تَقْتَدِي بِهِ فَاقْرَأْ خَلْفَهُ سَمِعْتَ قِرَاءَتَهُ أَوْ لَمْ تَسْمَعْ
Dari Al-Halabi dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila kamu shalat di belakang imam yang tidak diikuti, maka bacalah di belakangnya baik kamu mendengar bacaannya atau tidak." 

عَنْ زُرَارَةَ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنِ الصَّلَاةِ خَلْفَ الْمُخَالِفِينَ فَقَالَ مَا هُمْ عِنْدِي إِلَّا بِمَنْزِلَةِ الْجُدُرِ

Dari Zurârah berkata: Saya telah bertanya kepada Abû Ja‘far as tentang shalat di belakang mukhâlifîn (orang-orang yang menyalahi kebenaran atau suka disebut ahli bid‘ah), maka beliau berkata, "Mereka itu di sisiku tidak lain melainkan ibarat dinding." 

Mon, 17 Feb 2014 @16:52


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved