Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Apakah Kematian itu?

Kematian adalah kehidupan di alam lain, yakni barzakh. Barzakh artinya dinding atau sekat, maksudnya bahwa orang yang sedang menjalani hidup di dunia ini tidak tahu kehidupan orang-orang yang telah memasuki barzakh; apakah mereka senang atau susah, apakah mereka bahagia ataukah sengsara dan menderita, apakah mereka mendapat pahala ataukah mendapat siksa, apakah mereka dipenjara di dalam tanah yang sempit lagi gelap ataukah hidup dalam keadaan senang dan nyaman? Kita sama sekali tidak tahu. Beberapa riwayat berikut ini memberikan gambaran tentang kehidupan setelah mati.

 

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ, عَنِ الرِّضَا, عَنْ أَبِيْهِ مُوسَى بْنِ جَعْفَرٍ, عَنْ أَبِيْهِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ, عَنْ أَبِيْهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ, عَنْ أَبِيْهِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ أَبِيهِ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : قِيلَ لأَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ صِفْ لَنَا الْمَوْتَ فَقَالَ : عَلَى الْخَبِيْرِ سَقَطْتُمْ هُوَ أَحَدُ ثَلاَثَةِ أُمُورٍ يَرِدُ عَلَيْهِ إِمَّا بَشَارَةٌ بِنَعِيمِ الأَبَدِ وَ إِمَّا بَشَارَةٌ بِعَذَابِ الأَبَدِ وَ إِمَّا تَحْزِينٌ وَ تَهْوِيلٌ وَ أَمْرُهُ مُبْهَمٌ لاَ يَدْرِي مِنْ أَيِّ الفِرَقِ هُوَ فأَمَّا وَلِيُّنَا الْمُطِيْعُ لأَمْرِنَا فَهُوَ الْمُبَشَّرُ بِنَعِيمِ الأَبَدِ وَ أَمَّا عَدُوُّنَا الْمُخَالِفُ عَلَيْنَا فَهُوَ الْمُبَشَّرُ بِعَذَابِ الأَبَدِ وَ أَمَّا الْمُبْهَمُ أَمْرُهُ الَّذِي لاَ يَدْرِي مَا حَالُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ الْمُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ لاَ يَدْرِي مَا يَئُولُ إِلَيْهِ حَالُهُ يَأْتِيْهِ الْخَبَرُ مُبْهَمًا مُخَوِّفًا ثُمَّ لَنْ يُسَوِّيْهِ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِأَعْدَائِنَا لَكِنْ يُخْرِجُهُ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِنَا فَاعْمَلُوا وَ أَطِيْعُوا لاَ تَتَّكِلُوا وَ لاَ تَسْتَصْغِرُوا عُقُوْبَةَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ فَإِنَّ مِنَ الْمُسْرِفِيْنَ مَنْ لاَ تُلْحِقُهُ شَفَاعَتُنَا ِإلاَّ بَعْدَ عَذَابِ ثَلاَثِمِائَةِ أَلْفِ سَنَةٍ.

Dari Muhammad bin 'Ali dari Al-Ridhâ dari ayahnya Mûsâ bin Ja'far, dari ayahnya Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya Muhammad bin 'Ali, dari ayahnya 'Ali bin Al-Husain, dari ayahnya Al-Husain as berkata, "Telah ditanyakan kepada Amîrul Mu`minîn as: Sifatkanlah kematian kepada kami? Maka beliau berkata, 'Kepada yang mengerti kalian telah bingung, ia adalah salah satu dari tiga perkara yang datang menyampaikan kabar: (1) Ada kalanya kabar dengan kenikmatan yang abadi, (2) ada kalanya kabar dengan siksaan yang abadi, dan (3) ada kalanya sangat menyedihkan dan mengguncangkan jiwa dan perkaranya samar yang tidak diketahui dari kelompok manakah dia itu? Adapun pengikut kami orang yang taat kepada kami, maka dia akan diberi kabar gembira dengan kenikmatan yang abadi.

 Adapun musuh kami, maka akan diberi kabar dengan siksaan yang abadi. Dan adapun orang yang tidak jelas urusannya dan tidak diketahui keadaannya, maka dia itu orang yang beriman yang melewati batas atas dirinya, dia tidak tahu keadaan yang bagaimanakah yang akan datang kepadanya, karena berita datang kepada-nya dengan samar lagi menakutkan, kemudian dia tidak disamakan dengan musuh-musuh kami, namun dia akan dikeluarkan dengan syafa'at kami, maka beramallah kalian dan taatlah kalian, dan ja-nganlah kalian bersandar (kepada syafa'at kami), dan janganlah kalian menganggap enteng siksaan Allah 'azza wa jalla, karena dari orang-orang yang melewati batas itu ada yang tidak mendapatkan syafa'at kami kecuali setelah mendapatkan siksaan selama tiga ratus ribu (300000) tahun."

