Selamat Datang
image

Abu Zahra

022-2000429 082121981001, 085214981001


Allah 'azza wa jalla berfirman: Sesungguhnya ajaran (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Rasulullah berkata: Islam itu tinggi dan tidak ada ajaran yang mengungulinya. Imam 'Ali as berkata: Islam adalah jalan yang paling terang.
Kategori

Kewajiban Mencintai Ahlulbait atau Keluarga Rasulullah

قُلْ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبِى
Katakanlah: Aku tidak meminta upah apa pun kepada kalian atas penyampaian risâlah-Nya selain kecintaan kepada keluarga.

Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Tatkala turun ayat ini: Qul lâ as`alukum ‘alaihi ajran illal mawaddata fil qurbâ , mereka berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah kerabatmu yang wajib atas kami mencintai mereka?” Beliau berkata, “‘Ali, Fâthimah dan kedua putra mereka (Hasan dan Husain).”

Ayat ke-23 dari sûrah Al-Syûrâ ini nashsh yang mewajibkan atas kaum muslim untuk mencintai keluarga Nabi saw, dan mencintai keluarga beliau yang disucikan itu termasuk asas dalam ajaran Islam. Maka mengenal, mencintai dan mengikuti mereka adalah suatu kewajiban bagi ummat Islam.

Membaca Shalawât bagi Nabi adalah Salah Satu Bentuk Kecintaan
Membaca shalawât bagi Nabi adalah salah satu bentuk kecintaan. Dan shalawât juga dikaitkan dengan shalat dan doa hingga shalat tanpa shalawât menjadi tidak sah dan doa tanpa shalawât menjadi mahjûb (terhalang). Dan shalawât bagi Nabi itu mesti disertakan keluarganya supaya tidak batrâ (buntung), dan shalawât batrâ itu dilarang, Rasûlullah saw berkata:

لاَ تُصَلُّوا عَلَيَّ الصَّلاَةَ الْبَتْرَاءَ. فَقَالُوا : وَ مَا الصَّلاَةُ الْبَتْرَاءُ ؟ قَالَ : تَقُولُونَ : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ تَمْسِكُونَ, بَلْ قُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
“Janganlah kamu ber-shalawât atasku dengan shalawât yang buntung.” Lalu mereka bertanya, “Apakah shalawât yang buntung itu wahai Rasûlullah?” Beliau berkata, “Kalian ber-shalawât atasku dan kalian diam (tidak ber-shalawât bagi keluargaku), tetapi ucapkanlah: Ya Allah, curahkanlah shalawât atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad.”

Maka singkatan saw mesti dibaca: Shallallâhu ‘alaihi wa ãlihi wa sallam atau shallallâhu ‘alaihi wa ãlih (Allah mencurahkan shalawât dan salâm atasnya dan keluarganya) supaya tidak melanggar larangan Rasûlullah dalam ber-shalawât .

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : أَحِبُّوا اللهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ وَ أَحِبُّونِي لِحُبِّ اللهِ وَ أَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي لِحُبِّي.
Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullâh saw bersabda, “Cintailah Allah karena Dia telah memberimu kenikmatan, cintailah aku karena kecintaan kepada Allah, dan cintailah keluargaku kerena kecintaan kepadaku.”