 

سُئِلَ الْحَسَنُ بنُ عليِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : مَا الْمَوْتُ الَّذِي جَهِلُوهُ ؟ قَالَ : أَعْظَمُ سُرُوْرٍ يَرِدُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا نُقِلُوا عَنْ دَارِ النَّكَدِ إِلَى نَعِيْمِ اْلأَبَدِ, وَ أَعْظَمُ ثُبُوْرٍ يَرِدُ عَلَى الْكَافِرِيْنَ إذَا نُقِلُوا عَنْ جَنَّتِهِمْ إِلَى نَارٍ لاَ تَبِيْدُ وَ لاَ تَنْفَدُ.

Al-Hasan bin ‘ Ali bin Abî Thâlib as telah ditanya: Apa kematian yang orang-orang jahil terhadapnya? Beliau berkata, "Kegembiraan yang paling besar yang datang kepada orang-orang yang beriman apabila mereka dipindahkan dari negeri petaka kepada kenikmatan yang abadi, dan kecelakaan yang paling besar bagi orang-orang yang tidak beriman apabila dipindahkan dari surga mereka (dunia) kepada neraka yang tidal padam dan yang tidak menyisakan."

 

قَالَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لَمَّا اشْتَدَّ اْلأَمْرُ بِالْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ نَظَرَ إِلَيْهِ مَنْ كَانَ مَعَهُ فَإِذَا هُوَ بِخِلاَفِهِمْ ِلأَنَّهُمْ كُلَّمَا اشْتَدَّ اْلأَمْرُ تَغَيَّرَتْ أَلْوَانُهُمْ وَ ارْتَعَدَتْ فَرَائِصُهُمْ وَ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَ كَانَ الْحُسَيْنُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَ بَعْضُ مَنْ مَعَهُ مِنْ خَصَائِصِهِ تُشْرِقُ أَلْوَانُهُمْ وَ تَهْدَئُ جَوَارِحُهُمْ وَ تَسْكُنُ نُفُوْسُهُمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : اُنْظُرُوا لاَ يُبَالِي بِالْمَوْتِ. فَقَالَ لَهُمُ الْحُسَيْنُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : صَبْرًا بَنِيَّ الْكِرَامَ فَمَا الْمَوْتُ إِلاَّ قَنْطَرَةً يُعَبِّرُ بِكُمْ عَنْ الْبُؤْسِ وَ الضَّرَّاءِ إِلَى الْجِنَانِ الْوَاسِطَةِ وَ النَّعِيْمِ الدَّائِمَةِ فَأَيُّكُمْ يَكْرَهُ أَنْ يَنْتَقِلَ مِنْ سِجْنٍ إِلَى قَصْرٍ, وَ مَا هُوَ ِلأَعْدَائِكُمْ إِلاَّ كَمَنْ يَنْتَقِلُ مِنْ قَصْرٍ إِلَى سِجْنٍ وَ عَذَابٍ, إِنَّ أَبِي حَدَّثَنِي عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ أَنَّ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَ جَنَّةُ الْكَافِرِ وَ الْمَوْتُ جِسْرُ هَؤُلاَءِ إِلَى جِنَانِهِمْ وَ جِسْرُ هَؤُلاَءِ إِلَى جَحِيْمِهِمْ مَا كَذَبْتُ وَ لاَ كُذِبْتُ.

'Ali bin Al-Husain as berkata, "Tatkala keadaan sangat keras menimpa Al-Husain bin Ali bin Abî Thâlib as, orang-orang yang bersamanya memandang kepadanya, maka ternyata beliau berbeda dengan mereka, karena mereka itu setiap kali ditimpa oleh urusan yang sangat keras berubahlah warna-warna wajah mereka, gemetarlah kulit-kulit kepala mereka dan berguncanglah hati-hati mereka, tetapi Al-Husain shalawâtullâhi ‘ alaih dan sebagian orang yang bersamanya dari para pengikut setianya bersinar warna-warna wajah mereka, tenang anggota badan mereka dan tenang jiwa-jiwa mereka. Maka berkata sebagian mereka kepada sebagian yang lain: Lihatlah, dia tidak peduli kepada kematian! Maka berkata Al-Husain as kepada mereka, 'Tabahlah wahai manusia-manusia yang mulia! Kematian hanyalah jembatan yang menyeberangkan kalian dari kesulitan dan penderitaan kepada surga-surga yang maha luas dan kenikmatan yang kekal abadi, maka siapakah di antara kalian yang tidak suka pindah dari penjara ke istana? Dan kematian bagi musuh-musuh kalian hanyalah seperti orang yang dipindahkan dari istana ke penjara dan siksaan, sesungguhnya ayahku telah mnyampaikan hadîts kepadaku dari Rasûlullâh saw bahwa dunia itu penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang yang tidak beriman, dan kematian adalah jembatan orang-orang yang beriman ke surganya dan jembatan orang-orang yang tidak beriman ke nerakanya, aku tidak berdusta dan tidak disustakan "

 

عَنْ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ الْحُسَيْنِي عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْعَسْكَرِيِّ عَنْ آبَائِهِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ قَالَ دَخَلَ مُوسَى بْنُ جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَلَى رَجُلٍ قَدْ غَرِقَ فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَ هُوَ لاَ يُجِيْبُ دَاعِيًا فَقَالُوا لَهُ يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ وَدَدْنَا لَوْ عَرَفْنَا كَيْفَ الْمَوْتُ وَ كَيْفَ حَالُ صَاحِبِنَا؟ فَقَالَ الْمَوْتُ هُوَ الْمِصْفَاةُ تَصْفِي الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ ذُنُوبِهِمْ فَيَكُونُ آخِرُ أَلَمٍ يُصِيْبُهُمْ كَفَّارَةَ آخِرِ وِزْرٍ بَقِيَ عَلَيْهِمْ وَ تَصْفِي الْكَافِرِيْنَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ فَيَكُونُ آخِرُ لَذَّةٍ أَوْ رَاحَةٍ تَلْحَقُهُمْ هُوَ آخِرَ ثَوَابِ حَسَنَةٍ تَكُونُ لَهُمْ. وَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ هَذَا فَقَدْ نُخِلَ مِنَ الذُّنُوبِ نَخْلاً وَ صُفِيَ مِنَ الآثَامِ تَصْفِيَةً وَ خُلِصَ حَتَّى نُقِيَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ مِنَ الْوَسَخِ وَ صَلُحَ لِمَعَاشِرَتِنَا أَهْلِ الْبَيْتِ فِي دَارِنَا دَارِ الأَبَدِ.

Dari Ahmad bin Al-Hasan Al-Husaini, dari Abû Muhammad Al-'Askari, dari ayah-ayahnya as berkata: Mûsâ bin Ja‘ far as mendatangi seorang lelaki yang telah tenggelam dalam sakratul maut (mabuk mati) dan dia tidak menjawab manusia yang memanggil, maka mereka berkata kepada beliau: Wahai putra Rasûlullâh, kami sangat ingin kalau kami tahu bagaimana kematian itu dan bagaimana keadaan sahabat kami ini? Maka beliau berkata, "Kematian itu adalah pembersih, ia membersihkan manusia-manusia yang beriman dari dosa-dosanya, maka kepedihan yang terakhir yang menimpa mereka (dalam sakratul maut) adalah kaffârah (penutup) bagi dosa terakhir yang tersisa pada mereka. Dan kematian itu (dengan entengnya sakratul maut) membersihkan orang-orang yang tidak beriman dari kebaikan-kebaikan mereka, maka kelezatan yang terakhir atau kesenangan di-berikan kepada mereka (pada saat mati), dan itu merupakan pahala kebaikan yang terakhir yang terjadi bagi mereka. Adapun sahabatmu ini dibersihkan dari dosa-dosa dan disucikan dari kesalahan-kesalahan, dia dibersihkan sebagaimana dibersihkan pakaian dari kotoran sehingga dia patut bergaul dengan kami Ahlulbait di negeri kami negeri kekal abadi"

 