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ, وَ عَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ, وَ عَنْ مَالِهِ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ, وَ عَنْ حُبِّنَا أَهْلِ الْبَيْتِ
Rasûlullâh saw berkata, “Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang empat perkara: Tentang umurnya pada apa dia telah menghabiskannya, tentang jasadnya yang pada apa dia telah merusakkannya, tentang hartanya ke mana saja dibelanjakannya dan dari mana diperolehnya, dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Pahala bagi Orang yang Mencintai Ahlulbait as
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ شَهِيْدًا. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ مَغْفُورًا لَهُ. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ تَائِبًا. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ مُؤْمِنًا مُسْتَكْمِلَ الإِيْمَانِ. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ بَشَّرَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ بِالْجَنَّةِ ثُمَّ مُنْكَرٌ وَ نَكِيْرٌ. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ يُزَفُّ إِلَى الْجَنَّةِ كَمَا تُزَفُّ الْعَرُوسُ إِلَى بَيْتِ زَوْجِهَا. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ فُتِحَ لَهُ فِي قَبْرِهِ بَابَانِ إِلَى الْجَنَّةِ. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ جَعَلَ اللهُ قَبْرَهُ مَزَارً لِمَلاَئِكَةِ الرَّحْمَنِ. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ آلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ عَلَى السُّنَّةِ وَ الْجَمَاعَةِ
Rasûlullâh saw berkata, “Siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, niscaya dia mati sebagai syahîd. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, niscaya dia mati dalam keadaan diampuni dosanya. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia mati dalam keadaan bertobat. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, niscaya dia mati dalam keadaan beriman dengan sempurna keimanannya. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, niscaya Malakul Maut memberikan kabar gembira dengan surga, lalu malaikat Munkar dan Nakîr. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia akan diantarkan ke surga seperti pengantin perempuan yang diantarkan ke rumah suaminya. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, niscaya dibukakan baginya dua pintu ke surga di dalam kuburnya. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, niscaya Allah menjadikan kuburnya tempat ziarah para malaikat Al-Rahmân. Ketahuilah siapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, niscaya dia mati di atas Al-Sunnah wal jamâ‘ah.”

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ : إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: اِلْزَمُوا مَوَدَّتَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّهُ مَنْ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ وَ هُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا. وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلُهُ إِلاَّ بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا
Dari Al-Hasan bin ‘Ali as: Sesungguhnya Rasûlullâh saw telah berkata, “Teguhkanlah oleh kalian kecintaan kepada kami Ahlulbait, karena sesungguhnya siapa yang berjumpa dengan Allah ‘azza wa jalla sedang dia mencintai kami, niscaya dia masuk surga dengan syafa‘at kami. Demi yang diriku di tangan-Nya, tidak berguna bagi seorang hamba akan amalnya kecuali dengan mengenal hak kami.”

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : شَفَاعَتِي لِأُمَّتِي مَنْ أَحَبَّ أَهْلَ بَيْتِي وَهُمْ شِيْعَتِي
Dari ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Syafa‘atku bagi ummatku yang mencintai Ahlulbaitku dan mereka adalah para pengikutku.”

عَنْ عَلِيِّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ : أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. قَالَ : ذَاكَ مَنْ أَحَبَّ اللهَ وَ رَسُولَهُ وَ أَحَبَّ أَهْلَ بَيْتِي صَادِقًا غَيْرَ كَاذِبٍ
Dari ‘Ali as bahwa Rasûlullâh saw tatkala turun ayat ini: Ketahuilah, dengan berdzikir kepada Allah tenteramlah hati-hati . Dia berkata, “Yang demikian itu ialah orang yang mencintai Allah dan Rasûl-Nya dan mencintai Ahlulbaitku dengan benar tidak dusta.”

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ : إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : اِلْزَمُوا مَوَدَّتَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ, فَإِنَّهُ مَنْ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ وَ هُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا, وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلُهُ إِلاَّ بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا
Dari Al-Hasan bin ‘Ali as: Sesungguhnya Rasûlullâh saw telah berkata, “Tetaplah dalam mencintai kami Ahlulbait, sebab sesungguhnya orang yang berjumpa dengan Allah ‘azza wa jalla dan dia mencintai kami niscaya masuk ke surga dengan syafa‘at kami, demi yang diriku di tangan-Nya, tidak berguna bagi seorang hamba amalnya kecuali dengan mengenal hak kami.”

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ يُحِبُّنَا أَهْلَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَ لاَ يُبْغِضُنَا إِلاَّ مُنَافِقٌ شَقِيٌّ
Dari Jâbir bin ‘Abdullâh berkata: Rasûlullâh saw berkata, “Tidak mencintai kami Ahlulbait selain orang mu`min yang ber-taqwâ, dan tidak membenci kami kecuali orang munâfiq yang celaka.”

عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : حُبِّي وَ حُبُّ أَهْلِ بَيْتِي نَافِعٌ فِي سَبْعَةِ مَوَاطِنَ, أَهْوَالُهُنَّ عَظِيْمَةٌ: عِنْدَ الْوَفَاةِ, وَ فِي الْقَبْرِ, وَ عِنْدَ النُّشُورِ, وَ عِنْدَ الْكِتَابِ, وَ عِنْدَ الْحِسَابِ, وَ عِنْدَ الْمِيْزَانِ, وَ عِنْدَ الصِّرَاطِ
Dari ‘Ali bin Al-Husain berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Mencintaiku dan mencintai Ahlulbaitku bermanfaat pada tujuh tempat yang ketakutannya sangat besar: (1) Ketika wafat, (2) di dalam kubur, (3) ketika dibangkitkan, (4) ketika dibagi kitab, (5) ketika dihisab, (6) ketika ditimbang amal, dan (7) ketika di Al-Shirâth.”

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ رَزَقَهُ اللهُ حُبَّ اْلأَئِمَّةِ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَقَدْ أَصَابَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ فَلاَ يُشَكَّنَّ أَحَدٌ أَنَّهُ فِي الْجَنَّةِ, فَإِنَّ فِي حُبِّ أَهْلِ بَيْتِي عِشْرُونَ خَصْلَةً : عَشْرٌ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا, وَ عَشْرٌ مِنْهَا فِي اْلآخِرَةِ. أَمَّا الَّتِي فِي الدُّنْيَا فَالزُّهْدُ, وَ الْحِرْصُ عَلَى الْعَمَلِ, وَ الْوَرَعُ فِي الدِّيْنِ, وَ الرَّغْبَةُ فِي الْعِبَادَةِ, وَ التَّوبَةُ قَبْلَ الْمَوْتِ, وَ النَّشَاطُ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ, وَ الْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ, وَ الْحِفْظُ لِأَمْرِ اللهِ وَ نَهْيِهِ عَزَّ وَ جَلَّ, وَ التَّاسِعَةُ بُغْضُ الدُّنْيَا, وَ الْعَاشِرَةُ السَّخَاءُ. وَ أَمَّا الَّتِي فِي اْلآخِرَةِ: فَلاَ يُنْشَرُ لَهُ دِيْوَانٌ, وَ لاَ يُنْصَبُ لَهُ مِيْزَانٌ, وَ يُعْطَى كِتَابُهُ بِيَمِيْنِهِ, وَ يُكْتَبُ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ, وَ يُبَيَّضُ وَجْهُهُ, وَ يُكْسَى مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ, وَ يُشَفَّعُ فِي مِائَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ, وَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِ بِالرَّحْمَةِ, وَ يُتَوَّجُ مِنْ تِيْجَانِ الْجَنَّةِ, وَ الْعَاشِرَةُ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ. فَطُوبَى لِمُحِبِّي أَهْلِ بَيْتِي
Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri berkata: Telah berkata Rasûlullâh saw, “Siapa yang diberi karunia oleh Allah mencintai para imam dari Ahlulbaitku, maka sesungguhnya dia telah memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, dan seseorang (yang mencintai mereka) tidak diragukan bahwa dia di surga, maka sesungguhnya dalam mencintai Ahlibaitku itu ada dua puluh perkara: Sepuluh darinya di dunia, dan sepuluh lagi di akhirat. Adapun sepuluh yang di dunia adalah: (1) Zuhud (tidak dikuasai dunia), (2) semangat dalam beramal, (3) wara‘ (berhati-hati menjalankan) dalam ajaran, (4) senang dalam ibadah, (5) bertobat sebelum mati, (6) giat dalam bangun malam, (7) putus asa dari apa-apa yang ada pada tangan orang lain, (8) menjaga perintah Allah dan larangannya ‘azza wa jalla, (9) benci kepada dunia dan (10) dermawan. Adapun yang sepuluh di akhirat adalah: (1) Tidak dibentangkan dîwân (penayangan amal) baginya, (2) tidak ditegakkan neraca baginya, (3) diberikan kitabnya di sebelah kanannya, (4) dicatatkan baginya 'bebas dari neraka', (5) diputihkan wajahnya, (6) diberi busana surga, (7) disyafa‘ati 100 orang dari keluarganya, (8) Allah memandang kepadanya dengan kasih, (9) dimahkotai dengan mahkota surga dan (10) masuk ke surga tanpa hisab. Maka beruntung manusia-manusia yang mencintai Ahlibaitku.”