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ دَخَلَ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَلَى مَرِيْضٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَ هُوَ يَبْكِي وَ يَجْزَعُ مِنَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُ يَا عَبْدَ اللهِ تَخَافُ مِنَ الْمَوْتِ لأَنَّكَ لاَ تَعْرِفُهُ أَ رَأَيْتَكَ إِذَا اتَّسَخْتَ وَ تَقَذَّرْتَ وَ تَأَذَّيْتَ مِنْ كَثْرَةِ الْقَذَرِ وَ الْوَسَخِ عَلَيْكَ وَ أَصَابَكَ قُرُوحٌ وَ جَرَبٌ وَ عَلِمْتَ أَنَّ الْغَسْلَ فِي حَمَّامٍ يَزِيْلُ ذَلِكَ كُلَّهُ أَ مَا تُرِيْدُ أَنْ تَدْخُلَهُ فَتَغْسِلُ ذَلِكَ عَنْكَ أَوْ تَكْرَهُ أَنْ تَدْخُلَهُ فَيَبْقَى ذَلِكَ عَلَيْكَ قَالَ بَلَى يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ قَالَ فَذَلِكَ الْمَوْتُ هُوَ ذَلِكَ الْحَمَّامُ هُوَ آخِرُ مَا بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ تَمْحِيْصِ ذُنُوبِكَ وَ تَنْقِيَتِكَ مِنْ سَيِّئَاتِكَ فَإِذَا أَنْتَ وَرَدْتَ عَلَيْهِ وَ جَاوَرْتَهُ فَقَدْ نَجَوْتَ مِنْ كُلِّ غَمٍّ وَ هَمٍّ وَ أَذًى وَ وَصَلْتَ إِلَى كُلِّ سُرُورٍ وَ فَرَحٍ فَسَكَنَ الرَّجُلُ وَ نَشَطَ وَ اسْتَسْلَمَ وَ غَمَضَ عَيْنَ نَفْسِهِ وَ مَضَى لِسَبِيْلِهِ.

 Dari Al-Hasan bin 'Ali as berkata: ‘Ali bin Muhammad as menengok sahabatnya yang sakit dan dia sedang menangis dan berkeluh-kesah karena kematian, maka beliau berkata kepadanya, "Wahai hamba Allah kamu takut kematian karena kamu tidak mengenalnya, bagaimana jika kamu itu kotor dan berdaki lalu kamu kesakitan karena dibersihkan dari kotoran dan daki yang melekat padamu dan juga menimpamu luka dan rasa sakit, dan kamu tahu bahwa mandi di pemandian air panas itu akan menghilangkan semua kotoran itu, apakah kamu mau memasukinya dan mandi di situ? Ataukah kamu tidak suka untuk memasukinya sehingga kamu akan tetap kotor dan berdaki?" Dia berkata: Tentu saja mau wahai putra Rasûlullâh. Beliau berkata, "Itulah kematian ibarat pemandian air panas dan merupakan pembersihan yang terakhir dari segala dosamu dan dari segala keburukanmu yang tersisa, apabila kamu telah memasukinya dan melewatinya, maka sesungguhnya kamu telah selamat dari setiap kesedihan, kesulitan dan rasa sakit, dan kamu sampai kepada setiap kesenangan dan kegembiraan." Maka orang itu menjadi tenang dan berserah diri dan giat (berdzikir) dan dia pejamkan mata dirinya dan berlalu ke jalannya (mati).

            Maka kematian itu penuh misteri; orang yang sakratul maut -nya keras adakalanya orang yang beriman, tetapi masih ada dosa yang tersisa yang Allah tidak suka dosanya terbawa mati, maka dosa tersebut dibersihkan dengan cara kematian yang keras. Tetapi ada juga orang yang kematiannya atau sakratul maut -nya itu sangat keras, sebab memang merupakan siksa yang pertama yang ditimpakan kepadanya, dan setelah ma-tinya akan ada siksaan yang jauh lebih keras lagi.

            Sakratul maut yang enteng adakalanya dirasakan oleh manusia yang tidak beriman yang punya sejumlah kebaikan, dan Allah 'azza wa jalla tidak suka kebaikannya terbawa mati, maka kebaikan yang pernah dilakukannya itu disegerakan pahalanya melalui kematian yang nyaman. Tetapi adakalanya sakratul maut yang enteng itu dirasakan oleh sebagian orang-orang yang beriman. Wallâhu a lam.

 

Dosa itu Terkadang Memperpendek Usia

Kematian manusia lebih sering terjadi dikarenakan dosa-dosanya dari pada kematiannya dengan ajalnya yang telah ditentukan. Demikian pula banyak manusia yang masih hidup padahal dalam qadhâ semulanya mereka mestinya telah meninggal dunia, hal ini terjadi dikarenakan kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan.

 

عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ رَحِمَهُ وَ قَدْ بَقِيَ مِنْ عُمْرِهِ ثَلاَثُ سِنِيْنَ فَيُصَيِّرُهَا اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ ثَلاَثِيْنَ سَنَةً, وَ يَقْطَعُهَا وَ قَدْ بَقِيَ مِنْ عُمْرِهِ ثَلاَثُوْنَ سَنَةً فَيُصَيِّرُهَا اللهُ ثَلاَثَ سِنِيْنَ ثُمَّ تَلاَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ.

Dari 'Ali as berkata: Rasûlullâh saw telah bersabda, “Ada orang yang dalam usianya tinggal tiga tahun lagi, namun karena dia itu suka menyambungkan kasih-sayang (shilatur rahim ), maka Allah memperpanjang usianya sampai tiga puluh tahun. Dan ada orang yang usianya tiga puluh tahun lagi, tetapi karena suka memutuskan hubungan kasih-sayang, maka Allah memperpendek hidupnya di dunia menjadi tiga tahun.” Kemudian beliau as membaca ayat Al-Quran , Allah menghapus dan menetapkan qadhâ yang Dia kehendaki dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitâb.

 

قَالَ الصَّادِقُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: يَعِيْشُ النَّاسُ بِإِحْسَانِهِمْ أَكْثَرَ مِمَّا يَعِيْشُونَ بِأَعْمَارِهِمْ وَ يَمُوتُونَ بِذُنُوبِهِمْ أَكْثَرَ مِمَّا يَمُوتُونَ بِآجَالِهِمْ.

Al-Shâdiq as berkata, "Manusia yang hidup dengan kebaikannya lebih banyak dari yang hidup dengan umurnya, dan manusia yang mati disebabkan dosa-dosanya lebih banyak dari yang mati dengan ajal-ajalnya."

 

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : مَنْ يَمُوتُ بِالذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِمَّنْ يَمُوتُ بِالآجَالِ وَمَنْ يَعِيْشُ بِالإِحْسَانِ أَكْثَرَ مِمَّنْ يَعِيْشُ بِاْلأَعْمَارِ.

Dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Orang yang mati karena dosa-dosanya lebih banyak dibandingkan dengan manusia yang mati karena ajalnya, dan manusia yang hidup karena kebaikannya lebih banyak dari manusia yang hidup karena umurnya."

 

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ أَبُو الْحَسَنِ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَكُونُ الرَّجُلُ يَصِلُ رَحِمَهُ فَيَكُونُ قَدْ بَقِيَ مِنْ عُمُرِهِ ثَلَاثُ سِنِينَ فَيُصَيِّرُهَا اللَّهُ ثَلاَثِيْنَ سَنَةً وَ يَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ.

Dari Muhammad bin 'Ubaidillâh berkata: Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as telah berkata, "Ada orang dia menyambung shilaturrahimnya dan usianya tinggal tersisa tiga tahun lagi, lalu Allah menjadikannya tiga puluh tahun, dan Allah berbuat menurut yang Dia kehendaki."

 

Penyakit dan Kematian

        عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ الْحُمَّى رَائِدُ الْمَوْتِ وَ سِجْنُ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَرْضِهِ وَ فَوْرُهَا مِنْ جَهَنَّمَ وَ هِيَ حَظُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنَ النَّارِ.

            Dari Abû 'Abdillâh as berkata: Rasûlullâh saw telah bersabda, "Penyakit demam panas adalah mata-mata kematian, dan ia juga merupakan penjara Allah yang maha tinggi di bumi-Nya, dan panasnya itu dari Jahannam, dan ia bagian bagi setiap orang yang beriman dari api neraka."

 

        عَنْ سَعْدِ بْنِ طَرِيفٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَعْتَبِطُونَ اعْتِبَاطاً فَلَمَّا كَانَ زَمَانُ إِبْرَاهِيمَ عليه السلام قَالَ يَا رَبِّ اجْعَلْ لِلْمَوْتِ عِلَّةً يُؤْجَرُ بِهَا الْمَيِّتُ وَ يُسَلَّى بِهَا عَنِ الْمُصَابِ قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ الْمُومَ وَ هُوَ الْبِرْسَامُ ثُمَّ أَنْزَلَ بَعْدَهُ الدَّاءَ.

Dari Sa'ad bin Tharîf, dari Abû Ja‘far as berkata, "Dulu manusia mati secara tiba-tiba, maka pada zaman Ibrâhîm as beliau berdoa, 'Wahai Tuhanku jadikanlah untuk kematian itu 'illah (penyebab) yang dengannya diberi ganjaran orang yang mati dan dengannya terhibur (tidak terlalu sedih) orang yang dapat musibah.' Kemudian Allah azza wa jalla menurunkan penyakit mûm yaitu radang selaput dada, kemudian setelahnya Dia menurunkan penyakit yang lainnya."

           

        عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ الْحُمَّى رَائِدُ الْمَوْتِ وَ هُوَ سِجْنُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ وَ هُوَ حَظُّ الْمُؤْمِنِ مِنَ النَّارِ.

Dari ‘Abdullâh bin Sinân, dari Abû ‘ Abdillâh as dia berkata: Saya telah mendengar beliau mengatakan, "Penyakit demam adalah mata-mata kematian, dan ia juga merupakan penjara Allah di bumi, dan juga merupakan bagian dari neraka untuk orang beriman."