Hukuman bagi Orang yang Membenci Ahlulbait
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى بُغْضِ آلِ مُحَمَّدٍ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَكْتُوبًا بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى بُغْضِ آلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ كَافِرًا. أَلاَ وَ مَنْ مَاتَ عَلَى بُغْضِ آلِ مُحَمَّدٍ لَمْ يَشُمَّ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Rasûlullâh saw berkata, “Ketahuilah siapa yang mati di atas kebencian kepada keluarga Muhammad, dia datang pada hari kiamat dengan tertulis di antara kedua matanya: Orang yang putus asa dari rahmat Allah. Ketahuilah siapa yang mati di atas kebencian kepada keluarga Muhammad, dia mati sebagai orang yang kâfir. Ketahuilah siapa yang mati di atas kebencian kepada keluarga Muhammad, dia tidak mencium harum surga.”

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إِنِّي سَأَلْتُ اللهَ لَكُمْ ثَلاَثًا : أَنْ يُثَبِّتَ قَائِمَكُمْ, وَ أَنْ يَهْدِيَ ضَالَّكُمْ, وَ أَنْ يُعَلِّمَ جَاهِلَكُمْ وَ سَأَلْتُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَكُمْ جَوْدَاءَ نُجَدَاءَ رُحَمَاءَ, فَلَوْ أَنَّ رَجُلاً صَفَنَ فَصَلَّى وَ صَامَ ثُمَّ لَقِيَ اللهَ وَ هُوَ مُبْغِضٌ لِأَهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ دَخَلَ النَّارَ
Dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs bahwa Rasûlullâh saw berkata, “Wahai anak-anak ‘Abdul Muththalib, sesungguhnya aku meminta kepada Allah tiga hal bagi kalian: Meneguhkah qâ`im kalian (Al-Mahdi as yang menegakkan keadilan), Dia menunjuki orang yang tersesat dari kalian dan Dia mengajari orang jahil dari kalian dan aku meminta kepada Allah agar Dia menjadikan kalian manusia-manusia yang murah hati, mulia dan penyayang, maka kalaulah seseorang memberdirikan kakinya lalu dia shalat dan shaum kemudian dia bertemu dengan Allah sedang dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, tentu dia masuk ke neraka.”

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُبْغِضُنَا أَهْلَ الْبَيْتِ أَحَدٌ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّار
Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Demi yang diriku di tangan-Nya, tidak seorang pun membenci kami Ahlulbait melainkan Allah memasukkannya ke dalam neraka.”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لَيْسَ فِي الْقِيَامَةِ رَاكِبٌ غَيْرُنَا وَ نَحْنُ أَرْبَعَةٌ – فَذَكَرَ النَّبِيُّ ص وَ صَالِحٌ وَ حَمْزَةُ وَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ع (إِلَى أَنْ قَالَ) وَ لَوْ أَنَّ عَابِدًا عَبَدَ اللهَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَ الْمَقَامِ أَلْفَ عَامٍ وَ أَلْفَ عَامٍ حَتَّى يَكُونَ كَالشِّنِّ الْبَالِي وَ لَقِيَ اللهَ مُبْغِضًا لِآلِ مُحَمَّدٍ أَكَبَّهُ اللهُ عَلَى مِنْخَرِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullâh saw bersabda, “Pada hari kiamat, tidak ada yang berkendaraan selain kami berempat---maka Nabi saw menyebutkan (dirinya) dan Shâlih, Hamzah dan ‘Ali bin Abî Thâlib as sampai beliau mengatakan---dan kalaulah seorang ahli ibadah mengabdi kepada Allah di antara rukun (sudut Ka‘bah yang padanya terdapat Hajar Aswad) dan maqâm (tempat berdiri Nabi Ibrâhîm as) selama seribu tahun dan seribu tahun sampai kurus lagi lusuh dan dia bertemu dengan Allah dalam keadaan benci kepada keluarga Muhammad, niscaya Allah menyeretnya di atas batang hidungnya ke dalam neraka Jahannam.”

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ أَبْغَضَنَا أَهْلَ البَيْتِ فَهُوَ مُنَافِقٌ
Dari Abû Sa‘îd berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Siapa yang membenci kami Ahlulbait maka dia itu orang munâfiq.”

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ خَدِيْجٍ قَالَ : أَرْسَلَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ إِلَى الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ أَخْطُبُ عَلَى يَزِيْدَ بِنْتًا لَهُ – أَوْ أُخْتُا لَهُ – فَأَتَيْتُهُ فَذَكَرْتُ لَهُ يَزِيْدَ فَقَالَ: إِنَّا قَوْمٌ لاَ نُزَوِّجُ نِسَاءَنَا حَتَّى نَسْتَأْمِرَهُنَّ. فَأَتَيْتُهَا فَذَكَرْتُ لَهَا يَزِيْدَ فَقَالَتْ: وَ اللهِ لاَ يَكُونُ ذَلِكَ حَتَّى يَسِيْرَ فِيْنَا صَاحِبُكَ كَمَا سَارَ فِرْعَوْنُ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ يَذْبَحُ أَبْنَاءَهُمْ وَ يَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ. فَرَجَعْتُ إِلَى الْحَسَنِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَقُلْتُ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى فَلَقَةٍ تُسَمِّي أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِرْعَوْنَ. قَالَ: يَا مُعَاوِيَةُ لاَ يُبْغِضُنَا وَ لاَ يَحْسُدُنَا أَحَدٌ إِلاَّ ذِيْدَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَنِ الْحَوْضِ بِسِيَاطٍ مِنَ النَّارِ
Dari Mu‘âwiyah bin Khadîj telah berkata, “Mu‘âwiyah bin Abû Sufyân mengutusku kepada Al-Hasan bin ‘Ali as saya melamar putrinya----atau saudara perempuannya----atas nama Yazîd lalu saya mendatanginya, maka saya menyebutkan Yazîd kepadanya. Maka dia berkata, 'Kami tidak menikahkan perempuan-perempuan kami sehingga kami bermusyawarah dengan mereka.' Maka saya mendatangi perempuan tersebut dan saya sebutkan Yazîd kepadanya, lalu dia berkata, 'Demi Allah hal itu tidak terjadi walau sahabatmu (Yazîd) berjalan kepada kami sebagaimana Fir‘aun berjalan pada Banî Isrâ`îl membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup kaum perempuan mereka.' Kemudian aku kembali kepada Al-Hasan as, lalu saya berkata: Kamu telah mengirimku kepada suatu bencana dia (perempuan itu) menyebut Amîrul Mu`minîn Fir‘aun.” Dia berkata, “Wahai Mu‘âwiyah, janganlah kamu membenci kami karena Rasûlullâh saw telah berkata, ‘Tidak membenci kami dan tidak iri kepada kami seseorang melainkan pada hari kiamat dia dihalau dari telaga dengan cambuk dari neraka.’”

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ قَالَ : جَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ وَ هُوَ يَقُولُ : أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ أَبْغَضَنَا أَهْلَ البَيْتِ حَشَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَهُودِيًّا. فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ وَ إِنْ صَامَ وَ صَلَّى. قَالَ : وَ إِنْ صَامَ وَ صَلَّى وَ زَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ
Dari Jâbir bin ‘Abdullâh Al-Anshâri berkata: Rasûlullâh saw berkhotbah kepada kami, lalu kami mendengarnya mengatakan, “Wahai manusia, siapa yang membenci kami Ahlulbait, niscaya Allah menghimpunnya pada hari kiamat sebagai yahudi.” Lalu saya berkata, “Wahai Rasûlullâh, sekalipun dia shaum dan shalat?" Beliau berkata, “Sekalipun dia shaum dan shalat dan mengaku muslim.”

Fri, 14 Feb 2014 @11:01


1 Komentar
image

Mon, 17 Feb 2014 @22:04

kang nana sumedang

Selamat dan Sukses, saya sangat bangga pada perusahaan yang dan mendukung dengan adanya web ini akan semakin memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Abu Zahra · All Rights Reserved