           

        عَنْ نَاجِيَةَ قَالَ قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُبْتَلَى بِكُلِّ بَلِيَّةٍ وَ يَمُوتُ بِكُلِّ مِيتَةٍ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَقْتُلُ نَفْسَهُ.

Dari Nâhiyah berkata: Abû Ja‘ far as berkata, "Orang yang beriman itu diuji dengan berbagai ujian dan mati dengan berbagai cara kematian hanya saja orang yang beriman itu tidak membunuh dirinya."

           

        عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنْ مِيتَةِ الْمُؤْمِنِ فَقَالَ يَمُوتُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ مِيتَةٍ يَمُوتُ غَرَقاً وَ يَمُوتُ بِالْهَدْمِ وَ يُبْتَلَى بِالسَّبُعِ وَ يَمُوتُ بِالصَّاعِقَةِ وَ لاَ تُصِيبُ ذَاكِرَ اللَّهِ تَعَالَى.

Dari Abû Bashîr berkata: Saya bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as tentang cara mati orang yang beriman, maka beliau berkata, "Orang yang beriman itu mati dengan segala cara kematian; ada yang mati karena tenggelam, ada yang mati karena tertimpa reruntuhan bangunan, ada yang diterkam binatang buas dan ada juga yang disambar petir, namun petir tidak menyambar orang yang berdzikir kepada Allah yang maha tinggi."

           

        عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَبْتَلِي الْمُؤْمِنَ بِكُلِّ بَلِيَّةٍ وَ يُمِيتُهُ بِكُلِّ مِيتَةٍ وَ لاَ يَبْتَلِيهِ بِذَهَابِ عَقْلِهِ أَ مَا تَرَى أَيُّوبَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَيْفَ سَلَّطَ إِبْلِيْسَ عَلَى مَالِهِ وَ وُلْدِهِ وَ عَلَى أَهْلِهِ وَ عَلَى كُلِّ شَيْ‏ءٍ مِنْهُ وَ لَمْ يُسَلِّطْهُ عَلَى عَقْلِهِ تَرَكَ لَهُ مَا يُوَحِّدُ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ بِهِ.

Abû ‘Abdillâh as berkata, "Sesungguhnya Allah azza wa jalla mengcoba orang yang beriman dengan segala macam cobaan, dan mematikannya dengan segala cara kematian, tetapi Allah tidak mencobanya dengan hilang akalnya, tidakkah kamu memperhatikan Ayyûb as bagaimana Iblîs telah menghancurkan harta-bendanya dan anak-anaknya, menggoda istrinya dan setiap sesuatu darinya, dan dia tidak dapat menguasai akalnya, dia membiarkannya untuk men-tauhîd -kan Allah ‘ azza wa jalla dengannya."

 

Kita dan Kematian 

Setiap jiwa dan setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian sebagaimana yang Allah ‘azza wa jalla firmankan.

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ.

Setiap jiwa akan merasakan kematian. [Al-Quran]

Kematian dengan kita waktunya sangat dekat, apalagi orang yang usianya telah mencapai empat puluh tahun, karena dengan usia empat puluh itu berarti telah memasuki usia kematian, dan orang-orang yang dalam usianya telah memasuki empat puluh tahunan itu kaitannya dengan kematian tinggal menghitung hari.

Imam Ali as berkata, "Kamu hanyalah bilangan hari, sebagian hari telah berlalu atasmu dan tinggal sebagiannya lagi, maka ringankanlah dalam tuntutan dunia dan perbaguslah cara usaha (mencari rezeki)."

 

فَاحْذَرُوا عِبَادَ اللَّهِ الْمَوْتَ وَ قُرْبَهُ وَ أَعِدُّوا لَهُ عُدَّتَهُ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِأَمْرٍ عَظِيمٍ وَ خَطْبٍ جَلِيلٍ بِخَيْرٍ لاَ يَكُونُ مَعَهُ شَرٌّ أَبَداً أَوْ شَرٍّ لاَ يَكُونُ مَعَهُ خَيْرٌ أَبَداً فَمَنْ أَقْرَبُ إِلَى الْجَنَّةِ مِنْ عَامِلِهَا وَ مَنْ أَقْرَبُ إِلَى النَّارِ مِنْ عَامِلِهَا وَ أَنْتُمْ طُرَدَاءُ الْمَوْتِ إِنْ أَقَمْتُمْ لَهُ أَخَذَكُمْ وَ إِنْ فَرَرْتُمْ مِنْهُ أَدْرَكَكُمْ وَهُوَ أَلْزَمُ لَكُمْ مِنْ ظِلِّكُمْ الْمَوْتُ مَعْقُودٌ بِنَوَاصِيكُمْ وَ الدُّنْيَا تُطْوَى مِنْ خَلْفِكُمْ فَاحْذَرُوا نَاراً قَعْرُهَا بَعِيدٌ وَ حَرُّهَا شَدِيدٌ وَ عَذَابُهَا جَدِيدٌ دَارٌ لَيْسَ فِيهَا رَحْمَةٌ وَ لاَ تُسْمَعُ فِيهَا دَعْوَةٌ وَ لاَ تُفَرَّجُ فِيهَا كُرْبَةٌ وَ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ يَشْتَدَّ خَوْفُكُمْ مِنَ اللَّهِ وَ أَنْ يَحْسُنَ ظَنُّكُمْ بِهِ فَاجْمَعُوا بَيْنَهُمَا فَإِنَّ الْعَبْدَ إِنَّمَا يَكُونُ حُسْنُ ظَنِّهِ بِرَبِّهِ عَلَى قَدْرِ خَوْفِهِ مِنْ رَبِّهِ وَ إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ ظَنّاً بِاللَّهِ أَشَدُّهُمْ خَوْفاً لِلَّهِ.

Imam Ali as berkata, "Waspadalah kalian wahai hamba-hamba Allah terhadap kematian dan kedekatannya, siapkanlah bekalnya untuk menghadapinya, sebab ia itu akan datang membawa urusan yang sangat besar dan perkara yang maha dahsyat, apakah ia datang dengan kebaikan yang tidak ada keburukan bersamanya untuk selamanya, ataukah dengan keburukan yang tidak ada kebaikan bersamanya untuk selamanya, maka siapakah orang yang lebih dekat ke surga dari orang yang mengamalkan kebaikannya, dan siapakah orang yang lebih dekat ke neraka selain dari orang yang mengamalkan keburukannya. Dan kalian adalah orang-orang yang dihalau oleh kematian, jika kamu berdiri menentangnya, ia pasti merenggut kalian, dan bila kalian melarikan diri darinya, ia pasti mengejar kalian, ia lebih melekat kepada kamu dari bayangan kamu sendiri. Kematian itu telah diikatkan kepada ubun-ubun kamu sedang dunia dilipat di belakang kamu, maka berhati-hatilah terhadap neraka yang kedalamannya sangat jauh, yang panasnya sangat keras dan siksanya selalu baru. Neraka adalah negeri yang di dalamnya tidak ada kasih-sayang, yang di dalamnya doa tidak didengar, dan di dalamnya suatu kesulitan tidak dihilangkan. Jika kamu bisa untuk menguatkan rasa takutmu kepada Allah dan kamu baikkan sangkaanmu kepada-Nya, maka satukanlah di antara keduanya, maka sesungguhnya hamba dalam baiknya sangkaannya kepada Rabb-nya tergantung kepada kadar takutnya kepada Rabb-nya, dan sesungguhnya orang yang paling baik sangkaannya kepada Allah adalah yang paling keras takutnya kepada-Nya"

 

Gambaran Rasa Kematian

Di dalam Al-Quran dikisahkan bahwa manusia-manusia yang zalim pada saat dicabut ruhnya, mereka disiksa oleh para malaikat dengan dipukulinya dan dibentak-bentaknya. Allah berfirman:

 

وَلَوْ تَرى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلاَئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوْهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ, وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيْقِ.

Kalaulah kamu melihat ketika malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kufur dengan memukuli muka-mukanya dan punggung-punggungnya (seraya berkata), “Dan rasakanlah olehmu siksa yang membakar." [Al-Quran]

 

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَ الْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُو أَيديْهِمْ أَخْرِجُوأ أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَدَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ.

Dan kalaulah kamu melihat orang-orang yang tidak adil itu berada dalam tekanan sakratul maut sedang para malaikat memukulinya dengan tangan-tangannya (seraya berkata): Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah dengan perkataan yang tidak benar dan karena kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. [Al-Quran]

Imam Ja‘far Al-Shâdiq as mengatakan bahwa rasa kematian itu adakalanya seperti hembusan angin yang lembut yang menghilangkan kepenatan hidup di dunia, adakalanya serasa dipatuk ular berbisa atau disengat kalajengking, adakalanya lebih sakit dari itu, yaitu serasa digergaji atau dipotong-potong dengan gunting atau diremukkan kepala dengan batu atau serasa digiling di mesin penggilingan dan semuanya itu tergantung kepada perilaku orang yang dicabut ruhnya itu.

 

Malakul Maut

        قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ.

Katakanlah: Malakul Maut (malaikat kematian) yang telah diserahi tugas untukmu akan mematikan kamu, kemu-dian hanya kepada Tuhanmu kamu akan dikembalikan .

Ingatlah Malakul Maut (‘Izrâ`il as) yang datang setiap hari dan menyentuh wajah-wajah kita. Apabila kita melakukan hal yang tidak baik, atau kita tertawa gembira atau kita sedang bermain-main, dia mengatakan kepada kita.

Wahai miskin, apa gerangan yang telah melalaikan kamu dari kewajiban yang seharusnya kamu kerjakan, lakukan saja apa yang kamu kehendaki, sungguh nanti akan kurenggut jiwamu dan akan kuputuskan urat jantungmu.

 

Api di Dalam Kubur

Ingatlah wahai manusia ketika kamu dimasukkan ke dalam kuburmu, dan orang-orang yang mengantarkanmu sudah pada pulang meninggalkan kamu sendirian di dalam kubur, ketika itu kamu akan sangat ketakutan dengan kemunculan api yang empat yang keluar dari empat penjuru kuburmu. Imam ‘Ali as berkata:

 

إِذَا وُضِعَ الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ اِعْتَوَرَتْهُ نِيْرَانٌ أَرْبَعٌ, فَتَجِيْئُ الصَّلاَةُ فَتُطْفِئُ وَاحِدَةً, وَيَجِيْئُ الصَّوْمُ فَيُطْفِئُ وَاحِدَةً, وَتَجِيْئُ الصَّدَقَةُ فَتُطْفِئُ وَاحِدَةً, وَيَجِيْئُ الْعِلْمُ فَيُطْفِئُ الرَّابِعَةُ. وَيَقُولُ: لَئِنْ أَدْرَكْتُهُنَّ َلأَطْفَأْتُهُنَّ كُلَّهُنَّ, فَقَرَّ عَيْنًا فَأَنَا مَعَكَ, وَلَنْ تَرَى بُؤْسًا.

Apabila mayyit telah diletakkan di dalam kuburnya, niscaya menyalalah kepadanya api yang empat, kemudian datang shalat (bila shalatnya benar), lantas ia padamkan satu, datang lagi puasa (bila puasanya diterima), lalu ia padamkan satu, kemudian datanglah sedekah (jika diterima), lalu ia padamkan satu, dan datanglah ilmu (tentang Islam), lalu ia padamkan api yang keempat. Ilmu berkata, 'Kalaulah aku dapati api semua api itu, niscaya aku bisa padamkan semuanya, namun tenanglah kamu, aku bersamamu, dan kamu tidak akan melihat kesulitan.

            Perhatikanlah ilmu yang disebutkan dalam hadîts ini, ia punya kemampuan memadamkam empat api, sedangkan shalat, puasa dan zakat hanya mampu memadamkan satu saja. Ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tentang Allah, tentang Rasûlullâh, tentang Ahlulbait Rasûlullâh dan tentang Islam secara keseluruhan itu maha penting, sebab shalat tanpa ilmu tidak diterima, puasa tanpa ilmu tidak sah, haji tanpa ilmu tidak sah dan zakat tanpa ilmu juga tidak sah.

 

Teman di dalam Kubur

Siapa pun yang telah mati pasti di dalam kuburnya atau di alam barzakhnya punya teman; adakalanya teman itu cantik atau tampan parasnya, wangi atau harum aroma tubuhnya, ramah dan menyenangkan, dan adakalanya teman di dalam kubur itu hitam wajahnya, sangat menakutkan, bau busuk aroma tubuhnya dan sangat menyiksa bagi yang ditemaninya. Teman yang baik dan yang buruk ini, sangat tergantung kepada amal kita di dunia ini, sebab di kubur itu kita hanya menuai hasil perbuatan kita yang kita tanam di negeri dunia ini, maka dunia suka disebut ladang akhirat.

Imam Ali bin Abî Thâlib as berkata, "Kamu pasti punya teman di dalam kuburmu, maka berusahalah untuk menjadikan dia itu tampan wajahnya, harum aromanya dan dia itu adalah manifestasi dari amal saleh."

Ada beberapa perkara yang mesti diperhatikan oleh kita jika telah datang kepada kita tanda-tanda kematian, atau apa yang mesti kita lakukan terhadap orang yang sedang mengalami mabuk mati (sakratul maut ) dan setelah kematiannya, yaitu menghadapkannya ke kiblat, memandikannya, mengkafaninya, menshalatkannya, menguburkannya.



[1] Sûrah Al-Ra'd 13/39.

 

Sat, 15 Feb 2014 @10:18


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved